Chapter One
Sepuluh Detik
POV: Nabila
Jam tujuh lewat empat puluh pagi, dan aku sudah kabur dari rumah.
Bukan kabur dramatis dengan koper dan surat perpisahan di atas bantal. Kabur versi aku jauh lebih sederhana: pakai sneakers, ambil kunci mobil, lalu keluar lewat pintu samping sebelum Mama selesai mandi. Soalnya kalau Mama sudah selesai mandi, hari ini akan berubah jadi sesi persiapan. Mulai dari maskeran, creambath, sampai coba baju satu per satu. Dan diakhiri dengan Mama menatapku dengan mata berkaca-kaca sambil bilang, “Anak Mama udah besar.”
Aku belum siap jadi besar. Apalagi kalau “besar” artinya duduk di meja makan malam ini, di depan keluarga Wiranata, untuk acara yang Papa sebut perkenalan keluarga, padahal semua orang tahu itu sebenarnya apa.
Perjodohan.
Kata itu terdengar kuno sekali, seperti sesuatu yang cuma ada di sinetron jam tujuh malam. Tapi nyatanya itu yang sedang terjadi padaku, di tahun ini, di Jakarta, dengan Wi-Fi rumah seratus Mbps.
Jadi aku melarikan diri ke satu-satunya tempat yang selalu bikin kepalaku tenang: Kafe Jeda.
Kafe ini kecil, terselip di antara butik dan toko bunga di Kemang. Lantainya kayu, lampunya kuning redup, dan wanginya campuran kopi dengan roti mentega yang baru keluar dari oven. Pagi-pagi begini biasanya belum ramai. Cuma ada beberapa pekerja kantoran yang menunggu jam masuk dan satu dua mahasiswa yang pura-pura mengerjakan skripsi.
Begitu aku masuk, lonceng pintu berdenting.
Lalu, seperti biasa, kafe itu hening sebentar.
Mbak-mbak di meja dekat pintu berhenti mengaduk kopinya. Mas-mas berkemeja biru menurunkan HP-nya pelan-pelan. Mahasiswa di pojok, yang tadi mengetik dengan semangat, sekarang mengetik huruf yang sama berulang kali. Aku bisa mendengar bunyi ttttttt dari keyboard-nya.
Aku sudah terbiasa dengan ini. Bukan berarti aku menikmatinya. Kadang malah melelahkan, seperti membawa lampu sorot ke mana-mana padahal cuma mau beli kopi.
“Pagi, Mbak Nabila!”
Mas Jaka, barista langganan kafe ini, menyapa dari balik mesin espresso. Umurnya mungkin dua puluh lima, rambutnya selalu ditata ke atas pakai pomade yang wanginya kalah oleh kopi. Dia satu-satunya orang di kafe ini yang sudah kebal. Hampir kebal, lebih tepatnya.
“Pagi, Mas. Yang biasa ya.”
“Oat latte, less sugar, siap!”
Aku duduk di meja dekat bar sambil menunggu. Mas Jaka menulis namaku di gelas dengan spidol, dan dari tempatku duduk aku bisa lihat dia menulis Nabilaaa dengan tiga huruf A, lalu menggambar hati kecil di ujungnya. Begitu sadar aku melihat, dia buru-buru menutupnya dengan jempol.
“Itu... spidolnya kepleset, Mbak.”
“Keplesetnya bentuk hati?”
“Spidolnya romantis, Mbak.”
Aku tertawa, dan untuk pertama kalinya pagi ini dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Latte-ku datang lima menit kemudian. Mas Jaka menyodorkannya dengan bangga, seperti seniman memamerkan lukisannya di galeri.
“Latte art hati, Mbak. Spesial.”
Aku menatap cangkirnya. Busa susunya membentuk sesuatu yang bulat, gembung, dengan pinggiran bergelombang.
“Mas, ini awan.”
Mas Jaka memiringkan kepala. Memiringkan cangkirnya juga. “Kalau dilihat dari sini, hati, Mbak.”
“Dari sini?”
“Dari... sudut pandang yang penuh harapan.”
Aku membawa awanku, yang katanya hati, ke meja di sisi lain ruangan, dekat rak buku bekas. HP-ku bergetar. Sasa.
“Kamu di mana?” suaranya langsung menyerbu begitu aku angkat. Sasa itu sahabatku sejak SMA. Kami pernah dihukum bareng karena ketahuan makan bakso di jam pelajaran olahraga, dan sejak itu kami tidak terpisahkan. “Mama kamu barusan telepon aku, nanya kamu ke mana. Aku bilang nggak tahu. Aku bohong ke ibu-ibu, Bil. Aku bisa masuk neraka.”
“Kafe Jeda.”
“Kabur?”
“Menenangkan diri.”
“Itu kabur versi orang kaya.” Terdengar suara Sasa mengunyah sesuatu. “Oke, jadi planning-nya apa? Aku udah bikin daftar.”
“Daftar apa?”
“Cara batalin perjodohan. Nomor satu: kabur ke Bali.”
“Papa punya tiga hotel di Bali, Sa.”
“Oke, coret. Nomor dua: pura-pura sakit.”
“Mama bakal panggil dokter keluarga, terus dokternya bakal bilang aku sehat, terus aku bakal diceramahin soal kejujuran sambil diinfus vitamin.”
“Coret. Nomor tiga: bilang kamu udah punya pacar.”
Aku diam.
“Bil?”
“Pacar dari mana, Sa? Aku bahkan nggak punya gebetan. Terakhir aku jalan sama cowok itu tiga tahun lalu, dan dia ngabisin dua jam cerita soal koleksi sepatunya.”
“Ya udah, sewa aja.”
“Sewa?”
“Pacar sewaan. Kan ada tuh di aplikasi. Atau kamu tunjuk aja cowok random, bilang ke dia, ‘Mas, jadi pacar aku semalam, nanti aku bayar.’” Sasa tertawa sendiri. “Bercanda. Jangan dilakuin. Kamu kan orangnya nekat kalau lagi panik.”
“Aku nggak nekat.”
“Kamu pernah daftar lomba masak waktu kita SMA cuma karena panik ditanya cita-cita kamu apa. Kamu bahkan nggak bisa masak mi instan.”
“Mi instannya yang salah.”
“Bil.”
“Oke, oke. Aku nggak akan nekat.”
Aku menutup telepon, lalu menatap latte awanku. Menyesap. Rasanya enak, seperti biasa. Mas Jaka mungkin gagal di seni, tapi tidak pernah gagal di rasa.
Aku menghela napas panjang, lalu mengangkat wajah.
Dan di situlah aku melihatnya.
Meja nomor tujuh. Meja paling enak di kafe ini, di dekat jendela besar yang menghadap jalan, dengan cahaya pagi yang jatuh miring di atas permukaan kayunya. Biasanya meja itu jadi rebutan. Pagi ini, yang menempatinya seorang cowok berkacamata.
Dia duduk menghadap laptop, dengan secangkir kopi hitam yang sepertinya sudah dingin karena tidak ada uapnya lagi. Kemejanya abu-abu polos, lengannya digulung sampai siku. Rambutnya hitam, agak berantakan di bagian depan, seperti orang yang berkali-kali menyisir rambut pakai jari karena sedang pusing. Dari posisi duduknya, kelihatan dia tinggi. Kakinya panjang sampai harus ditekuk miring di bawah meja.
Yang membuatku memperhatikannya bukan itu.
Yang membuatku memperhatikannya adalah: dia tidak menoleh.
Waktu aku masuk tadi, waktu seluruh kafe berhenti bernapas sebentar, dia satu-satunya orang yang tidak mengangkat kepala. Waktu Mas Jaka memanggil namaku keras-keras, dia tidak menoleh. Waktu aku tertawa soal awan tadi, dan dua orang di meja sebelah menoleh sambil tersenyum-senyum, dia tetap menatap layarnya.
Aku bukan orang yang haus perhatian. Sungguh. Tapi ada sesuatu yang aneh ketika kamu terbiasa menjadi pusat ruangan, lalu tiba-tiba ada satu orang yang bersikap seolah kamu cuma bagian dari furnitur.
Aneh, dan jujur saja, sedikit menyinggung.
Aku memperhatikannya lebih lama. Dia mengetik sesuatu, berhenti, mengusap wajah dengan kedua tangan, lalu menyandarkan punggung dan menatap langit-langit. Kacamatanya melorot sedikit di hidung, dan dia tidak repot-repot membetulkannya. Bahunya turun, seperti orang yang baru saja menerima kabar buruk.
Lumayan ganteng, pikirku. Tapi bukan ganteng yang langsung menampar. Lebih seperti ganteng yang baru terasa di detik ketiga. Kamu melihatnya, berpikir oh, biasa aja, lalu kamu melihat lagi dan menyadari garis rahangnya bagus, alisnya tegas, dan ada sesuatu yang tenang di wajahnya bahkan saat dia sedang jelas-jelas kesal.
HP-ku bergetar lagi. Chat dari Mama.
Nak, jangan lupa nanti jam 3 creambath ya. Tante Rini udah booking. Malam ini penting sekali buat Papa. Keluarga Wiranata datang jam 7 tepat. Mama sayang kamu. ❤️❤️❤️
Lalu satu lagi, dari Papa. Papa jarang chat, dan kalau chat, tidak pernah lebih dari tujuh kata.
Jam 7. Pakai yang sopan. Jangan telat.
Aku menatap dua pesan itu, lalu menatap cowok di meja tujuh, lalu menatap awan di cangkirku.
Kata-kata Sasa terngiang. Kamu tunjuk aja cowok random.
Itu ide gila. Ide paling gila yang pernah aku dengar, dan aku pernah mendengar Om Bram bilang mau pelihara buaya di kolam belakang rumahnya.
Tapi coba pikir. Kalau aku datang malam ini membawa pacar, Papa tidak mungkin melanjutkan perjodohan di depan keluarga Wiranata. Papa itu orang yang sangat menjaga muka. Beliau tidak akan membuat keributan. Paling-paling nanti aku dimarahi, dan aku sudah biasa dimarahi. Setidaknya aku tidak perlu tunangan dengan Gerald Wiranata.
Gerald. Aku baru bertemu dengannya sekali, di acara gala tiga bulan lalu. Dia tampan, rapi, sopan. Kami ngobrol empat puluh menit, dan tiga puluh lima menitnya dia habiskan membahas margin. Margin keuntungan properti, margin proyek, margin ini, margin itu. Di menit ke-tiga puluh, aku mulai membayangkan diriku menikah dengannya, lalu di hari pernikahan dia berbisik di telinga aku, “Margin cateringnya bagus.”
Aku bergidik.
Cowok di meja tujuh melepas kacamatanya, memijat pangkal hidung, lalu memakainya lagi. Dia mengetik satu kalimat, menghapusnya, mengetik lagi.
Dia kelihatan seperti orang yang tidak punya waktu untuk omong kosong. Dan itu justru bagus, kan? Orang seperti itu pasti akan menolak dengan cepat, dan aku bisa pulang, menertawakan diriku sendiri, lalu menerima nasib. Setidaknya aku sudah mencoba.
Sebelum otakku sempat mengeluarkan satu pun alasan yang masuk akal, badanku sudah berdiri.
Aku mengambil cangkirku. Berjalan melewati rak buku, melewati meja mahasiswa yang masih mengetik ttttttt, melewati Mas Jaka yang menatapku dengan mulut setengah terbuka.
Lalu aku menarik kursi di depan cowok itu dan duduk.
Dia masih tidak menoleh. Sungguh. Ada perempuan asing duduk di mejanya, dan dia masih menatap layar laptop. Aku sempat melirik layarnya: tabel angka yang sangat panjang, dengan beberapa sel diberi warna merah.
Aku berdeham.
Dia berhenti mengetik.
Pelan-pelan, sangat pelan, dia mengangkat wajahnya.
Matanya di balik kacamata ternyata berwarna cokelat gelap, hampir hitam. Dan untuk pertama kalinya pagi ini, cowok itu menatapku.
“Maaf,” kataku, lebih cepat dari yang kuinginkan. “Aku tahu ini aneh. Aku tahu kamu lagi kerja, dan aku tahu kamu nggak kenal aku. Tapi aku butuh bantuan, dan aku nggak punya waktu buat minta dengan cara yang normal.”
Dia tidak menjawab. Tangannya masih diam di atas keyboard.
“Aku butuh pacar,” kataku. “Pacar bohongan. Satu malam aja. Malam ini, jam tujuh, di rumah keluarga aku. Kamu cukup duduk, senyum, makan, dan pura-pura kita udah pacaran lama. Setelah itu kamu bebas. Kita nggak akan ketemu lagi. Aku bayar, kalau kamu mau. Berapa pun.”
Lalu hening.
Dia menatapku. Tidak berkedip. Tidak bergerak. Tangannya masih di atas keyboard, dan wajahnya sama sekali tidak bisa kubaca.
Aku mulai menghitung dalam hati. Itu kebiasaanku kalau gugup, dari kecil. Menghitung detik, karena angka itu pasti, sedangkan situasi di sekitarku tidak.
Satu.
Dia masih menatapku.
Dua.
Oke, ini canggung.
Tiga.
Mungkin dia sedang memikirkan cara paling sopan untuk memanggil satpam.
Empat.
Atau mungkin dia tuli. Oh Tuhan, bagaimana kalau dia tuli dan aku baru saja berpidato panjang ke orang yang tidak mendengar apa-apa?
Lima.
Tidak, tadi dia menoleh waktu aku berdeham. Berarti dia dengar.
Enam.
Kacamatanya melorot sedikit. Dia tidak membetulkannya.
Tujuh.
Di belakangku, aku bisa merasakan Mas Jaka menahan napas. Mungkin seluruh kafe menahan napas.
Delapan.
Aku harus berdiri. Aku harus minta maaf, berdiri, dan pura-pura ini tidak pernah terjadi. Aku harus pindah kota. Pindah negara. Ganti nama.
Sembilan.
Aku menarik napas, siap bilang lupakan aja.
Sepuluh.
“Oke.”
Aku berkedip. “Hah?”
“Oke,” ulangnya. Suaranya rendah dan tenang, sedikit serak, seperti orang yang belum banyak bicara sejak bangun tidur. “Jam tujuh malam ini. Aku bisa.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik, dan sekarang, akhirnya, ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Sudut bibirnya naik sedikit sekali. Hampir tidak kelihatan.
“Kamu...” Aku berhenti, mencari kalimat. “Kamu serius?”
“Kamu yang nanya. Aku yang jawab. Serius atau nggak, itu tergantung kamu nanyanya serius atau nggak.”
“Aku serius.”
“Berarti aku juga.”
“Tapi kamu nggak tahu aku siapa.”
Dia menutup laptopnya pelan-pelan, sampai bunyi klik kecil. Lalu dia melipat tangan di atas meja, mencondongkan badan sedikit, dan menatapku dengan perhatian penuh. Perhatian yang tadi sama sekali tidak dia berikan pada seisi kafe, sekarang tumpah semuanya ke aku.
“Kamu orang yang butuh pacar jam tujuh malam,” katanya. “Itu cukup.”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Aku sudah menyiapkan diri untuk ditolak. Aku sudah menyiapkan diri untuk ditertawakan, dipandang aneh, atau diceramahi soal keamanan bicara dengan orang asing. Aku tidak menyiapkan diri untuk oke.
“Kamu nggak mau tanya kenapa?”
“Nanti. Kita punya...” Dia melirik jam tangannya, jam tangan hitam sederhana tanpa merek yang mencolok. “Sebelas jam dua puluh menit. Cukup buat nanya kenapa, siapa, dan gimana.”
“Kamu nggak mau tanya bayarannya?”
“Itu juga nanti.”
“Kamu...” Aku menyipitkan mata. “Kamu bukan penipu, kan?”
“Kamu yang datang ke meja aku, lho.”
Oke. Itu masuk akal.
“Kamu bukan psikopat?”
“Kalau aku psikopat, aku nggak akan jujur jawab pertanyaan itu.”
“Itu jawaban yang sangat nggak menenangkan.”
“Aku bukan psikopat,” katanya, dan kali ini senyumnya sedikit lebih kelihatan. “Aku cuma orang yang pagi ini lagi sial, terus tiba-tiba ada yang nawarin makan malam gratis.”
“Makan malamnya nggak gratis. Kamu harus pura-pura jadi pacar aku.”
“Kedengarannya bukan pekerjaan yang berat.”
Aku merasakan pipiku menghangat, dan aku sama sekali tidak tahu kenapa. Itu cuma kalimat biasa. Diucapkan dengan nada datar. Tapi entah bagaimana, kalimat datar itu terasa seperti ditujukan persis ke titik di bawah tulang rusukku.
Aku berdeham lagi. “Nama kamu siapa?”
“Devan.” Dia mengulurkan tangan di atas meja. “Devan Satria.”
Aku menjabat tangannya. Telapak tangannya hangat dan kering, genggamannya mantap tapi tidak meremas. Jabat tangan orang yang terbiasa membuat kesepakatan.
“Nabila,” kataku. “Nabila Saheila.”
Kalau dia mengenali nama belakangku, dia tidak menunjukkannya. Keluarga Saheila cukup dikenal di kalangan tertentu. Biasanya, begitu aku menyebut nama belakangku, orang langsung berubah: lebih sopan, lebih hati-hati, atau lebih rakus. Devan cuma mengangguk, seperti baru saja mendengar nama biasa.
“Nabila,” ulangnya, pelan, seperti sedang mencoba bagaimana rasanya nama itu di mulutnya.
Dan entah kenapa, aku harus mengalihkan pandangan ke jendela.
Di belakangku, terdengar bunyi gelas jatuh ke lantai. Lalu suara Mas Jaka: “Maaf! Maaf, tangan saya licin! Tidak ada yang terjadi! Silakan lanjutkan!”
Devan melirik ke arah bar, lalu kembali menatapku. “Barista kamu?”
“Barista kafe ini.”
“Dia kayaknya lebih kaget dari kamu.”
“Nggak ada yang lebih kaget dari aku.”
Dia mengambil cangkir kopinya, menyesapnya, lalu meringis. Sudah dingin, seperti dugaanku. Dia menaruhnya lagi, lalu menatap cangkirku.
“Itu apa?”
“Latte art.”
“Bentuk apa?”
“Hati, katanya.”
Devan memandangi cangkirku dengan serius, seperti sedang menganalisis data. “Itu awan.”
Aku tertawa. Tertawa sungguhan, sampai harus menutup mulut. Dan waktu aku menurunkan tangan, aku melihat Devan sedang menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kujelaskan. Seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak dia duga.
Tapi ekspresi itu hilang secepat munculnya. Dia berdeham, merapikan kacamatanya, dan menarik tisu dari tempatnya di ujung meja.
“Oke, Nabila Saheila,” katanya sambil mengeluarkan pulpen dari saku kemeja. “Ceritakan soal keluarga kamu. Semuanya. Siapa yang paling sulit diyakinkan, siapa yang paling cerewet, siapa yang paling mungkin tahu kita bohong.”
Aku menatap pulpen itu. Menatap tisu itu. Menatap cowok asing yang baru sepuluh menit lalu tidak menoleh sedikit pun ke arahku, dan sekarang sedang bersiap mencatat detail hidupku seperti sedang menyusun strategi perang.
“Kenapa kamu setuju?” tanyaku akhirnya. “Serius. Sepuluh detik tadi, kamu mikirin apa?”
Devan diam sebentar. Pulpennya berhenti di atas tisu.
“Aku lagi menimbang,” katanya.
“Menimbang apa?”
“Untung ruginya.”
“Terus hasilnya?”
Dia menatapku lagi. Lama. Lalu dia tersenyum, senyum kecil yang sampai ke matanya.
“Untung,” katanya.
Dan waktu itu aku belum tahu bahwa itu satu-satunya kebohongan yang dia ucapkan pagi itu.
- 1 Sepuluh Detik reading
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi