Chapter Fifteen

Mentor Kenzo

POV: Nabila

Aku menemukan mereka di ruang tamu jam sebelas malam, hari Selasa, dan butuh waktu sepuluh detik sebelum aku mengerti apa yang sedang kulihat.

Kenzo duduk bersila di karpet, dengan laptop di atas meja kopi. Devan duduk di sebelahnya, juga bersila, dengan lengan kemeja digulung dan kacamata yang melorot sedikit. Di antara mereka ada tiga gelas teh yang sudah dingin, sepiring gorengan yang tinggal separuh, dan selembar kertas HVS penuh coretan kotak dan panah.

Mereka tidak menyadari kehadiranku.

“Nah, di sini,” kata Devan, menunjuk layar. “Kamu kirim semua pesan ke server satu-satu. Kalau ada seribu orang pakai aplikasi kamu barengan, servernya bakal kewalahan.”

“Terus gimana?”

“Menurut kamu gimana?”

Kenzo mengerutkan kening. Menggigit ujung pulpen. Menatap coretan di kertas. “Dikumpulin dulu? Terus dikirim sekaligus?”

“Coba.”

Kenzo mengetik. Devan diam. Tidak menyentuh keyboard sama sekali. Tangannya bertumpu di lutut, dan dia cuma menonton layar dengan sabar, seperti orang yang sedang menonton ikan di akuarium.

Aku berdiri di anak tangga ketiga, memegang pegangan tangga, dan tidak bisa bergerak.

Kenzo tidak pernah membiarkan siapa pun melihat layarnya. Tidak aku, tidak Mama, tidak Papa. Waktu kecil, dia membuat pintu kamarnya berbunyi alarm kalau dibuka tanpa izin. Waktu SMP, dia memasang password di laptopnya yang terdiri dari tiga puluh dua karakter. Dan sekarang dia duduk di ruang tamu jam sebelas malam, membiarkan cowok yang dia curigai sejak hari pertama menatap setiap baris kodenya.

“BISA!” Kenzo tiba-tiba berteriak, lalu menutup mulutnya sendiri karena ingat ini sudah malam. “Bisa, Kak. Lihat. Lebih cepat.”

“Bagus.”

“Aku yang nemu, kan?”

“Kamu yang nemu.”

Kenzo tersenyum. Senyum yang jarang kulihat di wajahnya sejak dia masuk SMA dan memutuskan bahwa tersenyum itu tidak keren. Senyum lebar dan polos, seperti Kenzo umur delapan tahun yang baru pertama kali berhasil naik sepeda tanpa roda bantu.

Aku menempelkan punggung ke dinding tangga, supaya mereka tidak melihatku, dan menarik napas panjang.


Semua ini dimulai hari Minggu lalu, setelah makan malam keluarga, waktu Kenzo menarik Devan ke teras dan berbicara dengannya selama dua puluh menit dengan suara pelan.

Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku mencoba menguping dari balik jendela ruang tamu, tapi Kenzo melihatku dan menutup gordennya dengan tatapan yang sangat tidak ramah.

Hari Senin, Kenzo mengumumkan di grup keluarga:

Kenzo: Mulai besok Kak Devan ke rumah tiap malam buat bantuin aku lomba. Jangan diganggu. Terutama Kak Nabila.

Aku: Kenapa terutama aku???

Kenzo: Karena Kakak ganggu konsentrasi Kak Devan.

Tante Rini: 🤭🤭🤭

Mama: Mama siapin gorengan tiap malam!!! ❤️

Om Bram: Lomba apa?

Kenzo: Lomba aplikasi tingkat provinsi. Tim sekolahku lolos final. Tapi aplikasinya macet. Presentasinya hari Sabtu.

Om Bram: Aplikasi apa?

Kenzo tidak langsung menjawab. Titik-titik muncul dan hilang beberapa kali.

Kenzo: Aplikasi buat deteksi pesan penipuan di grup WhatsApp keluarga. Terinspirasi dari Tante Rini.

Tante Rini: AKU???

Kenzo: Iya, Tante. Kemarin hampir kena. Aku kepikiran, di grup keluarga orang lain, pasti banyak tante-tante yang nggak punya Kak Devan buat ditelepon.

Grup itu sunyi selama satu menit penuh.

Lalu Tante Rini mengirim empat puluh dua emoji menangis berturut-turut. Aku menghitungnya.


Jadi selama lima malam, Devan datang ke rumah jam delapan malam, setelah pulang kerja, dan pulang jam dua belas atau jam satu pagi.

Setiap malam, pemandangannya sama. Kenzo di depan laptop. Devan di sebelahnya. Mama bolak-balik dari dapur membawa gorengan, teh, dan kadang-kadang martabak yang dipesan lewat aplikasi. Papa lewat sekali setiap malam, berhenti di ambang pintu ruang tamu selama beberapa detik, berdeham satu kali, lalu naik ke atas.

Dan aku?

Aku dilarang masuk. Itu perintah resmi Kenzo, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, Mama mendukung Kenzo dan bukan aku. “Biarin mereka fokus, Nak,” kata Mama. “Kamu kalau di situ, Nak Devan jadi lirik-lirik terus.”

“Dia nggak lirik-lirik!”

“Kemarin Mama lihat dia lirik ke tangga tiga kali pas kamu lewat.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Jadi setiap malam, aku duduk di anak tangga ketiga. Diam-diam. Dengan buku yang tidak kubaca, atau HP yang tidak kulihat. Dan aku menonton mereka.

Aku menonton Devan menjelaskan hal-hal yang tidak kumengerti dengan cara yang membuatku hampir mengerti. Server. Basis data. Model bahasa. Dia tidak pernah memakai istilah rumit tanpa menjelaskannya dengan perumpamaan. Server itu seperti dapur restoran. Basis data itu seperti lemari arsip Bi Inah. Model yang membaca pesan penipuan itu seperti Oma, yang sudah hidup cukup lama untuk tahu mana orang yang niatnya jahat hanya dari cara mereka bicara.

Aku menonton Kenzo tertawa. Kenzo, yang biasanya cuma mengeluarkan wkwk lewat chat, tertawa betulan, dengan suara, sampai harus berbaring di karpet.

Aku menonton Devan tidak pernah sekali pun mengambil alih keyboard.

Bahkan waktu Kenzo stuck selama satu jam penuh di malam ketiga, dengan wajah yang semakin frustrasi dan jari yang mengetuk-ngetuk meja. Bahkan waktu Kenzo akhirnya menyodorkan laptopnya dan berkata Kak, udah, Kakak aja yang benerin. Devan cuma mendorong laptop itu kembali pelan-pelan dan berkata, “Kalau aku yang benerin, hari Sabtu yang presentasi siapa?”

“Aku.”

“Terus kalau juri nanya bagian ini gimana cara kerjanya?”

Kenzo diam.

“Kamu harus bisa jawab. Dan kamu cuma bisa jawab kalau kamu yang bikin.” Devan mengambil sepotong bakwan dari piring. “Istirahat lima menit. Makan gorengan. Terus coba lagi.”

Kenzo makan gorengan dengan wajah cemberut. Lima menit kemudian, dia mencoba lagi. Empat puluh menit kemudian, dia menemukan jawabannya.

Dan waktu dia menemukannya, dia berteriak begitu keras sampai Papa turun dari lantai atas dengan piyama dan wajah panik, mengira ada maling.


Di malam keempat, aku ketiduran di sofa ruang keluarga, yang letaknya di sebelah ruang tamu dan dipisahkan cuma oleh lemari buku yang setengah terbuka.

Aku tidak bermaksud tidur. Aku cuma berpindah dari anak tangga ke sofa karena punggungku sakit. Aku bisa melihat mereka dari celah lemari buku. Aku menyandarkan kepala di lengan sofa, memperhatikan Devan yang sedang menggambar sesuatu di kertas HVS, dan mendengarkan suaranya yang rendah dan tenang menjelaskan sesuatu soal filter dan kata kunci.

Suaranya seperti hujan di atap. Pelan, tetap, menenangkan.

Aku menutup mata sebentar.

Waktu aku membukanya lagi, lampu ruang keluarga sudah diredupkan. Jam di dinding menunjukkan pukul satu lewat sepuluh. Dan ada sesuatu di atas badanku.

Jaket. Jaket denim yang agak kebesaran, yang wangi sabun kayu dan sedikit jeruk.

Aku duduk pelan-pelan. Jaket itu meluncur ke pangkuanku. Di ruang tamu, lampunya masih menyala, dan aku mendengar suara pelan.

“...udah, Kak, pulang aja. Udah jam satu.”

“Satu bagian lagi.”

“Kak Devan besok kerja.”

“Kamu besok sekolah.”

“Aku bisa tidur di kelas. Kakak nggak bisa tidur di kantor.”

“Aku bisa. Sofa kantor aku per-nya keluar, tapi masih bisa.”

Kenzo tertawa kecil. Lalu hening sebentar.

“Kak,” kata Kenzo, dengan suara yang tiba-tiba berbeda. Lebih pelan. Lebih serius.

“Hm?”

“Aku masih curiga.”

Aku menahan napas. Aku merapatkan jaket Devan ke dada dan tidak bergerak sama sekali.

“Curiga soal apa?” tanya Devan.

“Soal Kakak sama Kak Nabila. Ada yang aneh. Aku nggak tahu apa. Tapi aku punya tiga puluh satu bukti, dan sebagian besar nggak masuk akal kalau kalian udah pacaran setahun.”

Hening. Aku bisa mendengar jantungku sendiri.

“Terus?” tanya Devan, tenang.

“Terus...” Kenzo diam lama. “Terus aku nggak peduli.”

“Nggak peduli?”

“Aku nggak peduli kalian udah pacaran setahun atau seminggu atau apa. Soalnya aku lihat cara Kakak lihatin Kak Nabila tadi, waktu Kakak nyelimutin dia pakai jaket.” Kenzo berdeham, jelas malu. “Dan aku lihat cara Kak Nabila lihatin Kakak dari tangga tiap malam. Dia pikir aku nggak tahu dia di situ. Aku tahu. Semua orang tahu. Mama tahu. Papa juga tahu.”

Aku menutup wajah dengan jaket Devan. Seluruh wajahku terbakar.

“Jadi,” lanjut Kenzo, “aku masih curiga. Tapi ya udah. Kak Devan boleh jadi kakak iparku kalau aplikasiku menang.”

Hening sebentar. Lalu suara Devan, pelan, dengan tawa kecil di ujungnya.

“Kalau aplikasinya kalah?”

“Kalau kalah, Kakak masih boleh. Tapi aku bakal ngeluh.”

Aku mendengar mereka tertawa bersama. Pelan, supaya tidak membangunkan orang rumah. Dan aku duduk di sofa dalam gelap, dengan jaket Devan menutupi wajahku, dan tertawa juga, tanpa suara, dengan mata yang entah kenapa basah.


Hari Sabtu, final lomba aplikasi tingkat provinsi diadakan di aula sebuah universitas di Depok.

Seluruh keluarga datang. Mama, Papa, Tante Rini, Om Bram. Oma tidak bisa datang, tapi dia menitipkan pesan lewat Bi Inah: Bilang ke Kenzo, jangan grogi, grogi itu cuma buat orang yang nggak siap. Tasya datang membawa spanduk kecil bertuliskan KENZO JUARA yang dia buat semalam dengan spidol dan karton.

Devan datang juga. Dia duduk di sebelahku di baris ketiga, memakai kemeja biru muda, dan dia tidak berkata apa-apa sejak kami duduk. Kakinya bergerak naik-turun. Tangannya meremas lututnya sendiri.

“Kamu gugup,” bisikku.

“Nggak.”

“Kaki kamu goyang.”

“Itu... olahraga.”

“Kamu lebih gugup dari Kenzo.”

Dia menoleh padaku. Di balik kacamatanya, matanya kelihatan tegang.

“Dia udah kerja keras banget,” katanya pelan. “Aku cuma mau dia menang. Bukan buat aku. Buat dia.”

Aku menatapnya. Lalu, tanpa berpikir, aku meraih tangannya yang meremas lutut dan menggenggamnya.

Kakinya berhenti bergoyang.

Dia menatap tangan kami. Lalu menatapku. Aku menatap panggung dengan sangat serius.

“Pasal tiga,” bisiknya. “Kontak fisik cuma di depan keluarga.”

“Keluarga aku ada di sini semua,” bisikku balik. “Mama di sebelah kiri. Tante Rini di belakang.”

“Oh. Iya. Oke.”

Kami tetap bergandengan tangan sampai nama Kenzo dipanggil.


Kenzo presentasi selama lima belas menit. Dia berdiri di panggung dengan kemeja putih yang terlalu besar (kemeja Papa, yang diam-diam dipinjam), dengan dua teman satu timnya, dan menjelaskan aplikasi mereka dengan suara yang sedikit gemetar di awal, lalu semakin mantap.

Dia menunjukkan bagaimana aplikasi itu membaca pesan yang masuk ke grup WhatsApp, mengenali pola penipuan, dan memberi peringatan dengan bahasa yang bisa dimengerti orang tua: Hati-hati, Bu. Pesan ini mirip penipuan. Jangan klik tautannya. Tanya dulu ke anak atau cucu.

Dia menceritakan soal Tante Rini. Tanpa menyebut nama. Tante saya hampir kehilangan seluruh tabungannya bulan ini. Dia selamat karena ada orang yang cepat menelepon. Tapi tidak semua tante punya orang seperti itu. Jadi kami buatkan.

Di baris ketiga, Tante Rini menangis tersedu-sedu ke bahu Om Bram.

Lalu sesi tanya jawab. Seorang juri, profesor berambut putih dengan kacamata tebal, bertanya soal cara aplikasi itu menangani ribuan pesan sekaligus tanpa membuat server kewalahan.

Aku merasakan tangan Devan mengencang di tanganku.

Kenzo menjawab. Lancar. Tanpa melihat catatan. Dia menjelaskan soal pesan yang dikumpulkan dulu lalu dikirim sekaligus, persis seperti malam hari Selasa itu, waktu dia berteriak BISA lalu menutup mulutnya sendiri.

Profesor berambut putih itu mengangguk pelan. Menulis sesuatu di kertasnya. Lalu bertanya: “Siapa yang merancang bagian itu?”

Kenzo diam sebentar. Matanya mencari-cari di antara penonton. Menemukan baris ketiga. Menemukan Devan.

Lalu dia kembali menatap juri.

“Saya, Pak,” katanya. “Tapi saya dibantu seseorang yang nggak pernah mau pegang keyboard saya.”


Kenzo juara satu.

Aku tidak akan menceritakan semua detailnya, karena sebagian besar yang terjadi setelah nama Kenzo diumumkan adalah teriakan. Tasya berteriak. Tante Rini berteriak. Om Bram berteriak ITU KEPONAKAN SAYA ke seluruh aula. Mama menangis. Papa berdiri, bertepuk tangan dengan wajah datar, lalu melepas kacamatanya dan membersihkannya dengan ujung kemeja selama waktu yang sangat, sangat lama.

Dan Devan?

Devan tidak berteriak. Dia tidak melompat. Dia cuma duduk di kursinya, dengan tanganku masih di tangannya, dan menatap Kenzo di panggung dengan senyum yang begitu lebar sampai matanya menyipit.

Dia kelihatan bangga. Bangga seperti kakak.

Aku menatapnya dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa lagi kusebut kebetulan, atau akting, atau totalitas, atau apa pun yang sudah kupakai selama tiga minggu terakhir untuk menjelaskan kenapa jantungku berdetak seperti ini setiap kali dia tersenyum.

Setelah acara, Kenzo turun dari panggung dengan piala di tangan. Dia berjalan melewati Mama, yang mencoba memeluknya. Melewati Tante Rini, yang mencoba menciumnya. Melewati Om Bram, yang mencoba mengangkatnya.

Dia berhenti di depan Devan.

“Kak,” katanya.

“Selamat, Kenzo.”

Kenzo menatapnya lama. Lalu dia menyodorkan pialanya.

“Pegang.”

“Hah?”

“Pegang. Sebentar aja.”

Devan memegang piala itu, bingung. Kenzo mengeluarkan HP-nya, membuka aplikasi catatan, dan menggulir sampai ke paling bawah. Aku bisa melihat judulnya dari tempatku berdiri. BUKTI.

Kenzo mengetik sesuatu. Lalu dia memutar HP-nya ke arah Devan.

Aku mengintip dari balik bahu Devan.

Bukti #32: Kak Devan kayaknya beneran sayang sama Kak Nabila. Dan sama aku. Kasus ditutup.

Devan menatap layar itu lama. Kenzo mengambil pialanya kembali, memasukkan HP ke saku, dan berbalik untuk menghadapi Mama, yang akhirnya berhasil memeluknya.

Aku berdiri di sebelah Devan. Dia masih menatap tempat HP Kenzo tadi berada, seperti orang yang baru saja diberi sesuatu yang tidak tahu harus ditaruh di mana.

“Kasus ditutup,” kataku pelan.

“Kasus ditutup,” ulangnya.

“Kenzo nggak pernah nutup kasus. Kasus Bi Inah nonton sinetron masih dibuka sampai sekarang.”

Devan menoleh padaku. Matanya sedikit basah di balik kacamata. Dia berkedip cepat beberapa kali, lalu tersenyum.

“Aku cuma bawa gorengan,” katanya.

“Mama yang bawa gorengan.”

“Aku yang makan gorengan.”

Aku tertawa. Lalu, sebelum aku sempat berpikir, sebelum aku sempat mengingat pasal tiga atau pasal empat atau pasal mana pun, aku menyandarkan kepalaku di bahunya.

Sebentar. Hanya tiga detik. Batas maksimal pelukan yang tertulis di kontrak laminasi kami, meskipun ini bukan pelukan.

Dia tidak bergerak. Dia tidak bicara. Tapi aku merasakan bahunya menegang, lalu melemas, lalu, sangat pelan, pipinya menyentuh puncak kepalaku.

Tiga detik.

Lalu Tante Rini berteriak “FOTO KELUARGA!” dan kami memisahkan diri secepat dua magnet yang ditarik ke arah berlawanan.

Di foto keluarga itu, yang dicetak Mama dan dipajang di ruang tengah sampai sekarang, Kenzo berdiri di tengah dengan pialanya. Seluruh keluarga Saheila mengelilinginya. Dan di pinggir kanan, aku berdiri di sebelah Devan.

Kami tidak bergandengan tangan di foto itu. Kami tidak saling merangkul.

Tapi kami berdua tidak menatap kamera. Kami saling menatap. Dan tidak ada satu orang pun di keluarga Saheila, yang sepertinya sudah tahu lebih dulu daripada kami, yang meminta kami untuk mengulang fotonya.