Chapter Nine
Proposal Pertemanan
POV: Arya
Dia datang hari Selasa jam empat sore, tepat waktu, membawa sebungkus martabak manis cokelat-keju dan setumpuk kartu putih yang diikat karet gelang.
Tidak ada kalimat kebetulan lewat. Itu yang pertama kali membuatku waspada.
Yang kedua adalah caranya berdiri. Biasanya dia langsung duduk di kursi lipat di sebelah kananku, menarik lututnya ke dada, dan mulai bertanya tentang palu-palu piano yang sedang kukerjakan. Hari ini dia berdiri di tengah bengkel, di antara grand piano dan meja kerja, dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Seperti orang yang akan membuka acara.
“Arya Mahendra,” katanya.
Aku meletakkan kunci setem.
“Hadir,” kataku, karena rasanya seperti absen.
Dia menahan senyum. Tidak berhasil sepenuhnya.
“Saya, selaku Pihak Pertama,” katanya, melepas karet gelang dari tumpukan kartu dengan gerakan yang sudah jelas dilatih, “pada hari ini, Selasa, tanggal dua puluh satu, bertempat di Bengkel Piano Mahendra, bermaksud mengajukan sebuah proposal resmi kepada Saudara, selaku Pihak Kedua.”
“Proposal apa?”
“Pertanyaan diajukan setelah pembacaan selesai.”
Aku diam.
Dia membalik kartu pertama dan mengangkatnya ke arahku, supaya aku bisa membaca huruf-huruf kapital yang ditulis dengan pulpen hitam:
PROPOSAL PERTEMANAN RESMI Untuk: Arya Mahendra Dari: Pemilik Sisi Kanan
“Kamu nulis Pemilik Sisi Kanan di dokumen resmi,” kataku.
“Itu nama resmiku di hp-mu. Konsistensi administratif.” Dia membalik kartu kedua. “Poin satu. Pihak Pertama berhak datang ke bengkel tanpa alasan palsu.”
“Kamu memang selalu pakai alasan palsu.”
“Makanya diresmikan. Biar aku nggak capek ngarang.” Kartu ketiga. “Poin dua. Pihak Kedua wajib membalas pesan lebih dari satu kata. Minimal dua. Tiga lebih baik.”
“Kalau aku jawab iya, iya?”
Dia menurunkan kartu dan menatapku dengan mata menyipit. “Itu dua kata, tapi melanggar semangat pasal.”
“Pasal punya semangat?”
“Pasal-pasalku punya semangat, Arya.” Kartu keempat. “Poin tiga. Pihak Kedua dilarang ngomongin dopamin kalau lagi digombalin.”
“Siapa yang nulis ini?”
“Cleo. Dia penasihat hukumku.”
Pembacaan berlanjut. Ada tujuh poin. Aku mendengarkan semuanya dengan kesungguhan yang sama seperti mendengarkan senar, karena dia membacanya dengan kesungguhan yang sama seperti memandu akad nikah.
Poin empat: Pihak Pertama berhak merajuk kalau Pihak Kedua membalas pesan dengan terlalu dingin.
Poin lima: Pihak Kedua wajib memberi tahu Pihak Pertama kalau ada lagu yang dia mainkan di piano, supaya Pihak Pertama bisa mendengarkan.
Poin enam ditulis dengan tinta berbeda. Tinta merah. Seperti ditambahkan di menit terakhir.
“Poin enam,” katanya, dan suaranya sedikit berubah, lebih rendah. “Pihak Kedua wajib makan siang dengan lauk selain telur.”
Aku mengangkat kepala. “Dari mana kamu tahu soal telur?”
“Kamu yang cerita. Minggu lalu. Waktu aku tanya kamu makan apa, kamu bilang nasi telur. Aku tanya kemarinnya, kamu bilang nasi telur. Aku tanya kemarinnya lagi—”
“Telur itu praktis.”
“Telur itu bukan kepribadian, Arya.” Dia menurunkan kartu itu, dan wajahnya berubah jadi sesuatu yang serius, sesuatu yang membuatku ingin memalingkan wajah. “Kamu kerja seharian sendirian di sini, bungkuk di atas piano, pakai satu mata yang minus. Kamu harus makan yang bener.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ibu juga bilang begitu, setiap Rabu malam. Tapi Ibu mengatakannya dari Magelang, dengan suara jangkrik di belakangnya, dan aku selalu bisa menjawab baik-baik saja, Bu dan menutup telepon.
Davina mengatakannya dari jarak dua meter, dengan martabak manis di tangan satunya.
“Jadi,” lanjutnya, kembali ke nada upacara, “mulai besok, Pihak Pertama akan mengirimkan makan siang ke bengkel. Setiap hari. Kecuali hari Pihak Pertama ada acara. Pada hari-hari itu, Pihak Pertama akan mengirim ojek dengan makanan dan foto wajah Pihak Pertama supaya Pihak Kedua tetap semangat.”
“Foto wajahmu buat apa?”
“Buat pengganti gizi.”
“Itu nggak ilmiah.”
“Poin tiga, Arya.”
“Itu soal dopamin, bukan gizi.”
“Semangat pasalnya sama.”
Dia membalik kartu ketujuh.
Dan di sana, dia berhenti.
Aku menunggu. Dia menatap kartu itu di tangannya seperti menatap sesuatu yang tertulis dalam bahasa yang dia lupa. Aku bisa melihat dari tempatku duduk bahwa ada dua kartu yang tersisa di belakangnya—kartu ketujuh yang sedang dia pegang, dan satu lagi di paling belakang yang tidak dia sentuh.
“Poin tujuh,” katanya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari tadi. “Proposal ini berlaku sampai diperbarui.”
“Diperbarui jadi apa?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya menatapku sebentar, lalu menunduk, lalu mengikat karet gelang kembali ke tumpukan kartu dengan jari-jari yang, aku perhatikan, sedikit tidak rapi.
“Pertanyaan boleh diajukan sekarang,” katanya ke kartu-kartu itu.
Aku memikirkan pertanyaanku. Ada banyak. Kenapa? adalah yang pertama. Kenapa perempuan yang bisa membuat seluruh aula miring ke arahnya mau repot-repot menulis tujuh pasal di kartu karton untuk berteman dengan laki-laki yang duduk di pojok. Kenapa dia mau mengirim makan siang empat belas kilometer. Kenapa dia mau berdiri di sisi yang bisa kulihat.
Tapi kenapa adalah pertanyaan yang jawabannya bisa membuat orang pergi. Aku belajar itu sejak kecil. Kalau kau bertanya kenapa seseorang baik padamu, kadang mereka berpikir, dan kadang setelah berpikir, mereka berhenti.
Jadi aku tidak menanyakan itu.
“Aku mau tambah satu pasal,” kataku.
Dia mengangkat kepala. “Pihak Kedua nggak berhak nambah pasal.”
“Kenapa?”
“Karena... karena ini proposal Pihak Pertama.”
“Pertemanan itu dua pihak.”
Dia membuka mulut. Menutupnya. Lalu, dengan wajah seseorang yang dikalahkan oleh logikanya sendiri, dia mengeluarkan satu kartu kosong dari saku kemejanya—ternyata dia menyimpan cadangan—dan menyerahkannya padaku bersama pulpennya.
Aku menulis. Hurufku kecil dan miring, seperti huruf orang yang lebih sering menulis angka daripada kata. Butuh waktu, karena aku ingin kalimatnya tepat. Seperti menyetel nada.
Lalu aku mengembalikan kartu itu padanya.
Dia membacanya.
POIN 8 (tambahan Pihak Kedua): Pihak Pertama nggak wajib senyum di bengkel.
Hening.
Aku melihat wajahnya berubah. Pelan, dari tepi ke tengah, seperti tinta yang meresap ke kertas. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya menatap kartu itu, lalu menatapku, lalu kembali ke kartu. Tangannya yang memegang kartu itu tidak bergerak.
“Kamu—” katanya, lalu berhenti.
“Di sini kamu nggak kerja,” kataku. “Jadi nggak usah.”
Dia tidak menjawab. Dia menatap kartu itu lama sekali. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga: dia menempelkan kartu itu ke dadanya, dengan kedua tangan, seperti orang memeluk sesuatu yang kecil dan rapuh.
Dia tidak tersenyum.
Itu yang paling kuingat dari sore itu. Dia tidak tersenyum. Wajahnya diam, dan matanya sedikit basah, dan dia berdiri di tengah bengkel dengan kartu karton di dada—dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat tidak sedang bekerja sama sekali.
Lalu, sangat pelan, lesung itu muncul. Tanpa senyum. Hanya dua lekukan kecil, seolah pipinya sendiri memutuskan untuk ikut, meskipun bibirnya tidak.
Aku tidak tahu itu bisa terjadi.
“Disetujui,” bisiknya.
Mulai hari Rabu, makan siangku datang setiap jam dua belas.
Hari Rabu: nasi, sayur lodeh, ayam goreng, tempe bacem. Di dalam kantong plastik ada kertas kecil berlipat: Ini bukan telur. Kalau kamu tukar ayamnya sama telur di warung sebelah, aku bakal tahu. Aku punya mata-mata. (Mata-matanya namanya Kevin.)
Hari Kamis: gudeg, krecek, telur pindang. Kertasnya: Oke ada telurnya. Tapi ini telur yang punya latar belakang budaya. Beda.
Hari Jumat, dia ada acara di Solo. Ojek datang jam dua belas lewat lima dengan sebungkus nasi rames dan satu lembar foto hasil cetak yang ditempel di atas kotak nasi. Foto wajahnya. Selfie di belakang panggung, dengan riasan MC lengkap dan dua jari membentuk huruf V di samping pipi. Di baliknya ditulis dengan spidol: Pengganti gizi. Dimakan pakai mata ya.
Driver ojeknya, mas-mas yang sama yang pernah mengantarnya ke bengkel, menyerahkan kotak itu padaku dengan wajah seseorang yang sudah terlalu banyak melihat.
“Mas,” katanya, “saya udah nganter mbaknya sebelas kali. Mbaknya itu kalau di motor senyum-senyum sendiri terus.”
“Oh.”
“Saya cuma mau bilang aja, Mas.” Dia menepuk bahuku—bahu kanan—dengan penuh wibawa. “Jangan disia-siain.”
Aku menatapnya pergi.
Aku memakan nasi rames itu sambil menatap foto yang kutempel di dinding bengkel, di atas meja kerja, di sebelah kalender dari toko cat. Aku tidak tahu kenapa aku menempelnya di sana. Dinding itu sebelumnya kosong. Aku suka dinding kosong.
Aku tidak mencabutnya.
Kevin menemukan foto itu hari Jumat sore.
Dia masuk ke bengkel sambil bicara—Kevin selalu masuk ke ruangan sambil bicara, seolah kalimatnya sudah dimulai di luar pintu—tentang penolakan Cleo yang ke-delapan belas. Lalu dia berhenti. Di tengah kalimat. Di tengah langkah. Satu kakinya masih terangkat.
Dia menatap dinding di atas meja kerjaku.
“Ar.”
“Hm.”
“Ada foto cewek di dinding bengkelmu.”
“Iya.”
“Di dinding. Bengkelmu. Yang selama sepuluh tahun isinya cuma kalender toko cat.”
“Iya.”
Kevin menurunkan kakinya pelan-pelan. Dia berjalan mendekati dinding seperti mendekati binatang liar yang bisa kabur kapan saja. Dia membaca tulisan spidol di balik foto yang sedikit mencuat di sudutnya.
“Pengganti gizi,” bacanya. “Dimakan pakai mata.”
“Itu gizi,” kataku.
“Itu—” Kevin menoleh padaku. Matanya berkaca-kaca. “Ar, aku udah dua puluh tahun jadi sahabatmu. Aku pernah kasih kamu poster band kesukaanku waktu SMP. Kamu gulung, kamu taruh di bawah kasur, sampai sekarang. Aku kasih kamu foto kita berdua waktu wisuda, dibingkai. Kamu taruh di laci.”
“Laci itu aman.”
“Dan cewek ini kirim selfie pakai tanda V, sekali, dan langsung ditempel di dinding.”
Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang benar yang bisa kukatakan tanpa membuat Kevin pingsan.
Kevin menatapku lama. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, memotret dinding itu dari tiga sudut berbeda, dan mengirimkannya ke seseorang.
“Kamu kirim ke siapa?”
“Ke ibumu,” kata Kevin. “Beliau berhak tahu.”
“Kevin.”
Itu pertama kalinya dalam dua puluh tahun aku merebut ponsel dari tangannya. Aku terlambat. Centangnya sudah biru dua. Rabu depan, Ibu akan menelepon dengan banyak pertanyaan, dan aku tidak punya satu pun jawaban yang bisa diucapkan dengan kalimat baik-baik saja.
Masalah datang di hari Sabtu, dalam bentuk poin dua.
Pemilik Sisi Kanan: udah makan?
Aku: Udah.
Tiga menit kemudian:
Pemilik Sisi Kanan: POIN DUA
Pemilik Sisi Kanan: PIHAK KEDUA MELANGGAR POIN DUA
Pemilik Sisi Kanan: ‘udah’ itu satu kata!!!!
Aku menatap layar. Aku mengetik ulang.
Aku: Udah, udah.
Pemilik Sisi Kanan: ARYA
Pemilik Sisi Kanan: itu dua kata tapi MELANGGAR SEMANGAT PASAL
Pemilik Sisi Kanan: aku merajuk. ini aku merajuk sesuai poin empat. aku merajuk resmi.
Lalu ponselku diam. Tidak ada meongan selama dua puluh menit.
Aku belum pernah dirajuk. Aku tidak tahu prosedurnya. Aku bertanya pada satu-satunya ahli yang kukenal.
Aku: Kevin. Davina merajuk. Aku harus ngapain.
Balasan Kevin datang dalam tiga detik, disertai tujuh emoji api:
Kevin: AKHIRNYA
Kevin: AR. INI HARI YANG KUTUNGGU-TUNGGU SEUMUR HIDUPKU
Kevin: ok dengerin. cewek merajuk itu bukan marah. cewek merajuk itu minta diperhatiin. jangan minta maaf doang. kasih sesuatu yang cuma kamu yang bisa kasih.
Aku: Apa?
Kevin: ya mana aku tahu, kan kamu yang kenal dia, aku cuma kenal teorinya
Aku meletakkan ponsel dan duduk diam di bengkel. Sesuatu yang cuma aku yang bisa kasih.
Aku melihat piano tegak di dinding kanan. Aku melihat garpu tala di atas kain flanel.
Poin lima: Pihak Kedua wajib memberi tahu Pihak Pertama kalau ada lagu yang dia mainkan di piano.
Aku duduk di depan piano itu. Aku menyalakan perekam suara di ponsel dan meletakkannya di atas tutup piano. Lalu aku memainkan lagu yang kumainkan waktu dia pertama kali datang ke bengkel—lagu yang turun seperti hujan di genteng dan naik lagi seperti orang yang memutuskan bangun pagi.
Hanya satu menit. Aku belum menyelesaikan bagian akhirnya. Aku belum pernah menyelesaikannya; lagu itu sudah bertahun-tahun di kepalaku tanpa ujung.
Aku mengirim rekamannya.
Di bawahnya, aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Aku menyetelnya sampai kalimatnya tepat, seperti menyetel nada. Lalu aku mengirimnya.
Aku: Ini lagu yang aku mainin waktu kamu pertama ke sini. Belum ada ujungnya. Aku belum pernah kasih dengar ke siapa-siapa selain kamu. Sesuai poin lima.
Aku menghitung kata-katanya. Tiga puluh. Mungkin pesan terpanjang yang pernah kukirim ke siapa pun.
Ponselku diam.
Satu menit. Dua. Lima. Aku mulai berpikir bahwa aku salah paham tentang merajuk. Bahwa ini bukan yang dimaksud Kevin. Bahwa seharusnya aku minta maaf saja.
Lalu ponselku mengeong. Bukan sekali. Mengeong terus-menerus, berurutan, seperti ada sekawanan kucing yang tiba-tiba masuk bengkel.
Pemilik Sisi Kanan: ARYA
Pemilik Sisi Kanan: arya aku dengerin 6 kali
Pemilik Sisi Kanan: aku lagi di belakang panggung dan aku nangis dan MUA-nya marah karena bulu mataku copot
Pemilik Sisi Kanan: rajukanku resmi dicabut
Pemilik Sisi Kanan: tapi kamu harus tanggung jawab bulu mataku
Pemilik Sisi Kanan: dan kamu harus kasih tahu aku kalau lagunya udah ada ujungnya. aku mau jadi orang pertama yang dengar.
Pemilik Sisi Kanan: itu bukan permintaan. itu pasal 9. baru aku tambahin barusan.
Aku membaca pesan-pesan itu di bengkel yang sunyi, di bawah foto wajahnya dengan dua jari berbentuk V yang menempel di dinding.
Lalu aku membalas. Tiga kata. Tidak melanggar semangat pasal mana pun.
Aku: Pasal sembilan disetujui.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan reading
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut