Chapter Ten
Nak Devan
POV: Devan
Pesan itu masuk hari Rabu jam enam pagi, dari nomor yang tidak kusimpan.
Nak Devan, ini Tante Ratna, Mamanya Nabila. Tante dapat nomor kamu dari Kenzo. Hari Minggu kamu kosong? Tante mau masak rendang dari buku Ibu Tante. Resep pertama. Tante mau kamu yang nyicipin pertama kali. Jangan bilang Nabila dulu ya, biar kejutan. 🥰🥰🥰
Aku membacanya di atas kasur, dengan kacamata yang belum kupakai sehingga layarnya harus kudekatkan sampai hampir menyentuh hidung.
Lalu aku membacanya lagi.
Kenzo memberikan nomorku pada Mamanya. Kenzo, yang punya dua puluh bukti tentang betapa mencurigakannya aku. Aku tidak tahu harus merasa tersanjung atau waspada.
Aku membalas: Kosong, Tante. Saya datang jam berapa?
Balasan datang dalam lima detik, seolah Mama Nabila sudah menunggu dengan HP di tangan: Jam 8 pagi! Rendang itu lama, Nak. Harus sabar. Kayak cinta. 😂😂😂
Aku menatap emoji-emoji itu, lalu menutup wajah dengan bantal dan tertawa sampai Bimo, yang semalam menginap di sofa kontrakanku karena kami lembur, melempar sandal ke arahku.
Hari Minggu jam delapan kurang lima, aku berdiri di dapur keluarga Saheila dengan celemek bergambar ayam yang diikatkan Mama Nabila di pinggangku.
Dapur itu lebih besar dari seluruh kontrakanku. Ada dua kompor, satu oven besar, meja marmer di tengah, dan rak bumbu yang isinya lebih banyak dari toko bumbu di pasar dekat rumahku. Di atas meja marmer, buku Dapur Bu Ratmi terbuka di halaman empat puluh tujuh, ditahan dengan dua botol kecap supaya tidak tertutup.
Rendang Padang ala Bu Ratmi.
“Kamu bisa masak, Nak?” tanya Mama Nabila sambil menuang santan ke panci besar.
“Bisa, Tante.”
“Masak apa?”
“Mi instan. Telur ceplok. Nasi goreng, kalau nasinya sisa kemarin.”
Beliau menoleh padaku dengan wajah prihatin, seperti dokter yang baru membaca hasil laboratorium yang buruk. “Nak.”
“Iya, Tante.”
“Itu bukan masak. Itu bertahan hidup.”
“Iya, Tante.”
“Hari ini kamu belajar masak beneran.” Beliau menyodorkan sebuah pisau dan sekeranjang bawang merah. “Kupas. Iris tipis. Jangan sampai nangis, nanti Tante dikira jahat.”
Aku mengupas bawang merah. Aku mengirisnya setipis yang aku bisa. Dan dalam lima menit, mataku berair begitu parah sampai aku harus melepas kacamata dan mengelapnya dengan ujung celemek ayam.
“Kamu nangis,” kata Mama Nabila.
“Bawangnya jahat, Tante.”
“Bawang itu cuma jahat sama orang yang takut sama dia. Kamu harus berani.” Beliau mengambil pisau dari tanganku dan menunjukkan caranya, cepat dan rapi, dengan jari-jari yang melengkung supaya tidak teriris. “Lihat. Kayak gini. Jangan ragu. Bawang tahu kalau kamu ragu.”
Aku memperhatikan dengan serius. Aku mencoba lagi. Irisanku masih tidak serapi irisannya, tapi sedikit lebih baik. Mama Nabila mengangguk puas.
“Kamu cepat belajar,” katanya.
“Tante gurunya bagus.”
“Aduh, aduh.” Beliau menepuk lenganku, hati-hati, karena aku sedang memegang pisau. “Pinter ngomong juga ternyata. Pantes Nabila...” Beliau berhenti. Tersenyum dengan cara yang membuatku curiga. “Ah, sudahlah.”
“Pantes Nabila apa, Tante?”
“Rahasia perempuan.”
Rendang ternyata memang lama. Sangat lama. Dan dalam empat jam berikutnya, aku belajar lebih banyak soal keluarga Saheila daripada yang bisa kupelajari dari peta tisu mana pun.
Aku belajar bahwa Mama Nabila bertemu Papa Nabila di acara pernikahan sepupu, dan bahwa Papa Nabila, yang waktu itu masih muda dan kurus, menabrak meja kue waktu melihatnya lewat, sehingga tiga tingkat kue pengantin nyaris roboh. “Makanya dia sekarang jadi pendiam,” kata Mama Nabila sambil mengaduk santan. “Malu seumur hidup.”
Aku belajar bahwa Kenzo waktu kecil pernah mengunci diri di kamar mandi selama empat jam karena ingin tahu rasanya jadi tahanan.
Dan aku belajar tentang Nabila.
“Waktu kecil dia takut gelap,” kata Mama Nabila, sambil memasukkan daging ke dalam santan yang sudah mendidih. “Tapi dia nggak mau ngaku. Jadi tiap malam dia pura-pura haus, turun ke dapur, minum air, terus naik lagi. Lima kali semalam. Dia pikir Tante nggak tahu.”
“Dia pintar menyembunyikan hal.”
“Dia pikir dia pintar.” Mama Nabila tertawa. “Itu anak paling gampang ditebak sedunia. Kalau bohong, telinganya merah. Kalau gugup, dia gigit sesuatu. Kalau senang, dia nyanyi-nyanyi nggak jelas. Kalau sedih, dia bersih-bersih kamar.”
Aku mencatat semuanya di kepalaku. Aku sudah tahu soal menggigit sedotan. Aku belum tahu soal telinga merah. Aku memikirkan semua momen di mana telinga Nabila merah minggu lalu, dan tiba-tiba aku tidak yakin lagi mana yang bohong dan mana yang bukan.
“Terus,” kataku, sebelum otakku sempat mencegah, “Nabila kalau tidur pasti nendang ya, Tante?”
Mama Nabila berhenti mengaduk. Menoleh padaku dengan mata membesar.
“Kok tahu?”
“DIA NEBAK!”
Suara itu datang dari ambang pintu dapur.
Aku menoleh. Nabila berdiri di sana, dengan piyama bergambar awan dan rambut yang dikuncir asal, jelas baru bangun tidur. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas kurang seperempat. Wajahnya merah padam, dari dahi sampai leher, dan telinganya, aku sekarang tahu apa artinya, merah menyala.
“Dia nebak, Ma,” ulang Nabila, berjalan masuk dengan langkah cepat. “Dia nebak. Kita belum pernah... Dia nggak mungkin tahu... Dia NEBAK.”
“Tante nggak bilang apa-apa, Nak,” kata Mama Nabila dengan wajah polos yang sama sekali tidak polos.
“Aku cuma nebak,” kataku. “Soalnya orang yang takut gelap waktu kecil biasanya gelisah kalau tidur.”
Nabila berhenti. Menatap Mamanya. “Mama cerita soal takut gelap?”
“Ups,” kata Mama Nabila, dan kembali mengaduk rendang dengan penuh konsentrasi.
“MAMA.“
“Tante cuma cerita dikit, Nak. Dikit banget.”
“Apa aja?”
“Takut gelap. Pura-pura haus. Telinga merah kalau bohong.”
Nabila langsung menutup kedua telinganya dengan tangan. Lalu, sadar bahwa itu justru membuktikan semuanya, dia menurunkan tangannya lagi, dan telinganya ternyata sudah lebih merah dari sebelumnya.
Aku berusaha keras untuk tidak tertawa. Aku gagal. Aku menunduk ke keranjang bawang, pundakku bergetar, dan Nabila melemparku dengan serbet dapur.
“Kamu ngapain di sini?!” tanyanya. “Pagi-pagi?! Di dapur Mama?!”
“Diundang Mama kamu.”
“Kenapa aku nggak dikasih tahu?”
“Katanya kejutan.”
“Ini bukan kejutan, ini penyerangan!”
Lalu dia menatapku dari atas ke bawah. Ke celemek bergambar ayam. Ke mataku yang masih merah karena bawang. Ke tanganku yang memegang pisau dan sebutir bawang merah yang setengah terkupas.
Dan sesuatu di wajahnya berubah. Kemarahannya mencair jadi sesuatu yang lebih lembut. Bibirnya berkedut, menahan senyum.
“Kamu pakai celemek ayam,” katanya.
“Mama kamu yang pilih.”
“Itu celemek Kenzo waktu SD.”
Aku menatap Mama Nabila. Mama Nabila terus mengaduk rendang, bersenandung pelan, dan sama sekali tidak menoleh.
Nabila akhirnya ikut memasak, setelah mandi dan berganti baju. Dia kembali dengan kaus longgar warna abu-abu dan celana pendek, rambut basah digelung di atas kepala dengan handuk kecil yang dia lepas di tengah jalan. Mama Nabila memberinya tugas memarut kelapa untuk kerisik, dan dia mengerjakannya di sebelahku, di meja marmer, dengan siku yang sesekali bersenggolan dengan sikuku.
Aku tidak bisa berkonsentrasi pada bawang.
Aku mencoba. Sungguh. Tapi di sebelahku ada Nabila, dengan rambut setengah basah yang meneteskan air ke bahunya, memarut kelapa dengan serius sambil bersenandung lagu yang sama seperti yang dia senandungkan di trotoar Kemang minggu lalu. Kalau senang, dia nyanyi-nyanyi nggak jelas, kata Mamanya tadi. Aku tidak tahu apa yang membuatnya senang pagi ini. Aku tidak berani menebak.
Di tengah memarut, sejumput parutan kelapa melompat dan menempel di ujung hidungnya. Dia tidak sadar. Dia terus memarut dengan wajah serius, dengan kelapa putih kecil di ujung hidungnya yang sedikit terangkat, dan cahaya siang dari jendela dapur jatuh di sisi wajahnya, membuat bulu matanya kelihatan lebih panjang dan kulitnya kelihatan seperti dibalut madu.
Aku berhenti mengiris.
Aku tahu ini berlebihan. Seorang perempuan dengan parutan kelapa di hidung, di dapur yang panas dan berbau bawang dan santan. Bukan pemandangan yang biasanya ditulis di puisi. Tapi aku berdiri di situ, dengan celemek ayam milik Kenzo waktu SD, dan berpikir bahwa aku tidak pernah melihat sesuatu yang secantik itu.
“Apa?” tanyanya, menyadari aku menatap.
“Hidung kamu.”
“Kenapa hidung aku?”
Aku mengangkat tangan dan mengambil parutan kelapa itu dari ujung hidungnya dengan ujung jari. Pelan. Hanya sepersekian detik.
Dia membeku. Aku juga.
Di belakang kami, Mama Nabila berhenti bersenandung.
“Kelapa,” kataku, menunjukkan parutan itu di ujung jariku sebagai bukti.
“Oh,” kata Nabila. Suaranya kecil. “Makasih.”
“Sama-sama.”
Kami kembali bekerja. Aku mengiris bawang. Dia memarut kelapa. Tidak ada yang bicara. Tapi sikunya berhenti bersenggolan dengan sikuku, karena sekarang dia berdiri sepuluh senti lebih jauh, dan telinganya merah lagi, dan aku tidak tahu apakah itu artinya dia berbohong soal sesuatu atau dia cuma... merah.
Di belakang kami, Mama Nabila mulai bersenandung lagi. Lebih keras. Dengan nada yang terdengar sangat, sangat puas.
Papa Nabila masuk ke dapur jam satu siang, dengan kaus polo dan koran di tangan, jelas tertarik oleh bau rendang yang sudah memenuhi seluruh rumah.
Dia berhenti di ambang pintu. Menatap istrinya yang sedang mengaduk. Menatap anak perempuannya yang sedang menyangrai kelapa. Menatapku, dengan celemek ayam, mata merah, dan wajan kecil berisi bumbu halus di tangan.
“Hm,” katanya.
“Nak Devan bantuin masak, Pa,” kata Mama Nabila tanpa menoleh.
“Saya lihat.”
“Dia cepat belajar.”
“Hm.”
Papa Nabila berjalan ke kulkas, mengambil sebotol air dingin, lalu berdiri di dekat jendela sambil membaca koran. Tapi dia tidak membuka halaman korannya sama sekali selama sepuluh menit. Aku tahu, karena aku terus meliriknya. Halaman yang dia pegang adalah halaman iklan properti, dan dia menatapnya seolah itu berita paling penting sedunia.
Nabila, yang sedang menyangrai kelapa di sebelahku, berbisik tanpa menggerakkan bibir, “Papa ngawasin kamu.”
“Aku tahu,” bisikku balik.
“Jangan bikin salah.”
“Aku lagi pegang bumbu rendang. Salah apa yang bisa aku bikin?”
Dia melirik ke tanganku. Ke wajan bumbu yang aku pegang dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang spatula. Lalu dia melirik ke meja marmer, di mana satu sendok gula merah yang seharusnya masuk ke wajan masih tergeletak di piring kecil.
“Gula merahnya belum masuk,” bisiknya.
Aku melihat resep. Melihat wajan. Melihat gula merah. Dia benar. Aku menuangnya, pelan-pelan, sambil mengaduk.
“Makasih,” bisikku.
“Sama-sama,” bisiknya. “Kita impas.”
“Impas soal apa?”
“Kelapa.”
Di dekat jendela, Papa Nabila berdeham. Satu kali.
Kami berdua langsung menegakkan punggung dan kembali bekerja dengan kecepatan penuh. Mama Nabila tertawa kecil. Dan dari sudut mataku, aku melihat Papa Nabila akhirnya membalik halaman korannya, dengan sudut bibir yang, lagi-lagi, sedikit terangkat.
Rendang itu selesai jam tiga sore, dan rasanya luar biasa.
Aku tidak melebih-lebihkan. Aku pernah makan rendang di restoran Padang terkenal, di warung pinggir jalan, di acara kondangan. Tapi rendang Bu Ratmi, yang dimasak dengan buku resep yang dijilid ulang dan diaduk bergantian oleh tiga orang selama tujuh jam, rasanya seperti sesuatu yang punya ingatan. Pedasnya pelan, gurihnya dalam, dan ada rasa manis samar di ujung lidah yang tidak bisa kujelaskan.
Mama Nabila mencicipinya, lalu diam lama. Matanya berkaca-kaca.
“Ini rasa Ibu,” katanya pelan. “Ini persis rasa Ibu.”
Nabila memeluk Mamanya dari samping. Papa Nabila, yang sudah menyerah pura-pura membaca koran, berdiri di belakang mereka berdua dan menaruh tangannya di bahu istrinya. Dan aku berdiri di ujung meja marmer, dengan celemek ayam yang sekarang penuh noda santan dan cabai, menatap tiga orang itu, dan merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.
Bukan sedih. Bukan juga senang, persisnya.
Lebih seperti rindu. Rindu pada sesuatu yang tidak pernah kumiliki, tapi baru sekarang aku sadar aku menginginkannya.
Aku pulang jam lima sore, membawa rantang tiga susun berisi rendang yang cukup untuk makan seminggu. Mama Nabila memaksaku membawanya. Katanya itu bayaran untuk bawang-bawang yang membuatku menangis.
Nabila mengantarku sampai pagar.
“Kontrak pasal sembilan,” katanya, menunjuk rantang di tanganku. “Dibayar pakai rendang. Lunas.”
“Ini baru cicilan pertama.”
“Kamu mau cicilan?”
“Rendangnya enak banget. Aku mau dicicil seumur hidup.”
Aku mengatakannya tanpa berpikir. Kalimat itu keluar begitu saja, seperti parutan kelapa yang melompat dari parutan.
Nabila menatapku. Telinganya merah. Mulutnya terbuka, lalu tertutup.
“Pasal sepuluh,” kataku cepat. “Gombal demi realisme.”
“Nggak ada keluarga aku di sini.”
“Satpam kamu lagi lihat.”
Dia menoleh ke pos satpam. Pak satpam, yang memang sedang melihat ke arah kami, langsung pura-pura membaca buku tamu.
Nabila kembali menatapku. Dia menggigit bibir bawahnya. Kalau gugup, dia gigit sesuatu, kata Mamanya.
“Hati-hati di jalan,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Rantangnya balikin minggu depan.”
“Iya.”
“Jangan dikasih ke Bimo semua.”
“Nggak janji.”
Dia tertawa kecil. Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke rumah, dengan langkah yang sedikit terlalu cepat, dan aku mendengarnya bersenandung. Lagu yang sama. Lagu yang tidak kukenal.
Kalau senang, dia nyanyi-nyanyi nggak jelas.
Malamnya, di kontrakanku di Cawang, aku duduk di lantai dengan sepiring nasi dan rendang, dan menelepon Ibu.
Ibu mengangkat di dering pertama, seperti biasa. Suaranya hangat dan sedikit serak, suara guru SD yang sudah pensiun tapi masih suka menegur murid-murid lewat telepon.
“Tumben kamu telepon hari Minggu. Biasanya sibuk.”
“Aku lagi makan rendang, Bu.”
“Rendang dari mana? Kamu nggak bisa masak.”
“Aku bantuin masak tadi.”
Hening sebentar. “Bantuin siapa?”
Aku menatap rendang di piringku. Menatap rantang tiga susun di atas meja kecilku, dengan tutupnya yang bergambar bunga-bunga.
“Mamanya seseorang,” kataku.
Ibu diam lebih lama. Lalu aku mendengar tawanya, pelan dan penuh arti, tawa yang sama seperti waktu dia menangkap basah aku menyembunyikan rapor merah di bawah kasur waktu SMP.
“Seseorang siapa, Nak?”
“Klien, Bu.”
“Klien?”
“Iya. Klien.”
“Kamu masak rendang tujuh jam di rumah klien?”
“Iya, Bu.”
Ibu tertawa lagi, lebih keras. “Devan, Devan. Ibu guru SD tiga puluh tahun. Ibu tahu bedanya murid yang bohong sama murid yang lagi jatuh cinta.”
“Ibu...”
“Makan rendangnya. Habisin. Terus kalau udah siap, kenalin kliennya ke Ibu.”
Dia menutup telepon sebelum aku sempat membantah.
Aku duduk di lantai kontrakanku yang sempit, dengan piring rendang di pangkuan dan HP di tangan, dan menatap langit-langit yang ada bekas bocornya di pojok.
Lalu aku membuka galeri HP-ku. Folder Bukti Aku Nggak Salah Pilih. Sekarang isinya dua foto. Nabila di tempat fotokopi. Dan satu lagi yang kuambil diam-diam tadi siang: Nabila dengan parutan kelapa di ujung hidung, sedang memarut dengan serius, dengan cahaya jendela dapur di wajahnya.
Aku menatap foto itu lama.
Pasal empat. Dilarang baper. Untuk para pihak.
Aku menyuap rendang, mengunyahnya pelan-pelan, dan membiarkan rasa pedasnya yang lambat memenuhi mulutku.
Aku tidak mau cuma pura-pura jadi bagian dari keluarga itu. Aku mau jadi bagian dari keluarga itu sungguhan. Aku mau duduk di dapur itu setiap hari Minggu, dengan celemek ayam, dikomentari soal bawang dan dilempar serbet.
Dan aku mau dia. Nabila. Bukan sebagai klien.
Aku tidak mengatakannya keras-keras. Tidak ada yang mendengar. Tapi di kontrakan kecil di Cawang, dengan rendang di pangkuan dan foto di layar HP, aku akhirnya mengakuinya pada diriku sendiri.
Aku sudah melanggar pasal empat.
Dan kontraknya belum berumur dua minggu.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan reading
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi