Chapter Nineteen

Sepuluh Detik Versi Aku

POV: Nabila

“Kamu cinta sama dia,” kata Sasa.

Dia mengatakannya dengan mulut penuh bakso, di warung bakso langganan kami di dekat kantorku, hari Senin jam dua belas siang. Tanpa jeda. Tanpa basa-basi. Seperti dokter yang membacakan hasil rontgen.

Aku menjatuhkan sendokku ke mangkuk. Kuahnya memercik ke blazer.

“Aku nggak bilang apa-apa!”

“Kamu nggak perlu bilang.” Sasa menelan baksonya, lalu menunjukku dengan garpu. “Kamu udah dua puluh menit di sini dan kamu belum makan satu bakso pun. Kamu ngaduk kuah terus. Kamu senyum-senyum ke mangkuk. Dan tadi kamu tanya aku, Sa, kalau misalnya ada orang yang nyium kening orang lain di balkon, itu artinya apa. Misalnya. Kamu bilang misalnya tiga kali.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

“Dia nyium kening kamu?” Suara Sasa naik satu oktaf. Ibu penjual bakso menoleh.

“Latihan,” gumamku dari balik tangan. “Katanya latihan.”

“Latihan buat apa?”

“Buat nanti ada penontonnya.”

Sasa diam. Lalu dia meletakkan garpunya dengan sangat pelan, seperti orang yang meletakkan senjata di meja perundingan.

“Bil,” katanya. “Itu kalimat paling romantis yang pernah aku denger dari mulut cowok, dan aku bahkan bukan orang yang dicium.”

“Itu cuma pasal sepuluh.”

“Kontrak kalian ada pasal soal cium kening?”

“...Nggak. Cium dilarang.”

“Terus?”

Aku menurunkan tangan dari wajah. Menatap mangkuk baksoku yang sudah dingin. Menatap blazer yang kena kuah.

“Aku jatuh cinta sama dia, Sa,” kataku. Pelan. Pertama kali keras-keras, di luar kepalaku sendiri.

Sasa menatapku. Lalu, pelan-pelan, senyumnya melebar sampai hampir menyentuh telinga.

“AKU TAHU!” teriaknya, begitu keras sampai ibu penjual bakso menjatuhkan sendok sayurnya. “AKU TAHU DARI KOTA TUA! DARI FOTO PERTAMA! KAMU SENYUM KAYAK ORANG YANG NGGAK PERNAH SENYUM SEBELUMNYA!”

“Sa, pelan!”

“NGGAK MAU PELAN!”

Tiga orang di meja sebelah menoleh. Aku menarik Sasa duduk kembali, karena dia sudah setengah berdiri, dan memberinya tatapan paling tajam yang bisa kubuat. Dia duduk, tapi senyumnya tidak hilang.

“Terus kamu mau ngapain?” tanyanya, lebih pelan sekarang.

“Nggak tahu.”

“Kamu mau bilang ke dia?”

“Kalau aku bilang, kontraknya batal. Pasal empat. Batal otomatis.”

“Terus?”

“Terus kalau dia nggak ngerasa hal yang sama, dia nggak punya alasan buat datang lagi. Nggak ada rendang. Nggak ada golf. Nggak ada meja tujuh.” Aku menatap kuah baksoku. “Aku bisa kehilangan dia, Sa.”

Sasa menatapku lama. Lalu dia mengambil HP-nya, membuka sesuatu, dan menyodorkannya padaku.

“Baca.”

Itu pesan WhatsApp. Dari Gerald.

Sasa, maaf mengganggu. Ini Gerald Wiranata, yang di gala kemarin. Apakah kamu ada waktu minggu ini untuk minum kopi? Saya janji tidak akan membahas margin. Salam hormat, Gerald.

Aku mengangkat wajah. “Gerald ngajak kamu ngopi?”

“Sabtu kemarin. Waktu kamu di Puncak.” Sasa mengambil HP-nya kembali. “Terus aku bales boleh. Terus kami ngopi hari Minggu. Terus dia ngomongin margin dua puluh menit.”

“Dia janji nggak ngomongin margin!”

“Dia minta maaf tiap lima menit. Dia bilang maaf, saya ngomongin margin lagi, saya gugup. Terus lanjut ngomongin margin.” Sasa tertawa kecil. Lalu, yang membuatku terkejut, pipinya memerah. “Tapi lucu, Bil. Dia lucu. Dia nggak kayak yang aku kira. Dia kaku di luar, tapi di dalam dia kayak anak anjing yang takut salah.”

Aku menatap sahabatku. Sasa, yang tidak pernah memerah. Sasa, yang selalu punya komentar untuk semua hal.

“Kamu suka sama Gerald,” kataku.

“Kita lagi ngomongin kamu.”

“Kamu suka sama Gerald!”

“Intinya!” Sasa memotong, dengan pipi yang semakin merah. “Intinya, Gerald yang kaku dan takut dan ngomongin margin aja berani ngirim pesan. Kamu? Kamu yang dikenal Tante Rini sebagai perempuan idaman seluruh Jakarta? Kamu mau diem aja?”

Aku tidak menjawab.

“Bil, sayangku,” kata Sasa, lembut sekarang. “Kamu tahu apa yang kamu lakuin di kafe waktu pertama ketemu dia? Kamu berdiri, jalan ke mejanya, duduk, terus minta dia jadi pacar kamu. Ke orang asing. Tanpa mikir.” Dia mengambil tanganku di atas meja. “Kamu udah pernah seberani itu. Buat hal yang bohong. Masa kamu nggak bisa seberani itu buat hal yang beneran?”


Aku memikirkan kata-kata Sasa sepanjang sore.

Di rapat, aku memikirkannya. Di depan laptop, aku memikirkannya. Pak Gunawan melewati mejaku dan mengangguk, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelum aku menang minggu lalu, dan aku bahkan tidak sadar sampai rekan kerjaku menyikutku.

Jam empat sore, langit Jakarta menggelap. Hujan sore, seperti biasa di bulan-bulan ini. Aku menatapnya dari jendela kantor lantai dua belas, melihat awan-awan hitam bergulung dari arah selatan.

Lalu aku mengambil HP dan mengetik.

Besok. Jam empat sore. Meja tujuh. Penting.

Aku menatap pesan itu lama sebelum mengirimnya. Lalu aku mengirimnya, dan langsung membalik HP.

Tiga detik kemudian, HP-ku bergetar.

Oke.

Lalu satu lagi.

Penting kenapa?

Aku tidak membalas.

Nabila?

Aku tidak membalas.

Kamu nggak apa-apa?

Aku akhirnya membalas: Aku nggak apa-apa. Besok aja.

Lama tidak ada balasan. Lalu:

Oke. Besok. Aku bawa payung.

Aku menatap pesan itu dan tersenyum ke layar HP seperti orang bodoh. Rekan kerjaku di meja sebelah menatapku dengan curiga. Aku buru-buru memasukkan HP ke laci.


Hari Selasa, jam empat kurang dua puluh, aku sudah duduk di meja nomor tujuh.

Hujan belum turun, tapi langit sudah gelap. Awan-awan hitam menggantung rendah di atas Kemang, dan udara terasa berat dan lembap. Kafe Jeda sepi. Cuma ada satu mahasiswa di pojok yang tertidur di atas laptopnya.

Mas Jaka datang ke mejaku tanpa diminta, membawa oat latte less sugar. Dia menaruhnya di depanku dengan sangat hati-hati.

“Mbak Nabila,” katanya.

“Ya, Mas?”

“Mbak cantik banget hari ini.”

Aku menatapnya. Aku memakai dress biru muda, yang sama dengan yang kupakai di ulang tahun Mama, dan rambutku kugerai. Aku tidak tahu kenapa aku memilih dress ini. Oke, aku tahu kenapa.

“Makasih, Mas.”

“Mbak gugup?”

“Kok tahu?”

“Mbak gigit sedotan. Padahal Mbak belum dikasih sedotan.” Dia menunjuk ke bibirku.

Aku sedang menggigit ujung jariku sendiri. Aku menurunkan tanganku buru-buru.

Mas Jaka menatapku dengan mata yang, anehnya, sangat bijak untuk seorang barista yang tidak bisa membuat latte art berbentuk hati. Lalu dia menunjuk cangkirku.

“Saya coba lagi hari ini, Mbak,” katanya. “Semoga berhasil.”

Aku menatap cangkirku.

Busa susunya membentuk sesuatu yang bulat di bagian atas, dengan ujung runcing di bawah. Hampir. Hampir sekali. Kalau dilihat dari sudut tertentu, dengan cahaya tertentu, dengan hati yang penuh harapan, itu hampir seperti hati.

Hanya saja salah satu lengkungan atasnya sedikit penyok. Seperti hati yang habis dijatuhkan.

“Mas,” kataku. “Ini hampir hati.”

Mas Jaka menatap cangkir itu. Matanya berbinar-binar. “Beneran, Mbak?”

“Beneran. Hampir.”

“Hampir,” ulangnya, seperti mengucapkan doa. Dia mengepalkan tangan. “Hampir! Saya udah deket, Mbak! Udah deket!”

Dia berjalan kembali ke bar dengan langkah yang ringan, hampir melompat. Aku menatap latte hampir-hati itu dan merasa, entah kenapa, itu pertanda.

Jam empat kurang lima, hujan turun.

Aku menarik selembar tisu dari tempatnya di ujung meja. Tisu yang sama seperti lima minggu lalu, putih tipis dengan logo Kafe Jeda kecil di pojoknya. Aku mengambil pulpen dari tas dan mencoba menulis apa yang mau kukatakan. Supaya rapi. Supaya tidak ada yang terlewat. Seperti dia menyusun sejarah palsu kami di tisu nomor satu sampai empat.

Devan, aku mau bilang sesuatu. Aku coret. Terlalu formal.

Dev, kayaknya aku... Aku coret. Terlalu ragu.

Pasal empat. Aku menatap dua kata itu lama. Lalu aku mencoretnya juga, meremas tisunya jadi bola kecil, dan memasukkannya ke tas.

Tidak ada naskah untuk ini. Tidak ada tisu yang bisa menyelamatkanku. Untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, aku harus bicara tanpa persiapan, tanpa pasal, tanpa cerita yang sudah disusun rapi.

Persis seperti lima minggu lalu. Hanya saja waktu itu aku berbohong. Sekarang tidak.


Devan masuk jam empat tepat, dengan payung hitam dan kemeja biru muda yang basah di bahu kiri.

Dia berhenti di ambang pintu. Menatapku. Menatap dress biru mudaku. Menatap kemejanya sendiri, yang warnanya sama.

“Kebetulan,” kataku, sebelum dia sempat bilang apa-apa.

“Aku nggak bilang apa-apa.”

“Mata kamu bilang.”

Dia tersenyum kecil, menutup payung, menaruhnya di tempat payung di dekat pintu, dan berjalan ke meja nomor tujuh. Duduk di depanku. Di kursi yang sama dengan kursinya lima minggu lalu, waktu aku datang dan meminta dia jadi pacarku.

Mas Jaka membawakan kopi hitam tanpa gula untuknya, lalu mundur dengan sangat pelan ke balik bar, dan dari sudut mataku aku melihatnya berhenti mengelap gelas dan menatap ke arah kami.

“Kamu kenapa?” tanya Devan. Suaranya pelan. Khawatir. “Kemarin kamu bilang penting. Terus nggak mau jelasin. Aku nggak bisa tidur semalam.”

“Kamu nggak bisa tidur?”

“Aku kira ada yang salah. Aku kira Kenzo nemu sesuatu. Atau Papa kamu. Atau...” Dia berhenti. Menatap tangannya sendiri di atas meja. “Atau kamu mau berhenti.”

Aku menatapnya. Dia tidak menatapku.

“Kamu kira aku mau berhenti?”

“Perjodohannya udah nggak ada yang ngomongin. Gerald udah ngajak Sasa ngopi. Pasal satu tinggal nunggu Papa kamu bilang batal.” Suaranya tenang, tapi terlalu tenang. Suara orang yang sudah menyiapkan diri untuk kabar buruk. “Aku ngerti kalau kamu mau selesaikan kontraknya sekarang. Lebih cepat lebih...”

“Devan.”

Dia berhenti.

Aku mengambil napas. Dalam-dalam. Hujan memukul-mukul jendela besar di sebelah meja kami, dan lampu kuning kafe membuat semua bayangan jadi lembut.

Lalu aku mulai menghitung.

Di dalam kepala. Seperti waktu itu. Seperti kebiasaanku sejak kecil, setiap kali aku terlalu gugup untuk berpikir, dan angka jadi satu-satunya hal yang pasti.

Satu.

Devan mengangkat wajahnya. Menatapku.

Dua.

Hujan semakin deras.

Tiga.

Aku bisa merasakan jantungku di tenggorokan.

Empat.

Dia mengerutkan kening. “Nabila?”

Lima.

Aku tidak menjawab. Aku terus menghitung.

Enam.

Kacamatanya melorot sedikit. Aku tidak membetulkannya. Tanganku gemetar di pangkuan.

Tujuh.

Di balik bar, Mas Jaka berhenti bernapas. Aku tahu, karena aku tidak mendengar bunyi gelas sama sekali.

Delapan.

Wajah Devan berubah. Dari khawatir ke bingung. Dari bingung ke sesuatu yang lain. Sesuatu seperti pengenalan. Seperti orang yang baru menyadari bahwa dia pernah berada di posisi ini sebelumnya, tapi dari sisi meja yang berbeda.

Sembilan.

Dia membuka mulut. Aku melihat bibirnya membentuk kata kamu, tapi tidak ada suara yang keluar.

Sepuluh.

“Aku suka kamu,” kataku.

Hening.

Hujan terus turun. Mahasiswa di pojok masih tertidur. Latte hampir-hati di cangkirku mulai memudar, busanya melebar pelan-pelan.

“Beneran,” lanjutku, karena sekarang aku sudah mulai dan tidak bisa berhenti. Kata-kata itu keluar seperti air dari bendungan yang jebol. “Bukan pasal sepuluh. Bukan akting. Bukan totalitas. Aku suka kamu. Aku jatuh cinta sama kamu. Mungkin dari waktu kamu bilang oke. Mungkin dari waktu kamu bilang kamu orang yang butuh pacar jam tujuh malam, itu cukup. Mungkin dari waktu kemeja kamu robek di Blok M. Aku nggak tahu kapan. Aku cuma tahu sekarang.”

Devan menatapku. Tidak bergerak. Tidak berkedip.

“Aku tahu ini ngelanggar pasal empat,” kataku. Suaraku mulai gemetar. “Aku tahu kontraknya batal. Aku tahu kamu mungkin nggak ngerasa hal yang sama, dan kalau kamu nggak ngerasa hal yang sama, nggak apa-apa. Beneran. Aku bakal bilang ke keluarga aku kita putus baik-baik. Kamu nggak perlu datang lagi. Kamu nggak perlu...”

Aku berhenti. Menarik napas. Menahan air mata yang tiba-tiba mulai mengumpul di sudut mataku.

“Pasal empat aku langgar,” kataku. “Tuntut aja.”


Devan tidak menjawab.

Dia menatapku. Lama. Lebih lama dari sepuluh detik. Lebih lama dari yang pernah dia lakukan sebelumnya.

Aku menatapnya balik, dengan jantung yang berdetak begitu keras sampai aku yakin dia bisa mendengarnya dari seberang meja. Dengan tangan yang mencengkeram rok dress biru mudaku di bawah meja. Dengan mata yang semakin panas.

Satu. Aku mulai menghitung lagi, tanpa sadar. Dua. Tiga.

Wajahnya tidak bisa kubaca. Wajah yang sama seperti waktu pertama kali aku duduk di depannya. Diam. Tenang. Tertutup.

Empat. Lima.

Mungkin aku salah. Mungkin semua itu memang akting. Mungkin dia cuma orang yang sangat, sangat pandai berakting, dan aku cuma perempuan bodoh yang jatuh cinta pada sandiwaranya sendiri.

Enam. Tujuh.

Di balik bar, aku mendengar Mas Jaka berbisik, sangat pelan, “Ayo, Mas. Ayo.”

Delapan.

Devan mengangkat tangannya.

Pelan. Sangat pelan. Tangannya naik ke wajahnya, ke bingkai kacamatanya.

Sembilan.

Dan dia melepas kacamatanya.

Dia melipatnya. Menaruhnya di atas meja, di sebelah cangkir kopinya yang belum tersentuh. Lalu dia mengangkat wajahnya dan menatapku.

Tanpa kacamata.

Dengan mata cokelat gelap yang, dari jarak sedekat ini, di bawah lampu kuning kafe dan cahaya kelabu hujan, kelihatan basah.

Sepuluh.

Aku berhenti bernapas.

Karena aku ingat apa yang kutulis di kepalaku malam itu, jam dua pagi, di restoran cepat saji. Waktu dia pertama kali melepas kacamatanya dan aku bilang pakai lagi. Waktu dia bertanya kenapa, dan aku bilang dia kelihatan beda. Kelihatan seperti orang lain.

Aku salah waktu itu.

Dia tidak kelihatan seperti orang lain.

Dia kelihatan seperti dia yang sebenarnya. Tanpa apa pun untuk bersembunyi di baliknya.

Dan dia sedang menatapku seperti aku adalah satu-satunya hal di dunia yang masih masuk akal.

Hujan terus turun. Mas Jaka menjatuhkan sesuatu di balik bar, tapi tidak ada yang menoleh.

Devan membuka mulutnya.