Chapter Eight

Kenzo Curiga

POV: Nabila

Kenzo menyerang hari Minggu pagi, jam tujuh, di meja makan.

Aku masih setengah tidur. Rambutku masih berantakan, mataku masih bengkak karena semalam aku tidak bisa tidur sampai jam dua, dan aku sedang mengoles selai kacang ke roti dengan gerakan yang sangat lambat. Papa sudah berangkat golf dengan Om Bram. Mama sedang di pasar dengan Bi Inah. Di meja makan cuma ada aku dan adikku, yang duduk di seberang dengan semangkuk sereal dan tatapan yang terlalu tajam untuk jam segini.

“Kak.”

“Hm.”

“Aku mau ngajuin beberapa pertanyaan.”

“Nggak.”

“Ini penting.”

“Kenzo, aku belum ngopi.”

“Pertanyaan pertama.” Dia mengabaikanku, meletakkan HP di atas meja dengan layar menghadap ke atas. Aplikasi catatan terbuka, dengan judul besar di bagian atas: BUKTI. “Kenapa di Instagram Kakak nggak ada satu pun foto Kak Devan?”

Pisau selaiku berhenti di tengah roti.

“Karena dia orangnya tertutup.”

“Setahun pacaran. Nggak ada satu foto pun. Bahkan foto tangan. Bahkan foto dua gelas kopi di meja kafe. Semua orang yang pacaran pasti pernah posting foto dua gelas kopi di meja kafe.”

“Kami bukan semua orang.”

“Oke.” Kenzo mengetik sesuatu. “Pertanyaan kedua. Di galeri HP Kakak, ada foto Kak Devan?”

“Itu privasi.”

“Berarti nggak ada.”

“Berarti privasi.”

“Kak, aku udah tujuh belas tahun jadi adik Kakak. Kalau Kakak bilang privasi, artinya Kakak nggak punya jawaban.” Dia mengetik lagi. “Pertanyaan ketiga. Kak Devan punya Instagram?”

“Nggak.”

“Facebook?”

“Nggak tahu.”

“Kakak nggak tahu pacar Kakak punya Facebook atau nggak?”

“Siapa yang masih pakai Facebook di umur dua puluh tujuh?”

Kenzo menyipitkan mata. “Kak Devan umurnya dua puluh tujuh?”

Aku membeku. Apakah kami pernah membahas umurnya? Aku yakin dia pernah menyebutnya. Atau aku cuma menebak dari wajahnya? Aku tidak ingat. Dan Kenzo sedang menatapku seperti kucing yang baru melihat tikus bergerak di balik tirai.

“Iya,” kataku, dengan keyakinan yang palsu. “Dua puluh tujuh.”

“Ulang tahunnya kapan?”

“...Rahasia.”

Kenzo mengetik sangat lama. Aku melirik layarnya dan membaca, terbalik: Bukti #19: Kak Nabila tidak tahu tanggal ulang tahun pacarnya sendiri. Alasan: “rahasia”. Tingkat kecurigaan: TINGGI.

“Kenzo!”

“Aku cuma nyatet, Kak. Aku nggak nuduh.” Dia memasukkan sesendok sereal ke mulutnya dan mengunyah dengan wajah puas. “Belum.”


Aku menelepon Devan dari kamar mandi, dengan keran air menyala supaya Kenzo tidak bisa menguping.

“Pagi,” katanya di dering kedua. Suaranya serak, lebih rendah dari biasanya, dan aku bisa mendengar bunyi selimut bergesekan. Dia baru bangun. Aku membayangkan dia dengan rambut berantakan dan tanpa kacamata, lalu aku buru-buru berhenti membayangkannya.

“Kita dalam bahaya,” kataku.

“Kenapa bisik-bisik?”

“Kenzo.”

“Oh.” Hening sebentar. Bunyi selimut lagi, seperti dia duduk. “Seberapa bahaya?”

“Sembilan belas bukti. Dia nanya kenapa nggak ada foto kamu di Instagram aku. Di galeri aku. Di mana-mana.”

“Hm.”

“Terus dia nanya ulang tahun kamu, dan aku nggak tahu.”

“Delapan Maret.”

“Kenapa nggak bilang dari kemarin?!”

“Kamu nggak nanya.” Aku mendengarnya menguap. “Kita butuh foto.”

“Foto?”

“Foto kenangan. Setahun pacaran. Kita bikin sekarang.”

“Sekarang? Hari ini?”

“Kamu sibuk?”

Aku menatap pantulanku di cermin kamar mandi. Rambut berantakan, mata bengkak, kaus tidur bergambar beruang. Keran air masih menyala.

“Kasih aku satu jam,” kataku.


Rencananya sederhana. Kami akan berkeliling Jakarta dan memotret diri kami di berbagai tempat, dengan pakaian yang berbeda-beda, supaya kelihatan seperti foto-foto yang diambil selama setahun. Devan menyusun daftarnya di HP, lengkap dengan kolom lokasi, kostum, dan musim yang ingin kami tiru.

“Musim?” tanyaku, waktu dia menunjukkan daftarnya di mobil. “Jakarta cuma punya dua musim. Hujan dan panas.”

“Makanya penting. Kalau semua fotonya cerah, kelihatan palsu. Harus ada yang mendung.”

“Hari ini cerah.”

“Kita cari mendung.”

“Cari mendung di mana?”

“Filter.”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah yang sangat serius. Hari ini dia memakai kaus hitam polos, jaket denim, dan kacamata yang sama. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru keramas buru-buru. Dia kelihatan seperti orang yang biasa-biasa saja, dan aku tidak mengerti kenapa aku harus terus-terusan mengalihkan pandangan ke jendela.

Masalahnya, kami butuh fotografer.

“Aku udah panggil orang,” kataku.

“Siapa?”

“Seseorang yang bisa dipercaya dan nggak akan banyak nanya.”

Dua puluh menit kemudian, Sasa masuk ke mobilku lewat pintu belakang, melepas kacamata hitamnya, menatap Devan dari kepala sampai kaki, dan berkata dengan suara yang bisa didengar dari Bekasi:

“INI COWOK RANDOM-NYA?!”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Halo,” kata Devan dengan sopan. “Saya cowok random-nya.”

Sasa menatapku. Menatap Devan. Menatapku lagi. “Bil. BIL. Kamu beneran nunjuk cowok random di kafe.”

“Kamu yang nyaranin.”

“AKU BERCANDA!”

“Kamu nggak bilang kamu bercanda!”

“Aku bilang jangan dilakuin! Terus kamu bilang oke! Terus kamu melakukannya!” Sasa menoleh ke Devan, dengan wajah yang tiba-tiba berubah jadi sangat serius. “Kamu bukan psikopat, kan?”

“Itu pertanyaan yang sama yang ditanyain Nabila kemarin.”

“Terus jawabannya?”

“Kalau aku psikopat, aku nggak akan jujur jawab pertanyaan itu.”

Sasa menatapnya lama. Lalu menatapku. “Dia lucu.”

“Sa.”

“Dia lucu dan ganteng. Kok bisa kamu nemu yang kayak gini di kafe? Aku udah tiga tahun nongkrong di kafe dan yang aku temuin cuma mas-mas yang ngajak aku investasi kripto.”

“Sa, fokus.”

“Aku fokus. Aku fokus banget.” Dia mengeluarkan kamera mirrorless dari tasnya, kamera yang dia beli tahun lalu untuk “jadi konten kreator” dan sudah dipakai tepat tiga kali. “Oke. Kita mulai dari mana?”


Kami mulai dari Kota Tua, dengan kostum musim kemarau. Aku memakai dress kuning, Devan memakai kemeja linen putih yang dia bawa dari rumah. Sasa menyuruh kami berdiri di depan gedung museum dan berpose “seperti orang yang udah pacaran tiga bulan dan masih malu-malu”.

“Itu gimana?” tanyaku.

“Kayak kalian sekarang. Kaku kayak kanebo kering.”

Devan berdiri di sebelahku dengan jarak satu lengan. Aku berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.

“Lebih dekat,” kata Sasa.

Devan bergeser setengah langkah.

“LEBIH DEKAT! Kalian kayak dua orang yang lagi antre BPJS!”

Devan bergeser lagi, sampai bahu kami bersentuhan. Aku bisa mencium wangi sabunnya, sesuatu yang segar dan sederhana, seperti kayu dan sedikit jeruk. Aku menatap lurus ke kamera dan tersenyum dengan seluruh otot wajahku.

Sasa menurunkan kamera. “Bil. Kamu senyum kayak orang lagi disandera.”

“Aku senyum normal!”

“Kamu senyum kayak mau bilang tolong aku pakai kode Morse.”

Devan menoleh padaku. Aku bisa merasakan tatapannya di sisi wajahku.

“Senyum, Bu Klien,” katanya pelan, cukup pelan supaya cuma aku yang dengar. “Bayangin aku bilang aku sayang kamu.”

Aku menoleh ke arahnya, mulut terbuka, siap memarahinya karena melanggar pasal tujuh, nama saja, dan pasal empat, dilarang baper, sekaligus. Tapi dia sedang tersenyum. Senyum kecil yang sampai ke matanya, dengan kacamata yang memantulkan cahaya matahari sore. Dan entah bagaimana, sebelum aku sempat memarahinya, bibirku sudah melengkung sendiri.

Bukan senyum sopan. Bukan senyum untuk kamera. Senyum yang muncul begitu saja, tanpa izin, seperti bunga yang mekar tanpa menunggu diperintah.

Klik.

“ITU!” teriak Sasa. “ITU DIA! Itu foto terbaik yang pernah aku ambil seumur hidup!”

Aku langsung menghapus senyumku dan memelototi Devan. “Pasal tujuh.”

“Aku nggak manggil kamu sayang. Aku nyuruh kamu membayangkan aku bilang sayang. Itu beda.”

“Itu nggak beda!”

“Secara hukum beda.”

Aku mau marah. Aku sungguh-sungguh mau marah. Tapi Sasa sudah berlari ke arah kami dengan kamera di tangan, menunjukkan hasil fotonya di layar kecil, dan waktu aku melihatnya, aku lupa mau marah soal apa.

Di foto itu, aku sedang menatap Devan dan tersenyum. Lesung di pipi kananku kelihatan jelas. Mataku menyipit sedikit, dan ada sesuatu di wajahku yang tidak pernah kulihat di foto-foto lain.

Aku kelihatan bahagia.

Tidak, lebih dari itu. Aku kelihatan seperti orang yang sedang jatuh cinta.

“Bagus, kan?” kata Sasa bangga.

“Palsu,” kataku cepat. “Itu akting.”

“Oke,” kata Sasa, dengan nada yang sama persis seperti Gerald semalam. Oke, Nabila.


Kami lanjut ke GBK dengan kostum musim hujan: hoodie dan payung, meskipun langit cerah dan kami harus berpura-pura kedinginan di bawah terik matahari jam dua siang. Devan memegang payung di atas kepalaku, dan Sasa menyuruh kami “saling menatap kayak di drama Korea waktu hujan pertama”.

“Nggak ada hujan,” kataku.

“PAKAI IMAJINASI!”

Jadi kami memakai imajinasi. Dua puluh menit berdiri di bawah payung, dengan Sasa berlari mengelilingi kami mencari sudut terbaik. Di tengah sesi, aku baru sadar bahwa payung itu miring ke arahku, sepenuhnya, dan bahwa bahu kiri Devan sudah terpanggang matahari sejak tadi. Kausnya basah oleh keringat di bagian itu.

“Payungnya miring,” kataku.

“Iya.”

“Ke aku.”

“Iya.”

“Bahu kamu kepanasan.”

“Nggak apa-apa. Kamu yang pakai hoodie. Kamu yang lebih kepanasan.”

Aku menatapnya. Dia menatap kamera Sasa dengan wajah datar, seolah yang baru dia katakan adalah hal paling biasa di dunia. Aku menarik gagang payung ke tengah. Dia menariknya lagi ke arahku. Kami melakukan itu empat kali, sampai Sasa berteriak bahwa payungnya kelihatan seperti sedang kesurupan.

Lalu ke sebuah mal di Senayan, dengan kostum ulang tahun kamu, yang ternyata merupakan kesempatan bagiku untuk menjalankan pasal sembilan. Aku menarik Devan ke toko pakaian pria dan memilihkan tiga kemeja: satu biru muda, satu putih, satu hijau tua. Dia protes. Aku memelototinya. Dia mencoba ketiganya di ruang ganti.

Waktu dia keluar dengan kemeja biru muda, yang ukurannya pas dan bahannya jatuh dengan benar di bahunya, Sasa berhenti bicara di tengah kalimat. Pramuniaga toko yang sedang melipat kaus berhenti melipat. Seorang ibu-ibu yang lewat di depan toko melambatkan langkahnya.

Dan aku?

Aku berdiri di situ dengan tiga gantungan baju di tangan, menatap cowok berkacamata dengan kemeja biru muda yang pas di badannya, dan tiba-tiba mengerti kenapa ibu-ibu itu melambatkan langkah.

“Gimana?” tanya Devan.

“Biasa aja,” kataku.

Sasa menoleh padaku dengan tatapan kamu bercanda?

“Biasa aja,” ulangku lebih keras, lalu berjalan ke kasir dengan langkah cepat supaya tidak ada yang bisa melihat wajahku.

Aku membelikan ketiganya. Plus satu kemeja navy ukuran L untuk Bimo, yang Devan titipkan dengan pesan semoga yang ini nggak gugur dalam tugas.

Foto terakhir kami ambil di Kafe Jeda, dengan kostum hari jadian. Devan memakai kemeja biru muda yang baru. Aku memakai sweter krem. Kami duduk di meja nomor tujuh, dengan dua cangkir kopi, dan Sasa memotret dari luar jendela supaya kelihatan seperti foto candid.

Mas Jaka, yang sudah tahu ada sesuatu yang aneh, membuatkan latte art untuk kami berdua. Punyaku berbentuk sesuatu yang panjang dengan banyak kaki.

“Hati,” katanya lemah.

“Itu kelabang, Mas,” kata Devan.

Mas Jaka berbalik tanpa berkata apa-apa.

Tapi foto-foto dari luar jendela itu, waktu Sasa menunjukkannya pada kami di mobil, membuatku diam lama.

Karena di beberapa foto, Devan sedang tidak menatap kamera. Dia sedang menatapku. Dan aku tidak tahu kapan itu terjadi, karena aku tidak melihatnya.


Malamnya, di ruang keluarga, aku menyerahkan HP-ku pada Kenzo tanpa berkata apa-apa.

Galerinya penuh. Enam puluh tiga foto. Kota Tua, GBK, mal, Kafe Jeda. Dress kuning, hoodie, sweter krem. Payung di hari cerah yang dengan bantuan filter Sasa berubah jadi hari mendung yang romantis.

Kenzo menggulir satu per satu, dengan wajah detektifnya. Aku duduk di sebelahnya, menahan napas.

“Ini di mana?”

“Kota Tua. Bulan Mei.”

“Ini?”

“GBK. Desember. Hujan.”

“Kok bayangan di aspalnya kayak jam dua siang?”

“...Hujannya siang.”

Kenzo menyipitkan mata, tapi terus menggulir. Lalu dia berhenti di satu foto.

Foto pertama. Kota Tua. Aku yang sedang menatap Devan dan tersenyum. Foto yang membuat Sasa berteriak itu dia.

Kenzo menatap foto itu lama sekali. Lebih lama dari foto-foto lain. Lalu dia memperbesarnya, sampai wajahku memenuhi layar.

“Kak,” katanya pelan.

“Apa?”

“Kok di foto ini Kakak liatin dia kayak... beneran?”

Aku membuka mulut untuk menjawab. Untuk bilang ya jelas beneran, dia kan pacar aku. Untuk bilang itu foto lama, waktu kami baru jadian, wajar dong. Aku punya banyak jawaban. Devan sudah menyiapkan semuanya untukku.

Tapi tidak ada satu pun yang keluar.

Karena aku ingat saat foto itu diambil. Aku ingat Devan berbisik bayangin aku bilang aku sayang kamu, dan aku ingat bahwa aku tidak perlu membayangkan apa-apa. Senyum itu datang sendiri. Tidak ada aktingnya sama sekali.

Kenzo menatapku. Aku menatap foto itu.

“Maksudku,” kata Kenzo, pelan-pelan menurunkan HP-nya, dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya tidak kelihatan seperti detektif. Lebih seperti adik yang bingung. “Kalau beneran, ya bagus sih. Aku cuma nggak pernah lihat Kakak kayak gitu.”

Dia mengembalikan HP-ku, berdiri, dan berjalan ke arah tangga. Di anak tangga ketiga, dia berhenti.

“Bukti nomor dua puluh,” katanya tanpa menoleh.

“Apa isinya?”

“Rahasia.”

Dia naik ke atas. Aku duduk sendirian di ruang keluarga, dengan HP di tangan dan foto itu masih terbuka di layar.

Aku menatap wajahku sendiri. Menatap senyum yang tidak pernah kulihat di foto mana pun. Menatap Devan di sebelahku, yang ternyata, kalau diperhatikan baik-baik, juga sedang menatapku. Bukan ke kamera. Ke aku.

HP-ku bergetar. Pesan masuk.

Kenzo gimana?

Aku menatap pesan itu, lalu menatap foto itu lagi.

Aman, balasku. Kayaknya.

Kayaknya?

Dia bilang aku kelihatan beneran di foto pertama.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Aku menatap layar selama hampir satu menit, menunggu balasannya.

Akhirnya balasan itu datang. Hanya satu kalimat.

Aku juga lihat itu.

Aku mematikan layar HP, menaruhnya di atas dada, dan menatap langit-langit ruang keluarga sampai Mama pulang dan bertanya kenapa aku senyum-senyum sendiri.