Chapter Twenty Seven

Launching

POV: Nabila

Ada kertas kecil di kursi barisan depan, di tengah, tepat di depan panggung. Kertas putih yang dilipat dua dan diselipkan di antara sandaran dan dudukan kursi. Tulisan tangannya kecil dan rapi, tulisan yang sama yang dulu menulis biru muda (baru ditetapkan, 10.47 pagi) di tisu nomor tiga.

Nabila Saheila. Tamu khusus. Jangan diduduki orang lain, termasuk Bimo.

Aku menatap kertas itu lama. Lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam tas, di saku kecil tempat aku menyimpan kontrak laminasi.

Ballroom lantai dua Hotel Arunika sudah berubah total sejak semalam. Kabel-kabel sudah tidak kelihatan. Lampu-lampu di rangka langit-langit menyala semua, putih dan biru. Layar besar di panggung menampilkan logo sederhana: garis melengkung yang menghubungkan beberapa titik, dengan tulisan LINTAS di bawahnya. Dua ratus kursi, dan hampir semuanya terisi. Orang-orang berjas, orang-orang berkaus dengan kartu pers di leher, beberapa bapak-bapak dengan jaket ojek dan wajah canggung yang duduk berkelompok di baris ketiga.

Aku memakai dress biru muda dengan blazer putih. Kebetulan, tentu saja.

Sasa duduk di sebelahku. Aku memaksanya datang. Katanya dia ada acara, tapi setelah kupaksa lewat telepon selama sepuluh menit, dia menyerah.

“Jadi dia CEO,” kata Sasa untuk keempat kalinya pagi itu.

“Iya.”

“CEO beneran.”

“Iya, Sa.”

“Yang kemejanya robek di Blok M.”

“Yang itu.”

Sasa menatap layar besar di panggung dengan wajah orang yang sedang mengalami krisis eksistensial. “Aku ngatain dia cowok random, Bil. Di depan mukanya. Di mobil kamu.”

“Dia bilang dia memang cowok random.”

“Ya ampun.” Sasa menutup wajahnya. “Gerald tahu nggak?”

“Belum. Keluarga aku juga belum.”

Sasa menurunkan tangannya dan menatapku. Serius. “Bil. Papa kamu punya perusahaan distribusi. Pacar kamu punya perusahaan logistik. Dan Papa kamu belum tahu.”

“Aku tahu.”

“Itu kayak... kayak drama Korea yang episodenya udah mau tamat.”

“Aku tahu, Sa.”

Dia menatapku lama. Lalu menepuk tanganku. “Oke. Nanti aja. Hari ini hari dia.”

Aku mengangguk. Tapi kerikil di sepatuku, yang semalam sudah hilang waktu aku membaca slide dua puluh tiga, sekarang muncul lagi. Kerikil yang lain. Lebih besar.

Papa harus tahu. Dari Devan. Bukan dari orang lain.


Acara dimulai jam sepuluh lewat lima.

Lampu ballroom meredup. Layar di panggung berubah, menampilkan video pendek: jalanan kota kecil di pagi hari, motor-motor yang membawa kardus, truk kecil yang berhenti di depan warung. Musiknya pelan, gitar akustik. Lalu tulisan muncul di layar, satu per satu:

Di kota-kota kecil, ada ribuan orang yang mengantar barang setiap hari.

Mereka tidak punya sistem. Mereka punya insting.

Kami ingin memberi mereka sesuatu yang lebih baik.

Lalu layar gelap. Lalu lampu panggung menyala.

Dan Devan berjalan ke tengah panggung.

Aku berhenti bernapas.

Dia memakai jas hitam. Bukan jas sewaan dari gala. Jas yang lain, yang pas sempurna di bahunya dan jatuh dengan benar di pinggangnya. Kemeja putih di baliknya. Tanpa dasi, dengan kancing teratas terbuka. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dengan satu helai yang tetap jatuh ke dahi, seperti tidak mau diatur. Dan kacamatanya. Kacamata yang sama.

Dia berdiri di tengah panggung, di bawah lampu sorot, di depan dua ratus orang. Dan dia tidak kelihatan gugup sama sekali.

Ini bukan Devan yang kukenal. Bukan Devan yang tersedak kuah bakso. Bukan Devan dengan celemek ayam. Bukan Devan yang jatuh dari kasur karena tiga emoji cium.

Ini Devan yang lain. Devan yang berdiri tegak, dengan satu tangan di saku celana dan satu tangan memegang klik presentasi. Devan yang menatap dua ratus orang dengan tenang, seperti menatap teman-teman di warung kopi.

“Selamat pagi,” katanya. Suaranya terdengar di seluruh ballroom, rendah dan jelas. “Nama saya Devan. Saya kerja di IT.”

Beberapa orang tertawa kecil.

“Macem-macem,” lanjutnya.

Aku menutup mulut dengan tangan. Sasa menoleh padaku dengan alis terangkat. Aku menggeleng, nanti aku jelasin.

Di panggung, Devan tersenyum. Dan aku bersumpah, meskipun lampu sorotnya menyilaukan dan ada dua ratus orang di antara kami, dia menatap barisan depan. Menatapku. Satu detik. Lalu kembali ke penonton.


Dia bicara selama dua puluh menit.

Soal kurir-kurir di kota kecil. Soal bapak-bapak dengan motor dan kardus. Soal tiga ratus kurir di dua belas kota yang sudah mencoba sistemnya. Soal jarak tempuh yang turun dua puluh tiga persen. Dia tidak memakai istilah rumit. Setiap kali dia menyebut sesuatu yang teknis, dia langsung menjelaskannya dengan perumpamaan. Seperti yang dia lakukan waktu mengajari Kenzo. Seperti yang dia lakukan waktu bicara dengan Om Bram soal caddy.

Orang-orang di ballroom mendengarkan. Benar-benar mendengarkan. Bahkan wartawan-wartawan di baris kedua berhenti mengetik di HP mereka.

Lalu dia memanggil seseorang ke panggung.

“Pak Slamet,” katanya. “Silakan, Pak.”

Seorang bapak-bapak dari baris ketiga berdiri. Umurnya mungkin lima puluhan. Jaket ojeknya sudah pudar warnanya, dan dia berjalan ke panggung dengan langkah canggung, seperti orang yang tidak pernah berdiri di depan banyak orang.

“Pak Slamet dari Purwokerto,” kata Devan. “Beliau salah satu kurir pertama yang coba sistem kami. Pak, boleh cerita sedikit?”

Pak Slamet memegang mikrofon dengan dua tangan. Tangannya gemetar. Dia menatap penonton, lalu menatap Devan, lalu menatap mikrofon.

“Saya...” katanya. Suaranya pelan. Logat Banyumasnya kental. “Saya udah dua puluh tahun jadi kurir. Antar barang dari gudang ke toko-toko. Dulu, sehari saya bisa antar tiga puluh paket, bensinnya lima puluh ribu. Sering nyasar. Sering bolak-balik.” Dia berhenti. Menarik napas. “Sekarang, sehari saya bisa antar empat puluh paket, bensinnya tiga puluh lima ribu. Nggak nyasar lagi. HP-nya yang nunjukin jalan.”

Beberapa orang bertepuk tangan kecil.

“Bulan lalu,” lanjut Pak Slamet, dan suaranya tiba-tiba pecah, “anak saya yang bungsu masuk SMK. Biaya pendaftarannya tiga juta. Dulu saya nggak mungkin bisa. Sekarang bisa. Dari uang bensin yang nggak kepake.”

Ballroom hening.

Pak Slamet menatap Devan. “Makasih, Mas Devan. Saya cinta kerjaan saya lagi. Setelah bertahun-tahun capek, saya cinta lagi.”

Devan tidak menjawab. Dia cuma menunduk sedikit, menaruh tangannya di bahu Pak Slamet, dan menepuknya dua kali.

Lalu tepuk tangan meledak. Dua ratus orang berdiri. Wartawan-wartawan berdiri. Bahkan Pak Rudolf, yang duduk di baris kedua di sebelah Kirana dengan wajah paling datar di ruangan, berdiri dan bertepuk tangan pelan.

Aku berdiri juga. Dan aku tidak sadar aku menangis sampai Sasa menyodorkan tisu.


Lalu demo. Dan demo itu rusak.

Devan membuka aplikasinya di layar besar. Peta Kota Purwokerto muncul, dengan titik-titik kecil yang mewakili kurir-kurir. Dia mulai menjelaskan bagaimana sistem menghitung rute. Lalu dia menekan satu tombol.

Dan layar besar itu berubah jadi merah.

ERROR 502. Server tidak merespons.

Ballroom hening. Aku mendengar seseorang di belakangku menghela napas. Di baris kedua, Kirana menutup mulutnya dengan tangan. Di pinggir panggung, dari balik tirai, aku melihat seorang engineer muda, Rara, dengan wajah yang berubah pucat dalam sepersekian detik.

Aku mencengkeram lengan Sasa.

Devan menatap layar merah itu selama dua detik. Lalu dia menoleh ke penonton. Dan dia tersenyum.

“Nah,” katanya dengan santai. “Ini fitur baru kami. Simulasi Senin pagi di Jakarta. Semuanya macet, nggak ada yang bisa gerak.”

Beberapa orang tertawa. Lalu lebih banyak lagi.

Sambil tersenyum, sambil bicara, Devan berjalan ke laptop di podium. Tangannya bergerak di keyboard. Cepat. Sangat cepat. Aku tidak tahu apa yang dia ketik, tapi layar kecil di podium berganti-ganti, jendela hitam dengan tulisan putih bermunculan dan hilang.

“Kurir di kota kecil,” lanjutnya ke penonton, tanpa berhenti mengetik, “juga sering ngalamin ini. Jalanan ditutup. Jembatan putus. Sinyal hilang. Makanya sistem kami punya jalur cadangan.” Dia menekan satu tombol terakhir. “Sama kayak server kami.”

Layar merah itu berkedip. Lalu berubah. Peta Purwokerto muncul lagi, dengan titik-titik kurir yang sekarang bergerak, garis-garis rute yang muncul dan berganti warna, angka-angka yang terus berubah di pojok layar.

“Satu jalan tutup,” kata Devan, “sistem langsung nyari jalan lain. Dua detik. Tanpa kurirnya perlu ngapa-ngapain.” Dia menoleh ke layar, lalu kembali ke penonton. “Tadi butuh sebelas detik, karena ternyata server yang nyari jalan lain itu juga lagi ngopi.”

Ballroom meledak dalam tawa. Lalu tepuk tangan. Keras. Lebih keras dari sebelumnya.

Di sebelahku, Sasa menatapku dengan mulut terbuka.

“Itu... itu disengaja?” bisiknya.

“Nggak,” bisikku balik. “Lihat engineer di pinggir panggung.”

Sasa menoleh. Rara sedang bersandar di dinding di balik tirai, dengan kedua tangan di dada, wajahnya masih pucat tapi sekarang tersenyum lega, seperti orang yang baru selamat dari kecelakaan.

“Ya ampun,” bisik Sasa. “Dia ngebenerin server sambil ngelawak di depan dua ratus orang.”

“Iya.”

“Dan semua orang kira itu bagian dari acara.”

“Iya.”

Sasa menatapku lagi. Lalu menatap Devan. Lalu menatapku lagi, dengan ekspresi yang tiba-tiba sangat serius.

“Bil,” katanya. “Kamu harus nikah sama dia.”


Sesi tanya jawab dimulai setelah demo. Wartawan pertama bertanya soal server yang tadi error.

“Itu disengaja, Mas Devan? Buat nunjukin sistem cadangan?”

Devan menatap wartawan itu sebentar. Lalu tersenyum. “Bukan. Itu beneran rusak. Tadi yang benerin Bimo, CTO kami, dari belakang panggung. Saya cuma ngulur waktu.”

Dari barisan paling belakang, sebuah suara berteriak tanpa mikrofon, keras dan panik:

“AKU LAGI DI TOILET!”

Seluruh ballroom menoleh. Bimo berdiri di pintu belakang, dengan tangan yang masih basah dan tisu di tangan, menatap panggung dengan horor.

“Aku di toilet, Dev! Aku nggak benerin apa-apa! Kamu yang benerin!”

Ballroom meledak lagi dalam tawa. Devan menutup wajahnya dengan tangan di atas panggung. Pak Rudolf, di baris kedua, tertawa. Pak Rudolf. Tertawa. Kirana menatapnya dengan wajah seperti melihat hantu.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

Pertanyaan-pertanyaan berikutnya lebih serius. Soal pendanaan. Soal rencana ekspansi. Soal persaingan dengan pemain besar. Devan menjawab semuanya dengan tenang, dengan data, dengan perumpamaan. Dan setiap kali ada pertanyaan tentang dirinya, dia mengalihkannya ke tim. Tim saya yang bikin. Bimo yang desain arsitekturnya. Rara yang ngurus server. Saya cuma yang ngomong di depan.

Lalu, di pertanyaan terakhir, seorang wartawan perempuan dari media teknologi mengangkat tangan. Dia masih muda, dengan kacamata bulat dan senyum jahil.

“Mas Devan,” katanya. “Pertanyaan terakhir, agak pribadi. Pembaca kami pasti penasaran. Status Mas Devan sekarang apa?”

Ballroom berbisik-bisik. Beberapa orang tertawa.

Aku membeku di kursiku.

Devan diam sebentar di atas panggung. Lalu, pelan, dia menoleh. Tidak ke wartawan itu. Ke barisan depan. Ke kursi di tengah. Ke aku.

“Saya punya pacar,” katanya.

Seluruh ballroom menoleh. Mengikuti arah pandangnya. Dua ratus pasang mata, dan kamera-kamera wartawan, dan HP-HP yang terangkat.

Ke aku.

“Dia di barisan depan,” kata Devan. “Pakai baju biru muda. Dia datang pagi ini setelah semalam nemenin saya sampai jam empat pagi, padahal dia kesel sama saya.” Dia berhenti. Tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya. “Dia yang bikin saya berani berdiri di sini. Dan dia cantik banget hari ini. Maaf, itu bukan bagian dari presentasi.”

Aku tidak tahu wajahku sedang seperti apa. Aku cuma tahu seluruh tubuhku terasa panas, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku tahu Sasa sedang mencengkeram lenganku begitu keras sampai pasti meninggalkan bekas. Aku tahu kamera-kamera sedang memotretku.

Dan aku tahu, di tengah semua itu, aku sedang tersenyum. Sangat lebar. Tidak bisa berhenti.

Dari barisan belakang, Bimo berteriak lagi, kali ini lebih keras:

“ITU ALASAN CEO KAMI TELAT MASUK KANTOR TIAP HARI!”

Seluruh ballroom tertawa. Beberapa orang bertepuk tangan. Wartawan perempuan berkacamata bulat itu mengetik sesuatu di HP-nya dengan senyum sangat lebar.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.


Setelah acara, di lorong di belakang ballroom, di antara troli katering dan tumpukan kursi lipat, Devan menemukanku.

Dia masih memakai jas hitam. Tapi kancingnya sudah dibuka, dan rambutnya sudah mulai berantakan lagi. Dia berjalan ke arahku dengan HP di telinga, sedang bicara dengan seseorang.

“Iya, Sayang... maksud saya, Pak Hartono,” katanya ke HP. Lalu berhenti. Wajahnya berubah. “Maaf, Pak. Iya. Hari ini. Nanti saya kirim datanya. Terima kasih, Pak.”

Dia menutup telepon. Menatapku. Aku menatapnya.

“Kamu barusan manggil investor sayang,” kataku.

“Pak Hartono dari bank.”

“Kamu manggil orang bank sayang.”

“Aku lagi lihat kamu waktu dia ngomong.” Dia memasukkan HP ke saku. “Mulutku otomatis.”

Dari ujung lorong, Bimo, yang jelas-jelas mendengar semuanya, jatuh ke lantai dan tertawa sampai seorang pelayan katering harus melangkahinya.

Devan berjalan mendekat, sampai dia berdiri di depanku. Di lorong yang sempit, di antara troli dan kursi lipat, dengan suara tepuk tangan yang masih samar-samar terdengar dari ballroom.

“Gimana?” tanyanya. Suaranya pelan. Tiba-tiba tidak setenang di panggung. “Versi aku yang lain.”

Aku menatapnya. Jas hitam yang terbuka. Rambut yang berantakan. Kacamata yang sedikit melorot. Dan di balik semua itu, mata yang menatapku dengan cemas, seperti anak kecil yang baru menunjukkan gambar pertamanya ke orang tuanya.

“Kamu keren,” kataku.

Dia mengerjap.

“Kamu keren banget, Dev. Kamu ngebenerin server sambil ngelawak. Kamu bikin Pak Slamet nangis, terus bikin aku nangis, terus bikin Pak Rudolf ketawa.” Aku mengulurkan tangan dan membetulkan kacamatanya. “Aku bangga banget sama kamu.”

Dia diam. Menatapku dari balik kacamata yang sekarang sudah lurus.

“Tapi,” kataku.

“Tapi?”

“Tapi kamu harus bilang ke Papa.” Aku menurunkan tanganku. “Sebelum Papa baca berita. Sebelum Papa lihat foto kamu di media teknologi dengan judul CEO Startup Logistik Ungkap Pacarnya di Barisan Depan. Papa punya perusahaan distribusi, Dev. Papa baca berita bisnis tiap pagi.”

Wajahnya berubah. Serius.

“Minggu ini,” katanya. “Aku ke rumah kamu. Aku bilang ke Papa kamu. Semuanya.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku menatapnya lama. Lalu mengangguk.

Dia mengambil tanganku. Menggenggamnya. Lalu dia mencondongkan badan, dan berbisik di dekat telingaku, pelan sekali, cukup pelan supaya Bimo yang masih tertawa di lantai tidak mendengar.

“Nanti malam,” katanya. “Atap kantor. Jam delapan.”

“Kenapa atap kantor?”

“Karena aku punya hutang.”

Aku menatapnya. Dia mundur sedikit, cukup untuk menatap mataku.

“Hutang pertama,” katanya. “Jawaban buat yang kamu bilang di teras. Jam satu pagi. Ada kejunya.”

Jantungku melompat.

Lalu dia melepaskan tanganku, berbalik, dan berjalan ke ujung lorong, di mana Pak Rudolf dan Kirana sedang menunggunya. Di tengah jalan, dia melangkahi Bimo yang masih tertawa di lantai, dan menendang pelan kakinya.

Aku berdiri di lorong di belakang ballroom, di antara troli katering dan kursi lipat, dan menatap punggungnya. Jas hitam. Rambut berantakan. Langkah yang tenang.

Aku cinta kamu, pikirku. Dan kamu mau jawab. Di atap kantor. Jam delapan.

Sasa muncul di ujung lorong, memanggil namaku. Aku tidak mendengarnya. Aku masih menatap ke arah Devan menghilang, dengan tangan di dada, di atas jantung yang berdetak terlalu keras.

Jam delapan malam masih sembilan jam lagi.

Aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan selama itu.