Chapter Twenty Eight
Atap
POV: Devan
Atap kantor Lintas bukan tempat yang romantis.
Aku tahu itu. Aku sudah tiga tahun naik ke sana, hampir setiap malam, kalau kepalaku terlalu penuh untuk dipakai berpikir. Atap ruko tiga lantai di Tebet, dengan lantai semen yang retak-retak, tandon air berwarna biru yang berlumut di bagian bawahnya, jemuran bekas milik penyewa sebelumnya yang tidak pernah kami bongkar, dan pemandangan ke arah atap-atap ruko lain, kabel listrik yang semrawut, dan di kejauhan, gedung-gedung tinggi Kuningan yang lampunya berkelip-kelip.
Tidak ada bintang. Langit Jakarta jarang punya bintang.
Tapi di atap itulah aku pertama kali menggambar rute untuk Ayah, di atas kertas bekas, waktu Lintas masih cuma ide. Di atap itulah Bimo dan aku merayakan klien pertama dengan dua botol teh kemasan dan sebungkus kacang. Di atap itulah aku duduk sendirian di malam setelah investor pertama menolak kami, dan memutuskan untuk tidak menyerah.
Kalau ada satu tempat di Jakarta yang bisa disebut milikku, tempat itu adalah atap ini.
Jadi di situlah aku mau membayar hutangku.
Bimo membantuku menyiapkannya. Dia bersikeras.
“Kamu mau ngajak pacar kamu ke atap ruko yang lantainya retak dan ada tandon berlumut,” katanya jam lima sore, sambil berkacak pinggang di tengah atap. “Kamu butuh aku.”
“Aku bisa sendiri.”
“Dev. Terakhir kali kamu dekorasi sesuatu, kamu pasang lampu tumbler di pohon natal kantor, dan lampunya kesetrum, dan pohonnya kebakar.”
“Itu pohon plastik. Plastiknya jelek.”
“Aku bantu.”
Jadi dia membantu. Dengan Rara, yang ternyata juga bersikeras, dan dua orang engineer lain yang entah bagaimana mendengar kabar dan naik ke atap membawa gulungan lampu dari gudang.
Kami menyapu lantai semen. Kami menutupi tandon air dengan kain putih bekas spanduk acara launching tadi pagi, yang di satu sisinya masih ada tulisan LINTAS besar-besar. Kami menggantung lampu tumbler di tali jemuran, dari ujung ke ujung, dan di pagar besi pinggir atap. Rara membawa tikar dari musala kantor. Bimo membawa dua kursi plastik dari dapur, yang warnanya beda, satu merah, satu hijau.
“Kursinya nggak matching,” kataku.
“Kursinya punya karakter,” kata Bimo.
Jam tujuh lewat tiga puluh, semua sudah siap. Aku berdiri di tengah atap dan menatap hasilnya.
Lampu tumbler berpendar kuning keemasan di sepanjang tali jemuran, bergoyang pelan kena angin. Tandon air yang ditutupi spanduk kelihatan seperti... tandon air yang ditutupi spanduk. Tikar musala di tengah, dengan dua kursi plastik beda warna di atasnya. Meja lipat kecil di antara kursi, dengan dua bungkus sate padang dari warung yang pernah Nabila sebut sate padang paling belepotan di Tebet, dan satu termos kecil berisi oat latte less sugar yang kupesan lewat ojek online dari Kafe Jeda.
Di atas termos itu, Mas Jaka menempelkan catatan tulisan tangan: Latte art nggak bisa dikirim lewat termos, Mas. Maaf. Tapi rasanya tetap penuh cinta.
“Gimana?” tanya Bimo.
Aku menatapnya lama.
“Jelek,” kataku.
“Jelek?”
“Jelek banget.” Aku tersenyum. “Aku suka.”
Bimo menepuk bahuku. Lalu dia menggiring Rara dan dua engineer lain ke tangga, dengan gerakan seperti penggembala bebek. Di pintu tangga, dia berhenti dan menoleh.
“Dev.”
“Hm?”
“Jangan lupa napas.”
Lalu dia turun, dan aku sendirian di atap, di bawah lampu tumbler, dengan jantung yang berdetak jauh lebih keras daripada tadi pagi di depan dua ratus orang.
Nabila naik ke atap jam delapan tepat.
Aku mendengar langkahnya di tangga besi. Pelan, hati-hati, dengan bunyi sepatu yang bukan sepatu hak. Lalu pintu tangga terbuka, dan dia muncul di ambang pintu.
Dia berganti pakaian. Bukan dress biru muda dan blazer putih dari pagi tadi. Kaus putih polos yang dimasukkan ke celana jins, sneakers putih, dan rambut yang digerai, dengan jepit kupu-kupu di satu sisi. Jepit yang sama dengan hari kontrak dilaminasi. Yang dulu miring dan tidak kuberi tahu karena aku egois.
Hari ini jepitnya lurus.
Dia berdiri di ambang pintu dan menatap sekeliling. Lampu tumbler di tali jemuran. Tandon air yang ditutupi spanduk bertuliskan LINTAS. Tikar musala. Kursi plastik merah dan hijau. Sate padang dalam bungkus kertas cokelat. Termos dengan catatan Mas Jaka.
Lalu dia menatapku.
Aku tidak tahu apa yang dia lihat. Aku sudah berganti pakaian juga, kemeja biru muda yang dia belikan di Senayan dengan lengan digulung. Tapi aku tahu tanganku sedikit gemetar. Aku tahu aku sedang berdiri terlalu kaku, seperti orang yang menunggu hasil ujian.
“Ini atap kantor kamu?” tanyanya.
“Iya.”
“Ada tandon air.”
“Ditutupin.”
“Pakai spanduk launching.”
“Bimo yang pilih.”
Dia menatap spanduk itu lama. Lalu menatap lampu tumbler. Lalu menatap kursi plastik beda warna. Dan pelan-pelan, sudut bibirnya naik.
“Ini jelek banget,” katanya.
“Aku tahu.”
“Jelek banget, Dev.”
“Aku tahu, Sayang.”
Dia tertawa. Lalu dia berjalan ke tengah atap, melewati jemuran, di bawah lampu tumbler, dan cahaya kuning keemasan itu jatuh di wajahnya, di rambutnya, di jepit kupu-kupunya, bergantian dengan bayangan setiap kali lampu bergoyang kena angin.
Dia berhenti di depanku. Menatapku dari jarak satu langkah.
“Aku suka,” katanya.
Kami makan sate padang di kursi plastik beda warna. Dia di kursi merah, aku di kursi hijau. Dia makan dengan belepotan, dengan kuah kuning di sudut bibirnya, dan dia tidak peduli sama sekali. Ini sate padang di atap ruko. Tidak ada yang perlu dijaga di sini.
Aku menatapnya makan, dan tidak makan satenya sendiri.
“Kamu nggak makan?” tanyanya.
“Nanti.”
“Kamu dari tadi ngeliatin.”
“Aku lagi merhatiin.”
“Merhatiin apa?”
“Kamu makan sate padang kayak orang yang udah nggak makan sate padang setahun.”
“Aku memang nggak makan sate padang setahun. Di depan orang.” Dia mengelap sudut bibirnya dengan tisu. “Di depan kamu nggak apa-apa.”
“Kamu cantik kalau belepotan,” kataku.
“Bohong.”
“Data.” Aku mengulurkan tisu. “Tapi kuahnya sampai dagu.”
Dia merebut tisu itu dengan wajah merah. Dan aku mencatatnya. Di folder di kepalaku, di bawah catatan tentang sedotan dan lesung pipi dan telinga merah dan senandung yang belum kukenal.
Di depan aku, dia makan sate padang dengan belepotan.
Setelah sate habis, kami minum latte dari termos Mas Jaka, bergantian dari tutup termos karena aku lupa membawa gelas. Lalu kami pindah ke tikar, duduk bersebelahan dengan punggung bersandar di pagar besi pinggir atap, menatap lampu-lampu gedung di Kuningan.
Angin malam berhembus. Lampu tumbler bergoyang. Di bawah, di jalan, suara motor dan klakson dan penjual nasi goreng yang memukul wajan terdengar samar-samar.
“Di sini kamu biasanya ngapain?” tanyanya.
“Mikir.”
“Mikir apa?”
“Macem-macem.”
Dia menyikut rusukku. Aku tertawa.
Lalu aku cerita. Soal gambar rute pertama untuk Ayah di atas kertas bekas. Soal dua botol teh kemasan dan sebungkus kacang. Soal malam setelah investor pertama menolak, waktu aku duduk di sini sampai subuh.
“Aku hampir berhenti malam itu,” kataku. “Bimo nggak tahu. Nggak ada yang tahu. Aku duduk di sini, persis di sini, dan aku mikir, mungkin aku salah. Mungkin nggak ada yang butuh ini.”
“Terus kenapa nggak berhenti?”
“Ada pesan masuk dari Ayah. Jam empat pagi. Dia baru bangun buat antar onderdil ke bengkel di Cimahi. Dia kirim foto jalanan gelap, terus nulis, Nak, jalannya masih sama kayak dulu. Semoga nanti ada yang bikin gampang.“ Aku menatap lampu-lampu Kuningan. “Dia nggak tahu aku lagi bikin apa. Dia cuma kirim itu. Kebetulan.”
Nabila diam lama. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Aku mau ketemu Ayah kamu,” katanya pelan.
“Dia bakal suka kamu.”
“Kok tahu?”
“Semua orang suka kamu.”
“Kenzo nggak.”
“Kenzo sayang banget sama kamu. Dia cuma malu ngaku. Kalian mirip.”
Dia memukul lenganku pelan. Tapi dia tidak mengangkat kepalanya dari bahuku.
Kami diam lama. Nyaman. Angin, lampu tumbler, suara wajan nasi goreng di bawah.
Lalu aku berdiri.
Dia mengangkat kepalanya dari bahuku yang tiba-tiba hilang, dan menatapku dengan bingung. Aku mengulurkan tangan. Dia meraihnya. Aku menariknya berdiri.
Kami berdiri di tengah atap, di bawah tali jemuran yang penuh lampu tumbler. Di antara tandon air berspanduk dan kursi plastik beda warna. Di tempat yang, dari semua tempat di Jakarta, paling milikku.
“Nabila,” kataku.
“Hm?”
“Aku punya hutang.”
Dia menatapku. Aku melihat napasnya berhenti sebentar.
“Di teras rumah kamu,” kataku. “Jam satu pagi. Kamu bilang sesuatu. Ada keju di bibir kamu. Cardigan kamu terbalik. Satpam kamu lagi nonton.”
“...Iya.”
“Aku bilang aku bakal jawab di tempat yang lebih bagus.”
“Ini lebih bagus?” Suaranya bergetar sedikit, setengah bercanda, setengah bukan. “Ada tandon air.”
“Ini tempat paling bagus yang aku punya,” kataku. “Ini tempat aku hampir berhenti. Tempat aku mutusin buat nggak berhenti. Tempat semua yang aku punya dimulai. Dan aku mau kamu jadi bagian dari tempat ini.”
Dia tidak menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku mengangkat tanganku. Ke wajahku. Ke bingkai kacamata.
Dan aku melepasnya.
Aku melipatnya. Memasukkannya ke saku kemeja, di dekat dada. Di tempat yang sama di mana dulu aku menyimpan tisu PERJANJIAN SATU MALAM.
Dunia di sekitarku sedikit buram di pinggirnya. Lampu tumbler jadi lingkaran-lingkaran cahaya kuning yang lembut. Gedung-gedung Kuningan jadi titik-titik yang berpendar. Tapi dia berdiri cukup dekat. Dia tetap jelas.
Dia menatapku, tanpa kacamataku, dan aku melihat wajahnya berubah. Seperti waktu di restoran cepat saji jam dua pagi. Seperti waktu di meja nomor tujuh, waktu dia menghitung sampai sepuluh.
“Kamu lepas kacamata,” bisiknya.
“Iya.”
“Kamu tahu apa yang terjadi kalau kamu lepas kacamata.”
“Aku tahu.”
“Kamu lagi flirting?”
“Nggak.” Aku menggeleng pelan. “Kali ini aku lepas bukan buat flirt.”
“Terus buat apa?”
Aku melangkah maju. Satu langkah. Sampai tidak ada lagi jarak di antara kami.
“Biar nggak ganggu,” kataku.
Dan sebelum dia sempat menjawab, sebelum aku sempat takut, sebelum apa pun di dunia ini sempat menghentikanku, aku mengatakannya.
“Aku cinta kamu, Nabila.”
Dia berhenti bernapas.
“Aku cinta kamu,” ulangku, lebih pelan. “Dari sepuluh detik pertama. Dari waktu kamu duduk di depan aku di meja tujuh dan semua yang aku tahu soal dunia jadi nggak penting. Aku cinta cara kamu ketawa. Cara kamu gigit sedotan. Cara kamu nginjek kaki aku di bawah meja. Cara kamu makan sate padang kayak orang kelaparan. Cara kamu marah sama aku jam dua pagi, terus nyisir rambut aku dan bilang kamu lihat aku.”
Air mata jatuh dari matanya. Satu. Lalu satu lagi.
“Aku cinta kamu,” kataku sekali lagi. “Dan aku nggak mau nunggu tempat yang lebih bagus lagi. Ini tempatnya.”
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.
Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami berdua, di saat yang sama, seperti kami selalu mengatakan hal yang sama di saat yang sama.
Yang aku tahu, tangannya naik ke wajahku. Kedua tangannya, di kedua pipiku, pelan dan hangat, seperti memegang sesuatu yang takut pecah. Dan tanganku menemukan pinggangnya, dan rambutnya, dan belakang lehernya, di bawah jepit kupu-kupu yang hari ini lurus.
Dan aku menciumnya.
Bukan seperti di trotoar Kafe Jeda. Bukan singkat, bukan cepat, bukan dengan tawa di tengahnya. Bukan seperti di lampu merah, bukan untuk impas.
Ciuman ini lambat. Dalam. Seperti orang yang akhirnya berhenti menahan sesuatu yang sudah ditahan terlalu lama.
Aku tidak tahu cara menceritakannya dengan benar. Aku tidak punya angka untuk ini. Yang bisa kuceritakan cuma hal-hal kecil, seperti biasa.
Bahwa dia berjinjit, dan aku membungkuk, dan kami bertemu di tengah.
Bahwa jarinya meremas kemejaku di bagian dada, tepat di atas saku tempat kacamataku tersimpan, dan aku bisa merasakan bingkai kacamata itu tertekan di antara kami.
Bahwa dunia tidak hilang kali ini. Dunia justru jadi lebih jelas. Lampu tumbler, angin malam, suara wajan nasi goreng di bawah, bau sate padang yang masih tersisa, semuanya ada, semuanya nyata, semuanya bagian dari momen ini. Dan di tengah semua itu, dia. Lebih nyata dari apa pun.
Bahwa dia gemetar. Atau aku yang gemetar. Aku tidak bisa membedakannya.
Bahwa waktu berhenti menghitung. Tidak ada sepuluh detik. Tidak ada tiga detik. Tidak ada pasal, tidak ada batas, tidak ada kuota. Cuma ada ini. Lama. Sampai napas kami sama-sama habis.
Dan bahwa, waktu akhirnya kami berpisah, cuma beberapa senti, cukup untuk menarik napas, dia tidak membuka matanya. Dia berdiri di situ, dengan dahi bersandar di dahiku, dengan napas yang terengah dan tangan yang masih mencengkeram kemejaku.
“Dev,” bisiknya.
“Hm?”
“Aku cinta kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku bilang duluan. Di teras.” Napasnya hangat di wajahku. “Jadi aku menang.”
Aku tertawa pelan. Dahi kami masih bersentuhan.
“Kamu menang,” kataku.
“Kamu kalah.”
“Aku kalah. Dari detik pertama.”
Dia membuka matanya. Dari jarak sedekat itu, tanpa kacamataku, matanya kelihatan seperti dua lingkaran cokelat terang yang basah dan berkilau, memantulkan cahaya lampu tumbler.
Lalu dia menarik kerahku dan menciumku lagi.
Kami duduk di tikar musala sampai jam sebelas malam.
Aku memakai kacamataku lagi. Dia bersandar di dadaku, dengan punggung menempel dan kepala di bawah daguku. Lenganku melingkari bahunya. Kami menatap lampu-lampu Kuningan tanpa bicara, dan itu tidak canggung sama sekali.
HP-ku bergetar di saku. Aku mengabaikannya. Bergetar lagi. Dan lagi.
“Angkat,” kata Nabila.
“Nggak mau.”
“Mungkin penting.”
“Nggak ada yang lebih penting.”
“Dev.”
Aku mengeluarkan HP dengan satu tangan, tanpa melepaskan bahunya. Pesan dari Bimo. Tiga pesan.
Beritanya udah naik. Media teknologi yang tadi pagi.
Tenang. Fotonya cuma punggung Nabila. Kirana yang minta ke wartawannya, katanya “demi keamanan pacar CEO”. Kirana baik ternyata.
Terus satu lagi. Kalian di atap udah tiga jam. Tim di lantai dua nggak berani pulang karena harus lewat tangga. Tolong. Mereka lapar.
Aku menunjukkan pesan terakhir ke Nabila. Dia membacanya, lalu tertawa sampai kepalanya terantuk daguku.
“Kita harus turun,” katanya.
“Lima menit lagi.”
“Mereka lapar, Dev.”
“Tiga menit.”
Dia menoleh, menatapku dari bawah daguku. “Kamu lagi nawar?”
“Aku CEO. Aku biasa nawar.”
“Kamu nawar sama tim kamu yang kelaparan.”
“Mereka pasti ngerti.”
Dia menatapku lama. Lalu tersenyum, dan menarik kerahku ke bawah, dan menciumku. Singkat, kali ini. Manis.
“Tiga menit,” katanya.
Kami turun jam sebelas lewat lima. Di lantai dua, empat engineer duduk berjajar di sofa bekas dengan wajah lapar, dan waktu kami lewat, mereka berdiri serempak seperti murid SD yang menyambut kepala sekolah.
“Selamat malam, Mas Devan,” kata Rara. “Selamat malam, Mbak... Istrinya Mas Devan.”
“Belum,” kata Nabila dan aku bersamaan.
Rara menatap kami. Lalu menatap bibir Nabila, yang pasti masih kelihatan sedikit bengkak. Lalu menatap kemejaku, yang kerahnya kusut di satu sisi.
“Belum,” ulangnya pelan, dengan senyum sangat lebar. “Oke, Mas. Belum.”
Nabila menyembunyikan wajahnya di punggungku sepanjang jalan ke pintu keluar.
Di depan ruko, di bawah lampu jalan Tebet yang oranye, aku mengantarnya ke mobilnya. Dia masuk. Menurunkan jendela.
“Dev.”
“Hm?”
“Minggu depan resepsi pernikahan sepupu aku. Mbak Kinan. Kakaknya Tasya.” Dia menatapku. “Keluarga besar datang semua. Keluarga Wiranata juga diundang.”
“Oke.”
“Kamu datang?”
“Aku datang.”
“Terus...” Dia menggigit bibirnya. “Setelah resepsi, kita ngomong sama Papa. Berdua. Soal Lintas. Soal semuanya.”
Aku menatapnya. Aku memikirkan janji di lorong belakang ballroom tadi pagi. Aku memikirkan Kirana dan bom waktu.
“Setelah resepsi,” kataku. “Janji.”
Dia tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya keluar jendela, menarik kerahku, dan menciumku sekali lagi. Di depan ruko Lintas. Di bawah lampu jalan. Di depan tukang nasi goreng yang berhenti memukul wajannya.
“Aku cinta kamu,” katanya.
“Aku cinta kamu,” kataku.
“Aku menang.”
“Kamu menang.”
Mobilnya pergi. Aku berdiri di trotoar, di depan kantorku, dan menatap lampu belakangnya sampai hilang di ujung jalan.
Tukang nasi goreng menatapku. Lalu dia memukul wajannya sekali. Keras. Seperti tepuk tangan.
Aku mengacungkan jempol padanya. Lalu masuk ke dalam kantor, naik ke atap, dan duduk sendirian di kursi plastik hijau, di bawah lampu tumbler yang masih menyala.
Hutang pertama lunas.
Tinggal satu lagi. Sepuluh detik. Dan aku sudah tahu di mana aku akan membayarnya.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap reading
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi