Chapter Twenty
Pacar Beneran, Katanya
POV: Devan
Ada banyak hal yang ingin kukatakan.
Aku ingin bilang bahwa aku sudah tahu sejak detik pertama. Bahwa sepuluh detik di kafe ini, lima minggu lalu, bukan waktu untuk menimbang. Bahwa aku lupa cara bernapas. Bahwa kemeja Bimo robek di Blok M dan aku tidak peduli sama sekali karena dia tertawa sampai kepalanya membentur setir. Bahwa ada folder di HP-ku bernama Bukti Aku Nggak Salah Pilih, dan isinya sekarang sebelas foto.
Aku ingin bilang semua itu. Tapi yang pertama keluar dari mulutku cuma satu kalimat.
“Aku udah melanggar pasal empat dari hari pertama.”
Nabila menatapku. Air mata yang tadi menggantung di sudut matanya jatuh satu. Pelan. Mengalir di pipinya.
“Aku cuma nggak lapor,” kataku.
Dia tidak bergerak. Mulutnya sedikit terbuka. Tangannya masih mencengkeram rok di bawah meja, aku bisa melihat bahunya kaku.
“Hari pertama?” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar.
“Hari pertama.”
“Waktu aku minta kamu jadi pacar bohongan?”
“Waktu kamu duduk di depan aku.”
“Tapi kamu bilang kamu lagi menimbang untung rugi.”
Aku menatapnya. Ada kalimat yang sudah naik sampai ke ujung lidahku. Sepuluh detik itu bukan menimbang. Sepuluh detik itu aku...
Aku menahannya. Bukan sekarang. Suatu hari nanti, aku akan menceritakan sepuluh detik itu dengan benar. Di tempat yang tepat. Dengan cara yang tepat. Bukan hari ini, bukan dengan wajahnya yang basah dan suaranya yang gemetar dan hatinya yang baru saja dia letakkan di atas meja nomor tujuh seperti sebuah taruhan.
Hari ini, dia yang menghitung sepuluh detik. Hari ini milik dia.
“Aku bohong soal itu,” kataku. “Itu satu-satunya hal yang aku bohongin ke kamu pagi itu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku jujur waktu itu, kamu bakal lari.”
Dia tertawa. Tawa kecil yang pecah di tengah, bercampur dengan isak. Dia mengusap pipinya dengan punggung tangan, dan aku ingin sekali mengulurkan tangan untuk menghapus air matanya, tapi aku tidak tahu apakah aku boleh.
“Aku nggak bakal lari,” katanya.
“Kamu yakin?”
“Aku yang nyamperin kamu. Aku yang duduk di sini. Aku yang minta.” Dia menatapku dengan mata yang berkilat-kilat. “Aku nggak pernah lari dari apa pun, Devan.”
“Kamu kabur dari rumah pagi itu.”
“Itu bukan kabur. Itu menenangkan diri.”
“Versi orang kaya.”
Dia tertawa lagi. Lebih lepas kali ini. Lalu tawanya reda, dan dia menatapku, dan aku menatapnya, dan kafe itu tiba-tiba terasa sangat kecil.
“Jadi,” katanya pelan. “Kamu juga?”
Aku menarik napas.
Mulai sekarang, pikirku, tidak ada lagi pasal sepuluh. Tidak ada lagi yang disamarkan. Tidak ada lagi kalimat penting yang diucapkan tepat sebelum aku membuka pintu dan pergi.
“Aku sayang kamu,” kataku.
Dia membeku.
“Aku jatuh cinta sama kamu,” lanjutku, dan suaraku lebih stabil dari yang kukira. “Dari hari pertama. Dari sebelum kamu duduk, malah. Dari waktu kamu masuk kafe ini dan semua orang berhenti ngomong, dan aku sengaja nggak nengok karena aku tahu kalau aku nengok, aku nggak bakal bisa kerja lagi.”
“Kamu nggak nengok karena itu?”
“Karena itu.”
“Aku kira kamu nggak tertarik sama sekali.”
“Aku terlalu tertarik. Itu masalahnya.”
Dia menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya basah lagi. Tapi kali ini, di balik tangannya, aku bisa melihat sudut matanya menyipit. Dia tersenyum.
“Mulai sekarang,” kataku, “aku nggak akting lagi. Jadi kalau aku bilang kamu cantik, itu data. Bukan dialog.”
“Data,” ulangnya dari balik tangan.
“Data. Diverifikasi. Berkali-kali.”
“Berapa kali?”
“Setiap kali aku lihat kamu.”
Dia menurunkan tangannya. Menatapku. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh dunia berhenti berputar sebentar.
“Aku juga sayang kamu.”
Di balik bar, sesuatu jatuh dengan bunyi yang sangat keras.
Kami menoleh bersamaan. Mas Jaka berdiri di balik mesin espresso dengan kedua tangan menutup mulut. Di lantai di depannya, satu nampan penuh cangkir kosong berserakan. Tidak ada yang pecah, entah karena keajaiban atau karena cangkirnya tebal. Mahasiswa di pojok terbangun dengan kaget, menatap sekeliling, lalu tidur lagi.
“Maaf,” kata Mas Jaka dari balik tangannya. Suaranya teredam. Matanya berkaca-kaca. “Maaf. Saya... saya nggak dengerin. Saya nggak dengerin apa-apa.”
Nabila menatapnya. Lalu menatapku. Lalu tertawa sampai menunduk ke meja.
Aku mengambil kacamataku dan memakainya lagi. Dunia kembali tajam. Nabila masih tertawa, dengan pipi yang basah dan merah, dengan rambut tergerai yang jatuh ke depan, dengan dress biru muda yang warnanya sama dengan kemejaku. Di bawah lampu kuning kafe dan cahaya kelabu hujan, dia kelihatan seperti lukisan yang baru selesai dibuat. Masih basah catnya. Masih hidup.
Aku tahu ini berlebihan. Aku tidak peduli. Mulai hari ini, aku tidak perlu lagi peduli.
“Kontraknya,” kataku. “Kontraknya batal.”
Nabila mengangkat wajahnya dari meja. “Iya. Pasal empat. Batal otomatis.”
“Kamu bawa?”
Dia menatapku, lalu merogoh tasnya. Mengeluarkan sesuatu yang terbungkus plastik tebal dan berkilau. Kontrak laminasi. Dia membawanya ke mana-mana, rupanya.
“Kenapa kamu bawa?” tanyaku.
“Nggak tahu. Kebiasaan.”
“Kamu bawa ke Puncak juga?”
Telinganya merah. “...Iya.”
Aku menahan senyum. Aku gagal.
Dia meletakkan kontrak itu di atas meja, di antara cangkir kopiku dan cangkir latte-nya. Kami berdua menatap pasal empat.
Pasal 4: Dilarang baper. Berlaku untuk para pihak. Jika dilanggar, kontrak batal.
“Mas Jaka,” kataku, tanpa menoleh. “Ada spidol?”
Mas Jaka muncul di samping meja dalam waktu kurang dari dua detik, dengan spidol permanen hitam di tangan. Aku curiga dia sudah memegangnya sejak tadi.
“Ini, Mas.”
“Makasih.”
Aku membuka tutup spidol. Menyodorkannya ke Nabila.
“Kamu yang mulai,” kataku.
Dia menatap spidol itu. Lalu mengambilnya. Tangannya masih sedikit gemetar. Dia menempelkan ujungnya di atas plastik laminasi, di awal kalimat pasal empat, dan menarik garis. Lurus. Tebal. Tapi cuma sampai setengah.
Lalu dia menyodorkan spidol itu padaku.
“Setengahnya kamu,” katanya. “Kita langgar berdua.”
Aku mengambil spidol itu dan menyelesaikan garisnya. Sampai ujung.
Pasal empat tercoret. Satu garis hitam tebal di atas plastik yang berkilau, setengah dari tangannya dan setengah dari tanganku, di pertemuan tengahnya sedikit bengkok karena garis kami tidak persis segaris.
Kami menatap coretan itu lama.
“Terus sekarang gimana?” tanya Nabila.
“Pasal sebelas bilang kontrak berakhir otomatis kalau pasal empat dilanggar.”
“Jadi kita bukan pacar bohongan lagi?”
“Bukan.”
“Terus kita apa?”
Aku menatapnya. Dia menatapku, dengan mata yang masih basah dan dagu yang terangkat sedikit, menantang, seperti di hari kedua waktu dia bilang aku datang dua puluh menit lebih awal, berarti kamu telat.
“Nabila Saheila,” kataku. “Mau jadi pacar aku? Beneran?”
Dia menatapku.
Lalu, pelan-pelan, dengan senyum yang mulai muncul di sudut bibirnya, dia mulai menggerakkan bibirnya tanpa suara. Satu. Dua. Tiga.
“Jangan,” kataku. “Jangan sepuluh detik. Aku nggak kuat.”
Dia tertawa. “Kamu yang bikin aku nunggu sepuluh detik!”
“Itu lima minggu lalu! Kamu udah balas dendam tadi!”
“Balas dendamnya belum lunas.”
“Nabila.”
“Empat.“
“Nabila, please.”
“Lima.“
Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Aku mendengarnya tertawa. Aku mendengar Mas Jaka tertawa di balik bar. Aku mendengar mahasiswa di pojok bergumam berisik amat dalam tidurnya.
“Iya,” kata Nabila.
Aku menurunkan tanganku.
Dia sedang tersenyum. Lebar. Dengan lesung di pipi kanan. Dengan mata yang menyipit sampai hampir tertutup.
“Iya,” ulangnya. “Mau. Beneran.”
“Kamu cuma ngitung sampai lima.”
“Aku nggak sabar.”
Kafe Jeda tutup jam sebelas malam. Kami tidak pergi sampai jam sebelas.
Kami duduk di meja nomor tujuh selama tujuh jam, dan aku tidak tahu apa saja yang kami bicarakan. Semuanya. Tidak ada apa-apa. Dia cerita soal Sasa dan Gerald yang ngopi dan dua puluh menit soal margin. Aku cerita soal Bimo yang duduk di lantai kantor waktu aku mengaku. Kami tertawa soal satpam di parkiran hotel. Kami menghabiskan tiga cangkir kopi, dua croissant, dan sepiring kentang goreng yang dibuatkan Mas Jaka meskipun Kafe Jeda sebenarnya tidak punya kentang goreng di menunya.
Kami tidak membahas keluarganya. Tidak membahas bagaimana cara memberi tahu mereka.
Di tengah malam, Nabila menatapku dengan dagu bertumpu di tangan.
“Keluarga aku,” katanya.
“Hm.”
“Mereka udah ngira kita pacaran.”
“Iya.”
“Setahun.”
“Iya.”
“Jadi...” Dia memiringkan kepala. “Kita nggak perlu bilang apa-apa, kan? Maksudku, dari sudut pandang mereka, nggak ada yang berubah. Kita tetap pacaran. Cuma sekarang beneran.”
Aku memikirkannya. Ada yang terasa tidak benar tentang itu. Seperti ada satu baris kode yang tidak dikompilasi, dan kamu tahu suatu hari nanti program itu akan error di bagian itu.
Tapi dia sedang tersenyum. Dan ini malam pertama kami. Dan aku tidak mau jadi orang yang merusak malam pertama.
“Kan mereka udah ngira kita pacaran,” kataku.
“Kan mereka udah ngira kita pacaran,” ulangnya, puas.
Masih ada satu hal lain yang belum kukatakan. Tentang Lintas. Tentang laporan tahunan Saheila Group dan catatan kaki soal efisiensi rute. Tentang siapa aku sebenarnya di balik kerja di IT, macem-macem.
Aku menatapnya, dan kalimat itu naik sampai ke tenggorokanku.
Lalu dia menguap. Menguap besar, tanpa menutup mulut, seperti anak kecil. Dan tertawa malu.
“Ngantuk, Sayang?” tanyaku.
Kata itu keluar begitu saja. Tanpa rencana. Seperti sudah lama menunggu di ujung lidah dan akhirnya menemukan jalan keluar.
Nabila berhenti tertawa. Menatapku dengan mata membesar. “Kamu... barusan manggil aku...”
“Nggak boleh?”
Dia menatapku lama. Telinganya merah. Pipinya merah. Lehernya merah.
“Dulu aku bilang geli kalau kamu yang ngomong,” katanya pelan.
“Masih geli?”
“...Nggak.” Dia menunduk ke cangkirnya. “Boleh.”
Dan aku menelan kalimat soal Lintas itu kembali.
Nanti, pikirku. Setelah launching. Setelah semuanya pasti. Aku bakal bilang dengan benar.
Itu salah perhitungan. Aku tahu itu sekarang. Tapi malam itu, dengan dia di depanku, menguap dan tertawa, aku tidak peduli pada perhitungan apa pun.
Jam sebelas, Mas Jaka mematikan separuh lampu kafe. Kami berdiri. Aku mengambil payung. Nabila memasukkan kontrak laminasi, yang sekarang punya coretan hitam tebal di pasal empat, ke dalam tasnya dengan hati-hati.
Di pintu, Mas Jaka menjabat tanganku dengan kedua tangannya, lama dan erat, seperti orang tua melepas anaknya ke medan perang.
“Selamat, Mas,” katanya dengan suara serak.
“Makasih, Mas.”
“Saya nggak dengerin apa-apa.”
“Saya tahu, Mas.”
“Tapi selamat.”
Kami keluar. Hujan sudah reda. Jalanan Kemang basah dan berkilau di bawah lampu jalan, dan udaranya dingin dan bersih seperti baru dicuci. Toko bunga di sebelah kafe sudah tutup, tapi di balik kacanya aku bisa melihat ember-ember berisi tulip.
Aku mencatat itu. Untuk besok.
Kami berdiri di trotoar, di bawah kanopi Kafe Jeda, dan tiba-tiba tidak ada yang tahu harus berbuat apa.
Tujuh jam kami bicara di dalam. Sekarang, di luar, di bawah lampu jalan, kami diam.
“Jadi,” kata Nabila.
“Jadi.”
“Kita pacaran.”
“Kita pacaran.”
“Beneran.”
“Beneran.”
Dia menatap sepatunya. Aku menatap jalan. Ada seekor kucing yang lewat, menatap kami, lalu pergi.
“Devan.”
“Hm?”
“Pasal tiga,” katanya pelan, masih menatap sepatunya. “Soal cium. Yang ditulis DILARANG pakai huruf kapital. Digaris bawah dua kali.”
Jantungku berhenti. “Iya?”
“Kontraknya udah batal, kan?”
Aku menatapnya. Dia mengangkat wajahnya. Pelan. Dan dia menatapku dengan mata yang besar dan gelap dan berkilau di bawah lampu jalan, dengan bibir yang digigit sedikit di sudut, dengan telinga yang merah menyala.
“Udah batal,” kataku. Suaraku serak.
“Berarti pasal tiga juga batal.”
“Berarti pasal tiga juga batal.”
Kami tidak bergerak. Satu detik. Dua detik.
Lalu dia maju satu langkah. Aku maju satu langkah. Dan tidak ada lagi jarak di antara kami, kecuali lima senti. Lima senti yang sama seperti di mobil di parkiran hotel, sebelum satpam mengetuk kaca.
Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada satpam. Tidak ada tongkat lampu. Tidak ada yang akan mengetuk apa pun.
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh pipinya. Pelan. Pipinya hangat dan masih sedikit basah di bawah mata.
“Boleh?” bisikku.
Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia memejamkan mata.
Dan aku menciumnya.
Aku tidak tahu cara menceritakan bagian ini dengan benar. Aku orang yang terbiasa dengan angka, dengan rute dan kode dan tabel, dan tidak ada angka untuk ini.
Yang bisa kuceritakan hanya hal-hal kecil.
Bahwa bibirnya lembut dan sedikit dingin karena udara malam, lalu hangat.
Bahwa kacamataku miring karena hidungnya menyenggol bingkainya, dan dia tertawa kecil di tengah ciuman, dan tawanya terasa di bibirku.
Bahwa tangannya naik dan mencengkeram kemejaku di bagian dada, di atas jantung, seperti orang yang berpegangan supaya tidak jatuh.
Bahwa di belakangku, lewat kaca Kafe Jeda, aku tahu tanpa menoleh bahwa Mas Jaka sedang menonton dengan kedua tangan menutup mulut.
Bahwa dunia hilang. Sebentar. Hujan, jalanan, lampu, kucing, toko bunga, kontrak, pasal, keluarga Saheila, Lintas, semuanya hilang. Yang tersisa hanya dia, dan bibirnya, dan tangannya di dadaku, dan detak jantungku yang dia pasti bisa rasakan di bawah telapak tangannya.
Dan bahwa, untuk ketiga kalinya dalam hidupku, aku lupa cara bernapas.
Tapi kali ini aku tidak panik. Kali ini aku tidak perlu ingat caranya.
Karena dia bernapas untuk kami berdua.
Waktu kami akhirnya berpisah, dia tidak membuka matanya langsung. Dia berdiri di situ, dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka, dan tangannya masih mencengkeram kemejaku.
Lalu dia membuka mata. Pelan. Menatapku dari jarak yang sangat dekat.
“Kacamata kamu miring,” bisiknya.
“Kamu yang bikin miring.”
Dia mengangkat tangannya dan membetulkan kacamataku. Mendorongnya kembali ke pangkal hidung dengan ujung jarinya. Persis seperti di hari kedua, di meja nomor tujuh, waktu dia melakukannya tanpa berpikir lalu membeku.
Kali ini dia tidak membeku.
Kali ini dia tersenyum.
“Latihan,” katanya.
“Nggak ada penontonnya.”
Dia melirik ke balik bahuku, ke jendela Kafe Jeda. Aku menoleh. Mas Jaka berdiri di balik kaca, dengan kedua tangan menempel di jendela, dengan air mata mengalir di pipinya, dan dengan senyum yang begitu lebar sampai hampir membelah wajahnya jadi dua.
Dia mengacungkan dua jempol.
Nabila tertawa. Aku tertawa. Kami tertawa sampai harus berpegangan satu sama lain supaya tidak jatuh ke trotoar yang basah.
“Ada penontonnya,” kata Nabila di sela tawanya.
“Satu.”
“Satu cukup.”
Dan dia menarik kerah kemejaku dan menciumku lagi. Singkat, cepat, di depan Mas Jaka dan kucing yang tadi lewat dan kembali lagi untuk melihat.
Aku mengantarnya ke mobilnya. Dia masuk. Menurunkan jendela.
“Sayang,” katanya.
Aku membeku. Pertama kalinya dia memanggilku seperti itu. Pertama kalinya siapa pun memanggilku seperti itu.
“Hati-hati di jalan,” lanjutnya, dengan wajah yang merah padam, dan menutup jendela sebelum aku sempat menjawab.
Mobilnya pergi. Aku berdiri di trotoar, di depan Kafe Jeda, menatap lampu belakang mobilnya sampai hilang di belokan.
Lalu aku menoleh ke kaca kafe. Mas Jaka masih di sana, masih menangis, masih mengacungkan dua jempol.
Aku mengacungkan dua jempol balik.
Lalu aku berjalan ke stasiun MRT dengan payung di tangan, di bawah langit Jakarta yang baru saja berhenti hujan, dan aku tidak ingat apakah kakiku menyentuh trotoar sepanjang jalan.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya reading
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi