Chapter Seventeen
Hujan di Parkiran
POV: Nabila
Hujan turun jam sebelas malam, tepat waktu kami keluar dari hotel.
Tidak ada gerimis. Tidak ada aba-aba. Langit Senayan yang tadi cuma gelap tiba-tiba terbelah, dan air tumpah dari atas seperti seseorang membalik ember raksasa. Dalam hitungan detik, trotoar di depan lobi berubah jadi sungai kecil, dan orang-orang yang tadinya berjalan santai ke mobil mereka berlarian sambil menutupi kepala dengan tas tangan dan jas.
Mama dan Papa sudah pulang duluan bersama Oma dan Kenzo. Aku bawa mobil sendiri, karena tadi sore aku berangkat langsung dari kantor. Dan aku menawarkan diri mengantar Devan ke stasiun MRT, yang disetujui Mama dengan senyum yang terlalu lebar dan kedipan yang sama sekali tidak halus.
Mobilku diparkir di area terbuka di belakang hotel. Lima puluh meter dari lobi.
“Tunggu di sini,” kata Devan, melepas jas sewaannya. “Aku ambil payung dari satpam.”
“Jangan lepas jasnya! Itu sewaan!”
“Makanya aku lepas. Biar nggak basah.”
“Terus kamu yang basah?”
“Aku nggak disewa.”
Dia pergi ke pos satpam sebelum aku sempat membantah. Kembali dengan satu payung hitam besar dan jas yang sudah dilipat dan dijejalkan ke dalam tas plastik hotel. Kemeja putih di balik jasnya sudah basah di bagian bahu.
Dia membuka payung dan mengulurkan tangannya.
Aku menatap tangan itu. Lalu menggenggamnya.
Kami berlari. Atau lebih tepatnya, aku berlari dengan sepatu hak yang tidak dirancang untuk berlari, dan Devan menyesuaikan langkahnya dengan langkahku, memegang payung miring ke arahku seperti di GBK waktu itu. Air memercik ke gaun hitamku. Rambutku yang tadi bergelombang rapi mulai lepek.
Dan aku tertawa. Aku tidak tahu kenapa. Aku basah, tumitku lecet, dan ada pria mabuk yang tadi mengatakan hal-hal menjijikkan padaku. Tapi aku tertawa, berlari di tengah hujan dengan tangan Devan di tanganku, dan rasanya seperti adegan di film romantis yang ending-nya bahagia.
Kami sampai di mobil. Aku membuka kunci. Kami masuk bersamaan, dia di kursi penumpang, aku di kursi pengemudi, dan menutup pintu di saat yang sama.
Hening. Cuma suara hujan yang memukul atap mobil seperti drum.
Aku menoleh padanya. Rambutnya basah, menetes ke kacamata. Kemejanya menempel di bahu. Dia sedang melepas kacamatanya untuk mengelapnya dengan ujung kemeja yang juga basah, yang cuma membuatnya lebih buram.
“Pakai tisu,” kataku, menyodorkan kotak tisu dari dasbor.
“Makasih.”
Dia mengelap kacamatanya. Tanpa kacamata, lagi. Aku buru-buru menatap setir.
“Udah?”
“Udah.”
“Pakai.”
Dia memakainya. Aku menghembuskan napas.
Aku menyalakan mesin. Menyalakan wiper. Menyalakan lampu.
Lalu aku menatap ke depan, ke jalan keluar parkiran, dan melihat antrean mobil yang tidak bergerak sama sekali. Di ujung antrean, di pintu keluar, aku bisa melihat genangan air yang sudah setinggi betis. Seorang satpam dengan jas hujan oranye melambaikan tongkat lampunya, memberi isyarat bahwa semua mobil harus menunggu.
“Banjir,” kataku.
“Kayaknya.”
“Berapa lama?”
“Kalau hujannya begini terus? Satu jam. Mungkin lebih.”
Aku mematikan mesin. Bersandar di kursi. Menatap langit-langit mobil.
Kami terjebak.
Lima menit pertama, kami tidak bicara.
Hujan terlalu keras untuk bicara, dan aku terlalu sibuk memikirkan apa yang dia katakan di lobi tadi. Pasal sepuluh. Dan apa yang kukatakan di balkon. Aku nggak percaya.
Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang. Mungkin dari jus jeruk. Mungkin dari cara dia berdiri di antara aku dan Reza, dengan piring puding di tangan dan suara yang tidak pernah naik. Mungkin dari cara dia bilang kamu nggak perlu dilihatin sama dua ratus orang.
Mungkin dari cara dia meminum tiga gelas air putih berturut-turut sambil menatap aku dan Gerald di dekat jendela.
“Devan,” kataku.
“Hm.”
“Kamu beneran cemburu sama Gerald?”
Hening. Hujan memukul atap.
Aku menoleh padanya. Dia sedang menatap kaca depan, di mana air mengalir turun seperti tirai.
“Hari Rabu,” katanya pelan. “Aku ke kantor kamu. Bawa kopi. Mau kasih kejutan.”
Aku mengerjap. “Hari Rabu?”
“Kamu lagi makan siang. Sama Gerald. Kalian ketawa. Dia nutup muka pakai tangan, terus telinganya merah.” Dia berhenti. “Aku kasih latte kamu ke satpam, terus pulang.”
Aku menatapnya. Mulutku terbuka.
“Kamu... kasih latte aku ke satpam?”
“Satpamnya kelihatan haus.”
“Kamu datang ke kantor aku, lihat aku sama Gerald, terus kamu pulang? Tanpa nyapa?”
“Kalian kelihatan... asyik.”
“DEVAN.”
Dia menoleh padaku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia kelihatan tidak tenang. Rahangnya mengencang. Matanya di balik kacamata yang masih sedikit berembun kelihatan... takut. Seperti anak kecil yang baru mengaku memecahkan vas bunga.
“Iya,” katanya. “Aku cemburu. Bukan sesuai kontrak. Beneran.”
Dan aku tertawa.
Bukan tawa mengejek. Bukan tawa jahat. Tawa yang meledak dari perutku, tidak bisa kutahan, sampai aku harus membungkuk memegangi perut dan kepalaku hampir membentur setir.
“Kenapa ketawa?” tanyanya, dengan suara yang sedikit tersinggung.
“Gerald...” Aku tidak bisa berhenti. “Gerald...”
“Gerald kenapa?”
“Gerald naksir Sasa!”
Hening.
Hujan terus memukul atap. Wiper yang lupa kumatikan bergerak sekali, lalu berhenti.
Devan menatapku. “Sasa?”
“Sasa! Sahabat aku! Yang motret kita di Kota Tua! Yang tadi jadi koordinator acara di gala, pakai earpiece!” Aku mengusap air mata di sudut mataku. “Gerald udah naksir Sasa dari gala tiga bulan lalu, yang Sasa juga koordinatornya! Dia nggak berani ngajak ngobrol! Tiap ketemu dia panik terus ngomongin margin! Dia makan siang sama aku hari Rabu buat minta tips gimana cara ngajak Sasa ngopi tanpa ngomongin margin!”
Devan diam.
“Dan tadi di gala,” lanjutku, masih terengah karena tertawa, “waktu dia narik aku ke jendela, dia nanya apakah Sasa udah punya pacar. Terus dia ngeliatin Sasa di panggung selama lima menit, terus nanya lagi apakah Sasa suka bunga atau cokelat. Terus dia nutup muka pakai tangan waktu aku bilang Sasa suka bakso.”
Devan terus diam.
Lalu, sangat pelan, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap langit-langit mobil, dan menutup matanya.
“Sasa,” katanya.
“Sasa.”
“Bukan kamu.”
“Bukan aku.”
Dia menghembuskan napas panjang. Sangat panjang. Seperti orang yang sudah menahan napas selama empat hari dan baru boleh melepaskannya sekarang. Bahunya turun. Tangannya, yang tadi mengepal di atas lutut, terbuka.
Dan melihatnya seperti itu, lega sampai kehilangan seluruh ketenangannya, membuat tawaku berhenti.
Aku menatapnya. Rambutnya yang basah. Kemejanya yang menempel. Wajahnya yang, tanpa ketenangan yang biasa dia pakai seperti baju zirah, kelihatan jauh lebih muda. Lebih lembut. Lebih mudah dilukai.
Dia cemburu. Beneran. Dia datang ke kantorku membawa kopi, melihatku tertawa dengan cowok lain, lalu memberikan kopiku ke satpam dan pulang sendirian. Dan dia tidak bilang apa-apa selama empat hari. Dia datang ke gala dengan jas sewaan, meminum tiga gelas air, dan tetap berdiri di antara aku dan Reza dengan senyum sopan.
Semua itu dia lakukan sambil berpikir aku mungkin memilih Gerald.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak memutuskan apa-apa. Tapi tiba-tiba aku sudah membuka sabuk pengamanku, mencondongkan badan melewati konsol tengah, dan memeluknya.
Bukan pelukan tiga detik. Bukan pelukan karena dipaksa keadaan. Bukan pelukan sandiwara di depan keluarga. Tidak ada keluarga di sini. Tidak ada siapa-siapa. Cuma hujan, mobil yang tidak bisa ke mana-mana, dan cowok yang cemburu pada orang yang salah.
Lenganku melingkari lehernya. Pipiku menempel di bahunya yang basah. Aku bisa mencium wangi sabunnya, kayu dan sedikit jeruk, bercampur bau hujan.
Devan membeku.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Lalu lengannya bergerak. Pelan, ragu, seperti orang yang takut menyentuh sesuatu yang bisa pecah. Satu tangan di punggungku. Satu tangan di belakang kepalaku, di rambutku yang lepek.
Dan dia memelukku balik.
Erat. Sangat erat. Seperti orang yang sudah lama sekali menginginkan ini dan tidak percaya bahwa akhirnya terjadi.
Empat detik. Lima detik. Sepuluh detik.
Aku berhenti menghitung.
Aku tidak tahu berapa lama kami seperti itu. Cukup lama sampai leherku pegal karena posisi yang aneh melewati konsol tengah. Cukup lama sampai aku bisa merasakan detak jantungnya di bawah pipiku, cepat dan keras, sama cepatnya dengan jantungku.
Akhirnya aku menarik diri. Pelan. Tidak sepenuhnya. Aku kembali ke kursiku, tapi dia masih memegang tanganku, dan aku tidak menariknya.
Kami saling menatap dalam cahaya redup lampu parkiran yang masuk lewat kaca yang dibanjiri hujan.
“Pasal tiga,” katanya pelan. Suaranya serak. “Pelukan maksimal tiga detik.”
“Aku tahu.”
“Itu lebih dari tiga detik.”
“Aku tahu.”
“Nggak ada keluarga kamu di sini.”
“Aku tahu, Devan.”
Dia menatapku. Aku menatapnya. Hujan terus turun.
“Aku lagi nahan diri, lho,” katanya tiba-tiba.
“Nahan apa?”
“Nahan buat nggak bilang kamu cantik lagi.” Sudut bibirnya naik sedikit. “Udah tiga kali hari ini. Di lobi. Di dalam kepala waktu kamu jalan ke meja Oma. Di balkon waktu kamu ketawa. Kuotaku habis.”
“Yang di dalam kepala nggak dihitung.”
“Dihitung. Aku yang bikin aturannya.”
“Nggak ada pasal soal kuota cantik.”
“Ada. Aku baru bikin. Pasal sebelas koma lima.”
“Nggak ada pasal koma-komaan.”
“Sekarang ada. Nyelip.”
Aku tertawa. Pelan. Dan dia tersenyum. Lalu tawaku reda, dan senyumnya juga, dan yang tersisa hanya kami berdua, di dalam mobil, dengan tangan yang masih bertaut di atas konsol tengah.
Aku tidak tahu siapa yang bergerak duluan.
Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin kami berdua, di saat yang sama, seperti kami selalu mengatakan hal yang sama di saat yang sama. Yang aku tahu, tiba-tiba jarak di antara wajah kami menyempit. Dua puluh senti. Lima belas. Sepuluh.
Aku bisa melihat tetes air di bingkai kacamatanya. Aku bisa melihat bulu matanya, yang ternyata panjang, yang tidak pernah kuperhatikan sebelumnya. Aku bisa melihat matanya bergerak dari mataku, turun, lalu naik lagi.
Lima senti.
Napasnya hangat di wajahku. Aku menutup mata.
Tok. Tok. Tok.
Kami melompat. Aku membentur jendela di sisiku. Devan membentur sandaran kepala di sisinya. Kacamatanya miring.
Di luar jendela pengemudi, seorang satpam dengan jas hujan oranye sedang mengetuk kaca dengan tongkat lampunya. Air menetes dari tudung jas hujannya. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak hal di parkiran hotel jam sebelas malam dan sudah tidak peduli lagi.
Aku menurunkan jendela lima senti. Air hujan langsung masuk.
“Mas, Mbak,” kata satpam itu, dengan suara yang sama datarnya dengan wajahnya. “Airnya udah surut. Silakan jalan. Parkirnya udah mau tutup.”
“...Makasih, Pak.”
Satpam itu mengangguk sekali. Lalu, sebelum berbalik, dia menatap Devan dengan kacamata miringnya, lalu menatapku dengan rambut lepek dan wajah yang pasti semerah lampu rem.
“Hati-hati di jalan,” katanya. “Jalanannya licin.”
Lalu dia pergi, berjalan ke mobil berikutnya dengan langkah santai, menyiulkan sesuatu.
Aku menutup jendela.
Hening.
Aku menatap setir. Devan membetulkan kacamatanya. Tidak ada yang bicara.
Lalu Devan mulai tertawa. Pelan, di dalam dada, dengan bahu yang bergetar. Dan aku mulai tertawa juga. Dan dalam lima detik, kami berdua tertawa begitu keras sampai mobilnya bergoyang, sampai air mataku keluar lagi, sampai satpam tadi menoleh dari kejauhan dengan wajah bingung.
“Parkirnya udah mau tutup,” kata Devan di sela tawanya, menirukan nada datar satpam itu dengan sempurna.
“Berhenti!”
“Jalanannya licin.“
“DEVAN!”
Aku menyalakan mesin dengan tangan gemetar karena tertawa. Aku keluar dari parkiran dengan kecepatan lima kilometer per jam, melewati genangan yang sudah surut, melewati satpam yang menatap kami seperti menatap dua orang gila.
Di jalan raya, tawa kami reda.
Hujan sudah jadi gerimis. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah, oranye dan kuning, seperti sungai cahaya. Aku menyetir pelan. Devan menatap keluar jendela.
Kami tidak membahas apa yang hampir terjadi.
Tapi di lampu merah pertama, tanpa menoleh, tanpa bicara, Devan mengulurkan tangannya di atas konsol tengah, telapak menghadap ke atas.
Aku menatap tangan itu.
Lalu aku meletakkan tanganku di atasnya. Dan dia menggenggamnya, jari menyusup di sela jari, sampai lampu berubah hijau.
Aku menyetir dengan satu tangan sampai stasiun MRT.
Dia tidak melepaskan tanganku sampai kami berhenti. Dan waktu dia akhirnya melepasnya untuk membuka pintu, dia berhenti sebentar dengan tangan di pegangan pintu, seperti di malam pertama, dan menoleh padaku.
“Nabila.”
“Ya?”
“Tadi. Di lobi. Yang aku bilang pasal sepuluh.”
Aku menahan napas.
“Kamu benar,” katanya. “Itu bukan pasal sepuluh.”
Dia keluar sebelum aku sempat menjawab. Lagi. Selalu begitu. Dia selalu mengatakan hal paling penting tepat sebelum pergi, seperti orang yang takut mendengar jawabannya.
Tapi kali ini dia tidak langsung berjalan ke stasiun. Dia berdiri di pinggir jalan, di bawah gerimis, dengan tas plastik berisi jas sewaan di tangan, dan menatapku lewat kaca jendela yang basah.
Lalu dia tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya. Dan melambaikan tangan, pelan, dengan tangan yang tadi menggenggamku.
Kemeja putihnya tidak robek kali ini. Kemeja itu pas.
Aku melambai balik. Lalu aku menyetir pulang, sendirian, di bawah gerimis Jakarta jam dua belas malam, dengan tangan kanan yang masih terasa hangat dan bibir yang masih terasa... kosong. Seperti ada sesuatu yang harusnya ada di sana, tapi terlambat lima senti.
Aku menyalakan radio. Lagu yang diputar adalah lagu yang selalu kusenandungkan, lagu lama yang dulu sering dinyanyikan Nenek waktu memasak. Lagu yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun.
Aku ikut bernyanyi. Keras-keras. Sendirian di dalam mobil.
Dan aku tidak peduli siapa yang mendengar.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran reading
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi