Chapter Thirty Two

Bimo Keceplosan

POV: Devan

Menara Saheila berdiri di Jalan Sudirman, dua puluh delapan lantai kaca biru yang memantulkan langit Jakarta, dengan logo huruf S besar berwarna emas di puncaknya. Aku sudah ratusan kali melewatinya. Dari bus, dari taksi, dari motor. Tiga tahun lalu, waktu Lintas masih cuma ide di atas kertas bekas di atap ruko, Bimo dan aku pernah berdiri di trotoar di seberang gedung ini, menatap logo emas itu, dan Bimo bilang, suatu hari kita presentasi di dalam situ.

Hari ini, jam sembilan lewat empat puluh, kami berjalan masuk ke lobinya.

Bimo memakai kemeja navy ukuran L yang dibelikan Nabila, dan dia terus menyentuh kancingnya seperti memastikan semuanya masih terpasang. Rara membawa laptop cadangan dan wajah yang pucat. Aku memakai jas hitam yang sama dengan hari launching. Kacamata yang sama. Dan jantung yang berdetak dengan ritme yang sama seperti di meja nomor tujuh, lima minggu lalu.

Tidak. Tujuh minggu. Aku sudah berhenti menghitung minggu.

“Dev,” bisik Bimo di lift. “Kamu udah bilang ke Nabila soal rapat ini?”

“Udah.”

“Dan dia bilang?”

Aku memikirkan pesan terakhir Nabila tadi pagi, jam enam lewat sepuluh. Foto selfie di depan cermin kamar mandinya, dengan rambut basah, tanpa riasan, dengan mata yang jelas kurang tidur. Dia tetap cantik. Cantik yang lelah dan cemas dan sangat jujur, cantik yang membuatku ingin langsung menyetir ke Pondok Indah dan memeluknya sampai kecemasannya hilang. Di bawah fotonya, dia menulis:

Semangat, Pak CEO. Aku cinta kamu. Kenzo belum keluar kamar dari semalam. Pintunya ada tulisan LAPORAN AKHIR. Aku takut.

“Dia bilang semangat,” kataku ke Bimo.

“Cuma itu?”

“Dan dia takut soal Kenzo.”

Bimo menatapku. “Kenzo yang juara lomba itu? Yang catatan buktinya udah tiga puluhan?”

“Yang itu.”

“Kenapa takut?”

Aku tidak sempat menjawab. Pintu lift terbuka di lantai dua puluh enam, dan seorang pria paruh baya dengan kemeja batik dan wajah lelah menyambut kami dengan tangan terulur.

“Selamat pagi. Saya Wahyu, direktur operasional. Terima kasih banyak sudah datang.” Dia menjabat tanganku dengan kedua tangan, erat dan lama. “Saya harus berterima kasih langsung. Malam Sabtu itu, kalau bukan karena tim kalian...”

“Tim kami senang bisa bantu, Pak.”

“Pak Hendra sebentar lagi datang. Silakan.”

Dia mengantar kami ke ruang rapat besar dengan jendela kaca dari lantai sampai langit-langit dan pemandangan ke seluruh Sudirman. Meja panjang dari kayu jati. Kursi kulit hitam. Proyektor. Di ujung meja, satu kursi yang lebih tinggi dari yang lain.

Aku duduk di sisi yang berhadapan dengan kursi itu. Bimo di sebelah kiriku. Rara di sebelah kanan.

Jam sepuluh lewat dua menit, pintu ruang rapat terbuka.


Papa Nabila masuk dengan setelan jas abu-abu gelap, kacamata baca di saku, dan map kulit di tangan. Diikuti dua orang direktur dan seorang sekretaris.

Dia berjalan ke kursi di ujung meja. Menarik kursinya. Duduk. Membuka map kulitnya. Lalu, akhirnya, mengangkat wajahnya dan menatap ke seberang meja.

Ke arahku.

Dia berhenti bergerak.

Tangannya, yang sedang membuka halaman pertama map, berhenti di tengah jalan. Kacamata baca yang setengah dia keluarkan dari saku, berhenti. Wajahnya, yang biasanya datar, tidak berubah. Tapi matanya berubah. Aku melihatnya. Sesuatu di balik matanya berhenti sepenuhnya, seperti mesin yang tiba-tiba dimatikan.

Seluruh ruangan hening. Pak Wahyu menatap Papa Nabila dengan bingung. Dua direktur di sebelahnya saling melirik.

Aku menatap balik. Aku tidak berkedip.

Dan Bimo, sahabatku sejak semester satu, CTO Lintas, orang paling jenius dan paling dramatis yang pernah kukenal, yang jelas-jelas panik melihat keheningan itu dan merasa harus mengisinya dengan sesuatu, berdiri dari kursinya.

“Selamat pagi, Pak!” katanya dengan suara yang terlalu keras. “Perkenalkan, ini Devan! Pacar anak Bapak! Eh!”

Dia berhenti. Wajahnya memucat.

“Maksud saya, CEO kami!” lanjutnya, lebih keras dan lebih panik. “CEO! Bukan pacar! Eh, pacar juga! Dua-duanya! Dia dua-duanya, Pak!”

Hening.

Hening yang begitu total sampai aku bisa mendengar bunyi AC. Bunyi klakson dari Sudirman di bawah sana, dua puluh enam lantai jauhnya. Bunyi napas Rara yang berhenti di sebelahku.

Pak Wahyu menatap Bimo. Lalu menatapku. Lalu menatap Papa Nabila. Mulutnya terbuka pelan-pelan, seperti orang yang baru menyadari sesuatu yang sangat besar.

Bimo duduk kembali di kursinya dengan gerakan yang sangat pelan. Dia menatap meja. Lalu dia berbisik, cukup pelan untuk kudengar dan cukup keras untuk didengar seluruh ruangan:

“Aku mau pindah negara.”


Papa Nabila tidak bicara selama sepuluh detik.

Aku tahu, karena aku menghitungnya. Tanpa sadar. Seperti Nabila menghitung di meja nomor tujuh.

Satu. Dia menatapku.

Dua. Tangannya masih diam di atas map.

Tiga. Empat. Lima. Tidak ada yang bergerak di ruangan itu. Sekretaris di belakangnya berhenti mengetik. Dua direktur berhenti bernapas.

Enam. Tujuh. Matanya bergerak. Dari wajahku ke laptopku. Ke logo LINTAS di layar proyektor di belakangku. Kembali ke wajahku.

Delapan. Sembilan.

Aku melihat sesuatu di wajahnya. Sangat samar. Sangat cepat. Di sudut bibirnya, di bawah kumisnya yang rapi, sesuatu bergerak sedikit. Lalu hilang.

Sepuluh.

“Silakan mulai,” kata Papa Nabila.

Dan dia mengeluarkan kacamata bacanya dari saku, memakainya, dan membuka halaman pertama map kulitnya, seolah tidak ada yang terjadi.


Aku presentasi selama empat puluh menit.

Aku tidak tahu bagaimana caranya. Kepalaku penuh dengan suara Bimo, dia dua-duanya, Pak, dan wajah Papa Nabila, dan sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun. Tapi begitu aku berdiri dan klik presentasi ada di tanganku, sesuatu di dalam diriku berubah. Seperti waktu layar merah ERROR 502 muncul di launching. Seperti waktu malam truk tertahan, di meja makan sepuluh meter.

Aku berhenti jadi pacar yang ketahuan. Aku jadi orang yang tahu apa yang dia bicarakan.

Aku menunjukkan data dari malam Sabtu. Empat ratus dua belas truk. Seribu dua ratus toko. Rute yang berubah empat puluh tujuh kali dalam empat jam karena laporan banjir dari kurir-kurir kami. Lalu aku menunjukkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang kurancang sejak subuh hari Minggu, di kontrakanku di Cawang, sambil makan sisa rendang.

Sistem jangka panjang. Bukan cuma pengganti vendor yang servernya mati. Sistem yang menghubungkan armada Saheila Group dengan jaringan kurir kecil Lintas di kota-kota kecil. Truk-truk besar Saheila mengantar ke gudang-gudang kecil di Tasikmalaya, Purwokerto, Madiun. Dari situ, kurir-kurir seperti Pak Slamet mengantar ke warung-warung dan toko-toko yang terlalu kecil untuk didatangi truk besar.

“Bapak dapat jangkauan ke kota-kota kecil tanpa beli truk baru,” kataku. “Kurir kami dapat pekerjaan tetap. Warung-warung kecil dapat barang lebih cepat dan lebih murah.”

Aku menunjukkan angka. Aku menunjukkan proyeksi. Aku menunjukkan risiko, dan cara mengatasinya.

Papa Nabila bertanya sebelas pertanyaan. Semuanya tajam. Semuanya soal kelemahan. Soal apa yang terjadi kalau kurir kecil tidak bisa diandalkan. Soal siapa yang bertanggung jawab kalau barang rusak. Soal kenapa Saheila Group harus percaya pada perusahaan yang baru berumur tiga tahun dan kantornya di ruko Tebet.

Aku menjawab semuanya. Tanpa melihat catatan. Tanpa ragu.

Lalu, di pertanyaan kedua belas, dia melepas kacamata bacanya dan menatapku langsung.

“Harga,” katanya. “Kamu kasih harga berapa?”

Aku menatapnya. Lalu aku melakukan sesuatu yang membuat Bimo, di sebelahku, hampir tersedak ludahnya sendiri.

“Bapak,” kataku. “Sebelum saya jawab soal harga, saya mau bilang satu hal.”

Papa Nabila menunggu.

“Kalau Bapak merasa kerja sama ini jadi nggak adil karena hubungan pribadi saya dengan keluarga Bapak, saya mundur dari negosiasi. Hari ini. Bimo yang pegang. Bimo, CTO kami, yang akan menentukan harga dan syarat. Saya nggak akan ikut campur sama sekali.”

Hening.

Bimo menoleh padaku dengan wajah horor. Aku? katanya tanpa suara.

“Dan kalau Bapak memutuskan nggak mau kerja sama sama sekali karena hal itu,” lanjutku, “saya ngerti. Lintas akan tetap berterima kasih atas kesempatan presentasi hari ini.”

Papa Nabila menatapku lama.

“Kenapa kamu nggak bilang malam itu?” tanyanya. Pelan. Hanya untukku, meskipun seluruh ruangan mendengarnya. “Malam Sabtu. Saya nanya siapa tim kamu. Kamu bilang tim yang bagus.”

“Karena saya nggak mau Bapak merasa berutang sama saya.”

“Kenapa?”

Aku menatapnya. Aku memikirkan dapur rumahnya jam enam pagi, cahaya subuh, Nabila di pelukanku dengan kebaya champagne yang kusut.

“Karena kalau suatu hari Bapak menerima saya,” kataku, “saya mau Bapak menerima saya karena saya. Bukan karena empat ratus dua belas truk.”

Papa Nabila tidak menjawab.

Dia menutup map kulitnya. Pelan. Memasukkan kacamata bacanya kembali ke saku. Lalu dia menoleh ke Pak Wahyu.

“Pak Wahyu. Tim legal. Siapkan draf kerja sama. Negosiasi harga dengan...” Dia melirik Bimo. “Dengan CTO mereka.”

“Baik, Pak,” kata Pak Wahyu dengan suara lemah.

Papa Nabila berdiri. Merapikan jasnya. Dan berjalan ke arah pintu. Di ambang pintu, dia berhenti. Tanpa menoleh.

“Devan.”

“Iya, Pak.”

“Makan malam. Rumah. Jam tujuh.”

“Pak, boleh saya minta waktu sebentar sebelum...”

“Jam tujuh,” ulangnya.

Dan dia pergi.


Bimo tidak bicara sampai kami di mobil. Lalu dia menutup pintu, menatap lurus ke depan, dan berkata dengan suara yang sangat pelan:

“Aku minta maaf.”

“Nggak apa-apa, Bim.”

“Aku bilang pacar anak Bapak. Di depan direktur-direkturnya. Di rapat paling penting dalam sejarah perusahaan kita.”

“Aku tahu.”

“Aku panik. Dia diem. Aku nggak kuat sama orang yang diem.”

“Aku tahu, Bim.”

Bimo menoleh padaku. Matanya berkaca-kaca. “Dev. Kamu nyerahin negosiasi terbesar kita ke aku. Aku yang nangis kalau sedotan jatuh.”

“Kamu bakal baik-baik aja.”

“Kenapa kamu nggak marah?”

Aku menatap gedung Menara Saheila di balik kaca mobil. Logo huruf S emas di puncaknya, berkilau di bawah matahari siang.

“Karena kamu cuma ngomong duluan,” kataku. “Aku emang mau bilang hari ini. Kamu cuma lebih cepat.”

HP-ku bergetar. Nabila.

Gimana??? Udah? Papa bilang apa???

Aku mengetik: Papa kamu udah tahu. Bimo keceplosan. Papa kamu nyuruh aku makan malam di rumah jam tujuh.

Lama tidak ada balasan. Lalu:

Jam tujuh itu makan malam keluarga. Hari Kamis. Semua datang. Tante Rini, Om Bram, Oma.

Lalu:

Kenzo juga.

Aku menatap pesan itu lama.

Aku datang, ketikku. Aku bakal bilang semuanya. Di depan semua orang. Sebelum Kenzo.

Kamu yakin?

Aku yakin, Sayang.

Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Aku cinta kamu. Apa pun yang terjadi malam ini.

Aku juga. Apa pun.


Jam tujuh kurang lima, aku berdiri di depan pintu ruang sidang.

Aku masih memakai jas hitam dari rapat tadi pagi. Aku tidak sempat ganti. Di tanganku, sebuah kotak kue dari toko kue di Kemang, karena Mama Nabila pernah bilang dia suka lapis legit, dan karena aku tidak tahu harus membawa apa ke makan malam di mana aku akan mengaku bahwa aku telah membohongi seluruh keluarga selama tujuh minggu.

Nabila membuka pintu.

Dia memakai dress biru muda. Tentu saja. Rambutnya digerai. Wajahnya pucat, tapi dia tersenyum waktu melihatku. Senyum kecil yang gemetar di ujungnya. Dan meskipun wajahnya pucat dan senyumnya gemetar, dia berdiri di ambang pintu ruang sidang dengan punggung tegak dan dagu terangkat, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak lari.

Dia cantik. Cantik yang berani. Aku tidak pernah melihatnya lebih cantik dari itu.

“Hai,” katanya.

“Hai. Kamu cantik.”

“Jangan sekarang. Aku mau pingsan.” Tapi telinganya merah. “Semua udah di dalam.”

“Kenzo?”

“Di ujung meja. Bawa map.”

“Map?”

“Map plastik. Warna merah.”

Aku menarik napas. Dia meraih tanganku. Menggenggamnya. Dingin, dan sedikit berkeringat.

“Bareng,” katanya.

“Bareng.”

Kami masuk.


Ruang sidang penuh. Papa Nabila di kepala meja, dengan kemeja batik cokelat dan wajah yang tidak bisa dibaca. Mama Nabila di sebelah kanannya, tersenyum hangat waktu melihatku, Nak Devan, sini, duduk. Tante Rini dan Om Bram di tengah. Oma di kursi rodanya, dengan radio Opa di pangkuan. Bi Inah berdiri di pintu dapur.

Dan di ujung meja, Kenzo.

Duduk tegak. Dengan kemeja putih yang dikancing sampai leher. Dengan map plastik merah di depannya, di atas meja, di sebelah piringnya yang kosong.

Dia menatapku waktu aku masuk. Tidak tersenyum. Tidak cemberut. Cuma menatap, dengan mata yang sama persis seperti mata Papanya.

Aku duduk di kursi di sebelah Nabila. Di bawah meja, tangannya masih menggenggam tanganku.

Mama Nabila mulai menyendok nasi. Tante Rini mulai bicara soal katering resepsi Mbak Kinan yang menurutnya masih kurang garam. Om Bram menceritakan skor golfnya yang turun lagi sejak aku tidak ikut main. Semuanya normal. Semuanya hangat.

Papa Nabila tidak bicara. Dia makan dengan pelan, dan sesekali menatapku.

Aku menunggu lima menit. Sepuluh menit. Sampai piring semua orang terisi dan suara sendok mulai tenang.

Lalu aku meletakkan sendokku. Dan berdiri.

“Om, Tante, Oma,” kataku. “Maaf. Saya mau bilang sesuatu.”

Semua orang menoleh. Tante Rini berhenti di tengah kalimat. Om Bram berhenti mengunyah. Mama Nabila meletakkan sendok nasinya.

Papa Nabila menatapku dari kepala meja. Diam.

Aku menarik napas. Nabila meremas tanganku di bawah meja.

“Saya cinta Nabila,” kataku. “Itu yang paling penting, dan itu yang pertama mau saya bilang. Saya cinta dia. Beneran. Dan karena saya cinta dia, saya harus jujur sama keluarga ini soal dua hal. Yang pertama, soal pekerjaan saya. Yang kedua...”

Kursi di ujung meja bergeser.

Kenzo berdiri.

Semua orang menoleh ke arahnya. Aku berhenti bicara.

Kenzo tidak berkata apa-apa. Dia membuka map plastik merah di depannya. Mengeluarkan dua benda. Selembar kertas HVS yang dicetak. Dan sesuatu yang terbungkus plastik tebal dan berkilau.

Dia berjalan ke tengah meja. Pelan. Setiap langkahnya terdengar di ruang sidang yang tiba-tiba sunyi. Lalu dia meletakkan kedua benda itu di tengah meja makan, di antara mangkuk rendang dan piring kerupuk. Di tempat yang bisa dilihat semua orang.

Kertas HVS itu adalah cetakan artikel. Dengan foto laki-laki berjas hitam di atas panggung. Dengan judul besar di atasnya: CEO Startup Logistik Lintas Ungkap Pacarnya di Barisan Depan.

Dan benda yang terbungkus plastik itu adalah kontrak laminasi.

PERJANJIAN KERJA SAMA.

Dengan sebelas pasal. Dengan tanda tangan Nabila di kiri, tanda tanganku di kanan, dan tanda tangan Mas Jaka dengan bentuk hati sempurna di bawah sebagai saksi. Dengan coretan spidol hitam tebal di pasal empat, setengah dari tangannya dan setengah dari tanganku, yang di tengahnya sedikit bengkok.

Kenzo menatap seluruh meja. Menatap Papanya. Mamanya. Tante Rini. Om Bram. Oma. Nabila. Dan akhirnya, aku.

“Bukti,” katanya.

Lalu dia kembali ke kursinya. Duduk. Melipat tangan di dada.

Tidak ada yang bergerak.

Mama Nabila menatap kontrak laminasi itu. Pelan-pelan, dengan tangan yang sedikit gemetar, dia mengulurkan tangan dan mengambilnya. Membacanya. Aku bisa melihat matanya bergerak dari atas ke bawah. Dari pasal satu. Ke pasal tiga, Cium: DILARANG. Ke pasal empat, dengan coretannya. Ke pasal sembilan, Pihak Kedua dibayar dengan rendang.

Tante Rini mencondongkan badan untuk ikut membaca. Matanya membesar. Mulutnya terbuka.

“Rendang?“ bisiknya.

Lalu matanya turun lagi.

“Pasal sepuluh?“ Suaranya naik satu oktaf. “Pihak Kedua berhak menggombal demi realisme sandiwara?“

Om Bram mengambil cetakan artikel. Membacanya. Menurunkannya pelan-pelan. Menatapku.

“CEO?” katanya. “Caddy saya CEO?”

Oma, dari kursi rodanya, mematikan radio Opa.

Dan Papa Nabila, di kepala meja, tidak bergerak sama sekali. Dia cuma menatap kontrak laminasi di tangan istrinya. Lalu menatapku. Lalu menatap Nabila.

Nabila meremas tanganku di bawah meja begitu keras sampai jari-jariku kebas.

Mama Nabila meletakkan kontrak laminasi itu di meja. Pelan. Dengan hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa meledak.

Lalu dia mengangkat wajahnya. Menatap Nabila. Lalu menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam pertama, tujuh minggu lalu, di ruang sidang yang sama, di meja makan yang sama, Mama Nabila tidak memanggilku Nak Devan.

Dia tidak memanggilku apa-apa.

Dia cuma menatapku. Dengan mata yang berkaca-kaca.

Dan ruang sidang keluarga Saheila jatuh ke dalam hening yang paling panjang yang pernah kurasakan seumur hidupku.