Chapter Twelve

Kasir Arisan

POV: Devan

Tante Rini menelepon hari Rabu jam sembilan malam, dan hal pertama yang dia katakan adalah: “Devan, Tante dalam bahaya.”

Aku sedang di kantor, di tengah rapat darurat dengan Bimo soal server yang tiba-tiba lambat. Aku langsung berdiri. “Tante kenapa? Tante di mana?”

“Di rumah. Tante lagi nangis.”

“Ada yang masuk rumah? Tante udah telepon polisi?”

“Bukan. Arisan.”

Aku berhenti. Bimo, yang ikut berdiri dengan wajah panik, menatapku dengan mulut terbuka.

“Arisan, Tante?”

“Arisan Tante berantakan, Dev.” Suaranya pecah. “Empat puluh anggota. Catatannya di buku tulis. Bukunya ketumpahan teh manis. Terus Bu Yayuk bilang dia udah bayar bulan lalu, Bu Tini bilang Bu Yayuk belum bayar, terus mereka berantem di grup WhatsApp sampai jam dua pagi, terus Bu Lastri keluar grup, terus masuk lagi, terus keluar lagi. Hari Sabtu arisannya di rumah Tante, dan Tante nggak tahu siapa yang dapat giliran, siapa yang udah bayar, siapa yang belum. Tante bisa dikudeta, Dev. Dikudeta.“

Aku menatap Bimo. Bimo menatapku. Lalu dia mengucapkan tanpa suara: Kudeta?

“Tante,” kataku pelan. “Hari Sabtu saya ke sana. Siang. Tante siapin semua yang Tante punya. Buku tulisnya, sekalipun basah. Foto-foto bukti transfer. Grup WhatsApp-nya. Semua.”

Hening di ujung telepon. Lalu suara isak kecil.

“Kamu mau bantuin Tante?”

“Mau, Tante.”

“Ya ampun. Ya ampuuun. Nabila beruntung banget. Tante bilang ke semua orang dari awal. Nabila beruntung banget.”

Dia menutup telepon sambil masih mengulang beruntung banget. Aku menaruh HP di meja dan kembali duduk.

“Kudeta arisan,” kata Bimo.

“Kudeta arisan.”

“Server kita lambat, investor kita kabur, dan kamu mau ngabisin hari Sabtu buat nyelesaiin kudeta arisan.”

“Iya.”

Bimo menatapku lama. Lalu dia menggeleng pelan dan kembali ke laptopnya. “Kamu udah jauh banget, Dev,” gumamnya. “Jauh banget.”


Nabila menjemputku di stasiun MRT Lebak Bulus hari Sabtu jam satu siang.

Aku melihat mobilnya berhenti di pinggir jalan, dan aku sudah setengah jalan membuka pintu penumpang waktu aku menyadari tiga hal sekaligus.

Pertama, mobilnya panas. Sangat panas. Seperti membuka pintu oven.

Kedua, semua jendelanya terbuka.

Ketiga, Nabila memakai kemejaku.

Kemeja putih, yang dia belikan di Senayan dua minggu lalu, yang kupakai ke padang golf minggu lalu sebelum berganti baju, lalu tertinggal di jok belakang mobilnya karena aku lupa mengambilnya waktu dia mengantarku ke stasiun setelah makan soto. Aku sudah mencarinya di kontrakan selama tiga hari sebelum sadar di mana aku meninggalkannya.

Sekarang kemeja itu ada di badan Nabila. Kebesaran. Lengannya digulung tiga kali sampai siku, kancingnya dibuka sampai dada, dipakai sebagai luaran di atas tank top hitam, dan ujungnya jatuh sampai setengah paha, menutupi celana pendek jins yang dia pakai. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi. Di bawah matahari jam satu siang yang masuk dari jendela yang terbuka, dia kelihatan seperti foto sampul majalah yang lupa bahwa dia sedang difoto.

Dan dia kelihatan cantik sekali memakai sesuatu milikku. Cantik dengan cara yang membuatku harus berpegangan pada pintu mobil sebentar sebelum masuk.

“Masuk,” katanya. “Cepetan. Panas.”

Aku masuk. Menutup pintu. Duduk. Menatap lurus ke depan.

“Itu kemeja aku,” kataku.

“Iya.”

“Kenapa kamu pakai?”

“Dingin.”

Aku menoleh padanya perlahan. Dia menatap jalan di depan dengan wajah sangat serius, tangan di setir, keringat tipis di pelipisnya.

“Dingin,” ulangku.

“AC-nya. Kenceng banget tadi pagi. Aku kedinginan. Jadi aku pakai yang ada di jok belakang.”

Aku melihat ke dasbor. Tombol AC dalam posisi mati. Aku melihat ke jendela-jendela yang semuanya terbuka. Aku melihat ke keringat di pelipisnya, yang sekarang sudah turun ke dagu.

“AC mobil kamu,” kataku, “mati dari tadi.”

Dia tidak menjawab.

“Jendela kamu kebuka semua.”

Dia tetap tidak menjawab.

“Kamu keringetan.”

“Rusaknya baru tadi,” katanya dengan suara yang sedikit terlalu tinggi. “AC-nya rusak di jalan. Tadi pagi masih nyala. Kenceng. Aku kedinginan. Terus aku pakai kemeja. Terus AC-nya rusak. Terus aku lupa lepas. Itu kronologinya.”

Telinganya merah menyala.

Kalau bohong, telinganya merah, kata Mamanya.

Aku menatap telinga itu lama. Lalu aku menatap ke luar jendela, menggigit bagian dalam pipiku dengan sangat keras, dan berusaha keras untuk tidak tersenyum sampai kami tiba di rumah Tante Rini. Aku gagal di menit kedua. Nabila melihatnya, memukul lenganku, dan menyalakan radio keras-keras supaya tidak ada yang perlu bicara.


Rumah Tante Rini di Kebayoran penuh dengan ibu-ibu.

Aku tidak siap. Aku pikir akan ada sepuluh, mungkin lima belas orang. Ternyata ada empat puluh, ditambah beberapa anak kecil, dua pembantu, dan seekor kucing persia yang duduk di kursi paling nyaman di ruang tamu seperti ketua sidang.

Begitu aku masuk, empat puluh pasang mata menoleh.

Lalu empat puluh mulut mulai bicara bersamaan.

“Ini dia?”

“Yang IT itu?”

“Ganteng juga, ya.”

“Tinggi.”

“Kacamatanya bagus.”

“Nak, sudah punya pacar?”

“Bu Harti, dia pacarnya Nabila!”

“Oh. Oh, iya. Maaf. Tapi anak saya juga cantik, lho, Nak. Kerja di bank.”

Nabila, yang berdiri di belakangku, menyelipkan tangannya ke lenganku. Merangkul. Erat. Tanpa kode. Tanpa memegang ujung jari dulu seperti yang tertulis di pasal tiga.

“Iya, Bu,” katanya dengan senyum yang sangat manis dan sangat berbahaya. “Dia pacar aku.”

Bu Harti mundur selangkah. Beberapa ibu-ibu lain berbisik. Tante Rini muncul dari dapur dengan mata sembap, membawa sebuah buku tulis bergaris yang halaman-halamannya bergelombang dan berwarna cokelat pudar karena teh manis.

“Ini, Dev,” katanya, menyodorkan buku itu seperti menyodorkan anak yang sakit. “Ini semuanya.”


Butuh empat jam.

Aku duduk di meja makan Tante Rini dengan laptop, buku tulis yang basah, HP Tante Rini yang berisi tiga tahun riwayat grup WhatsApp arisan, dan sebuah map plastik berisi tangkapan layar bukti transfer yang dicetak di kertas HVS. Empat puluh ibu-ibu mengelilingiku, sebagian duduk, sebagian berdiri, semuanya bicara.

Aku mulai dari grup WhatsApp. Aku mengekspor seluruh riwayat obrolannya, lalu mencari setiap pesan yang berisi kata transfer, sudah bayar, lunas, atau foto bukti transfer. Aku mencocokkan tanggalnya dengan halaman buku tulis yang masih bisa dibaca. Aku membuat tabel: empat puluh baris, tiga puluh enam kolom, satu untuk setiap bulan sejak arisan ini dimulai.

Nabila duduk di sebelahku, membantu membaca tulisan tangan Tante Rini yang luntur. Kemejaku masih dia pakai. Setiap kali dia mencondongkan badan untuk melihat layar laptop, lengan kemeja itu menyentuh lenganku, dan aku harus membaca ulang sel yang sama dua kali.

“Bu Yayuk,” kataku di jam kedua. “Bu Yayuk yang mana?”

Seorang ibu berkerudung ungu mengangkat tangan. “Saya.”

“Bu Tini?”

Seorang ibu berambut pendek dengan kacamata tebal mengangkat tangan dari seberang ruangan. Mereka berdua saling melirik dengan tatapan dingin, seperti dua jenderal dari negara yang sedang berperang.

“Bu Yayuk bilang sudah bayar bulan lalu,” kataku. “Bu Tini bilang belum.”

“SUDAH!”

“BELUM!”

“Dua-duanya benar,” kataku.

Ruangan hening.

Aku memutar laptop supaya mereka bisa melihat. “Bu Yayuk transfer tanggal tiga, bulan lalu. Buktinya ada di grup. Tapi transfernya masuk ke rekening Tante Rini yang lama, yang udah nggak dipakai sejak bulan Agustus. Tante Rini ganti rekening, dan pengumumannya dikirim di grup jam sebelas malam, di tengah perdebatan soal resep bolu pandan. Pesan itu ketimbun. Bu Yayuk nggak lihat.”

Bu Yayuk menatap layar. Bu Tini menatap layar. Tante Rini menutup mulut dengan kedua tangan.

“Jadi uangnya ada,” kataku. “Di rekening lama Tante Rini. Bu Yayuk sudah bayar. Tapi di catatan, uangnya belum tercatat, karena Tante Rini cuma ngecek rekening baru. Jadi Bu Tini juga benar waktu bilang belum ada di catatan.”

Hening lagi. Lalu Bu Yayuk menoleh ke Bu Tini. Bu Tini menoleh ke Bu Yayuk.

“Maaf, Jeng,” kata Bu Tini pelan.

“Aku juga minta maaf, Jeng,” kata Bu Yayuk. “Aku ngatain kamu kacamata nenek sihir di grup.”

“Aku ngatain kamu kerudung terong.”

Mereka berdua tertawa. Lalu berpelukan. Seluruh ruangan bertepuk tangan. Kucing persia di kursi ruang tamu menguap.


Di jam ketiga dan keempat, aku membuat sistem.

Tidak rumit. Tante Rini tidak butuh sesuatu yang rumit. Dia butuh sesuatu yang tidak bisa ketumpahan teh manis. Jadi aku membuat satu tabel di Google Sheets, dengan warna hijau untuk yang sudah bayar dan merah untuk yang belum, yang terhubung ke sebuah formulir sederhana. Setiap anggota tinggal mengisi formulir dan mengunggah bukti transfer, dan tabelnya berubah warna sendiri. Aku juga mengatur supaya Tante Rini dapat notifikasi di HP setiap kali ada yang bayar, dan supaya urutan giliran diacak otomatis dan transparan, dengan riwayat yang bisa dilihat semua anggota.

Lalu aku mengajari Tante Rini cara memakainya. Tiga kali. Dengan sabar.

Waktu tabel itu akhirnya selesai, dengan empat puluh baris yang semuanya berwarna hijau kecuali dua, Tante Rini menatap layar HP-nya lama sekali.

“Ini...” katanya dengan suara bergetar. “Ini punya Tante?”

“Punya Tante. Tante yang pegang.”

“Tante nggak ngerti komputer, Dev.”

“Tante tadi bisa bikin satu entri baru sendiri. Tante bisa.”

Tante Rini menatapku. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia berdiri, mengitari meja, dan memelukku dari belakang kursi, dengan pelukan yang begitu erat sampai kacamataku miring.

“Tante nggak tahu harus bilang apa,” katanya di dekat telingaku.

“Tante yang rapi selama ini. Saya cuma bikinin tempatnya.”

Empat puluh ibu-ibu mengeluarkan suara aaaaw yang sangat panjang. Seseorang di belakang memotret. Bu Harti, yang tadi menawarkan anaknya yang kerja di bank, berbisik ke ibu di sebelahnya dengan suara yang tidak cukup pelan: “Kalau Nabila nggak mau, anak saya mau.”

Tangan Nabila di lenganku mengencang.

Aku melirik ke samping. Dia sedang tersenyum ke arah Bu Harti. Senyum yang sangat lebar, sangat manis, dan sangat, sangat dingin.

“Aku mau kok, Bu,” katanya.

Bu Harti mundur dua langkah lagi.


Sore harinya, sebelum kami pulang, Tante Rini mengganti status WhatsApp-nya. Aku tahu karena empat puluh HP di ruangan itu berbunyi hampir bersamaan, dan empat puluh ibu-ibu membacanya bersamaan, dan empat puluh ibu-ibu menoleh ke arahku bersamaan.

Nabila menunjukkan layarnya padaku. Foto aku, yang diambil diam-diam dari samping, sedang serius menatap laptop di meja makan. Dengan keterangan:

Calon ponakan mantu idaman 😭😭😭 Beresin arisan Tante dalam 4 jam. Nabila, kalau kamu lepasin dia, Tante adopsi.

Aku menatap tulisan itu. Nabila menatap tulisan itu.

Lalu dia mematikan layar HP-nya dengan gerakan yang sedikit terlalu keras.


Di mobil, perjalanan pulang, dia diam.

AC masih mati. Jendela masih terbuka. Angin sore Jakarta masuk bersama bau knalpot dan gorengan dari pinggir jalan. Nabila menyetir dengan wajah cemberut, bibirnya mengerucut sedikit, dan dia tidak menyalakan radio.

“Kamu kenapa?” tanyaku setelah sepuluh menit.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu cemberut.”

“Aku nggak cemberut.”

“Bibir kamu maju dua senti.”

Dia langsung menarik bibirnya ke dalam. Lalu, setelah beberapa detik, bibirnya maju lagi dengan sendirinya.

“Pasal delapan,” katanya akhirnya.

“Pasal delapan?”

“Pihak Kedua dilarang lebih disayang keluarga Pihak Pertama daripada Pihak Pertama sendiri.” Dia mencengkeram setir. “Kamu melanggar. Parah. Mama nyatet makanan kesukaan kamu. Om Bram meluk kamu di tengah hujan. Oma bilang kamu lebih bagus dari Gerald. Tante Rini mau adopsi kamu. Kenzo ngasih nomor kamu ke Mama. Kenzo! Kenzo nggak pernah ngasih nomor siapa-siapa ke siapa-siapa!”

“Aku nggak minta mereka...”

“Aku tahu kamu nggak minta! Itu masalahnya! Kamu nggak minta, tapi mereka tetap sayang kamu! Aku udah dua puluh empat tahun di keluarga itu, dan Tante Rini nggak pernah pasang foto aku di status dengan tiga emoji nangis!”

Aku menatapnya. Dia menatap jalan dengan mata yang berkilat-kilat, setengah marah, setengah... sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat bibirnya bergetar sedikit.

Dia cemburu.

Dia cemburu pada keluarganya sendiri. Karena keluarganya menyayangiku.

Atau mungkin, pikirku, dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat, dia cemburu pada aku. Karena aku mendapatkan sesuatu yang dia rasa tidak pernah dia dapatkan. Karena dia, yang di kantor dianggap cuma anak bos, di keluarga pun merasa harus berjuang supaya dilihat.

“Nabila,” kataku.

“Apa?”

“Kamu tahu kenapa aku ke rumah Tante Rini hari ini?”

“Karena kamu baik. Karena kamu nggak bisa nolak orang. Karena...”

“Karena kamu.”

Dia berhenti bicara.

Lampu merah. Dia mengerem. Mobil berhenti. Angin berhenti masuk dari jendela, dan tiba-tiba mobil itu terasa sangat sunyi, meski di luar ada klakson dan suara motor.

“Aku ke golf karena kamu,” kataku. “Aku masak rendang karena kamu. Aku benerin radio Oma karena kamu. Aku nyari buku resep di Kwitang karena suara kamu berubah waktu cerita soal nenek kamu. Keluarga kamu sayang sama aku karena aku sayang sama mereka. Dan aku sayang sama mereka karena mereka keluarga kamu.”

Dia menoleh padaku. Pelan. Matanya lebar.

Aku sadar apa yang baru saja kukatakan. Aku sayang sama mereka karena mereka keluarga kamu. Kalimat itu tidak mengandung kata aku sayang kamu. Tapi aku tahu, dan aku tahu dia tahu, bahwa kalimat itu sudah terlalu dekat.

“Pasal sepuluh,” kataku cepat. “Gombal demi realisme.”

“Nggak ada keluarga aku di sini, Devan.”

“Ada tukang siomay.”

Dia menoleh ke luar jendela. Memang ada tukang siomay di pinggir jalan, sedang mengipasi dagangannya dan menatap mobil kami dengan penasaran.

Nabila menatapnya. Lalu kembali menatapku. Lalu, pelan-pelan, bibirnya yang tadi mengerucut mulai berkedut.

“Kamu bawa-bawa tukang siomay,” katanya.

“Dia saksi.”

“Kamu aneh.”

“Aku tahu.”

“Kamu aneh banget.”

“Aku tahu.”

Lampu berubah hijau. Mobil di belakang mengklakson. Nabila menginjak gas, dan waktu mobil mulai bergerak, dia tertawa. Tawa pendek yang meledak begitu saja, lalu tawa yang lebih panjang, sampai dia harus menepikan mobil sebentar di depan minimarket supaya tidak menabrak apa-apa.

Aku tertawa bersamanya. Aku tidak tahu kenapa kami tertawa. Mungkin karena tukang siomay. Mungkin karena kudeta arisan. Mungkin karena kami berdua sudah terlalu jauh dari pasal empat untuk kembali, dan satu-satunya cara untuk tidak panik adalah dengan tertawa.

Waktu tawanya akhirnya reda, dia menyandarkan kepala di setir dan menoleh ke arahku, dengan pipi yang masih merah dan mata yang basah di ujungnya.

“Kemeja kamu,” katanya. “Aku sita.”

“Itu kemeja aku.”

“Aku yang beli.”

“Kamu beliin buat aku.”

“Pasal sembilan. Biaya operasional. Nggak bilang biayanya nggak bisa ditarik lagi.” Dia menarik ujung kemeja itu dan melipat tangannya di depan dada, di atas kain putih yang kebesaran. “Ini sekarang barang bukti. Bukti kamu melanggar pasal delapan.”

“Oke,” kataku.

“Oke?”

“Kamu lebih cocok pakai kemeja itu daripada aku.”

Dia menatapku lama. Telinganya merah lagi. Tapi kali ini, aku tahu itu bukan karena dia berbohong.

Dia menyalakan mesin, keluar dari parkiran minimarket, dan mengantarku sampai stasiun MRT tanpa mengatakan apa-apa lagi. Tapi dia menyalakan radio. Dan di tengah jalan, pelan sekali, dia mulai bersenandung.

Lagu yang sama. Lagu yang sampai sekarang belum kukenal.

Aku memutuskan, di kursi penumpang mobil tanpa AC itu, bahwa suatu hari aku akan bertanya lagu apa itu.

Dan bahwa suatu hari aku akan jadi alasan dia menyanyikannya.