Chapter Thirty Six
Sepuluh Detik Terakhir
POV: Nabila
Pesan itu masuk hari Jumat malam, jam sepuluh lewat tiga.
Besok. Jam empat sore. Meja tujuh. Penting.
Aku menatapnya di atas kasur, dengan masker wajah yang belum kering dan rambut yang dililit handuk. Lalu aku membacanya lagi. Lalu aku tertawa sampai masker wajahku retak.
Itu pesanku. Kata per kata. Pesan yang kukirim lima minggu lalu, dari jendela kantor lantai dua belas, sebelum hujan sore dan sepuluh detik dan pasal empat yang dicoret.
Aku mengetik: Penting kenapa?
Dia tidak membalas.
Devan?
Tidak ada balasan.
Kamu nggak apa-apa?
Satu menit kemudian:
Aku nggak apa-apa. Besok aja.
Aku melempar HP ke ujung kasur dan menjerit ke bantal. Dia menirukanku. Persis. Sampai ke kalimat besok aja.
Lima menit kemudian, HP-ku bergetar lagi.
Aku bawa payung. Walaupun kayaknya besok nggak hujan.
Besoknya tidak hujan.
Jakarta, yang sudah tiga bulan menumpahkan hujan setiap sore, hari Sabtu itu lupa. Langitnya biru bersih, dengan awan-awan tipis yang bergerak pelan ke arah utara. Jam setengah empat, waktu aku menyetir ke Kemang, matahari mulai turun dan cahayanya berubah jadi keemasan, jatuh miring di atas atap-atap rumah dan pepohonan dan trotoar.
Aku memakai dress biru muda. Tentu saja. Rambutku kugerai, dengan jepit kupu-kupu di satu sisi. Aku menatap diriku di kaca spion di lampu merah terakhir sebelum Kafe Jeda, dan aku melihat perempuan yang tidak lagi kukenal. Perempuan yang pipinya sudah merah sebelum sampai. Perempuan yang bersenandung di dalam mobil tanpa sadar.
Lagu itu. Lagu Nenek. Yang selalu kusenandungkan kalau aku senang.
Aku berhenti bersenandung. Lalu mulai lagi. Aku tidak bisa menahannya.
Kafe Jeda kelihatan aneh.
Aku tidak bisa langsung menunjuk apa yang aneh. Lampu kuningnya sama. Lantai kayunya sama. Wangi kopi dan roti menteganya sama. Rak buku bekas di pojok masih di tempatnya.
Tapi kafe itu kosong. Benar-benar kosong. Tidak ada mahasiswa yang tertidur di atas laptop. Tidak ada pekerja kantoran. Tidak ada ibu-ibu yang arisan di meja panjang. Di pintu, ada papan kecil yang dibalik dengan tulisan TUTUP — ACARA PRIVAT.
Pintu itu terbuka waktu aku mendorongnya. Lonceng berdenting.
Dan Mas Jaka berdiri di balik bar, memakai celemek baru berwarna putih bersih, bukan celemek cokelat bernoda kopi yang biasa dia pakai, dengan wajah yang pucat seperti orang yang mau ikut ujian nasional.
“Selamat sore, Mbak Nabila,” katanya. Suaranya bergetar.
“Sore, Mas. Kok sepi?”
“Acara privat, Mbak.”
“Acara apa?”
Mas Jaka membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi. Lalu dia menunjuk ke arah jendela dengan tangan yang gemetar.
“Meja tujuh, Mbak.”
Aku menoleh.
Devan duduk di meja nomor tujuh. Kemeja biru muda, lengan digulung sampai siku. Kacamata. Rambut yang disisir rapi tapi dengan satu helai yang tetap jatuh ke dahi. Cahaya matahari sore dari jendela besar jatuh di sisi wajahnya, keemasan, membuat bayangan panjang di atas meja.
Dia sedang menatap cangkir kopinya. Kakinya, di bawah meja, bergoyang naik-turun. Cepat. Seperti waktu di final lomba Kenzo.
Dia gugup. Devan Satria, yang presentasi di depan Pak Rudolf tanpa membuka laptop, yang membetulkan server sambil melawak di depan dua ratus orang, yang menyelamatkan empat ratus dua belas truk dalam semalam, sedang gugup.
Aku berjalan ke meja nomor tujuh. Pelan. Dan di tengah jalan, di dekat rak buku bekas, aku melihat sesuatu.
Di celah antara dua deretan buku, di rak paling bawah, ada tas. Tas kulit warna krem. Tas edisi terbatas yang cuma dibuat tiga ratus buah di dunia, yang pernah membuat seseorang antre dari jam empat pagi di Singapura sampai masuk angin.
Di sebelah tas itu, menyembul dari balik rak, ujung topi golf dengan logo padang golf Pondok Indah.
Dan di celah yang lebih atas, ada cahaya kecil berwarna merah. Lampu perekam dari kamera HP.
Aku berhenti berjalan. Menatap rak buku itu. Rak buku itu diam. Terlalu diam. Seperti rak buku yang sedang menahan napas.
Lalu dari balik rak, sangat pelan, seseorang bersin.
Bersin yang tertahan. Bersin yang dipaksa kembali masuk ke hidung. Bersin yang, entah bagaimana, terdengar seperti bersin dari balik masker kain bergambar kucing.
Aku menggigit bibir supaya tidak tertawa. Aku berpura-pura tidak melihat apa-apa. Dan aku berjalan terus ke meja nomor tujuh.
Devan berdiri waktu aku sampai. Terlalu cepat. Kursinya hampir terbalik.
“Hai,” katanya.
“Hai.”
“Kamu cantik.”
“Makasih.”
“Beneran cantik. Maksudku, selalu. Tapi hari ini...” Dia berhenti. Menelan ludah. “Hari ini kamu bersinar. Kayak lampu. Kayak... aku kehabisan perumpamaan.”
“Kamu gugup.”
“Nggak.”
“Kaki kamu goyang dari tadi. Aku lihat dari pintu.”
“Itu olahraga.”
Aku tertawa. Aku duduk di kursiku. Kursi yang sama. Meja yang sama. Jendela yang sama. Hanya saja kali ini aku yang datang belakangan, dan dia yang menunggu.
Dia duduk. Menatapku. Menarik napas.
Lalu dia merogoh saku kemejanya, dan mengeluarkan sesuatu.
Tisu.
Tisu kafe yang putih tipis, dengan logo Kafe Jeda kecil di pojoknya. Terlipat dua kali. Lecek di pinggirnya, lembut seperti kain karena terlalu sering dibuka dan dilipat. Dia membukanya di atas meja, di depanku.
PERJANJIAN SATU MALAM.
Tulisan tanganku. Bulat-bulat, miring ke kanan. Pihak Pertama (Nabila) dan Pihak Kedua (Pak Kacamata) sepakat berpura-pura pacaran selama satu malam saja. Setelah itu selesai. Titik. Titik yang ditekan keras sampai hampir menembus tisu.
Lalu dia mengeluarkan sesuatu yang lain dari tas di kursi sebelahnya.
Kontrak laminasi. Yang dikembalikan Kenzo tiga hari setelah sidang keluarga, dengan catatan tempel di atasnya: Barang bukti dikembalikan ke pemiliknya. Kasus ditutup. Tanpa titik. Dan memang, tanpa titik.
Dia meletakkannya di sebelah tisu. Kami berdua menatapnya. Sebelas pasal. Pasal empat dengan coretan hitam yang bengkok di tengah.
Lalu dia mengeluarkan benda ketiga.
Selembar kertas lagi, dilaminasi. Lebih kecil. Seukuran kartu pos. Dengan tulisan tangannya yang kecil dan rapi. Dia menempelkannya di bawah kontrak laminasi yang lama, pas di bawah pasal sebelas, dengan selotip bening di keempat sudutnya, sehingga kelihatan seperti bagian dari kontrak itu.
Aku membacanya.
Pasal 12: Pihak Pertama dan Pihak Kedua sepakat menikah.
Pasal 13: Pihak Pertama berhak menghitung sampai sepuluh sebelum menjawab pasal 12.
Aku berhenti bernapas.
“Bapak fotokopi di ujung jalan,” kata Devan pelan, “bilang akhirnya perjanjian nikah. Waktu aku laminasi ini. Kemarin.”
Aku tidak bisa menjawab. Mataku panas.
Lalu dia mengangkat tangannya. Ke wajahnya. Ke bingkai kacamatanya.
Dan dia melepasnya.
Dia melipatnya pelan-pelan dan memasukkannya ke saku kemeja. Di tempat yang sama di mana dia menyimpan tisu itu, tujuh minggu lalu, di hari pertama.
Dia menatapku. Tanpa kacamata. Dengan mata cokelat gelap yang, di bawah cahaya matahari sore, kelihatan seperti madu.
“Aku punya satu hutang lagi,” katanya.
Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.
“Sepuluh detik,” katanya.
Di balik rak buku, suara napas-napas yang tertahan berhenti sepenuhnya.
“Pagi itu,” kata Devan, “tujuh minggu lalu, di meja ini. Kamu duduk di depan aku. Kamu minta aku jadi pacar bohongan kamu. Terus aku diam sepuluh detik. Kamu hitung. Aku lihat bibir kamu gerak.” Dia berhenti. “Terus kamu tanya, sepuluh detik tadi kamu mikirin apa? Dan aku bilang, aku lagi menimbang untung rugi.”
“Kamu bilang itu bohong,” bisikku. “Di malam kita jadian. Kamu bilang itu satu-satunya hal yang kamu bohongin ke aku pagi itu.”
“Iya.”
“Terus yang benernya apa?”
Dia menatapku lama. Sangat lama. Dan waktu dia bicara lagi, suaranya pelan dan sedikit pecah, seperti suara orang yang sudah lama sekali menyimpan sesuatu dan baru sekarang berani mengeluarkannya.
“Aku nggak lagi mikir,” katanya. “Aku lagi berusaha inget cara bernapas.”
Aku menatapnya.
“Kamu duduk di depan aku,” lanjutnya, “dan aku lupa. Tarik dulu atau buang dulu. Lewat hidung atau mulut. Dua puluh tujuh tahun aku napas tanpa mikir, dan tiba-tiba aku nggak tahu caranya. Karena kamu duduk di situ. Dengan cahaya dari jendela di belakang aku jatuh di muka kamu. Dengan anak rambut yang lepas di pelipis kamu. Dengan bibir yang kamu gigit karena gugup.” Dia menarik napas. Sekarang dia ingat caranya. “Aku bukan lagi menimbang. Aku lagi tenggelam. Dan kata pertama yang berhasil keluar dari mulut aku cuma oke, karena itu satu-satunya kata yang bisa aku inget.”
Air mata jatuh di pipiku. Aku tidak menghapusnya.
“Itu bukan keputusan,” katanya. “Itu bukan untung rugi. Itu nggak pernah jadi pilihan. Aku jatuh cinta sama kamu sebelum aku tahu nama kamu. Sebelum aku tahu kamu siapa. Sebelum kamu minta apa-apa.”
Dia mengulurkan tangannya di atas meja. Telapak menghadap ke atas. Seperti di hari kedua. Latihan.
Aku meletakkan tanganku di atasnya. Jari-jariku menyusup di sela jarinya. Menemukan tempatnya, seperti selalu.
“Itu hutang terakhir,” katanya pelan. “Lunas.”
Lalu dia berdiri.
Pelan. Tanpa melepaskan tanganku. Dia berjalan memutari meja nomor tujuh, dan berhenti di samping kursiku. Lalu dia berlutut.
Di lantai kayu Kafe Jeda. Di bawah cahaya matahari sore yang jatuh miring dari jendela. Di depan meja nomor tujuh.
Dengan satu tangan masih menggenggam tanganku, dan tangan satunya merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak kecil berwarna biru muda.
Tentu saja biru muda.
Dia membukanya. Di dalamnya, sebuah cincin. Sederhana. Emas putih, dengan satu batu kecil yang berkilau di bawah cahaya sore. Tidak besar. Tidak mencolok. Cincin yang dipilih oleh orang yang tahu bahwa aku tidak suka hal-hal yang terlalu mencolok, kecuali kalau hal itu adalah dia.
Aku menutup mulut dengan tangan yang tidak digenggamnya.
“Nabila Saheila,” katanya.
Aku tidak bisa bernapas. Sekarang aku yang lupa caranya.
“Tujuh minggu lalu, kamu minta sepuluh detik dari aku,” katanya. Suaranya bergetar. Matanya basah. “Sekarang aku minta seumur hidup dari kamu.”
Dia mengangkat kotak itu sedikit.
“Kamu boleh mikir sepuluh detik. Pasal tiga belas.”
Aku menatapnya.
Menatap wajahnya tanpa kacamata, dengan mata yang basah dan bibir yang gemetar. Menatap kemeja biru muda yang kubelikan di Senayan. Menatap cincin di kotak biru muda. Menatap tisu di atas meja, setelah itu selesai, titik, dan kontrak laminasi dengan pasal dua belas yang ditempel pakai selotip.
Lalu aku mulai menghitung.
Di dalam kepala. Seperti waktu itu. Seperti kebiasaanku sejak kecil.
Satu.
Devan menatapku. Tidak berkedip.
Dua.
Di balik rak buku, aku mendengar seseorang menahan isak.
Tiga.
“IYA.”
Kata itu meledak dari mulutku. Keras. Terlalu keras. Menggema di seluruh Kafe Jeda yang kosong.
Devan mengerjap.
“Kamu...” katanya. “Kamu cuma ngitung sampai tiga.”
“Aku nggak sabar.”
“Pasal tiga belas bilang sepuluh.”
“Pasal tiga belas bilang berhak. Aku nggak pakai hak aku.”
Dia menatapku. Lalu, pelan, di wajahnya, senyum itu muncul. Senyum yang dimulai di satu sudut bibir, lalu naik ke sudut yang lain. Senyum ibunya. Senyum yang sampai ke matanya, yang basah dan berkilau di bawah cahaya sore.
“Iya?” tanyanya. Seperti tidak percaya.
“Iya.” Aku tertawa, dengan air mata yang jatuh terus. “Iya, iya, iya. Iya seribu kali. Iya dari pagi itu. Iya dari waktu kamu bilang oke.”
Dia mengambil cincin itu dari kotaknya. Tangannya gemetar begitu hebat sampai hampir menjatuhkannya. Aku mengulurkan tangan kiriku. Dan dia memasangkan cincin itu di jari manisku.
Pas. Sempurna.
“Kok pas?” bisikku.
“Aku ukur waktu kamu ketiduran di sofa, malam Kenzo lembur lomba,” katanya. “Pakai benang.”
“DEVAN.“
Dia tertawa. Aku tertawa. Dan aku menarik kerahnya, dan dia berdiri dari lututnya, dan aku berdiri dari kursiku, dan kami bertemu di tengah, di samping meja nomor tujuh, di bawah cahaya matahari sore.
Dan dia menciumku.
Aku tidak akan menceritakan ciuman itu dengan detail. Beberapa hal terlalu milik kita untuk dibagi.
Tapi aku akan cerita bahwa itu lama. Dan dalam. Dan bahwa dunia tidak hilang, justru dunia jadi lebih jelas. Lampu kuning Kafe Jeda. Cahaya matahari sore. Wangi kopi dan roti mentega. Lantai kayu di bawah kaki kami. Tangannya di pipiku, jariku di kerahnya, cincin di jariku yang menekan lembut di lehernya.
Dan aku akan cerita bahwa di tengah ciuman itu, rak buku di pojok kafe runtuh.
Bukan runtuh sepenuhnya. Tapi satu deret buku di rak paling bawah jatuh ke lantai dengan bunyi brak yang keras, karena seseorang di baliknya menyenggolnya waktu melompat kegirangan.
Kami berpisah. Menoleh.
Dan dari balik rak buku yang setengah runtuh, keluarlah keluargaku.
Tante Rini dulu, dengan tas krem di satu tangan dan tisu di tangan yang lain, wajahnya basah oleh air mata dan maskara yang luntur. Lalu Om Bram, dengan topi golf yang miring dan kaki yang tersandung buku-buku yang jatuh. Lalu Kenzo, dengan HP di tangan, lampu merah masih menyala, masih merekam. Lalu Sasa, dengan masker kain bergambar kucing yang miring, dan Gerald di belakangnya, memegang lengannya supaya dia tidak jatuh.
Dari balik pintu dapur, keluar Bimo dan Rara. Bimo sudah menangis. Tentu saja Bimo sudah menangis. Dia menangis dengan kedua tangan di dada, dengan wajah merah dan hidung yang meler, dan Rara menepuk-nepuk punggungnya seperti menenangkan anak kecil.
Dan dari pintu depan kafe, lonceng berdenting.
Mama masuk. Dengan kebaya ungu dan mata yang sudah bengkak. Mendorong kursi roda Oma, yang memegang radio Opa di pangkuan.
Dan di belakang mereka, Papa.
Dengan kemeja batik cokelat. Dengan wajah datar. Dengan seikat bunga di tangannya. Bukan mawar putih.
Tulip. Biru muda dan putih.
Mama menoleh ke bunga di tangan Papa, lalu menatap Papa dengan bingung. “Pa, itu tulip.”
“Hm.”
“Kamu selalu beli mawar.”
“Nabila nggak suka mawar.”
Mama berhenti. Menoleh padaku dengan mata membesar.
“Kamu nggak suka mawar?”
Aku membuka mulut. Menutupnya. Menatap Papa. Papa menatapku balik, dengan kumis yang bergetar.
“Devan yang bilang,” kata Papa. “Kemarin. Waktu minta izin.”
“Minta izin?” Aku menoleh ke Devan.
Devan menatap lantai. Telinganya merah. “Aku ke ruang kerja Papa kamu. Hari Kamis. Aku minta izin.”
“Terus Papa bilang apa?”
“Papa kamu bilang, kamu udah minta izin tujuh minggu lalu waktu lupa cara napas. Sekarang tinggal minta ke anak saya.“
Aku menatap Papa. Papa menatap langit-langit.
Dan Mama, yang masih memegang pegangan kursi roda Oma, menatapku dengan wajah yang campur aduk antara menangis, tertawa, dan terkejut.
“SEJAK KAPAN KAMU NGGAK SUKA MAWAR?” teriaknya.
Seluruh kafe tertawa.
Mas Jaka keluar dari balik bar.
Dia berjalan pelan, sangat pelan, dengan kedua tangan memegang sebuah cangkir di atas tatakan. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar begitu hebat sampai cangkirnya berbunyi ting-ting-ting di atas tatakan.
Dia berhenti di depan meja nomor tujuh. Meletakkan cangkir itu di depan kursiku. Pelan. Hati-hati.
Oat latte. Less sugar.
Aku menunduk.
Di atas busa susunya, ada hati.
Bukan awan. Bukan daun. Bukan bebek. Bukan kelabang. Bukan hampir-hati dengan lengkungan yang penyok.
Hati. Sempurna. Dua lengkungan bulat di atas yang sama besarnya, satu ujung runcing di bawah yang tepat di tengah. Dengan garis-garis halus di dalamnya, seperti daun yang dilukis dengan kuas paling kecil di dunia.
“Hati,” bisik Mas Jaka. Suaranya pecah. “Mbak, hati. Hati beneran.”
Aku menatap latte itu. Aku menatap Mas Jaka, yang sekarang menangis tanpa suara, dengan air mata yang jatuh ke celemek putih barunya.
“Hati, Mas,” kataku. Suaraku juga pecah. “Hati beneran.”
“Tujuh minggu, Mbak,” katanya. “Tujuh minggu saya latihan. Tiap malam. Setelah kafe tutup. Saya habisin empat puluh liter susu.”
Devan menatap latte itu. Lalu menatap Mas Jaka. Lalu, tanpa berkata apa-apa, dia memeluk Mas Jaka. Erat. Mas Jaka menangis di bahunya.
Seluruh kafe bertepuk tangan.
Kami duduk di meja nomor tujuh sampai matahari terbenam.
Keluargaku mengambil alih meja-meja lain. Tante Rini sibuk menelepon empat puluh ibu-ibu arisan, satu per satu, dengan suara yang semakin serak. Om Bram menjadwalkan golf dengan Devan untuk Sabtu depan, Sabtu depannya lagi, dan setiap Sabtu sampai akhir tahun. Oma menyalakan radio Opa, dan lagu keroncong mengalun di antara bau kopi. Kenzo mengedit video lamaran di HP-nya dengan serius, sambil bergumam soal transisi dan musik latar. Sasa dan Gerald duduk di pojok, bergandengan tangan, dengan Sasa yang terus bilang aku mau pindah planet dan Gerald yang terus bilang jangan, nanti aku kangen.
Bimo akhirnya berhenti menangis. Lalu mulai lagi waktu Rara menunjukkan video lamaran di HP-nya.
Mama duduk di sebelahku, memegang tanganku yang pakai cincin, dan terus menatap cincin itu dengan mata basah. Papa duduk di sebelah Mama. Diam. Minum kopi. Tapi setiap beberapa menit, dia melirik ke tanganku, dan kumisnya bergetar.
Dan Devan duduk di depanku. Di kursinya. Dengan kacamata yang sudah dia pakai lagi. Menatapku.
Di tengah semua keramaian itu, dia tiba-tiba mulai bersenandung.
Pelan. Hampir tidak terdengar. Dengan nada yang salah di beberapa bagian.
Aku berhenti bernapas.
Lagu itu. Lagu Nenek. Lagu yang selalu kusenandungkan kalau aku senang. Lagu yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun. Bahkan ke Sasa. Bahkan ke dia.
“Kok kamu tahu lagu itu?” bisikku.
Dia berhenti bersenandung. Menatapku.
“Aku tanya Mama kamu,” katanya. “Minggu lalu. Waktu kamu ke kamar mandi. Aku senandungin sedikit, dengan nada yang salah. Mama kamu langsung tahu.” Dia tersenyum. “Lagu yang dinyanyiin Nenek kamu tiap kali masak. Lagu yang ada di halaman terakhir buku Dapur Bu Ratmi, ditulis tangan di pinggir resep.”
Aku menoleh ke Mama. Mama mengangguk, dengan air mata yang jatuh lagi.
“Kenapa kamu cari tahu?” bisikku ke Devan.
“Karena di mobil kamu, di hari arisan Tante Rini, kamu nyanyiin lagu itu setelah aku bilang soal tukang siomay.” Dia mengulurkan tangan dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga kiri. “Dan aku janji ke diri aku sendiri. Suatu hari aku bakal tanya lagu apa itu. Dan suatu hari aku bakal jadi alasan kamu nyanyiin lagu itu.”
Aku menatapnya. Air mataku jatuh lagi, untuk kesekian kalinya hari itu.
Lalu aku mulai bernyanyi.
Bukan bersenandung. Bernyanyi. Dengan kata-kata. Pelan, di meja nomor tujuh, di Kafe Jeda, di depan seluruh keluargaku. Lagu Nenek. Lagu yang tidak pernah kunyanyikan keras-keras sejak Nenek meninggal.
Mama ikut bernyanyi. Pelan, di sebelahku, dengan suara yang bergetar. Lalu Oma, dari kursi rodanya, dengan suara tua yang merdu. Lalu, yang membuat seluruh kafe terdiam, Papa. Dengan suara rendah dan serak, yang hampir tidak pernah kudengar bernyanyi sejak aku kecil.
Dan Devan menatapku, sepanjang lagu itu, dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum.
Waktu lagunya selesai, aku menatapnya.
“Kamu alasannya,” kataku.
“Iya?”
“Dari dulu. Dari hari pertama. Kamu alasannya.”
Malam itu, waktu kafe akhirnya tutup dan semua orang sudah pulang, Devan dan aku berdiri di trotoar di depan Kafe Jeda. Di bawah kanopi. Di tempat yang sama dengan ciuman pertama kami.
Lampu jalan menyala oranye. Toko bunga di sebelah sudah tutup, tapi di balik kacanya, aku bisa melihat ember-ember kosong tempat tulip biasanya berada. Papa membeli semuanya.
“Istriku Cantik,” kata Devan.
Aku menoleh padanya. Aku menatap cincin di jariku, yang berkilau di bawah lampu jalan. Aku menatap wajahnya, dengan kacamata yang sedikit melorot.
Aku mengulurkan tangan dan membetulkan kacamatanya.
“Sebentar lagi beneran,” kataku.
Dia tersenyum. Lalu menunduk dan mencium keningku. Pelan. Satu detik. Dua detik.
“Latihan,” katanya.
“Ada penontonnya,” kataku, menunjuk jendela kafe, di mana Mas Jaka berdiri di balik kaca dengan kedua tangan menempel di jendela, menangis lagi, sambil mengacungkan dua jempol.
Devan tertawa. Aku tertawa.
Dan di bawah lampu jalan Kemang, di depan kafe kecil tempat semuanya dimulai, aku menghitung dalam hati. Seperti kebiasaanku sejak kecil. Bukan karena gugup. Bukan karena takut. Tapi karena ada angka-angka yang ingin kuingat selamanya.
Sepuluh detik. Itu yang dia butuhkan untuk bilang oke.
Tiga detik. Itu yang aku butuhkan untuk bilang iya.
Dan seumur hidup.
Itu sisanya.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir reading
- 37 Epilog — Lamaran Resmi