Chapter Twenty Two
Ehem
POV: Devan
Pagi hari Rabu, jam enam lewat sepuluh, aku mengirim pesan pertamaku ke grup keluarga Saheila sebagai pacar sungguhan.
Tidak ada yang tahu bahwa itu pesan pertamaku sebagai pacar sungguhan. Bagi mereka, aku sudah pacaran dengan Nabila setahun. Tapi bagiku, pesan itu terasa berbeda. Seperti menandatangani sesuatu yang baru dengan pulpen yang sama.
Aku mengetiknya di atas kasur, dengan kacamata yang belum kupakai dan HP yang kudekatkan ke hidung. Aku menghapusnya dua kali. Lalu mengetiknya lagi.
Devan: Selamat pagi, Om, Tante, Oma, Kenzo. Selamat pagi juga buat masa depan saya.
Aku menekan kirim. Lalu memakai kacamata, dan membaca ulang pesan itu dengan penglihatan yang jelas.
Masa depan saya.
Aku menaruh HP di dada dan menatap langit-langit kontrakan yang ada bekas bocornya. Bimo, yang tidur di kasur lipat di lantai karena kami lembur lagi semalam, membuka satu mata.
“Kamu ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
“Kamu senyum ke langit-langit.”
“Langit-langitnya lucu.”
“Ada bekas bocor bentuk kecoa.”
“Itu yang lucu.”
HP-ku bergetar di dada. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Lalu tidak berhenti.
Tante Rini: YA AMPUUUN 😭😭😭😭😭
Tasya: MASA DEPAN SAYA??? AKU NGGAK KUAT
Mama Nabila: Pagi juga Nak Devan!!! Masa depannya belum bangun, Nak. Masih tidur mangap 😂❤️
Oma (lewat Bi Inah): Oma bilang pagi juga. Oma bilang masa depan itu harus dijaga baik-baik. — Bi Inah
Kenzo: 🤮
Om Bram: Masih jam enam pagi.
Om Bram: Kenapa harus seromantis ini jam enam pagi.
Om Bram keluar dari grup.
Tante Rini: MAS!!!!
Tante Rini menambahkan Om Bram.
Om Bram: Saya lagi sikat gigi. Nggak usah dimasukin lagi.
Tante Rini: Nggak boleh keluar kalau Devan romantis. Udah Tante bilang.
Om Bram: Justru karena itu.
Lalu, setelah jeda dua menit, satu pesan muncul dari nomor yang tidak pernah mengirim apa pun ke grup ini sejak aku ditambahkan.
Papa Nabila: Ehem.
Seluruh grup sunyi selama lima menit penuh.
Lalu, dari nomor yang sangat kukenal, masuk satu pesan. Bukan di grup. Di pesan pribadi.
Nabila: KAMU NGAPAIN
Nabila: PAPA NULIS EHEM
Nabila: PAPA NGGAK PERNAH NULIS APA-APA DI GRUP. SEUMUR HIDUP. DIA BAHKAN NGGAK NULIS WAKTU KENZO JUARA
Nabila: DAN SEKARANG DIA NULIS EHEM
Nabila: GARA-GARA KAMU
Aku membalas: Selamat pagi, Sayang. Kamu udah bangun.
Nabila: GIMANA NGGAK BANGUN, HP AKU GETAR 40 KALI
Nabila: Mama bilang aku tidur mangap di grup!!!
Aku membalas: Aku tahu. Itu masa depan aku. Tidur mangap.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul. Hilang. Lalu satu pesan pendek.
Nabila: ...kamu nyebelin
Lalu satu lagi, lima detik kemudian:
Nabila: tapi aku sayang
Aku menatap dua kata itu lama. Bimo, dari kasur lipatnya, menatapku menatap HP.
“Kamu merah,” katanya.
“Nggak.”
“Sampai kuping.”
Aku menarik selimut sampai menutupi kepala.
Kesalahan besar pertamaku terjadi hari Kamis siang.
Aku sedang di kantor, di tengah persiapan launching Lintas yang tinggal tiga minggu lagi. Kalender di dinding penuh coretan merah. Bimo sedang berdebat dengan tim desain soal warna tombol di aplikasi. Rara sedang menguji server dengan wajah yang semakin pucat setiap jam. Dan di layar laptopku, ada email dari seseorang bernama Kirana Maheswari, dari sebuah perusahaan modal ventura, yang meminta jadwal pertemuan minggu ini.
Aku membalas email itu. Lalu, sambil menunggu balasan, aku membuka WhatsApp dan mengetik pesan untuk Nabila. Aku tahu dia sedang ada rapat penting sampai jam satu, dan biasanya dia lupa makan kalau rapatnya panjang.
Aku mengetik dengan cepat, tanpa terlalu memperhatikan, karena Bimo sedang berteriak memanggilku dari seberang ruangan soal tombol yang warnanya terlalu biru.
Udah makan belum, Istriku Cantik?
Aku menekan kirim. Lalu berdiri untuk mengurus soal tombol.
Tiga menit kemudian, waktu aku kembali ke meja, HP-ku sudah bergetar sebelas kali.
Aku membukanya.
Aku tidak mengirim pesan itu ke Nabila.
Aku mengirimnya ke grup Keluarga Saheila (+Devan) 💙.
Di bawah pesanku, yang sekarang menggantung di sana dengan huruf-huruf yang terasa semakin besar setiap kali aku membacanya, ada balasan pertama.
Tante Rini: Udah, Nak. Makasih ya 🥰🥰🥰
Aku menatap balasan itu.
Lalu aku membaca sisanya.
Tasya: ISTRIKU CANTIK??? 😭😭😭
Tasya: TANTE RINI KENAPA TANTE YANG JAWAB
Tante Rini: Karena Tante yang baca duluan. Dan Tante memang cantik.
Mama Nabila: Nak Devan... Istriku? 🥺🥺🥺 Udah sejauh itu???
Oma (lewat Bi Inah): Oma bilang belum nikah kok udah istri. Tapi Oma setuju. — Bi Inah
Kenzo: Aku screenshot. Buat bukti. Kasus baru dibuka.
Om Bram: Saya lagi makan siang. Saya tersedak.
Om Bram keluar dari grup.
Tante Rini: MAS BRAM!!!!
Tante Rini menambahkan Om Bram.
Om Bram: Saya tersedak beneran. Ini bukan kiasan.
Lalu, setelah jeda yang terasa seperti satu abad:
Papa Nabila: Ehem.
Papa Nabila: Ehem.
Dua kali.
Aku menatap dua ehem itu. Nabila pernah menjelaskan padaku bahasa dehaman Papanya, di balkon villa Puncak, di sela obrolan kami tengah malam. Satu deham artinya peringatan. Dua deham artinya saya di sini.
Papa Nabila ada di sini. Dan dia membaca Istriku Cantik.
Aku menutup laptop, meletakkan kepala di atas meja, dan tidak bergerak selama dua menit. Bimo datang, membaca layar HP-ku dari atas bahuku, lalu duduk di lantai dan tertawa sampai tim desain berhenti berdebat soal tombol dan ikut menonton.
HP-ku bergetar lagi. Pesan pribadi.
Nabila: aku baru keluar rapat
Nabila: aku buka grup
Nabila: DEVAN SATRIA
Nabila: AKU BELUM JADI ISTRI KAMU
Nabila: DAN KAMU NGIRIMNYA KE GRUP KELUARGA
Nabila: DAN TANTE RINI YANG JAWAB
Nabila: DAN PAPA NULIS EHEM DUA KALI
Aku mengangkat kepala dari meja dan mengetik dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Salah kirim.
Nabila: SALAH KIRIMNYA KE GRUP, ATAU SALAH NULIS ISTRI???
Aku menatap pertanyaan itu lama. Bimo, dari lantai, sudah berhenti tertawa dan sekarang menatapku dengan wajah penasaran.
Aku mengetik: Salah kirimnya ke grup.
Lama tidak ada balasan. Satu menit. Dua menit.
Lalu:
Nabila: oh
Nabila: ya udah
Nabila: aku udah makan
Nabila: makasih udah nanya
Nabila: (istri kamu yang cantik)
Aku menjatuhkan HP ke meja.
Bimo, dari lantai, mengambilnya, membaca, lalu berbaring telentang di lantai kantor dan menatap langit-langit dengan tangan di dada, seperti orang yang baru selesai lari maraton.
“Tiga tahun,” gumamnya. “Tiga tahun aku nungguin kamu tertarik sama sesuatu selain server. Aku nggak nyangka waktu akhirnya kejadian, aku harus nonton ini tiap hari.”
Hari Jumat, jam dua belas lewat empat puluh malam, HP-ku bergetar.
Aku masih di kantor. Launching tinggal tiga minggu, dan server kami masih bermasalah di bagian yang tidak bisa kupahami sepenuhnya. Kantor sepi. Cuma ada aku, Bimo yang tertidur di sofa bekas, dan dengung AC yang baru diservis.
Pesan suara. Dari Nabila. Tujuh detik.
Aku memutarnya.
Awalnya cuma bunyi napas. Lalu bunyi selimut bergesekan. Lalu suaranya, pelan, serak, jelas suara orang yang sudah setengah tertidur:
“Kangen.”
Lalu jeda. Dua detik. Lalu:
“Udah. Tidur.”
Selesai.
Aku memutarnya lagi. Tujuh detik. Kangen. Dua detik. Udah. Tidur.
Aku memutarnya sekali lagi.
Lalu aku menutup laptop, mengambil jaket dan kunci motor, dan menulis catatan di kertas tempel untuk Bimo: Keluar sebentar. Server biarin dulu. Jangan bangun.
Empat puluh menit kemudian, jam satu lewat dua puluh pagi, aku berdiri di depan pagar rumah keluarga Saheila di Pondok Indah, dengan sebungkus martabak manis di tangan.
Keju cokelat. Setengah-setengah. Dari penjual martabak di dekat Blok M yang buka sampai jam dua pagi, yang pernah Nabila sebut sebagai martabak paling enak di Jakarta Selatan di salah satu obrolan kami yang sudah tidak kuingat kapan.
Satpam kompleks menatapku dari posnya dengan curiga. Aku mengangguk sopan padanya. Dia mengangguk balik, lalu kembali menonton TV kecil di posnya.
Aku mengirim pesan: Di depan.
Satu menit. Dua menit. Aku mulai berpikir dia sudah tidur betulan.
Lalu lampu di lantai dua menyala. Tirai jendela tersibak. Wajahnya muncul, dengan rambut berantakan dan mata yang membesar waktu melihatku di depan pagar.
Tirai itu tertutup lagi. Lima detik kemudian, pintu samping pagar terbuka, dan dia keluar dengan piyama bergambar awan, sandal jepit, dan cardigan yang dipakai terbalik.
“Kamu ngapain?!” bisiknya dengan panik, menarikku masuk ke teras. “Jam satu pagi!”
“Kamu bilang kangen.”
“Aku bilang udah, tidur!”
“Aku dengernya kangen.” Aku menyodorkan martabak. “Keju cokelat. Setengah-setengah.”
Dia menatap bungkusan itu. Menatapku. Menatap bungkusan itu lagi.
“Dari Blok M?” tanyanya pelan.
“Yang buka sampai jam dua.”
“Kamu nyetir motor dari Tebet ke Blok M ke sini, jam satu pagi, gara-gara aku bilang kangen tujuh detik?”
“Voice note-nya tujuh detik. Kangennya lebih lama.”
Dia menatapku. Dan di bawah lampu teras yang redup, dengan piyama awan dan cardigan terbalik dan rambut seperti sarang burung, dia kelihatan cantik. Cantik yang lain lagi. Cantik yang baru bangun, cantik yang belum sempat siap-siap, cantik yang tidak dipersiapkan untuk dilihat siapa pun. Dan aku berdiri di situ dengan jaket dan helm di tangan, dan merasa sangat beruntung bahwa aku yang melihatnya.
“Cardigan kamu terbalik,” kataku.
Dia melihat ke bawah. Labelnya ada di luar, di dekat leher. Dia mendengus, lalu duduk di kursi teras dan membuka bungkus martabak tanpa membetulkan cardigannya.
“Duduk,” katanya. “Makan. Terus pulang. Kamu besok kerja.”
“Besok Sabtu.”
“Kamu kerja hari Sabtu. Aku tahu. Kamu selalu kerja.”
Aku duduk. Kami makan martabak di teras rumah keluarga Saheila, jam satu lewat setengah pagi, dengan suara jangkrik dan TV kecil dari pos satpam. Dia menyuapiku sepotong. Aku menyuapinya balik. Keju menempel di sudut bibirnya, dan aku menghapusnya dengan ibu jari, dan dia berhenti mengunyah.
“Dev,” katanya pelan.
“Hm?”
“Aku cinta kamu.”
Aku membeku. Martabak di tanganku berhenti di tengah jalan menuju mulut.
Itu pertama kalinya dia mengatakannya dengan kata cinta. Bukan suka. Bukan sayang. Cinta. Di teras, jam satu pagi, dengan keju di sudut bibir dan cardigan terbalik.
Dia langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya membesar, seperti orang yang baru sadar sudah menjatuhkan sesuatu yang berharga dari lantai sepuluh.
“Itu keluar sendiri,” katanya dari balik tangan. “Aku nggak... itu ngantuk. Aku ngantuk. Itu omongan orang ngantuk.”
Aku menatapnya. Lalu aku menaruh martabak di piring, mencondongkan badan, dan menurunkan tangannya dari mulutnya, pelan-pelan.
“Ulang,” kataku.
“Nggak mau.”
“Sekali lagi.”
“Nggak.”
“Nabila.”
Dia menatapku. Pipinya merah. Telinganya merah. Dan di balik semua merah itu, ada senyum yang tidak bisa dia tahan.
“Aku cinta kamu,” bisiknya. “Udah. Puas?”
“Belum.”
“Kamu harus jawab.”
Aku tahu jawabannya. Aku sudah tahu sejak sepuluh detik di kafe. Tapi aku ingin mengatakannya di tempat yang tepat. Dengan cara yang tepat. Bukan di teras, jam satu pagi, dengan mulut penuh keju.
“Aku jawab nanti,” kataku. “Di tempat yang lebih bagus.”
“Tempat apa?”
“Rahasia.”
“DEVAN.”
“Tempat yang lebih bagus dari teras rumah kamu jam satu pagi.”
“Teras rumah aku bagus!”
“Teras rumah kamu ada satpam yang lagi nonton kita.”
Dia menoleh. Satpam di pos memang sedang menatap kami, dengan TV yang sudah dia kecilkan volumenya. Begitu tertangkap basah, dia langsung pura-pura membaca buku tamu.
Nabila menatapku lagi. Membuka mulut untuk protes.
Lalu pintu depan rumah terbuka.
Kami membeku. Pelan-pelan, bersamaan, kami menoleh.
Papa Nabila berdiri di ambang pintu. Dengan piyama bergaris, sandal kulit, dan segelas air putih di tangan. Rambutnya yang biasanya disisir rapi sekarang berdiri di satu sisi. Dia menatap kami. Menatap martabak. Menatap cardigan Nabila yang terbalik. Menatap aku, dengan jaket dan helm, jam satu lewat empat puluh pagi.
“Ehem,” katanya.
“Pa...”
“Ehem.”
Dua kali. Saya di sini.
Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, Papa Nabila berjalan ke meja teras, mengambil satu potong martabak dari bungkusnya, memasukkannya ke mulut, mengunyah pelan, dan berbalik kembali ke dalam rumah.
Di ambang pintu, dia berhenti.
“Keju cokelat,” katanya, dengan mulut penuh. “Dari Blok M?”
“...Iya, Om.”
“Hm.” Dia mengunyah lagi. “Enak.”
Pintu tertutup.
Nabila dan aku saling menatap. Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tertawa tanpa suara sampai bahunya berguncang dan dia hampir jatuh dari kursi.
Hari Minggu, di dapur keluarga Saheila, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan di depan Mama Nabila.
Aku tidak merencanakannya. Aku sedang membantu mencuci piring setelah makan siang, dan Nabila berdiri di depan kompor, menyeduh teh untuk semua orang. Dia memakai kaus kebesaran dan celana pendek, rambutnya dicepol dengan jepit kupu-kupu, jepit yang sama dengan hari kontrak dilaminasi, dan dia sedang bersenandung lagu yang masih belum kukenal sambil mengaduk teko.
Mama Nabila baru saja keluar dari dapur untuk mengambil sesuatu di ruang makan. Dapur kosong. Cuma kami berdua.
Aku menaruh piring terakhir di rak. Mengelap tanganku. Lalu, tanpa berpikir, aku berjalan ke belakangnya dan melingkarkan lenganku di pinggangnya. Menaruh daguku di bahunya.
Dia berhenti mengaduk. Berhenti bersenandung. Tapi dia tidak bergerak untuk melepaskanku. Sebaliknya, dia bersandar sedikit ke belakang, ke dadaku, dan kepalanya miring sedikit ke arah kepalaku.
“Honey,” katanya pelan.
Aku membeku. Honey. Itu baru.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak apa-apa. Pengen manggil aja.”
“Ulang.”
“Honey.”
“Sekali lagi.”
Dia menyikut perutku, tapi dengan lembut. “Nanti Mama masuk.”
“Mama kamu lagi di ruang makan.”
“Mama aku selalu muncul di saat yang salah.”
Tepat di saat itu, Mama Nabila muncul di ambang pintu dapur.
Dengan toples gula di tangan. Dan senyum yang, menurut perhitunganku, sudah ada di wajahnya sebelum dia melihat kami. Seolah dia sudah tahu apa yang akan dia lihat.
Nabila menegang di pelukanku. Aku menegang. Tapi entah kenapa, tidak satu pun dari kami melepaskan diri.
Mama Nabila menatap kami. Pelan. Dari atas ke bawah. Lalu dia berjalan masuk, menaruh toples gula di meja marmer di sebelah Nabila, dan berkata dengan suara yang sangat, sangat manis:
“Nak Devan, tehnya kurang manis?”
Aku menatap toples gula itu. Menatap Nabila, yang wajahnya sudah semerah kuah sambal. Menatap Mama Nabila, yang matanya berkilat-kilat seperti anak kecil yang baru menemukan harta karun.
“Udah manis banget, Tante,” kataku.
Mama Nabila menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya berkaca-kaca. Dia mundur selangkah, dua langkah, tiga langkah, sampai punggungnya membentur kulkas. Lalu dia berbalik dan berjalan keluar dapur dengan langkah cepat, dan dari ruang makan aku mendengar suaranya, keras dan bergetar:
“PA! PAPA! LIHAT DAPUR! LIHAT DAPUR SEKARANG!”
Nabila memukul lenganku. “DEVAN!“
“Kamu yang manggil Honey.”
“Kamu yang meluk!”
“Kamu yang nyender!”
Langkah kaki terdengar dari ruang makan. Langkah kaki yang berat dan teratur. Langkah kaki yang sudah kukenal.
Papa Nabila muncul di ambang pintu dapur.
Dia menatap kami. Aku masih memeluk Nabila dari belakang. Nabila masih bersandar di dadaku. Teko teh masih mengepul di atas kompor.
“Ehem,” kata Papa Nabila.
Kami tidak bergerak.
“Ehem.”
Kami masih tidak bergerak. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena kaki kami sudah membeku di lantai. Mungkin karena tidak ada satu pun dari kami yang mau jadi yang pertama melepaskan.
“Ehem.“
Tiga kali.
Aku tahu apa artinya tiga deham. Nabila sudah menjelaskannya di balkon Puncak, sambil tertawa. Satu deham, peringatan. Dua deham, saya di sini. Tiga deham...
Papa Nabila menoleh ke belakang, ke arah ruang tengah, di mana aku bisa mendengar suara TV dan game.
“Kenzo,” katanya dengan suara datar. “Bawa kakakmu pergi.”
Dari ruang tengah terdengar tawa Kenzo yang meledak. Lalu langkah kaki berlari. Lalu Kenzo muncul di ambang pintu, di sebelah Papanya, dengan HP di tangan, jelas sudah merekam sejak entah kapan.
“Kak,” katanya dengan senyum paling puas yang pernah kulihat di wajah remaja mana pun. “Ayo. Papa nyuruh.”
Nabila melepaskan diri dari pelukanku dengan wajah terbakar, menepuk-nepuk kausnya yang tidak perlu ditepuk, lalu berjalan keluar dapur dengan dagu terangkat dan langkah cepat. Kenzo mengikutinya sambil terus merekam.
Tinggal aku dan Papa Nabila di dapur. Dan teko teh yang masih mengepul.
Papa Nabila berjalan ke kompor. Mematikan apinya. Menuang teh ke satu cangkir. Menambahkan satu sendok gula dari toples yang tadi ditaruh Mama Nabila. Mengaduknya pelan.
Lalu dia menyesapnya, dan menatapku dari balik cangkir.
“Kamu bilang udah manis,” katanya.
“Iya, Om.”
Dia menyesap lagi. Lama. Lalu menaruh cangkirnya.
“Memang udah manis,” katanya.
Dan dia keluar dari dapur, membawa tehnya, meninggalkanku berdiri di sana dengan celemek ayam milik Kenzo waktu SD, yang ternyata sudah kupakai sejak mencuci piring tadi, dan dengan jantung yang tidak tahu apakah barusan aku dimarahi atau diterima.
Mungkin dua-duanya.
Dengan keluarga Saheila, aku mulai curiga, jawabannya selalu dua-duanya.
- 1 Sepuluh Detik
- 2 Briefing Kilat
- 3 Kemeja Pinjaman
- 4 Makan Malam Perkenalan
- 5 Margin, Katanya
- 6 Satu Malam Aja, Katanya
- 7 Kontrak Dilaminasi
- 8 Kenzo Curiga
- 9 Ulang Tahun Mama
- 10 Nak Devan
- 11 Lima Belas Hole
- 12 Kasir Arisan
- 13 Keluarga Saheila (+Devan)
- 14 Pasal Empat
- 15 Mentor Kenzo
- 16 Gerald Mampir
- 17 Hujan di Parkiran
- 18 Aku Melanggar Pasal Empat
- 19 Sepuluh Detik Versi Aku
- 20 Pacar Beneran, Katanya
- 21 Rem Blong
- 22 Ehem reading
- 23 Kirana
- 24 Cemburu Itu Lucu
- 25 Kamar 1107
- 26 Istirahat, Katanya
- 27 Launching
- 28 Atap
- 29 Tiga Puluh Detik
- 30 Malam Truk Tertahan
- 31 Barang Bukti
- 32 Bimo Keceplosan
- 33 Mode Ngambek
- 34 Papa Tahu dari Awal
- 35 Kami yang Terakhir Tahu
- 36 Sepuluh Detik Terakhir
- 37 Epilog — Lamaran Resmi