Chapter Eighteen

Aku Melanggar Pasal Empat

POV: Nabila

Liburan keluarga ke Puncak direncanakan oleh Tante Rini, dan itu seharusnya sudah jadi tanda bahaya.

Pengumumannya muncul di grup hari Senin pagi, dua hari setelah gala, lengkap dengan susunan acara yang diketik rapi dengan emoji di setiap baris.

Tante Rini: 🏔️ LIBURAN KELUARGA SAHEILA (+DEVAN) 🏔️
📅 Sabtu–Minggu
🏡 Villa Om Hadi di Cisarua
🍖 Sabtu malam: BBQ (koki: Om Bram)
🎤 Sabtu malam: karaoke (wajib ikut)
🌄 Minggu pagi: jalan pagi ke kebun teh
🛏️ Pembagian kamar: nanti Tante atur 😉

Om Bram: Kenapa saya kokinya?

Tante Rini: Karena Mas selalu bilang daging yang Mas bakar paling enak.

Om Bram: Itu kan cuma ngomong.

Tante Rini: Sekarang buktikan.

Kenzo: Kenapa pembagian kamarnya pakai emoji kedip?

Tante Rini tidak menjawab pertanyaan itu.


Aku tahu kenapa, hari Sabtu jam empat sore, waktu kami sampai di villa.

Villa Om Hadi terletak di lereng bukit, dikelilingi kebun teh dan pohon pinus. Dua lantai, dengan dinding kayu dan jendela-jendela besar yang menghadap lembah. Di lantai atas ada empat kamar tidur. Dan dua di antaranya, yang paling ujung, berbagi satu balkon panjang dengan pagar kayu dan dua kursi rotan.

Tante Rini berdiri di tangga dengan kertas di tangan, seperti petugas penerimaan hotel.

“Mama Papa Nabila, kamar satu. Tante Om, kamar dua. Oma, kamar bawah biar nggak naik tangga. Kenzo, Tasya, kamar tiga sama anak-anak Om Hadi.” Dia berhenti. Tersenyum. “Nabila, kamar empat. Devan, kamar lima.”

“Kamar lima?” tanyaku. “Kamar lima itu gudang.”

“Udah Tante sulap jadi kamar. Ada kasur, ada lemari.”

“Kenapa Devan nggak sekamar sama Kenzo?”

“Kamar tiga udah penuh.”

“Kenapa Devan nggak di bawah?”

“Bawah buat Oma.”

“Tante Rini.”

“Iya, sayang?”

“Kamar empat sama kamar lima itu sebelahan. Dan balkonnya nyambung.”

Tante Rini membuka kertasnya lebar-lebar dan menatapnya dengan wajah sangat terkejut. “Oh ya? Masa? Tante nggak tahu.”

Om Bram, yang berdiri di belakangnya dengan tas berisi tiga kilo daging, memutar bola matanya begitu keras sampai aku khawatir matanya tidak bisa kembali.

Papa berdiri di dekat pintu. Dia menatap Tante Rini. Menatapku. Menatap Devan, yang berdiri di belakangku sambil membawa tas ransel dan tas Oma. Lalu Papa berdeham. Satu kali.

“Pintu balkon masing-masing kamar dikunci dari dalam,” kata Papa.

“Iya, Om,” kata Devan cepat.

“Dari dalam.”

“Siap, Om.”

Papa mengangguk dan naik ke atas. Tante Rini mengedipkan mata padaku. Aku ingin menguburkan diri di kebun teh.


BBQ dimulai jam enam sore, dan Om Bram ternyata bukan koki yang baik.

Dagingnya gosong di luar, mentah di dalam. Om Bram bersikeras itu teknik medium rare dari Amerika. Tante Rini bilang Amerika tidak pernah mengajarkan teknik membakar daging sampai hitam seperti arang. Mereka berdebat selama dua puluh menit sementara daging-daging berikutnya ikut gosong.

Akhirnya Devan mengambil alih penjepit.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma berdiri di sebelah Om Bram, mengambil penjepit dari tangannya dengan sopan, dan mulai membalik daging dengan jeda yang teratur. Aku melihatnya menghitung dalam hati, bibirnya bergerak samar. Setiap potong daging dibalik tepat di detik yang sama.

Lima belas menit kemudian, daging yang keluar dari pemanggang berwarna cokelat keemasan di luar dan merah muda di dalam.

Om Bram mencicipinya. Diam lama.

“Kamu belajar dari YouTube?” tanyanya curiga.

“Iya, Om.”

“Semalam?”

“Tadi di mobil, Om.”

Om Bram menatapnya. Lalu menatap dagingnya. Lalu menepuk bahu Devan dengan keras. “Caddy saya bisa masak. Bagus. Mulai sekarang kamu koki. Saya asisten.”

“Om yang pegang piring aja.”

“Asisten pegang piring. Oke.”

Dan begitulah, Om Bram menghabiskan sisa malam berdiri di sebelah Devan, memegang piring dengan penuh kebanggaan, dan mengumumkan ke semua orang yang datang mengambil daging bahwa daging ini dibakar dengan teknik yang saya ajarkan.

Tidak ada yang mengoreksinya. Devan tersenyum dan terus membalik daging.

Aku duduk di kursi taman dengan sepiring daging, menonton mereka. Kenzo duduk di sebelahku, makan dengan lahap.

“Kak,” katanya dengan mulut penuh.

“Hm.”

“Kak Devan bisa semuanya ya?”

Aku menatap Devan. Dia sedang menjelaskan sesuatu ke Om Bram, sambil menunjuk bara api dengan penjepit. Om Bram mengangguk-angguk serius. Asap dari pemanggang membuat kacamata Devan berembun, dan dia melepasnya sebentar untuk mengelapnya dengan ujung kaus.

Aku langsung menatap piringku.

“Dia nggak bisa golf,” kataku.

“Tapi dia bikin Om Bram menang golf.”

“Dia nggak bisa masak.”

“Tapi dia masak rendang sama Mama. Dan sekarang BBQ.”

Aku tidak menjawab.

“Kak,” kata Kenzo lagi, lebih pelan.

“Apa?”

“Kalau Kakak nggak mau dia, aku mau dia jadi kakak aku.”

Aku menoleh padanya. Kenzo sedang menatap Devan dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu dia mengunyah dagingnya dan pura-pura tidak mengatakan apa-apa.


Karaoke dimulai jam delapan, di ruang tengah villa, dengan mesin karaoke tua milik Om Hadi yang layarnya sudah bergaris dan lagunya kebanyakan dari tahun sembilan puluhan.

Om Bram menyanyikan lagu Broery Marantika lagi. Tante Rini dan Mama berduet lagu Dewi Yul sambil berpelukan. Oma, yang duduk di kursi goyang di pojok, meminta lagu keroncong dan menyanyikannya dengan suara tua yang bergetar tapi masih sangat merdu, dan semua orang diam mendengarkan. Kenzo dan Tasya menyanyikan lagu rap yang tidak ada di mesin karaoke, dengan musik dari HP.

Lalu Tante Rini menyodorkan mikrofon ke Devan.

“Wajib,” katanya.

“Tante, saya nggak bisa nyanyi.”

“Semua orang bisa nyanyi. Yang nggak bisa cuma Om Bram, dan dia tetap nyanyi.”

“Saya dengar itu,” kata Om Bram.

Devan menatap mikrofon itu seperti menatap ular. Lalu dia menatapku. Aku menggeleng pelan, jangan lihat aku, aku nggak bisa bantu. Dia menghela napas, mengambil mikrofon, dan memilih lagu.

Lagu yang dia pilih adalah lagu lama. Lagu cinta tahun delapan puluhan, yang judulnya tidak kukenal tapi melodinya terasa samar-samar akrab.

Dan Devan ternyata memang tidak bisa bernyanyi.

Suaranya tidak jelek. Tapi nadanya meleset di setiap baris, naik terlalu tinggi di bagian yang seharusnya rendah dan tenggelam terlalu rendah di bagian yang seharusnya tinggi. Om Bram tertawa sampai terbatuk. Kenzo merekam. Tasya menutup telinganya.

Tapi Devan terus bernyanyi. Dengan wajah serius. Dengan kacamata yang memantulkan cahaya layar karaoke.

Dan di bait kedua, dia berhenti menatap layar.

Dia menatapku.

Dia menyanyikan sisa lagu itu, dengan nada yang masih salah semua, sambil menatapku. Di ruang tengah villa yang dipenuhi keluarga Saheila. Di depan Papa, Mama, Oma, Tante Rini, Om Bram, Kenzo, Tasya, dan anak-anak Om Hadi.

Ruangan itu jadi sunyi. Om Bram berhenti tertawa. Kenzo menurunkan HP-nya.

Aku duduk di sofa, tidak bisa bergerak, tidak bisa mengalihkan pandangan, dengan wajah yang terbakar dari dalam.

Waktu lagunya selesai, tidak ada yang bertepuk tangan selama tiga detik.

Lalu Oma, dari kursi goyangnya, mulai bertepuk tangan. Pelan. Dengan tangan tuanya yang keriput.

“Nadanya jelek,” kata Oma. “Tapi nyanyinya bener.”

Dan seluruh ruangan meledak dengan tepuk tangan.


Jam sebelas malam, villa sudah sunyi.

Aku tidak bisa tidur.

Aku berbaring di kasur kamar empat, menatap langit-langit kayu, mendengarkan suara jangkrik dan angin yang meniup pohon-pohon pinus. Udaranya dingin. Aku memakai sweter tebal dan selimut dua lapis, tapi aku tetap tidak bisa tidur.

Aku terus memikirkan lagu itu. Nada-nadanya yang salah. Matanya yang tidak lepas dariku.

Aku terus memikirkan mobil di parkiran hotel. Lima senti.

Jam sebelas lewat dua puluh, aku bangun, membuka kunci pintu balkon dari dalam, sesuai perintah Papa, dan keluar.

Dia sudah di sana.

Duduk di salah satu kursi rotan, dengan jaket denim dan selimut tipis di pangkuan, menatap lembah di bawah. Lampu-lampu kota Bogor berkelip jauh di bawah sana, seperti bintang yang jatuh dan tersebar di tanah. Di atas, bintang-bintang sungguhan bertebaran, jauh lebih banyak dari yang pernah kulihat di Jakarta.

Dia menoleh waktu mendengar pintuku terbuka.

“Nggak bisa tidur?” tanyanya.

“Kamu juga?”

“Dingin.”

“Kamu pakai jaket.”

“Tetap dingin.”

Aku duduk di kursi rotan satunya. Dia menyodorkan selimut tipisnya. Aku menolak. Dia menyodorkannya lagi. Aku menerimanya, karena memang dingin, dan karena selimut itu masih hangat dari badannya.

Kami diam lama. Menatap lampu-lampu di lembah.

“Lagu tadi,” kataku akhirnya. “Lagu apa?”

“Lagu kesukaan Ibu. Ibu suka nyanyiin itu waktu nyuci baju.”

“Oh.”

“Aku cuma hafal lagu itu. Makanya aku pilih.”

“Kamu nyanyinya jelek banget.”

“Aku tahu.”

“Tapi Oma bilang nyanyinya bener.”

Dia diam. Lalu tersenyum kecil ke arah lembah. “Oma baik.”


Kami bicara sampai lewat tengah malam.

Soal hal-hal yang tidak pernah kami bicarakan di meja nomor tujuh, di mobil, atau di ruang makan keluarga Saheila. Hal-hal yang tidak ada di tisu mana pun.

Dia cerita soal ayahnya, yang punya bengkel motor kecil di Bandung dan mengajarinya membongkar mesin waktu umur tujuh tahun. Soal ibunya, yang mengajar anak kelas satu SD selama tiga puluh tahun dan masih menelepon murid-murid lamanya untuk menanyakan kabar. Soal dirinya waktu kecil, yang lebih suka membongkar radio daripada main layangan.

“Kamu mau jadi apa?” tanyaku. “Dulu. Waktu kecil.”

Dia berpikir. “Aku mau bikin sesuatu yang bikin orang kayak Ayah nggak rugi.”

“Maksudnya?”

“Ayah dulu sering antar onderdil ke bengkel-bengkel lain. Pakai motor. Jauh-jauh. Kadang bensinnya lebih mahal dari untungnya. Kadang nyasar. Kadang sampai di sana, bengkelnya udah tutup.” Dia menatap lampu-lampu di lembah. “Aku mau bikin sesuatu yang bikin orang kayak Ayah tahu jalan mana yang paling hemat, jam berapa harus berangkat, biar nggak rugi.”

“Udah kesampaian?”

Dia diam sebentar. “Lagi dicoba.”

Lalu giliranku. Aku cerita soal hal yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, bahkan Sasa. Soal rasa takut yang selalu ada di belakang kepalaku sejak aku mulai bekerja di perusahaan Papa. Bahwa semua yang kucapai tidak akan pernah benar-benar jadi milikku. Bahwa aku akan selalu jadi anak Pak Hendra dulu, baru Nabila.

“Minggu lalu,” kataku, “waktu aku menang di depan Pak Gunawan. Itu pertama kalinya aku ngerasa... aku. Bukan anak Papa. Aku.”

“Kamu memang kamu.”

“Tapi aku nggak bakal bisa kalau nggak ada kamu.”

“Kamu bisa. Kamu cuma butuh orang yang nanya.”

“Aku butuh kamu yang nanya.”

Kalimat itu keluar sebelum aku bisa menahannya.

Devan menoleh padaku. Aku menatap lembah. Lampu-lampu Bogor berkelip-kelip, tidak peduli.

“Nabila,” katanya pelan.

“Hm.”

“Kamu cantik.”

Aku menoleh padanya. “Nggak ada keluarga aku di sini, Dev.”

“Aku tahu.”

“Kamu udah bilang itu minggu lalu. Di bawah pohon mangga.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa bilang lagi?”

Dia menatapku. Di bawah cahaya bintang dan lampu balkon yang redup, wajahnya kelihatan lebih lembut dari biasanya. Lebih jujur.

“Karena itu masih benar,” katanya. “Tiap kali aku lihat kamu, itu masih benar. Dan aku capek pura-pura itu cuma pasal sepuluh.”

Aku tidak bisa bernapas.

Dia berdiri. Pelan. Melangkah ke kursiku. Dan aku mendongak menatapnya, dengan selimutnya di pangkuanku dan jantung yang berdetak seperti mau keluar dari dada.

Dia membungkuk.

Aku menutup mata.

Dan bibirnya menyentuh keningku.

Pelan. Hangat. Satu detik. Dua detik. Seperti tetes embun yang jatuh di daun teh.

Lalu dia menarik diri, dan aku membuka mata, dan dia sedang menatapku dengan wajah yang sama merahnya dengan wajahku.

“Kamu nyium kening aku,” kataku. Suaraku bergetar.

“Latihan,” katanya.

“Nggak ada penontonnya.”

“Latihan buat nanti ada penontonnya.”

Aku menatapnya. Dia menatapku. Lalu, pelan-pelan, aku tertawa, tawa kecil yang gemetar, dan dia tersenyum dengan senyum yang sampai ke matanya.

“Selamat malam, Bu Klien,” katanya.

“Selamat malam, Pak Kacamata.”

Dia masuk ke kamarnya. Aku mendengar bunyi kunci pintu balkon diputar dari dalam, sesuai perintah Papa.

Aku masih duduk di kursi rotan, dengan selimutnya di pangkuanku, menatap pintu yang tertutup itu.


Aku tidak tidur malam itu.

Aku kembali ke kamar, mengunci pintu balkon, dan berbaring di kasur dengan selimut Devan yang lupa kukembalikan. Lalu aku bangun lagi, membuka tas, dan mengeluarkan sesuatu yang kubawa dari Jakarta tanpa alasan yang jelas.

Kontrak laminasi.

Aku duduk bersila di atas kasur, di bawah lampu tidur yang redup, dan membacanya dari awal.

Pasal 1: Kontrak ini berlaku sampai perjodohan dengan keluarga Wiranata resmi dibatalkan.

Pasal 3: Kontak fisik hanya boleh dilakukan di depan keluarga Pihak Pertama. Pelukan maksimal tiga detik. Cium: DILARANG.

Aku menyentuh keningku. Masih hangat. Atau mungkin cuma perasaanku.

Pasal 4: Dilarang baper. Berlaku untuk para pihak. Jika dilanggar, kontrak batal.

Aku menatap pasal empat lama sekali.

Aku ingat meja nomor tujuh. Tisu kafe. Kacamata yang melorot dan jariku yang mendorongnya kembali. Gaun merah marun dan kemeja yang robek di stasiun Blok M. Buku resep Nenek dan radio Opa. Payung yang miring ke arahku. Rendang dan celemek ayam. Jam dua pagi di restoran cepat saji dengan pulpen di rambutku. Tangan di parkiran golf. Jaket di sofa. Piala Kenzo. Piring puding dan senyum sopan di depan Reza. Mobil di tengah hujan. Lima senti.

Lagu dengan nada yang salah semua, dinyanyikan sambil menatapku.

Kening yang masih hangat.

Aku melanggar pasal empat. Aku tahu itu sekarang. Aku mungkin sudah melanggarnya sejak dia bilang oke setelah sepuluh detik. Sejak dia bilang kamu orang yang butuh pacar jam tujuh malam, itu cukup. Aku cuma tidak mau mengakuinya, karena mengakuinya artinya kontrak ini batal. Dan kalau kontrak ini batal, aku tidak tahu apakah dia akan tetap ada.

Aku menatap langit-langit kamar kayu, dengan kontrak laminasi di dada, dan membiarkan kalimat itu terbentuk di kepalaku untuk pertama kalinya. Utuh. Tanpa pasal. Tanpa pengecualian.

Aku jatuh cinta sama Devan Satria.

Di luar jendela, langit mulai berubah dari hitam ke abu-abu. Burung-burung mulai berkicau di pohon pinus. Dan dari kamar sebelah, samar-samar, aku mendengar seseorang bersenandung.

Nadanya salah semua.

Lagu yang dia nyanyikan semalam. Lagu kesukaan ibunya.

Aku memeluk kontrak laminasi itu lebih erat, menutup mata, dan tersenyum sampai pipiku sakit.