Chapter Thirty One
Barang Bukti
POV: Nabila
Kenzo mulai bertingkah aneh hari Minggu siang, dan aku terlalu bahagia untuk menyadarinya.
Itu kesalahanku. Aku tahu itu sekarang. Tapi hari Minggu itu, setelah malam truk tertahan dan subuh di dapur dan janji di rapat itu, secara resmi, aku tidur sampai jam dua siang dan bangun dengan pesan dari Devan yang isinya cuma foto langit-langit kontrakannya, dengan bekas bocor berbentuk kecoa, dan keterangan Baru bangun. Mimpiin kamu. Kamu pakai kebaya. Aku nggak kedip. Terus aku bangun karena mata aku perih beneran.
Aku tertawa sampai Mama mengetuk pintu.
Jadi waktu aku turun ke dapur dan menemukan Kenzo duduk di meja makan dengan laptop dan buku catatan, menatapku dengan mata menyipit waktu aku lewat, aku cuma mengacak rambutnya dan bilang, “Selamat pagi, detektif.”
“Udah jam dua siang, Kak.”
“Selamat siang, detektif.”
Dia tidak tertawa. Dia cuma menatapku, lalu menulis sesuatu di buku catatannya. Buku catatan. Bukan HP. Kenzo tidak pernah menulis di buku catatan kecuali untuk hal yang sangat serius.
Aku tidak memperhatikannya. Aku terlalu sibuk membalas pesan Devan.
Hari Senin, Kenzo bertanya pada Mama, di meja sarapan, dengan nada yang sangat santai: “Ma, Kak Nabila pertama kali cerita soal Kak Devan kapan sih?”
Mama menatapnya dengan bingung. “Ya waktu makan malam sama keluarga Wiranata itu.”
“Sebelumnya nggak pernah?”
“Nggak pernah. Kakakmu itu kan tertutup.”
“Setahun pacaran, nggak pernah cerita sama sekali?”
Mama berpikir sebentar. Lalu tersenyum. “Namanya juga jatuh cinta, Nak. Kadang orang nyimpen sendiri dulu.”
Kenzo mengangguk pelan. Lalu menulis di buku catatannya.
Aku sedang minum jus jeruk di ujung meja. Aku mendengar percakapan itu. Dan untuk pertama kalinya sejak Sabtu malam, sesuatu yang dingin menjalar di belakang leherku.
“Kenzo,” kataku. “Kamu lagi ngapain?”
“Tugas sekolah.”
“Tugas sekolah apa yang nanya kapan aku mulai cerita soal pacar aku?”
“Tugas sosiologi. Tentang dinamika keluarga modern.”
Dia menatapku dengan wajah paling polos yang pernah kulihat. Terlalu polos. Wajah yang sama yang dia pakai waktu umur sepuluh tahun, waktu dia bilang bukan dia yang memecahkan vas bunga Mama, padahal pecahan vasnya ada di saku celananya.
Aku menatapnya lama. Dia menatapku balik. Tidak berkedip.
Lalu dia menutup buku catatannya, mengambil tas sekolahnya, dan pergi.
Hari Selasa, Mas Jaka mengirimiku pesan.
Aku tidak tahu Mas Jaka punya nomorku. Ternyata dia punya, dari daftar pelanggan tetap Kafe Jeda. Pesannya masuk jam empat sore, waktu aku sedang rapat.
Mbak Nabila, maaf ganggu. Tadi ada anak SMA datang ke kafe. Namanya Kenzo. Katanya adik Mbak. Dia pesan cokelat panas terus nanya-nanya soal Mbak sama Mas Devan. Kapan pertama kali datang berdua. Duduk di mana. Siapa yang datang duluan.
Aku berhenti mendengarkan presentasi di depanku.
Terus saya jawab apa, Mas? ketikku di bawah meja.
Saya bilang saya nggak dengerin apa-apa, Mbak. Seperti biasa.
Aku menghembuskan napas.
Tapi Mbak, lanjut Mas Jaka, dia lihat meja tujuh lama banget. Terus dia foto mejanya. Terus dia tanya, “Mas, kontrak itu apa?” Saya kaget, Mbak. Saya bilang saya nggak tahu kontrak apa-apa. Dia bilang, “Mas barusan kaget. Orang yang nggak tahu nggak bakal kaget.” Terus dia pergi.
Aku menatap pesan itu sampai layar HP-ku meredup.
Kontrak.
Bagaimana Kenzo tahu soal kontrak?
Aku menelepon Devan malam itu.
“Kenzo tahu,” kataku.
Hening di ujung telepon. Lalu: “Tahu apa?”
“Aku nggak tahu. Semuanya. Sebagian. Dia nanya Mas Jaka soal kontrak.”
“Kontrak kita?”
“Kontrak apa lagi, Dev?”
Hening lagi. Aku bisa mendengar suara keyboard di latar belakang. Dia masih di kantor. Rapat dengan Saheila Group dijadwalkan hari Kamis, jam sepuluh pagi, dan dia sudah menyiapkan presentasinya sejak Minggu malam. Tim Pak Wahyu yang mengatur jadwalnya. Tim Pak Wahyu yang mengirim undangannya ke alamat email resmi Lintas, tanpa tahu bahwa email itu dibaca oleh orang yang sama yang duduk di meja makan mereka setiap hari Minggu.
“Kamu masih pegang kontraknya?” tanya Devan.
“Di tas. Selalu.”
“Oke.” Suaranya tenang. Terlalu tenang. “Mungkin dia cuma nebak. Kenzo pinter nebak. Dia bisa aja lihat artikel launching, terus nyambungin sendiri, terus nebak soal kontrak buat mancing.”
“Mungkin.”
“Kamis tinggal dua hari lagi. Setelah rapat, aku bilang semuanya ke Papa kamu. Kenzo nggak akan sempat ngapa-ngapain.”
“Oke.”
“Honey.”
“Hm?”
“Jangan khawatir.”
Aku menutup mata, di atas kasurku, dengan HP di telinga. “Aku khawatir, Dev.”
“Aku tahu. Kamu cantik kalau khawatir.”
“Kamu udah bilang itu.”
“Datanya masih valid.”
Aku tertawa kecil. Tapi setelah telepon ditutup, aku berbaring lama di kasur, menatap langit-langit, dan kerikil di sepatuku, yang sekarang lebih seperti batu, tidak mau berhenti bergerak.
Hari Rabu, aku ke kantor Lintas.
Aku belum pernah ke sana di siang hari. Waktu malam di atap, gelap, dan aku terlalu sibuk dengan lampu tumbler untuk memperhatikan hal lain. Siang itu, aku datang jam dua belas membawa tiga kotak martabak untuk tim, karena Devan bilang mereka lembur setiap malam untuk persiapan rapat.
Ruko tiga lantai di Tebet. Cat dinding yang mulai mengelupas. Papan nama kecil di atas pintu kaca: LINTAS. Di lantai satu, ruang rapat kecil dan dapur. Di lantai dua, belasan meja dengan komputer dan orang-orang muda berkaus yang menatap layar dengan serius.
Begitu aku masuk ke lantai dua dengan tiga kotak martabak, semua kepala menoleh.
Lalu Rara berdiri.
“Selamat siang, Bu CEO!”
Seluruh lantai dua berdiri. Belasan engineer berkaus, beberapa masih dengan headphone di leher, berdiri dan menatapku seperti menatap tamu kehormatan.
“Aku bukan CEO,” kataku, dengan wajah terbakar.
“Istrinya CEO,” koreksi Rara.
“Belum!”
“Belum,” ulang seluruh lantai dua, bersamaan, dengan senyum yang sama lebarnya. Mereka jelas sudah latihan.
Dari pojok ruangan, di dekat jendela, Devan mengangkat wajah dari laptopnya. Dia menatapku. Menatap martabak. Menatap timnya yang berdiri berjajar seperti paduan suara.
“Duduk,” katanya ke timnya. “Semua. Kerja.”
Tidak ada yang duduk.
“Martabaknya dari Blok M, Mbak?” tanya seorang engineer dengan kacamata tebal.
“Iya. Yang buka sampai jam dua.”
“YANG DULU MAS DEVAN BAWA JAM SATU PAGI?”
Aku menoleh ke Devan dengan mata melotot. “Kamu cerita?”
“Bimo yang cerita,” kata Devan cepat.
“AKU NGGAK CERITA!” teriak suara dari lantai tiga. “AKU CUMA BILANG DIA PULANG JAM TIGA PAGI BAWA SENYUM!”
Setelah martabak habis dalam waktu empat menit, Devan membawaku ke atap. Bukan untuk apa-apa. Cuma supaya kami bisa bicara tanpa belasan pasang mata yang menatap kami dari balik layar komputer.
Siang hari, atap itu kelihatan jauh lebih jelek. Tandon air berlumut tanpa spanduk. Tali jemuran tanpa lampu. Kursi plastik merah dan hijau yang warnanya pudar kena matahari.
“Jelek,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku suka.”
“Aku tahu.”
Kami duduk di kursi plastik. Dia di kursi hijau, aku di kursi merah. Seperti malam itu.
HP-nya bergetar. Dia melihat layarnya, lalu tersenyum dengan cara yang aneh. Setengah gugup, setengah senang.
“Ibu,” katanya. “Video call.”
“Angkat.”
“Kamu di sini.”
“Terus?”
Dia menatapku lama. Lalu mengangkatnya.
Wajah seorang perempuan paruh baya muncul di layar. Kacamata bulat, kerudung krem, dan senyum yang sama persis dengan senyum Devan. Senyum yang naik pelan-pelan di satu sudut dulu, baru di sudut yang lain.
“Nak, kamu di mana? Kok silau?”
“Di atap kantor, Bu.”
“Ngapain di atap? Nanti kepanasan. Nanti hitam.” Lalu matanya menyipit, dan dia mendekatkan wajahnya ke layar. “Itu siapa di sebelah kamu?”
Devan menatapku. Aku menatapnya. Dia memutar HP-nya sedikit, supaya wajahku masuk ke layar.
“Bu,” katanya. “Ini Nabila.”
Ibunya menatapku. Lama. Dari balik kacamata bulat. Dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
Lalu dia bertanya, dengan nada yang sangat, sangat datar:
“Ini kliennya?”
Aku membeku. Devan menutup wajahnya dengan tangan.
“Bu...”
“Yang kamu masakin rendang tujuh jam? Yang kamu bilang klien?” Ibunya mulai tertawa. Tawa guru SD yang sudah pensiun, keras dan hangat dan penuh kemenangan. “Nak Nabila! Ya ampun! Cantiknya! Pantes anak Ibu bohong!”
“Bu!”
“Ibu udah bilang, Ibu guru tiga puluh tahun. Ibu tahu bedanya murid yang bohong sama murid yang jatuh cinta.” Dia mendekatkan wajahnya lagi ke layar, menatapku dengan mata berbinar. “Nak Nabila, anak Ibu itu baik. Agak bodoh kalau soal perasaan, tapi baik. Tolong dijaga ya. Dia kalau kerja suka lupa makan.”
“Iya, Bu,” kataku. Suaraku bergetar. Aku tidak tahu kenapa. “Saya jaga.”
“Kapan ke Bandung? Ayah mau kenalan. Ayah udah Ibu ceritain, dia langsung bersihin bengkel. Katanya biar calon mantu nggak lihat oli tumpah.”
“BU!“
Aku tertawa sampai kursi plastik merah di bawahku berderit.
Aku pulang dari kantor Lintas jam empat sore dengan pipi yang pegal karena kebanyakan tersenyum. Di mobil, di lampu merah, aku mengambil tasku dari kursi penumpang untuk mencari lipbalm.
Aku merogoh saku kecil di dalam tas. Saku tempat aku menyimpan lipbalm, kunci cadangan, kertas kecil Tamu khusus, jangan diduduki Bimo, dan kontrak laminasi.
Lipbalm-nya ada. Kunci cadangan ada. Kertas kecil dari kursi launching ada.
Kontrak laminasinya tidak ada.
Aku berhenti bernapas.
Aku merogoh lagi. Lebih dalam. Saku kecil itu tidak dalam, tapi aku merogohnya seperti mencari sesuatu di dasar sumur. Lalu aku merogoh bagian utama tas. Dompet. HP cadangan. Charger. Buku catatan. Tisu. Permen.
Tidak ada kontrak laminasi.
Mobil di belakangku mengklakson. Lampu sudah hijau. Aku menepikan mobil di depan sebuah minimarket, mematikan mesin, dan membalik tasku. Menumpahkan seluruh isinya ke kursi penumpang.
Tidak ada.
Aku memikirkan kapan terakhir kali aku melihatnya. Hari Sabtu. Di resepsi. Aku membawanya di tas kecil yang kupakai dengan kebaya. Lalu Minggu, aku memindahkan isi tas kecil itu ke tas besar ini. Aku ingat melakukannya. Aku ingat menyentuh plastiknya yang licin, dan tersenyum melihat coretan spidol hitam di pasal empat.
Lalu hari Minggu, tas ini di kamarku.
Hari Senin, tas ini di kantor.
Hari Selasa...
Hari Selasa pagi, Kenzo meminjam charger laptop. Dari tasku. Aku sedang mandi. Dia berteriak dari luar kamar mandi, Kak, pinjam charger, punya aku rusak, dan aku berteriak balik, ambil aja di tas.
Aku menatap isi tasku yang berserakan di kursi penumpang.
Charger laptopku ada di sana. Dia sudah mengembalikannya. Hari Selasa malam. Diletakkan di atas kasurku dengan catatan tempel: Makasih, Kak.
Dengan dua huruf kapital di Makasih dan Kak, dan satu titik di akhir kalimat.
Kenzo tidak pernah pakai titik di akhir kalimat. Kenzo menulis semua pesannya dengan huruf kecil dan tanpa tanda baca, seperti remaja pada umumnya. Satu-satunya saat dia memakai titik adalah waktu dia menutup kasus.
Atau waktu dia membukanya.
Aku menelepon Kenzo. Tidak diangkat. Aku menelepon lagi. Tidak diangkat. Aku mengirim pesan.
Kenzo. Kamu ambil sesuatu dari tas aku?
Pesan itu dibaca. Centang dua. Biru.
Tidak ada balasan.
Aku menelepon Devan.
“Kontraknya hilang,” kataku sebelum dia sempat bilang halo.
Hening. Lama.
“Hilang gimana?”
“Nggak ada di tas. Aku udah bongkar semua. Kenzo pinjam charger dari tas aku hari Selasa. Terus dia balikin charger-nya pakai catatan yang ada titiknya.”
“Titik?”
“Kenzo nggak pernah pakai titik, Dev!”
Aku tahu kedengarannya gila. Aku tahu aku terdengar seperti orang yang sedang panik soal tanda baca. Tapi Devan tidak tertawa. Devan diam, dan aku tahu dia mengerti, karena dia sudah pernah melihat catatan Bukti Kenzo, dan dia tahu betapa serius adikku kalau soal kasus.
“Oke,” katanya akhirnya. Pelan. “Oke. Kita tenang dulu.”
“Aku nggak bisa tenang.”
“Aku tahu. Tapi dengerin aku.” Suaranya rendah dan stabil, suara yang sama yang dia pakai waktu bilang kode merah ke Bimo. “Besok jam sepuluh aku rapat sama Papa kamu. Setelah rapat, aku minta waktu. Aku bilang semuanya. Lintas, kontrak, kafe, sepuluh detik, semuanya. Sebelum Kenzo sempat nunjukin apa pun ke siapa pun.”
“Kalau Kenzo nunjukin malam ini?”
“Malam ini Papa kamu masih di kantor sampai jam sebelas, nyiapin rapat besok. Mama kamu arisan di rumah Tante Rini. Nggak ada makan malam keluarga malam ini. Kenzo nggak punya panggung.”
Aku menatap kaca depan mobil. Di luar, seorang tukang parkir minimarket sedang meniup peluit ke arah mobil yang mau keluar.
“Dev.”
“Hm?”
“Kenapa kita nggak bilang dari awal?”
Dia diam lama.
“Karena dari awal, kita pikir ini satu malam aja,” katanya.
Aku menutup mata. Aku mengingat meja nomor tujuh. Tisu kafe. Perjanjian Satu Malam. Setelah itu selesai. Titik. Titik yang ditekan keras sampai hampir menembus tisu.
“Satu malam aja, katanya,” bisikku.
“Satu malam aja, katanya,” ulangnya pelan.
“Aku sayang kamu, Dev.”
“Aku sayang kamu, Honey. Besok. Setelah rapat. Semuanya selesai.”
Aku mengangguk, meskipun dia tidak bisa melihatnya. Aku menutup telepon. Aku memasukkan isi tasku kembali, satu per satu. Aku menyalakan mesin.
Dan di jalan pulang, di tengah kemacetan Jakarta jam lima sore, aku memikirkan adikku. Adikku yang umur tujuh belas tahun, yang punya catatan berjudul Bukti, yang menutup kasus pertamanya di aula universitas di Depok dengan kalimat Kak Devan kayaknya beneran sayang sama Kak Nabila. Dan sama aku.
Adikku yang sekarang membuka kasus baru.
Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan dengan kontrak itu. Aku tidak tahu apakah dia marah, atau kecewa, atau cuma penasaran. Aku tidak tahu apakah dia akan menunjukkannya ke Papa, atau ke Mama, atau ke seluruh grup keluarga.
Yang aku tahu cuma satu hal.
Kenzo tidak pernah membuka kasus tanpa menutupnya.
Dan dia selalu menutupnya di depan penonton.
Malam itu, jam sebelas, aku berdiri di depan pintu kamar Kenzo.
Lampunya masih menyala. Aku bisa melihat cahayanya dari celah di bawah pintu. Aku bisa mendengar suara pelan dari dalam. Podcast. Podcast kriminal favoritnya. Seseorang sedang bicara soal barang bukti yang menentukan.
Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.
Lalu berhenti.
Karena di pintu kamarnya, ada kertas tempel baru. Tulisan tangan Kenzo, dengan spidol hitam. Huruf kapital semua. Dan satu titik di akhir.
SEDANG MENYUSUN LAPORAN AKHIR. JANGAN GANGGU.
Aku menurunkan tanganku.
Di dalam, podcast itu terus berbicara. ...dan pada akhirnya, kebenaran selalu menemukan jalannya ke meja makan...
Aku kembali ke kamarku, berbaring di kasur, dan menatap langit-langit sampai jam tiga pagi.
Besok jam sepuluh. Rapat.
Besok jam tujuh malam, seperti setiap hari Kamis sejak Oma tinggal bersama kami, makan malam keluarga.
Aku lupa soal makan malam hari Kamis waktu aku bicara dengan Devan tadi sore.
Aku baru ingat sekarang. Jam tiga pagi. Dengan jantung yang berdetak di tenggorokan.
Kenzo punya panggung.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti reading
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi