Chapter Fourteen

Pasal Empat

POV: Devan

Nabila menelepon hari Kamis jam sembilan malam, dan suaranya kecil.

Aku belum pernah mendengar suaranya seperti itu. Aku pernah mendengarnya gugup, panik, marah, malu, dan tertawa sampai terengah. Tapi tidak pernah kecil. Tidak pernah seperti suara orang yang sedang berusaha keras untuk tidak menangis dan hampir gagal.

“Kamu sibuk?” tanyanya.

Aku sedang di kantor, di depan tiga layar yang menampilkan grafik server. Bimo sedang tidur di sofa bekas dengan mulut terbuka. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat tiga.

“Nggak,” kataku.

“Bohong. Kamu pasti sibuk.”

“Nggak sibuk buat kamu.”

Hening sebentar di ujung sana. Lalu suara napas yang ditarik dalam-dalam.

“Aku dipermalukan hari ini,” katanya.


Ceritanya keluar pelan-pelan, sepotong-sepotong, seperti orang yang menarik benang kusut.

Kampanye yang dia pegang selama tiga bulan, sebuah kampanye digital untuk produk minuman sereal dari anak usaha Saheila Group, dievaluasi hari ini di rapat direksi. Data yang ditampilkan di layar menunjukkan angka yang buruk: biaya iklan tinggi, penjualan datar, konversi rendah. Direktur pemasarannya, seorang pria bernama Pak Gunawan yang sudah bekerja di perusahaan itu sejak Nabila masih SD, menatap grafik itu lama, lalu berkata di depan dua belas orang:

Kalau ini bukan anak Pak Hendra, kampanye ini sudah dihentikan bulan lalu.

Lalu dia memberi Nabila waktu sampai hari Senin untuk “menjelaskan” angka-angka itu, atau kampanyenya dihentikan dan anggarannya dialihkan ke tim lain.

“Semua orang diam,” kata Nabila. “Nggak ada yang belain aku. Nggak ada yang bilang itu nggak adil. Mereka semua cuma lihat meja. Kayak mereka juga mikir hal yang sama.”

“Kamu mikir angkanya beneran jelek?”

“Aku nggak tahu.” Suaranya pecah sedikit. “Itu masalahnya. Aku nggak tahu. Aku lihat angkanya dan aku nggak ngerti kenapa jelek. Aku ngerasa kampanyenya bagus. Komentar orang-orang bagus. Tim penjualan di lapangan bilang produknya laku. Tapi di layar, angkanya jelek. Dan aku nggak bisa jelasin kenapa. Mungkin Pak Gunawan bener. Mungkin aku memang cuma anak bos.”

Aku sudah mengambil kunci motor dari laci sebelum dia selesai bicara.

“Kamu di mana?”

“Di rumah. Di kamar.”

“Laptop kamu ada datanya?”

“Ada. Kenapa?”

“Kafe Jeda buka sampai jam sebelas. Setengah jam lagi aku di sana. Bawa laptop kamu.”

“Devan, kamu nggak perlu...”

“Bawa charger juga. Kita bakal lama.”


Aku tidak menyelesaikan masalahnya untuk dia.

Itu keputusan yang kuambil di atas motor, di tengah jalan Kemang yang masih ramai jam setengah sepuluh malam. Aku bisa saja membuka datanya, menemukan masalahnya dalam setengah jam, dan menuliskan jawabannya di selembar kertas. Aku pernah melakukan itu untuk puluhan klien. Itu yang biasa kulakukan.

Tapi kalau aku melakukan itu, hari Senin dia akan berdiri di depan Pak Gunawan membawa jawaban orang lain. Dan dia akan tahu itu. Dan suara kecil di telepon tadi tidak akan pernah benar-benar hilang.

Jadi aku duduk di meja nomor tujuh, di depannya, dan aku bertanya.

“Kampanyenya jalan di platform apa aja?”

“Tiga. Instagram, TikTok, sama iklan di mesin pencari.”

“Angka konversi di layar tadi dari mana?”

“Dari laporan agensi.”

“Laporan agensi ngambil data dari mana?”

Dia berhenti. Berpikir. Membuka laptop. “Dari... ketiga platform itu. Digabung.”

“Gimana cara gabungnya?”

“Dijumlahin.”

“Oke. Kalau ada satu orang lihat iklan kamu di Instagram, terus lihat lagi di TikTok, terus googling nama produknya dan klik iklan di mesin pencari, terus beli. Itu dihitung berapa kali?”

Dia menatapku. Aku melihat roda-roda di kepalanya mulai berputar.

“Tiga kali?” katanya pelan. “Tiga platform. Masing-masing ngaku dia yang bikin orang itu beli.”

“Terus biayanya?”

“Tiga kali juga.” Matanya melebar. “Biayanya dihitung tiga kali. Jadi biaya per penjualan kelihatan tiga kali lebih mahal dari yang sebenarnya.”

“Mungkin. Coba cek.”

Dia mengecek. Aku menunggu. Mas Jaka membawakan dua gelas cokelat panas tanpa diminta, dengan latte art yang kali ini berbentuk gumpalan tanpa bentuk yang bahkan dia sendiri tidak berani sebut apa-apa. Dia menaruhnya di meja dan pergi diam-diam, seperti perawat di ruang operasi.

Setengah jam kemudian, Nabila mengangkat wajah dari laptop.

“Nggak tiga kali,” katanya. “Dua koma empat kali. Rata-rata. Ada yang dobel, ada yang tripel.”

“Jadi?”

“Jadi biaya per penjualan aku bukan dua ratus ribu. Delapan puluhan ribu.” Suaranya naik sedikit. “Itu... itu di bawah target.”

“Bagus. Pertanyaan berikutnya.”

“Masih ada?”

“Penjualan kamu datar di data agensi. Tapi kata tim lapangan, produknya laku. Kenapa beda?”


Kafe Jeda tutup jam sebelas. Mas Jaka mengusir kami dengan sangat sopan dan sangat menyesal, sambil membungkuskan dua croissant sisa untuk kami bawa.

Kami pindah ke restoran cepat saji dua puluh empat jam di dekat situ. Meja plastik, lampu putih yang terlalu terang, dan seorang petugas kebersihan yang mengepel lantai di sekitar kami setiap setengah jam. Nabila membuka laptopnya lagi, dan aku terus bertanya.

Jam dua belas, dia menemukan bahwa data penjualan yang dipakai agensi cuma dari toko daring resmi, dan tidak mencakup penjualan di minimarket dan pasar tradisional, di mana tim lapangan bilang produknya laku.

Jam satu, dia menelepon kepala tim penjualan lapangan, yang ternyata masih bangun karena sedang menonton sepak bola, dan meminta data penjualan per wilayah.

Jam dua, dia menemukan polanya.

“Devan.” Dia memutar laptopnya ke arahku. Matanya berbinar-binar, dengan lingkaran hitam samar di bawahnya. “Lihat. Penjualan di Jakarta datar. Tapi di kota-kota kecil, di Tasikmalaya, di Purwokerto, di Madiun, penjualannya naik empat puluh persen sejak kampanye jalan. Dan kalau aku cek data iklannya, penontonnya paling banyak ibu-ibu muda di kota-kota itu. Umur dua puluh lima sampai tiga puluh lima. Yang nonton konten resep sarapan cepat buat anak sekolah.”

“Terus?”

“Terus kampanyenya berhasil! Cuma bukan di tempat yang kami kira! Kami ngukur di Jakarta, padahal yang beli di kota kecil!” Dia hampir berdiri dari kursinya. “Kampanyenya nggak gagal. Kami yang salah ngukur!”

Aku menatapnya.

Jam dua pagi. Di restoran cepat saji yang lampunya terlalu terang, dengan petugas kebersihan yang mengepel di belakangnya. Rambutnya sudah dicepol asal dengan sebuah pulpen yang ditusukkan menembus cepolannya karena ikat rambutnya hilang entah di mana. Ada noda saus tomat kecil di lengan kausnya. Matanya merah karena menatap layar selama lima jam, dengan lingkaran gelap samar di bawahnya.

Dan dia sedang tersenyum. Senyum lebar, senyum menang, senyum seseorang yang baru membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia bukan cuma anak bos.

Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih cantik. Tidak gaun merah marun. Tidak dress biru muda. Tidak kemeja putihku yang kebesaran di badannya. Tidak ada yang lebih cantik dari perempuan ini, jam dua pagi, dengan pulpen di rambut dan saus tomat di lengan, yang baru saja menemukan jawabannya sendiri.

“Devan?” katanya. “Kamu dengar?”

“Dengar.”

“Kok diem?”

Aku melepas kacamataku.

Aku tidak merencanakannya. Mataku perih setelah lima jam menatap layar, dan tanganku bergerak sendiri untuk memijat pangkal hidung. Aku melepas kacamata, memejamkan mata, memijat, lalu membuka mata lagi.

Tanpa kacamata, dunia di sekitarku sedikit buram di tepinya. Tapi dia duduk cukup dekat untuk tetap jelas.

Dan dia sedang menatapku dengan wajah yang tiba-tiba berubah.

Senyumnya hilang. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya melebar, dan dia menatapku seperti baru pertama kali melihatku.

“Pakai lagi,” katanya.

“Hm?”

“Kacamatanya. Pakai lagi.”

“Kenapa?”

“Pokoknya pakai lagi.”

“Mataku capek. Aku mau istirahat sebentar.”

“Istirahatnya sambil pakai kacamata aja.”

“Itu bukan cara kerja istirahat.”

“Devan.” Suaranya naik satu oktaf. Dia mengalihkan pandangan ke laptop, ke jendela, ke petugas kebersihan, ke mana pun kecuali ke wajahku. Telinganya merah. Pipinya merah. Lehernya merah. “Pakai. Lagi.”

Aku menatapnya. Pelan-pelan aku mengerti.

Dan aku merasakan sesuatu yang sangat, sangat berbahaya: dorongan untuk tidak memakai kacamataku lagi. Untuk mencondongkan badan sedikit ke depan. Untuk melihat seberapa merah wajahnya bisa jadi.

Aku memakai kacamataku lagi.

Dia menghembuskan napas panjang, seperti orang yang baru selamat dari sesuatu.

“Kenapa?” tanyaku, pelan.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Nabila.”

“Kamu kelihatan beda,” katanya ke arah laptop, cepat dan pelan. “Tanpa kacamata. Kayak orang lain. Kayak... udah. Nggak usah dibahas.”

Aku tidak membahasnya.

Tapi aku mencatatnya. Di kepalaku, di bawah catatan soal sedotan dan lesung pipi kanan dan telinga merah dan senandung yang tidak kukenal, aku menambahkan satu baris baru: Jangan lepas kacamata di depan dia, kecuali kamu siap dengan akibatnya.

Dan di bawahnya, lebih kecil: Kamu belum siap.


Aku mengantarnya pulang jam tiga pagi. Dia menyetir mobilnya sendiri, aku mengikutinya dengan motor sampai gerbang kompleks. Di depan pos satpam, dia membuka jendela dan menatapku.

“Makasih,” katanya.

“Buat apa? Kamu yang nemuin semuanya.”

“Kamu yang nanya.”

“Pertanyaan nggak ada gunanya kalau nggak ada yang jawab.”

Dia menatapku lama. Lalu tersenyum kecil, senyum capek, senyum jam tiga pagi.

“Kamu tahu nggak, kamu itu nyebelin,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu nggak pernah mau diakui.”

“Aku nggak perlu diakui.”

“Aku pengen ngakuin kamu.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku diam. Dan dia menutup jendelanya, dan mobilnya masuk ke kompleks, dan aku berdiri di situ dengan helm di tangan sampai satpam bertanya apakah aku mau masuk juga.


Aku tidur dua jam di sofa kantor yang per-nya keluar. Waktu aku bangun, Bimo sedang duduk di kursiku, memutar-mutar kursi itu dengan kaki, sambil menatapku dengan senyum yang membuatku langsung waspada.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

“Kamu pulang jam berapa?”

“Nggak pulang. Jam tiga ke sini.”

“Dari mana?”

“Kafe.”

“Kafe tutup jam sebelas.”

“Terus restoran cepat saji.”

“Sampai jam tiga pagi.”

“Iya.”

“Ngapain?”

“Analisis data kampanye.”

Bimo berhenti memutar kursi. “Kampanye siapa?”

Aku tidak menjawab. Aku bangkit, berjalan ke dispenser, dan menuang air ke gelas. Bimo mengikutiku dengan pandangannya.

“Dev.”

“Hm.”

“Semalem ada rapat sama calon klien dari Surabaya. Rapat daring. Jam sembilan. Kamu yang atur jadwalnya dua minggu lalu.”

Aku berhenti minum.

Aku lupa. Aku benar-benar lupa. Aku mengambil kunci motor waktu Nabila bilang aku dipermalukan hari ini, dan rapat dengan klien Surabaya menguap dari kepalaku seperti embun.

“Aku yang handle,” kata Bimo, sebelum aku sempat panik. “Aman. Mereka minta dijadwal ulang minggu depan, dan mereka nggak marah. Aku bilang kamu lagi ada urusan keluarga mendesak.”

“Makasih, Bim.”

“Urusan keluarga,” ulang Bimo pelan. “Aku bilang keluarga, Dev. Dan kamu tahu? Aku nggak ngerasa bohong waktu ngomong gitu.”

Aku menaruh gelasku.

Bimo berdiri dari kursiku dan berjalan mendekat. Dia bukan orang yang serius. Bimo adalah orang yang menangis karena sedotan jatuh dan menyebut dadanya bidang secara emosional. Tapi pagi itu, di depan dispenser air kantor kami yang jelek, wajahnya serius.

“Kamu jatuh cinta sama klien kamu,” katanya.

Itu bukan pertanyaan.

Aku bisa menyangkalnya. Aku sudah menyangkalnya ke Bimo, ke Ibu, ke diriku sendiri selama dua minggu. Aku punya banyak alasan. Pasal empat. Kontrak. Sandiwara. Aku cuma total.

Tapi aku ingat senyumnya jam dua pagi. Pulpen di rambutnya. Saus tomat di lengannya. Pakai lagi. Telinganya yang merah.

Aku pengen ngakuin kamu.

“Nggak, Bim,” kataku.

Bimo mengangkat alis.

“Aku jatuh cinta duluan,” kataku. “Baru dia jadi klien.”

Bimo menatapku. Lama. Lalu mulutnya pelan-pelan terbuka, membentuk huruf O yang sangat besar.

“Sepuluh detik itu,” katanya. “Di kafe. Waktu dia minta. Kamu diem sepuluh detik.”

“Iya.”

“Kamu bukan lagi mikir.”

“Nggak.”

“Kamu lagi...”

“Lupa cara napas.”

Bimo mundur dua langkah, menabrak meja, dan duduk di lantai. Di lantai kantor. Dengan kedua tangan menutup mulutnya.

“Tiga tahun,” katanya dari balik tangannya. “Tiga tahun aku nungguin kamu tertarik sama sesuatu selain server. Dan waktu akhirnya kejadian, kamu langsung lompat dari tebing. Tanpa parasut. Tanpa bilang-bilang.”

“Aku lagi bilang sekarang.”

“Terus dia tahu?”

“Nggak.”

“Terus kamu mau bilang?”

Aku memikirkan pasal empat. Kontrak berakhir otomatis jika salah satu pihak melanggar pasal empat. Kalau aku bilang, kontraknya selesai. Kalau kontraknya selesai, tidak ada alasan lagi untuk makan rendang hari Minggu, main golf dengan Om Bram, membetulkan radio Oma, atau duduk di meja nomor tujuh sampai kafe tutup.

Kalau aku bilang, dan dia tidak merasakan hal yang sama, aku kehilangan semuanya.

“Belum,” kataku.

“Kenapa?”

“Karena aku bilang ke keluarganya aku bakal nunggu sampai dia siap.” Aku mengambil gelasku lagi dan menatap airnya. “Dan aku nggak mau jadi pembohong soal itu juga.”


Siang harinya, jam satu, HP-ku bergetar di tengah rapat tim.

Satu pesan dari Nabila. Huruf kapital semua.

AKU MENANG

Lalu satu lagi, lima detik kemudian.

PAK GUNAWAN DIEM 30 DETIK. KAYAK KAMU DI KAFE. TERUS DIA BILANG KAMPANYENYA DILANJUT DAN ANGGARANNYA DITAMBAH BUAT KOTA-KOTA KECIL.

Lalu satu lagi.

DIREKTUR UTAMA NANYA SIAPA YANG BANTU AKU ANALISIS. AKU BILANG NGGAK ADA. AKU BILANG AKU YANG NEMUIN SENDIRI.

Lalu satu lagi, setelah jeda yang lebih lama.

Itu nggak bohong kan?

Aku menatap layar. Di sekitarku, tim engineer sedang membahas sesuatu soal database. Bimo melirikku dari seberang meja dengan tatapan penuh arti.

Aku mengetik.

Nggak bohong. Kamu yang nemuin semuanya. Aku cuma nemenin begadang.

Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Nanti malam aku traktir sate padang.

Kamu yang menang, kamu yang ditraktir.

Pasal sembilan. Biaya operasional. Aku yang bayar. Nggak bisa ditolak.

Aku tersenyum. Di tengah rapat. Dengan tim engineer yang langsung berhenti bicara dan menatapku, seperti suricata yang mencium bahaya.

“Mas Devan senyum lagi,” bisik Rara ke sebelahnya.

“Server aman?” tanyaku, tanpa mengangkat wajah dari HP.

“Aman, Mas.”

“Bagus.”

Aku terus menatap layar. Pesan terakhir Nabila masih di sana. Aku yang bayar. Nggak bisa ditolak.

Pasal empat. Dilarang baper. Untuk para pihak.

Aku sudah melanggarnya sejak detik pertama. Sekarang aku cuma berharap, dengan cara paling tidak profesional yang bisa kubayangkan, bahwa aku bukan satu-satunya.