Chapter Twenty Four
Cemburu Itu Lucu
POV: Devan
Ruang rapat di lantai tiga puluh dua itu dingin, dan pria yang duduk di ujung meja lebih dingin lagi.
Namanya Pak Rudolf Hartanto. Umurnya enam puluhan. Rambutnya putih, disisir ke belakang dengan rapi. Dia partner senior di perusahaan modal ventura tempat Kirana bekerja, dan menurut Kirana, dia sudah menolak empat puluh tiga startup tahun ini. Empat puluh tiga. Kirana menyebut angka itu padaku di lift, dengan senyum yang seharusnya menenangkan tapi sama sekali tidak.
“Jadi,” kata Pak Rudolf, tanpa melihat laptopku. “Logistik.”
“Iya, Pak.”
“Pasar logistik di Indonesia sudah penuh. Ada tiga pemain besar yang sudah menghabiskan triliunan. Kenapa saya harus percaya perusahaan kecil di ruko Tebet bisa bersaing?”
Aku sudah menyiapkan presentasi empat puluh halaman. Grafik, proyeksi, perbandingan pasar. Kirana sudah membacanya dua kali di pertemuan hari Selasa dan Kamis, dan bilang itu bagus.
Aku menutup laptop.
Pak Rudolf mengangkat alis. Kirana, di sebelahnya, menegakkan punggung.
“Kami nggak bersaing sama mereka, Pak,” kataku.
“Oh?”
“Tiga pemain besar itu fokus ke kota-kota besar. Jakarta, Surabaya, Medan. Armada besar, gudang besar, pelanggan besar. Mereka bagus di situ.” Aku mengambil spidol dari meja dan berdiri ke papan tulis. “Tapi di kota-kota kecil, di Tasikmalaya, Purwokerto, Madiun, pengiriman masih dikerjakan ribuan kurir independen. Bapak-bapak dengan motor atau mobil pikap. Distributor kecil yang punya lima atau sepuluh truk. Bengkel yang antar onderdil sendiri.”
Aku menggambar peta kasar Pulau Jawa di papan tulis. Lalu titik-titik kecil di kota-kota yang kusebut.
“Mereka nggak punya sistem. Mereka pakai insting, pakai buku tulis, pakai WhatsApp. Mereka sering nyasar. Sering bolak-balik karena salah urutan. Sering bensinnya lebih mahal dari untungnya.” Aku berhenti sebentar. Aku memikirkan Ayah, dengan motornya dan kardus berisi onderdil di jok belakang. “Kami bikin sistem buat mereka. Murah. Pakai HP biasa. Nggak perlu pelatihan. Dan kami udah uji coba di tiga ratus kurir independen di dua belas kota selama enam bulan.”
“Hasilnya?”
“Rata-rata jarak tempuh turun dua puluh tiga persen. Pendapatan bersih kurir naik delapan belas persen.”
Pak Rudolf diam. Menatap peta di papan tulis. Lalu menatapku.
“Enam bulan itu terlalu pendek. Datanya bisa kebetulan.”
“Bisa, Pak.” Aku membuka laptop lagi dan memutarnya ke arahnya. “Ini data mentahnya. Semua perjalanan, semua kurir, per hari. Bapak boleh kasih ke tim analis Bapak. Kalau ada yang kebetulan, mereka pasti nemu.”
Pak Rudolf menatap layar. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat Kirana membeku di kursinya: dia menarik laptop itu mendekat dan mulai menggulir sendiri.
Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada yang bicara.
Lalu dia bertanya soal satu kota. Purwokerto. Kenapa angkanya lebih rendah di bulan ketiga.
“Musim hujan, Pak. Dua jembatan di jalur utama ditutup. Sistem kami belum tahu soal itu, jadi rutenya masih lewat jembatan itu selama empat hari, sampai kurirnya lapor.” Aku menunjuk grafik. “Sejak itu kami tambah fitur laporan jalan dari kurir. Satu kurir lapor, semua kurir di kota itu langsung dapat rute baru. Bulan keempat, angkanya naik lagi.”
Pak Rudolf menatapku lama. Lalu dia menatap Kirana.
“Kenapa baru sekarang saya lihat ini?”
“Saya udah bilang ke Bapak dua minggu lalu, Pak,” kata Kirana dengan senyum sangat sopan.
“Kamu bilang startup logistik yang menarik. Kamu nggak bilang pendirinya bisa jawab pertanyaan saya tanpa buka presentasi.”
Dia berdiri. Menjabat tanganku.
“Kirim term sheet ke dia hari ini,” katanya ke Kirana. Lalu padaku: “Selamat, Pak Devan. Produk Anda bagus.”
“Tim saya yang bikin produknya bagus, Pak,” kataku. “Saya cuma yang bawa ke sini.”
Pak Rudolf menatapku sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Lalu dia keluar dari ruang rapat tanpa berkata apa-apa lagi.
Kirana menunggu sampai pintu tertutup. Lalu dia menjatuhkan kepalanya ke meja dengan bunyi duk yang keras.
“Empat puluh tiga,” katanya ke meja. “Empat puluh tiga startup dia tolak tahun ini. Dan kamu bikin dia nyentuh laptop.”
“Datanya yang bikin.”
“Berhenti ngerendah. Itu nyebelin.” Dia mengangkat kepala dan menatapku dengan senyum lebar. “Oke. Bisnis beres. Sekarang yang penting.”
“Apa?”
“Pacar kamu. Yang sembunyi di balik monstera. Dua kali.”
Aku memijat pangkal hidungku.
“Dia nggak tahu kamu CEO?”
Kirana bertanya itu di kedai kopi di lobi gedung, setelah rapat. Dia bertanya dengan nada yang sama dengan nada Pak Rudolf waktu bilang pasar logistik sudah penuh.
“Belum.”
“Dev.”
“Aku mau bilang setelah launching. Dua minggu lagi. Biar ada yang bisa aku tunjukin, bukan cuma omongan.”
“Kamu bilang ke aku, dan ke Pak Rudolf, dan ke tiga ratus kurir di dua belas kota. Tapi kamu nggak bilang ke pacar kamu.”
“Ceritanya panjang.”
“Aku punya waktu.”
Jadi aku cerita. Singkat. Soal kafe, sepuluh detik, perjodohan, keluarga Saheila. Soal keputusan di hari pertama untuk tidak menyebut Lintas, supaya malam itu tetap tentang dia. Soal bagaimana nanti terus bergeser jadi nanti yang lain.
Kirana mendengarkan tanpa memotong. Waktu aku selesai, dia menatapku lama.
“Saheila,” katanya pelan. “Saheila Group. Yang armada truknya empat ratus lebih.”
“Iya.”
“Yang ada di daftar target nomor tiga di presentasi kamu.”
“...Iya.”
Kirana meletakkan cangkir kopinya. “Dev. Itu bukan cerita cinta. Itu bom waktu.”
Aku tidak menjawab. Karena aku tahu dia benar. Aku sudah tahu sejak malam kami mencoret pasal empat dan aku menelan kalimat soal Lintas karena dia menguap.
“Aku bakal bilang,” kataku. “Setelah launching.”
“Oke.” Kirana mengangkat bahu. “Hidup kamu. Tapi aku mau ketemu dia. Bener-bener ketemu. Nggak di balik monstera.”
“Kenapa?”
Senyumnya berubah jadi sesuatu yang sangat jahil.
“Karena aku mau lihat dia cemburu dari dekat,” katanya. “Dari balik monstera aja udah lucu. Dari dekat pasti lebih lucu.”
Nabila tidak marah. Nabila, secara teknis, sangat baik-baik saja.
Itu yang dia bilang di setiap pesan sejak hari Kamis.
Aku baik-baik aja.
Nggak apa-apa.
Oke.
Ya.
Semua pesannya pendek. Semua pesannya pakai titik di akhir. Tidak ada emoji. Tidak ada sayang. Tidak ada honey. Tidak ada kangen.
Aku menunjukkan HP-ku ke Bimo hari Jumat sore.
“Dia marah,” kata Bimo setelah membaca selama dua detik.
“Dia bilang dia baik-baik aja.”
“Dev. Cewek yang bilang aku baik-baik aja pakai titik di akhir itu artinya aku sedang mempertimbangkan cara menguburmu hidup-hidup.”
“Kamu tahu dari mana? Kamu nggak pernah punya pacar.”
“Aku punya tiga kakak perempuan.”
Itu benar. Aku lupa.
Aku menatap pesan-pesan Nabila. Oke. Ya. Nggak apa-apa. Dan aku seharusnya merasa khawatir. Aku seharusnya merasa bersalah. Tapi yang kurasakan, jauh di dalam dada, adalah sesuatu yang hangat dan sangat tidak pantas.
Dia cemburu. Nabila Saheila, yang membuat satu kafe berhenti bernapas setiap kali dia masuk, yang membuat satpam lupa kartu parkir dan bapak-bapak salah mengayun stik golf, cemburu. Karena aku.
Aku tahu itu tidak dewasa. Tapi aku tidak bisa berhenti tersenyum.
“Kamu senyum,” kata Bimo dengan nada horor. “Pacar kamu marah, dan kamu senyum.”
“Dia cemburu, Bim.”
“Terus?”
“Dia cemburu lucu banget.”
Bimo menatapku seperti menatap orang yang baru kehilangan akal sehatnya. “Kamu sakit, Dev.”
“Mungkin.”
Hari Sabtu, jam tujuh malam, aku menjemputnya.
Dia masuk ke mobil sewaan Bimo (mobilku yang sebenarnya tidak ada, dan motor tidak cocok untuk malam ini) dengan dress hitam sederhana, rambut diikat rendah, dan wajah yang sangat tenang. Terlalu tenang.
“Hai,” kataku.
“Hai.”
“Kamu cantik.”
“Makasih.”
Titik. Aku bisa mendengar titiknya.
Kami menyetir ke Kafe Jeda tanpa banyak bicara. Dia menatap jendela. Aku menatap jalan dan mencoba tidak tersenyum. Aku gagal di menit kelima. Dia melihatnya lewat pantulan kaca.
“Kenapa senyum?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu senyum.”
“Aku senang ketemu kamu.”
Dia mendengus pelan dan kembali menatap jendela. Tapi aku melihat telinganya memerah sedikit.
Di Kafe Jeda, Mas Jaka menyambut kami di pintu dengan wajah yang terlalu gembira, lalu melirik ke arah meja nomor tujuh dengan ekspresi yang tiba-tiba sangat gugup.
Nabila mengikuti arah pandangannya.
Kirana duduk di meja nomor tujuh. Dengan blus merah, rambut sebahu yang rapi, dan segelas teh hijau di depannya. Dia melambai ke arah kami dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat.
Nabila membeku di ambang pintu.
Pelan-pelan, dia menoleh padaku. Matanya menyipit. Bibirnya mengerucut.
“Kamu,” katanya dengan suara yang sangat pelan dan sangat berbahaya, “bawa aku ke meja kita. Buat ketemu dia?”
“Dia yang minta.”
“Meja tujuh, Devan.”
“Aku bilang ke dia jangan duduk di meja tujuh. Dia duduk di meja tujuh.”
Di meja nomor tujuh, Kirana melambai lagi. Lebih semangat.
Dua puluh menit pertama adalah pertunjukan yang tidak akan pernah kulupakan.
Kirana bicara soal pekerjaan. Soal “kerja sama” kami, tanpa pernah menyebutkan apa kerja samanya, persis seperti yang kuminta. Dia bicara dengan cara yang membuat setiap kalimat terdengar ambigu. Devan itu orangnya berdedikasi banget. Kemarin kami ngobrol sampai lupa waktu. Aku nggak pernah ketemu cowok yang bisa jelasin hal rumit kayak dia.
Nabila tersenyum. Senyum sopan. Senyum yang sama dengan senyumnya ke Bu Harti di rumah Tante Rini. Senyum yang sangat manis dan sangat dingin.
Di bawah meja, kakinya menginjak kakiku. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Aku tidak bereaksi. Aku menyesap kopi hitamku dan menikmati setiap injakan.
Lalu Kirana mencondongkan badan ke arah Nabila, dengan wajah serius, dan berkata:
“Nabila, aku mau jujur sama kamu.”
Nabila menegakkan punggung. Tangannya mencengkeram cangkir latte-nya. “Ya?”
“Soal Devan.”
“...Ya?”
Kirana menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan dan sangat dramatis, dia mengangkat tangan kirinya dari pangkuannya dan meletakkannya di atas meja.
Di jari manisnya, ada cincin. Berlian kecil. Berkilau di bawah lampu kuning kafe.
“Aku udah tunangan,” kata Kirana. “Dua tahun. Namanya Aryo. Pilot. Minggu ini lagi terbang ke Dubai.” Dia tersenyum, dan kali ini senyumnya tidak jahil. Hangat. “Cinta pertama aku dari SMA. Nikahnya bulan Desember. Kamu sama Devan aku undang.”
Nabila menatap cincin itu.
Aku melihat wajahnya berubah. Dari tegang ke bingung. Dari bingung ke pengertian. Dari pengertian ke horor yang pelan-pelan menjalar dari leher sampai ke dahi, merah, semakin merah, sampai telinganya kelihatan seperti mau terbakar.
“Kamu...” katanya pelan. “Dari tadi...”
“Godain kamu,” kata Kirana dengan riang. “Maaf. Kamu cemburu lucu banget. Dari balik monstera aja udah lucu. Aku nggak tahan.”
Nabila menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku mau pulang,” katanya dari balik tangan.
“Jangan,” kata Kirana, tertawa. “Aku yang pulang. Aryo nelepon jam delapan dari Dubai.” Dia berdiri, mengambil tasnya, lalu membungkuk sedikit ke arah Nabila dan menurunkan suaranya. “Nabila. Aku kerja sama Devan dua minggu. Dan selama dua minggu itu, tiap kali ada jeda di rapat, dia ngecek HP. Tiap kali ada pesan masuk dari kamu, dia senyum kayak orang bego. Kemarin dia berhenti di tengah presentasi ke bos aku yang paling galak, cuma karena kamu kirim foto kucing.”
Nabila menurunkan tangannya. Menatap Kirana. Lalu menatapku.
“Kucing oren?” tanyanya pelan.
“Kucing oren yang tidur di atas mobil kamu,” kataku.
Kirana menepuk bahu Nabila. Lalu bahuku. Lalu dia berjalan ke pintu, melambai ke Mas Jaka, dan keluar dari Kafe Jeda sambil menelepon seseorang dengan suara yang tiba-tiba sangat lembut.
Di mobil, perjalanan pulang, Nabila tidak bicara selama sepuluh menit.
Aku melirik ke samping. Dia duduk dengan tangan terlipat, menatap lurus ke depan, dengan wajah yang masih merah.
“Kamu tahu dari awal dia udah tunangan,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Kamu biarin aku cemburu tiga hari.”
“Iya.”
“Kenapa?“
Aku berhenti di lampu merah. Menoleh padanya.
“Karena kamu cemburu lucu banget,” kataku. “Aku jadi pengen bikin kamu cemburu tiap hari.”
Dia menatapku dengan mata menyipit. “Coba aja.”
Aku menatapnya. Dagunya terangkat. Matanya berkilat-kilat, menantang. Pipinya masih merah. Bibirnya mengerucut dengan cara yang membuatku lupa bahwa lampu sudah hijau.
“Nggak jadi, Sayang,” kataku. “Takut.”
Dia mendengus. Tapi sudut bibirnya bergetar.
Mobil di belakang mengklakson. Aku menginjak gas.
“Dia cantik,” kata Nabila setelah beberapa saat, dengan suara lebih pelan.
“Siapa?”
“Kirana.”
“Oh.” Aku berpikir. “Aku nggak lihat.”
“Kamu duduk di depannya dua jam.”
“Mataku minus,” kataku. “Cuma bisa fokus satu titik.”
Dia menoleh padaku. Pelan.
“Satu titik?”
Aku tidak menjawab. Aku cuma menatap jalan, dan membiarkan senyumku muncul pelan-pelan.
Dia terus menatapku. Aku bisa merasakan tatapannya di sisi wajahku. Lalu, sangat pelan, dia melepaskan tangannya yang terlipat, dan meletakkan satu tangan di atas tanganku yang memegang tuas persneling.
“Kamu nyebelin,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kamu nyebelin banget.”
“Aku tahu, Istriku Cantik.”
Tangannya menegang di atas tanganku. “Aku belum jadi istri kamu!”
“Aku lagi latihan.” Aku melirik padanya. “Kamu dulu yang ngajarin aku latihan, kan? Latihan pegangan tangan. Latihan betulin kacamata. Latihan cium kening.”
“Itu kamu yang bilang latihan cium kening!”
“Oh iya.” Aku tersenyum. “Berarti sekarang giliran aku ngajarin kamu. Latihan jadi istri.”
Dia menarik tangannya dan memukul lenganku. Pelan. Tapi dia tertawa waktu melakukannya, dan tawanya memenuhi mobil sewaan Bimo yang wanginya pengharum stroberi.
Aku mengantarnya sampai depan pagar. Dia tidak langsung turun.
Dia duduk di kursi penumpang, menatap tangannya di pangkuan. Lampu teras rumahnya menyala di balik pagar. Satpam di pos sedang menonton TV kecilnya lagi.
“Dev,” katanya pelan.
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu.”
Jantungku melambat. Aku tahu pertanyaan apa itu, sebelum dia menanyakannya. Aku sudah tahu sejak Kirana bilang bom waktu.
“Kamu sebenarnya kerja apa?”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik, dengan wajah yang serius sekarang. Tidak ada lagi merah, tidak ada lagi cemburu. Cuma pertanyaan. Pertanyaan yang sudah seharusnya dia dapatkan jawabannya enam minggu lalu.
Aku menarik napas.
Sekarang, pikirku. Bukan setelah launching. Sekarang. Bilang.
“Aku...” kataku. “Aku sebenarnya...”
Dia menatap wajahku. Dan aku tidak tahu apa yang dia lihat di sana. Mungkin ketakutan. Mungkin rasa bersalah. Mungkin berminggu-minggu nanti yang menumpuk jadi satu di wajahku.
Karena sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, dia mencondongkan badan dan menciumku.
Singkat. Lembut. Di bibir.
Lalu dia menarik diri, menatapku dari jarak yang sangat dekat, dan tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang sabar.
“Nanti aja,” katanya. “Kalau kamu udah siap.”
“Nabila...”
“Muka kamu kayak mau pingsan.” Dia menyentuh pipiku dengan ujung jarinya. “Aku nggak mau kamu cerita sambil kayak gitu. Aku mau kamu cerita karena kamu mau, bukan karena aku nanya.”
“Aku mau.”
“Kamu mau, tapi kamu belum siap. Beda.” Dia membuka pintu mobil. “Aku percaya kamu, Dev. Aku tunggu.”
Dia keluar. Menutup pintu. Berjalan ke pagar.
Di pintu samping, dia menoleh.
“Selamat malam, Suami Latihan,” katanya dengan senyum jahil.
Lalu dia masuk.
Aku duduk di mobil sewaan Bimo yang wangi stroberi, di depan rumah keluarga Saheila, dan menatap pintu samping pagar yang tertutup.
Aku percaya kamu. Aku tunggu.
Itu kalimat paling manis yang pernah dia katakan padaku.
Dan juga yang paling berat.
Karena dia percaya padaku. Dan aku sedang menyimpan sesuatu darinya. Sesuatu yang, kata Kirana, adalah bom waktu. Dan setiap hari aku menunda, jarum jamnya berdetak lebih keras.
Aku menyalakan mesin. Menyetir pulang ke Cawang, di jalanan Jakarta yang lengang jam sebelas malam.
Setelah launching, kataku pada diri sendiri. Dua minggu. Aku bakal bilang semuanya.
Aku tidak tahu, malam itu, bahwa aku tidak akan punya waktu dua minggu.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu reading
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi