Chapter Sixteen
Gerald Mampir
POV: Devan
Pertama kali aku melihat mereka, aku sedang membawa dua gelas kopi.
Hari Rabu, jam dua belas siang. Aku punya satu jam kosong di antara dua rapat, dan kantor Nabila di Kuningan cuma dua puluh menit naik motor dari kantorku. Aku tidak mengabarinya. Aku mau memberi kejutan. Aku membeli oat latte less sugar dari kedai kopi di lobi gedungnya, dan kopi hitam tanpa gula untuk diriku sendiri, lalu berjalan ke arah kafetaria lantai dasar, tempat dia bilang biasanya makan siang.
Dia ada di sana. Duduk di meja dekat jendela.
Dengan Gerald.
Mereka sedang tertawa. Gerald mengatakan sesuatu sambil menggerak-gerakkan tangannya dengan panik, dan Nabila tertawa sampai harus menutup mulut. Lalu Nabila mengatakan sesuatu, dan Gerald menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan telinganya merah.
Aku berdiri di tengah kafetaria dengan dua gelas kopi. Seorang office boy lewat dan hampir menabrakku.
Aku berbalik. Berjalan keluar. Memberikan oat latte itu ke satpam di lobi, yang menerimanya dengan bingung, dan menghabiskan kopi hitamku di atas motor, di parkiran, sendirian, dalam lima tegukan.
Kopinya pahit. Lebih pahit dari biasanya.
“Kamu cemburu,” kata Bimo.
“Aku nggak cemburu.”
“Kamu ngasih latte ke satpam.”
“Satpamnya kelihatan haus.”
“Kamu nulis ulang fungsi yang sama tiga kali dari tadi pagi. Tiga kali. Dan tiga-tiganya salah.”
Aku menatap layar. Dia benar. Fungsi itu salah. Tiga-tiganya.
Aku menghapusnya. Menulisnya lagi. Salah lagi.
“Mungkin mereka cuma temenan,” kata Bimo, dengan nada yang terlalu lembut untuk dia.
“Mungkin.”
“Gerald kan yang dijodohin sama dia. Yang dia nggak mau.”
“Iya.”
“Jadi nggak ada apa-apa.”
“Iya.”
Bimo menatapku lama. “Dev. Kamu bilang iya tiga kali pakai nada yang sama kayak orang bilang iya ke dokter yang ngasih tahu dia harus operasi.”
Aku menutup laptop.
Masalahnya bukan Gerald. Gerald bukan orang jahat. Gerald bahkan cukup menyenangkan, setelah dia berhenti membahas margin. Dia sudah mengirimiku tiga pesan sejak makan malam pertama, semuanya soal gerbang servis dan hub mini, dan dia selalu mengakhirinya dengan terima kasih banyak, Mas Devan.
Masalahnya adalah Gerald punya sesuatu yang tidak kupunya.
Gerald tidak perlu pura-pura. Kalau Nabila berubah pikiran, kalau perjodohan itu dilanjutkan, Gerald tidak perlu kontrak laminasi. Gerald tidak perlu menulis pasal sepuluh supaya boleh menggombal. Gerald cuma perlu jadi Gerald, anak keluarga Wiranata, yang dijodohkan secara resmi dengan persetujuan kedua orang tua.
Dan aku cuma cowok random dari kafe. Yang kontraknya berakhir otomatis saat perjodohan resmi dibatalkan.
“Hari Sabtu ada gala,” kataku.
“Gala apa?”
“Gala amal. Saheila Group sama Wiranata Properti. Nabila minta aku datang.”
“Terus?”
“Gerald pasti datang.”
Bimo menatapku. Lalu dia mengambil HP-nya dan mengetik sesuatu.
“Kamu ngapain?”
“Nyewain kamu jas,” katanya. “Jas yang bagus. Yang pas. Yang bikin Gerald kelihatan kayak satpam.”
Jas itu hitam, pas di bahu, dan tidak berbunyi kreeek sama sekali. Bimo menyewanya dari seorang teman yang punya butik di Blok M, dengan harga yang membuatku meringis dan dengan syarat aku tidak boleh menumpahkan apa pun ke atasnya.
Gala diadakan di ballroom sebuah hotel di Senayan. Lampu kristal. Karpet merah. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan bunga lili. Dua ratus orang berpakaian formal yang semuanya kelihatan seperti pernah muncul di majalah bisnis.
Aku menunggu Nabila di lobi, karena dia datang bersama keluarganya.
Lalu pintu lift terbuka.
Dia memakai gaun hitam. Sederhana, tanpa hiasan, dengan potongan lurus yang jatuh sampai mata kaki dan lengan panjang dari bahan tipis yang sedikit transparan. Rambutnya digerai, bergelombang lembut, disibakkan ke satu sisi sehingga satu bahunya tertutup rambut dan yang lainnya tidak. Anting mutiara kecil. Bibir merah tua, warna yang sama dengan gaun marun di malam pertama kami.
Di lobi yang dipenuhi orang-orang dengan jas mahal dan gaun berpayet, dia satu-satunya yang memakai sesuatu sesederhana itu. Dan dia satu-satunya yang membuat seluruh lobi menoleh.
Aku sudah melihatnya dengan gaun merah marun, dress biru muda, kaus kebesaran, piyama awan, dan kemejaku. Aku pikir aku sudah kebal. Aku pikir setelah empat minggu, jantungku sudah belajar cara berdetak dengan normal di dekatnya.
Aku salah. Jantungku tidak belajar apa-apa.
Dia melihatku. Berhenti di pintu lift. Matanya turun ke jasku, naik lagi ke wajahku, dan bibir merah tuanya terbuka sedikit.
Lalu Papa Nabila keluar dari lift di belakangnya dan berdeham, dan dia buru-buru berjalan ke arahku.
“Jas,” katanya.
“Sewaan.”
“Pas.”
“Iya.”
“Nggak ada mulut ikan.”
“Nggak ada.”
Kami berdiri berhadapan. Dia menatap kerah jasku. Aku menatap anting mutiaranya. Tidak ada yang bicara.
“Kamu...” kataku.
“Kamu...” katanya, di saat yang sama.
Kami berhenti. Dia tertawa kecil, gugup. Aku berdeham.
“Kamu duluan,” katanya.
“Kamu cantik.”
Dia menatapku. Telinganya merah. “Ada keluarga aku di sini,” katanya pelan. “Jadi itu pasal sepuluh?”
Aku memikirkan jawabannya. Aku memikirkan dua gelas kopi di kafetaria Kuningan. Gerald yang menutup wajahnya dengan tangan. Telinga Gerald yang merah.
“Iya,” kataku. “Pasal sepuluh.”
Itu kebohongan pertama yang kuucapkan padanya sejak sepuluh detik di kafe.
Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkannya. Mungkin karena aku takut. Mungkin karena malam ini Gerald ada di ruangan yang sama, dan kalau aku bilang bukan, lalu Nabila memilih Gerald, aku tidak akan punya apa-apa lagi untuk bersembunyi di baliknya.
Nabila menatapku sebentar. Sesuatu di matanya meredup, sangat sedikit, lalu dia tersenyum. Senyum sopan. Bukan senyum dengan lesung di pipi kanan.
“Oke,” katanya. “Ayo masuk.”
Gerald menghampiri meja kami sepuluh menit setelah acara dimulai.
“Nabila! Mas Devan!” Dia menjabat tanganku dengan hangat, seperti menyambut teman lama. “Wah, jasnya keren, Mas.”
“Makasih, Mas.”
“Nabila, boleh pinjam sebentar? Aku mau tanya sesuatu.”
Nabila melirikku. Aku mengangguk. Aku tersenyum. Aku mengambil gelas air putih dan meminumnya dengan sangat tenang, seperti orang yang sama sekali tidak peduli.
Mereka berjalan ke pinggir ballroom, dekat jendela besar. Gerald bicara dengan cepat, gelisah. Nabila mendengarkan. Lalu Nabila tertawa, menepuk lengan Gerald, dan mengatakan sesuatu yang membuat Gerald menunduk malu.
Aku menghabiskan gelas air itu. Mengambil gelas lain. Menghabiskannya juga.
“Kamu haus banget,” kata Kenzo, yang duduk di sebelahku.
“Ruangannya kering.”
“AC-nya dingin banget, Kak.”
“AC bikin kering.”
Kenzo menatapku. Lalu menatap ke arah jendela, ke Nabila dan Gerald. Lalu kembali ke aku. Lalu dia mengeluarkan HP-nya.
“Jangan dicatat,” kataku.
“Kasusnya udah ditutup, Kak. Ini kasus baru.”
Di pinggir ballroom, Gerald menoleh ke arah panggung, di mana seorang perempuan dengan setelan hitam dan earpiece sedang mengatur MC dan kru. Rambutnya dikuncir tinggi, dan dia bergerak ke sana kemari dengan clipboard di tangan dan wajah yang sangat sibuk. Aku samar-samar mengenalinya. Sasa. Sahabat Nabila. Fotografer dadakan di Kota Tua.
Gerald menatap ke arah itu lama. Lalu menoleh lagi ke Nabila dan mengatakan sesuatu dengan wajah memerah.
Dari tempatku duduk, dengan sudut pandang yang terhalang pilar dan kepala seorang ibu-ibu bersanggul tinggi, aku tidak bisa melihat ke mana Gerald memandang. Aku cuma melihat Gerald, Nabila, wajah Gerald yang merah, dan Nabila yang tersenyum lebar.
Aku menghabiskan gelas air ketiga.
Masalah yang sebenarnya datang jam sembilan malam, dan namanya Reza.
Aku tidak tahu siapa dia. Belakangan aku tahu dia anak dari salah satu mitra bisnis Wiranata, umurnya sekitar tiga puluh, dan dia sudah menghabiskan empat gelas anggur sebelum makan malam disajikan. Dia berpakaian rapi, tertawa terlalu keras, dan setiap kali pelayan lewat, dia mengambil gelas baru.
Jam sembilan, Nabila berdiri di dekat meja prasmanan, mengambil puding untuk Oma. Dia sendirian. Aku sedang dipanggil Om Bram ke meja sebelah untuk ditunjukkan foto skor golfnya ke seorang direktur bank.
Aku melihat Reza mendekatinya dari seberang ruangan.
Aku melihat dia berdiri terlalu dekat. Melihat dia mengatakan sesuatu, dan Nabila tersenyum sopan dan bergeser selangkah. Melihat Reza bergeser selangkah juga. Melihat dia meletakkan tangannya di meja prasmanan, tepat di sebelah tangan Nabila, mengurungnya di antara meja dan badannya.
Nabila tidak lagi tersenyum.
Aku sudah berjalan sebelum otakku sempat memutuskan apa pun.
“Maaf, Om. Permisi sebentar.”
Aku tidak berlari. Berlari akan membuat orang-orang menoleh, dan membuat Nabila jadi pusat perhatian dengan cara yang tidak dia inginkan. Aku berjalan dengan langkah biasa, dengan kecepatan orang yang mau mengambil puding. Tapi aku mengambil jalan terpendek, di antara dua meja dan satu pilar, dan dalam lima belas detik aku sudah berdiri di sebelah Nabila.
Di sisi yang lain. Di sisi yang bukan Reza.
“Pudingnya buat Oma?” tanyaku.
Nabila menoleh. Matanya melebar, lalu, aku bisa melihatnya, bahunya turun sedikit. Lega.
“Iya,” katanya.
“Aku bawain.” Aku mengambil piring puding dari tangannya. Lalu aku menoleh ke Reza, dengan senyum yang sangat sopan. “Malam, Mas.”
Reza menatapku dengan mata yang tidak terlalu fokus. “Siapa kamu?”
“Devan.”
“Devan siapa?”
“Pacarnya Nabila.”
Reza tertawa. Keras. Beberapa orang di meja terdekat menoleh. “Pacar? Kamu? Saya dengar dia dijodohin sama Gerald. Kamu siapa? Supir?”
Aku merasakan tangan Nabila mencengkeram lengan jasku.
Aku tidak marah. Aku sudah memutuskan itu di lima belas detik perjalanan dari meja Om Bram. Marah akan membuat keributan, keributan akan membuat Nabila malu, dan Nabila tidak boleh malu malam ini. Tidak di depan dua ratus orang dan keluarganya.
“Supir juga boleh, Mas,” kataku dengan suara pelan dan tenang, cukup pelan supaya cuma kami bertiga yang dengar. “Kebetulan saya lihat Mas kayaknya udah capek. Mau saya panggilkan mobil? Atau mau saya ambilkan air putih dulu?”
Reza menatapku. Senyumnya goyah.
“Saya nggak capek.”
“Oke, Mas.” Aku tetap tersenyum. Aku melangkah sedikit ke depan, pelan, sehingga badanku sekarang berada di antara dia dan Nabila, tanpa menyentuhnya sama sekali. “Tapi Mas lagi berdiri di depan pacar saya, dan pacar saya kayaknya nggak nyaman. Jadi saya minta tolong, Mas geser sedikit. Pelan-pelan aja.”
Aku tidak menaikkan suara. Aku tidak mengepalkan tangan. Aku cuma berdiri di situ, lebih tinggi sepuluh senti darinya, dengan piring puding di satu tangan dan senyum sopan di wajah, dan menatapnya tanpa berkedip.
Reza membuka mulut. Menutupnya. Matanya bergerak dari wajahku ke piring puding, ke Nabila di belakangku, lalu ke sekeliling ruangan, di mana beberapa orang mulai memperhatikan.
Di balik bahu Reza, aku melihat seorang petugas keamanan hotel yang sudah kuberi isyarat dengan anggukan waktu aku berjalan tadi. Dia berdiri tiga meter di belakang Reza, menunggu.
“Mas,” kataku pelan. “Ada bapak dari hotel di belakang Mas. Dia bisa antar Mas ke lobi, terus panggilkan taksi. Nggak ada yang perlu tahu. Mas cuma pulang lebih cepat karena capek. Itu aja.”
Reza menoleh ke belakang. Melihat petugas keamanan itu. Menoleh lagi ke aku.
Lalu, pelan-pelan, bahunya turun. Keberaniannya yang berasal dari empat gelas anggur menguap begitu saja.
“...Saya memang capek,” gumamnya.
“Istirahat yang cukup, Mas.”
Petugas keamanan itu melangkah maju, menepuk bahu Reza dengan ramah, dan membimbingnya ke arah pintu keluar samping. Tidak ada keributan. Tidak ada teriakan. Orang-orang di meja terdekat kembali ke makanan mereka, sebagian besar bahkan tidak sadar ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Aku berbalik ke Nabila.
Dia sedang menatapku. Tangannya masih mencengkeram lengan jasku, dan sekarang aku bisa merasakannya gemetar sedikit.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku pelan.
Dia mengangguk. Lalu menggeleng. Lalu mengangguk lagi.
“Dia pegang tangan kamu?”
“Nggak. Hampir.” Suaranya kecil. “Dia bilang... dia bilang hal-hal yang nggak enak. Soal aku. Soal cewek kayak aku.”
Aku menarik napas panjang. Pelan. Di dalam dadaku ada sesuatu yang panas dan berat, sesuatu yang ingin mengejar Reza ke lobi dan mengatakan hal-hal yang tidak sopan. Aku menahannya. Aku menaruh piring puding di meja prasmanan, lalu meletakkan tanganku di atas tangannya yang mencengkeram lenganku.
“Dia udah pulang,” kataku. “Dia cuma butuh diingatkan pulang.”
Dia menatapku. Matanya basah di ujungnya.
“Kamu nggak marah,” katanya.
“Marah.”
“Kamu kelihatan tenang banget.”
“Kalau aku kelihatan marah, semua orang bakal lihat ke sini. Terus lihat kamu.” Aku mengusap punggung tangannya pelan dengan ibu jari. “Kamu nggak perlu dilihatin sama dua ratus orang cuma karena ada satu orang mabuk yang nggak tahu diri.”
Nabila menatapku lama.
Lalu dia melepaskan cengkeramannya di lenganku, dan untuk sesaat aku pikir dia akan mundur. Tapi dia tidak mundur. Dia maju. Satu langkah kecil. Sampai dahinya menyentuh bahuku, di atas jas sewaan yang tidak boleh kena tumpahan apa pun.
Dia tidak memelukku. Tangannya tetap di sisi badannya. Dia cuma menyandarkan dahinya di bahuku, sebentar, dan aku merasakan napasnya yang gemetar menembus kain jas.
Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bergerak.
Tiga detik. Lalu dia mundur, menegakkan badan, dan mengambil piring puding dari meja.
“Oma nunggu,” katanya, dengan suara yang hampir normal.
“Oke.”
Dia berjalan ke meja Oma. Aku mengikutinya. Di tengah jalan, aku melihat Papa Nabila berdiri di dekat pilar. Dia melihat semuanya. Aku tahu dia melihat semuanya, karena dia mengangguk padaku. Satu kali. Pelan.
Lalu dia kembali ke percakapannya dengan Pak Harun Wiranata, seolah tidak terjadi apa-apa.
Jam sepuluh, di balkon ballroom, di mana angin malam Senayan bertiup sejuk dan musik dari dalam terdengar samar, Nabila berdiri di sebelahku dengan segelas jus jeruk.
Dia sudah kembali seperti biasa. Tertawa soal Oma yang menghabiskan dua puding. Mengeluh soal sepatu haknya yang membuat tumitnya lecet. Tapi setiap beberapa menit, dia melirikku, dan aku tidak tahu apa artinya.
“Gerald tadi ngomongin apa?” tanyaku. Aku berusaha membuatnya terdengar santai. Aku tidak yakin berhasil.
Nabila menoleh. “Kenapa?”
“Penasaran.”
“Penasaran aja?”
“Penasaran aja.”
Dia menatapku. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya mulai naik.
“Kamu cemburu sama Gerald?”
Aku menatap langit malam Jakarta, yang tidak punya bintang karena polusi.
“Aku profesional,” kataku. “Aku cemburu sesuai kontrak.”
Nabila tertawa. Tertawa sampai harus berpegangan pada pagar balkon, sampai jus jeruknya hampir tumpah, sampai seorang pelayan yang lewat menoleh dengan penasaran.
“Pasal berapa?” tanyanya di sela tawa. “Pasal berapa yang ngatur soal cemburu?”
“Pasal sepuluh. Turunan. Gombal demi realisme. Cemburu juga termasuk realisme.”
“Kamu ngarang.”
“Aku menafsirkan.”
Dia tertawa lagi. Lalu tawanya reda, dan dia menatapku dengan mata yang berkilat-kilat di bawah lampu balkon.
“Gerald cuma temen curhat,” katanya.
“Curhat soal apa?”
Dia tersenyum. Senyum misterius yang membuatku ingin menarik rambutku sendiri.
“Rahasia,” katanya.
Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke dalam ballroom, dengan gaun hitamnya yang bergerak pelan dan rambutnya yang tersibak angin. Di ambang pintu, dia menoleh ke belakang.
“Devan.”
“Hm?”
“Tadi di lobi. Waktu kamu bilang aku cantik. Kamu bilang itu pasal sepuluh.”
Jantungku berhenti.
Dia menatapku, dan senyumnya hilang. Yang tersisa cuma sesuatu yang lebih tenang, lebih serius, dan jauh lebih berbahaya.
“Aku nggak percaya,” katanya.
Lalu dia masuk ke dalam, meninggalkanku sendirian di balkon, dengan angin malam Senayan dan jantung yang lupa cara berdetak untuk ketiga kalinya dalam hidupku.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir reading
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi