Chapter Six
Satu Malam Aja, Katanya
POV: Nabila
Keluarga Wiranata pamit jam sepuluh lewat seperempat.
Biasanya, acara makan malam keluarga di rumah ini selesai jam sembilan. Papa tidak suka acara yang molor. Tapi malam ini, setelah makanan penutup, Pak Harun menarik Papa ke ruang kerja untuk membicarakan sesuatu, Bu Sinta dan Mama pindah ke ruang keluarga untuk melihat album foto, Tante Rini menunjukkan koleksi tasnya lewat HP ke siapa pun yang mau lihat, dan Gerald duduk di teras bersama Devan, membahas gerbang servis dan hub mini dengan semangat yang belum pernah kulihat darinya.
Aku berdiri di ambang pintu teras, memegang dua gelas es teh, dan menatap pemandangan itu dengan perasaan yang campur aduk.
Tadi pagi, aku takut malam ini akan jadi bencana. Aku membayangkan Papa marah, Mama menangis, dan Gerald tersinggung. Aku membayangkan keluarga Wiranata pulang dengan wajah masam, dan aku dikurung di kamar sampai umur tiga puluh.
Yang terjadi malah Gerald tertawa. Gerald Wiranata, manusia margin, sedang tertawa di teras rumahku karena sesuatu yang dikatakan pacar bohonganku.
“Bil.”
Aku menoleh. Kenzo berdiri di belakangku, dengan HP di tangan dan tatapan detektifnya yang menyebalkan.
“Apa?”
“Aku masih curiga.”
“Curiga apa?”
“Semuanya.” Dia menunjuk teras dengan dagunya. “Kak Devan terlalu sempurna. Nggak ada orang yang sesempurna itu. Pasti ada sesuatu.”
“Dia nggak sempurna. Kemejanya kekecilan.”
“Itu justru mencurigakan. Siapa yang datang ke acara penting pakai kemeja kekecilan?”
“Orang yang buru-buru.”
“Kenapa buru-buru? Kalau udah pacaran setahun, harusnya dia punya waktu seminggu buat nyiapin baju.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya. Kadang aku lupa bahwa adikku yang berumur tujuh belas tahun itu, yang masih suka makan sereal langsung dari kotaknya, sebenarnya cukup pintar.
“Karena dia nggak tahu malam ini acaranya perjodohan,” kataku akhirnya. “Aku baru bilang tadi pagi.”
Kenzo menyipitkan mata. Lalu mengetik di HP-nya.
“Kamu nyatet apa?”
“Bukti nomor tujuh belas.”
“Nomor satu sampai enam belas apa?”
“Rahasia.” Dia memasukkan HP ke saku dan berbalik. “Tapi aku akui, Kak. Om Bram tadi keren banget dijinakin. Aku udah tujuh belas tahun nggak pernah lihat Om Bram diem pas ngomongin teknologi.”
Lalu dia pergi, meninggalkan aku dengan dua gelas es teh yang mulai berembun.
“Nabila.”
Gerald menemukanku di taman samping, sepuluh menit kemudian, waktu aku sedang berdiri di dekat kolam ikan sambil pura-pura mengecek HP. Sebenarnya aku bersembunyi. Aku butuh lima menit tanpa ada yang menatapku atau menanyakan kapan Devan dan aku akan serius.
“Gerald.” Aku menegakkan badan. “Mau pulang?”
“Sebentar lagi. Papa masih ngobrol sama papa kamu.” Dia berdiri di sebelahku, menatap ikan-ikan koi yang berenang di bawah lampu kolam. Jasnya sudah dia lepas, dan kemejanya digulung sampai siku, persis seperti gaya Devan. Aku bertanya-tanya apakah itu kebetulan. “Aku mau bilang sesuatu.”
Aku menyiapkan diri. Ini dia. Ini momen di mana Gerald bilang dia tersinggung, bahwa aku sudah mempermalukan keluarganya, bahwa aku seharusnya jujur dari awal.
“Makasih,” kata Gerald.
Aku menoleh. “Hah?”
“Makasih,” ulangnya, dan wajahnya yang biasa kaku sekarang kelihatan jauh lebih santai. Lebih manusiawi. “Jujur aja ya, Nabila. Aku juga nggak mau dijodohin.”
Aku menatapnya. Mulutku terbuka. Tidak ada suara yang keluar.
“Papa aku maksa,” lanjutnya. “Katanya keluarga kita cocok, bisnis kita cocok, dan kamu... ya, kamu tahu sendiri. Semua orang bilang kamu perempuan idaman. Papa bilang aku bodoh kalau nolak.” Dia menggaruk tengkuknya. “Tapi aku nggak bisa. Soalnya aku udah suka sama orang lain.”
“Kamu apa?”
“Suka sama orang lain.” Telinganya memerah. Gerald Wiranata, yang tiga bulan lalu membahas margin selama tiga puluh lima menit tanpa jeda, sekarang memerah seperti anak SMP. “Aku belum pernah bilang ke dia. Aku bahkan belum pernah ngajak dia ngobrol lebih dari lima menit. Tiap kali ketemu, aku panik, terus aku ngomongin kerjaan.”
“Ngomongin margin?”
“...Ngomongin margin.”
Aku tertawa. Tidak bisa kutahan. Aku tertawa sampai harus memegangi pinggiran kolam supaya tidak jatuh. Gerald awalnya cemberut, tapi lalu dia ikut tertawa juga, dan tiba-tiba semua ketegangan yang kurasakan sejak tadi pagi menguap ke udara malam.
“Siapa dia?” tanyaku setelah berhasil menenangkan diri.
“Rahasia.”
“Aku kenal?”
“Mungkin.”
“Gerald!”
“Nanti aku cerita, kalau aku udah berani.” Dia tersenyum, lalu melirik ke arah teras, ke arah Devan yang sekarang sedang dikerubuti Tante Rini dan Mama. “Pacar kamu hebat. Aku nggak nyangka. Awalnya aku kira dia cuma... ya, maaf, cowok biasa yang beruntung. Tapi tadi dia nemuin masalah di proyek aku dalam tiga pertanyaan. Tiga. Konsultan kami udah enam bulan ngerjain proyek itu dan nggak ada yang nemuin.”
“Dia memang aneh,” kataku.
“Aneh?”
“Aneh yang bagus.”
Gerald menatapku sebentar, lalu tersenyum dengan cara yang membuatku curiga dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan.
“Kalian cocok,” katanya. “Beneran. Tadi waktu dia bilang dia jatuh cinta di detik pertama, kamu ngeliatin dia kayak... kayak kamu nggak percaya ada orang yang bisa ngomong gitu tentang kamu.”
Aku membeku.
“Aku nggak ngeliatin dia kayak gitu.”
“Oke.”
“Beneran nggak.”
“Oke, Nabila.”
Dia menepuk bahuku pelan, dengan canggung, seperti kakak yang tidak tahu cara bersikap pada adiknya. Lalu dia berjalan kembali ke arah rumah, meninggalkanku berdiri di dekat kolam dengan wajah yang terasa terlalu panas untuk malam yang sejuk.
Aku nggak ngeliatin dia kayak gitu.
Ikan-ikan koi berenang berputar-putar, tidak peduli.
Setelah keluarga Wiranata pulang, dan setelah Tante Rini dan Om Bram pulang juga, dengan Tante Rini sempat memeluk Devan dan berbisik Tante follow Instagram kamu ya dan Devan menjawab saya nggak punya Instagram, Tante dan Tante Rini berteriak HAH lagi, Papa memanggil kami ke ruang keluarga.
Aku dan Devan duduk di sofa panjang. Mama di sofa sebelah, dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum. Kenzo bersandar di tangga, pura-pura main HP tapi jelas menguping. Papa berdiri di dekat jendela, dengan kedua tangan di belakang punggung.
Aku merasakan tangan Devan mencari tanganku di atas sofa. Aku membiarkannya. Hanya untuk sandiwara, tentu saja. Papa sedang melihat.
“Nabila,” kata Papa.
“Iya, Pa.”
“Kenapa nggak bilang dari awal?”
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk ini. Devan yang menyusunnya tadi siang, di atas tisu nomor dua. Aku belum ngenalin dia karena aku takut Papa nggak setuju. Tapi aku lebih takut kehilangan dia.
Aku membuka mulut untuk mengucapkannya. Tapi di tengah jalan, kalimat itu tersangkut. Karena waktu aku menoleh ke Devan untuk mengambil keberanian, dia sedang menatapku, dan kalimat aku lebih takut kehilangan dia tiba-tiba terasa terlalu berat, terlalu nyata, untuk diucapkan sebagai kebohongan.
“Aku takut Papa nggak setuju,” kataku akhirnya. Hanya itu.
Papa menatapku lama. Lalu menatap tangan kami yang bertaut di atas sofa. Lalu menatap Devan.
“Devan.”
“Iya, Om.”
“Kamu serius sama anak saya?”
Aku menahan napas. Tangan Devan tidak bergerak, tidak mengencang, tidak melemah. Tetap tenang, hangat, dan mantap.
“Serius, Om,” katanya.
Dua kata. Tanpa tambahan. Tanpa kalimat manis. Dan entah kenapa, dua kata itu terasa jauh lebih meyakinkan daripada semua pidato yang dia ucapkan di meja makan tadi.
Papa diam lama. Jam dinding di ruang keluarga berdetak. Kenzo berhenti pura-pura main HP.
“Perjodohan dengan Wiranata saya tunda,” kata Papa akhirnya.
Aku hampir melompat dari sofa. Tunda. Bukan dilanjutkan. Tunda!
“Tapi,” lanjut Papa, dan aku langsung duduk diam lagi. Dengan Papa, selalu ada tapi. “Minggu depan ulang tahun Mama kamu. Keluarga besar datang. Bawa dia.”
Aku berhenti bernapas.
“Pa?”
“Kalau dia serius, dia datang.” Papa menatap Devan. “Kamu bisa?”
“Bisa, Om,” jawab Devan tanpa jeda.
Aku menoleh padanya dengan mata melotot. Dia tidak menoleh balik.
Papa mengangguk sekali, lalu berjalan ke arah tangga. Di tengah jalan, beliau berhenti, menoleh sedikit ke arah Devan.
“Kopinya kurang manis?” tanyanya.
Devan terdiam sepersekian detik. “Pas, Om.”
Papa menatapnya sebentar lagi. Lalu naik ke lantai atas tanpa berkata apa-apa lagi.
Mama langsung melompat dari sofa dan memeluk Devan. Benar-benar memeluk, dengan kedua tangan, seperti memeluk anak sendiri yang baru pulang dari rantau.
“Nak Devan harus datang, ya! Tante masakin rendang. Nak Devan suka rendang, kan? Semua orang suka rendang. Kalau nggak suka, Tante masakin yang lain. Nak Devan sukanya apa? Nanti Tante catat.”
“Saya suka rendang, Tante.”
“Tuh kan! Tante tahu!”
Di tangga, Kenzo mengetik sesuatu di HP-nya. Bukti nomor delapan belas, mungkin.
Aku yang menawarkan diri mengantar Devan pulang.
Bukan karena aku ingin berdua dengannya. Tentu saja bukan. Tapi karena Mama bilang Nabila, antar Nak Devan, sudah malam, kasihan, dan kalau aku menolak, itu akan kelihatan aneh.
Jadi sekarang aku menyetir mobilku keluar dari kompleks Pondok Indah, jam sebelas malam, dengan pacar bohonganku di kursi penumpang. Jalanan sudah lengang. Lampu-lampu jalan lewat satu per satu, membuat bayangan yang bergerak di dasbor.
Kami diam sampai keluar dari gerbang kompleks.
Lalu aku meledak.
“Satu malam aja, katanya!”
Devan menoleh padaku dengan tenang. “Siapa yang bilang?”
“Aku! Aku yang bilang! Tadi pagi! Satu malam! Terus sekarang Papa minta kamu datang minggu depan, dan Mama mau masakin kamu rendang, dan Tante Rini mau follow Instagram kamu yang bahkan nggak ada, dan Gerald mau diskusi proyek sama kamu, dan Kenzo punya delapan belas bukti!”
“Delapan belas?”
“Mungkin lebih! Dan kamu bilang bisa! Kenapa kamu bilang bisa?”
“Karena Papa kamu nanya.”
“Kamu bisa bilang nggak bisa!”
“Kalau aku bilang nggak bisa, Papa kamu lanjutin perjodohannya.” Devan melepas kacamatanya, mengelapnya dengan ujung kemeja, lalu memakainya lagi. “Dan dari yang aku lihat tadi, Gerald juga nggak mau. Jadi kalau perjodohannya lanjut, kalian berdua sama-sama sengsara.”
Aku menatap jalan di depan. Dia benar. Aku benci dia benar.
“Kamu tahu Gerald nggak mau?”
“Dia ngomongin margin tiap kali kamu ngelirik dia. Orang yang suka sama kamu nggak akan ngomongin margin. Mereka bakal lupa kata-kata.”
Lampu merah. Aku mengerem. Menoleh padanya.
“Kamu tahu dari mana orang yang suka sama aku bakal lupa kata-kata?”
Devan tidak langsung menjawab. Dia menatap lampu merah di depan dengan sangat serius, seperti lampu merah itu adalah hal paling menarik di dunia.
“Asumsi,” katanya.
“Asumsi.”
“Berdasarkan data.”
“Data dari mana?”
“Lampunya udah hijau.”
Aku menoleh ke depan. Lampunya memang sudah hijau, dan mobil di belakang mulai mengklakson. Aku menginjak gas dengan wajah terbakar.
Kami diam lagi. Kali ini diamnya lain. Bukan diam canggung. Lebih seperti diam dua orang yang sama-sama tahu ada sesuatu yang aneh, tapi tidak ada yang mau jadi yang pertama menyebutnya.
“Kamu kebanyakan improvisasi,” kataku akhirnya, karena aku harus mengatakan sesuatu.
“Maksudnya?”
“Rangkul pinggang. Itu nggak ada di naskah. Jatuh cinta di detik pertama. Itu juga nggak ada. Yang pertama, dia cantik. Itu juga nggak ada!”
“Tante kamu nanya. Aku harus jawab.”
“Kamu bisa jawab yang biasa-biasa aja!”
“Jawaban biasa-biasa aja nggak meyakinkan.” Dia menoleh padaku. Di bawah lampu jalan yang lewat, aku bisa melihat sudut bibirnya naik. “Lagian, kamu juga banyak improvisasi.”
“Aku nggak improvisasi apa-apa!”
“Kamu blushing.”
“Aku nggak...”
“Tiga belas kali.”
Aku hampir menabrak trotoar. “Kamu ngitung?”
“Kamu ngitung sepuluh detik tadi pagi. Aku ngitung kamu blushing. Kita impas.”
Aku mengeluarkan suara yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa manusia mana pun. Devan tertawa, tawa rendahnya yang tadi siang membuat dua perempuan di kafe menoleh, dan sekarang memenuhi mobilku yang sempit dan membuat telingaku panas.
“Terus sekarang gimana?” tanyaku setelah berhasil menenangkan diri. “Minggu depan ulang tahun Mama. Keluarga besar datang. Itu bukan cuma lima orang. Itu tiga puluh orang. Sepupu-sepupu aku. Nenek aku. Om-om dan tante-tante yang lain.”
“Oke.”
“Oke apa?”
“Oke, kita butuh kontrak.”
Aku menoleh. “Kontrak?”
Devan merogoh saku kemejanya, kemeja pinjaman yang sudah berbunyi kreeek tiga kali malam ini, dan mengeluarkan selembar tisu yang terlipat dua kali. Dia membukanya pelan-pelan di bawah cahaya lampu jalan yang lewat.
PERJANJIAN SATU MALAM.
“Kontrak ini,” katanya, “berakhir jam dua belas malam nanti. Satu malam. Sesuai kesepakatan.” Dia melipatnya lagi dengan hati-hati. “Kalau kamu mau lanjut, kita butuh kontrak baru. Yang lebih jelas. Yang ada pasal-pasalnya. Biar nggak ada yang bingung, dan biar nggak ada yang...” Dia berhenti.
“Nggak ada yang apa?”
“Improvisasi berlebihan.”
Aku menatapnya sebentar, lalu kembali menatap jalan. Hatiku berdetak dengan ritme yang aneh.
“Oke,” kataku. “Kontrak baru.”
“Besok pagi. Jam delapan. Meja tujuh.”
“Kamu nggak kerja?”
“Besok Sabtu.”
“Oh. Iya.”
Dia memintaku menurunkannya di stasiun MRT Blok M, karena katanya dari situ dia bisa naik taksi ke rumahnya. Aku ingin mengantarnya sampai rumah, tapi dia menolak dengan sopan, dan aku tidak memaksa. Aku sadar aku bahkan tidak tahu dia tinggal di mana.
Aku menepikan mobil. Dia membuka sabuk pengaman, lalu diam sebentar dengan tangan di pegangan pintu.
“Nabila.”
“Ya?”
“Tadi. Yang aku bilang ke Tante Rini.”
Jantungku melompat. “Yang mana?”
Dia menatapku. Lampu jalan membuat bayangan di wajahnya, dan aku tidak bisa membaca ekspresinya dengan jelas. Tapi suaranya pelan, lebih pelan dari biasanya.
“Soal kamu cantik.”
Aku menunggu. Dia akan bilang itu akting. Dia akan bilang itu bagian dari totalitas. Aku sudah siap mendengarnya. Aku bahkan sudah menyiapkan senyum iya aku tahu kok yang santai.
“Itu bukan improvisasi,” kata Devan.
Lalu dia membuka pintu, keluar, dan menutupnya sebelum aku sempat bereaksi.
Aku duduk membeku di kursi pengemudi. Dari balik kaca, aku melihatnya berjalan ke arah pintu masuk stasiun, tinggi dan tenang, dengan kemeja navy yang terlalu sempit. Di tengah jalan, dia berbalik dan melambaikan tangan ke arahku.
Tangannya terangkat tinggi.
Dan kemejanya, akhirnya, setelah berjuang sepanjang malam, robek di bagian bahu dengan bunyi kraaak yang bisa kudengar bahkan dari dalam mobil yang jendelanya tertutup.
Devan berhenti. Menoleh ke bahunya. Menatap robekan itu. Lalu menoleh padaku lagi, dan mengangkat bahunya, bahu yang robek, seolah berkata ya sudahlah.
Aku tertawa sampai air mataku keluar. Aku tertawa sampai harus menyandarkan kepala di setir, dan klaksonnya berbunyi, dan satpam stasiun menoleh ke arahku dengan curiga.
Waktu aku mengangkat kepala lagi, Devan sudah menghilang di balik pintu stasiun.
Aku melihat jam di dasbor. Jam sebelas lewat empat puluh tiga.
Dua puluh tujuh menit lagi sebelum kontrak satu malam kami berakhir.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi pagi, aku tidak ingin kontrak itu berakhir.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya reading
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi