Chapter Five
Margin, Katanya
POV: Devan
Ada satu masalah besar malam itu, dan masalahnya bukan Gerald.
Masalahnya adalah perempuan yang duduk di sebelah kiriku.
Aku sudah berusaha keras untuk fokus. Aku sudah menghafal peta keluarga Saheila, menahan rasa kopi manis yang membuat gigiku ngilu, dan menjaga agar kemeja pinjaman ini tidak meledak di bagian bahu. Semua itu bisa kutangani. Yang tidak bisa kutangani adalah kenyataan bahwa setiap kali aku menoleh ke kiri, sedikit saja, ada Nabila di sana.
Dengan gaun merah marun itu.
Warnanya dalam, seperti anggur yang dituang di bawah lampu. Lengannya yang pendek sedikit mengembang di bahu, membuat lehernya kelihatan panjang dan anggun. Sanggulnya yang longgar mulai turun sedikit sejak kami masuk, dan ada dua helai rambut yang sekarang jatuh di dekat telinganya, bergerak setiap kali dia menoleh. Anting tetesan airnya berayun. Dan waktu Tante Rini bertanya soal apa yang aku suka darinya, pipinya memerah sampai ke telinga, merah yang hampir sama dengan warna gaunnya, dan aku harus menatap Tante Rini dengan sangat serius supaya aku tidak menatap Nabila dan lupa di mana aku berada.
Aku tahu ini berlebihan. Aku CEO yang sedang duduk di depan calon klien terbesar dalam hidupku, dengan kemeja yang bisa robek kapan saja, dan yang ada di kepalaku adalah betapa cantiknya perempuan yang sedang pura-pura jadi pacarku.
Tapi begitulah kenyataannya.
Jadi waktu Gerald menantangku, aku sebenarnya berterima kasih. Setidaknya sekarang aku punya sesuatu untuk dipikirkan selain pipi Nabila.
“Silakan,” kata Gerald, dengan senyum yang sangat rapi. “Tanya apa aja.”
Aku mengangguk. “Kawasannya di Cikarang sebelah mana, Mas?”
“Dekat pintu tol Cikarang Timur. Luasnya delapan puluh hektare. Tiga puluh persen hunian, sisanya komersial. Kami menargetkan tenant ritel dan gudang e-commerce.” Gerald jelas senang ditanya. Dia mulai bicara lebih cepat, dengan tangan yang menggambar denah di udara. “Proyeksi margin kami di atas rata-rata industri, karena harga tanahnya kami beli sebelum ada rencana tol baru. Jadi dari sisi biaya lahan, kami sangat efisien.”
“Keren,” kataku, dan aku bersungguh-sungguh. Membeli tanah sebelum tol dibangun itu langkah yang cerdas. “Pertanyaan pertama, Mas. Tenant e-commerce yang Mas targetkan itu biasanya kirim barang ke mana?”
“Ke seluruh Jabodetabek.”
“Jam berapa truknya keluar-masuk?”
Gerald berhenti sebentar. “Biasanya... pagi dan sore, saya kira.”
“Di kawasan itu ada aturan jam operasional truk nggak, Mas? Karena setahu saya, beberapa kawasan hunian baru di Bekasi mulai membatasi truk besar di jam-jam tertentu. Penghuni biasanya protes soal bising dan macet.”
Gerald membuka mulut. Menutupnya. Lalu melirik ayahnya.
Pak Harun, yang dari tadi menyimak sambil makan, sekarang sudah berhenti makan.
“Pertanyaan kedua,” lanjutku, dengan suara yang kujaga tetap santai. Aku tidak mau ini terdengar seperti interogasi. “Jalur servis untuk truk sama jalur keluar-masuk penghuni, sudah dipisah?”
“Kami...” Gerald berdeham. “Rencana awalnya satu gerbang utama, supaya kelihatan eksklusif.”
“Oke.” Aku mengangguk pelan. “Pertanyaan terakhir. Kalau tenant gudang e-commerce di kawasan itu harus kirim barang ke Jakarta Selatan, misalnya, dengan satu gerbang yang dipakai bareng penghuni, dan jam operasional truk yang mungkin dibatasi nanti, kira-kira mereka masih mau sewa di sana, atau mereka pindah ke kawasan pergudangan murni yang aksesnya lebih bebas?”
Ruang makan hening.
Hening yang lain dari hening tadi. Bukan hening kaget. Hening berpikir.
Gerald menatapku. Lalu menatap piringnya. Aku bisa melihat roda-roda di kepalanya berputar, persis seperti Bimo tadi siang di anak tangga. Dan di wajahnya, pelan-pelan, aku melihat sesuatu berubah. Bukan marah. Bukan malu. Lebih seperti orang yang baru sadar ada lubang di kapalnya dan sedang menghitung seberapa dalam.
“Kalau tenant-nya pindah,” kata Gerald pelan, “tingkat hunian komersial turun. Kalau tingkat hunian turun...”
“Marginnya,” kata Pak Harun dari kepala meja, dengan suara berat.
“Marginnya cuma bagus di atas kertas,” kata Gerald. Dia menghela napas. “Ya ampun.”
Aku buru-buru mengangkat tangan. Pelan-pelan. Kemeja ini tidak boleh robek sekarang.
“Tapi itu gampang diatasi, Mas,” kataku. “Serius. Konsep kawasannya bagus. Lokasinya juga bagus. Tinggal ditambah satu gerbang servis di sisi belakang yang langsung ke jalan arteri, jadi truk nggak lewat depan hunian. Terus di dalam kawasan dibikin satu titik bongkar muat kecil, semacam hub mini. Barang dari truk besar dipindah ke kendaraan kecil di situ, jadi yang lalu-lalang di dalam kawasan cuma mobil boks kecil. Penghuni tenang, tenant juga senang karena aksesnya bebas dua puluh empat jam.”
Aku menggambar denah sederhana di atas serbet dengan ujung garpu, tanpa tinta, cuma bekas tekanan. Gerald mencondongkan badan untuk melihat. Lalu Pak Harun juga. Lalu, yang membuatku hampir tersedak kopi manis, Papa Nabila meletakkan pisau dan garpunya, menopang dagu dengan satu tangan, dan memperhatikan serbet itu.
“Dan kalau gerbang servis itu jadi,” lanjutku, “Mas bisa jual kawasan ini ke tenant sebagai kawasan komersial yang ramah logistik. Itu nilai jual. Di Bekasi dan Cikarang, sekarang banyak gudang yang pusing karena aksesnya diganggu warga. Kawasan Mas bisa jadi jawabannya. Menurut saya, marginnya malah bisa lebih bagus dari proyeksi awal.”
Gerald menatap serbet itu lama sekali.
Lalu dia mengeluarkan HP-nya dan memotret serbet itu, yang sebenarnya cuma serbet dengan bekas garis-garis samar.
“Boleh saya foto?” katanya, padahal dia sudah memotretnya.
“Silakan, Mas.”
“Ini...” Gerald menatapku dengan ekspresi yang aneh. Ekspresi yang sama sekali tidak seperti saingan. Lebih seperti orang yang baru menemukan teman diskusi. “Ini bagus sekali. Kenapa konsultan kami nggak ada yang kepikiran?”
“Mungkin kepikiran, Mas, tapi belum sempat bilang.” Aku tersenyum. “Saya cuma kebetulan pernah baca soal masalah akses gudang di Bekasi. Di artikel. Waktu nunggu antrean dokter gigi.”
Itu bohong. Aku tahu soal itu karena tiga klien Lintas di Bekasi mengeluhkan masalah yang sama bulan lalu, dan aku menghabiskan dua minggu menghitung ulang rute mereka. Tapi aku sudah memutuskan: malam ini bukan tentang aku.
Pak Harun tertawa, suara tawa berat yang membuat meja bergetar sedikit. “Dokter gigi! Ha! Saya harus lebih sering ke dokter gigi rupanya.” Dia menunjuk Gerald dengan garpunya. “Ger, besok kamu panggil tim desain. Gerbang servis. Hub mini. Catat.”
“Sudah, Pa.” Gerald mengetik di HP-nya dengan cepat, lalu mengangkat wajah ke arahku. “Devan, nanti setelah makan, boleh saya minta nomor kamu? Saya mau diskusi lebih lanjut.”
“Boleh, Mas.”
“Kamu punya kartu nama?”
“Nggak bawa, Mas.”
Itu tidak sepenuhnya bohong. Kartu namaku memang tertinggal di kemeja abu-abu yang bernoda kopi.
Di sebelahku, aku merasakan Nabila bergerak. Aku menoleh, dan dia sedang menatapku. Matanya lebar, bibirnya sedikit terbuka, dan ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat sejak tadi pagi. Bukan panik. Bukan gugup.
Kagum.
Aku tidak siap untuk itu. Aku langsung berpaling dan meminum kopi manis sampai tersisa ampasnya.
“Devan.”
Suara itu datang dari kepala meja.
Semua orang langsung diam. Bahkan Tante Rini, yang tadi mulai membisikkan sesuatu ke telinga Bu Sinta, berhenti di tengah bisikan. Aku belajar sesuatu tentang keluarga ini dalam satu detik itu: kalau Hendra Saheila bicara, seluruh ruangan berhenti bernapas.
“Iya, Om.”
Papa Nabila menatapku dari ujung meja. Tatapannya tenang. Tidak ramah, tidak galak. Hanya tenang, dengan cara yang membuatku merasa seperti sedang dibaca dari dalam.
“Kamu bilang kamu kerja di IT,” katanya.
“Iya, Om.”
“IT di mana?”
Aku merasakan Nabila menegang di sebelahku. Di bawah meja, ujung sepatu haknya menyentuh ujung sepatuku, pelan, seperti isyarat.
“Perusahaan kecil, Om,” kataku. “Di Tebet. Kami bikin perangkat lunak.”
“Perangkat lunak apa?”
“Macem-macem, Om.”
Kaki Nabila menginjak kakiku. Keras.
Aku tidak bereaksi. Wajahku tetap tenang. Tapi di dalam hati aku mencatat bahwa hak sepatu Nabila itu runcing dan bahwa sepatu ketsku yang talinya disambung simpul mati tidak dirancang untuk menahan serangan seperti itu.
Papa Nabila menatapku beberapa detik lagi. Lalu, yang mengejutkanku, sudut bibirnya bergerak. Sangat sedikit. Kalau aku tidak sedang menatapnya dengan sangat fokus, aku tidak akan melihatnya.
“Macem-macem,” ulangnya.
“Iya, Om.”
Beliau mengangguk sekali, lalu kembali memotong dagingnya.
Itu saja. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada interogasi. Dan entah kenapa, itu justru lebih menakutkan daripada interogasi.
Om Bram, yang dari tadi diam sejak aku menyetujuinya soal AI, tiba-tiba mencondongkan badan. “Tapi tadi itu,” katanya, menunjuk serbet dengan kacang di tangannya, “yang kamu gambar tadi. Itu pakai AI?”
“Nggak, Om. Itu pakai logika.”
“Nah!” Om Bram menepuk meja. “Nah! Logika! Itu yang saya bilang. Nggak perlu AI-AI segala. Pakai otak!”
“Betul, Om. Tapi kalau kawasannya udah jadi, dan truknya ada seratus, dan tokonya ada seribu, dan setiap hari jalanannya macet di titik yang beda-beda, otak manusia bakal capek ngitungnya. Di situ AI bantu. Kayak caddy di lapangan golf, Om. Yang mukul tetap Om. Tapi caddy yang bantu baca angin, jarak, sama kemiringan rumput.”
Om Bram membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
“Kamu main golf?” tanyanya.
“Sangat jelek, Om.”
“Hm.” Om Bram menyipitkan mata. “Caddy, ya.”
“Caddy, Om.”
“Hm,” katanya lagi, dan kembali ke kacangnya. Tapi kali ini dia tidak menggerutu. Dia mengunyah sambil menatap langit-langit, seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak mau dia akui.
Tante Rini menepuk lengan suaminya. “Tuh kan, Mas. Anaknya pinter.”
“Saya nggak bilang dia bodoh.”
“Tadi Mas bilang AI gaya-gayaan.”
“AI-nya yang gaya-gayaan. Anaknya nggak.”
Kenzo, dari ujung meja, mengetik sesuatu di HP-nya lagi. Aku bertanya-tanya apa yang dia catat. Bukti nomor sekian: Kak Devan menjinakkan Om Bram dalam dua menit.
Sebelum makanan penutup, aku izin ke kamar mandi. Bukan karena perlu, tapi karena aku butuh dua menit untuk bernapas tanpa ditatap dua belas pasang mata.
Aku baru saja keluar dari kamar mandi tamu waktu seseorang berdiri di ujung lorong, bersandar di dinding dengan tangan terlipat.
Kenzo.
“Kak Devan,” katanya.
“Kenzo.”
“Aku mau nanya satu hal.”
“Silakan.”
Dia menyipitkan mata. “Kakak pernah dengar podcast Jejak Gelap?”
“Belum.”
“Di episode empat puluh dua, ada psikolog forensik yang bilang, pembohong itu biasanya jawab dengan detail yang berlebihan. Soalnya mereka takut nggak dipercaya.” Dia mengangkat dagu. “Tanggal empat belas Oktober. Hari Sabtu. Jam empat sore. Meja nomor tujuh. Hujan. Itu detail yang berlebihan, Kak.”
Aku menatapnya. Anak ini tujuh belas tahun, pakai kaus podcast kriminal, dan dia baru saja menemukan celah yang tidak kuperhitungkan. Aku terkesan. Sungguh.
“Masuk akal,” kataku.
“Jadi Kakak ngaku?”
“Ngaku apa?”
“Bohong.”
“Kalau aku jawab dengan detail, kamu bilang aku bohong. Kalau aku jawab nggak detail, kamu bakal bilang aku nggak serius sama kakak kamu. Jadi apa pun jawabanku, kamu menang.” Aku tersenyum. “Itu jebakan yang bagus. Siapa yang ngajarin?”
Kenzo membuka mulut, lalu menutupnya. Telinganya memerah sedikit. Jelas dia tidak menyangka akan dipuji.
“Episode lima puluh satu,” gumamnya.
“Kamu dengerin semua episodenya?”
“Dua kali. Sambil ngoding.”
“Ngoding apa?”
“Aplikasi buat lomba sekolah. Tapi macet.” Dia langsung menutup mulut, seperti menyesal sudah bercerita. “Itu nggak ada hubungannya sama bukti.”
“Oke.” Aku berjalan melewatinya. Di ujung lorong, aku berhenti. “Kenzo. Kalau aplikasinya macet, bilang aja. Aku nggak ngerti podcast, tapi aku ngerti kode yang macet.”
Dia menatapku dengan curiga. Lalu dengan sedikit kurang curiga. Lalu dia mengeluarkan HP-nya dan mengetik sesuatu, dan aku tidak tahu apakah itu bukti baru atau catatan untuk dirinya sendiri.
Waktu aku kembali ke ruang makan, Nabila sedang tertawa bersama Mama soal sesuatu. Kepalanya sedikit mendongak, matanya menyipit, dan lesung kecil itu muncul di pipi kanannya. Aku berhenti di ambang pintu satu detik terlalu lama, sampai Tante Rini menoleh dan tersenyum penuh arti. Aku buru-buru duduk.
Makanan penutup datang. Puding cokelat dengan saus vanila, yang menurut Mama adalah resep turun-temurun dari neneknya. Aku memuji pudingnya, dan kali ini Mama tidak sampai berdiri, tapi aku melihat beliau mencatat sesuatu di HP-nya. Belakangan aku tahu itu catatan berjudul Makanan Kesukaan Nak Devan.
Di tengah makan puding, Tante Rini kembali menyerang.
“Devan,” katanya dengan senyum yang terlalu manis. “Tante masih penasaran. Jadi yang naksir duluan siapa? Kamu atau Nabila?”
Aku merasakan Nabila berhenti menyendok.
Kami sudah menyusun jawabannya tadi siang. Aku yang nembak. Aku yang mengejar. Papa akan lebih percaya kalau cowoknya yang mengejar. Aku tinggal bilang saya, lalu cerita sedikit soal seminar pemasaran digital di Senayan.
Tapi waktu aku membuka mulut, yang keluar bukan itu.
“Saya, Tante,” kataku. “Saya jatuh cinta di detik pertama. Sisanya cuma nunggu dia sadar.”
Hening lagi. Tante Rini meleleh di kursinya. Mama memegang lengan Bu Sinta. Kenzo berhenti mengetik.
Di bawah meja, hak sepatu Nabila menginjak kakiku untuk kedua kalinya malam itu.
Lebih keras dari yang pertama.
Aku tersenyum. Bukan senyum sopan. Senyum yang lebar, yang tidak bisa kutahan, karena rasa sakit di kakiku sama sekali tidak ada artinya dibandingkan kenyataan bahwa kalimat tadi adalah kalimat paling jujur yang pernah kuucapkan di depan orang banyak, dan tidak ada satu pun di meja ini yang tahu.
“Kenapa senyum-senyum?” bisik Nabila, sangat pelan, dengan bibir yang nyaris tidak bergerak.
“Kaki aku sakit,” bisikku balik.
“Terus kenapa senyum?”
“Karena kamu yang nginjek.”
Dia menoleh padaku dengan wajah yang semerah gaunnya. Mulutnya terbuka, siap membalas, tapi tidak ada suara yang keluar.
Lalu, di kepala meja, Papa Nabila berdeham.
Satu kali.
Nabila langsung menegakkan punggung dan menyendok puding dengan kecepatan penuh. Aku ikut menegakkan punggung. Kemejaku berbunyi kreeek untuk ketiga kalinya malam itu.
Tidak ada yang mengomentari. Tapi dari sudut mataku, aku melihat Papa Nabila menatap bahuku sebentar, lalu menunduk ke pudingnya.
Dan aku bersumpah, bersumpah demi semua server yang pernah kuurus, beliau sedang menahan senyum.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya reading
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi