Chapter Three

Kemeja Pinjaman

POV: Devan

Pagi itu dimulai dengan satu pesan WhatsApp, jam tujuh lewat lima belas.

Mas Devan, mohon maaf sekali, pertemuan hari ini terpaksa kami batalkan. Tim investasi memutuskan menunda keputusan untuk sektor logistik sampai kuartal depan. Semoga kita bisa berdiskusi lagi di lain waktu. Salam, Wibisono.

Aku membacanya tiga kali di dalam taksi online, berharap kata-katanya berubah kalau aku baca cukup sering. Tidak berubah. Kuartal depan. Itu artinya empat bulan lagi. Empat bulan tanpa suntikan dana, dengan empat puluh karyawan yang harus digaji, dan satu produk yang sudah siap diluncurkan tapi belum punya bensin untuk jalan.

Pertemuan itu sebenarnya dijadwalkan jam delapan di Kafe Jeda. Aku tetap datang, karena aku butuh tempat untuk menatap angka tanpa harus melihat wajah Bimo yang pasti panik lebih dulu daripada aku.

Umurku dua puluh tujuh. Tiga tahun lalu, bersama sahabatku sejak kuliah, aku mendirikan Lintas, perusahaan teknologi yang membuat sistem pengatur rute pengiriman barang. Singkatnya begini: kalau ada seratus truk yang harus mengantar barang ke seribu toko, sistem kami yang menentukan truk mana lewat jalan mana, jam berapa, dan membawa apa, supaya bensinnya paling hemat dan barangnya paling cepat sampai. Kami pakai kecerdasan buatan untuk itu. Kedengarannya keren kalau diceritakan di seminar. Kenyataannya, setengah hidupku habis untuk menatap tabel dan setengahnya lagi untuk meyakinkan orang tua berjas bahwa tabel itu bisa menghasilkan uang.

Di atas kertas, jabatanku CEO. Di kenyataan, aku orang yang paling sering membelikan gorengan untuk tim yang lembur.

Jadi pagi itu aku duduk di meja dekat jendela, memesan kopi hitam, membuka laptop, dan menatap proyeksi arus kas yang tiba-tiba punya banyak sel berwarna merah.

Lalu lonceng pintu berdenting.

Aku tidak menoleh. Bukan karena aku tidak dengar. Aku dengar. Aku juga dengar kafe itu tiba-tiba hening, dan aku dengar bunyi keyboard mahasiswa di pojok yang mendadak mengetik huruf yang sama berulang kali. Aku melirik sekilas dari sudut mata, sangat sekilas, dan itu kesalahan pertamaku hari itu.

Karena satu lirikan itu cukup.

Aku melihat seorang perempuan berjalan ke bar dengan kemeja putih longgar dan celana jins, rambut hitam panjang yang diikat asal, sneakers putih, tanpa riasan yang kelihatan. Pakaian yang sangat biasa. Dan entah bagaimana, dengan pakaian sebiasa itu, dia membuat seluruh ruangan terlihat seperti latar belakang foto yang sengaja dibuat buram supaya dia yang jadi fokusnya.

Aku langsung menunduk ke laptop dan memutuskan tidak akan mengangkat kepala lagi.

Jadi aku menatap tabel. Dengan sangat serius. Aku mendengar barista memanggil namanya, Nabila, dan aku menatap tabel. Aku mendengar dia tertawa soal latte art berbentuk awan, tawanya renyah dan tiba-tiba sekali, seperti sesuatu yang lepas dari genggaman, dan aku menatap tabel semakin keras sampai angka-angkanya mulai tidak masuk akal.

Aku berhasil bertahan kira-kira dua puluh menit. Aku cukup bangga soal itu.

Lalu dia menarik kursi di depanku dan duduk. Dia berdeham, dan aku tidak punya pilihan selain mengangkat wajah.

Dan di situlah semuanya berantakan.

Dari dekat, dia jauh lebih berbahaya daripada dari jauh. Matanya besar, cokelat terang, dengan bulu mata yang membuat bayangan kecil di pipinya waktu dia berkedip. Hidungnya kecil dan sedikit terangkat di ujung. Bibirnya sedang digigit sedikit di sudut, jelas karena gugup. Ada anak rambut yang lepas dari ikatannya dan jatuh di dekat pelipis, dan cahaya pagi dari jendela di belakangku jatuh tepat di wajahnya, membuat kulitnya seperti sedang bercahaya dari dalam. Aku pernah melihat perempuan cantik. Jakarta penuh perempuan cantik. Tapi dia bukan cantik yang bisa dibandingkan. Dia cantik yang membuatmu lupa bahwa perbandingan itu pernah ada.

Aku tahu kedengarannya berlebihan. Aku tidak peduli. Itu yang terjadi.

Lalu dia bicara. Cepat, gugup, dan lurus. Butuh pacar. Pacar bohongan. Satu malam. Jam tujuh. Keluarganya. Dibayar berapa pun.

Semua kalimat itu masuk ke telingaku, tapi otakku sedang sibuk dengan hal lain. Otakku sibuk mengingat cara bernapas.

Aku serius. Selama beberapa detik, aku benar-benar lupa urutannya. Tarik dulu atau buang dulu? Lewat hidung atau mulut? Kenapa proses yang sudah kulakukan dua puluh tujuh tahun tanpa berpikir tiba-tiba terasa rumit sekali?

Aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara, sangat samar. Belakangan aku tahu dia sedang menghitung. Waktu itu aku cuma tahu bahwa dia sedang menatapku dengan mata yang semakin panik, dan bahwa aku harus segera mengatakan sesuatu sebelum dia berdiri dan pergi dan aku harus menghabiskan sisa hidupku bertanya-tanya bagaimana kalau.

Sepuluh detik.

Orang-orang mungkin mengira sepuluh detik itu aku gunakan untuk menimbang. Untung dan rugi. Risiko dan manfaat. Seperti yang biasa kulakukan sebelum menandatangani apa pun.

Itu tidak benar.

Sepuluh detik itu adalah aku, CEO sebuah perusahaan teknologi, lulusan terbaik jurusan teknik informatika, orang yang bisa menghitung rute optimal untuk seribu truk dalam hitungan menit, lupa bagaimana caranya menarik napas karena seorang perempuan duduk di depanku dan menatapku.

Kata pertama yang berhasil keluar dari mulutku adalah “Oke.” Keputusan paling impulsif dalam hidupku, diambil dengan otak yang kekurangan oksigen.

Dan aku tidak menyesalinya sedikit pun.


“KAMU APA?”

Bimo berdiri dari kursinya begitu cepat sampai kursinya menggelinding mundur dan menabrak dispenser air. Galonnya bergoyang. Tiga orang tim engineer di meja sebelah menoleh bersamaan, seperti suricata yang mencium bahaya.

Aku baru saja sampai di kantor Lintas, sebuah ruko tiga lantai di Tebet yang kami sewa dengan harga yang membuat kami makan mi instan selama setahun pertama. Lantai satu untuk ruang meeting dan dapur. Lantai dua untuk tim engineer. Lantai tiga untuk tim operasional dan “ruang CEO”, yang sebenarnya cuma meja di pojok dekat jendela dengan sofa bekas yang per-nya sudah keluar satu.

“Duduk dulu, Bim.”

“NGGAK MAU DUDUK.” Bimo menunjukku dengan jari gemetar. Bimo itu CTO kami, sahabatku sejak semester satu, orang yang paling jenius dan paling dramatis yang pernah kukenal. Dia bisa menulis kode yang membuat investor menangis haru, lalu menangis sendiri karena sedotan es kopinya jatuh ke lantai. “Pak Wibisono batalin meeting, oke, aku bisa terima. Kita kehilangan kesempatan dana, oke, aku bisa terima. Tapi terus kamu pulang dan bilang kamu nerima tawaran pacaran dari orang asing?”

“Pacaran bohongan. Satu malam.”

“KAMU BAHKAN NOLAK TAWARAN KOPI DARI AKU!”

“Itu kopi sachet, Bim. Yang kamu seduh pakai air keran.”

“Itu kopi persahabatan!”

Salah satu engineer, Rara, mengangkat tangan dari mejanya. “Mas Devan, maaf. Kok senyum-senyum? Biasanya masuk kantor langsung nanya, ‘Server aman?’”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke tangga, naik ke lantai tiga, dan Bimo mengikutiku sambil terus bicara seperti komentator sepak bola yang timnya kebobolan di menit terakhir.

“Siapa dia? Namanya siapa? Kerja di mana? Kenapa dia butuh pacar bohongan? Kenapa kamu? Apa dia nggak lihat muka kamu? Maksudku, muka kamu lumayan, tapi...”

“Namanya Nabila.”

“Nabila siapa?”

“Nabila Saheila.”

Bimo berhenti di anak tangga terakhir. Diam. Aku bisa melihat roda-roda di kepalanya berputar.

“Saheila,” ulangnya pelan. “Saheila kayak... Saheila Group?”

“Kayaknya.”

“Kayaknya?”

“Aku nggak nanya. Tapi dia cerita Papanya punya perusahaan distribusi dan ritel. Dan ada berapa banyak keluarga Saheila di Jakarta yang punya perusahaan distribusi?”

Bimo duduk di anak tangga. Menutup wajah dengan kedua tangan.

“Dev,” katanya dari balik jari. “Saheila Group itu salah satu perusahaan distribusi terbesar di Jawa. Mereka punya armada truk sendiri. Ratusan truk. Mereka itu, secara teknis, calon klien impian kita. Mereka ada di daftar target nomor tiga di presentasi kita ke Pak Wibisono.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu mau pura-pura jadi pacar anaknya.”

“Iya.”

“Tanpa bilang kamu siapa.”

“Iya.”

Bimo menurunkan tangannya dan menatapku dengan wajah orang yang baru melihat temannya melompat dari tebing sambil tersenyum. “Kenapa?”

Aku duduk di sofa bekas. Pernya menusuk pahaku, seperti biasa. Aku menatap jendela, ke arah jalanan Tebet yang padat dengan motor dan gerobak siomay.

“Kalau aku bilang aku CEO Lintas,” kataku, “malam ini jadi tentang aku. Papanya bakal ngajak ngobrol soal bisnis. Omnya bakal ngetes aku. Semua orang bakal ngeliat aku sebagai calon mitra, bukan sebagai pacar anaknya. Dan dia...” Aku berhenti. “Dia butuh malam ini jadi tentang dia. Tentang dia yang nggak mau dijodohin. Kalau aku datang bawa nama perusahaan, itu kayak aku memanfaatkan situasi dia.”

Bimo menatapku lama.

“Kamu tahu nggak,” katanya akhirnya, “itu kalimat paling romantis yang pernah aku denger dari mulut kamu, dan kamu ngucapinnya ke aku.”

“Jangan dibesar-besarkan.”

“Kamu suka sama dia.”

“Aku baru kenal dia empat jam.”

“Kamu suka sama dia.”

“Bim.”

Aku melempar bantal sofa ke arahnya. Dia menangkapnya dengan mudah, lalu memeluknya sambil nyengir seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.

“Oke,” katanya. “Oke, oke. Aku dukung. Seratus persen. Sebagai sahabat, sebagai co-founder, sebagai orang yang udah tiga tahun nungguin kamu tertarik sama sesuatu selain server. Apa yang kamu butuhin?”

Aku berpikir. “Dua hal.”

“Sebut.”

“Pertama, laporan tahunan Saheila Group yang terbaru. Yang publik aja.”

Bimo mengangkat alis. “Kamu mau riset calon mertua?” Dia menggeleng-geleng, tapi dia membuka HP-nya dan mulai mencari. “Yang kedua?”

Aku menatap diriku sendiri. Kemeja abu-abu yang kupakai dari pagi sekarang punya noda cokelat besar di bagian dada, hasil karya Bimo yang menyemburkan kopi sachet-nya waktu aku menyebut nama Saheila tadi. Celana chino yang lututnya sudah memudar. Sepatu kets yang talinya pernah putus dan kusambung dengan simpul mati.

“Kemeja,” kataku. “Aku butuh kemeja.”


Masalahnya, semua kemejaku yang layak ada di laundry, dan aku baru ingat itu jam empat sore, setelah menghabiskan dua jam membaca laporan tahunan Saheila Group sambil mencatat hal-hal penting di buku kecilku. Perusahaan mereka memang besar. Armadanya lebih dari empat ratus truk. Tapi di laporan itu ada satu bagian yang menarik perhatianku: biaya distribusi mereka naik dua belas persen dalam dua tahun terakhir, dan di catatan kaki direksi menyebut tantangan efisiensi rute di wilayah padat.

Aku menatap catatan kaki itu lama, lalu menutup buku kecilku. Aku tidak akan menyebutnya malam ini, bahkan kalau ditanya.

Malam ini bukan tentang aku.

“Pakai punya aku,” kata Bimo.

“Kamu lebih pendek sepuluh senti.”

“Aku lebih pendek, tapi dadaku lebih bidang.”

“Dadamu nggak lebih bidang, Bim.”

“Dadaku bidang secara emosional.”

Kami tidak punya waktu untuk ke mal. Jadi Bimo menyetir ke kosnya, yang untungnya cuma sepuluh menit dari kantor, dan kembali membawa tiga kemeja.

Kemeja pertama berwarna ungu terong. Kemeja kedua putih, dengan sulaman PANITIA OSPEK 2017 di dada. Kemeja ketiga biru navy, polos, dan jelas satu-satunya pilihan yang masuk akal.

Aku memindahkan tisu kontrak dari saku kemeja abu-abu yang bernoda ke saku kemeja navy itu dengan sangat hati-hati, lalu memakainya. Kancing di bagian dada tertarik sampai membentuk celah kecil seperti mulut ikan, lengannya berhenti tiga senti di atas pergelangan tangan, dan waktu aku mengangkat tangan, bahunya menjerit dengan bunyi benang yang meregang.

“Jangan angkat tangan,” kata Bimo.

“Kalau aku mau salaman gimana?”

“Salaman dari pinggang aja. Kayak pangeran Inggris.”

“Kalau aku mau merangkul dia?”

Bimo menatapku dengan mata berbinar. “Kamu mau merangkul dia?”

“Maksudku kalau diperlukan untuk sandiwara.”

“Oh. Iya. Sandiwara.” Bimo mengangguk dengan wajah serius yang sama sekali tidak meyakinkan. “Rangkulnya pelan-pelan aja. Atau gulung lengannya. Kemeja yang digulung lengannya itu kelihatan santai tapi seksi. Aku baca di artikel.”

Aku menggulung lengannya sampai siku. Setidaknya sekarang aku kelihatan seperti orang yang sengaja berpakaian, bukan orang yang dipaksa masuk ke bungkus lontong.

Bimo mundur dua langkah dan menilaiku dari atas ke bawah. “Oke. Satu pesan: jangan kebanyakan ngomong soal server. Cewek nggak suka cowok yang ngomongin server.”

“Kamu nggak pernah punya pacar, Bim.”

“Karena aku kebanyakan ngomongin server. Aku belajar dari pengalaman.”

Jam lima lewat dua puluh, aku memesan taksi online. Bimo mengantarku sampai ke depan ruko, menepuk bahuku, pelan-pelan supaya kemejanya tidak robek, dan berkata dengan suara yang tiba-tiba sangat tulus:

“Dev. Semoga lancar. Beneran.”

“Makasih, Bim.”

“Dan kalau nanti ada kesempatan buat nyebut Lintas ke Papanya, sedikit aja...”

“Nggak.”

“Oke. Oke. Cuma nyoba.”


Jalan ke Pondok Indah macet seperti dugaanku. Satu jam sepuluh menit di kursi belakang taksi, menghafal ulang peta keluarga Saheila. Lalu aku merogoh saku kemeja dan mengeluarkan tisu yang lain. Yang terlipat dua kali, yang kusimpan di dekat dada sejak siang.

PERJANJIAN SATU MALAM.

Aku membaca tulisan tangannya. Hurufnya bulat-bulat, sedikit miring ke kanan, dengan titik di atas huruf i yang kadang berbentuk lingkaran kecil. Setelah itu selesai. Titik. Titiknya ditekan keras, sampai hampir menembus tisu. Seolah dia sedang meyakinkan dirinya sendiri, bukan aku.

Aku melipatnya lagi dan memasukkannya kembali ke saku.

Satu malam. Oke.

Tapi aku sudah memutuskan satu hal di sepanjang jalan tol yang macet itu: kalau aku hanya punya satu malam, aku akan membuat malam ini jadi malam terbaik yang bisa kuberikan untuknya. Bukan supaya keluarganya menyukaiku. Tapi supaya dia bisa pulang ke kamarnya nanti, melepas sepatunya, dan berpikir, setidaknya malam ini aku nggak sendirian.

Taksi berhenti di depan sebuah rumah besar di Pondok Indah, jam enam lewat lima puluh lima menit. Pagarnya hitam tinggi, dengan lampu-lampu taman yang menyala keemasan di balik jeruji. Di halaman depan, aku bisa melihat mobil-mobil mewah terparkir berjajar. Keluarga Wiranata sepertinya sudah datang.

Aku turun. Membetulkan kerah kemeja pinjaman. Menarik napas, dan kali ini aku ingat urutannya.

Aku mengirim pesan: Udah di depan.

Satu menit kemudian, pintu samping pagar terbuka, dan dia keluar.

Aku lupa bernapas untuk kedua kalinya hari itu.

Dia memakai gaun merah marun yang jatuh sampai di bawah lutut, dengan lengan pendek yang sedikit mengembang di bahu. Rambutnya yang tadi pagi diikat asal sekarang disanggul longgar di belakang kepala, dengan beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Ada anting kecil berbentuk tetesan air di telinganya, dan anting itu bergoyang pelan setiap kali dia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang yang melihatnya keluar. Lampu taman di belakangnya membuat pinggiran rambutnya berkilau keemasan.

Tadi pagi dia cantik dengan kemeja putih dan sneakers. Malam ini, dia cantik dengan cara yang membuatku ingin minta maaf pada semua perempuan lain yang pernah kusebut cantik, karena ternyata aku salah menggunakan kata itu selama ini.

Dia melihatku, lalu berlari kecil ke arahku dengan sepatu hak yang jelas tidak dirancang untuk berlari.

“Kamu datang,” katanya, sedikit terengah.

“Aku bilang aku datang.”

“Aku pikir kamu bakal kabur.”

“Kontraknya ada di saku aku. Aku nggak bisa kabur.”

Dia tertawa kecil, gugup. Lalu matanya turun ke kemejaku. Ke kancing di dada yang tertarik membentuk mulut ikan. Ke lengan yang digulung. Ke bahu yang jelas-jelas terlalu sempit.

“Ini kemeja siapa?”

“Kemeja aku.”

“Kok kekecilan?”

“Aku lagi tumbuh.”

Dia menatapku dengan alis terangkat, lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik. Dan di pipi kanannya, cuma di kanan, muncul lesung kecil itu.

“Kamu aneh,” katanya.

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Aku memilih untuk menganggapnya pujian.”

Dia menggeleng, lalu menarik napas panjang dan menatap rumahnya. Aku melihat bahunya menegang. Tangannya yang memegang clutch kecil sedikit gemetar.

“Mereka semua udah di dalam,” katanya pelan. “Papa, Mama, Kenzo, Tante Rini, Om Bram. Keluarga Wiranata juga. Gerald juga.”

“Oke.”

“Kalau ketahuan, kamu boleh langsung pergi. Aku yang tanggung jawab.”

“Nggak akan ketahuan.”

“Kamu nggak tahu itu.”

“Aku tahu.” Aku mengulurkan tanganku, telapak menghadap ke atas, persis seperti tadi siang di meja nomor tujuh. “Latihan terakhir, Bu Klien.”

Dia menatap tanganku. Lalu menatapku. Lalu meletakkan tangannya di atas tanganku, dan kali ini jarinya tidak kaku sama sekali. Jarinya langsung menyusup di sela jariku, seolah sudah hafal jalannya.

“Nah,” kataku.

“Diem,” katanya.

Kami berjalan ke pintu, bergandengan tangan, di bawah lampu taman yang keemasan. Di balik pintu, aku bisa mendengar suara orang tertawa, denting sendok, dan seseorang yang sedang bicara soal margin.

Dia berhenti di depan pintu dan menoleh padaku.

“Devan.”

Itu pertama kalinya dia memanggil namaku. Bukan Pak Kacamata. Bukan kamu. Devan.

“Ya?”

“Makasih.”

Aku ingin bilang banyak hal. Aku ingin bilang dia tidak perlu berterima kasih. Aku ingin bilang dia cantik sekali malam ini sampai aku lupa kemejaku kekecilan. Aku ingin bilang sepuluh detik tadi pagi bukan menimbang.

Tapi yang keluar cuma: “Sama-sama.”

Lalu dia membuka pintu, dan satu malam kami dimulai.