Chapter Twenty Three
Kirana
POV: Nabila
Aku tidak berniat memata-matai siapa pun.
Aku cuma lewat. Hari Selasa, jam tiga sore, di sebuah kafe mewah di Senopati yang interiornya penuh tanaman hias dan lampu gantung dari rotan. Aku ada janji dengan klien di gedung sebelah, dan kliennya membatalkan di menit terakhir. Aku punya satu jam kosong, dan kafe itu kebetulan ada di seberang jalan.
Aku masuk untuk membeli minuman. Itu saja.
Lalu aku melihat mereka.
Di meja paling ujung, dekat jendela yang menghadap taman kecil, Devan duduk dengan laptop terbuka. Kemeja putih. Lengan digulung. Kacamata. Wajah serius, sangat serius, seperti waktu dia bertanya soal gerbang servis di meja makan malam pertama.
Dan di depannya duduk seorang perempuan.
Umurnya mungkin akhir dua puluhan. Rambutnya hitam lurus sebahu, dipotong rapi dengan poni tipis. Blazer krem, kemeja sutra putih, dan kalung emas tipis. Wajahnya tegas dan cantik, dengan cara yang membuatku langsung merasa kaus polo kantorku kelihatan seperti seragam anak magang.
Dia sedang tertawa. Tertawa karena sesuatu yang dikatakan Devan. Dan sambil tertawa, dia menepuk lengan Devan.
Menepuk. Lengan. Pacarku.
Aku berdiri di tengah kafe dengan tas di bahu, dan tiba-tiba lupa mau pesan apa.
“Namanya Kirana,” kata Sasa, satu jam kemudian, di telepon.
“Kok kamu tahu?”
“Kamu kirim fotonya ke aku. Aku cari di internet. Butuh dua menit.” Sasa diam sebentar. “Bil, kamu motret mereka diam-diam dari balik tanaman monstera?”
“Aku nggak sembunyi. Aku cuma berdiri di dekat tanaman monstera.”
“Fotonya miring, dan setengahnya daun.”
“Tanamannya besar.”
Sasa menghela napas panjang di ujung telepon. “Oke. Kirana Maheswari. Umur dua puluh sembilan. Kerja di... tunggu, aku lagi buka LinkedIn-nya... kerja di perusahaan investasi. Lulusan luar negeri. Pernah masuk daftar anak muda berpengaruh di majalah bisnis.”
Aku mencengkeram HP. “Kenapa Devan ketemu orang kayak gitu?”
“Mungkin kerjaan?”
“Devan kerja di IT. Ngapain orang IT ketemu orang investasi di kafe mahal di Senopati?”
“Mungkin kantornya mau beli software?”
“Terus kenapa dia ketawa? Terus kenapa dia nepuk lengan?”
“Mungkin Devan lucu.”
“Devan nggak lucu di depan orang lain! Devan lucu cuma di depan aku!”
Sasa diam. Lama. Lalu:
“Bil. Kamu denger nggak kamu barusan ngomong apa?”
Aku mendengarnya. Aku mendengarnya dengan sangat jelas, dan wajahku langsung terbakar. Aku menutup mata dan menyandarkan kepala di setir mobilku, di parkiran gedung klien yang tidak jadi kutemui.
“Aku cemburu,” kataku pelan.
“Iya.”
“Aku nggak pernah cemburu, Sa.”
“Kamu nggak pernah jatuh cinta kayak gini, Bil.”
Aku tidak bisa membantahnya.
“Tanya aja ke dia,” kata Sasa. “Langsung. Sayang, tadi aku lihat kamu di Senopati sama cewek cantik, itu siapa? Selesai. Nggak usah drama.”
“Kalau dia bilang cuma kerjaan?”
“Ya berarti cuma kerjaan.”
“Kalau dia bohong?”
“Devan? Bohong ke kamu?” Sasa tertawa kecil. “Bil, orang itu nyetir motor jam satu pagi ke rumah kamu bawa martabak gara-gara voice note tujuh detik. Dia nggak akan bohong soal cewek di kafe.”
Aku diam.
Karena ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan ke Sasa. Sesuatu yang kecil, yang selama ini kusimpan di belakang kepalaku, seperti kerikil di dalam sepatu yang tidak cukup sakit untuk dikeluarkan tapi tidak pernah benar-benar hilang.
Kerja di IT. Macem-macem.
Enam minggu, dan aku masih tidak tahu apa pekerjaan Devan sebenarnya.
Aku bertanya malam itu. Di telepon. Dengan suara yang kubuat sesantai mungkin.
“Tadi siang kamu di mana?”
“Kantor. Terus ada meeting di luar.”
“Di mana?”
“Senopati.”
Dia tidak berbohong. Aku menghembuskan napas pelan.
“Meeting sama siapa?”
“Sama orang dari perusahaan investasi. Soal kerjaan.”
“Cewek?”
Hening sebentar di ujung telepon. Lalu, dengan nada yang tiba-tiba sangat tertarik: “Kamu tahu?”
“Aku lewat.”
“Lewat?”
“Aku lewat. Kebetulan. Klien aku batal. Aku mau beli minum.”
“Kamu lewat di kafe di Senopati, jam tiga sore, pas aku lagi meeting di sana.”
“Kebetulan.”
“Kamu sembunyi di balik monstera?”
Aku menjatuhkan HP ke kasur. Memungutnya lagi.
“Kok kamu tahu?“
Hening. Lalu suara tawa. Tawa rendah yang ditahan, yang membuat perutku berputar dan wajahku terbakar sekaligus.
“Aku nggak tahu,” katanya di sela tawa. “Aku nebak. Kafe itu isinya monstera semua.”
Aku menutup wajah dengan bantal.
“Namanya Kirana,” katanya setelah tawanya reda. “Kami lagi ngobrolin kerja sama. Nggak ada apa-apa, Sayang.”
“Kerja sama apa?”
“Kerjaan. Rumit. Nanti aku jelasin.”
Nanti. Kerikil di sepatuku bergeser sedikit.
“Dia nepuk lengan kamu,” kataku ke bantal.
“Dia nepuk lengan semua orang. Dia juga nepuk lengan pelayan waktu pesen kopi.”
“Dia cantik.”
“Hm.”
“Hm? Hm apa?”
“Hm artinya aku nggak merhatiin.”
“Kamu merhatiin semuanya. Kamu bilang sendiri.”
“Semua yang penting,” koreksinya. “Dia nggak masuk kategori penting.”
Aku menurunkan bantal dari wajahku. “Terus apa yang masuk kategori penting?”
Dia diam sebentar. Lalu suaranya turun, pelan dan hangat, dengan cara yang selalu membuat bulu kudukku berdiri.
“Kamu, Sayang. Kamu yang pakai kaus polo kantor tadi siang, yang kerahnya kelipat sebelah. Kamu yang pegang tas pakai tangan kiri waktu gugup. Kamu yang berdiri di dekat monstera selama empat menit sebelum akhirnya keluar tanpa beli apa-apa.”
Aku membeku.
“Kamu lihat aku?”
“Aku selalu lihat kamu.”
“Kenapa kamu nggak nyamperin?!”
“Karena kamu kelihatan lucu banget sembunyi di balik monstera. Aku nggak mau ganggu.”
“DEVAN SATRIA!”
Dia tertawa lagi. Dan aku, entah kenapa, di tengah malu dan cemburu dan kesal, ikut tertawa juga.
Tapi setelah telepon ditutup, aku berbaring di kasur, menatap langit-langit, dan kerikil di sepatuku tidak mau diam.
Kerja sama. Rumit. Nanti aku jelasin.
Kamis, Kirana muncul lagi.
Kali ini bukan kebetulan. Kali ini, aku yang memastikan kebetulan itu terjadi.
Oke. Aku memata-matai.
Devan menyebutkan di telepon semalam, sambil lalu, bahwa dia ada pertemuan kedua dengan Kirana hari Kamis jam dua, di kafe yang sama. Dia bilang itu seperti orang yang menyebutkan cuaca. Tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada yang mencurigakan.
Aku mencatatnya di kepala. Lalu aku menelepon Sasa.
“Nggak,” kata Sasa sebelum aku selesai menjelaskan.
“Sa, please.”
“Nggak. Aku nggak mau jadi kaki tangan kejahatan.”
“Ini bukan kejahatan. Ini pengamatan.”
“Pengamatan dari balik monstera.”
“Kali ini kita duduk. Di meja. Kayak orang normal.”
“Pakai kacamata hitam?”
“...Mungkin.”
“Pakai topi?”
“...Mungkin juga.”
Sasa diam lama. Lalu, dengan suara orang yang sudah menyerah pada nasib:
“Jam berapa?”
Jam dua kurang sepuluh, aku dan Sasa duduk di meja di sudut kafe di Senopati, tersembunyi di balik dua pot monstera raksasa dan satu rak buku dekoratif.
Aku memakai kacamata hitam, topi bucket krem, dan blazer yang kerahnya kunaikkan sampai menutupi setengah leher. Sasa memakai kacamata hitam juga, topi baseball, dan masker kain bergambar kucing.
“Kita kelihatan kayak penjahat,” bisik Sasa.
“Kita kelihatan kayak turis.”
“Turis nggak duduk di balik monstera, Bil.”
“Turis suka tanaman.”
Jam dua tepat, Devan masuk. Kemeja biru muda. Dia berjalan ke meja yang sama dengan hari Selasa, di dekat jendela. Lima menit kemudian, Kirana masuk. Blazer abu-abu kali ini. Dia duduk di depan Devan, tersenyum, mengatakan sesuatu.
Aku mencondongkan badan ke depan. Sasa menarik blazerku.
“Pelan-pelan,” bisiknya. “Daunnya goyang.”
Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Mereka terlalu jauh. Aku cuma bisa melihat Kirana bicara dengan tangan yang bergerak-gerak penuh semangat. Devan mengangguk, menunjuk sesuatu di laptopnya. Kirana membungkuk untuk melihat layar. Wajahnya sekarang dekat dengan wajah Devan. Terlalu dekat.
Aku mencengkeram cangkir kopiku sampai buku-buku jariku memutih.
“Bil,” bisik Sasa. “Kamu mau ngapain?”
“Nggak mau ngapa-ngapain.”
“Cangkir kamu retak.”
Aku menatap cangkirku. Tidak retak. Tapi hampir.
Lalu Kirana tertawa lagi. Menepuk lengan Devan lagi. Dan kali ini, dia membiarkan tangannya di sana sedikit lebih lama.
Aku berdiri setengah dari kursiku. Sasa menarikku duduk lagi dengan dua tangan.
“Tenang! Tenang! Kamu mau ngapain? Nyerang dia pakai cangkir?”
“Aku cuma mau lihat lebih jelas!”
“Kamu udah lihat cukup jelas!”
Dan di saat itulah, entah karena debu dari daun monstera atau karena masker kucingnya terlalu tebal, Sasa bersin.
Bukan bersin biasa. Bersin yang meledak. Bersin yang menggema di seluruh kafe yang tenang, di antara musik jazz pelan dan denting cangkir. Bersin yang membuat pelayan menjatuhkan nampan, dan dua pengunjung di meja sebelah menoleh dengan kaget.
“HATSYII!”
Semua orang di kafe menoleh ke arah kami.
Termasuk Devan.
Termasuk Kirana.
Aku membeku di kursiku, dengan kacamata hitam, topi bucket, dan kerah blazer yang naik sampai ke telinga, di balik dua pot monstera. Sasa membeku di sebelahku, dengan masker kucing yang sekarang miring.
Devan menatap kami. Lama. Lalu ekspresinya berubah. Dari kaget ke bingung. Dari bingung ke pengenalan. Dari pengenalan ke sesuatu yang membuat sudut bibirnya naik pelan-pelan.
Dia melambai.
Pelan. Santai. Ke arah monstera.
“Dia lihat,” bisik Sasa.
“Aku tahu.”
“Dia melambai.”
“Aku tahu, Sa.”
“Kita harus ngapain?”
Aku menatap Devan, yang masih melambai dengan senyum yang semakin lebar. Menatap Kirana, yang sekarang menoleh ke arah Devan dengan alis terangkat, lalu ke arah kami, lalu kembali ke Devan dan mengatakan sesuatu. Devan mengangguk. Kirana tertawa.
Lalu Kirana berdiri.
Dan berjalan ke arah kami.
“Oh tidak,” kata Sasa. “Oh tidak, tidak, tidak.”
Kirana berhenti di depan pot monstera, menyibakkan satu daun besar dengan tangan yang kukunya dicat nude sempurna, dan menatapku dari celah daun.
Dari dekat, dia jauh lebih cantik. Kulitnya mulus. Matanya tajam. Senyumnya lebar dan penuh percaya diri.
“Halo,” katanya. “Kamu pasti Nabila.”
Aku melepas kacamata hitamku pelan-pelan. Tidak ada gunanya lagi.
“...Halo.”
“Kirana.” Dia mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Genggamannya mantap, seperti genggaman Papa. “Rekan kerja Devan.”
Dia mengucapkan rekan kerja dengan jeda yang sangat sedikit di tengahnya, dan senyum yang menurutku sangat tidak perlu.
“Devan cerita banyak soal kamu,” lanjutnya. “Katanya pacarnya cantik banget.” Dia memiringkan kepala, menatapku dari atas ke bawah. Menatap topi bucketku. Menatap kerah blazerku yang masih naik. “Dia nggak bohong. Cuma dia nggak bilang pacarnya suka main petak umpet.”
Sasa mengeluarkan suara kecil di sebelahku, seperti anak kucing yang terinjak.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Wajahku terbakar sampai ke ujung rambut.
Kirana tersenyum lebih lebar. Lalu dia membungkuk sedikit, cukup dekat untuk berbisik, tapi dengan suara yang cukup keras untuk didengar Sasa.
“Dia lucu ya, kalau lagi serius,” katanya. “Tadi dia nerangin sesuatu ke aku selama dua puluh menit, dan dia nggak sadar kacamatanya melorot terus. Gemes.”
Lalu dia menegakkan badan, mengedipkan mata padaku, dan berjalan kembali ke meja Devan dengan langkah santai.
Aku duduk membeku.
“Gemes,” ulangku pelan. “Dia bilang pacar aku gemes.”
“Bil...”
“Dia bilang kacamatanya melorot terus. Aku yang biasa betulin kacamatanya!”
“Bil, tenang...”
“Aku nggak bisa tenang, Sa!”
Aku menoleh ke arah meja Devan. Kirana sudah duduk lagi, mengatakan sesuatu yang membuat Devan menutup wajah dengan tangan. Lalu Devan menurunkan tangannya, menoleh ke arahku, dan menatapku dari seberang ruangan.
Dia tidak kelihatan bersalah sama sekali. Dia kelihatan senang. Sangat senang. Seperti orang yang baru dapat hadiah.
Dan HP-ku bergetar.
Devan: Honey.
Devan: Kamu cemburu?
Aku menatap pesan itu. Menatap Devan, yang sekarang pura-pura serius menatap laptopnya lagi, tapi sudut bibirnya bergetar.
Aku mengetik dengan jempol yang gemetar karena marah.
Aku: Nggak.
Devan: Honey.
Aku: Apa?
Devan: Nggak apa-apa. Pengen manggil aja.
Aku: Berhenti.
Devan: Honey.
Aku: DEVAN
Devan: Satu lagi.
Aku: NGGAK
Devan: Honey. Kamu cantik banget pakai topi itu.
Aku mencabut topi bucket dari kepalaku dan memasukkannya ke tas dengan gerakan yang sangat keras. Sasa menatapku dengan mata lebar di balik kacamata hitamnya.
“Kita pergi,” kataku.
“Kopi kamu belum habis.”
“Kita. Pergi.”
Aku berdiri, mengambil tasku, dan berjalan keluar kafe dengan dagu terangkat dan langkah paling anggun yang bisa kulakukan dengan sepatu hak. Sasa mengikutiku, membetulkan masker kucingnya, sambil bergumam minta maaf ke pelayan yang tadi menjatuhkan nampan.
Di pintu kafe, aku tidak menoleh ke belakang.
Tapi aku mendengar tawa Kirana. Dan di bawahnya, samar-samar, tawa rendah yang sangat kukenal. Tawa yang biasanya cuma untukku.
Di mobil, Sasa melepas masker kucingnya dan menatapku.
“Bil.”
“Jangan ngomong apa-apa.”
“Aku cuma mau bilang satu hal.”
“Apa?”
Sasa diam sebentar. “Dia beneran nggak selingkuh. Kamu tahu itu, kan? Orang yang selingkuh nggak ngelambai ke pacarnya dari seberang kafe. Nggak ngirim honey lima kali. Nggak bilang pacarnya cantik ke cewek lain.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kamu kesel?”
Aku menatap setir. Tanganku masih mencengkeramnya, meskipun mobil belum menyala.
Aku kesal karena Kirana cantik dan pintar dan percaya diri, dan dia duduk di depan Devan di kafe mahal dan membahas hal-hal rumit yang tidak pernah Devan bahas denganku.
Aku kesal karena Kirana tahu kacamatanya melorot waktu dia serius. Karena Kirana melihat Devan serius. Karena Kirana melihat sisi Devan yang, setelah enam minggu, masih belum pernah kulihat sepenuhnya.
Kerja di IT. Macem-macem. Rumit. Nanti aku jelasin.
“Aku nggak tahu dia kerja apa, Sa,” kataku pelan.
Sasa menoleh.
“Enam minggu,” lanjutku. “Aku jatuh cinta sama dia. Aku bilang cinta sama dia di teras jam satu pagi. Aku ngiketin tali sepatunya di warung bakso. Dan aku nggak tahu dia kerja apa. Dia selalu bilang macem-macem. Selalu bilang nanti.”
Sasa diam lama. Lalu dia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku yang mencengkeram setir.
“Tanya,” katanya. “Bukan soal Kirana. Soal itu. Tanya langsung.”
Aku mengangguk.
Tapi aku tidak tahu apakah aku siap mendengar jawabannya.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana reading
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi