Chapter Thirty

Malam Truk Tertahan

POV: Nabila

Aku belum pernah melihat Papa takut.

Papa marah, pernah. Papa kecewa, sering. Tapi takut? Tidak pernah. Papa adalah orang yang membangun perusahaannya dari satu gudang jadi dua puluh di tengah krisis moneter.

Tapi malam itu, jam sembilan lewat empat puluh, di ruang kerjanya di lantai satu, Papa berdiri di depan jendela dengan HP di telinga, dan tangannya yang memegang cangkir teh gemetar.

Sedikit. Sangat sedikit. Tapi aku melihatnya.

“...empat ratus dua belas truk, Pak,” kata suara dari speaker HP yang Papa letakkan di meja. Suara Pak Wahyu, direktur operasional Saheila Group, yang sudah bekerja dengan Papa sejak sebelum aku lahir. “Semua tertahan di gudang Cikarang, Cibitung, sama Cakung. Sistem rute dari vendor mati total sejak jam tujuh. Mereka bilang servernya kena masalah di Singapura, perbaikannya paling cepat besok siang.”

“Besok siang,” ulang Papa. Suaranya datar. Terlalu datar.

“Promo mulai jam enam pagi, Pak. Seribu dua ratus toko harus terisi sebelum buka. Kalau kosong...”

“Saya tahu kalau kosong.”

“Dan Pak, tol Jakarta–Cikampek ditutup sebagian. Banjir di kilometer dua puluh sampai dua puluh enam. Sopir-sopir nggak tahu harus lewat mana. Kalau pakai insting sendiri-sendiri, mereka bakal numpuk di jalan alternatif yang sama. Macet total. Sampai toko jam sepuluh, jam sebelas.”

Papa diam.

Om Hadi, yang berdiri di sudut ruangan dengan batik resepsi yang masih rapi, menatap Papa dengan wajah pucat. Mama berdiri di ambang pintu, dengan kebaya ungunya, memegang ujung selendang dengan kedua tangan.

Dan aku berdiri di sebelah Mama. Dengan kebaya champagne dan melati yang sudah layu di sanggul. Dengan Devan di sebelahku, yang masih memakai batik keberuntungan Om Bram, dan yang sejak kami masuk ke rumah belum mengatakan satu kata pun.

Dia sedang mendengarkan.

Aku tahu cara dia mendengarkan. Aku sudah melihatnya di meja makan malam pertama, waktu Gerald bicara soal proyek Cikarang. Aku sudah melihatnya di restoran cepat saji jam dua pagi. Matanya tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tapi di balik kacamatanya, aku bisa melihat sesuatu yang bekerja. Cepat. Sangat cepat.

“Pak Wahyu,” kata Papa akhirnya. “Kita punya berapa jam?”

“Kalau truk harus berangkat paling lambat jam tiga pagi supaya sampai sebelum jam enam... lima jam, Pak. Dan kita butuh rute untuk empat ratus dua belas truk ke seribu dua ratus toko, dengan jalan yang sebagian ditutup banjir.”

“Tim internal?”

“Tim IT kita cuma bisa bikin rute manual, Pak. Pakai Excel. Satu orang bisa bikin rute sepuluh truk per jam, kalau jalannya normal. Dengan banjir...” Pak Wahyu tidak menyelesaikan kalimatnya.

Papa meletakkan cangkir tehnya di meja. Pelan. Dan tidak mengangkatnya lagi.

Di sebelahku, Devan menarik napas.

“Om,” katanya.

Semua orang di ruangan menoleh.

Papa menoleh dari jendela. Menatap Devan. Dengan mata yang lelah, dan untuk pertama kalinya, sedikit tidak sabar.

“Bukan sekarang, Devan.”

“Boleh saya lihat datanya, Om?”

Papa menatapnya. Lama. “Data apa?”

“Daftar truknya. Lokasi gudangnya. Alamat seribu dua ratus toko itu. Kapasitas tiap truk. Barang yang harus diantar ke tiap toko.” Devan melangkah masuk ke ruang kerja, pelan, sopan. “Kalau ada dalam bentuk Excel, lebih bagus.”

“Kamu kerja di IT.”

“Iya, Om.”

“Ini bukan masalah printer.”

“Bukan, Om.” Devan berhenti di depan meja kerja Papa. Tenang. Dengan batik yang kebesaran di perut dan kacamata yang sedikit melorot. “Tapi kebetulan saya kenal orang yang bisa bantu.”


Papa diam lama. Aku bisa melihatnya menimbang. Aku bisa melihat seluruh pengalamannya selama tiga puluh tahun, semua kewaspadaan dan kecurigaan dan kehati-hatiannya, berhadapan dengan cowok berkacamata yang minggu lalu kalah golf dan kehilangan enam bola di danau.

“Siapa?” tanya Papa.

“Tim yang bagus, Om. Mereka biasa ngurus masalah kayak gini.” Devan tidak berkedip. “Kalau Om percaya sama saya, kasih saya datanya. Kalau dalam satu jam nggak ada hasil, Om boleh anggap saya nggak pernah nawarin apa-apa.”

Papa terus menatap Devan.

Lalu dia menatapku.

Aku tidak tahu apa yang dia lihat di wajahku. Mungkin ketakutan. Mungkin permohonan. Mungkin sesuatu yang lain, sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu ada di sana.

“Pak Wahyu,” kata Papa, tanpa melepaskan tatapannya dariku. “Kirim semua datanya ke email saya. Sekarang.”


Dalam lima belas menit, ruang sidang berubah jadi pusat komando.

Meja makan sepuluh meter yang biasanya dipakai untuk rendang dan interogasi Tante Rini, sekarang penuh dengan laptop, kabel, HP, dan kertas-kertas cetakan. Devan duduk di tengah, dengan lengan batik digulung sampai siku, dengan laptop yang dia ambil dari tas ranselnya di mobil. Laptop dengan stiker kecil di pojok tutupnya. Stiker berbentuk garis melengkung yang menghubungkan beberapa titik.

Aku menatap stiker itu. Aku tahu artinya. Papa tidak.

Devan menelepon seseorang, dengan HP di telinga dan jari-jari yang sudah mulai bergerak di keyboard.

“Bim,” katanya. “Bangunin tim. Semua. Kode merah.”

Aku bisa mendengar suara Bimo di ujung telepon, keras dan panik: KODE MERAH? KITA NGGAK PUNYA KODE MERAH!

“Sekarang punya,” kata Devan. “Empat ratus dua belas truk. Seribu dua ratus titik. Tiga gudang. Tol Cikampek tutup di kilometer dua puluh sampai dua puluh enam. Batas waktu jam tiga. Datanya aku kirim sekarang.”

Hening sebentar di ujung telepon. Lalu suara Bimo lagi, kali ini tidak panik. Tenang. Serius. Suara yang belum pernah kudengar dari Bimo.

Lima belas menit. Aku sama Rara langsung ke kantor.

Devan menutup telepon. Mulai mengetik. Cepat. Sangat cepat. Jendela-jendela di layarnya bermunculan dan hilang, tabel-tabel, angka-angka, peta.

Kenzo muncul di ambang pintu ruang sidang, dengan kaus dan celana pendek, rambut berantakan. Dia menatap meja makan, menatap Devan, menatap laptop.

“Kak Devan,” katanya. “Butuh bantuan?”

Devan mengangkat wajahnya. “Kamu bisa ngerapiin data Excel?”

“Aku juara satu lomba aplikasi tingkat provinsi.”

“Itu bukan jawaban.”

“Bisa, Kak.”

“Ambil laptop kamu. Duduk di sebelah aku. Data alamat tokonya berantakan, ada yang nulis Jl., ada yang nulis Jalan, ada yang nggak nulis kecamatan. Rapiin semua. Formatnya aku kasih.”

Kenzo sudah berlari ke kamarnya sebelum Devan selesai bicara.


Jam sebelas malam, Mama membawa gorengan dan kopi. Banyak. Dua piring besar bakwan dan tahu isi, dan satu termos kopi hitam tanpa gula. Dia menaruhnya di meja, di antara laptop-laptop, lalu berdiri di belakang Devan dan menatap layar yang tidak dia mengerti.

“Nak Devan sayang,” katanya pelan. “Makan dulu.”

“Nanti, Tante.”

“Makan dulu, Nak. Nggak ada yang bisa mikir kalau perut kosong.”

Devan mengambil sepotong bakwan tanpa mengalihkan mata dari layar, dan memakannya dalam tiga gigitan. Mama menepuk bahunya, lalu duduk di kursi di ujung meja, dan tidak pergi.

Jam dua belas, Om Bram datang dengan piyama bergaris dan jaket terbalik, setelah ditelepon Tante Rini. Dia duduk di sebelah Mama dan melipat tangan.

“Saya datang buat dukung caddy saya,” katanya ke siapa pun yang mau mendengar.

Jam satu, Oma datang. Didorong Bi Inah dengan kursi roda, dengan radio almarhum Opa di pangkuan. Radio yang dibetulkan Devan. Radio itu sedang memutar wayang, pelan, dan Oma memutar tombolnya sampai suaranya hampir tidak terdengar.

“Anak itu lagi apa?” tanya Oma.

“Lagi nolong Papa, Oma,” kataku.

Oma menatap Devan lama. “Bagus,” katanya. Dan dia duduk di situ, dengan radio di pangkuan, dan tidak pergi.


Dan aku?

Aku duduk di seberang Devan. Di kursi yang biasanya kududuki waktu makan malam keluarga. Dengan kebaya champagne yang sudah kusut dan sanggul yang sudah setengah lepas. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku bukan orang IT. Aku tidak mengerti rute atau server atau apa pun yang sedang dia kerjakan.

Jadi aku menatapnya.

Aku menatapnya mengetik. Menatapnya menelepon Bimo setiap lima belas menit, dengan suara yang tenang dan pendek dan jelas. Gudang Cibitung udah masuk. Cakung tunggu data kapasitas. Kurir kita di Bekasi udah lapor, Jalan Kalimalang aman, tapi Jalan Raya Narogong tergenang dua titik.

Kurir kita. Tiga ratus kurir di dua belas kota, yang sebagian ada di Jabodetabek. Mereka melapor jalanan yang banjir lewat aplikasi yang mereka pakai setiap hari. Sistem Devan membaca laporan mereka dan menghitung ulang rute, detik demi detik.

Aku menatap kening yang berkerut, batik Om Bram yang bernoda minyak bakwan di dada, dan kacamatanya, yang setiap sepuluh menit melorot ke ujung hidung tanpa dia sadari.

Jam dua lewat sepuluh, kacamatanya melorot lagi. Sampai hampir jatuh.

Aku berdiri. Berjalan memutari meja. Berdiri di sebelahnya. Dan tanpa berkata apa-apa, aku mengulurkan tangan dan mendorong kacamatanya kembali ke pangkal hidungnya.

Dia berhenti mengetik. Satu detik. Menoleh padaku.

Di ujung meja, Mama berhenti bernapas. Om Bram berhenti mengunyah bakwan. Oma mengecilkan radionya sampai mati.

“Makasih,” kata Devan pelan.

“Aku cinta kamu,” bisikku. Pelan sekali. Cukup pelan supaya cuma dia yang dengar. Atau begitu yang kukira.

Dia menatapku. Matanya lelah, merah di pinggirnya. Tapi dia tersenyum.

“Kamu cantik kalau lagi khawatir,” bisiknya balik.

“Aku jelek kalau lagi khawatir.”

“Data bilang lain.”

Aku kembali ke kursiku. Dia kembali ke keyboardnya. Di ujung meja, Mama menutup mulutnya dengan dua tangan. Om Bram menatap langit-langit. Oma menyalakan radionya lagi, sedikit lebih keras dari sebelumnya, seperti orang yang pura-pura tidak mendengar apa-apa.


Jam dua lewat empat puluh, Devan mengangkat tangannya dari keyboard.

“Pak Wahyu,” katanya ke HP yang tersambung dengan speaker. “Rutenya udah dikirim. Setiap sopir dapat link lewat WhatsApp. Buka di HP, ikutin petanya. Kalau ada jalan yang tiba-tiba tutup, rutenya berubah sendiri.”

Hening di ujung telepon. Lalu suara Pak Wahyu, ragu: “Semua, Pak? Empat ratus dua belas?”

“Empat ratus dua belas.”

“Dalam... dalam empat jam?”

“Timnya bagus, Pak.”

Pak Wahyu tidak menjawab. Aku mendengar bunyi keyboard, bunyi seseorang berbicara di latar belakang, bunyi HP-HP yang berdering. Lalu, tiga menit kemudian, suaranya kembali, dan kali ini suaranya bergetar.

“Pak Hendra,” katanya. “Truk pertama keluar dari gudang Cibitung. Truk kedua. Ketiga. Pak, mereka jalan. Mereka jalan semua.”

Papa, yang berdiri di dekat jendela dengan HP di tangan, menutup matanya.

Di layar laptop Devan, di atas peta Jabodetabek, titik-titik kecil mulai bergerak. Satu. Sepuluh. Lima puluh. Seratus. Menyebar dari tiga gudang ke segala arah, seperti kunang-kunang yang dilepaskan dari toples. Menghindari garis merah di kilometer dua puluh sampai dua puluh enam. Mengalir lewat jalan-jalan kecil yang tidak pernah kudengar namanya.

Kenzo, di sebelah Devan, menatap layar dengan mulut terbuka.

“Kak,” bisiknya. “Ini keren banget.”

Devan tidak menjawab. Dia bersandar di kursinya, melepas kacamata, dan memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam.


Jam lima lewat empat puluh pagi, Pak Wahyu menelepon lagi.

“Toko pertama udah terisi, Pak. Minimarket di Bekasi Timur. Jam lima tiga puluh dua.” Suaranya serak. Aku mendengar isak kecil di ujung kalimatnya. “Semua truk di jalan. Perkiraan sistem, sembilan puluh tujuh persen toko terisi sebelum jam enam. Sisanya jam enam lewat lima belas.”

Papa berdiri di dekat jendela, di mana langit di luar mulai berubah dari hitam ke abu-abu. Dia tidak bicara lama.

“Terima kasih, Pak Wahyu,” katanya akhirnya. “Istirahat.”

“Pak... siapa yang bantu ini, Pak? Timnya siapa? Saya harus berterima kasih.”

Papa menoleh. Menatap Devan, yang sekarang duduk di kursi dengan kepala bersandar di sandaran dan mata setengah terpejam. Menatap Kenzo, yang tertidur di atas laptopnya. Menatap Mama, yang tertidur di kursi dengan kepala di bahu Om Bram, yang juga tertidur. Menatap Oma, yang masih bangun, dengan radio di pangkuan, menatap balik ke Papa dengan mata tua yang tajam.

“Nanti saya kabari,” kata Papa ke Pak Wahyu, dan menutup telepon.

Lalu dia berjalan ke meja makan. Pelan. Berhenti di belakang kursi Devan.

Devan membuka matanya dan menegakkan badan. “Om.”

Papa menatap layar laptop. Titik-titik kecil yang sekarang hampir semuanya sudah berhenti di tujuan. Garis-garis rute yang berwarna hijau. Angka di pojok layar: 412/412 truk. 1.168/1.200 toko terisi.

“Tim kamu,” kata Papa.

“Iya, Om.”

“Siapa mereka?”

Aku menahan napas. Di kursiku, di seberang meja, aku mencengkeram ujung kebaya. Sekarang. Bilang sekarang, Dev. Papa lagi nanya.

Devan menatap Papa lama. Aku melihat kalimat itu naik ke tenggorokannya. Aku melihatnya menelan, sekali.

“Tim yang bagus, Om,” katanya. “Saya cuma kenal orang yang bisa bantu.”

Papa menatapnya. Lama. Dengan mata yang merah karena tidak tidur, dan kumis yang bergetar sedikit.

“Saya mau ketemu perusahaannya,” kata Papa. “Resmi. Minggu ini. Saya mau bicara soal kerja sama. Jangka panjang.”

“Nanti saya sampaikan, Om.”

Papa mengangguk sekali. Lalu, yang membuatku hampir jatuh dari kursi, dia menaruh tangannya di bahu Devan. Menepuknya. Dua kali. Pelan.

Persis seperti Devan menepuk bahu Pak Slamet di panggung launching.

“Terima kasih, Devan,” kata Papa.

Lalu dia berjalan keluar dari ruang sidang, naik ke lantai atas, tanpa berkata apa-apa lagi.


Aku menunggu sampai langkah Papa hilang di lantai atas. Lalu aku berdiri, memutari meja, dan menarik Devan ke dapur. Kosong. Cuma ada kami, dan bau kopi, dan cahaya subuh yang masuk dari jendela di atas bak cuci.

“Kenapa nggak bilang?” bisikku.

Dia menatapku. Matanya merah. Wajahnya pucat. Dia belum tidur lagi sejak semalam di resepsi.

“Papa kamu barusan nanya,” kataku. “Papa kamu nanya, Dev. Kesempatan paling bagus. Kenapa kamu nggak bilang?”

Dia diam sebentar. Lalu dia bersandar di meja marmer, di tempat yang sama di mana dia memakai celemek ayam dan memelukku dari belakang, dan menatap tangannya sendiri.

“Kalau aku bilang sekarang,” katanya pelan, “Papa kamu bakal merasa berutang sama aku.”

Aku berhenti.

“Aku baru nyelametin perusahaannya jam lima pagi. Kalau jam enam pagi aku bilang, Om, sebenarnya perusahaan itu punya saya, dan saya pacaran sama anak Om, gimana rasanya buat dia?” Dia mengangkat wajahnya. “Dia bakal restuin kita. Tapi bukan karena dia percaya sama aku. Karena dia merasa nggak enak nolak orang yang baru nolong dia.”

“Papa nggak kayak gitu.”

“Semua orang kayak gitu, Sayang. Itu manusiawi.” Dia mengulurkan tangan dan menyelipkan rambutku yang lepas dari sanggul ke belakang telinga kiriku. “Aku nggak mau restu yang dibeli pakai empat ratus dua belas truk. Aku mau restu yang aku dapat karena aku aku.”

Aku menatapnya. Aku ingin membantah. Aku ingin bilang itu bodoh, itu terlalu rumit, bilang aja sekarang. Tapi aku melihat wajahnya, dan aku mengerti. Aku mengerti, karena itu hal yang sama yang dia lakukan di malam pertama. Malam ini harus tentang dia, bukan tentang aku.

“Terus kapan?” tanyaku.

“Di rapat itu. Secara resmi. Sebagai profesional. Papa kamu bakal lihat Lintas sebagai perusahaan, bukan sebagai utang budi. Terus setelah rapat, aku minta waktu. Berdua. Dan aku bilang semuanya. Sebagai aku.”

“Janji?”

“Janji.”

Aku menatapnya lama. Lalu aku mengangguk. Dan dia menarikku ke pelukannya, di dapur yang wangi kopi, di bawah cahaya subuh, dan aku menyandarkan kepalaku di dadanya, di atas batik keberuntungan Om Bram yang sekarang bernoda minyak bakwan.

Dia bilang janji. Aku percaya.

Dan belakangan, waktu semuanya meledak, aku sadar itu salah perhitungan. Bukan cuma dia yang salah menghitung. Aku juga. Kami berdua menghitung kapan waktu yang tepat untuk jujur, seolah kejujuran itu rute yang bisa dioptimalkan. Kami lupa bahwa di rumah ini, ada satu orang yang tidak pernah berhenti menghitung.


Waktu kami keluar dari dapur, ruang sidang sudah kosong. Mama sudah dibangunkan Om Bram dan naik ke kamar. Om Bram sudah pulang. Bi Inah sudah mendorong Oma kembali ke kamarnya.

Cuma ada satu orang yang masih di sana.

Kenzo. Duduk di kursinya, di sebelah kursi Devan, dengan mata yang ternyata tidak tertidur sama sekali. Dengan laptop Devan yang masih terbuka di depannya, layar yang masih menampilkan dashboard dengan peta dan angka-angka.

Dan di pojok kiri atas dashboard itu, kecil, logo. Garis melengkung yang menghubungkan beberapa titik. Dengan satu kata di sebelahnya.

LINTAS.

Kenzo sedang menatap logo itu. Lalu dia menatap HP-nya. Di layar HP-nya, aku bisa melihat halaman hasil pencarian. Dan artikel teratas, dengan foto seorang laki-laki berjas hitam di atas panggung, dan judul yang bisa kubaca dari seberang meja:

CEO Startup Logistik Lintas Ungkap Pacarnya di Barisan Depan.

Kenzo mengangkat wajahnya. Menatap Devan. Lalu menatapku. Lalu menatap kebaya champagne-ku, dan ingatannya jelas sedang memutar ulang foto punggung seorang perempuan dengan dress biru muda di artikel itu.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Dia cuma menutup laptop Devan dengan pelan. Mengambil HP-nya. Berdiri. Dan berjalan ke tangga.

Di anak tangga ketiga, dia berhenti. Tanpa menoleh.

“Kasus baru,” katanya. “Dibuka.”

Lalu dia naik ke atas. Dan aku berdiri di ruang sidang, dengan Devan di sebelahku, di bawah cahaya subuh yang semakin terang, dan merasakan jantungku berdetak di tenggorokan.