Chapter Two

Briefing Kilat

POV: Nabila

Tiga jam kemudian, meja nomor tujuh sudah berubah jadi ruang rapat darurat.

Ada empat tisu yang penuh coretan, dua cangkir kopi kosong, satu piring croissant yang tinggal remah, dan satu cowok berkacamata yang sedang menatap tisu nomor tiga dengan kening berkerut, seperti sedang mencari kesalahan dalam kode program.

“Oke,” kata Devan. “Ulang dari awal. Kita ketemu di mana?”

“Di acara seminar,” jawabku. “Seminar pemasaran digital di Senayan, setahun lalu. Aku jadi pembicara, kamu jadi peserta.”

“Kenapa aku datang ke seminar pemasaran? Aku kerja di IT.”

“Karena...” Aku berpikir. “Karena kamu mau belajar hal baru.”

“Terlalu umum. Om kamu pasti tanya, ‘Belajar apa?’”

“Om Bram nggak akan tanya sedetail itu.”

“Tadi kamu bilang Om Bram benci teknologi dan suka menguji orang.”

Aku menggigit sedotan es teh yang dipesankan Mas Jaka setengah jam lalu. Dia benar. Aku yang bilang begitu, sekitar satu jam yang lalu, waktu Devan memintaku memetakan seluruh keluarga Saheila dan dia menggambarnya di tisu nomor satu, lengkap dengan panah-panah dan catatan kecil di pinggirnya.

Aku melirik tisu itu. Di tengahnya ada kotak bertuliskan PAPA, dengan catatan: irit bicara, pengamat, jangan bohong soal angka. Di sebelahnya MAMA, dengan catatan: hangat, suka masak, pintu masuk utama. Di bawahnya KENZO (17), dengan catatan: curiga, suka podcast kriminal, bahaya. Lalu TANTE RINI: gosip, sumber informasi keluarga, pengaruh besar. Dan OM BRAM: skeptis teknologi, golf, harus dimenangkan lewat logika.

Aku menatap tisu itu dan merasa sedikit merinding. Dalam satu jam, cowok ini sudah memahami keluargaku lebih rapi daripada aku sendiri yang sudah dua puluh empat tahun tinggal bersama mereka.

“Kamu biasa kayak gini?” tanyaku.

“Kayak gini gimana?”

“Nyusun strategi. Bikin peta. Nanya pertanyaan yang orang lain nggak kepikiran.”

Devan mengangkat bahu. “Kerjaan aku kebanyakan nyari celah sebelum orang lain nemuin celahnya. Kalau ada yang bisa rusak, mending ketahuan sekarang daripada nanti.”

“Kamu kerja di IT bagian apa, sih?”

“Bagian yang itu.”

“Yang itu apa?”

“Macem-macem.”

Aku menyipitkan mata. Ini ketiga kalinya dia menjawab dengan macem-macem, dan setiap kali, jawabannya terdengar semakin mencurigakan.

“Tante Rini pasti nanya. Dia nanya semua orang. Dia pernah nanya tukang AC kami gajinya berapa.”

“Kalau Tante Rini nanya, aku bilang aku kerja di IT.”

“Terus kalau dia nanya lebih detail?”

“Aku bilang ‘macem-macem’, terus aku puji tasnya.”

“Kok tahu Tante Rini suka dipuji soal tas?”

Dia mengetuk tisu nomor satu, tepat di kolom TANTE RINI. Di bawah tulisan gosip, ada catatan kecil yang tidak kuperhatikan tadi: kamu bilang dia pernah nangis karena tas limited edition. Puji tasnya.

“Kamu nyatet itu?”

“Kamu yang cerita.”

“Aku cerita sambil lalu.”

“Aku dengerin sambil serius.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku menyeruput es tehku keras-keras sampai sedotannya berbunyi.

Mas Jaka muncul di samping meja untuk ketiga kalinya dalam satu jam, membawa nampan. “Refill, Mbak? Mas?”

“Belum habis, Mas,” kataku.

“Oh. Oke. Saya cuma... ngecek.” Matanya melirik ke tisu-tisu di meja, lalu ke Devan, lalu ke aku. “Kalian... rapat kerja?”

“Iya,” jawabku.

“Nggak,” jawab Devan di saat yang sama.

Mas Jaka menatap kami bergantian. Lalu dia pelan-pelan mundur seperti orang yang baru sadar masuk ke kandang singa. “Oke. Saya bikinin latte lagi. Gratis. Buat... buat semangat.”

Latte itu datang lima menit kemudian, satu untuk aku dan satu untuk Devan. Di cangkir aku, busanya membentuk sesuatu yang panjang dan runcing di satu ujung.

“Hati,” kata Mas Jaka penuh percaya diri.

“Daun,” kata Devan dan aku bersamaan.

Mas Jaka menatap kami, lalu menatap cangkirnya, lalu berbalik dan pergi tanpa sepatah kata pun. Punggungnya kelihatan kecewa.

Aku menahan tawa. Devan juga. Kami saling pandang dan, tanpa aba-aba, tertawa bersamaan. Lalu kami berhenti di saat yang sama, dan tiba-tiba suasana jadi aneh, dan aku buru-buru menunduk ke tisu nomor tiga.

“Oke,” kataku. “Lanjut. Siapa yang nembak?”

“Kamu mau siapa?”

“Kamu yang nembak.”

“Kenapa aku?”

“Karena Papa bakal lebih percaya kalau cowoknya yang ngejar. Papa agak kuno soal itu.”

Devan mengangguk, lalu menulis sesuatu. “Aku nembak kamu di mana?”

“Terserah kamu.”

“Di sini.”

Aku mengangkat wajah. “Di sini?”

“Di kafe ini. Di meja ini.” Dia mengetuk permukaan meja dengan ujung pulpennya. “Kamu sering ke sini, kan? Barista kamu hafal pesanan kamu. Berarti ini tempat kamu. Kalau aku serius sama kamu, aku pasti nembak di tempat yang kamu suka.”

Ada sesuatu di dadaku yang tersandung. Seperti anak tangga yang tidak kelihatan.

“Kok kamu tahu aku sering ke sini?”

“Tadi waktu kamu masuk, barista kamu nyapa pakai nama. Terus dia bikinin minuman tanpa kamu pesan. Terus kamu langsung jalan ke meja dekat rak buku tanpa lihat-lihat dulu, berarti kamu udah tahu mau duduk di mana.”

Aku menatapnya. “Kamu lihat semua itu? Tadi kamu nggak nengok sama sekali.”

Devan berhenti menulis. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya. Lalu dia mendorong kacamatanya ke atas dan berkata, sangat datar, “Aku punya penglihatan samping yang bagus.”

“Kamu pakai kacamata.”

“Kacamata aku punya penglihatan samping yang bagus.”

Itu jawaban paling tidak masuk akal yang pernah kudengar, tapi dia mengucapkannya dengan wajah begitu serius sampai aku tidak bisa membantah.

Kami lanjut. Devan menanyakan hal-hal yang tidak pernah terpikir olehku. Kenapa keluargaku belum pernah bertemu dengannya? Karena kamu mau memastikan hubungan kita serius dulu sebelum dikenalkan, jawabnya sendiri, lalu dia menulisnya. Kenapa aku tidak pernah memasang fotonya di media sosial? Karena aku orangnya tertutup, dan kamu menghargai itu. Kenapa aku baru membawanya sekarang, tepat di malam perjodohan?

Aku terdiam di pertanyaan terakhir itu.

“Itu yang paling susah dijelasin,” kataku.

“Nggak juga.” Devan memutar pulpennya di antara jari. “Kamu bawa aku sekarang karena kamu nggak mau dijodohin. Itu jujur. Keluarga kamu bakal lebih percaya kebohongan yang dibangun di atas kejujuran. Kamu cukup bilang, ‘Aku belum ngenalin dia karena aku takut Papa nggak setuju. Tapi aku lebih takut kehilangan dia.’”

Aku menelan ludah. “Kamu... sering bikin kalimat kayak gitu?”

“Kalimat kayak gimana?”

“Kalimat yang bikin orang... ya udah, lupain.”

Dia menatapku. Aku menatap latte daunku.

“Oke,” katanya setelah beberapa saat. “Sekarang pertanyaan yang paling penting.”

“Apa?”

“Kamu suka apa?”

Aku mengerjap. “Hah?”

“Kalau kita udah pacaran setahun, aku harusnya tahu kamu suka apa. Makanan, minuman, film, musik, bunga, warna. Keluarga kamu pasti ngetes. Mama kamu mungkin nanya, ‘Nabila paling suka makan apa?’ Dan kalau aku salah jawab, selesai.”

“Oh.” Aku berpikir. “Aku suka... sate padang. Nggak suka durian. Warna favorit biru muda. Bunga... aku suka tulip, tapi pura-pura suka mawar karena Mama suka mawar dan dia sering ngasih aku mawar.”

“Film?”

“Film romantis yang ending-nya bahagia. Kalau ada yang meninggal, aku nggak mau nonton.”

“Musik?”

“Apa aja, asal bukan dangdut koplo jam enam pagi. Tetangga aku suka nyetel itu pas aku libur.”

Devan menulis semuanya, dengan tulisan tangan kecil dan rapi. Lalu dia berhenti, mengangkat wajah, dan menatapku.

Lama.

Bukan tatapan yang tadi, yang penuh perhitungan. Tatapan ini lain. Lebih pelan. Seperti dia sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis di tisu.

“Kenapa?” tanyaku. “Kenapa liatin aku kayak gitu?”

“Aku lagi merhatiin.”

“Merhatiin apa?”

“Kamu. Kamu bilang aku harus tahu kamu suka apa. Tapi orang yang udah pacaran setahun nggak cuma tahu dari daftar. Mereka tahu dari merhatiin.” Dia memiringkan kepala sedikit. “Jadi mulai sekarang aku perhatiin.”

“Nggak usah diperhatiin segitunya.”

“Misalnya,” dia melanjutkan seolah aku tidak bicara, “kamu gigit sedotan kalau lagi mikir. Kamu menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri, bukan kanan. Dan kalau kamu ketawa beneran, bukan ketawa sopan, ada lesung kecil di pipi kanan kamu. Cuma di kanan.”

Aku melepas sedotan dari mulutku. Rambutku, yang tadinya siap aku selipkan ke belakang telinga kiri, kubiarkan jatuh begitu saja.

“Jangan liatin aku kayak gitu,” kataku.

“Kayak gimana?”

“Kayak...” Aku mencari kata. “Kayak beneran.”

Devan mengangkat alis. “Kan kamu yang minta totalitas.”

“Aku nggak pernah bilang totalitas.”

“Kamu bilang, ‘Pura-pura kita udah pacaran lama.’ Pura-pura yang setengah-setengah bakal ketahuan. Jadi aku total.”

“Totalnya dikurangin dikit.”

“Nggak bisa. Nanti ketahuan.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan dan mengeluarkan suara yang sama sekali tidak anggun. Dari sela jari, aku melihat Devan tersenyum. Senyum kecil yang dia sembunyikan dengan menunduk ke tisu, tapi tidak cukup cepat.

“Kamu ketawain aku,” kataku.

“Nggak.”

“Kamu senyum.”

“Aku lagi senang. Datanya lengkap.”

Aku mendengus, lalu menurunkan tangan. “Oke. Giliran aku. Kamu suka apa?”

“Kopi hitam. Tanpa gula.”

“Pantes mukamu datar.”

“Aku suka nasi goreng pinggir jalan, yang dimasak pakai arang. Nggak suka makanan yang terlalu manis. Warna favorit...” Dia berpikir. “Nggak punya.”

“Semua orang punya warna favorit.”

“Aku belum nemu.”

“Ya udah, biru muda aja. Biar sama.”

“Kenapa harus sama?”

“Biar kelihatan kompak.”

Devan menatapku sebentar, lalu menulis sesuatu di tisu. Aku mencondongkan badan untuk mengintip. Di bawah kolom Devan, di samping tulisan warna favorit, dia menulis: biru muda (baru ditetapkan, 10.47 pagi).

“Kamu nyatet jamnya?”

“Biar akurat.”

Kami lanjut sampai jam sebelas lewat. Aku tahu bahwa Devan anak tunggal, bahwa ibunya guru SD yang sudah pensiun di Bandung, dan bahwa ayahnya punya bengkel motor kecil. Dia tahu bahwa aku pernah gagal lomba masak di SMA, bahwa aku takut kucing hitam karena pernah dicakar waktu kecil, dan bahwa aku kerja sebagai Brand Manager di salah satu anak usaha Papa, meskipun kadang aku merasa cuma numpang nama.

Waktu aku bilang soal yang terakhir itu, Devan tidak langsung menulis. Dia menatapku, lalu bertanya pelan, “Kamu merasa gitu?”

“Kadang.”

“Kenapa?”

“Karena semua orang di kantor tahu aku anak siapa. Jadi setiap kali aku berhasil, mereka pikir itu karena Papa. Setiap kali aku gagal, mereka pikir, ‘Tuh kan, cuma anak bos.’”

Devan diam. Lalu dia menulis sesuatu di tisu, kecil sekali, dan menutupinya dengan tangan sebelum aku sempat melihat.

“Tulis apa?”

“Catatan pribadi.”

“Di tisu aku?”

“Tisunya milik kafe.”

Aku ingin membalas, tapi HP-ku bergetar. Mama. Nak, jam 3 creambath ya. Jangan lupa. Mama udah siapin kebaya sama gaun, nanti kamu pilih. Diikuti tujuh emoji hati.

Aku mendesah. “Aku harus pergi sebentar lagi.”

“Oke. Satu hal lagi.”

“Apa?”

Devan mengulurkan tangannya di atas meja, telapak menghadap ke atas.

Aku menatapnya. “Apa itu?”

“Latihan.”

“Latihan apa?”

“Pegangan tangan. Keluarga kamu bakal lihat kita pegangan tangan, dan kalau kamu kaku kayak robot, mereka bakal curiga.”

“Aku nggak akan kaku.”

“Buktikan.”

Aku mendengus, lalu meletakkan tanganku di atas telapak tangannya.

Hangat. Masih sama hangatnya dengan jabat tangan tadi pagi, tapi rasanya lain. Mungkin karena tidak ada gerakan naik-turun jabat tangan. Mungkin karena tangannya sekarang menggenggamku pelan, jari-jarinya menyusup di sela jariku, dan ibu jarinya bergerak sekali, sangat pelan, di punggung tanganku.

Aku membeku.

“Jari kamu jangan kaku,” kata Devan, dengan suara yang sama datarnya seperti waktu dia membahas Om Bram. “Kita ceritanya udah setahun.”

“Aku nggak kaku.”

“Jari kamu lurus semua kayak penggaris.”

Aku melemaskan jariku. Pelan-pelan. Membiarkannya melengkung di sekitar tangannya. Dan waktu jari kami benar-benar bertaut, ada sesuatu yang menjalar dari telapak tangan sampai ke tengkukku, dan aku sama sekali tidak menyukainya. Maksudku, aku sangat tidak menyukainya. Sama sekali.

“Nah,” kata Devan. “Gitu.”

Kami diam. Tangan kami masih bertaut di atas meja nomor tujuh, di antara tisu-tisu berisi silsilah keluargaku dan latte berbentuk daun.

Aku mengangkat wajah, berniat bilang sesuatu yang sarkastik. Tapi kalimat itu tidak jadi keluar, karena saat itu aku melihat kacamatanya melorot. Pelan-pelan, sampai ke ujung hidung, sampai dia harus sedikit mengangkat dagu untuk melihatku dari atas bingkainya.

Dan sebelum otakku sempat mengeluarkan perintah apa pun, tanganku yang satu lagi terangkat dan mendorong kacamata itu kembali ke tempatnya.

Ujung jariku menyentuh pangkal hidungnya. Hanya sebentar. Tapi cukup.

Kami berdua membeku.

Devan menatapku dari balik kacamata yang sekarang sudah lurus sempurna. Aku menatapnya balik, dengan tangan masih terangkat di udara, seperti orang yang tertangkap basah mencuri. Di belakangku, lagi-lagi, terdengar suara gelas pecah.

“MAAF!” teriak Mas Jaka. “TANGAN SAYA LICIN LAGI!”

Aku menarik kedua tanganku, yang di udara dan yang di tangan Devan, secepat kilat. Aku memasukkannya ke pangkuan dan menatap meja.

“Itu,” kataku. “Itu juga latihan.”

“Oh,” kata Devan. Suaranya agak aneh. Lebih rendah. “Latihan apa?”

“Latihan... kebiasaan pacar. Pacar suka betulin kacamata pacarnya.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Dari film.”

“Film romantis yang ending-nya bahagia?”

“Iya.”

Devan diam sebentar. Lalu dia mengambil pulpen dan menulis sesuatu di tisu nomor empat. Aku tidak mau tahu apa yang dia tulis. Aku sangat tidak mau tahu.

Aku mengintip. Betulin kacamata: tidak ada di naskah. Improvisasi Bu Klien.

“Bu Klien?”

Devan mengangkat wajah. “Kamu klien aku, kan? Kamu yang nyewa.”

“Aku belum bayar.”

“Itu urusan nanti, Bu Klien.”

“Jangan panggil aku Bu Klien.”

“Terus panggil apa? Sayang?”

Pipiku terbakar. “Nabila!”

“Oke, Bu Klien Nabila.”

Aku menyambar pulpennya, menarik tisu kosong yang terakhir, dan menulis besar-besar di atasnya: PERJANJIAN SATU MALAM. Lalu di bawahnya: Pihak Pertama (Nabila) dan Pihak Kedua (Pak Kacamata) sepakat berpura-pura pacaran selama satu malam saja. Setelah itu selesai. Titik.

Aku menyodorkannya ke Devan. “Tanda tangan.”

Dia membaca. “Pak Kacamata?”

“Kamu manggil aku Bu Klien.”

Dia menatap tulisan itu lama, lalu tertawa. Tawa pertama yang benar-benar lepas sejak kami bertemu. Suaranya rendah, hangat, dan membuat dua perempuan di meja sebelah menoleh. Lalu dia menandatanganinya di bawah namaku, dengan tanda tangan yang cepat dan tegas.

Aku melipat tisu itu, berniat memasukkannya ke tasku. Tapi Devan mengulurkan tangan.

“Aku yang simpan.”

“Kenapa?”

“Pihak Kedua berhak menyimpan salinan kontrak.”

“Ini bukan salinan. Cuma ada satu.”

“Makanya aku yang simpan. Biar kamu nggak bisa batalin sepihak.”

Aku menatapnya, lalu menyerahkan tisu itu. Dia melipatnya dua kali dan menyimpannya di saku kemeja, di dekat dada, dengan gerakan yang sangat hati-hati untuk selembar tisu kafe yang harganya mungkin dua ratus perak.

Kami berdiri. Dia merapikan tisu-tisu lain ke dalam tas laptopnya, semua kecuali satu yang dia berikan padaku. Salinan peta keluarga, katanya. Untuk aku hafalkan juga.

Di pintu kafe, dia berhenti.

“Nabila.”

“Ya?”

“Jam tujuh. Aku ke rumah kamu jam tujuh kurang lima.”

“Oke.”

“Kirim alamatnya.”

“Oke.”

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

Dia menatapku, dan untuk sesaat aku pikir dia akan mengatakan sesuatu yang penting. Sesuatu yang serius. Aku menunggu.

“Latte kamu belum diminum,” katanya. “Kasihan barista kamu.”

Lalu dia keluar, dan lonceng pintu berdenting di belakangnya.

Aku berdiri di situ, menatap punggungnya yang tinggi berjalan menyusuri trotoar sampai hilang di belokan. Lalu aku kembali ke meja tujuh, duduk, dan meminum latte daunku yang sudah dingin sampai habis.

Mas Jaka mendekat pelan-pelan. “Mbak Nabila.”

“Ya, Mas?”

“Itu tadi... siapa?”

Aku menatap cangkir kosongku. Menatap tanganku, yang masih terasa hangat entah kenapa. Menatap kursi kosong di depanku.

“Pacar aku,” kataku. “Katanya.”

Mas Jaka menjatuhkan nampannya.