Chapter Thirty Five

Kami yang Terakhir Tahu

POV: Nabila

Aku melaminasi sesuatu lagi.

Bapak-bapak di tempat fotokopi di Kemang, yang masih memakai kaus partai yang sama dan masih menonton sinetron di HP, menatap kertas yang kusodorkan. Menatap judulnya. Menatapku. Menatap Devan, yang berdiri di belakangku.

“Perjanjian damai?” tanyanya.

“Iya, Pak.”

“Kemarin perjanjian kerja sama. Sekarang perjanjian damai.” Dia memasukkan kertas itu ke mesin laminasi dengan wajah orang yang sudah melihat terlalu banyak hal. “Minggu depan apa? Perjanjian nikah?”

Devan terbatuk di belakangku.

Aku tidak menoleh. Aku terlalu sibuk menatap mesin laminasi, yang berdengung dan mengeluarkan bau plastik hangat, dan berusaha tidak memikirkan wajahku yang pasti sudah merah sampai ke leher.


Sidang keluarga dimulai hari Minggu jam empat sore, di ruang sidang, dan semua orang datang.

Papa di kepala meja. Mama di sebelah kanannya. Tante Rini dan Om Bram di tengah. Oma di kursi roda, dengan radio Opa di pangkuan, yang untuk pertama kalinya sejak dibetulkan, tidak dinyalakan. Kenzo di ujung meja, dengan HP di tangan dan buku catatan di sebelah piringnya.

Tidak ada makanan di meja. Itu pertanda serius. Di keluarga Saheila, sidang tanpa makanan adalah sidang yang paling berat.

Devan dan aku berdiri di ujung meja yang berlawanan dengan Papa. Berdampingan. Dia memakai kemeja biru muda. Aku memakai dress biru muda. Kami tidak merencanakannya. Sungguh.

Tante Rini menatap baju kami. Lalu menatap langit-langit, seperti orang yang meminta kekuatan dari Yang Maha Kuasa.

Aku menarik napas. Mengeluarkan sesuatu dari tas. Meletakkannya di tengah meja.

Kertas yang dilaminasi. Berkilau. Tebal.

PERJANJIAN DAMAI.

Antara Pihak Pertama (Nabila & Devan, yang salah) dan Pihak Kedua (Keluarga Saheila, yang benar).

Om Bram mengambilnya. Membacanya. Keningnya berkerut semakin dalam di setiap baris.

“Pasal satu,” bacanya keras. “Pihak Pertama mengaku bersalah telah berbohong soal durasi pacaran selama tujuh minggu.“ Dia menurunkan kertas itu. “Tujuh minggu? Bukan setahun?”

“Tujuh minggu, Om,” kataku.

“Kalian baru kenal tujuh minggu?”

“Kami baru kenal tujuh minggu. Pacaran beneran tiga minggu.”

Om Bram menatapku. Lalu menatap Devan. Lalu kembali ke kertas.

“Pasal dua,” bacanya. “Pihak Pertama akan menceritakan semuanya dari awal, tanpa ada yang disembunyikan.“ Dia mengangkat wajah. “Ya udah. Cerita.”

Jadi kami cerita.


Semuanya. Dari awal.

Aku cerita soal pagi itu di Kafe Jeda. Soal Sasa dan daftar cara batalin perjodohan. Soal cowok di meja nomor tujuh yang tidak menoleh sama sekali. Soal aku yang berdiri, berjalan, duduk, dan minta dia jadi pacar bohonganku.

“Ke orang asing?” Tante Rini memotong. “Kamu minta orang asing jadi pacar kamu?”

“Iya, Tante.”

“Kalau dia penjahat?”

“Aku tanya dia penjahat atau bukan.”

“Terus dia jawab?”

“Kalau aku psikopat, aku nggak bakal jujur jawab pertanyaan itu.“

Tante Rini menatap Devan dengan horor. Devan menatap meja. Om Bram mendengus, dan aku bersumpah itu dengusan yang menahan tawa.

Devan cerita soal sepuluh detik. Bukan versi lengkapnya. Dia cuma bilang, saya diam sepuluh detik, terus bilang oke. Dia cerita soal kemeja Bimo yang kekecilan. Soal laporan tahunan Saheila Group yang dia baca di taksi, dan keputusan untuk tidak menyebut Lintas. Soal tisu PERJANJIAN SATU MALAM, yang dia keluarkan dari dompetnya dan letakkan di meja, di sebelah perjanjian damai.

Mama menatap tisu itu lama. Tulisan tanganku, bulat-bulat, miring ke kanan. Titik di akhir kalimat yang ditekan sampai hampir menembus tisu.

“Kamu simpan tisu ini?” tanya Mama pelan. Ke Devan.

“Iya, Tante.”

“Tujuh minggu?”

“Iya, Tante.”

“Di dompet?”

“Di saku kemeja, dulu. Sekarang di dompet. Biar nggak kecuci.”

Mama tidak menjawab. Tapi aku melihat tangannya mengepal di atas meja, dan jari-jarinya gemetar.

Kami cerita soal kontrak laminasi. Soal foto-foto palsu di Kota Tua dan GBK. Soal Pasal delapan: Pihak Kedua dilarang lebih disayang keluarga Pihak Pertama, yang membuat Tante Rini tertawa pertama kalinya sejak Kamis malam. Tertawa sebentar, lalu langsung berhenti, lalu pura-pura batuk.

Lalu kami cerita soal meja nomor tujuh. Hujan. Sepuluh detik versi aku. Pasal empat dicoret pakai spidol Mas Jaka.

“Itu kapan?” tanya Kenzo tiba-tiba, dari ujung meja.

“Tiga minggu lalu. Hari Selasa.”

Kenzo membuka buku catatannya. Menggulir halaman. Menunjuk sesuatu. “Hari Rabu pagi, Kak Devan nulis di grup selamat pagi buat masa depan saya. Itu sehari setelah?”

“...Iya.”

Kenzo menutup buku catatannya dengan wajah yang sangat puas. “Masuk akal.”


Waktu kami selesai cerita, ruang sidang sunyi.

Aku menatap keluargaku satu per satu. Menunggu. Siap dimarahi. Siap mendengar semua yang pantas kudengar.

Mama yang bicara pertama.

“Tiga minggu,” katanya pelan.

“Iya, Ma.”

“Kamu jatuh cinta tiga minggu lalu.”

“...Mungkin lebih awal, Ma. Tapi aku baru ngaku tiga minggu lalu.”

Mama menatapku. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti bernapas.

“Kenapa kamu nggak cerita ke Mama?”

Aku mengerjap.

“Kamu jatuh cinta,” kata Mama, dan suaranya mulai pecah. “Pertama kali seumur hidup kamu. Mama tahu itu pertama kali. Mama lihat wajah kamu tiap Minggu. Mama lihat kamu nyanyi-nyanyi nggak jelas. Mama lihat kamu pakai biru muda terus. Mama lihat kamu senyum ke HP.” Air mata jatuh di pipinya. “Dan Mama kira itu karena kalian udah setahun. Mama kira Mama udah ketinggalan setahun. Mama sedih, Nak, Mama pikir, kenapa anak Mama nggak cerita dari awal? Kenapa Mama baru tahu setelah setahun?”

“Ma...”

“Dan ternyata,” lanjut Mama, sambil mengusap pipinya dengan ujung selendang, “ternyata kamu baru jatuh cinta tiga minggu lalu. Di depan Mama. Di dapur Mama. Waktu dia meluk kamu dari belakang terus bilang udah manis banget.” Dia menatapku dengan mata basah. “Mama ada di situ, Nak. Mama lihat semuanya. Tapi Mama nggak tahu itu pertama kalinya. Mama pikir itu biasa. Mama pikir kalian udah setahun.”

Dia menarik napas.

“Mama marah bukan karena kamu bohong soal setahun,” katanya. “Mama marah karena kamu jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan Mama nggak tahu. Mama ibu kamu. Mama harusnya jadi orang pertama yang tahu.”

Aku tidak bisa bicara. Air mataku sudah jatuh sebelum Mama selesai.

“Mama yang terakhir tahu,” bisik Mama.


“TANTE JUGA!”

Tante Rini meledak. Berdiri dari kursinya, dengan tangan di dada, dengan wajah yang merah dan mata yang basah.

“Tante yang terakhir tahu! Tante bikin status TIGA KALI soal kalian! Tante cerita ke empat puluh ibu-ibu arisan! Tante pajang foto Kota Tua di ruang tamu! Dan empat puluh ibu-ibu itu tahu kalian pacaran sebelum Tante tahu kalian beneran pacaran!” Dia menunjuk Devan. “Kamu tahu gimana rasanya? Bu Harti bilang ke Tante minggu lalu, Jeng Rini, keponakan mantumu itu kelihatan makin sayang ya sama Nabila, dan Tante bilang ya iyalah, udah setahun, padahal ternyata BARU JADIAN!”

“Tante...”

“Tante yang terakhir tahu! Bu Harti yang duluan tahu!”

“Bu Harti nggak tahu, Tante,” kata Devan pelan. “Bu Harti cuma nebak.”

“TEBAKANNYA BENER!”

Om Bram menarik Tante Rini duduk kembali, pelan-pelan, dengan tangan di bahunya. Lalu dia menatapku. Lalu menatap Devan. Dan dia berdeham, sangat mirip Papa.

“Saya juga,” katanya.

Semua orang menoleh.

“Saya juga marah karena saya yang terakhir tahu.” Om Bram melipat tangannya. “Bukan soal pacaran. Soal kamu.” Dia menunjuk Devan. “Kamu bisa bikin aplikasi baca swing golf dalam satu malam. Kamu CEO perusahaan AI. Kamu bisa aja bilang dari awal. Terus saya bisa minta kamu bikinin aplikasi yang lebih bagus, bukan cuma prototipe.” Dia menghela napas. “Setahun saya kalah sama Hendra. Kalau kamu bilang dari awal, saya bisa menang dari bulan pertama.”

Hening.

Lalu Tante Rini mulai tertawa. Di sela isaknya. Tertawa dan menangis bersamaan, sambil memukul lengan Om Bram.

“Mas! Itu alasan Mas marah?!”

“Itu alasan yang sah!”

Kenzo, di ujung meja, menutup wajahnya dengan buku catatan.

Lalu Oma berdeham. Semua orang langsung diam.

“Oma nggak marah,” kata Oma.

Semua orang menoleh ke kursi roda di sudut.

“Oma tahu dari awal kalian baru kenal,” lanjut Oma dengan suara tuanya yang tajam. “Orang pacaran setahun nggak lirik-lirikan kayak dua anak kucing baru ketemu. Oma udah delapan puluh satu tahun. Oma udah lihat banyak orang pacaran.”

“Oma tahu?” bisikku.

“Oma tahu. Tapi Oma juga tahu anak itu sayang sama kamu. Dari cara dia jongkok di depan Oma, waktu Oma tanya soal radio.” Oma mengetuk tongkatnya ke lantai. “Orang yang jongkok supaya mata dia sejajar sama mata orang tua itu orang yang baik. Oma nggak perlu tahu mereka udah pacaran berapa lama.”

Dia menatap Papa.

“Hendra juga tahu dari awal,” kata Oma. “Dia lihat kalian di kafe pagi itu. Dia cerita ke Oma malamnya.”

Seluruh meja menoleh ke Papa.

Papa, di kepala meja, menatap Oma dengan wajah datar yang sedikit, sangat sedikit, berubah warna.

“Ibu,” katanya.

“Apa? Kamu nggak bilang itu rahasia.”

Mama menatap Papa dengan mata melebar. “Pa? Papa tahu?”

Papa berdeham.

“Papa tahu dari awal dan Papa nggak bilang ke Mama?”

Papa berdeham lagi.

“Hendra Saheila.“

Papa menatap langit-langit. Aku belum pernah melihat Papa menatap langit-langit. Itu gerakan Tante Rini. Itu gerakan Om Bram. Papa tidak pernah menatap langit-langit.

“Saya mau lihat,” kata Papa akhirnya, sangat pelan. “Saya mau lihat anak kita bahagia tanpa takut. Kalau saya bilang, dia bakal takut lagi.”

Mama menatapnya lama. Lalu, pelan-pelan, kemarahan di wajahnya mencair. Dia menggelengkan kepala. Mengusap pipinya. Dan tertawa, kecil dan basah.

“Kamu kayak waktu nabrak meja kue,” katanya.

Papa tidak menjawab. Tapi kumisnya bergetar.


Lalu semua mata beralih ke Kenzo.

Adikku berdiri. Membuka buku catatannya. Membalik ke halaman terakhir.

“Kasus baru,” katanya dengan suara resmi, seperti membaca putusan pengadilan. “Bukti nomor dua belas. Tanggal hari ini. Kak Nabila dan Kak Devan ngaku semuanya di depan keluarga, dengan perjanjian damai yang dilaminasi. Kak Devan nyimpen tisu kontrak pertama di dompet selama tujuh minggu. Papa ternyata tahu dari awal. Oma juga. Mama nangis. Tante Rini nangis. Om Bram marah soal golf.”

Dia menutup buku catatannya.

“Kesimpulan,” katanya. “Mereka beneran.”

Dia menatap Devan.

“Kasus ditutup,” katanya. “Beneran ditutup. Nggak akan dibuka lagi.”

Lalu dia duduk kembali, melipat tangan di dada, dan menatap meja dengan wajah yang sangat berusaha untuk tidak tersenyum. Tapi telinganya merah. Telinga yang sama persis dengan telingaku.


Mama berdiri.

Dia berjalan memutari meja. Melewati Tante Rini, melewati Om Bram, melewati kursi roda Oma. Berhenti di depan Devan.

Devan menegakkan punggung. Aku merasakan tangannya mencari tanganku di sisi badan kami, dan menggenggamnya.

Mama menatapnya lama. Dari atas ke bawah. Seperti menatapnya untuk pertama kali.

“Kamu bohong ke Tante,” katanya.

“Iya, Tante.”

“Tujuh minggu.”

“Iya, Tante.”

“Kamu dibayar pakai rendang Tante.”

“Iya, Tante.”

“Kamu makan rendang Tante tujuh minggu dan ternyata itu bayaran.”

“Rendang Tante enak banget, Tante. Saya nggak bisa nolak.”

Mama menatapnya. Bibirnya bergetar. Lalu dia mengangkat tangannya, dan aku berpikir, untuk sepersekian detik, bahwa Mama akan menampar Devan.

Tapi tangan itu mendarat di pipi Devan. Pelan. Menepuknya. Seperti menepuk pipi anak kecil yang baru pulang dari sekolah dengan lutut berdarah.

“Nak Devan,” kata Mama.

Devan membeku.

Aku merasakan tangannya di tanganku berhenti bergerak. Aku merasakan napasnya berhenti.

Nak Devan.

Setelah empat hari. Setelah rantang dengan tulisan masih marah. Setelah Kamis malam di mana Mama tidak memanggilnya apa-apa.

“Lain kali,” kata Mama, dengan air mata yang jatuh lagi di pipinya, “kalau kamu jatuh cinta sama anak Tante, bilang ke Tante duluan. Sebelum Bu Harti. Sebelum Kenzo. Sebelum semua orang.”

Devan tidak bisa bicara. Aku melihat jakunnya naik-turun. Aku melihat matanya, di balik kacamata, berkaca-kaca.

“Iya, Tante,” bisiknya. “Saya jatuh cinta sama anak Tante.”

Mama tersenyum. Senyum yang basah. Lalu dia memeluknya. Erat. Lama. Lebih lama dari pelukan di malam pertama, lebih lama dari pelukan di ulang tahun Mama.

Dan di sekitar kami, keluarga Saheila meledak.

Tante Rini menangis tersedu-sedu ke bahu Om Bram. Om Bram mengusap matanya dengan ujung lengan kemeja, sambil bilang ini debu, ini debu. Oma mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke lantai dan menyalakan radio Opa. Lagu keroncong mengalun pelan. Kenzo menutup wajahnya dengan buku catatan, tapi bahunya berguncang.

Dan Papa, di kepala meja, menatap semua itu. Lalu menatapku. Dan mengangguk. Satu kali.


Setengah jam kemudian, setelah semua air mata diseka dan Bi Inah membawa rendang, kerupuk, dan es teh manis ke meja, dan sidang keluarga resmi berubah jadi makan malam keluarga, Tante Rini mengambil HP-nya.

Aku melihatnya membuka grup WhatsApp keluarga. Mengetik. Menekan kirim.

HP semua orang di meja bergetar bersamaan.

Tante Rini mengubah nama grup menjadi “Keluarga Saheila (+Devan) 💙“

Tanda tanyanya hilang.

Lalu satu notifikasi lagi.

Tante Rini menambahkan Om Bram.

Om Bram menatap HP-nya. “Saya nggak keluar dari grup.”

“Tadi pagi Mas keluar.”

“Kapan?”

“Waktu Nabila kirim foto perjanjian damai. Mas langsung keluar.”

Om Bram menatap Tante Rini. Lalu menatap HP-nya. Lalu menghela napas. “Itu reflek.”

Semua orang tertawa. Bahkan Papa. Tertawa pelan, di balik cangkir teh.

Lalu Kenzo, dengan mulut penuh kerupuk, berkata:

“Satu malam aja, katanya.”

Meja hening sebentar.

Lalu Tante Rini tertawa. Lalu Om Bram. Lalu Mama. Lalu Oma, dengan tawa tuanya yang serak. Lalu seluruh meja makan sepuluh meter, di ruang sidang keluarga Saheila, tertawa bersama. Keras. Lama. Sampai Bi Inah keluar dari dapur untuk memastikan tidak ada yang tersedak.

Satu malam aja, katanya.

Aku tertawa sampai perutku sakit. Di sebelahku, Devan tertawa sampai kacamatanya melorot.

Aku mengulurkan tangan dan membetulkannya.


Di tengah makan, di tengah Tante Rini yang sudah kembali bercerita soal katering resepsi yang kurang garam dan Om Bram yang meminta Devan menjadwalkan golf hari Sabtu depan, aku mencondongkan badan ke arah Devan.

“Dev,” bisikku.

“Hm?”

“Kamu tahu nggak kenapa aku milih kamu? Di kafe itu?”

Dia menoleh padaku. “Kenapa?”

“Karena kamu satu-satunya yang nggak ngeliatin aku.” Aku menatap piringku. “Semua orang di kafe ngeliatin. Kamu nggak. Aku pikir kamu nggak tertarik. Aku pikir kamu aman.”

Devan diam. Lalu, pelan, dia mencondongkan badan lebih dekat, sampai bibirnya hampir menyentuh telingaku.

“Aku ngeliatin,” bisiknya. “Aku cuma jago nyembunyiin.”

Aku menoleh padanya. Dia menatapku dengan senyum yang sampai ke matanya.

Dan aku tidak peduli ada seluruh keluargaku di meja itu. Aku tidak peduli Tante Rini sedang melirik. Aku tidak peduli Kenzo sedang memegang HP.

“Aku cinta kamu,” kataku. Keras. Cukup keras untuk didengar seluruh meja.

Meja hening.

Devan menatapku. Wajahnya merah sampai ke leher.

Aku menyendok rendang dan menaruhnya di piringnya. Seperti yang dilakukan Mama untuk Papa setiap makan malam. Lalu aku menyodorkan kerupuk juga, dan sambal, dan es teh.

“Makan,” kataku.

“...Makasih,” katanya pelan.

Aku menatapnya. Aku tidak tahu dari mana datangnya. Mungkin dari sekrup yang hilang di otakku sejak malam di Kafe Jeda, yang tidak pernah kembali lagi. Mungkin dari rendang. Mungkin dari tawa keluarga yang masih menggema di ruang sidang.

“Sama-sama,” kataku. “Suamiku.”

Devan membeku.

Seluruh meja membeku.

Devan menatapku. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Wajahnya yang sudah merah sampai ke leher berubah jadi merah sampai ke ubun-ubun. Kacamatanya melorot lagi.

Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia berdiri. Mendorong kursinya ke belakang. Dan berjalan ke dapur.

Kami semua menatap pintu dapur yang berayun.

Dari dalam dapur, terdengar bunyi keran dinyalakan. Lama. Lalu bunyi sesuatu, seperti seseorang yang menyandarkan dahinya di lemari es.

Kenzo, dengan mulut penuh kerupuk, memecah keheningan.

“Kak Devan kalah,” katanya.

Tante Rini menjerit ke bahu Om Bram. Om Bram keluar dari grup WhatsApp untuk kelima kalinya. Mama menutup mulutnya dengan dua tangan. Oma mengetuk tongkatnya ke lantai, berulang-ulang, sambil tertawa.

Dan Papa, di kepala meja, meletakkan cangkir tehnya. Berdeham. Satu kali.

“Ehem,” kata Papa. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, hanya cukup untuk didengar olehku di ujung meja:

“Bagus.”