Chapter Twenty One

Rem Blong

POV: Nabila

Pesan pertama masuk jam enam lewat tiga pagi.

Selamat pagi, Sayang. Kamu cantik.

Lalu, satu detik kemudian:

(Data. Bukan dialog.)

Aku membacanya di atas kasur dengan mata setengah terbuka dan rambut yang pasti kelihatan seperti sarang burung. Lalu aku membacanya lagi. Lalu aku menarik selimut sampai menutupi kepala dan menjerit ke bantal selama lima detik penuh.

Semalam bukan mimpi.

Meja nomor tujuh. Sepuluh detik. Spidol permanen. Pasal empat yang dicoret setengah olehku dan setengah olehnya. Trotoar basah. Lampu jalan. Kacamata yang miring.

Aku menyentuh bibirku di bawah selimut. Lalu menjerit ke bantal lagi.

Waktu aku akhirnya muncul dari balik selimut, dengan wajah panas dan napas terengah, aku mengambil HP dan mengetik balasan. Aku sudah menyiapkan balasan yang santai dan sopan. Sesuatu seperti Pagi juga, hati-hati berangkat kerja. Sesuatu yang dewasa.

Yang terketik malah:

Pagi juga, pacar aku yang beneran 😘😘😘

Aku menatap tiga emoji cium itu dengan horor. Jempolku menekan tombol kirim sebelum otakku sempat mencegahnya.

Terkirim. Centang dua. Biru.

Aku melempar HP ke ujung kasur seperti melempar granat.

Tiga puluh detik kemudian, HP-ku bergetar. Aku merangkak ke ujung kasur dan membukanya dengan satu mata.

Barusan aku jatuh dari kasur.

Lalu:

Beneran jatuh. Bimo nginep di kontrakan aku, dia lihat. Sekarang dia ketawa di lantai.

Lalu:

Kirim lagi. Emojinya. Aku mau lihat lagi.

Aku tertawa sampai Mama mengetuk pintu kamarku dan bertanya apakah aku baik-baik saja.


Masalahnya, sejak semalam, sesuatu di dalam diriku rusak.

Aku tidak tahu apa. Mungkin bagian otak yang bertugas menjaga gengsi. Mungkin sekrup kecil yang selama dua puluh empat tahun menahan semua kalimat memalukan supaya tidak keluar dari mulutku. Apa pun itu, bagian itu sudah lepas. Jatuh entah di mana, mungkin di trotoar depan Kafe Jeda, di bawah kanopi, di tengah ciuman kedua.

Dan sekarang aku tidak bisa berhenti.

Di mobil, dalam perjalanan ke kantor, aku mengirim Devan foto kemacetan di Jalan Sudirman dengan keterangan Macet. Kangen.

Dia membalas foto layar komputernya yang penuh kode dengan keterangan Ngoding. Juga kangen.

Aku membalas: Kangennya lebih banyak aku.

Dia membalas: Nggak mungkin. Aku udah kangen dari jam 11 malam tadi. Kamu baru mulai kangen jam 6 pagi. Aku unggul 7 jam.

Aku membalas: Aku kangen dalam tidur. Itu dihitung.

Dia membalas: Bukti?

Aku membalas: Aku mimpi kamu.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul. Hilang. Lalu:

Mimpi apa?

Aku menatap pertanyaan itu di lampu merah. Lalu aku mengetik, dengan wajah yang terbakar dan jempol yang gemetar:

Rahasia. Nanti aku peragain.

Klakson mobil di belakangku berbunyi panjang. Lampu sudah hijau sejak entah kapan. Aku menginjak gas dengan panik.

HP-ku bergetar di kursi penumpang. Aku tidak berani membacanya sampai aku sampai di parkiran kantor.

Waktu aku membukanya, isinya cuma satu kata.

NABILA.

Dengan huruf kapital semua. Dan tidak ada pesan lain selama dua puluh menit, yang menurut Devan belakangan, adalah waktu yang dia butuhkan untuk berhenti menatap langit-langit kantornya dan kembali bekerja.


Di kantor, rekan kerjaku menyadari ada yang aneh sebelum jam sembilan.

“Mbak Nabila,” kata Dinda, staf desain yang duduk di meja sebelah, “Mbak nyanyi.”

“Nggak.”

“Mbak nyanyi dari tadi. Lagu yang sama. Udah empat kali.”

Aku berhenti bersenandung.

“Terus Mbak senyum-senyum ke layar Excel,” lanjut Dinda. “Excel itu nggak lucu, Mbak.”

“Excel-nya lucu hari ini.”

“Excel-nya isinya laporan pajak.”

Aku menutup laptop dan pergi ke pantry, di mana aku menemukan Pak Gunawan sedang menyeduh kopi. Dia menoleh padaku, mengangguk, lalu berhenti. Menatapku lebih lama.

“Kamu kelihatan senang,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Kampanye kota kecilnya?”

“...Iya, Pak. Itu juga.”

Pak Gunawan menatapku dengan mata menyipit, seperti Kenzo yang sedang mengumpulkan bukti. Lalu dia mengangkat bahu dan pergi dengan kopinya. Aku bersandar di dinding pantry dan menutup wajah dengan kedua tangan.

Rem aku blong. Benar-benar blong.


Jam dua belas, aku makan siang dengan Sasa di warung bakso yang sama. Kali ini aku mengundang Devan. Kantornya di Tebet dan kantorku di Kuningan, dan warung bakso itu kira-kira di tengah-tengah. Dia bilang dia punya satu jam kosong.

Sasa sudah duduk waktu aku datang. Dia menatapku masuk, menatap wajahku, lalu meletakkan sendoknya.

“Oh, tidak,” katanya.

“Apa?”

“Kamu udah bilang.”

“Kok tahu?”

“Muka kamu kayak lampu neon.” Sasa menyipitkan mata. “Terus dia jawab apa?”

Aku duduk. Mengambil sendok. Mengaduk kuah bakso yang belum datang, jadi aku mengaduk udara.

“Dia bilang dia udah melanggar pasal empat dari hari pertama.”

Sasa menjatuhkan garpunya.

“Terus dia bilang dia sayang aku. Terus dia bilang dia jatuh cinta sama aku. Terus kami nyoret pasal empat pakai spidol permanen. Terus...” Aku berhenti. Wajahku terbakar.

“Terus?”

“Terus di depan kafe...”

“Terus?“

“Dia nyium aku.”

Sasa mengeluarkan suara yang belum pernah kudengar dari manusia mana pun. Suara seperti teko air yang mendidih bercampur klakson bus. Ibu penjual bakso menjatuhkan sendok sayurnya lagi, untuk kedua kalinya dalam dua hari.

“Sa!”

“AKU NGGAK BISA NAHAN!”

“Kamu harus nahan!”

“NGGAK MAU!”

Lalu pintu warung terbuka, dan Devan masuk.

Kemeja putih, lengan digulung, kacamata, dan rambut yang sedikit berantakan karena helm. Dia menatap sekeliling, menemukan meja kami, dan tersenyum.

Dan aku, yang lima minggu lalu bilang geli kalau kamu yang ngomong, yang menulis nama saja di pasal tujuh dengan alasan tidak perlu dijelaskan, yang menginjak kakinya dua kali di meja makan karena dia bilang dia jatuh cinta di detik pertama, berdiri dari kursiku dan melambai dengan kedua tangan.

“SAYANG! SINI!”

Seluruh warung bakso menoleh.

Aku membeku di tengah lambaian. Kedua tanganku masih terangkat di udara. Di sebelahku, Sasa menatapku dengan mulut terbuka lebar sampai aku bisa melihat bakso yang belum dia telan.

Devan berhenti di tengah warung. Menatapku. Wajahnya datar. Tapi telinganya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, merah.

Lalu dia berjalan ke meja kami, duduk di sebelahku, dan berkata dengan suara yang sangat tenang:

“Hai, Sayang.”

Sasa menelan baksonya bulat-bulat dan terbatuk selama satu menit penuh.


Makan siang itu adalah bencana. Bencana yang indah, tapi tetap bencana.

Aku tidak bisa berhenti. Setiap kali Devan bicara, aku menatapnya dengan dagu bertumpu di tangan seperti anak SMP. Setiap kali dia mengambil sambal, aku menyodorkan kecap. Setiap kali dia tertawa, aku ikut tertawa, bahkan kalau aku tidak tahu apa yang lucu.

Sasa menatap kami berdua dengan wajah orang yang sedang menyaksikan kecelakaan lalu lintas dalam gerak lambat.

“Oke,” katanya setelah sepuluh menit. “Aku mau nanya satu hal.”

“Apa?”

“Siapa kalian, dan apa yang kalian lakukan pada Nabila?”

“Aku masih Nabila.”

“Nabila yang aku kenal nggak pernah manggil cowok sayang di depan umum. Nabila yang aku kenal pernah pura-pura nggak kenal mantannya di mal karena mantannya pakai kaus couple.” Sasa menunjuk Devan dengan garpu. “Kamu apain dia?”

“Aku nggak apa-apain,” kata Devan.

“Kamu nyium dia.”

Devan tersedak kuah bakso. Aku menepuk punggungnya dengan wajah terbakar.

“Sa!“

“Apa? Kamu yang cerita.”

Devan berhenti batuk. Minum air. Menatap Sasa dengan mata yang masih berair. “Dia cerita?”

“Semuanya.”

Devan menoleh padaku. Aku menatap mangkuk baksoku dengan sangat serius.

“Semuanya?” tanyanya pelan.

“...Hampir semuanya.”

“Bagian mana yang nggak?”

“Bagian yang aku bilang ke Sasa dalam hati.”

Dia menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik, dan dia mendekatkan wajahnya ke telingaku.

“Bagian mimpi?” bisiknya.

Aku menyikut perutnya. Keras. Dia tertawa, dan Sasa menatap kami dengan wajah yang semakin horor.

Lalu Devan menunduk ke bawah meja.

“Tali sepatu aku lepas,” katanya.

Aku melihat ke bawah. Tali sepatu ketsnya memang lepas, yang sebelah kiri, yang pernah putus dan disambung dengan simpul mati. Dia membungkuk untuk mengikatnya.

Dan sekrup yang hilang di otakku berbuat ulah lagi.

“Sini,” kataku. “Aku iketin.”

“Aku bisa sendiri.”

“Aku iketin.” Aku membungkuk, mengambil tali sepatunya dari tangannya, dan mulai mengikatnya. Lalu, tanpa bisa kucegah, kalimat itu keluar. “Biar kamu nggak jatuh... ke orang lain.”

Hening.

Aku berhenti mengikat. Dari bawah meja, aku bisa melihat kaki Sasa yang tiba-tiba berhenti bergoyang. Aku bisa melihat kaki Devan yang membeku.

Aku mengangkat wajah pelan-pelan.

Devan sedang menatapku dari atas, dengan wajah yang semerah kuah bakso bercampur sambal. Kacamatanya melorot. Mulutnya terbuka sedikit.

Dan Sasa?

Sasa sedang berdiri. Memasukkan HP ke tas. Mengambil kantong plastik berisi kerupuk yang tadi dia beli.

“Aku mau pulang,” katanya.

“Sa, kamu belum habis...”

“KALIAN INI KENAPA?!”

Seluruh warung menoleh lagi. Ibu penjual bakso sudah menyerah memungut sendok sayurnya.

Sasa menunjuk kami bergantian, dengan kantong kerupuk di tangan. “Lima minggu lalu! LIMA MINGGU LALU kamu nelepon aku sambil nangis-nangis soal perjodohan! Tiga minggu lalu kamu bilang pasal empat tiga kali dalam satu telepon! KEMARIN kamu masih pakai kata misalnya! Dan sekarang kamu ngiketin tali sepatu dia sambil bilang biar nggak jatuh ke orang lain?!”

“Aku...”

“Dan KAMU!” Sasa menunjuk Devan. “Kamu yang tenang! Yang kalem! Yang sopan! Yang ngatasin orang mabuk di gala pakai piring puding! Kamu sekarang MERAH KAYAK KEPITING REBUS!”

Devan membetulkan kacamatanya. “Aku nggak merah.”

“Kamu merah sampai leher!”

“Itu sambal.”

“KAMU BELUM PAKAI SAMBAL!”

Hening. Devan menatap mangkuknya. Tidak ada sambal di sana.

Sasa menghembuskan napas panjang. Lalu dia memijat pelipisnya dengan tangan yang tidak memegang kerupuk.

“Satu malam aja, katanya,” gumamnya.

Devan mengangkat wajahnya. Dan dengan suara yang sangat tenang, dengan wajah yang masih merah sampai leher, dia berkata:

“Satu malam aja, katanya. Sekarang tiap malam aku mikirin dia.”

Sasa menatapnya. Aku menatapnya. Ibu penjual bakso menatapnya.

“Aku mau pindah negara,” kata Sasa, dan berjalan keluar dari warung tanpa menoleh lagi.


Dia kembali tiga menit kemudian, karena dia lupa membayar. Dan karena, katanya, dia masih lapar. Dia duduk lagi, memesan satu mangkuk bakso lagi, dan makan dengan wajah orang yang sudah menerima nasib.

Di tengah makan, dia menatap Devan dengan mata menyipit.

“Kamu kenal Gerald, kan?”

“Kenal.”

“Dia...” Sasa berhenti. Pipinya memerah. “Dia ngajak aku ngopi lagi hari Kamis. Dia bilang dia udah latihan nggak ngomongin margin. Dia latihan sama siapa?”

Devan tersenyum kecil. “Sama aku. Semalam dia telepon jam sepuluh, sebelum aku ke kafe. Nanya tips.”

“Terus kamu kasih tips apa?”

“Aku bilang, kalau dia mulai panik dan mau ngomongin margin, dia harus tanya soal kamu. Apa aja. Apa yang kamu suka. Apa yang bikin kamu ketawa.” Devan mengambil kerupuk dari kantong plastik Sasa. “Orang yang lagi jatuh cinta nggak perlu ngomongin dirinya sendiri. Dia cukup dengerin.”

Sasa menatapnya. Lalu menatapku. Lalu kembali ke baksonya, dengan pipi yang semakin merah.

“Kalian berdua bikin aku mual,” gumamnya. “Mual yang baik. Tapi tetap mual.”

“Cinta bikin mual,” kataku bijak.

“Cinta bikin kamu goblok,” balas Sasa. “Kamu barusan ngiketin tali sepatu orang di warung bakso.”

“Aku cinta sama warung bakso ini.”

Devan menoleh padaku dengan alis terangkat. “Sama warung baksonya?”

“Sama baksonya.”

“Aku cemburu sama bakso.”

Sasa meletakkan sendoknya dengan bunyi keras. “Aku beneran mau pindah negara.”


Jam lima sore, Devan menjemputku di lobi kantor.

Aku tidak memintanya. Dia mengirim pesan jam empat: Aku ke kantor kamu. Nggak usah turun dulu. Kabarin kalau udah mau pulang.

Waktu aku turun jam lima lewat sepuluh, lift terbuka di lobi yang ramai dengan karyawan yang pulang. Dan di tengah lobi, di dekat meja resepsionis, Devan berdiri dengan kemeja putih yang sama, dengan sesuatu di tangannya.

Seikat tulip. Biru muda dan putih. Dibungkus kertas cokelat polos dengan pita hijau.

Aku berhenti di pintu lift.

Aku suka tulip, tapi pura-pura suka mawar karena Mama suka mawar.

Aku mengatakan itu di hari kedua. Di tisu nomor tiga. Sambil lalu. Lima minggu lalu.

Di sebelahnya, satpam lobi, Pak Darto, sedang memegang segelas latte dari kedai kopi di lantai dasar, dengan wajah yang sangat bingung.

“Pak Darto,” kataku waktu aku mendekat. “Latte-nya dari mana?”

“Dari masnya, Mbak.” Pak Darto menunjuk Devan. “Katanya yang kemarin salah alamat. Sekarang sengaja.”

Aku menatap Devan. Dia menatapku balik dengan wajah datar.

“Pak Darto kelihatan haus,” katanya.

“Kamu beneran kasih latte ke satpam waktu itu.”

“Aku nggak pernah bohong ke kamu. Kecuali soal menimbang untung rugi.”

Aku menatap tulip di tangannya. Menatap Pak Darto yang menyesap latte-nya dengan penuh kebahagiaan. Menatap lobi kantorku yang ramai, dengan belasan rekan kerja yang sedang menuju pintu keluar, dan beberapa di antaranya sudah berhenti untuk melihat kami.

Dinda, staf desain. Dua orang dari tim keuangan. Seorang direktur yang tidak kukenal namanya.

Dan Pak Gunawan, yang baru keluar dari lift sebelah.

Sekrup yang hilang di otakku tidak pernah kembali.

Aku berjinjit dan mencium pipi Devan. Di tengah lobi. Di depan semua orang. Cepat, singkat, tapi cukup keras sampai bunyinya terdengar.

Lobi itu hening.

Dinda menjatuhkan tas laptopnya. Dua orang dari tim keuangan saling mencengkeram lengan. Direktur yang tidak kukenal namanya berhenti di tengah langkah. Pak Darto tersedak latte.

Devan berdiri membeku, dengan tulip di tangan dan bekas lipstik samar di pipinya.

Pak Gunawan berjalan mendekat. Pelan. Menatap Devan dari atas ke bawah. Lalu menatapku.

“Itu,” katanya, “yang bantu kamu analisis data?”

Aku mengambil tulip dari tangan Devan. Memeluknya di dada. Menatap Pak Gunawan dengan dagu terangkat.

“Bukan, Pak,” kataku. “Datanya aku yang analisis sendiri.”

“Terus dia siapa?”

“Pacar aku.”

Pak Gunawan menatapku. Menatap Devan. Menatap tulip. Menatap Pak Darto yang masih batuk-batuk. Lalu, yang membuatku hampir menjatuhkan tulip, sudut bibirnya naik sedikit.

“Selamat sore, Nabila,” katanya. Dan dia berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi.


Di mobil, Devan menyetir. Aku duduk di kursi penumpang dengan tulip di pangkuan, menatapnya.

“Kamu kenapa ngeliatin?” tanyanya tanpa menoleh.

“Ada lipstik di pipi kamu.”

“Aku tahu.”

“Kenapa nggak dihapus?”

“Nggak mau.”

Aku tertawa. Lampu merah. Dia mengerem. Dan sebelum dia sempat menoleh, sebelum aku sempat berpikir, sebelum sekrup mana pun bisa menahanku, aku sudah mencondongkan badan melewati konsol tengah dan menciumnya.

Di bibir. Cepat. Dua detik.

Waktu aku mundur, dia sedang menatapku dengan mata lebar di balik kacamata yang miring lagi.

“Nabila,” katanya.

“Hm?”

“Rem kamu blong.”

“Kamu yang cabut kabel remnya.”

Dia menatapku. Lampu berubah hijau. Mobil di belakang mengklakson. Dia tidak bergerak.

“Dev, hijau.”

“Aku tahu.”

“Dev, mobil di belakang...”

Dia mencondongkan badan dan menciumku balik. Tiga detik. Sampai mobil di belakang mengklakson panjang dan pengemudinya membuka jendela untuk berteriak sesuatu yang tidak sopan.

Lalu dia kembali ke kursinya, membetulkan kacamata, menginjak gas, dan menyetir dengan wajah yang sangat tenang dan telinga yang sangat merah.

“Impas,” katanya.

Aku memeluk tulipku dan tertawa sampai perutku sakit.

“Kamu cantik kalau ketawa,” katanya, masih menatap jalan.

“Kalau nggak ketawa?”

“Cantik juga. Tapi kalau ketawa, datanya melonjak.”

Di pangkuanku, tulip biru muda dan putih itu bergoyang pelan setiap kali mobil melewati polisi tidur. Dan aku berpikir, di tengah jalanan Jakarta yang macet jam lima sore, dengan lipstik di pipi pacarku dan jantung yang tidak pernah berdetak normal lagi sejak semalam:

Kalau ini yang namanya rem blong, aku tidak mau diperbaiki.