Chapter Twenty Five

Kamar 1107

POV: Nabila

Devan belum tidur selama empat puluh satu jam.

Aku tahu angka pastinya karena Bimo yang memberitahuku. Hari Minggu jam sembilan malam, Bimo mengirim pesan dari nomor yang tidak kukenal, dengan huruf kapital semua dan tiga tanda seru di setiap kalimat.

MBAK NABILA INI BIMO TEMEN DEVAN!!! MAAF GANGGU!!! DEVAN BELUM TIDUR DARI JUMAT PAGI!!! 41 JAM!!! DIA NGGAK MAU DENGERIN AKU!!! DIA CUMA DENGERIN MBAK!!! TOLONG!!!

Lalu satu lagi:

Kami di Hotel Arunika Senayan. Ballroom lantai dua. Persiapan acara besok. Devan lagi ngecek kabel sendiri padahal ada tiga teknisi.

Lalu satu lagi:

Dia barusan hampir jatuh dari tangga waktu masang lampu.

Aku sudah di mobil sebelum pesan ketiga selesai kubaca.


Acara besar itu, yang Devan sebut acara kantor, awalnya dijadwalkan dua minggu lagi. Tapi hari Rabu, Devan meneleponku dengan suara yang lebih tegang dari biasanya dan bilang acaranya dimajukan ke hari Senin. Ada investor yang minta. Ada media yang sudah diundang. Tidak bisa ditunda.

“Acara apa sih sebenarnya?” tanyaku waktu itu.

“Peluncuran produk.”

“Produk apa?”

“Aplikasi.”

“Aplikasi apa?”

“Aplikasi kantor. Nanti aku ceritain semuanya. Janji. Setelah Senin.”

Setelah Senin. Kerikil di sepatuku bergeser. Tapi aku sudah bilang aku akan menunggu, dan aku tidak mau menarik kata-kataku sendiri.

Sejak hari Rabu itu, pesan-pesannya jadi semakin pendek dan semakin larut. Jam dua pagi. Jam tiga pagi. Maaf baru bales. Lagi sibuk. Kangen. Hari Jumat dia tidak datang ke makan malam keluarga, dan Mama mengirim rendang ke kantornya lewat ojek online. Hari Sabtu dia cuma mengirim satu pesan: foto kopi hitam di atas meja yang penuh kabel, dengan keterangan Kopi ke-9 hari ini. Kamu lebih manis.

Aku sampai di Hotel Arunika jam sepuluh kurang sepuluh malam. Aku naik ke lantai dua. Aku membuka pintu ballroom.

Ruangan itu setengah jadi. Kursi-kursi disusun berbaris. Panggung di depan, dengan layar besar dan lampu-lampu yang belum semuanya menyala. Kabel di mana-mana. Beberapa orang berkaus hitam berjalan ke sana kemari membawa gulungan kabel dan kotak peralatan.

Dan di atas tangga lipat di pinggir panggung, dengan kepala hampir menyentuh rangka lampu di langit-langit, berdiri Devan.

Dia memakai kaus abu-abu yang kusut dan celana jins yang lututnya kena debu. Rambutnya berantakan. Kacamatanya melorot. Dia sedang memegang obeng di satu tangan dan senter kecil di mulut, mencoba mengencangkan sesuatu di rangka lampu, dan tangga lipat di bawahnya bergoyang setiap kali dia bergerak.

Bimo berdiri di bawah tangga, memegangi kakinya dengan dua tangan, dengan wajah seperti orang yang sedang menahan bom.

“Dev,” kata Bimo. “Dev, turun. Teknisinya bisa.”

“Mmh,” kata Devan, dengan senter di mulut.

“Dev, kamu goyang.”

“Mmh-mmh.”

“Dev, pacar kamu datang.”

Devan berhenti bergerak.

Pelan-pelan, dia menoleh ke arah pintu ballroom. Senter masih di mulutnya. Kacamatanya masih melorot. Dan waktu dia melihatku, senter itu jatuh dari mulutnya, memantul di anak tangga, dan menggelinding di lantai.

“Nabila?”

“Turun,” kataku.

“Aku cuma mau...”

“Turun.“

Dia turun.


Dari dekat, dia kelihatan lebih buruk.

Ada lingkaran hitam di bawah matanya, begitu gelap sampai kelihatan seperti memar. Kulitnya pucat. Tangannya sedikit gemetar waktu dia menyerahkan obeng ke salah satu teknisi. Dan waktu dia tersenyum padaku, senyumnya terlambat setengah detik, seperti otaknya butuh waktu lebih lama untuk mengirim perintah ke otot wajahnya.

“Hai,” katanya. “Kamu cantik.”

“Kamu kayak mayat.”

“Makasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Aku menganggapnya pujian.” Dia berkedip pelan. “Kamu ngapain di sini?”

“Bimo ngadu.”

Devan menoleh ke Bimo dengan mata menyipit. Bimo langsung sibuk menggulung kabel yang sudah tergulung.

“Aku nggak apa-apa,” kata Devan padaku.

“Kamu belum tidur empat puluh satu jam.”

“Empat puluh.”

“Empat puluh satu. Bimo ngitung.”

“Bimo ngitungnya dari Jumat pagi. Aku sempat tidur dua puluh menit di mobil hari Sabtu.”

“Itu bukan tidur. Itu pingsan.”

Dia membuka mulut untuk membantah, lalu menguap. Menguap sangat besar, sampai matanya berair, dan dia harus menutup mulut dengan tangan.

Aku menatapnya. Dia menatapku balik, dengan mata berair dan kacamata yang semakin melorot.

“Oke,” katanya pelan. “Mungkin aku agak capek.”

“Acaranya jam berapa besok?”

“Jam sepuluh. Gladi resik jam lima pagi.”

Aku melihat jam di HP-ku. Sepuluh lewat lima malam. Tujuh jam sebelum gladi resik.

Aku membuka aplikasi pemesanan hotel. Mengetik. Menggeser layar. Menekan tombol.

“Kamu ngapain?” tanyanya.

“Mesen kamar.”

“Kamar?”

“Di hotel ini. Lantai sebelas.” Aku memasukkan HP ke tas dan menarik tangannya. “Ayo.”


Kamar 1107 kecil, dengan satu kasur ukuran queen, satu sofa di dekat jendela, satu meja kerja, dan pemandangan lampu-lampu Senayan di balik kaca. Wangi seprai bersih dan pengharum ruangan lavender.

Aku membuka pintu, menyalakan lampu, dan menarik Devan masuk. Dia berdiri di tengah kamar dengan tas laptop di bahu, menatap sekeliling dengan wajah bingung, seperti anak kecil yang tersesat di mal.

Aku menutup pintu di belakang kami.

Bunyi klik kunci otomatis terdengar sangat keras di kamar yang sunyi itu.

Devan menoleh ke pintu. Lalu menoleh padaku. Lalu menoleh ke kasur. Lalu menoleh padaku lagi.

“Taruh tas kamu,” kataku.

Dia menaruh tas laptopnya di meja kerja. Pelan-pelan. Sangat pelan.

“Lepas sepatu kamu.”

Dia melepas sepatunya. Masih pelan. Matanya tidak lepas dariku.

“Sekarang,” kataku, menunjuk kasur, “kamu berbaring di situ.”

Devan membeku.

Dia berdiri di sebelah kasur, dengan kaus kusut dan kaus kaki abu-abu, dan menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ekspresi yang campur aduk antara kaget, gugup, dan sesuatu yang lain. Matanya bergerak ke kasur, ke aku, ke kasur lagi. Jakunnya naik-turun.

Dia diam.

Lama.

“Kenapa diem?” tanyaku.

“Lagi nyiapin mental.”

“Nyiapin mental buat apa?”

Dia menatapku. Menatap pintu yang terkunci. Menatap kasur. Dan kali ini, telinganya merah menyala.

“Nabila,” katanya pelan. “Kamu ngajak aku ke hotel. Kamu buka kamar. Kamu tutup pintu. Kamu nyuruh aku lepas sepatu. Terus kamu nyuruh aku berbaring di kasur.”

Aku menatapnya.

“Terus?”

“Terus cowok mana yang pikirannya nggak ke sana?”

Butuh tiga detik penuh sebelum aku mengerti apa yang dia maksud.

Satu detik untuk memproses kalimatnya. Satu detik untuk memproses situasinya: kamar hotel, pintu terkunci, kasur queen, aku yang menyuruhnya berbaring. Satu detik untuk merasakan darah naik dari leherku sampai ke ubun-ubun dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

“DEVAN!“

“Aku cuma nanya...”

“OTAK KAMU MESUM!“

“Otak aku logis!”

“Aku nyuruh kamu TIDUR!”

“Kamu nggak bilang tidur! Kamu bilang berbaring!”

“Berbaring itu buat tidur!”

“Berbaring itu bisa buat banyak hal!”

Aku menyambar bantal dari sofa dan melemparnya ke arahnya. Dia menangkapnya dengan dua tangan, di depan dadanya, seperti perisai.

“Kamu ambigu!” katanya dari balik bantal. “Kamu yang ambigu! Aku cuma ngikutin data!”

“DATA APA?!”

“Data situasional! Kamar! Pintu! Kasur! Kamu! Semua variabelnya ngarah ke satu kesimpulan!”

“Kesimpulan kamu salah!”

“Ya udah, tapi variabelnya kan kamu yang atur!”

Aku menyambar bantal kedua. Dia mengangkat bantal pertama lebih tinggi. Aku melempar. Bantal kedua mengenai bantal pertama dengan bunyi puk yang lemah, lalu jatuh ke lantai.

Kami berdiri di tengah kamar, terengah-engah. Aku dengan wajah yang terbakar sampai ke leher. Dia dengan bantal di dada dan telinga yang semerah wajahku.

“Kamu aneh,” kataku. Suaraku bergetar, setengah marah, setengah menahan tawa. “Kamu aneh banget.”

“Kamu yang bawa aku ke hotel.”

“Buat TIDUR!”

“Oke! Oke!” Dia menurunkan bantal sedikit, cukup untuk memperlihatkan matanya. “Tidur. Aku ngerti sekarang. Tidur.”

“Beneran tidur.”

“Beneran tidur.”

“Sendiri.”

Dia diam sebentar. “Sendiri?”

“SENDIRI, Devan!”

“Oke. Oke. Sendiri.” Dia menurunkan bantalnya sepenuhnya. Wajahnya masih merah, tapi sekarang ada senyum yang tidak bisa dia tahan di sudut bibirnya. “Kamu kenapa merah?”

“Kamu yang bikin!”

“Aku cuma nanya satu pertanyaan logis.”

“Pertanyaan kamu nggak logis!”

“Pertanyaan aku sangat logis. Aku laki-laki umur dua puluh tujuh tahun. Pacar aku, yang cantiknya bikin satu kafe berhenti napas, narik aku ke kamar hotel dan nyuruh aku berbaring.” Dia menatapku dengan wajah yang pura-pura sangat serius. “Kalau aku nggak mikir ke sana, kamu harus khawatir.”

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu meledak dari perutku, dan aku harus duduk di pinggir kasur karena lututku lemas. Aku tertawa sampai air mataku keluar, sampai aku harus berbaring telentang di kasur sambil memegangi perut, sampai tamu di kamar sebelah mengetuk dinding.

Devan berdiri di sebelah kasur, menatapku tertawa, dengan bantal masih di tangannya dan senyum yang sekarang sudah tidak dia sembunyikan lagi.

Lalu dia menatap posisiku. Aku, berbaring telentang di kasur hotel. Dia, berdiri di sebelahnya.

“Nah,” katanya. “Sekarang siapa yang berbaring di kasur?”

Aku langsung duduk. Tegak. Secepat kilat. Wajahku terbakar lagi.

“Itu beda.”

“Beda gimana?”

“Aku ketawa! Ketawa itu bukan berbaring!”

“Kamu berbaring sambil ketawa.”

“DEVAN!“


Butuh sepuluh menit lagi sebelum dia akhirnya mau berbaring. Dan itu pun dengan syarat.

Dia berbaring telentang di atas kasur, dengan kaus dan celana jinsnya, dengan kacamata yang akhirnya dia lepas dan taruh di meja samping. Aku menarik selimut sampai ke dadanya. Dia menatapku dari bantal, tanpa kacamata, dengan mata yang setengah terpejam.

Aku berusaha tidak menatap wajahnya terlalu lama. Wajahnya tanpa kacamata masih berbahaya. Bahkan dengan lingkaran hitam di bawah mata. Bahkan dengan rambut berantakan.

Lalu dia menepuk sisi kasur yang kosong di sebelahnya.

“Temenin,” katanya.

Aku menyambar bantal terakhir dari sofa dan melemparnya ke wajahnya.

Dia menangkapnya dengan satu tangan, tanpa membuka mata. “Maksudnya temenin ngobrol,” katanya dari balik bantal. “Sampai aku tidur. Kamu duduk di sofa. Terus ngobrol.”

Aku berdiri dengan tangan terangkat, siap melempar sesuatu lagi, tapi tidak ada lagi yang bisa kulempar.

Dia menurunkan bantal dari wajahnya dan menatapku dengan satu mata terbuka.

“Sekarang siapa yang mesum?” tanyanya.

Aku menurunkan tanganku. Pelan-pelan. Wajahku terbakar untuk kesekian kalinya malam itu. Aku tidak tahu sudah berapa kali. Aku sudah berhenti menghitung.

“Aku benci kamu,” kataku.

“Kamu cinta aku. Kamu bilang di teras. Jam satu pagi. Ada kejunya.”

Aku duduk di sofa dengan gerakan yang sangat keras, melipat tangan, dan menatapnya dengan tatapan paling galak yang bisa kubuat.

“Tidur,” kataku. “Kalau kamu buka mata sebelum tiga jam, aku pulang.”

Dia memejamkan mata. Tersenyum.

“Kalau aku buka mata terus kamu masih di sini,” katanya, “berarti kamu sayang aku.”

“Tidur, Devan.”

“Itu bukan penyangkalan.”

Aku tidak menjawab. Aku menatap lampu-lampu Senayan di balik jendela dan menggigit bibir supaya tidak tersenyum.


Kami ngobrol selama dua puluh menit. Suaranya semakin pelan, semakin berat, semakin lambat.

Dia bertanya soal hariku. Aku cerita soal Pak Gunawan, yang sekarang menyapaku setiap pagi. Soal Dinda, yang sekarang memanggil Devan Mas Tulip. Soal Sasa, yang sudah tiga kali ngopi dengan Gerald dan bilang Gerald sekarang cuma membahas margin lima menit per pertemuan, kemajuan besar.

Dia tertawa pelan di setiap cerita. Lalu tawanya jadi semakin pelan. Lalu jadi napas.

“Honey,” katanya, dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Hm?”

“Tangan.”

Dia mengulurkan tangannya dari bawah selimut, ke pinggir kasur, ke arah sofa. Telapaknya menghadap ke atas. Seperti di meja nomor tujuh. Seperti di depan pagar rumahku, di malam pertama.

Aku menatap tangan itu. Lalu aku menarik sofa sedikit lebih dekat ke kasur, sampai lututku menyentuh pinggirnya, dan meletakkan tanganku di atas tangannya.

Jari-jarinya melingkar. Pelan. Lemah. Tapi menggenggam.

“Nabila,” gumamnya. Matanya sudah terpejam sepenuhnya.

“Hm?”

“Sepuluh detik itu...”

Aku berhenti bernapas.

“...bukan mikir,” katanya.

Aku menunggu. Kalimat itu menggantung di udara kamar hotel, di antara bau lavender dan dengung AC.

“Bukan mikir apa?” bisikku.

Tidak ada jawaban.

Aku mencondongkan badan. Napasnya teratur dan dalam. Bibirnya sedikit terbuka. Tangannya masih menggenggam tanganku, tapi jari-jarinya sudah melemas.

Dia tertidur.

Di tengah kalimat. Di tengah sesuatu yang, entah kenapa, terasa sangat penting.

Sepuluh detik itu bukan mikir.

Aku menatap wajahnya yang tertidur. Tanpa kacamata. Dengan lingkaran hitam di bawah mata dan rambut yang jatuh ke dahi. Dia kelihatan jauh lebih muda saat tidur. Seperti anak laki-laki yang terlalu banyak bekerja dan lupa bahwa dia boleh istirahat.

Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Tapi aku menyimpannya. Di tempat yang sama di kepalaku tempat aku menyimpan kamu orang yang butuh pacar jam tujuh malam, itu cukup.

Aku tidak menarik tanganku. Aku duduk di sofa, dengan tangan di tangannya, dan menatapnya tidur selama beberapa menit.

Lalu HP-ku bergetar. Pesan dari Mama.

Nak, udah malam, kamu di mana? ❤️

Aku mengetik dengan satu tangan: Nemenin Devan persiapan acara kantor, Ma. Dia belum tidur 2 hari. Aku pulang pagi ya.

Balasan Mama datang dalam lima detik: Aduh kasihan Nak Devan. Suruh tidur. Jangan lupa sarapan ya. Mama sayang kalian berdua ❤️❤️❤️

Lalu, satu menit kemudian, pesan dari nomor lain. Nomor yang sangat jarang mengirim pesan padaku.

Papa: Ehem.

Aku menatap pesan itu. Menatap Devan yang tertidur. Menatap tangannya di tanganku. Lalu aku mengetik balasan untuk Papa, dengan wajah terbakar untuk kesekian kalinya malam itu:

Dia tidur, Pa. Aku di sofa. Beneran.

Papa tidak membalas. Tapi pesanku dibaca. Centang dua. Biru.


Jam sebelas lewat empat puluh, tangan Devan akhirnya melepaskan tanganku dalam tidurnya.

Aku berdiri. Merenggangkan punggung yang pegal. Mematikan lampu utama, menyisakan lampu meja kerja yang redup.

Di meja kerja, laptopnya masih terbuka. Layarnya sudah gelap, dalam mode tidur. Aku berniat menutupnya, supaya cahayanya tidak mengganggu tidurnya kalau nanti menyala.

Aku menyentuh bagian atas layarnya.

Dan layar itu menyala.

Aku tidak bermaksud melihat. Sungguh. Aku cuma mau menutupnya. Tapi layar itu menyala terang di kamar yang redup, dan mataku otomatis membaca apa yang tertulis di sana, besar-besar, di tengah slide presentasi berlatar biru tua.

LINTAS
Launch Day
Devan Satria — Co-Founder & CEO

Aku berdiri membeku di depan meja kerja.

Membaca tulisan itu. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Co-Founder & CEO.

Di belakangku, Devan bernapas dalam dan teratur di atas kasur, tidak tahu apa-apa.

Dan di kepalaku, satu kalimat terus berputar, dengan suaranya, dengan nada datar yang selalu dia pakai setiap kali Tante Rini atau Papa atau aku bertanya:

Kerja di IT. Macem-macem.