Chapter Thirty Four
Papa Tahu dari Awal
POV: Devan
Ruang kerja Hendra Saheila berbau kertas tua dan kayu cendana.
Aku belum pernah masuk ke sini. Tujuh minggu datang ke rumah ini setiap hari Minggu, makan rendang di ruang sidang, mencuci piring di dapur, membetulkan radio di kamar Oma, tapi aku tidak pernah melewati pintu kayu jati di ujung lorong lantai satu ini. Nabila bilang bahkan dia jarang masuk. Ruang kerja Papa itu kayak ruang kepala sekolah, katanya. Kalau dipanggil ke situ, berarti ada yang salah.
Jam delapan kurang dua menit, aku mengetuk.
“Masuk.”
Rak buku dari lantai sampai langit-langit, penuh dengan buku-buku bisnis, sejarah, dan beberapa novel silat tua yang punggungnya sudah retak. Meja kerja besar dari kayu gelap, dengan tumpukan map yang rapi dan satu cangkir teh yang masih mengepul. Jendela yang menghadap taman samping, di mana pohon mangga yang pernah menjadi saksi kamu cantik, nggak ada yang nonton, aku tahu bergoyang pelan kena angin pagi.
Papa Nabila duduk di balik meja. Kemeja putih, lengan digulung, kacamata baca di ujung hidung. Dia sedang membaca sesuatu. Dia tidak mengangkat wajahnya waktu aku masuk.
“Duduk.”
Aku duduk di kursi di depan mejanya. Kursinya rendah, lebih rendah dari kursinya. Aku curiga itu disengaja.
Dia terus membaca. Aku menunggu.
Satu menit. Dua menit. Aku mendengar bunyi jam dinding. Aku mendengar burung di pohon mangga. Aku mendengar jantungku sendiri.
Lalu dia meletakkan kertas yang dia baca, dan aku melihat apa itu.
Kontrak laminasi.
Dia meletakkannya di atas meja, di antara kami, menghadap ke arahku. Pasal empat dengan coretan spidol hitam yang bengkok di tengah.
Lalu dia melepas kacamata bacanya, melipatnya, dan menatapku.
“Kopi,” katanya.
Aku mengerjap. “Om?”
“Malam pertama. Nabila pesan kopi buat kamu. Gula dua.” Dia bersandar di kursinya. “Kamu minum tanpa berkedip. Tapi di tegukan pertama, ujung mata kamu berkerut. Sedikit. Orang yang biasa minum kopi manis nggak berkerut.”
Aku menatapnya. Aku tidak bisa bicara.
“Setelah makan malam, saya tanya kamu, kopinya kurang manis? Kamu bilang pas.” Sudut bibirnya bergerak. Sedikit. “Pacar setahun seharusnya tahu pacarnya minum kopi pakai gula atau nggak.”
Aku ingat malam itu. Aku ingat Papa Nabila berhenti di tangga dan menoleh. Kopinya kurang manis? Aku ingat berpikir itu cuma basa-basi.
“Om tahu,” kataku. Suaraku kering. “Dari malam pertama.”
“Saya curiga dari malam pertama.” Dia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya, meletakkannya lagi. “Saya tahu dari pagi harinya.”
“Pagi harinya?”
Papa Nabila menatap jendela. Ke pohon mangga.
“Hari itu ulang tahun pernikahan saya sama Mama Nabila,” katanya. “Ke-dua puluh enam. Saya nggak pernah lupa. Tapi saya selalu pura-pura lupa, supaya bisa kasih kejutan.” Dia berhenti. “Ada toko bunga di Kemang. Di sebelah sebuah kafe kecil. Mereka punya mawar putih yang paling bagus di Jakarta Selatan. Saya beli di situ tiap tahun, jam delapan pagi, sebelum ke kantor.”
Aku berhenti bernapas.
Toko bunga di sebelah Kafe Jeda. Yang punya ember-ember tulip di balik kacanya. Yang kuperhatikan malam kami mencoret pasal empat.
“Saya lagi nunggu mawarnya dibungkus,” lanjut Papa Nabila. “Saya lihat ke jendela kafe sebelah. Dan saya lihat anak saya. Duduk sendirian. Lagi telepon, lagi pegang cangkir. Kelihatan sedih.” Dia berhenti. “Saya hampir masuk. Saya mau tanya kenapa dia di situ, bukan di rumah, creambath sama tantenya. Tapi terus dia berdiri. Jalan ke meja di dekat jendela. Duduk di depan orang asing.”
Dia menatapku.
“Di depan kamu.”
Aku tidak tahu wajahku sedang seperti apa. Aku tahu tanganku mencengkeram lengan kursi.
“Saya lihat dia ngomong sesuatu,” kata Papa Nabila. “Cepat. Gugup. Tangannya gerak-gerak. Terus dia berhenti.” Dia mengambil cangkir tehnya lagi. Tidak meminumnya. Cuma memegangnya. “Terus kamu diam.”
Aku menelan ludah.
“Lama,” katanya. “Kamu diam lama sekali. Tangan kamu masih di atas keyboard. Nggak gerak. Mata kamu nggak kedip. Saya hitung.”
“Om... hitung?”
“Sepuluh detik.” Dia meletakkan cangkirnya. “Nabila juga hitung. Saya lihat bibirnya gerak. Dari kecil dia begitu kalau gugup. Tapi saya nggak lihat Nabila waktu itu. Saya lihat kamu.”
Dia bersandar lagi di kursinya. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Hendra Saheila tersenyum. Tidak cuma di sudut bibir. Tidak cuma kumis yang bergetar. Senyum yang utuh, yang membuat kerutan di ujung matanya dalam, yang membuatnya kelihatan sepuluh tahun lebih muda.
“Saya kenal wajah itu,” katanya.
“Wajah apa, Om?”
“Wajah orang yang lupa cara bernapas.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Dua puluh delapan tahun lalu,” kata Papa Nabila, “di acara pernikahan sepupu, saya lihat perempuan pakai kebaya ungu lewat di depan meja kue. Saya lupa cara bernapas. Saya lupa cara jalan. Saya nabrak meja kue tiga tingkat.” Dia tertawa pelan. Tawa yang rendah dan serak, seperti pintu tua yang jarang dibuka. “Mama Nabila pasti udah cerita ke kamu.”
“Waktu masak rendang,” kataku. Suaraku serak. “Tante bilang Om jadi pendiam karena malu seumur hidup.”
“Saya nggak malu. Saya cuma belajar diam. Soalnya waktu saya lupa napas, yang keluar dari mulut saya cuma kata-kata bodoh.” Dia menatapku. “Kamu lebih pintar. Kamu diam sepuluh detik, terus bilang satu kata.”
“Oke,“ bisikku.
“Oke.“ Dia mengangguk. “Saya nggak dengar. Tapi saya lihat bibir kamu. Dan saya lihat wajah anak saya waktu kamu bilang itu.”
“Kenapa Om nggak bilang apa-apa?” tanyaku akhirnya. “Tujuh minggu. Om tahu dari awal. Om lihat kami bohong setiap Minggu. Kenapa diam?”
Papa Nabila diam sebentar. Lalu dia menarik laci mejanya, mengeluarkan sesuatu, dan meletakkannya di atas kontrak laminasi.
Foto. Foto yang dicetak di kertas foto, sudah sedikit melengkung di ujungnya.
Foto dari Kota Tua. Nabila dengan dress kuning, menatapku, tersenyum. Foto yang membuat Sasa berteriak itu dia. Foto yang membuat Kenzo bertanya kok Kakak liatin dia kayak beneran.
“Tante Rini cetak satu buat dipajang,” kata Papa Nabila. “Saya minta satu lagi. Diam-diam.”
Aku menatap foto itu.
“Dua puluh empat tahun,” katanya pelan. “Dua puluh empat tahun saya lihat anak saya. Dia cantik, semua orang bilang. Semua orang lihat. Tapi dia nggak pernah senyum kayak gini.” Dia menyentuh sudut foto dengan ujung jari. “Dia selalu senyum sopan. Senyum anak Hendra Saheila. Senyum yang dijaga. Dia nggak pernah bawa siapa-siapa ke rumah. Nggak pernah cerita soal siapa-siapa. Saya pikir dia takut.”
“Takut apa, Om?”
“Takut orang deketin dia karena nama belakangnya.” Dia mengangkat wajahnya. “Perjodohan itu ide Harun. Saya setuju karena saya pikir, kalau dia nggak bisa milih sendiri karena takut, biar saya yang pilihin. Orang yang saya kenal. Orang yang nggak butuh nama Saheila.”
Dia menatap foto itu lagi.
“Terus kamu datang. Pakai kemeja kekecilan. Bilang kerja di IT, macem-macem. Minum kopi manis tanpa ngeluh. Nggak pakai nama perusahaan. Nggak ngomongin diri sendiri.” Dia menggeleng pelan. “Dan dalam satu minggu, anak saya senyum kayak di foto ini.”
“Jadi Om biarin.”
“Saya biarin. Saya mau lihat. Saya mau tahu, kalau anak saya dikasih kesempatan buat bahagia tanpa takut, apa yang terjadi.” Dia bersandar. “Yang terjadi adalah kamu masak rendang tujuh jam sama istri saya. Bikin kakak ipar saya menang golf. Nyelametin tabungan adik ipar saya. Ngajarin anak bungsu saya sampai juara. Benerin radio ibu saya.”
Dia berhenti. Menatapku lurus.
“Dan nyelametin perusahaan saya jam lima pagi, terus nggak mau bilang, karena nggak mau saya merasa berutang.”
Aku tidak bisa bicara. Ada sesuatu di tenggorokanku yang terlalu besar untuk ditelan.
Papa Nabila mengambil kontrak laminasi dari meja. Memegangnya dengan dua tangan. Membacanya, pelan, dari atas ke bawah.
“Pasal sembilan,” katanya. “Pihak Kedua dibayar dengan rendang.”
“...Iya, Om.”
“Kamu dibayar pakai rendang.”
“Rendang Tante, Om. Sambalnya enak. Saya pikir rendangnya pasti lebih enak.”
Dia menatapku di atas kontrak. Kumisnya bergetar. Lalu dia tertawa. Keras. Tawa yang meledak dari dadanya, membuat bahunya berguncang, membuat kacamata bacanya jatuh dari meja. Aku tidak pernah mendengar Hendra Saheila tertawa seperti itu. Aku curiga tidak banyak orang yang pernah.
“Rendang,” katanya di sela tawa. “Anak IT. CEO startup. Dibayar pakai rendang.”
Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku ikut tertawa. Pelan. Gugup.
Tawanya reda. Dia meletakkan kontrak itu di meja, mengusap sudut matanya dengan ujung jari, lalu menatapku dengan wajah yang tiba-tiba serius lagi.
“Devan.”
“Iya, Om.”
“Sekarang,” katanya. “Masih bohongan?”
Aku menatapnya. Aku menatap kontrak laminasi dengan pasal empat yang dicoret. Aku menatap foto dari Kota Tua, dengan Nabila yang tersenyum dan aku yang menatapnya.
Lalu aku menjawab.
“Sudah lama nggak, Om.”
Dia menunggu.
“Mungkin nggak pernah,” lanjutku. “Dari detik pertama, dari sisi saya, nggak pernah bohongan. Yang bohongan cuma ceritanya. Setahun. Seminar di Senayan. Tanggal empat belas Oktober. Itu semua bohong. Tapi yang saya bilang ke Tante Rini, ke Tante Ratna, ke Om, ke Oma, soal Nabila, soal yang saya rasain, itu nggak pernah bohong.”
Aku menarik napas.
“Om boleh marah sama saya,” kataku. “Om boleh nggak percaya sama saya. Om boleh nyuruh saya buktiin diri seribu kali. Saya bakal buktiin. Tapi jangan suruh saya berhenti.” Suaraku pecah. Aku tidak peduli. “Saya udah nggak bisa akting nggak sayang, Om.”
Papa Nabila diam lama.
Dia menatapku. Aku menatapnya balik. Burung di pohon mangga berhenti berkicau. Jam dinding terus berdetak.
Lalu dia berdiri. Berjalan memutari mejanya. Berhenti di depan kursiku.
Aku berdiri juga, refleks. Kakiku sedikit gemetar.
Dia mengulurkan tangannya. Seperti malam pertama. Jabat tangan yang bisa membuat direktur keuangan mengaku soal laporan palsu.
Aku menjabatnya.
Dia menggenggam tanganku. Lama. Lebih lama dari malam pertama. Dan kali ini, aku tidak berusaha melepasnya di saat yang tepat. Aku membiarkannya selama yang dia mau.
“Saya nggak marah,” katanya. “Saya nggak pernah marah.”
“Tapi Om nyuruh saya pulang. Kamis malam.”
“Karena yang lain marah. Istri saya. Adik ipar saya. Kakak ipar saya. Mereka butuh waktu.” Dia melepaskan tanganku, tapi tidak melangkah mundur. “Mereka bukan marah karena kalian bohong soal setahun. Mereka marah karena alasan lain. Nanti kamu tahu.”
“Alasan apa, Om?”
“Itu urusan kamu sama Nabila. Bukan urusan saya.” Dia menepuk bahuku. Dua kali. “Urusan saya udah selesai.”
“Udah... selesai?”
Dia menatapku. Lama. Lalu dia mengatakan satu kalimat, dan kalimat itu lebih dari tujuh kata, yang menurut Nabila adalah sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi.
“Saya sudah restuin kamu dari pagi itu, waktu saya berdiri di toko bunga dan lihat kamu lupa cara napas.”
Aku keluar dari ruang kerja itu dengan kaki yang tidak terasa seperti kakiku sendiri.
Aku menutup pintu kayu jati di belakangku. Dan di lorong lantai satu, bersandar di dinding di sebelah pintu, dengan dress biru muda dan rambut digerai dan wajah yang pucat karena tidak tidur semalaman, berdiri Nabila.
Dia menunggu. Sejak jam delapan kurang dua menit. Aku tahu, karena aku melihatnya di ujung lorong waktu aku masuk tadi, pura-pura mengambil sesuatu di rak sepatu.
Dia menatapku. Matanya lebar. Bibirnya digigit di sudut.
“Gimana?” bisiknya.
Aku menatapnya. Di lorong yang redup, dengan cahaya pagi yang masuk dari jendela di ujung, dengan rambut yang sedikit kusut dan mata yang merah karena kurang tidur, dia kelihatan seperti orang yang sudah menunggu seratus tahun.
Dan dia cantik. Cantik dengan cara yang membuatku lupa bahwa aku baru saja keluar dari ruangan paling menakutkan di rumah ini.
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku berjalan ke arahnya. Tiga langkah. Mengangkat kedua tanganku ke wajahnya. Dan menciumnya.
Di lorong. Di depan pintu ruang kerja Papanya. Lambat. Dalam. Seperti di atap. Seperti orang yang baru saja diberi izin untuk sesuatu yang sudah terlalu lama dia inginkan.
Dia membeku sebentar. Lalu tangannya naik, mencengkeram kerah kemejaku, dan dia menciumku balik, dan lorong itu hilang, dan pintu ruang kerja itu hilang, dan rumah itu hilang, dan yang tersisa cuma dia, dan bibirnya, dan jarinya di kerahku, dan jantungku yang berdetak begitu keras sampai aku yakin dia bisa merasakannya lewat kemejaku.
Lalu, dari balik pintu kayu jati di sebelah kami:
“Ehem.”
Kami tidak berhenti.
“Ehem.”
Kami masih tidak berhenti. Nabila tertawa kecil di bibirku.
“Ehem.“
Tiga kali.
Kami berpisah. Terengah. Dahi masih menempel. Nabila menatapku dengan mata yang berkilat-kilat, dengan pipi yang merah sampai ke telinga, dengan senyum yang begitu lebar sampai lesung di pipi kanannya kelihatan jelas.
Dari balik pintu, suara Papa Nabila terdengar. Datar. Tenang. Dengan sesuatu di ujungnya yang terdengar sangat, sangat seperti tawa yang ditahan.
“Pintu saya tipis.”
Nabila menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa tanpa suara sampai bahunya berguncang.
Aku menatap pintu kayu jati itu. Pintu yang sama sekali tidak tipis. Pintu jati setebal lima senti.
Lalu aku menarik Nabila menjauh dari pintu itu, ke ujung lorong, ke dekat jendela. Dia masih tertawa. Aku masih memegang tangannya.
“Papa bilang apa?” bisiknya, setelah tawanya reda. “Beneran. Papa bilang apa?”
Aku menatapnya. Aku memikirkan toko bunga di sebelah Kafe Jeda. Mawar putih. Sepuluh detik yang dihitung oleh seorang ayah dari balik kaca jendela. Wajah orang yang lupa cara bernapas.
Papa Nabila tidak memintaku merahasiakannya. Tapi aku tahu, entah bagaimana, bahwa cerita itu bukan milikku untuk diceritakan. Itu milik Papa Nabila. Dan suatu hari, dia akan menceritakannya sendiri. Mungkin di pernikahan kami. Mungkin di ulang tahun pernikahan mereka yang ke-dua puluh tujuh.
Dan sepuluh detik itu, versi yang dari sisiku, masih milikku. Hutang terakhir yang belum kubayar.
“Papa kamu bilang,” kataku, “dia nggak pernah marah.”
Nabila menatapku. “Nggak pernah?”
“Nggak pernah.”
“Terus yang Kamis malam...”
“Yang Kamis malam buat yang lain. Mereka yang marah. Dan kata Papa kamu, mereka nggak marah karena kita bohong soal setahun.”
“Terus karena apa?”
“Papa kamu nggak mau bilang. Katanya itu urusan kita.”
Nabila menatapku lama. Lalu menatap ke ujung lorong, ke arah dapur, di mana aku bisa mendengar bunyi wajan dan suara Mama Nabila bersenandung. Senandung yang pelan dan agak sumbang.
“Mama bilang hal yang sama,” bisik Nabila. “Semalam. Waktu masak rendang. Mama masih marah, tapi bukan karena yang kamu kira.“
Kami saling menatap.
“Kita harus kumpulin semua orang,” kataku.
“Hari Minggu,” kata Nabila. “Sidang keluarga.”
“Sidang keluarga.”
Dia menggigit bibirnya. Lalu dia berjinjit dan mencium pipiku, cepat.
“Aku cinta kamu,” bisiknya. “Makasih udah nggak lari dari ruang kepala sekolah.”
“Aku hampir lari.”
“Tapi nggak.”
“Nggak.” Aku menyelipkan rambutnya ke belakang telinga kiri. “Istriku Cantik.”
Dia tidak protes. Untuk pertama kalinya, dia tidak bilang belum. Dia cuma menatapku, dengan pipi merah dan telinga merah dan mata yang basah, dan tersenyum.
Dari dapur, suara wajan berhenti. Lalu suara Mama Nabila, keras dan jelas:
“Nabila! Bawa pacarmu ke sini! Rendangnya kurang garam lagi!”
Nabila dan aku saling menatap.
Mama Nabila menyebutku pacarmu. Bukan Nak Devan. Belum.
Tapi dia menyebutku.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal reading
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi