Chapter Thirty Three
Mode Ngambek
POV: Nabila
Mama berdiri lebih dulu.
Dia tidak bicara. Dia cuma mendorong kursinya ke belakang, pelan, dengan bunyi kaki kursi yang menggeser lantai marmer. Lalu dia berdiri, merapikan kain kebayanya, dan berjalan ke dapur.
“Ma,” kataku.
Mama berhenti di ambang pintu dapur. Tidak menoleh.
“Mama perlu ke dapur,” katanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Rendangnya kurang garam.”
Rendangnya tidak kurang garam. Rendangnya sempurna. Semua orang di meja tahu itu.
Mama masuk ke dapur. Pintunya tidak ditutup, tapi rasanya seperti ditutup.
Lalu Tante Rini meledak.
“SETAHUN?!” Dia menunjuk kontrak laminasi di tengah meja dengan jari gemetar. “Kalian bilang SETAHUN! Tante cerita ke empat puluh ibu-ibu arisan kalian udah SETAHUN! Tante bikin status TIGA KALI!”
“Tante...”
“FOTO KOTA TUA ITU?! Yang kamu pakai dress kuning?! Yang kamu senyum kayak baru pertama kali senyum?! Tante cetak, Bil! Tante pajang di ruang tamu!”
“Tante, aku bisa jelasin...”
“PASAL SEPULUH!” Tante Rini menyambar kontrak itu dan membacanya lagi dengan suara keras, seperti jaksa di pengadilan. “Pihak Kedua berhak menggombal demi realisme sandiwara! Jadi semua yang dia bilang ke Tante? Saya jatuh cinta di detik pertama, Tante? Yang pertama, dia cantik, Tante? Itu semua PASAL SEPULUH?!”
“Bukan, Tante,” kata Devan. Pelan.
Tante Rini menoleh padanya dengan mata menyala.
“Itu bukan pasal sepuluh,” kata Devan. Dia masih berdiri, dengan jas hitam dan wajah pucat. “Pasal sepuluh dibikin hari kedua. Yang saya bilang di malam pertama, sebelum ada pasal apa pun, itu jujur. Semuanya.”
Tante Rini membuka mulut. Menutupnya. Menatap kontrak di tangannya. Menatap Devan. Menatap aku.
Lalu dia duduk kembali di kursinya, pelan-pelan, dan menutup wajah dengan kedua tangan.
“Tante nggak tahu harus marah atau nangis,” katanya dari balik tangan.
“Dua-duanya boleh, Rin,” kata Om Bram. Dia masih memegang cetakan artikel. Masih menatap foto Devan di atas panggung. “Caddy saya CEO,” katanya lagi, ke dirinya sendiri, dengan suara orang yang baru ditipu penjual mobil bekas. “Saya ajarin dia cara pegang stik. Saya bilang AI itu gaya-gayaan. Di depan CEO startup AI.”
“Om, saya beneran jelek main golf.”
“Itu bukan poinnya!”
Oma tidak bicara. Oma duduk di kursi rodanya, dengan radio Opa yang sudah dimatikan di pangkuan, dan menatap semua orang bergantian dengan mata tua yang tajam.
Kenzo duduk di ujung meja dengan tangan terlipat. Tidak tersenyum.
Dan Papa?
Papa berdiri. Semua orang langsung diam.
“Cukup,” kata Papa.
Satu kata. Tante Rini berhenti terisak. Om Bram menurunkan cetakan artikelnya.
Papa menatap seluruh meja. Lalu menatap Devan.
“Devan,” katanya. “Pulang.”
Aku merasakan tangan Devan menegang di tanganku.
“Om, saya...”
“Kita bicara kalau kepala semua orang sudah dingin,” kata Papa. “Malam ini bukan malamnya.”
Devan menatap Papa lama. Lalu dia melepaskan tanganku, pelan. Menatap seluruh meja. Dan membungkuk. Dalam. Lama. Seperti orang yang meminta maaf di depan altar.
“Maaf,” katanya. “Maaf, Om. Maaf, Tante. Maaf, Oma. Maaf, Kenzo. Saya salah.”
Tidak ada yang menjawab.
Devan menegakkan badannya. Menatapku sebentar. Lalu berjalan keluar dari ruang sidang, dengan langkah yang sama tenangnya seperti waktu dia masuk. Tapi aku melihat tangannya. Tangannya mengepal di sisi badannya.
Aku mengejarnya sampai ke pagar.
“Aku minta maaf,” katanya di depan pagar, di bawah lampu teras yang sama dengan malam martabak.
“Kamu nggak salah sendiri.”
“Aku yang ngusulin kontrak.”
“Aku yang ngusulin pacaran bohongan.”
“Aku yang bilang kan mereka udah ngira kita pacaran di malam kita jadian.”
“Aku yang ngulangin kalimat itu.”
Kami saling menatap. Di pos satpam, TV kecil mati. Satpamnya pura-pura tidur.
“Dev,” kataku. “Kita salah berdua.”
“Iya.”
“Kita tanggung berdua.”
Dia menatapku lama. Lalu mengangkat tangannya dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga kiri.
“Mama kamu nggak manggil aku Nak Devan,” katanya pelan.
Suaranya pecah sedikit di ujungnya. Dan aku tahu, dari semua yang terjadi malam ini, itu yang paling menyakitinya. Bukan Tante Rini yang berteriak. Bukan Om Bram yang merasa ditipu. Bukan Papa yang menyuruhnya pulang. Tapi Mama, yang tidak memanggilnya apa-apa.
Aku memeluknya. Erat. Di depan pagar. Di bawah lampu teras. Di depan satpam yang pura-pura tidur.
“Mama pasti manggil lagi,” bisikku ke dadanya. “Pasti.”
Dia tidak menjawab. Tapi lengannya melingkari punggungku, dan dia memelukku balik, lama, sampai lampu teras berkedip sekali karena bohlamnya sudah tua.
Aku menemukan Kenzo di kamarnya jam sebelas malam.
Pintunya tidak dikunci. Tulisan LAPORAN AKHIR sudah dicopot. Dia duduk di kasur, bersandar di dinding, dengan HP di tangan dan mata yang menatap langit-langit.
Aku berdiri di ambang pintu. “Kenzo.”
Dia tidak menoleh.
“Kenapa?” tanyaku. “Kenapa di depan semua orang?”
Dia diam lama. Lalu menurunkan HP-nya.
“Karena kalau aku kasih tahu Kakak doang, Kakak bakal nyembunyiin lagi,” katanya. “Kakak sama Kak Devan. Kalian bakal bilang nanti. Kalian bakal bilang tunggu waktu yang tepat. Terus nggak pernah.”
Aku tidak bisa membantahnya.
“Aku nutup kasus pertama di Depok,” lanjutnya. Suaranya pelan. “Aku bilang Kak Devan beneran sayang sama Kakak. Dan sama aku. Aku tulis kasus ditutup.” Dia menatap HP-nya. “Terus aku lihat logo di laptopnya. Terus aku baca artikel itu. Terus aku nemu kontrak di tas Kakak. Dan aku mikir, semua bukti aku bener. Ada yang aneh dari awal.“
“Kenzo...”
“Aku nggak marah kalian bohong soal setahun, Kak.” Dia akhirnya menoleh padaku. Matanya merah. “Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut Kak Devan pergi.” Suaranya pecah. Adikku, yang umur tujuh belas tahun, yang tidak pernah menangis sejak umur dua belas, sekarang menahan air mata di depanku. “Kalau kalian cuma sandiwara, dia bisa pergi kapan aja. Kontraknya selesai, dia pergi. Kayak aktor yang udah selesai syuting. Terus aku nggak punya kakak cowok lagi.”
Aku berdiri membeku di ambang pintu.
“Jadi aku bongkar,” katanya. “Biar kalian terpaksa jujur. Biar semuanya beneran. Biar kalau dia tetap di sini, dia di sini karena beneran, bukan karena kontrak.”
Aku berjalan masuk. Duduk di kasurnya. Dan memeluknya.
Dia tidak membalas pelukanku. Tapi dia juga tidak mendorongku pergi. Dia cuma diam, dengan kepala di bahuku, dan aku merasakan bahuku basah.
“Kontraknya udah batal dari dua minggu lalu,” bisikku. “Pasal empat dicoret. Kamu lihat sendiri.”
“Aku lihat.”
“Dia nggak pergi, Ken.”
“Kakak yakin?”
“Dia CEO yang nyetir motor jam satu pagi bawa martabak karena aku bilang kangen tujuh detik. Dia nggak pergi.”
Kenzo tertawa kecil di bahuku. Tawa yang basah.
“Itu bodoh,” gumamnya.
“Iya.”
“Dia bodoh banget.”
“Iya. Aku cinta dia.”
Kenzo mengangkat kepalanya. Menatapku dengan mata merah. “Kakak bilang cinta.”
“Iya.”
“Ke aku. Keras-keras.”
“Iya.”
Dia menatapku lama. Lalu mengambil HP-nya, membuka aplikasi catatan, dan mengetik sesuatu. Aku mengintip.
Kasus Baru, Bukti #7: Kak Nabila bilang cinta ke Kak Devan di depan aku. Tanpa kontrak. Status: mempertimbangkan penutupan kasus.
Keesokan harinya, mode ngambek keluarga Saheila resmi dimulai.
Dan ternyata, keluarga Saheila ngambek dengan cara yang sangat, sangat aneh.
Hari Jumat.
Mama tidak bicara padaku di meja sarapan. Dia menyiapkan nasi goreng, menaruhnya di depanku, lalu duduk di ujung meja dan membaca koran. Koran Papa. Koran bisnis. Mama tidak pernah membaca koran bisnis.
Jam sebelas siang, Devan mengirimiku foto.
Foto meja kerjanya di kantor Lintas. Dengan rantang tiga susun bergambar bunga-bunga, rantang yang sama dengan hari rendang pertama. Isinya rendang, nasi, dan sayur daun singkong. Di atas tutup rantang, ada kertas kecil yang ditempel dengan selotip. Tulisan tangan Mama, yang sangat kukenal.
Masih marah.
Di bawah foto itu, Devan menulis:
Ojek online antar ke kantor jam 10.30. Aku tanya abangnya siapa yang pesan, katanya “Ibu-ibu di Pondok Indah, sambil ngomel.”
Lalu:
Kalau marahnya sehangat ini, aku mau dimarahin seumur hidup.
Aku tertawa sampai Dinda di meja sebelah menatapku dengan khawatir.
Hari Sabtu.
Tante Rini membuat status WhatsApp. Tiga kali.
Status pertama, jam tujuh pagi: Ada yang pinter bikin kontrak, tapi nggak pinter jujur 🙄.
Status kedua, jam dua belas siang: Tas asli nggak butuh kontrak. Cinta asli juga nggak 💅.
Status ketiga, jam delapan malam, foto rendang di rantang dengan keterangan: Mbak Ratna, rendangnya tetap dikirim ke kantor dia kan? Jangan sampai dia kurus. Tante masih marah tapi nggak tega.
Aku menunjukkan ketiga status itu ke Devan lewat video call. Dia tertawa sampai kacamatanya melorot.
“Tante Rini ngasih kode,” katanya.
“Kode apa?”
“Status ketiga. Nggak tega. Itu artinya dia mau maafin, tapi gengsi.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Aku udah bikin sistem arisan dia. Aku tahu pola pikirnya.”
Hari Sabtu juga, Om Bram main golf. Sendirian. Tanpa caddy. Melawan Om Hadi.
Dia kalah. Delapan pukulan.
Jam empat sore, Devan mendapat pesan dari nomor Om Bram. Dia meneruskannya padaku.
Swing saya rusak lagi. Pinggul saya buru-buru pulang lagi. Ini salah kamu. Saya masih marah. Tapi kirim ulang video yang ada garis-garisnya. Yang warna hijau di bahu.
Lalu, lima menit kemudian:
Jangan bilang ke Tante Rini saya minta.
Hari Minggu.
Grup WhatsApp keluarga berganti nama. Pelakunya jelas.
Tante Rini mengubah nama grup menjadi “Keluarga Saheila (+Devan?)”
Dengan tanda tanya.
Om Bram membalas: Kenapa ada tanda tanyanya?
Tante Rini membalas: Karena masih dipertimbangkan.
Om Bram membalas: Kalau dipertimbangkan kenapa nggak dikeluarin dari grup?
Tante Rini tidak membalas. Devan tetap di grup.
Kenzo membalas: Oma bilang apa?
Satu menit kemudian, dari HP Bi Inah:
Oma bilang Oma nggak ngambek. Radio Oma bagus. Oma cuma lagi nonton. — Bi Inah
Lalu satu lagi:
Oma bilang yang ngambek itu nggak sabaran. Oma sabar. — Bi Inah
Papa tidak membalas apa-apa. Papa tidak membalas apa-apa sejak Kamis malam. Papa pergi ke kantor jam enam pagi dan pulang jam sepuluh malam, langsung masuk ke ruang kerjanya, dan tidak keluar sampai pagi. Aku mendengar suara kertas dibalik dari balik pintunya, dan kadang-kadang suara Papa bicara di telepon dengan Pak Wahyu, soal draf kerja sama dengan Lintas.
Papa tidak menyebut nama Devan sekali pun.
“Mama ngambek sama kita,” kataku ke Devan, hari Minggu malam, lewat telepon. Aku berbaring di kasur dengan wajah di bantal.
“Mama kamu ngirim rendang tiap hari.”
“Dengan tulisan masih marah.”
“Tulisannya tiap hari beda. Hari Jumat masih marah. Hari Sabtu masih marah banget. Hari ini masih marah, tapi jangan lupa makan sayurnya.” Aku bisa mendengar senyumnya. “Mama kamu lagi turun level.”
“Kamu ngitung tulisannya?”
“Aku ngitung semuanya.”
Aku tertawa ke bantal. Lalu diam.
“Papa belum ngomong apa-apa,” kataku.
Devan diam sebentar. “Aku tahu.”
“Papa diem aja. Di ruang kerja. Tiap malam.”
“Papa kamu lagi mikir.”
“Kalau Papa nggak setuju?”
“Kalau Papa kamu nggak setuju, aku bakal datang tiap hari Minggu sampai dia setuju. Bawa bawang merah. Nangis di dapur Mama kamu. Main golf sama Om Bram sampai dia menang lagi.”
“Itu bisa bertahun-tahun.”
“Aku sabar. Oma bilang yang sabar nggak ngambek.”
Aku tertawa lagi. Lalu menarik bantal lebih erat ke wajahku.
“Terus sekarang kita ngapain?” tanyaku.
“Ya udah,” katanya. “Kita pacaran aja sambil nunggu mereka selesai ngambek.”
Aku mengangkat wajah dari bantal.
“Kamu serius?”
“Serius. Keluarga kamu lagi ngambek. Kita nggak bisa maksa mereka berhenti. Tapi kita juga nggak perlu berhenti pacaran.” Dia berhenti. “Honey, aku kangen kamu.”
“Kita baru ketemu kemarin.”
“Kemarin itu dua puluh empat jam yang lalu.”
“Dua puluh tiga.”
“Masih kelamaan.”
Aku tersenyum ke langit-langit. “Kamu cantik,” katanya tiba-tiba.
“Kamu nggak lihat aku. Ini telepon.”
“Aku tahu kamu lagi tiduran dengan muka di bantal. Rambut kamu pasti berantakan. Kamu pasti pakai piyama awan.” Dia diam sebentar. “Kamu cantik.”
Aku menatap piyamaku. Awan. Tentu saja.
Hari Senin, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku.
Aku memasak.
Operasi damai, tahap satu. Aku yang merancangnya. Devan bilang itu ide yang bagus. Sasa bilang itu ide yang buruk. Kenzo bilang dia akan merekam semuanya untuk bukti.
Jam empat sore, aku pulang lebih awal dari kantor. Mama sedang di rumah Tante Rini. Bi Inah sedang di pasar. Aku masuk ke dapur, membuka buku Dapur Bu Ratmi di halaman empat puluh tujuh, dan mencoba memasak rendang.
Sendirian.
Tanpa pernah memasak rendang sebelumnya.
Aku mengupas bawang merah dan menangis selama dua puluh menit. Aku salah memasukkan santan, terlalu banyak, lalu terlalu sedikit. Aku lupa menyangrai kelapa sampai gosong dan harus mengulang. Aku mengaduk dan mengaduk dan mengaduk sampai lenganku pegal, dan pada jam kelima, waktu matahari sudah terbenam dan dapur penuh asap dan bau cabai, rendangku berwarna cokelat tua dan kelihatan... seperti rendang.
Hampir.
Kenzo berdiri di ambang pintu dapur dengan HP di tangan, merekam. “Kak, itu rendang atau aspal?”
“Rendang.”
“Kok berkilau?”
“Minyaknya keluar. Itu tanda rendang yang bagus.”
“Kata siapa?”
“Kata Nenek. Di buku.”
Mama pulang jam sembilan malam. Dia masuk ke dapur, masih dengan tas di bahu, dan berhenti.
Dia menatap dapurnya. Asap yang masih menggantung di dekat langit-langit. Panci besar di atas kompor. Kulit bawang merah berserakan di lantai. Buku Dapur Bu Ratmi terbuka di atas meja marmer, dengan noda santan di halaman empat puluh tujuh.
Dan aku, berdiri di depan kompor, dengan celemek ayam Kenzo waktu SD, wajah penuh keringat, mata merah karena bawang, dan rambut yang dicepol asal dengan pulpen, karena ikat rambutku hilang entah di mana.
Mama menatapku lama.
Lalu dia menaruh tasnya. Berjalan ke kompor. Mengambil sendok dari laci. Mencicipi rendangku.
Aku menahan napas. Kenzo, di ambang pintu, menurunkan HP-nya.
Mama mengunyah pelan. Sangat pelan. Wajahnya tidak berubah.
“Kurang garam,” katanya.
Aku menunduk.
“Kayak kejujuran kamu,” lanjut Mama.
Aku mengangkat wajah. Mama sedang menatapku. Matanya berkaca-kaca. Tapi sudut bibirnya, sangat sedikit, bergerak.
“Tapi santannya pas,” kata Mama. “Kelapanya juga. Kamu sangrai dua kali?”
“...Yang pertama gosong.”
Mama mengangguk. Mengambil sendok lagi. Mencicipi lagi. Lalu dia menaruh sendoknya, dan tanpa berkata apa-apa, dia mengambil garam dari rak bumbu, menaburkannya ke dalam panci, dan mulai mengaduk.
Bersamaku.
Kami mengaduk rendang itu berdua, dalam diam, selama sepuluh menit. Mama di kiri, aku di kanan. Seperti Devan dan Mama di hari Minggu pertama.
Lalu Mama berhenti mengaduk.
“Mama masih marah,” katanya pelan.
“Iya, Ma.”
“Tapi bukan karena yang kamu kira.”
Aku menoleh. Mama sedang menatap rendang di panci, bukan aku.
“Nanti Mama bilang,” katanya. “Kalau semuanya udah kumpul.”
Lalu dia mematikan kompor, melepas celemeknya, dan berjalan keluar dapur. Di ambang pintu, dia berhenti di sebelah Kenzo.
“Kirim video itu ke Mama,” katanya ke Kenzo. “Yang Kakakmu nangis kupas bawang.”
“Buat apa, Ma?”
“Buat bukti.”
Lalu dia pergi. Kenzo menatapku. Aku menatap Kenzo.
“Mama barusan pakai kata bukti,” bisik Kenzo, dengan wajah kagum.
Malam itu, jam sebelas, Papa keluar dari ruang kerjanya untuk pertama kalinya sejak Kamis.
Dia menemukanku di ruang tengah, sedang duduk di sofa dengan HP, membalas pesan Devan. Dia berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang lengannya digulung dan kacamata baca di ujung hidung.
Aku langsung duduk tegak.
“Pa.”
Papa menatapku lama. Lalu dia berkata satu kalimat. Pendek. Tujuh kata. Seperti pesan-pesan WhatsApp-nya yang tidak pernah lebih dari tujuh kata.
“Suruh Devan datang besok. Jam delapan. Sendiri.”
Lalu dia berbalik dan kembali ke ruang kerjanya. Pintunya tertutup dengan bunyi klik pelan.
Aku menatap pintu itu. Jantungku berdetak di tenggorokan.
Lalu aku mengetik ke Devan, dengan jempol yang gemetar:
Papa manggil kamu. Besok jam 8 pagi. Sendiri.
Balasannya datang dalam dua detik.
Aku datang.
Lalu, satu detik kemudian:
Aku cinta kamu. Apa pun yang Papa kamu bilang besok.
Aku memeluk HP itu di dada, di sofa ruang tengah, dan menatap pintu ruang kerja Papa yang tertutup sampai jam dua pagi.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek reading
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi