Chapter Seven
Kontrak Dilaminasi
POV: Devan
Aku sampai di Kafe Jeda jam delapan kurang sepuluh, dan dia sudah di sana.
Duduk di meja nomor tujuh, dengan kaus putih kebesaran yang dimasukkan setengah ke celana jins, rambut dicepol tinggi dengan jepit bentuk kupu-kupu, dan kacamata hitam yang didorong ke atas kepala seperti bando. Tanpa riasan sama sekali. Ada bekas bantal samar di pipi kirinya, garis tipis kemerahan yang jelas belum hilang sejak bangun tidur.
Tadi malam dia memakai gaun merah marun dan membuat satu ruang makan hening. Pagi ini dia memakai kaus kebesaran dengan bekas bantal di pipi, dan aku berdiri di ambang pintu kafe selama tiga detik penuh seperti orang yang lupa kenapa dia datang.
Aku mulai curiga ini akan jadi masalah jangka panjang.
“Kamu telat,” katanya waktu aku duduk.
“Aku datang sepuluh menit lebih awal.”
“Aku datang dua puluh menit lebih awal. Berarti kamu telat sepuluh menit dari aku.”
“Itu bukan cara kerja waktu.”
“Itu cara kerja waktu di meja ini.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan dagu terangkat, jelas sedang mencoba terlihat galak, tapi bekas bantal di pipinya menghancurkan semua usahanya. Aku menggigit bagian dalam pipiku supaya tidak tersenyum.
“Kenapa?” tanyanya curiga.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu mau ketawa.”
“Pipi kamu.”
Dia menyentuh pipinya, lalu mengeluarkan HP dan melihat pantulannya di layar. Matanya membesar. Dia menggosok pipinya dengan panik, yang hanya membuat garis merahnya jadi lebih merah.
“Kenapa nggak bilang dari tadi?!”
“Aku baru duduk tiga puluh detik.”
“Tiga puluh detik itu lama!”
“Tadi katanya sepuluh menit itu telat, sekarang tiga puluh detik itu lama. Waktu di meja ini memang aneh.”
Dia melemparku dengan bungkus gula. Aku menangkapnya. Mas Jaka muncul di samping meja membawa dua cangkir, dengan wajah seperti orang yang sudah menunggu momen ini sejak semalam.
“Selamat pagi, Mbak Nabila! Selamat pagi, Mas... pacarnya Mbak Nabila!”
“Devan,” kataku.
“Mas Devan!” Dia menaruh cangkir kopi hitam di depanku, lalu oat latte di depan Nabila. “Kopi hitam tanpa gula, kan? Saya lihat kemarin Mas minumnya nggak pakai gula.”
Aku menatapnya dengan hormat. Setidaknya ada satu orang di dunia ini yang tidak membuatku minum sirup.
Di cangkir Nabila, busa susunya membentuk sesuatu yang bulat dengan dua tonjolan kecil di atas dan satu tonjolan di samping.
“Hati,” kata Mas Jaka.
Nabila dan aku menatap cangkir itu bersamaan.
“Bebek,” kata kami.
Mas Jaka menatap cangkirnya lama, lalu mengangguk pelan dengan wajah orang yang sudah menerima nasib. “Iya. Itu bebek.” Dia berbalik dan pergi. “Tapi bebeknya penuh cinta!”
Nabila mengeluarkan buku catatan bersampul biru muda dan pulpen yang ujungnya ada boneka kelinci kecil. Dia membuka halaman pertama dan menulis besar-besar di bagian atas: PERJANJIAN KERJA SAMA PACARAN BOHONGAN.
“Terlalu panjang,” kataku.
“Harus jelas.”
“Kalau ada yang nemu buku ini, judulnya langsung ngasih tahu semuanya.”
Dia berpikir. Mencoret judulnya. Menulis ulang: PERJANJIAN KERJA SAMA.
“Kerja sama apa?”
“Rahasia.”
“Oke.”
“Pasal satu.” Dia mengetuk pulpen kelincinya ke dagu. “Durasi. Kontrak ini berlaku sampai perjodohan dengan keluarga Wiranata resmi dibatalkan.”
“Resmi itu gimana?”
“Papa bilang batal. Di depan aku. Pakai kata batal.”
“Bukan tunda.”
“Bukan tunda.” Dia menulis. “Pasal dua. Pihak Kedua wajib hadir di acara keluarga Pihak Pertama kalau diminta, kecuali ada urusan darurat.”
“Darurat itu apa?”
“Sakit parah. Kecelakaan. Kiamat.”
“Kalau ada rapat penting?”
“Rapat IT kamu penting banget?”
Aku ingat Pak Wibisono dan empat puluh karyawan yang harus digaji. “Kadang.”
Dia memicingkan mata, lalu menambahkan rapat penting yang benar-benar penting di daftar darurat, dengan tanda kurung (Pihak Kedua wajib jujur soal tingkat kepentingannya).
“Pasal tiga. Kontak fisik.” Dia berhenti. Pipinya mulai memerah, dan kali ini tidak ada hubungannya dengan bekas bantal. “Kontak fisik hanya boleh dilakukan di depan keluarga Pihak Pertama. Pegangan tangan boleh. Rangkul...” Dia melirikku tajam. “Rangkul boleh, tapi harus kasih kode dulu.”
“Kode apa?”
“Apa aja. Batuk. Kedip.”
“Kalau aku kedip terus kamu nggak lihat?”
“Aku bakal lihat.”
“Tadi malam kamu nggak lihat aku waktu aku jawab pertanyaan Tante Rini.”
Dia berhenti menulis. Menatapku. “Kamu merhatiin aku nggak lihat kamu?”
“Aku merhatiin semuanya.”
Dia menunduk ke buku dengan wajah yang semakin merah, lalu menulis dengan huruf yang sedikit lebih besar dan lebih tebal dari sebelumnya: Kode: pegang ujung jari dulu.
“Pelukan?” tanyaku.
“Nggak ada pelukan.”
“Kalau Mama kamu nyuruh?”
“Mama nggak akan nyuruh.”
“Mama kamu tadi malam meluk aku. Kayaknya dia bakal nyuruh.”
Nabila menutup mata sebentar, seperti orang yang menahan sabar. Lalu menulis: Pelukan: hanya jika dipaksa keadaan. Maksimal tiga detik.
“Cium?”
Pulpen kelincinya berhenti. Dia mengangkat wajah pelan-pelan dan menatapku dengan mata menyipit yang sangat berbahaya.
“Aku cuma nanya buat kelengkapan kontrak,” kataku.
“Dilarang,” katanya, dan menulisnya dengan huruf kapital, digaris bawah dua kali. DILARANG.
“Oke.”
“Tanpa pengecualian.”
“Oke.”
“Kamu kenapa senyum?”
“Aku nggak senyum.”
“Sudut bibir kamu naik.”
“Itu bawaan lahir.”
Dia mendengus dan lanjut menulis. Aku menyesap kopi hitamku dan membiarkan diriku, hanya selama tiga detik, menatapnya menulis. Alisnya berkerut sedikit waktu dia berkonsentrasi. Ujung lidahnya muncul sedikit di sudut bibir, seperti anak SD yang sedang mengerjakan soal matematika. Jepit kupu-kupunya miring ke kiri. Aku tidak memberitahunya. Aku egois. Aku ingin melihatnya miring sedikit lebih lama.
“Pasal empat,” katanya, dan suaranya tiba-tiba lebih pelan. “Dilarang baper.”
Aku menaruh cangkirku.
“Baper,” ulangku.
“Bawa perasaan. Jatuh cinta beneran. Salah paham. Semacamnya.” Dia menulis tanpa menatapku. “Ini sandiwara. Kita profesional. Kalau salah satu pihak mulai baper, kontrak batal.”
Aku menatap tulisan itu. Pasal empat. Dilarang baper.
Aku berpikir soal sepuluh detik kemarin pagi. Soal lupa cara bernapas. Soal kemeja pinjaman dan anting tetesan air dan pipi yang semerah gaun.
“Buat siapa pasal itu?” tanyaku.
Dia mengangkat wajah. “Buat kamu.”
“Oh.” Aku mengangguk pelan. “Kirain buat kamu.”
Wajahnya berubah. Bukan merah. Lebih seperti orang yang baru saja tersandung anak tangga yang tidak kelihatan. Dia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.
“Buat kita berdua,” katanya akhirnya, dan mencoret kata salah satu pihak lalu menggantinya dengan para pihak.
“Oke,” kataku. “Para pihak.”
Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti menang.
Kami menyelesaikan pasal lima sampai sembilan dalam setengah jam. Pasal lima soal kerahasiaan: tidak ada yang boleh tahu, termasuk sahabat. Nabila langsung menambahkan kecuali Sasa, karena Sasa sudah tahu sebagian dan kalau dia tidak dikasih tahu dia bakal curiga dan kalau Sasa curiga dia jadi lebih berbahaya daripada Kenzo. Pasal enam soal cerita resmi, yang semuanya sudah kami susun kemarin di atas tisu. Pasal tujuh soal panggilan: di depan keluarga, kami memanggil nama saja.
“Nggak pakai sayang?” tanyaku.
“Nggak.”
“Pacar setahun biasanya pakai sayang.”
“Aku geli.”
“Geli sama kata sayang?”
“Geli kalau kamu yang bilang.”
“Kenapa?”
Dia menatapku lama. Lalu menunduk dan menulis Pasal tujuh: nama saja. Alasan: tidak perlu dijelaskan.
Pasal delapan, Nabila yang mengusulkan: Pihak Kedua dilarang lebih disayang keluarga Pihak Pertama daripada Pihak Pertama sendiri.
“Itu bukan hal yang bisa aku kontrol.”
“Usahakan.”
“Mama kamu udah nyatet makanan kesukaan aku di HP.”
“Itu yang aku takutin!”
Pasal sembilan soal biaya. Dan di sinilah kami berdebat paling lama.
“Aku bayar per acara,” kata Nabila. “Sebutin angkanya.”
“Nggak usah.”
“Harus. Kamu ngorbanin waktu kamu. Kemeja kamu sampai robek.”
“Itu kemeja Bimo.”
“Siapa Bimo?”
“Temen aku.”
“Berarti aku harus ganti kemeja Bimo juga.” Dia menulis sesuatu. “Oke. Satu kemeja buat Bimo. Terus buat kamu berapa?”
“Nol.”
“Devan.”
Aku mengangkat wajah. Itu kedua kalinya dia memanggil namaku. Yang pertama semalam, di depan pintu rumahnya, dengan suara gugup. Yang ini lain. Lebih tegas, sedikit kesal, dan entah kenapa lebih akrab.
“Aku nggak mau dibayar,” kataku.
“Kenapa?”
Karena kalau aku dibayar, ini jadi pekerjaan. Dan aku tidak mau ini jadi pekerjaan.
Tapi aku tidak bisa bilang itu. Jadi aku bilang: “Mama kamu mau masakin rendang. Itu bayaran yang cukup.”
Nabila menatapku dengan alis terangkat. “Kamu mau dibayar pakai rendang?”
“Rendang Mama kamu. Kalau sambalnya seenak itu, rendangnya pasti lebih enak.”
Dia menatapku beberapa detik lagi. Lalu, pelan-pelan, bibirnya melengkung. Lesung di pipi kanannya muncul, dan aku harus mengambil cangkir kopi dan meminumnya meskipun cangkir itu sudah kosong.
“Kamu aneh,” katanya.
“Aku tahu.”
Dia menulis: Pasal sembilan: Pihak Kedua dibayar dengan rendang. Plus satu kemeja pengganti untuk Bimo. Plus satu kemeja untuk Pihak Kedua sebagai biaya operasional (TIDAK BOLEH DITOLAK).
“Aku nggak butuh...”
“Tidak. Boleh. Ditolak.” Dia mengetuk tulisannya tiga kali dengan pulpen kelinci. “Kemeja navy semalam itu bikin aku stres. Tiap kamu gerak, aku takut kamu meledak.”
“Oke. Pasal sepuluh punya aku.”
“Kamu mau nambahin pasal?”
“Pihak Kedua juga berhak.”
Dia menyodorkan buku dan pulpennya dengan curiga. Aku menarik buku itu ke arahku, menulis dengan tulisan kecil dan rapi di bawah pasal sembilan, lalu mengembalikannya.
Dia membaca. Matanya membesar.
Pasal 10: Pihak Kedua berhak menggombal demi realisme sandiwara.
“NGGAK!”
“Itu penting buat kredibilitas.”
“Nggak ada gombal-gombalan!”
“Tadi malam aku gombal, dan Tante kamu hampir nangis. Mama kamu beneran nangis. Itu efektif.”
“Itu bukan gombal. Itu...” Dia berhenti.
“Itu apa?”
Dia menatapku, dan aku melihat pertanyaannya di matanya. Kalau itu bukan gombal, terus itu apa? Aku melihat dia teringat kalimat terakhirku di stasiun Blok M. Itu bukan improvisasi.
Dia tidak menanyakannya. Aku juga tidak menjelaskannya.
“Oke,” katanya akhirnya, sangat pelan. “Pasal sepuluh boleh. Tapi di depan keluarga aja.”
“Di depan keluarga aja,” kataku.
Aku tidak menyebutkan bahwa pasal itu tidak menyebutkan tempat.
Pasal sebelas, penutup: Kontrak berakhir otomatis saat pasal satu terpenuhi, atau jika salah satu pihak melanggar pasal empat.
Lalu kami menandatanganinya. Nabila di kiri, aku di kanan. Mas Jaka, yang sudah berdiri di samping meja selama lima menit terakhir pura-pura mengelap meja yang sama berulang kali, menawarkan diri jadi saksi.
“Mas tahu isinya?” tanya Nabila curiga.
“Nggak, Mbak. Saya cuma saksi tanda tangannya aja. Bukan isinya.”
Dia menandatangani di bawah, dengan tanda tangan yang ada bentuk hatinya. Hati yang ini, anehnya, bentuknya sempurna.
“Kita ke mana?” tanyaku waktu Nabila menarikku keluar kafe, dengan buku biru muda terkepit di ketiaknya.
“Laminasi.”
“Laminasi?”
“Biar resmi.”
“Kontrak nggak jadi lebih resmi karena dilaminasi.”
“Jadi lebih awet. Tahan air. Tahan sobek.” Dia menoleh padaku dengan wajah sangat serius. “Tahan kalau ada yang mau batalin sepihak.”
Tempat fotokopi di ujung jalan dijaga seorang bapak-bapak berkaus partai yang sedang menonton sinetron di HP. Nabila menyobek halaman kontrak dengan hati-hati, menyerahkannya, dan berkata dengan nada seorang eksekutif yang sedang memberi instruksi penting: “Pak, laminasi. Yang tebal. Yang paling tebal.”
Bapak itu melihat kertasnya. Melihat judulnya. Melihat Nabila. Melihat aku.
“Perjanjian kerja sama?”
“Iya, Pak.”
“Kerja sama apa, Mbak?”
“Rahasia perusahaan, Pak.”
Bapak itu mengangguk dengan wajah yang jelas tidak percaya, lalu memasukkan kertas itu ke mesin laminasi. Mesin itu berdengung, mengeluarkan bau plastik hangat, dan Nabila berdiri di depannya dengan tangan terlipat, mengawasi seperti orang yang sedang mengawasi bom yang dijinakkan.
Dan aku berdiri di belakangnya, menatapnya.
Menatap kaus kebesaran dan jepit kupu-kupu yang masih miring. Menatap wajahnya yang begitu serius menghadapi mesin laminasi, seolah nasib dunia bergantung pada ketebalan plastik. Menatap caranya membungkuk sedikit untuk melihat kertas yang keluar pelan-pelan dari mesin, dengan bibir yang mengerucut penuh konsentrasi. Cahaya matahari pagi dari pintu tempat fotokopi jatuh di sisi wajahnya, dan bekas bantal di pipinya sudah hampir hilang.
Dia cantik. Bukan cantik gaun merah semalam yang membuat ruang makan hening. Cantik yang lain. Cantik yang membuatmu ingin berdiri di tempat fotokopi yang pengap ini selama satu jam lagi, hanya untuk melihatnya menunggu mesin laminasi.
Aku mengeluarkan HP dan memotretnya.
Diam-diam. Tanpa suara. Satu foto, dari belakang dan sedikit ke samping, dengan wajahnya yang sedang menatap mesin laminasi penuh keseriusan.
Aku membuka galeri, membuat folder baru, dan memasukkan foto itu ke dalamnya. Waktu diminta mengisi nama folder, aku berpikir sebentar, lalu mengetik:
Bukti Aku Nggak Salah Pilih.
“Jadi!” seru Nabila, berbalik dengan kontrak yang sekarang terbungkus plastik tebal dan berkilau. Dia mengangkatnya tinggi-tinggi seperti piala. “Resmi!”
Aku memasukkan HP ke saku secepat kilat. “Resmi,” ulangku.
“Kamu ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu pegang HP barusan.”
“Ngecek jam.”
“Jam berapa?”
Aku tidak tahu. Aku tidak melihat jam. “Pagi.”
Dia menyipitkan mata, tapi terlalu senang dengan kontraknya untuk mengejar. Dia membayar bapak fotokopi, yang masih menatap kami dengan curiga, lalu memeluk kontrak itu di dada sambil berjalan keluar.
“Aku yang simpan,” katanya.
“Kemarin aku yang simpan kontrak tisu.”
“Kontrak tisu kamu yang simpan. Kontrak laminasi aku yang simpan. Adil.”
“Oke.”
Kami berjalan kembali ke arah kafe, di bawah matahari pagi Kemang yang mulai hangat. Dia berjalan sedikit di depanku, mengayun-ayunkan kontrak laminasinya, bersenandung pelan lagu yang tidak kukenal.
Di tengah jalan, HP-ku bergetar. Pesan dari Bimo.
Gimana? Masih hidup? Kemeja aku masih hidup?
Aku membalas: Kemeja kamu gugur dalam tugas. Diganti yang baru. Pasal sembilan.
Pasal sembilan???? KALIAN BIKIN KONTRAK???
Aku memasukkan HP ke saku tanpa membalas.
“Devan,” kata Nabila tanpa menoleh.
“Hm?”
“Jepit rambut aku miring, kan?”
Aku berhenti. “Kok tahu?”
“Kerasa dari tadi.” Dia berbalik, berjalan mundur beberapa langkah, dan menatapku dengan senyum menantang. “Kenapa nggak bilang?”
Karena aku suka melihatnya miring. Karena kamu kelihatan seperti orang yang terlalu sibuk hidup untuk peduli jepit rambut, dan itu adalah hal paling menarik yang pernah kulihat pagi ini.
“Aku lagi menerapkan pasal sepuluh,” kataku.
“Pasal sepuluh itu gombal.”
“Iya.”
“Di depan keluarga aja.”
Aku melihat ke sekeliling. Trotoar Kemang. Toko bunga. Seorang tukang parkir yang sedang tidur di kursi plastik. Tidak ada keluarga Saheila di mana pun.
“Pasal sepuluh nggak nyebutin tempat,” kataku.
Dia berhenti berjalan mundur. Menatapku. Lalu menatap kontrak laminasinya, membaca pasal sepuluh dengan cepat, dan wajahnya berubah jadi campuran marah, malu, dan sesuatu yang lain yang tidak berani kunamai.
“DEVAN!“
Aku sudah berjalan melewatinya menuju kafe, dengan senyum yang kali ini sama sekali tidak kusembunyikan.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi reading
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi