Chapter Twenty Nine

Tiga Puluh Detik

POV: Devan

Resepsi pernikahan Mbak Kinan diadakan di ballroom sebuah hotel di Kuningan, hari Sabtu malam, dengan tiga ratus undangan, dua ribu tangkai bunga mawar putih, dan satu orkes keroncong yang dipesan khusus karena Oma bilang pernikahan tanpa keroncong itu seperti sayur tanpa garam.

Aku datang jam enam lewat lima belas. Dengan batik cokelat tua yang kupinjam dari Om Bram. Bukan kupinjam, sebenarnya. Om Bram memaksaku memakainya. Dia mengirimnya ke kantorku lewat kurir dua hari sebelumnya, dengan catatan: Batik ini saya pakai waktu menang golf pertama tahun 1998. Bawa keberuntungan. Jangan kena saus.

Batiknya sedikit kebesaran di perut, tapi pas di bahu. Om Bram ternyata punya bahu yang lebih lebar dari Bimo. Tidak ada mulut ikan. Tidak ada kreeek.

Keluarga Saheila sudah berkumpul di dekat pintu masuk ballroom. Aku melihat Mama Nabila dengan kebaya ungu, sedang merapikan selendang Tante Rini. Om Bram dengan batik yang warnanya hampir sama denganku, yang langsung mengacungkan jempol begitu melihatku. Kenzo dengan kemeja batik yang lengannya kepanjangan, sibuk dengan HP. Oma di kursi roda yang didorong Bi Inah, dengan kebaya hitam dan tongkat di pangkuan. Papa Nabila, dengan beskap dan wajah datar, sedang bicara dengan Pak Harun Wiranata.

Nabila belum ada.

“Dia masih di atas,” kata Mama Nabila waktu aku menyalaminya. “Di kamar hotel. Lagi dirias. Mbak Kinan minta dia jadi pagar ayu.”

“Oh.”

“Sebentar lagi turun.” Mama Nabila menatapku dengan senyum yang sangat, sangat penuh arti. “Nak Devan siap-siap ya.”

“Siap-siap kenapa, Tante?”

Dia tidak menjawab. Dia cuma menepuk lenganku dua kali, lalu berjalan ke arah Tante Rini sambil berbisik sesuatu yang membuat Tante Rini menutup mulutnya dan menatapku dengan mata berbinar.

Aku mulai curiga.


Gerald datang jam enam lewat dua puluh, dan dia tidak datang sendirian.

Dia menggandeng Sasa.

Bukan menggandeng dalam arti mengantar. Menggandeng dalam arti tangan mereka bertaut, jari menyusup di sela jari, dan Gerald berjalan dengan dada sedikit membusung seperti orang yang baru memenangkan sesuatu yang sangat besar. Sasa memakai kebaya hijau muda dan kelihatan lebih cantik dari biasanya, dan jauh lebih malu dari biasanya.

“Mas Devan!” Gerald menjabat tanganku dengan tangan yang tidak menggandeng Sasa. “Selamat malam!”

“Selamat malam, Mas. Kalian...”

“Kamis kemarin,” kata Gerald dengan wajah berseri. “Aku nembak dia. Di kafe. Aku nggak ngomongin margin sama sekali.”

“Dia ngomongin margin tiga menit,” koreksi Sasa.

“Tiga menit itu kemajuan besar!”

“Terus dia ngeluarin puisi dari saku.” Sasa menatapku dengan wajah yang semakin merah. “Puisi, Devan. Tulisan tangan. Tentang bakso.”

“Karena kamu suka bakso,” kata Gerald dengan serius. “Orang yang jatuh cinta harus belajar apa yang disukai orang yang dia cintai.”

“Aku tahu, Ger.”

“Nabila yang kasih tahu.”

“Aku tahu, Ger.”

Aku menatap mereka berdua. Gerald yang membusungkan dada. Sasa yang merah padam tapi tidak melepaskan tangannya sedikit pun.

“Selamat,” kataku. Dan aku bersungguh-sungguh.

Gerald menjabat tanganku lagi, lebih erat. “Makasih, Mas. Tips kamu yang soal dengerin aja itu. Aku praktikkan. Berhasil.”

Sasa menoleh ke Gerald. “Kamu dapat tips dari Devan?”

“Dia yang paling berhasil di antara semua cowok yang aku kenal.”

Sasa menatapku. Lalu menatap Gerald. Lalu menghela napas panjang, seperti orang yang baru menyadari bahwa dia dikelilingi orang-orang aneh dan tidak ada jalan keluar.

“Kalian berdua,” katanya, “bikin aku mau pindah negara.”


Jam enam lewat tiga puluh, di tengah orkes keroncong yang mulai memainkan lagu pembuka, Tante Rini tiba-tiba menarik lenganku.

“Dev,” bisiknya dengan semangat yang berbahaya. “Lihat tangga.”

Aku menoleh.

Ballroom itu punya tangga lebar di sisi kanan, tangga marmer putih dengan pegangan kuningan yang melengkung turun dari lantai mezanin. Tangga yang dirancang untuk kedatangan pengantin. Atau pagar ayu.

Dan di puncak tangga itu, berdiri Nabila.


Aku tidak tahu harus mulai dari mana.

Mungkin dari kebayanya. Kebaya brokat berwarna champagne, warna yang ada di antara emas dan krem dan cahaya matahari sore yang jatuh di atas pasir. Brokatnya halus, dengan motif bunga-bunga kecil yang kelihatan seperti dilukis dengan benang, dan di bawah lampu kristal ballroom, benang-benang itu berkilau setiap kali dia bergerak. Kebaya itu jatuh pas di bahunya, di lengannya, di pinggangnya, dan berhenti di pinggul, di atas kain batik tulis berwarna cokelat keemasan yang membungkus kakinya sampai mata kaki.

Mungkin dari selendangnya. Selendang tipis, hampir transparan, berwarna sama dengan kebayanya, yang disampirkan di satu bahu dan jatuh melambai di belakangnya seperti kabut.

Mungkin dari rambutnya. Disanggul rendah di tengkuk, rapi, dengan untaian melati putih yang melingkari sanggulnya dan jatuh di satu sisi, sampai ke bahu. Aku bisa mencium wangi melatinya dari bawah tangga. Aku bersumpah aku bisa.

Mungkin dari wajahnya. Riasannya tipis. Kulitnya bercahaya, seperti dibalut cahaya lilin. Matanya diberi garis tipis yang membuatnya kelihatan lebih besar, lebih dalam, lebih gelap. Bibirnya berwarna merah muda yang lembut, warna kelopak mawar. Ada anting emas kecil berbentuk tetesan air di telinganya. Anting yang sama. Dari malam pertama. Dari gaun merah marun.

Atau mungkin dari cara dia berdiri di puncak tangga itu. Satu tangan di pegangan kuningan, satu tangan memegang ujung kainnya supaya tidak terinjak. Menatap ke bawah, ke ballroom yang penuh orang. Mencari sesuatu.

Mencariku.

Dan waktu matanya menemukanku, di bawah tangga, dengan batik keberuntungan Om Bram yang kebesaran di perut, dia tersenyum.

Senyum kecil. Senyum yang cuma untukku. Dengan lesung di pipi kanan.

Aku tahu aku sudah bilang ini berkali-kali. Aku tahu aku sudah menggunakan kata cantik sampai kata itu hampir kehilangan artinya. Gaun merah marun. Dress biru muda. Kaus kebesaran dengan bekas bantal. Piyama awan. Kemejaku yang kebesaran. Gaun hitam di gala. Pulpen di rambut jam dua pagi. Kaus putih di atap.

Tapi berdiri di bawah tangga itu, menatapnya turun selangkah demi selangkah dengan kebaya champagne dan melati di rambutnya, aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar tahu arti kata itu.

Aku berhenti berkedip.

Aku tidak memutuskannya. Mataku berhenti sendiri. Seperti tubuhku takut kalau aku berkedip, satu detik saja, aku akan kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali.

Dan di sekelilingku, seluruh ballroom ikut berhenti.


Tante Rini, yang sedang di tengah kalimat tentang katering yang menurutnya kurang garam, berhenti bicara. Mulutnya tetap terbuka. Kalimatnya tidak pernah selesai. Belakangan dia bilang dia lupa sedang membicarakan siapa.

Om Bram, yang sedang membawa piring berisi tiga potong kue lapis, menjatuhkan piringnya. Piring itu tidak pecah, karena jatuh di karpet. Tapi tiga potong kue lapis menggelinding ke arah meja sebelah, dan tidak ada yang memungutnya.

Kenzo mengangkat HP-nya dan memotret Nabila di tangga. Lalu, tanpa menurunkan HP, dia memutar badan dan memotret wajahku. Belakangan dia bilang itu untuk bukti. Bukti #1, Kasus Baru: Kak Devan nggak kedip.

Gerald, yang sedang menarik kursi untuk Sasa di meja keluarga, berhenti menarik kursi di tengah jalan karena menoleh ke tangga. Sasa, yang sudah setengah duduk, duduk di udara kosong dan jatuh terduduk di karpet dengan bunyi bruk yang pelan. Dia tidak berteriak. Dia cuma duduk di situ, di lantai, dengan kebaya hijau mudanya, dan ikut menatap tangga.

Fotografer resepsi, yang seharusnya memotret pengantin yang sedang berdiri di pelaminan di ujung ruangan, memutar kameranya. Aku mendengar bunyi rana kameranya. Klik. Klik. Klik. Klik. Belakangan, Mbak Kinan menemukan empat puluh dua foto Nabila di tangga di dalam album pernikahannya sendiri. Dia tidak marah. Dia bilang itu foto terbaik di album.

Mama Nabila berdiri di sebelah Tante Rini. Dan pada suatu titik, dia mulai menghitung. Keras. Dengan suara yang cukup jelas untuk didengar orang-orang di sekitarnya.

“Dua puluh satu,” kata Mama Nabila. “Dua puluh dua. Dua puluh tiga.”

Aku tidak tahu kapan dia mulai menghitung. Aku tidak tahu dia sedang menghitung apa. Belakangan aku tahu dia sedang menghitung berapa lama aku tidak berkedip. Dia sudah mulai dari detik pertama, diam-diam, dan baru mengucapkannya keras-keras di detik dua puluh satu, waktu dia sadar aku tidak akan berkedip dalam waktu dekat.

“Dua puluh empat.”

Di sebelah Mama Nabila, Papa Nabila, yang dari tadi berdiri dengan wajah datar di samping Pak Harun, menoleh ke arahku.

“Dua puluh lima,” hitung Mama Nabila.

“Ehem,” kata Papa Nabila.

Aku tidak berkedip. Nabila sudah sampai di anak tangga terakhir.

“Dua puluh enam. Dua puluh tujuh.”

“Ehem,” kata Papa Nabila, sedikit lebih keras.

Aku tidak berkedip. Nabila melangkah ke karpet ballroom. Berjalan ke arahku. Selendang tipisnya melambai di belakangnya. Wangi melatinya semakin dekat.

“Dua puluh delapan. Dua puluh sembilan.”

“Ehem,” kata Papa Nabila. Keras. Seperti batuk yang disengaja.

Tidak mempan.

Nabila berhenti di depanku. Sangat dekat. Aku bisa melihat bulu matanya yang diberi maskara tipis. Aku bisa melihat kilau emas samar di kelopak matanya. Aku bisa melihat lesung di pipi kanannya, yang muncul dan hilang, muncul dan hilang, seperti dia sedang menahan tawa.

“Tiga puluh,” kata Mama Nabila.

Nabila mengangkat tangannya. Dan menjentikkan jarinya di depan kacamataku.

Tik.

Aku berkedip.

Seluruh ballroom menghembuskan napas bersamaan. Aku bersumpah aku bisa mendengarnya. Tiga ratus orang yang menahan napas tanpa sadar, lalu melepaskannya di saat yang sama.

“Halo?” kata Nabila. “Masih hidup?”

Aku menatapnya. Mataku perih karena tidak berkedip tiga puluh detik. Tenggorokanku kering. Jantungku berdetak seperti drum orkes keroncong di belakang.

“Nggak tahu,” kataku. Suaraku serak. “Kayaknya aku udah di surga.”

Dia mengangkat alis.

“Tapi kok ada Om Bram,” kataku.

Di sebelahku, Om Bram, yang masih menatap piring kosongnya di lantai, mendengus. “Saya dengar itu.”

Nabila tertawa. Tawa kecil yang tertahan, dengan tangan menutupi mulut, supaya lipstiknya tidak rusak.

Lalu aku menarik napas, dan mengatakannya. Pelan. Sungguh-sungguh. Cuma untuknya, meskipun seluruh keluarga Saheila dan setengah ballroom mendengarnya.

“Kamu cantik banget,” kataku. “Aku nggak punya kata lain. Aku udah pakai kata cantik ratusan kali buat kamu, dan ternyata semuanya salah. Karena yang ini...” Aku berhenti. “Aku kehabisan kosakata. Server-ku down.”

Dia berhenti tertawa. Menatapku. Pipinya memerah di balik riasan tipis, merah yang menjalar sampai ke telinga, sampai ke anting tetesan air.

“Dulu sepuluh detik,” katanya pelan. “Sekarang tiga puluh.”

“Iya.”

“Nanti pas nikah berapa?”

Aku tidak berpikir. Jawabannya keluar begitu saja.

“Seumur hidup.”

Tante Rini mengeluarkan suara seperti ketel air mendidih. Mama Nabila menempelkan kedua tangan di dadanya. Oma, dari kursi rodanya, mengetuk-ngetuk tongkatnya ke lantai dan berkata bagus, bagus berulang-ulang. Kenzo mengetik sesuatu di HP-nya dengan sangat cepat.

Dan di lantai, Sasa, yang masih duduk di karpet karena kursinya tidak pernah ditarik, menutup wajah dengan kedua tangan dan berkata dari balik jarinya:

“Aku mau pindah planet.”


Resepsi itu berlangsung tiga jam, dan itu adalah tiga jam paling bahagia yang pernah kurasakan di acara yang bukan acaraku sendiri.

Nabila menjalankan tugasnya sebagai pagar ayu dengan sempurna. Dia menyambut tamu, membagikan suvenir, mengantar orang-orang tua ke kursi mereka. Tapi setiap lima menit, dia menoleh ke arahku. Dan setiap kali dia menoleh, aku sedang menatapnya. Dan setiap kali dia melihatku menatapnya, dia menggeleng pelan dengan senyum yang tidak bisa dia tahan.

Di sela tugasnya, dia datang ke meja keluarga untuk minum. Dia berdiri di sebelahku, pura-pura sibuk dengan gelas, lalu mencondongkan badan dan berbisik di telingaku.

Aku tersedak air putih.

Batuk. Keras. Sampai beberapa tamu di meja sebelah menoleh. Nabila menepuk punggungku dengan wajah sangat polos.

“Kenapa, Nak?” tanya Tante Rini dengan khawatir.

Aku menatap Nabila. Dia menatapku balik dengan mata yang berkilat-kilat, penuh kemenangan.

“Nggak apa-apa, Tante,” kataku setelah batukku reda. “Nabila cuma... ngasih jadwal.”

Tante Rini menatap kami bergantian dengan mata menyipit. Lalu dia tersenyum, senyum yang sangat mengerti, dan kembali ke piring puding cokelatnya.

Yang dibisikkan Nabila tadi adalah:

Nanti malam, habis ngomong sama Papa, aku mau cium kamu tiga puluh detik. Biar impas.

Aku tidak bisa berhenti memikirkannya selama sisa resepsi.


Jam delapan, Gerald dan Sasa pamit duluan. Sasa bilang dia capek. Gerald bilang dia mau mengantar Sasa. Mereka berdiri di depan meja keluarga, bergandengan tangan, dengan wajah yang sama-sama merah.

Aku berdiri. Nabila berdiri di sebelahku, karena tugasnya sebagai pagar ayu sudah selesai.

“Kami juga duluan, Mas,” kataku ke Gerald. “Mau ke taman hotel sebentar.”

“Ngapain?”

Aku meraih pinggang Nabila dan menariknya sedikit lebih dekat. “Pacar saya harus dipeluk tiap dua jam. Kalau nggak, rewel.”

Nabila menoleh padaku dengan mata melotot. “SEJAK KAPAN?”

“Sejak barusan.”

“Aku nggak pernah rewel!”

“Tadi kamu rewel, Sayang. Kamu bisik-bisik aneh di telinga aku.”

Wajah Nabila langsung merah sampai ke sanggul melatinya. Gerald menatap kami dengan bingung. Sasa menatap kami dengan horor yang sudah jadi kebiasaan.

“Kalian,” kata Sasa. “Kalian berdua.”

“Kalian juga,” kata Nabila, menunjuk tangan Sasa yang digenggam Gerald.

Sasa menatap tangannya. Menatap Gerald. Gerald tersenyum lebar dan mengangkat tangan mereka yang bertaut, seperti memamerkan piala.

“Aku mau pulang,” gumam Sasa, dan menarik Gerald keluar dari ballroom dengan langkah cepat.


Di depan pintu ballroom, sebelum kami keluar ke taman, kami berpapasan dengan Papa Nabila dan Pak Harun Wiranata.

Mereka sedang tertawa. Keduanya. Pak Harun menepuk-nepuk punggung Papa Nabila, dan Papa Nabila, yang hampir tidak pernah tertawa, sedang menahan senyum dengan cara yang membuat kumisnya bergetar.

“Nah!” kata Pak Harun waktu melihat kami. “Ini dia pasangan yang bikin fotografer lupa sama pengantin!”

“Selamat malam, Om,” kataku.

“Selamat malam, Nak Devan! Saya lagi bilang ke Hendra, anak saya udah nemu jodohnya sendiri, anak dia juga udah nemu jodohnya sendiri.” Pak Harun tertawa lagi. “Jadi ngapain kita repot-repot jodoh-jodohin? Ya kan, Hen?”

Papa Nabila menatap Pak Harun. Lalu menatap Nabila. Lalu menatapku, dengan tanganku yang masih di pinggang Nabila.

“Ya,” katanya. “Perjodohannya batal.”

Aku merasakan Nabila menegang di sebelahku.

Batal. Bukan tunda. Batal. Diucapkan oleh Papa Nabila, di depan Nabila, dengan kata yang persis sama seperti yang tertulis di pasal satu kontrak laminasi kami. Kontrak ini berlaku sampai perjodohan dengan keluarga Wiranata resmi dibatalkan.

Pak Harun tertawa dan menjabat tanganku, lalu menjabat tangan Nabila, lalu berjalan kembali ke ballroom bersama Papa Nabila, masih tertawa.

Nabila dan aku berdiri di depan pintu ballroom.

Dia menoleh padaku. Pelan.

“Pasal satu,” bisiknya.

“Terpenuhi.”

“Kontraknya resmi selesai.”

“Kontraknya udah selesai dua minggu lalu. Pasal empat.”

“Tapi sekarang pasal satu juga.” Dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, di bawah lampu kristal koridor, dengan melati di sanggulnya yang mulai sedikit layu. “Sekarang nggak ada kontrak sama sekali. Nggak ada alasan lagi buat kamu ada di sini.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak pernah butuh alasan,” kataku. “Aku cuma butuh kamu.”

Dia menggigit bibir bawahnya. Lalu dia melepaskan diri dari rangkulanku, menarik tanganku, dan membawaku keluar ke taman hotel dengan langkah cepat. Di bawah pohon kamboja, di sudut taman yang gelap dan sepi, dia berhenti, berbalik, dan memelukku.

Erat. Lama. Dengan wajah di dadaku, di atas batik keberuntungan Om Bram.

“Istriku Cantik,” kataku ke puncak kepalanya, ke sanggul yang wangi melati.

“Belum,” gumamnya ke dadaku.

“Belum.”

“Tapi...” Dia mengangkat wajahnya. Menatapku. Pipinya basah. “Tapi sebentar lagi, ya?”

Jantungku berhenti.

Aku membuka mulut untuk menjawab.

Lalu HP-nya bergetar. Di dalam tas kecilnya. Sekali. Dua kali. Tidak berhenti.

Dia mengeluarkannya dengan kening berkerut. Menatap layarnya. Dan aku melihat wajahnya berubah. Dari bahagia ke bingung. Dari bingung ke khawatir.

“Papa,” katanya.

Dia mengangkatnya. “Pa?”

Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Papanya. Tapi aku melihat wajah Nabila semakin pucat. Aku melihat tangannya mencengkeram HP.

“Oke,” katanya. “Oke, Pa. Aku pulang sekarang.”

Dia menutup telepon. Menatapku.

“Papa pulang duluan,” katanya. “Tiba-tiba. Barusan. Katanya ada masalah di kantor. Masalah besar. Papa nggak pernah ninggalin acara keluarga, Dev. Nggak pernah.”

Dari pintu taman, aku melihat Papa Nabila berjalan cepat melintasi lobi hotel, dengan HP di telinga dan Om Hadi di sebelahnya. Wajahnya, yang biasanya datar dan tenang, sekarang tegang. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Hendra Saheila kelihatan seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa.

“Aku ikut,” kataku.

Nabila menatapku. “Kamu nggak perlu...”

“Aku ikut.”

Dia menatapku lama. Lalu mengangguk.

Kami berjalan cepat melintasi taman, ke arah lobi. Di tengah jalan, dia meraih tanganku dan menggenggamnya.

Di sanggulnya, satu kuntum melati jatuh ke rumput. Aku tidak sempat memungutnya.

Rencana kami untuk bicara dengan Papanya malam itu, rencana yang sudah kami susun selama seminggu, hilang di suatu tempat di antara taman hotel dan pintu lobi.

Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa aku akan bicara dengan Papanya malam itu juga.

Hanya saja, tidak soal apa yang kurencanakan.