Chapter Eleven
Lima Belas Hole
POV: Nabila
Om Bram mengirim undangan golf lewat grup WhatsApp keluarga, hari Kamis malam, dengan format yang sangat resmi.
Kepada Yth. Sdr. Devan. Dengan hormat, Anda diundang bermain golf pada hari Sabtu, pukul 06.00 WIB, di Padang Golf Pondok Indah. Peserta: Bram, Hendra, Hadi, Devan. Dress code: sopan. Taruhan: yang kalah traktir soto. Hormat saya, Bram.
Lalu, satu menit kemudian: Kamu bilang kamu jelek main golf. Saya mau lihat sejelek apa. 😏
Aku tidak tahu Om Bram bisa pakai emoji. Aku juga tidak tahu kenapa Devan ada di grup WhatsApp keluarga. Waktu aku menggulir ke atas, aku menemukan jawabannya: Tante Rini menambahkan Devan, tiga hari lalu, jam dua pagi.
Devan membalas lima menit kemudian: Siap, Om. Saya memang jelek, Om. Mohon bimbingannya.
Om Bram membalas: 👍
Tante Rini membalas: Aduh sopan banget 😭😭
Mama membalas: Nak Devan jangan lupa sarapan dulu ya ❤️
Kenzo membalas: Aku ikut. Mau lihat.
Papa tidak membalas. Tapi keesokan paginya, waktu aku lewat di depan ruang kerjanya, aku melihat Papa sedang membersihkan stik golf kesayangannya dengan kain, pelan-pelan, satu per satu, seperti orang yang sedang bersiap untuk pertandingan penting.
Aku ikut juga. Tentu saja aku ikut. Bukan karena aku mau melihat Devan. Tapi karena kalau pacar bohonganku akan menghabiskan lima jam bersama Papa, Om Bram, dan Om Hadi di lapangan golf tanpa pengawasan, sesuatu bisa terjadi. Sesuatu yang bisa membongkar semuanya.
Aku ikut sebagai pengawas. Profesional.
Aku memakai kaus polo putih, rok golf lipit warna biru muda, topi visor, dan kacamata hitam. Aku tidak memilih warna rok itu dengan sengaja. Rok golfku memang cuma dua, dan yang satunya sedang di laundry.
Di area parkir padang golf, jam enam kurang sepuluh, tiga orang caddy yang sedang menurunkan tas golf dari bagasi mobil lain berhenti menurunkan tas golf. Seorang bapak-bapak berkaus polo merah yang sedang latihan mengayun stik di dekat pintu masuk salah mengayun dan hampir memukul pot bunga.
Kenzo, yang turun dari mobil di belakangku, menatap mereka satu per satu, lalu menatapku.
“Kak, jangan jalan di depan orang yang lagi pegang stik golf. Bahaya.”
“Aku nggak ngapa-ngapain.”
“Itu masalahnya.”
Devan sudah menunggu di dekat pintu masuk. Dia memakai kaus polo abu-abu, celana panjang krem, sepatu golf yang jelas masih baru karena labelnya masih menempel di tumit, dan topi yang sedikit kebesaran. Dia sedang membaca sesuatu di HP-nya dengan wajah sangat serius.
Waktu aku mendekat, aku bisa melihat layarnya. Video YouTube. Cara Memegang Stik Golf untuk Pemula.
“Kamu belajar golf dari YouTube?” bisikku.
“Aku belajar semua hal dari YouTube.”
“Kamu bilang kamu main golf.”
“Aku bilang aku jelek main golf. Aku jelek karena aku belum pernah main.”
“Devan!”
Dia mengangkat wajah dari HP dan menatapku. Lalu berhenti. Matanya turun ke rok biru mudaku, naik ke topi visor, lalu berhenti di wajahku lebih lama dari yang seharusnya.
“Biru muda lagi,” katanya.
“Rok golfku cuma dua.”
“Oke.”
“Yang satunya di laundry.”
“Oke,” katanya lagi, dengan senyum yang membuatku ingin mendorongnya ke danau buatan di hole tiga.
Devan memang jelek main golf.
Tidak, jelek adalah kata yang terlalu sopan. Devan main golf seperti orang yang sedang mencoba memukul nyamuk dengan sapu. Di hole pertama, pukulan pertamanya meleset total. Stiknya mengayun di udara, tidak menyentuh bola sama sekali, dan bola itu tetap duduk manis di atas tee seperti sedang mengejeknya.
Om Bram tertawa sampai harus berpegangan pada mobil golf.
Pukulan keduanya kena bola, tapi bolanya meluncur ke samping dan masuk ke semak-semak, di mana seekor burung terbang panik keluar.
Pukulan ketiganya masuk ke danau.
“Tiga pukulan, belum keluar dari hole satu!” seru Om Bram dengan wajah paling bahagia yang pernah kulihat. “Hen! Hendra! Lihat! Anak ini lebih jelek dari saya waktu pertama main!”
Papa tidak berkomentar. Tapi aku melihat bahunya bergetar sedikit.
Devan mengambil bola baru dari sakunya dengan wajah tenang. “Saya sudah bilang, Om. Saya jelek.”
“Kamu nggak bohong! Saya suka orang yang nggak bohong!”
Aku menutup wajah dengan tangan. Kenzo, yang duduk di sebelahku di mobil golf, merekam semuanya dengan HP-nya.
“Bukti nomor dua puluh satu,” gumamnya. “Kak Devan beneran nggak bisa golf.”
“Itu bukan bukti bohong. Itu bukti jujur.”
“Bukti tetap bukti.”
Tapi ada sesuatu yang aneh. Setelah hole ketiga, Devan berhenti mencoba memukul bola dengan serius. Dia mulai melakukan hal lain: setiap kali Om Bram bersiap memukul, Devan berdiri agak jauh di belakangnya, memegang HP secara horizontal, dan merekam.
Awalnya Om Bram tidak memperhatikan. Di hole kelima, dia menoleh.
“Kamu ngapain? Bikin konten?”
“Belajar, Om. Saya rekam biar bisa lihat cara Om mukul.”
Om Bram mengangkat dagu, jelas tersanjung. “Rekam yang banyak. Belajar yang benar.”
Devan terus merekam. Om Bram, Papa, Om Hadi. Dia merekam setiap pukulan mereka. Di sela-sela hole, waktu mereka berjalan ke titik berikutnya, dia menatap layar HP-nya dengan kening berkerut, menggeser-geser sesuatu dengan jari.
“Kamu ngapain?” bisikku, waktu kami berjalan berdua di belakang para bapak-bapak.
“Ngecek sesuatu.”
“Apa?”
Dia menunjukkan layarnya. Aku melihat video Om Bram sedang mengayun stik, tapi dengan garis-garis berwarna di atasnya. Garis hijau di bahu, garis kuning di pinggul, garis merah di lutut. Garis-garis itu bergerak mengikuti tubuh Om Bram, dan di pojok layar ada angka-angka yang berubah setiap sepersekian detik.
“Ini apa?”
“Aplikasi.”
“Aplikasi apa? Aku belum pernah lihat.”
“Aku bikin semalam.”
Aku berhenti berjalan. “Kamu bikin aplikasi? Semalam?”
“Nggak serius. Cuma prototipe. Aku pakai model yang udah ada buat baca posisi badan, terus aku tambahin sedikit perhitungan sudut.” Dia menggeser layar lagi. “Lihat. Pinggul Om Bram berputar terlalu cepat dibanding bahunya. Makanya bolanya selalu belok ke kanan.”
Aku menatapnya. Menatap layar. Menatapnya lagi.
“Kenapa kamu bikin itu?”
Dia mengangkat bahu. “Om Bram suka golf. Dan dia kelihatan capek kalah terus dari Papa kamu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku tidak berkata apa-apa. Aku cuma berjalan di sebelahnya, menatap sisi wajahnya yang serius di bawah topi yang kebesaran, dan merasakan dadaku mengencang dengan cara yang sama sekali tidak profesional.
Di jalan setapak menuju hole kedelapan, Papa tiba-tiba berjalan di sebelahku. Papa jarang berjalan di sebelahku. Biasanya beliau berjalan di depan, dengan langkah panjang yang membuat semua orang harus mengejar.
“Dia selalu begitu?” tanya Papa, tanpa menoleh. Dagunya menunjuk Devan, yang sedang berjongkok di pinggir fairway, merekam Om Hadi dengan wajah serius.
“Begitu gimana, Pa?”
“Merhatiin orang.”
Aku menatap Devan. Menatap topinya yang kebesaran dan label sepatu yang masih menempel di tumitnya.
“Iya, Pa,” kataku. “Selalu.”
Papa diam beberapa langkah. Lalu: “Hm.”
Beliau berjalan lagi ke depan, dengan langkah panjangnya yang biasa. Dan aku tidak tahu apakah hm itu artinya bagus atau buruk.
Di hole kedelapan, Om Bram kalah lagi dari Papa. Selisih dua pukulan. Dia menggerutu sambil menendang rumput.
Devan mendekatinya dengan HP di tangan.
“Om,” katanya pelan, cukup pelan supaya Papa tidak dengar. “Boleh saya tunjukin sesuatu?”
Om Bram menatapnya curiga, tapi mengambil HP itu. Devan menjelaskan dengan suara rendah: pinggul, bahu, sudut, waktu. Dia tidak memakai istilah teknis sama sekali. Dia bilang, “Om, pinggulnya kayak pengen buru-buru pulang, tapi bahunya masih pengen ngobrol. Coba pinggulnya ditahan sedikit, biar nunggu bahu.”
Om Bram menatap layar lama. Lalu menatap Devan. Lalu menatap layar lagi.
“Ini...” Dia berdeham. “Ini AI?”
“Sedikit, Om.”
“Hm.” Om Bram menyipitkan mata. “Caddy, ya.”
“Caddy, Om.”
Om Bram mengembalikan HP-nya tanpa berkata apa-apa. Tapi di hole sembilan, waktu dia bersiap memukul, aku melihatnya berdiri lebih lama. Menarik napas. Dan waktu dia mengayun, pinggulnya bergerak lebih pelan.
Bolanya melayang lurus. Tinggi, jauh, dan jatuh di tengah green, dua meter dari lubang.
Hening.
Om Hadi menjatuhkan botol minumnya. Kenzo berhenti merekam. Papa, yang sedang memasukkan stik ke tas, berhenti dengan stik setengah masuk.
Om Bram menatap bolanya. Lalu menatap stiknya. Lalu berbalik dan menatap Devan dengan mata membesar, seperti orang yang baru melihat keajaiban.
“KAMU LIHAT ITU?!”
“Saya lihat, Om.”
“LURUS! LURUS, HEN! LIHAT!”
“Saya lihat,” kata Papa, dan untuk pertama kalinya sejak aku kenal Papa, beliau terdengar sedikit waswas.
Om Bram tidak bisa dihentikan setelah itu.
Hole sepuluh, par. Hole sebelas, birdie. Hole dua belas, par lagi. Setiap kali selesai memukul, dia berbalik ke Devan dan bertanya, “Tadi gimana? Pinggulnya gimana?” dan Devan menunjukkan rekaman di HP-nya, dan Om Bram mengangguk-angguk dengan serius seperti mahasiswa di depan dosen.
Di hole tiga belas, Om Bram sudah memimpin satu pukulan dari Papa.
Di hole empat belas, dua pukulan.
Di hole lima belas, langit tiba-tiba menggelap. Awan hitam yang datang dari arah selatan bergerak cepat, dan dalam lima menit, gerimis berubah jadi hujan deras.
Semua orang berlari ke mobil golf. Petugas lapangan meniup peluit dan menyuruh semua pemain kembali ke clubhouse.
“Pertandingan dihentikan di hole lima belas!” seru Om Bram, basah kuyup, dengan wajah paling berseri yang pernah kulihat seumur hidupku. “Skor terakhir yang dihitung! Saya menang! Hendra, kamu traktir soto!”
“Belum selesai delapan belas hole,” kata Papa.
“Hujan itu kehendak Tuhan! Tuhan mau saya menang!”
Papa menatap Om Bram, lalu menatap langit, lalu menghela napas dengan wajah orang yang tahu dia tidak akan pernah menang dalam argumen ini. “Soto,” katanya pasrah.
“SOTO!”
Om Bram menoleh ke Devan, yang basah kuyup di kursi belakang mobil golf dengan topi kebesaran yang sekarang meneteskan air. Om Bram meraih bahunya dan mengguncangnya.
“Kamu,” katanya. “Kamu ikut main lagi minggu depan. Dan minggu depannya lagi. Dan minggu depannya lagi.”
“Tapi saya jelek, Om.”
“Nggak apa-apa kamu jelek! Kamu caddy saya! Caddy pribadi!” Om Bram tertawa keras. “Setahun saya kalah terus sama Hendra. Setahun! Terus kamu datang, bawa HP, dan dalam satu pagi saya menang!”
“Om yang mukul, Om yang menang,” kata Devan. “Saya cuma tukang rekam.”
Om Bram menatapnya lama. Lalu, di tengah hujan deras, di atas mobil golf yang atapnya bocor, Om Bram, pria yang minggu lalu bilang AI itu gaya-gayaan, memeluk Devan erat-erat.
“Kamu anak baik,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba serak. “Anak baik.”
Kenzo, di sebelahku, merekam semuanya. Aku mendengarnya bergumam, “Bukti nomor dua puluh dua. Om Bram luluh.”
Di area parkir, hujan masih turun.
Semua orang sudah masuk ke clubhouse untuk ganti baju dan menunggu hujan reda sebelum pergi makan soto. Aku dan Devan tertinggal di belakang, karena aku harus mengambil tas kecil dari mobil dan Devan menawarkan diri memayungiku dengan payung besar milik padang golf.
Kami berdiri di samping mobilku. Hujan memukul-mukul payung dengan bunyi seperti ribuan jari yang mengetuk meja.
“Kamu tadi hebat,” kataku.
“Aku kehilangan enam bola di danau.”
“Maksud aku yang lain.”
“Oh.” Dia diam sebentar. “Itu bukan hebat. Om kamu udah bisa mukul. Dia cuma butuh orang yang nunjukin satu hal kecil.”
“Kamu bikin aplikasi semalam. Buat Om aku. Yang bilang kerjaan kamu gaya-gayaan.”
Devan tidak menjawab.
Aku mengambil tasku dari mobil dan menutup pintunya. Waktu aku berbalik, tanganku menyentuh tangannya. Tangannya yang tidak memegang payung. Tidak sengaja. Sungguh tidak sengaja. Punggung tanganku menyentuh punggung tangannya, sebentar, di bawah payung yang basah.
Seharusnya aku menarik tanganku. Itu yang akan dilakukan orang normal. Kontak fisik hanya di depan keluarga, pasal tiga, dan tidak ada keluarga di sini. Cuma ada hujan, mobil-mobil yang terparkir, dan satpam padang golf yang sedang berteduh di posnya jauh di ujung sana.
Tapi aku tidak menarik tanganku.
Dan Devan juga tidak.
Jari kelingkingnya bergerak sedikit. Menyentuh jari kelingkingku. Lalu jari manisnya. Pelan, sangat pelan, seperti orang yang sedang meminta izin tanpa suara.
Dan jari-jariku, yang seminggu lalu kaku seperti penggaris di meja nomor tujuh, sekarang melengkung sendiri. Menyusup di sela jarinya. Menemukan tempatnya.
Kami berdiri di situ, di bawah payung, di tengah hujan, dengan tangan yang saling menggenggam.
Tidak ada yang bicara.
Tidak ada yang melihat. Tidak ada Mama, tidak ada Tante Rini, tidak ada Kenzo dengan catatan buktinya. Tidak ada alasan untuk berpura-pura. Tidak ada naskah.
Aku menatap mobilku. Dia menatap hujan. Tangan kami tetap bertaut.
Aku bisa merasakan denyut nadinya di pergelangan tangannya, yang menempel di pergelangan tanganku. Cepat. Lebih cepat dari yang seharusnya untuk orang yang cuma berdiri diam di bawah payung.
Atau mungkin itu denyut nadiku sendiri. Aku tidak bisa membedakannya lagi.
Lalu, dari arah clubhouse, suara Om Bram menggelegar: “DEVAN! CADDY SAYA! AYO SOTO!”
Kami melepaskan tangan di saat yang sama. Cepat, seperti dua orang yang tertangkap basah. Devan berdeham. Aku merapikan tali tasku yang tidak perlu dirapikan.
“Soto,” katanya.
“Soto,” kataku.
Kami berjalan ke clubhouse di bawah satu payung, berdampingan, dengan jarak lima senti di antara lengan kami. Tidak bersentuhan. Tidak bicara.
Tapi tanganku masih terasa hangat. Dan waktu aku melirik ke samping, aku melihat Devan menatap telapak tangannya sendiri, seperti orang yang sedang berusaha mengingat sesuatu supaya tidak lupa.
Di dalam clubhouse, Om Bram sudah memesan empat mangkuk soto dan sedang menceritakan pukulannya di hole sembilan ke seorang pelayan yang sama sekali tidak bertanya.
Devan duduk di sebelahku. Di bawah meja, lututnya menyentuh lututku.
Aku tidak menggeser kakiku.
Dan kali ini, aku berhenti berpura-pura bahwa itu tidak sengaja.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole reading
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi