Chapter Thirty Seven
Epilog — Lamaran Resmi
POV: Devan
Ayah menghabiskan dua minggu membersihkan bengkelnya, dan keluarga Saheila bahkan tidak pernah melihat bengkel itu.
“Buat jaga-jaga,” kata Ayah waktu aku menelepon untuk menanyakan kenapa dia mengirimiku foto lantai bengkel yang mengilap seperti lantai mal. “Kalau mereka mampir ke Bandung. Nanti mereka lihat oli tumpah, mereka pikir anak Ayah dibesarkan di tempat kotor.”
“Ayah, lamarannya di Jakarta.”
“Kan jaga-jaga.”
Ibu, di latar belakang, berteriak: “Dia juga beli batik baru! Tiga! Nggak bisa milih!”
“Ibu, jangan bilang-bilang!”
Aku menutup telepon itu dan duduk di lantai kontrakanku di Cawang selama lima menit, tertawa sendirian sampai Bimo, yang tidur di kasur lipat lagi, melemparku dengan bantal.
Lamaran resmi diadakan hari Minggu, jam sepuluh pagi, di rumah keluarga Saheila di Pondok Indah. Tiga minggu setelah meja nomor tujuh, cincin yang diukur pakai benang, dan latte art hati yang sempurna.
Keluarga Satria datang dengan dua mobil. Satu mobil sewaan yang disetir Bimo, berisi Ayah, Ibu, dan aku. Satu lagi mobil pikap tua Ayah, yang dia bersikeras bawa dari Bandung karena di baknya ada seserahan. Seserahan yang ternyata, waktu kami sampai dan Ayah membuka terpal penutupnya, berisi tiga karung beras dari sawah tetangga di Bandung, dua kotak bolu susu dari toko langganan Ibu, satu lemari kayu kecil buatan Ayah sendiri, dan satu radio tua yang sudah diperbaiki dan dicat ulang.
“Radio?” tanyaku.
“Buat Oma,” kata Ayah. “Kamu bilang Oma suka dengar wayang. Radio yang kamu benerin itu kabelnya pakai charger bekas. Nggak awet. Ini Ayah rakit ulang. Antenanya lebih kuat.”
Aku menatap Ayah. Lalu menatap radio itu. Lalu aku mengerti dari mana aku belajar membetulkan radio.
Pintu rumah keluarga Saheila terbuka sebelum kami sempat mengetuk.
Mama Nabila berdiri di ambang pintu dengan kebaya hijau zamrud. Kebaya yang sama dengan malam perkenalan, malam pertama, malam kemeja kekecilan. Di belakangnya, berjajar seperti pasukan penyambut: Papa Nabila dengan beskap, Tante Rini dengan kebaya merah muda dan tas krem, Om Bram dengan batik yang ternyata sama persis dengan batik yang dia pinjamkan padaku di resepsi, Oma di kursi roda, Kenzo dengan kemeja batik yang lengannya masih kepanjangan.
Dan Ibu, yang sudah menyiapkan kalimat pembukaan selama tiga hari, lengkap dengan pantun, menatap Mama Nabila dan lupa semuanya.
“Jeng,” kata Ibu.
“Jeng,” kata Mama Nabila.
Mereka saling menatap selama tiga detik. Lalu mereka berpelukan. Erat. Seperti dua orang yang sudah lama kenal. Padahal mereka baru bertemu lewat video call dua kali.
“Rendangnya,” kata Ibu di bahu Mama Nabila. “Jeng, saya harus belajar rendangnya. Anak saya nggak berhenti ngomongin rendang Jeng.”
“Saya juga harus belajar bolu susu Jeng,” kata Mama Nabila di bahu Ibu. “Anak Jeng bawa ke kantor Nabila dua kali. Nabila makan sendiri, nggak dibagi.”
“Mama!“ teriak seseorang dari dalam rumah.
Dan aku menoleh.
Dia berdiri di ujung lorong. Di depan pintu ruang sidang.
Kebaya biru muda.
Tentu saja biru muda. Kebaya brokat biru muda yang sangat pucat, hampir seperti langit pagi, dengan bordiran bunga-bunga putih kecil di sepanjang lengan dan pinggang. Kain batik tulis di bawahnya, cokelat keemasan, sama dengan yang dia pakai di resepsi Mbak Kinan. Rambutnya disanggul rendah, dengan untaian melati yang jatuh di satu sisi. Dan di telinganya, anting emas kecil berbentuk tetesan air.
Anting yang sama. Dari malam pertama. Dari gaun merah marun.
Dia menatapku dari ujung lorong. Dan tersenyum. Dengan lesung di pipi kanan.
Aku berhenti berkedip.
Di sebelahku, Ayah menoleh padaku. Lalu menoleh ke Nabila. Lalu menoleh padaku lagi.
“Nak,” bisiknya. “Napas.”
Aku tidak bisa. Aku lupa caranya. Lagi.
“Satu,” kata seseorang di belakangku.
Mama Nabila. Mulai menghitung.
“Dua. Tiga.”
Tante Rini ikut menghitung. “Empat. Lima.”
Om Bram ikut. Kenzo ikut, dengan HP terangkat, merekam. Bahkan Oma ikut, dari kursi rodanya, dengan suara tua yang tajam. “Enam. Tujuh.”
Ibu menatap semua orang dengan bingung. “Kenapa semua ngitung?”
“Anak Jeng nggak kedip kalau lihat anak saya,” kata Mama Nabila tanpa berhenti menghitung. “Delapan. Kami udah biasa.”
“Sembilan,” kata Papa Nabila. Pelan. Dengan kumis yang bergetar.
Nabila berjalan menyusuri lorong. Ke arahku. Dengan kebaya biru muda yang bergerak pelan dan melati yang bergoyang di sanggulnya. Berhenti di depanku. Mengangkat tangannya. Menjentikkan jari di depan kacamataku.
Tik.
“Sepuluh,” kata semua orang bersamaan.
Aku berkedip.
“Halo,” kata Nabila. “Masih hidup?”
“Nggak tahu,” kataku. Suaraku serak. “Kayaknya aku udah di surga.”
“Tapi kok ada Om Bram?”
“Saya dengar itu,” kata Om Bram. “Saya selalu dengar itu.”
Ayah, di sebelahku, menatap semua orang. Lalu menatap Ibu. Lalu, pelan-pelan, mulai tertawa. Tawa bengkel yang keras dan hangat, tawa yang sama yang dia pakai waktu aku umur tujuh tahun membongkar mesin motornya dan tidak bisa memasangnya kembali.
“Keluarga ini,” kata Ayah ke Ibu, sambil menyeka mata. “Keluarga ini gila, Bu.”
“Iya, Yah.”
“Ayah suka.”
Acara lamaran resmi berlangsung dua jam, dan hampir tidak ada yang berjalan sesuai susunan acara.
Pantun Ibu tidak pernah dibacakan, karena Ibu dan Mama Nabila sibuk berdebat soal rendang. Bukan berdebat, sebenarnya. Lebih seperti dua guru besar yang bertukar ilmu dengan semangat yang berbahaya. Ibu bilang rendang yang baik harus pakai daun kunyit. Mama Nabila bilang Bu Ratmi tidak pakai daun kunyit. Ibu bilang Bu Ratmi mungkin lupa menulisnya. Mama Nabila membawa buku Dapur Bu Ratmi dari dapur dan membukanya di halaman empat puluh tujuh untuk membuktikan. Mereka membaca resep itu berdua, dengan kepala berdempetan, dan dalam lima menit mereka sudah merencanakan rendang kolaborasi untuk hari pernikahan.
Ayah dan Om Bram bicara soal golf. Ayah tidak pernah main golf seumur hidupnya. Om Bram menjelaskan cara mengayun stik selama dua puluh menit. Ayah mendengarkan dengan serius, lalu bertanya satu hal: mobil golfnya pakai aki apa? Om Bram tidak tahu. Ayah bilang kalau aki mobil golfnya sering soak, itu karena tegangan pengisiannya salah, dan dia bisa betulkan. Om Bram menatap Ayah dengan mata berbinar, seperti menatapku di hole sembilan.
“Caddy saya bapaknya juga bisa benerin barang,” katanya ke Tante Rini dengan suara takjub.
“Mas, Pak Satria bukan caddy.”
“Dia calon caddy.”
Ayah memberikan radio rakitannya ke Oma. Oma memegangnya lama, memutar tombolnya, dan menemukan stasiun yang sedang memutar wayang. Suaranya jernih. Tidak ada kresek-kresek sama sekali.
Oma menatap Ayah. Lalu menatapku. Lalu menatap Ayah lagi.
“Bapaknya juga jongkok,” kata Oma.
Ayah memang sedang jongkok di depan kursi roda Oma, supaya matanya sejajar dengan mata Oma waktu menunjukkan cara memutar tombol radio.
“Bagus,” kata Oma. “Bagus.”
Gerald dan Sasa datang di tengah acara, terlambat lima belas menit, karena Gerald salah belok di Pondok Indah dan tidak mau pakai aplikasi peta karena katanya laki-laki sejati tidak butuh peta.
“Dia nyasar empat kali,” kata Sasa waktu masuk, dengan wajah lelah. “Empat kali, Bil.”
“Tiga kali,” koreksi Gerald. “Yang keempat itu jalan pintas.”
“Jalan pintasnya bikin kita masuk ke kompleks orang lain dan ditanya satpam.”
“Satpamnya ramah.”
Sasa menatap Gerald lama. Lalu menghela napas panjang, lalu menggenggam tangannya dan tidak melepasnya sepanjang sisa acara.
Mereka membawa hadiah. Dari Gerald, sebuah bingkai foto: denah kawasan Cikarang dengan gerbang servis di sisi belakang dan hub mini di tengah, digambar ulang oleh arsitek profesional dengan tinta emas. Di pojok bawah ada tulisan kecil: Desain Awal: Devan Satria, di atas serbet, malam pertama.
“Proyeknya jalan,” kata Gerald dengan bangga. “Tenant gudang e-commerce udah tanda tangan tujuh puluh persen. Marginnya...” Dia berhenti. Melirik Sasa. “...bagus.”
“Satu kata,” kata Sasa. “Dia cuma boleh ngomong margin satu kata per hari.”
“Itu yang hari ini.”
Dari Sasa, sebuah foto berbingkai. Foto yang sangat kukenal. Nabila dengan dress kuning di depan museum Kota Tua, menatapku, tersenyum.
Di bawahnya, Sasa menulis dengan spidol emas: Foto pertama. Katanya akting. Aku fotografernya. Aku tahu itu bukan akting.
Lalu Kenzo berdiri.
Seluruh ruang sidang diam. Semua orang di keluarga Saheila sudah tahu: kalau Kenzo berdiri di acara keluarga, sesuatu akan terjadi.
Dia memegang HP-nya. Dan buku catatan. Dan satu lembar kertas yang dilipat.
“Saya diminta Mama untuk kasih sambutan mewakili keluarga Saheila,” katanya dengan suara resmi.
“Mama nggak minta,” kata Mama Nabila.
“Saya minta ke diri saya sendiri atas nama Mama.” Kenzo membuka buku catatannya. “Saya mau bacain beberapa bukti.”
Nabila, di sebelahku, menutup wajahnya dengan tangan.
“Bukti nomor satu, kasus pertama,” baca Kenzo. “Kak Devan diem sepuluh detik sebelum bilang oke. Terlalu lama buat orang yang pacaran setahun.“ Dia membalik halaman. “Bukti nomor tujuh belas. Kemeja Kak Devan kekecilan. Mencurigakan. Bukti nomor dua puluh. Kak Nabila di foto Kota Tua liatin Kak Devan kayak beneran.“
Tante Rini mulai terisak.
“Bukti nomor dua puluh dua. Om Bram luluh di tengah hujan.“
“Itu nggak perlu dibacain,” gumam Om Bram.
“Bukti nomor tiga puluh dua. Kak Devan kayaknya beneran sayang sama Kak Nabila. Dan sama aku. Kasus ditutup.“
Kenzo menutup buku catatannya. Lalu membuka kertas yang dilipat.
“Terus ada kasus kedua,” katanya. “Yang saya buka sendiri, terus saya tutup sendiri, di meja ini.” Dia menatap kertas itu. “Bukti terakhir. Belum pernah saya tulis. Baru saya tulis tadi pagi.”
Dia berdeham. Suaranya tiba-tiba sedikit bergetar.
“Bukti terakhir: Kak Devan nggak pergi. Kontraknya udah selesai dari lama. Nggak ada alasan lagi buat dia di sini. Tapi dia tetap di sini. Dia masih main golf sama Om Bram. Masih masak sama Mama. Masih benerin barang-barang Oma. Masih nanyain PR aku tiap Kamis.“
Kenzo menurunkan kertas itu. Menatapku.
“Kesimpulan: aku punya kakak cowok.“
Ruang sidang hening.
Lalu Kenzo melipat kertasnya, memasukkannya ke saku, dan duduk kembali dengan wajah yang sangat berusaha untuk tidak menangis. Telinganya merah menyala.
Aku tidak tahu siapa yang mulai menangis duluan. Mungkin Tante Rini. Mungkin Ibu. Mungkin Mama Nabila. Mungkin Bimo, yang ternyata berdiri di pintu dapur sejak tadi, diundang sebagai wali dari pihak kantor, dan yang sekarang menangis dengan kedua tangan di dada seperti biasa.
Aku berdiri. Berjalan ke ujung meja. Dan memeluk Kenzo.
Dia tidak membalas pelukanku selama tiga detik. Lalu dia membalasnya. Erat. Dengan wajah di bahuku.
“Jangan cerita ke siapa-siapa,” gumamnya di bahuku.
“Nggak akan.”
“Kak Nabila rekam, kan?”
Aku menoleh. Nabila sedang memegang HP-nya, lampu merah menyala.
“Iya,” kataku.
Kenzo menghela napas panjang di bahuku. “Ya udah.”
Di akhir acara, waktu tiba saatnya mengumumkan tanggal pernikahan, Papa Nabila berdiri.
Seluruh ruang sidang diam. Bahkan Tante Rini berhenti terisak. Bahkan Bimo berhenti menangis.
Papa Nabila menatap seluruh meja. Menatap Ayah dan Ibu, yang duduk berdampingan dengan tangan saling menggenggam. Menatap Mama Nabila. Menatap Nabila. Lalu menatapku.
“Tiga bulan lagi,” katanya. “Tanggal empat belas.”
Aku mengerjap.
Empat belas. Tanggal jadian palsu kami. Tanggal empat belas, bulan Oktober tahun lalu, hari Sabtu, jam empat sore, di Kafe Jeda, meja nomor tujuh, hujan. Tanggal yang kukarang di depan Kenzo di malam pertama.
“Biar,” kata Papa Nabila, “yang bohong jadi beneran.”
Seluruh meja tertawa. Mama Nabila menepuk lengan suaminya sambil menangis. Tante Rini mengeluarkan suara seperti ketel air mendidih.
Lalu Papa Nabila menatapku. Diam. Lama.
“Devan,” katanya.
Aku berdiri. “Iya, Om.”
Dia mengangkat alis. Satu. Pelan.
Aku menelan ludah. Aku tahu apa yang dia tunggu. Aku sudah memikirkan ini selama tiga minggu. Aku sudah mencoba mengucapkannya di depan cermin kamar mandi kontrakanku, dan setiap kali, suaraku tercekat di tengah jalan.
Aku menarik napas.
“Iya,” kataku. “Papa.”
Ruang sidang hening.
Papa Nabila menatapku. Kumisnya bergetar. Lalu dia berdeham. Satu kali.
“Ehem.”
Lalu dia mengatakan sesuatu. Tiga kata. Pelan. Dengan suara yang serak, yang tidak seperti suara Hendra Saheila yang biasa.
“Selamat datang, Nak.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku berdiri di situ, di ruang sidang keluarga Saheila, di depan meja makan sepuluh meter, dengan batik baru dari Ayah dan mata yang tiba-tiba sangat, sangat basah.
Lalu aku menoleh ke Mama Nabila.
Dia sudah menangis. Dia sudah menangis sejak Kenzo membacakan buktinya. Tapi waktu dia melihatku menoleh padanya, dia berhenti. Menutup mulutnya dengan kedua tangan. Menunggu.
“Mama,” kataku.
Dan Mama Nabila, yang tujuh minggu lalu memanggilku Nak Devan setelah dua puluh menit, yang mengirim rendang dengan tulisan masih marah selama empat hari, yang mengajariku bahwa bawang cuma jahat sama orang yang takut sama dia, berdiri dari kursinya, memutari meja, dan memelukku sambil menangis tersedu-sedu, begitu keras sampai kacamataku miring dan batikku basah di bagian bahu.
“Anak Mama,” katanya di bahuku. “Anak Mama nambah satu.”
Ibu, di seberang meja, menangis juga. Lalu berdiri dan memeluk Nabila. “Anak Ibu juga nambah satu,” katanya.
Dan Nabila, di pelukan Ibu, menoleh padaku. Matanya basah. Senyumnya lebar. Lesung di pipi kanannya dalam sekali.
Setelah semua orang berhenti menangis, dan Bi Inah membawa rendang kolaborasi yang dimasak Mama dan Ibu berdua pagi tadi, dan Om Bram sudah menjadwalkan golf dengan Ayah untuk Sabtu depan, dan Kenzo sudah memindahkan video lamaran ke tiga HP berbeda sebagai cadangan, aku dan Nabila menyelinap keluar ke taman belakang.
Ke bawah pohon mangga. Tempat pertama kali aku bilang kamu cantik tanpa ada yang menonton.
Dari dalam rumah, suara keluarga kami terdengar samar. Tawa Tante Rini. Suara Om Bram menjelaskan sesuatu. Radio Oma yang memutar wayang. Suara Ayah dan Papa Nabila, yang ternyata sedang membicarakan motor tua dengan semangat yang tidak pernah kulihat di wajah Papa Nabila sebelumnya.
Nabila berdiri di depanku. Dengan kebaya biru muda. Dengan melati yang mulai layu di sanggulnya. Dengan cincin di jari manisnya yang berkilau di bawah matahari siang yang tersaring daun-daun mangga.
“Tiga bulan lagi,” katanya.
“Tiga bulan lagi.”
“Tanggal empat belas.”
“Tanggal bohongan kita.”
“Jadi beneran.”
Dia tersenyum. Aku mengulurkan tangan dan menyelipkan rambutnya yang lepas dari sanggul ke belakang telinga kiri.
“Kamu cantik,” kataku.
“Nggak ada yang nonton, Dev.”
“Aku tahu.”
Dia tertawa. Lalu dia mengangkat tangannya dan membetulkan kacamataku, yang miring sejak dipeluk Mama tadi.
“Istriku Cantik,” kataku.
“Sebentar lagi beneran,” katanya.
“Aku cinta kamu.”
“Aku cinta kamu. Aku bilang duluan.”
“Kamu menang.”
“Selalu.”
Lalu hening. Hening yang nyaman. Hening yang tidak perlu diisi dengan apa-apa.
Aku menatapnya. Di bawah pohon mangga. Dengan suara keluarga kami di latar belakang, dua keluarga yang sekarang jadi satu. Dengan cahaya matahari yang jatuh di wajahnya lewat celah daun-daun.
Dan aku lupa cara bernapas.
Lagi. Untuk kesekian kalinya. Aku sudah berhenti menghitung berapa kali.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Dia menatapku balik. Tidak menjentikkan jari. Tidak bertanya masih hidup. Dia cuma menatapku, dengan senyum kecil yang cuma untukku, dan menunggu.
Empat. Lima. Enam.
Aku tidak mencoba mengingat caranya. Aku tidak panik. Aku tidak perlu.
Tujuh. Delapan. Sembilan.
Karena aku sudah tahu, sejak pagi itu di meja nomor tujuh, bahwa ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah berhenti terjadi. Setiap kali aku melihatnya. Setiap pagi, setiap malam, setiap hari selama sisa hidupku.
Sepuluh.
Aku menarik napas.
Dan dia tersenyum, seolah dia tahu persis apa yang baru saja terjadi.
“Sepuluh detik,” katanya pelan.
“Sepuluh detik,” kataku.
“Masih kurang?”
Aku menatapnya. Di bawah pohon mangga. Dengan kebaya biru muda dan melati di rambut dan cincin di jari dan lesung di pipi kanan.
“Seumur hidup juga kurang,” kataku.
Dia tertawa, dan menarik kerahku, dan menciumku di bawah pohon mangga.
Dari jendela ruang sidang, aku tahu tanpa menoleh bahwa seluruh keluarga kami sedang menonton. Aku tahu Tante Rini sedang menempelkan tangan di dada. Aku tahu Kenzo sedang merekam. Aku tahu Om Bram sedang keluar dari grup WhatsApp untuk kesekian kalinya.
Dan aku tahu, sebentar lagi, dari balik jendela itu, akan terdengar satu suara.
“Ehem.”
Tiga kali.
Aku tidak berhenti.
Kali ini, ada penontonnya.
Tamat.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi reading