Chapter Twenty Six
Istirahat, Katanya
POV: Devan
Aku bangun karena sunyi.
Bukan karena alarm. Bukan karena suara. Karena sunyi yang terlalu lengkap, sunyi kamar hotel yang kedap suara, sunyi yang tidak pernah ada di kontrakanku di Cawang atau di kantor Tebet yang dindingnya tipis. Aku membuka mata, dan selama beberapa detik aku tidak tahu di mana aku berada.
Langit-langit putih. Lampu meja yang redup. Wangi lavender.
Lalu aku ingat. Hotel Arunika. Kamar 1107. Bantal yang dilempar. Otak kamu mesum. Tangan kecil di tanganku.
Aku menoleh ke samping. Ke sofa.
Dia masih di sana.
Nabila duduk bersila di atas sofa, di dekat jendela, dengan selimut tipis hotel melilit bahunya. Lampu-lampu Senayan di balik kaca membuat siluet wajahnya berwarna jingga dan emas. Rambutnya yang tadi diikat rendah sekarang terurai berantakan, seperti sudah berkali-kali disisir dengan jari. Dia tidak tidur. Matanya terbuka, menatap sesuatu di pangkuannya.
Laptopku.
Aku duduk pelan-pelan. Meraba meja samping untuk mencari kacamata. Memakainya. Dan dunia jadi jelas: layar laptop yang menyala di pangkuannya, dengan slide berlatar biru tua. Slide pertama presentasi launching. Aku tidak perlu membaca tulisannya dari jarak ini. Aku sudah menatap slide itu empat puluh jam terakhir.
Devan Satria — Co-Founder & CEO.
Dia mengangkat wajahnya dari layar dan menatapku.
Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Tidak marah. Tidak sedih. Tidak kaget. Cuma tenang, dengan cara yang membuatku jauh lebih takut daripada kalau dia berteriak.
Jam di meja samping menunjukkan pukul dua lewat delapan pagi.
“Aku buka mata sebelum tiga jam,” kataku. Suaraku serak. “Dan kamu masih di sini.”
“Iya.”
“Berarti kamu sayang aku.”
Dia tidak tersenyum. Dia menatapku lama. Lalu menatap layar laptop lagi.
“CEO,” katanya.
Aku menelan ludah.
Aku turun dari kasur. Kaus kakiku menyentuh karpet hotel yang tebal. Aku berjalan ke arah sofa, pelan, seperti orang yang mendekati kucing liar, lalu duduk di lantai di depannya, di atas karpet, supaya mata kami sejajar.
Dia tidak menjauh. Itu pertanda baik. Mungkin.
“Aku mau jelasin,” kataku.
“Silakan.”
“Lintas. Namanya Lintas. Perusahaan aku sama Bimo. Tiga tahun lalu kami dirikan. Kami bikin sistem pengatur rute buat pengiriman barang. Buat kurir kecil. Buat distributor kecil. Buat orang-orang kayak Ayah.” Aku menarik napas. “Yang aku ceritain di balkon Puncak. Yang aku bilang lagi dicoba. Itu ini.”
Dia diam.
“Pagi itu di kafe,” lanjutku, “aku lagi nunggu investor yang batal. Aku lagi pusing soal duit. Terus kamu datang. Dan waktu kamu minta aku jadi pacar kamu buat ketemu keluarga kamu, aku langsung tahu, kalau aku bilang aku CEO, malam itu bakal jadi tentang aku. Papa kamu bakal ngajak ngomongin bisnis. Om kamu bakal ngetes aku. Semua orang bakal lihat aku sebagai calon mitra, bukan sebagai pacar kamu.” Aku menatap tangannya, yang memegang pinggiran laptop. “Dan kamu butuh malam itu jadi tentang kamu. Tentang kamu yang nggak mau dijodohin. Bukan tentang aku.”
Dia masih diam. Tapi jari-jarinya di pinggiran laptop mengendur sedikit.
“Terus setelah malam itu,” kataku, “aku mau bilang. Beneran. Tapi setiap kali aku mau bilang, ada sesuatu. Kontrak. Pasal. Keluarga kamu yang udah sayang sama aku sebagai Devan yang kerja di IT. Terus kita jadian beneran, dan malam itu kamu nguap, dan aku mikir, nanti aja, setelah launching, biar ada yang bisa aku tunjukin.” Aku berhenti. “Terus di mobil kemarin, kamu nanya, dan aku mau jawab, dan kamu cium aku, dan bilang kamu percaya aku.”
Suaraku pecah sedikit di ujungnya. Aku berdeham.
“Dan itu yang paling berat,” kataku. “Kamu percaya aku. Dan aku lagi nyimpen sesuatu dari kamu.”
Hening.
Di luar jendela, lampu-lampu Senayan berkelip. Sebuah mobil lewat di jalan di bawah, lampunya menyapu langit-langit kamar sebentar, lalu hilang.
“Kamu nggak cuma CEO,” kata Nabila akhirnya. Suaranya pelan. “Kamu CEO perusahaan logistik.”
“Iya.”
“Papa aku punya perusahaan distribusi.”
“Iya.”
Dia menggeser layar laptop. Ke slide yang lain. Aku tidak perlu melihat untuk tahu slide mana. Slide dua puluh tiga. Target Pasar Tahap Dua: Distributor Regional Menengah-Besar. Dengan daftar nama perusahaan di bawahnya.
“Saheila Group nggak ada di sini,” katanya.
Aku mengangkat wajah. Dia menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku bangun, ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Kebingungan.
“Aku buka versi lama presentasi kamu,” katanya. “Di folder yang sama. Yang tanggalnya sebelum kita ketemu. Di versi lama, Saheila Group ada di nomor tiga.” Dia menggeser layar lagi. “Di versi yang dibuat hari Sabtu setelah malam pertama, namanya hilang.”
Aku menatapnya. Aku tidak tahu dia akan menemukan itu. Aku tidak tahu dia akan mencari sampai sejauh itu.
“Kamu coret,” katanya. “Hari Sabtu. Sehari setelah makan malam perkenalan. Sebelum kita bikin kontrak laminasi.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap karpet hotel. Motifnya kotak-kotak kecil berwarna krem dan cokelat.
“Karena aku nggak mau kamu mikir aku deketin kamu buat dapat klien,” kataku. “Bahkan kalau kamu nggak pernah tahu. Aku yang bakal tahu.”
Dia diam lama.
Aku duduk di karpet, menunggu. Seperti menunggu di meja nomor tujuh, waktu dia menghitung sampai sepuluh. Hanya saja kali ini aku tidak tahu dia sedang menghitung sampai berapa.
Lalu dia menutup laptop. Pelan. Menaruhnya di sofa di sebelahnya.
“Aku kesel,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku kesel banget, Dev. Aku nggak ngerti kenapa kamu nggak bilang. Enam minggu. Aku cerita soal Pak Gunawan, soal takut dianggap cuma anak bos, soal Nenek, soal semuanya. Dan kamu cuma bilang macem-macem.” Suaranya naik sedikit. “Aku bilang cinta ke kamu. Di teras. Jam satu pagi. Ke orang yang aku kira kerja di IT. Dan ternyata aku bilang cinta ke CEO yang barusan ngeyakinin investor paling galak se-Jakarta sambil nutup laptop.”
“Kirana cerita?”
“Kirana nggak cerita apa-apa. Aku baca email kamu. Laptopnya nyala terus, emailnya kebuka.” Dia mengangkat dagu. “Selamat atas pendanaannya, Pak Devan. Pak Rudolf jarang terkesan. Itu kalimat pertama di email paling atas.”
Aku menunduk. “Maaf.”
“Aku belum selesai.”
“Oke.”
Dia menarik napas panjang. Menatap langit-langit. Lalu menatapku lagi, dan ekspresinya berubah. Lebih pelan. Lebih rumit.
“Tapi terus aku mikir,” katanya. “Dua jam aku duduk di sini, di sofa ini, mikir. Dan aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Aku bohong ke keluarga aku enam minggu.” Dia tertawa kecil, tanpa humor. “Aku bilang ke Papa, ke Mama, ke Oma, ke Kenzo, ke seluruh keluarga besar Saheila, kalau aku udah pacaran setahun sama cowok yang aku temuin pagi itu di kafe. Aku bikin foto palsu keliling Jakarta. Aku bikin kontrak. Aku bohong ke mereka setiap Minggu, setiap makan malam, setiap kali Tante Rini nanya kapan serius.”
Dia menatap tangannya di pangkuan.
“Dan aku masih bohong. Sampai sekarang. Mereka masih nggak tahu kita baru jadian beneran dua minggu lalu.” Dia mengangkat wajahnya. “Kamu bohong ke aku soal satu hal. Aku bohong ke tiga puluh orang soal semuanya. Kalau aku marah besar sama kamu, aku munafik.”
“Itu beda.”
“Beda gimana?”
“Kamu bohong buat nyelametin diri kamu dari perjodohan. Aku bohong karena aku pengecut.”
“Kamu bukan pengecut.”
“Aku takut kamu lihat aku beda kalau kamu tahu.”
Dia menatapku. Lama. Lalu, pelan-pelan, sesuatu di wajahnya melunak. Seperti es yang mulai mencair di pinggiran.
“Dev,” katanya. “Kamu tahu apa yang aku lihat waktu aku baca slide itu tadi?”
“Apa?”
“Aku nggak lihat CEO.” Dia menurunkan kakinya dari sofa, sampai lututnya hampir menyentuh bahuku yang duduk di karpet. “Aku lihat cowok yang nyari buku resep nenek aku di Kwitang. Yang bikin aplikasi golf semalam buat Om aku. Yang nggak mau pegang keyboard Kenzo. Yang nemenin aku sampai jam dua pagi di restoran cepat saji, dan nggak mau diakui.”
Dia mengulurkan tangan dan menyentuh rambutku yang berantakan. Pelan.
“Aku nggak lihat CEO,” ulangnya. “Aku lihat kamu. Cuma sekarang kamu punya jabatan.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik. Ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku.
Dia menyisir rambutku dengan jari-jarinya, pelan, menyibakkannya dari dahi. Lampu meja yang redup membuat wajahnya kelihatan lembut dan hangat. Matanya merah di pinggirnya, mungkin karena menatap layar laptop selama dua jam. Atau mungkin karena hal lain.
Dia cantik. Jam dua pagi, di kamar hotel, dengan selimut hotel di bahu dan rambut kusut dan mata merah, dia cantik dengan cara yang membuatku ingin menangis. Bukan karena sedih. Karena aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa semarah itu padaku, lalu dua jam kemudian menyisir rambutku dan bilang dia melihat aku.
“Jadi,” kataku akhirnya, dengan suara yang tidak terlalu stabil. “Kamu nggak putusin aku?”
“Belum.”
“Belum?“
“Aku masih mempertimbangkan.” Sudut bibirnya naik. Sedikit. “Jadi selama ini aku pacaran sama CEO?”
Aku menatapnya. Dan aku melihatnya. Senyum kecil yang dia coba tahan. Lesung di pipi kanan yang muncul sebentar, lalu hilang, lalu muncul lagi.
“Kamu pacaran sama aku,” kataku. “CEO-nya bonus.”
Dia menatapku. Lalu tertawa. Tawa kecil yang pecah, bercampur isak yang dia tahan.
“Bonusnya kegedean,” katanya.
“Mau aku balikin?”
“Nggak bisa dibalikin. Pasal sembilan. Nggak bisa ditolak.”
“Kontraknya udah batal.”
“Pasal sembilan masih berlaku. Aku yang nentuin.”
Aku tertawa. Dan tawaku, entah kenapa, juga pecah sedikit di ujungnya.
Kami bicara sampai jam empat. Soal Lintas. Dia bertanya semuanya, dan kali ini aku menjawab semuanya. Soal Bimo di semester satu. Soal ruko Tebet dan mi instan setahun pertama. Soal tiga ratus kurir di dua belas kota. Soal Ayah dan motornya dan kardus onderdil. Soal Pak Wibisono yang batal di pagi hari aku bertemu dengannya.
“Jadi kalau Pak Wibisono nggak batal,” katanya, “kamu nggak bakal di kafe itu pagi itu.”
“Aku tetap di kafe itu. Meeting-nya di situ.”
“Tapi kamu bakal sibuk ngobrol sama dia.”
“Mungkin.”
“Dan aku bakal lihat kamu sibuk, terus aku nggak berani nyamperin.”
“Mungkin.”
Dia memeluk lututnya di atas sofa, dengan dagu bertumpu di atasnya. “Aku harus kirim Pak Wibisono ucapan terima kasih.”
“Buat apa?”
“Buat batal.”
Aku tertawa.
Lalu dia bertanya satu hal lagi. Satu hal yang dia simpan dari tadi, aku bisa melihatnya di wajahnya.
“Dev.”
“Hm?”
“Tadi. Sebelum kamu tidur. Kamu bilang sepuluh detik itu bukan mikir.”
Aku membeku.
“Bukan mikir apa?” tanyanya.
Aku menatapnya. Kalimat itu naik lagi ke tenggorokanku. Sepuluh detik itu aku lupa cara bernapas. Aku bisa mengatakannya sekarang. Semua rahasia yang lain sudah keluar malam ini. Kenapa tidak yang satu ini juga?
Tapi aku menatap wajahnya. Wajahnya yang merah di pinggir mata, dengan rambut kusut dan selimut hotel di bahu. Dan aku berpikir: rahasia yang ini berbeda. Rahasia yang ini bukan sesuatu yang kusembunyikan karena takut. Rahasia yang ini adalah sesuatu yang ingin kuberikan. Dengan benar. Di tempat yang tepat. Sebagai hadiah, bukan sebagai pengakuan dosa.
“Nanti,” kataku.
Dia menyipitkan mata. “Kamu bilang nanti lagi.”
“Yang ini beda. Yang ini bukan karena aku takut.”
“Terus karena apa?”
“Karena yang ini aku mau kasih ke kamu di tempat yang bagus.”
“Kamu juga bilang gitu soal jawaban aku cinta kamu. Di teras. Kamu bilang di tempat yang lebih bagus.”
“Iya.”
“Kamu ngumpulin banyak hutang, Pak CEO.”
“Aku bakal bayar semuanya.”
“Kapan?”
Aku berdiri dari karpet. Kakiku kesemutan karena duduk bersila dua jam. Aku mengulurkan tangan padanya.
“Mulai hari ini,” kataku. “Launching jam sepuluh. Aku mau kamu datang. Duduk di barisan depan.”
Dia menatap tanganku. “Kamu mau aku datang?”
“Aku mau kamu di situ. Aku mau kamu lihat aku yang lain. Yang nggak pernah aku tunjukin.” Aku berhenti. “Terus malamnya, aku mulai bayar hutang.”
Dia menatapku lama. Lalu meraih tanganku dan berdiri.
Selimut hotel jatuh dari bahunya ke sofa. Dia berdiri di depanku, di kamar hotel yang redup, dengan kaki telanjang di atas karpet dan rambut kusut dan wajah yang sudah tidak marah lagi. Hanya sedikit merah. Dan sangat dekat.
“Kamu cantik,” kataku. Pelan. “Jam empat pagi pun.”
“Itu data?”
“Diverifikasi. Barusan.”
Dia menunduk, menyembunyikan senyumnya. “Jam berapa gladi resik?” tanyanya.
“Jam lima.”
“Sekarang jam empat lewat lima belas.”
“Iya.”
“Kamu tidur cuma tiga jam.”
“Tiga jam dua puluh menit. Sesuai janji. Aku nggak buka mata sebelum tiga jam.”
Dia menatapku. Aku menatapnya.
Lalu dia berjinjit dan mencium keningku. Pelan. Satu detik. Dua detik. Seperti yang kulakukan di balkon Puncak.
Waktu dia mundur, pipinya merah.
“Latihan,” katanya.
“Nggak ada penontonnya.”
“Latihan buat nanti di barisan depan.” Dia mengambil tasnya dari sofa. “Aku pulang dulu. Ganti baju. Terus balik ke sini jam setengah sepuluh.”
“Nabila.”
Dia berhenti di pintu, dengan tangan di gagang.
“Makasih,” kataku. “Udah nggak lari.”
Dia menoleh. Tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya, dengan lesung di pipi kanan.
“Aku bilang di kafe waktu itu,” katanya. “Aku nggak pernah lari dari apa pun, Devan.”
“Kecuali dari rumah.”
“Itu menenangkan diri.”
“Versi orang kaya.”
Dia tertawa, membuka pintu, dan berjalan keluar ke lorong hotel. Pintunya menutup dengan bunyi klik yang pelan.
Aku berdiri di tengah kamar 1107, sendirian, dengan kaus kusut dan kaus kaki abu-abu dan kacamata yang sedikit miring. Aku menyentuh keningku.
Lalu aku mengambil HP dan membuka folder Bukti Aku Nggak Salah Pilih.
Aku tidak punya foto baru. Dia tidak membiarkanku memotretnya malam ini. Tapi aku membuka catatan di folder itu, catatan yang kutulis di hari kedua dan terus kutambah sejak itu, daftar hal-hal kecil yang kuperhatikan tentangnya.
Aku menambahkan satu baris di paling bawah.
Dia baca slide 23. Dia buka versi lama. Dia nemuin nama Saheila yang aku coret. Dia cari bukti bahwa aku nggak jahat, sebelum dia cari bukti bahwa aku bohong.
Aku menatap baris itu lama.
Lalu aku menambahkan satu baris lagi, lebih kecil:
Hari ini aku bayar hutang pertama.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya reading
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi