Chapter Four

Makan Malam Perkenalan

POV: Nabila

Ruang makan keluarga Saheila panjangnya hampir sepuluh meter.

Aku tidak melebih-lebihkan. Papa pernah mengukurnya sendiri waktu rumah ini direnovasi, karena beliau ingin memastikan meja makannya muat untuk dua puluh orang. Sejak kecil, aku menyebut ruangan ini “ruang sidang”, karena di sinilah semua keputusan penting keluarga diambil. Kenzo boleh pakai motor atau tidak. Aku boleh kuliah di luar negeri atau tidak. Dan malam ini, apakah aku akan bertunangan dengan Gerald Wiranata atau tidak.

Waktu aku membuka pintu, ruang sidang itu sedang ramai.

Papa duduk di kepala meja, dengan kemeja batik cokelat dan wajah yang tidak bisa dibaca, seperti biasa. Di sebelah kanannya Mama, cantik dengan kebaya modern warna hijau zamrud, sedang tertawa bersama Bu Sinta Wiranata. Pak Harun Wiranata duduk di sebelah kiri Papa, membicarakan sesuatu tentang harga tanah. Tante Rini dan Om Bram di tengah meja, dengan Tante Rini memegang gelas sambil melirik ke arah pintu setiap lima detik. Kenzo di ujung, memainkan HP di bawah meja.

Dan di seberang kursi kosong yang jelas disiapkan untukku, duduk Gerald.

Gerald memakai jas abu-abu yang pas sempurna di badannya, rambutnya disisir rapi ke samping, dan dia sedang menjelaskan sesuatu ke Om Bram sambil menggambar di udara dengan jarinya. Aku menangkap satu kata dari mulutnya.

“...margin...”

Tentu saja.

Lalu semua orang menoleh ke arah pintu.

Tante Rini berhenti bicara di tengah kalimat. Om Bram berhenti mengunyah kacang. Mama menaruh tangannya di dada, seperti mau bilang anak Mama cantik sekali, lalu matanya turun ke tangan aku.

Tangan aku, yang sedang bergandengan dengan tangan seorang cowok tinggi berkacamata, dengan kemeja navy yang kancing dadanya membentuk mulut ikan.

Hening.

Hening yang sangat panjang.

Kenzo mengangkat wajah dari HP-nya, melihat kami, lalu pelan-pelan menaruh HP-nya di atas meja. Itu tanda bahaya. Kenzo tidak pernah menaruh HP-nya, bahkan waktu makan.

Aku menarik napas. Aku sudah latihan kalimat ini tiga puluh kali di depan cermin sambil creambath tadi sore, sampai kapster salon bertanya apakah aku sedang latihan drama.

“Pa, Ma, semuanya,” kataku. “Maaf aku telat. Kenalin, ini Devan.” Aku menelan ludah. “Pacar aku.”

Dan ruang sidang meledak.

Bukan meledak secara harfiah, tapi rasanya seperti itu. Tante Rini mengeluarkan suara “HAH?” yang begitu melengking sampai anjing tetangga menggonggong. Om Bram tersedak kacangnya dan harus ditepuk-tepuk punggungnya oleh Pak Harun. Bu Sinta menutup mulut dengan kedua tangan. Mama berdiri, lalu duduk lagi, lalu berdiri lagi. Gerald menatap kami dengan mulut sedikit terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak mengatakan apa-apa tentang margin.

Satu-satunya yang tidak bergerak adalah Papa.

Papa hanya menatap Devan. Lurus, tenang, dan sangat lama.

Aku merasakan tangan Devan menggenggamku sedikit lebih erat. Hanya sedikit. Lalu dia melepaskan tanganku, dan sebelum aku sempat panik karena kehilangan pegangan, tangan itu pindah ke pinggangku.

Merangkulku.

Dengan santai. Dengan mantap. Seperti tangannya memang sudah berada di situ selama setahun.

Aku sedang memegang gelas air putih yang tadi disodorkan Bi Inah waktu aku masuk, dan gelas itu nyaris lepas dari tanganku. Aku menangkapnya di detik terakhir, dengan bunyi tuk kecil saat pinggir gelasnya membentur cincinku. Airnya bergoyang, hampir tumpah, tapi tidak.

Itu nggak ada di naskah, aku ingin berteriak. Kita cuma latihan pegangan tangan! Siapa yang bilang boleh rangkul?!

Tapi yang keluar dari mulutku cuma senyum. Senyum yang sangat, sangat kaku.

Devan melangkah maju, membawaku bersamanya, dan berhenti di depan Papa.

“Selamat malam, Om,” katanya. Suaranya tenang, sopan, dan sama sekali tidak gemetar. “Saya Devan Satria. Maaf datang tanpa kabar sebelumnya. Itu salah saya, bukan salah Nabila.”

Lalu dia mengulurkan tangan.

Dan kemeja pinjamannya berbunyi kreeek.

Pelan, tapi di ruangan yang sedang hening itu, bunyinya terdengar seperti petir. Semua orang melihat ke arah bahu Devan. Aku juga. Tidak ada robekan yang kelihatan, tapi bunyinya jelas datang dari situ.

Devan tidak berkedip. Tangannya tetap terulur, wajahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Papa menatap tangan itu. Menatap bahunya. Lalu menatap wajahnya lagi.

Dan Papa menjabatnya.

“Hendra,” kata Papa. Hanya itu. Satu kata. Tapi Papa menjabat tangan Devan cukup lama, dan aku tahu artinya: Papa sedang menilai. Jabat tangan Papa itu seperti alat pendeteksi kebohongan. Aku pernah melihatnya membuat seorang direktur keuangan mengaku soal laporan palsu hanya dengan berjabat tangan terlalu lama.

Devan tidak mengaku apa-apa. Dia cuma membalas genggaman itu, lalu melepasnya di saat yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.

“Silakan duduk,” kata Papa.

Itu lebih dari yang kuharapkan.


Bi Inah buru-buru menambahkan satu kursi di sebelah kursiku, yang artinya Devan duduk tepat berhadapan dengan Gerald. Kalau ini film, pasti ada musik dramatis dan kamera yang bergantian menyorot wajah mereka.

Tapi yang terjadi malah Gerald mengangguk sopan ke arah Devan, dan Devan mengangguk balik. Dua cowok yang sama-sama canggung, mengangguk seperti dua merpati di taman.

“Minumnya apa, Mas?” tanya Bi Inah pada Devan.

Aku menjawab duluan, karena aku ingin kelihatan seperti pacar yang tahu segalanya. “Kopi hitam, Bi. Gulanya dua.”

Aku langsung sadar aku salah. Tanpa gula. Dia bilang tanpa gula. Aku bahkan melihatnya menulis itu di tisu. Tapi Bi Inah sudah pergi ke dapur, dan Devan cuma menoleh padaku dengan senyum kecil yang tidak bisa kubaca.

Kopinya datang tiga menit kemudian. Devan meminumnya tanpa berkedip. Hanya ada kerutan sangat tipis di ujung matanya waktu tegukan pertama, lalu hilang.

Aku melirik ke kepala meja, dan jantungku berhenti sebentar. Papa sedang melihat cangkir kopi Devan. Hanya sekilas. Lalu beliau kembali memotong dagingnya.

Mungkin cuma kebetulan. Pasti cuma kebetulan.

“Jadi,” kata Tante Rini, dan semua orang di meja tahu apa yang akan terjadi. Kalau Tante Rini memulai kalimat dengan jadi, itu artinya interogasi dimulai. “Devan, ya? Kerja di mana?”

“Di bidang IT, Tante.”

“IT.” Tante Rini mengangguk-angguk, lalu menyipitkan mata. “IT itu... yang benerin printer kantor ya?”

Om Bram tertawa. Kenzo menahan tawa. Aku ingin menghilang ke bawah meja.

Devan tersenyum. “Kadang printer juga, Tante. Printer kantor itu makhluk paling misterius di dunia. Saya udah bertahun-tahun kerja di IT dan masih nggak ngerti kenapa printer selalu rusak pas orang mau ngeprint dokumen penting.”

Pak Harun tertawa keras. “Betul itu! Printer di kantor saya juga begitu!”

“Itu bukan kebetulan, Om. Saya curiga printer punya perasaan.”

Bahkan Bu Sinta ikut tertawa. Tante Rini, yang jelas-jelas berharap Devan tersinggung, terpaksa ikut tersenyum. Lalu Devan menoleh padanya lagi, dan matanya turun sedikit ke kursi di sebelah Tante Rini.

“Tante, maaf saya lancang. Itu tas edisi yang keluar tahun lalu, ya? Yang warnanya cuma dibuat tiga ratus buah di dunia?”

Tante Rini membeku. Tangannya refleks menyentuh tas kulit warna krem di kursi sebelahnya.

“Kamu... tahu tas ini?”

“Nabila pernah cerita. Katanya Tante sampai antre dari subuh.”

Aku tidak pernah cerita soal antre dari subuh. Aku cuma bilang Tante Rini pernah menangis karena tas. Tapi entah bagaimana, tebakan Devan tepat, karena mata Tante Rini langsung berbinar-binar seperti anak kecil yang ditanya soal mainan kesayangannya.

“Dari jam empat pagi!” katanya. “Di Singapura! Hujan! Tante sampai masuk angin!”

“Tapi dapat, kan, Tante?”

“DAPAT!”

Lima menit kemudian, Tante Rini sudah menceritakan seluruh kisah perburuan tas itu, lengkap dengan foto antrean di HP-nya, dan Devan mendengarkan dengan serius sambil sesekali bertanya, “Terus, Tante? Terus gimana?” Om Bram memutar bola mata. Kenzo memotret semuanya diam-diam. Aku menunduk ke piring dan menahan diri untuk tidak tersenyum terlalu lebar.

Satu turun. Masih banyak lagi.

“AI itu,” kata Om Bram tiba-tiba, memotong cerita Tante Rini soal payung yang terbalik tertiup angin, “cuma gaya-gayaan.”

Semua orang menoleh ke Om Bram.

“Kerja di IT, kan?” lanjutnya ke Devan. “Pasti kamu juga ngomongin AI-AI itu. Semua anak muda sekarang ngomongin AI. Saya nggak percaya. Mesin kok disuruh mikir. Nanti kalau mesinnya salah mikir, siapa yang tanggung jawab?”

“Mas,” tegur Tante Rini.

“Apa? Saya cuma nanya.”

Aku melirik Devan, siap memberinya isyarat untuk tidak menanggapi. Om Bram kalau sudah bicara soal teknologi bisa berjam-jam, dan tidak ada yang pernah menang.

Tapi Devan cuma mengangguk pelan. “Om benar. Kalau mesinnya salah, manusia yang harus tanggung jawab. Makanya mesinnya nggak boleh dibiarkan mikir sendirian.”

Om Bram mengerjap. Jelas dia tidak menyangka akan disetujui. “Nah. Betul, kan.”

“Betul, Om.”

Om Bram membuka mulut, siap berdebat, lalu menutupnya lagi karena tidak ada yang bisa dia debat. Dia kembali ke kacangnya sambil menggerutu pelan, dan aku mendengar Pak Harun terkekeh.

Mama, yang dari tadi diam dengan mata berbinar, akhirnya tidak tahan lagi.

“Nak Devan,” katanya.

Nak Devan. Baru dua puluh menit, dan Mama sudah memanggilnya Nak.

“Iya, Tante?”

“Tante mau tanya. Tes kecil aja, ya. Jangan tersinggung.” Mama mencondongkan badan ke depan, dan aku tahu apa yang akan beliau tanyakan sebelum beliau mengucapkannya. Aku menahan napas. “Nabila paling suka makan apa?”

“Sate padang, Tante,” jawab Devan tanpa jeda. “Tapi dia nggak mau ngaku di depan orang karena menurutnya sate padang itu makanan yang bikin belepotan. Jadi kalau makan di luar, dia pesan yang aman, kayak pasta atau salad. Tapi kalau pulang dan lewat gerobak sate padang, dia bakal minta berhenti.”

Aku menatapnya.

Aku cuma bilang aku suka sate padang. Aku tidak pernah bilang soal belepotan, atau soal pasta, atau soal gerobak di jalan pulang. Tapi semuanya benar. Semuanya, sampai detail terakhir.

Mama menutup mulut dengan kedua tangan. “Ya Allah. Itu betul banget. Dari kecil dia begitu.”

“Saya merhatiin, Tante,” kata Devan pelan, dan dia tidak melihat ke Mama waktu mengatakannya. Dia melihat ke aku.

Aku buru-buru meraih gelas air dan minum sampai habis.

Lalu Devan menyendok sambal dari mangkuk kecil di depannya, mencicipinya sedikit dengan ujung sendok, dan berhenti.

“Tante,” katanya. “Ini sambalnya... pakai terasi yang dibakar dulu, ya? Terus ada sedikit gula merah, sama jeruk limau, bukan jeruk nipis.”

Mama menatapnya seperti baru menemukan harta karun.

“Kamu bisa tahu?”

“Rasa jeruknya lebih wangi, nggak terlalu asam. Dan terasinya nggak amis, berarti dibakar dulu. Ibu saya juga bikin sambal kayak gini, tapi nggak seenak ini.”

Mama berdiri. Mengitari meja. Dan di depan seluruh keluarga Saheila dan keluarga Wiranata, beliau menepuk-nepuk bahu Devan dengan penuh sayang.

Bahu yang kemejanya kekecilan.

Kreeek.

Devan tidak berkedip. Mama tidak sadar. Aku menutup mata sebentar dan berdoa semoga kemeja itu bertahan sampai makanan penutup.

“Nak Devan harus sering-sering ke sini,” kata Mama. “Mama masakin. Eh, maksud Tante. Tante masakin.”

“Terima kasih, Tante.”

Di ujung meja, Kenzo meletakkan sendoknya. Adikku itu memakai kaus hitam bertuliskan nama podcast kriminal favoritnya, dan dia menatap Devan dengan mata menyipit seperti detektif di film noir.

“Kak Devan,” katanya. “Jadian sama Kak Nabila tanggal berapa?”

Aku membeku. Kami sudah membahas ini. Aku ingat kami sudah membahas ini. Tapi di bawah tatapan Kenzo dan dengan tangan Devan yang tiba-tiba kembali ke pinggangku di bawah meja, otakku kosong melompong.

“Tanggal empat belas,” kata Devan. “Bulan Oktober tahun lalu. Hari Sabtu. Jam empat sore. Di Kafe Jeda, meja nomor tujuh. Hujan.”

Kenzo menyipitkan mata lebih sipit lagi. “Kok hafal banget?”

“Karena itu hari paling menegangkan dalam hidup saya. Kakak kamu diam lama banget sebelum jawab.”

“Berapa lama?”

Devan menoleh padaku. Senyumnya kecil, dan ada sesuatu di matanya yang membuat perutku terasa seperti sedang naik lift yang terlalu cepat.

“Sepuluh detik,” katanya.

Kenzo menatap kami bergantian. Lalu dia mengambil HP-nya dan mengetik sesuatu. Aku tahu dia sedang mencatat. Kenzo punya catatan di HP-nya yang judulnya Bukti, dan isinya semua hal mencurigakan yang terjadi di rumah ini. Dia pernah membuktikan bahwa Bi Inah diam-diam menonton sinetron di jam kerja, hanya dengan mencocokkan suara TV dan jadwal tayang.

“Oke,” kata Kenzo. “Masuk akal.”

Aku mengembuskan napas yang tidak sadar kutahan.

“Terus,” kata Tante Rini, yang ternyata belum selesai. Dia menopang dagu dengan kedua tangan, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. “Devan. Tante mau tanya satu lagi. Yang paling penting.”

“Silakan, Tante.”

“Apa yang kamu suka dari Nabila?”

Seluruh meja diam.

Aku bisa merasakan wajahku memanas. Ini tidak ada di naskah. Kami tidak pernah membahas ini, karena aku pikir tidak ada yang akan bertanya sesuatu yang begitu... pribadi. Aku melirik Devan, siap menyelamatkan situasi dengan lelucon atau mengalihkan topik.

Tapi Devan tidak menoleh padaku. Dia menatap Tante Rini dengan wajah yang sangat serius.

“Semuanya, Tante,” katanya. “Tapi saya nggak mau bohong. Yang pertama, dia cantik.” Dia berhenti sebentar. “Saya nggak mau pura-pura itu bukan alasan pertama. Waktu pertama kali lihat dia, saya lupa semua yang lagi saya kerjain. Sisanya datang belakangan. Cara dia ketawa. Cara dia gigit sedotan kalau mikir. Cara dia berusaha keras buat nggak ngerepotin orang lain, padahal dia sendiri lagi repot.”

Hening.

Lalu Tante Rini, perempuan yang pernah membuat tiga pacar sepupuku menangis di acara lebaran, menempelkan tangan ke dadanya dan berbisik, “Ya ampuuun.”

Mama mengusap sudut matanya dengan tisu. Bu Sinta menepuk-nepuk lengan Mama. Om Bram berhenti mengunyah kacang, lagi. Bahkan Pak Harun menatap Devan dengan kagum.

Dan aku?

Aku duduk di situ dengan wajah terbakar, jantung berlari kencang, dan tangan Devan yang masih diam di pinggangku, hangat menembus kain gaun merahku.

Itu akting, kataku pada diri sendiri. Itu bagian dari sandiwara. Dia bilang dia total. Itu cuma totalitas.

Tapi kalau itu akting, kenapa dia tidak melihatku waktu mengatakannya? Kenapa dia justru melihat ke Tante Rini, seolah dia tidak berani melihatku?

Aku tidak sempat memikirkan jawabannya, karena di seberang meja, Gerald akhirnya berdeham.

Dia meletakkan pisau dan garpunya dengan rapi, sejajar di atas piring. Lalu dia menatap Devan dengan senyum sopan yang sangat profesional.

“Devan,” katanya. “Kerja di IT, ya. Menarik.” Dia merapikan dasinya. “Saya lagi mengerjakan proyek pengembangan kawasan di Cikarang. Kawasan hunian plus komersial. Proyeksi marginnya bagus sekali.” Dia berhenti, lalu tersenyum sedikit lebih lebar. “Mungkin kamu bisa kasih pendapat dari sudut pandang orang IT?”

Di kepala meja, Papa berhenti memotong dagingnya.

Dan aku, yang sudah mengenal Gerald selama empat puluh menit tiga bulan lalu, tahu satu hal dengan pasti: ini bukan pertanyaan. Ini tantangan.

Aku melirik Devan.

Devan menaruh cangkir kopinya, kopi manis yang pasti rasanya seperti sirup baginya, dan mendorong kacamatanya naik dengan satu jari.

“Boleh,” katanya. “Saya boleh tanya beberapa hal dulu, Mas?”