Chapter Twenty Five
Kebaikan yang Salah Tempat
POV: Arya
Selasa pagi, tirai itu sudah bukan tirai lagi.
Aku bangun di kasur lipat di ruang belakang bengkel, membuka mata, dan langit-langit di atasku tidak utuh. Bagian atasnya masih ada—noda air di dekat lampu, sarang laba-laba di sudut. Tapi bagian bawahnya, dari tengah ke bawah di sisi luar, tertutup. Abu-abu. Lebih gelap dari minggu lalu. Lebih lebar.
Aku berbaring diam dan menatapnya lama.
Aku sudah tahu sejak Sabtu malam. Di parkiran gedung di Jalan Magelang, waktu dia melambai dua kali di sisi kananku dan aku tidak melihatnya. Aku mendengar suaranya memanggil namaku, dan aku menoleh, dan dia sudah ada di sana, tiga meter jauhnya, di tempat yang seharusnya bisa kulihat sejak dua puluh meter.
Aku bilang lampunya silau. Itu benar. Lampu itu memang silau.
Tapi itu bukan alasannya.
dr. Hendra memeriksaku lebih lama dari minggu lalu. Obat tetes yang dingin. Pupil yang melebar. Cahaya terang yang disorotkan ke dalam mataku, ke atas, ke bawah, ke kiri.
Saat dia mematikan lampu alatnya, dia tidak langsung bicara. Dia duduk di kursinya, melepas kacamata berbingkai emasnya, dan meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati. Seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Melebar,” katanya.
“Iya, Dok.”
“Mas sudah tahu?”
“Sejak Sabtu.”
“Kenapa nggak langsung ke sini? Saya bilang, siang atau malam—”
“Saya mau pastiin dulu.”
Dia menatapku. Dengan pupil yang melebar, aku melihatnya sebagai bentuk kabur dengan lingkaran cahaya. Tapi aku mendengar napasnya. Turun. Lebih dari beberapa sen.
“Lasernya menahan sebagian,” katanya. “Tapi ada robekan baru. Di bawah. Dan lepasnya merambat. Makula masih aman—masih—tapi jaraknya makin dekat.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Mas harus operasi.”
Aku mengangguk.
“Vitrektomi. Seperti yang saya jelaskan minggu lalu. Saya masuk ke dalam mata, saya bersihkan cairannya, saya tempelkan retinanya kembali, saya laser lagi dari dalam. Lalu saya isi mata Mas dengan gas.” Dia berhenti. “Jadwal paling cepat di kamar operasi kami: Senin, hampir dua minggu lagi. Jadwal kami penuh. Saya taruh Mas di urutan pertama. Kalau ada yang batal lebih cepat, saya telepon.”
“Dua minggu aman, Dok?”
“Kalau Mas istirahat total. Nggak bungkuk. Nggak angkat apa-apa. Nggak kerja. Kalau bayangannya naik ke tengah—kalau huruf di tengah pandangan Mas mulai bengkok atau hilang—ke sini. Jam berapa pun. Saya nggak peduli jadwal.” Dia menatapku tajam. “Mengerti?”
“Mengerti.”
“Setelah operasi,” lanjutnya, lebih pelan, “Mas harus posisi menunduk. Telungkup. Wajah menghadap lantai. Sepanjang hari, sepanjang malam. Satu sampai dua minggu. Gasnya harus menekan retina dari dalam, dan gas naik ke atas, jadi wajah Mas harus menghadap ke bawah.”
“Dua minggu.”
“Mungkin kurang. Tergantung.” Dia berhenti. “Selama gas masih di mata, Mas nggak boleh naik pesawat. Nggak boleh ke dataran tinggi. Tekanan udaranya bisa bikin gasnya mengembang.”
Pesawat.
Aku memikirkan amplop di meja samping tempat tidurnya. Di bawah foto laut yang pudar. Raja Ampat, 2 orang.
“Berapa lama nggak boleh naik pesawat?”
“Sampai gasnya habis diserap. Enam sampai delapan minggu. Kadang lebih.”
Aku mengangguk lagi.
“Dan penglihatan Mas,” kata dr. Hendra, “selama gas masih ada, akan sangat buram. Seperti melihat dari dalam air. Pelan-pelan membaik seiring gasnya berkurang. Tapi hasil akhirnya—” Dia berhenti. “Saya sudah bilang minggu lalu. Saya nggak bisa janji seratus persen.”
“Saya ngerti, Dok.”
Dia menatapku lama.
“Mas akan butuh orang,” katanya. “Selama posisi menunduk. Buat bantu makan, bantu jalan, bantu tetes obat. Mas nggak bisa sendirian.”
“Ada teman saya.”
“Keluarga?”
“Ibu. Di Magelang.”
“Sudah dikabari?”
Aku tidak menjawab.
dr. Hendra menunggu. Lalu dia bertanya, dengan suara yang lebih pelan lagi, seperti orang yang tahu dia sedang menyentuh sesuatu yang bukan urusannya:
“Mas punya pasangan?”
Aku menatap tanganku di atas lutut. Kabur. Bercahaya.
“Punya, Dok,” kataku.
“Dia tahu?”
Aku tidak menjawab itu juga.
Aku tidak pulang ke bengkel. Aku duduk di bangku semen di bawah pohon ketapang di luar rumah sakit, di tempat yang sama dengan minggu lalu, dan menunggu pupilku mengecil.
Aku tidak menelepon Kevin kali ini. Aku ingin berpikir sendiri dulu.
Aku berpikir seperti menyetel piano. Dari bawah. Satu nada demi satu nada.
Nada pertama: hampir dua minggu lagi, aku operasi. Hasilnya tidak pasti. Kemungkinan terburuknya kecil, tapi tidak nol.
Nada kedua: setelah operasi, satu sampai dua minggu, aku harus menunduk. Tidak bisa melihat dengan jelas. Tidak bisa bekerja. Tidak bisa berjalan sendiri. Butuh orang untuk menyuapi, menuntun, meneteskan obat.
Nada ketiga: dia akan jadi orang itu. Aku tahu dia akan jadi orang itu. Dia akan datang setiap hari, membawa makanan, duduk di lantai di sebelah kasur, membacakan pesan-pesan, menarasikan dunia yang tidak bisa kulihat. Dia akan membatalkan acara-acaranya. Dia akan tersenyum di depanku, dan menarik napas empat kali di kamar mandi.
Nada keempat: dia sudah menanggung banyak. Sejak umur tujuh tahun. Orang tuanya. Delapan ratus tamu. Semua orang yang butuh dia tersenyum supaya mereka tidak fals.
Nada kelima: dan kalau operasinya gagal—kalau kanan juga hilang—dia akan menanggung aku. Seumur hidup. Laki-laki yang tidak bisa melihat apa-apa, yang harus dituntun ke mana-mana, yang tidak bisa menyetel piano, yang tidak bisa naik pesawat ke laut yang warnanya seperti foto di dindingnya.
Aku menatap parkiran yang bercahaya.
Di halaman SD itu, dia bilang aku boleh minta. Apa saja. Dan aku minta. Aku minta dia tetap di kananku.
Tapi aku minta itu waktu aku masih punya kanan.
Dari semua nada itu, aku menyusun satu akor. Dan akor itu terdengar seperti keputusan.
Aku tidak mau jadi satu lagi yang harus dia tanggung.
Aku tidak mau jadi alasan dia tidak pergi ke Raja Ampat.
Aku tidak mau dia berdiri di kananku sampai hari di mana kanan itu tidak ada lagi, dan dia tidak punya tempat berdiri, dan dia tetap tinggal karena kasihan, karena janji, karena dia orang yang tidak bisa meninggalkan siapa pun.
Dia pantas dapat orang yang bisa melihatnya utuh. Dari kiri dan kanan. Orang yang bisa melihat lambaiannya dari dua puluh meter. Orang yang bisa naik pesawat. Orang yang tidak akan membuatnya jadi MC seumur hidup untuk satu penonton yang buta.
Aku memegang kerikil di saku jaketku. Kerikil kecil abu-abu yang dia lempar dari kanan. Aku membawanya ke mana-mana sejak minggu lalu, aku tidak tahu kenapa.
Dia bilang, di depan warung burjo: Kalau suatu hari kamu nggak mau lagi, kamu harus bilang. Langsung. Jangan diem-diem.
Aku akan bilang. Langsung.
Aku tidak akan bohong. Aku tidak bisa bohong. Tapi ada kebenaran yang bisa dipilih. Aku sudah belajar itu dua minggu ini. Lagi di luar. Kontrol mata. Lampunya silau. Semua benar. Semua bukan semuanya.
Aku akan memilih kebenaran yang membuatnya pergi.
Kevin datang ke bengkel jam empat sore. Aku sudah memberitahunya lewat pesan. Satu kalimat. Senin, dua minggu lagi, operasi.
Dia masuk tanpa mengetuk. Dia berdiri di tengah bengkel, di antara dua kursi jati dari Jepara, dan menatapku. Aku duduk di KURSI ARYA. KURSI PEMILIK SISI KANAN kosong.
“Kamu udah bilang ke dia?” tanya Kevin.
“Belum.”
“Kapan?”
“Besok.”
Kevin menghela napas. Lega. Aku mendengarnya. Bahunya turun. “Oke. Oke, bagus. Aku bisa bantu. Aku bisa temenin kalau kamu mau. Kita cerita bareng-bareng, pelan-pelan, dia pasti ngerti, dia pasti—”
“Aku mau putus sama dia.”
Kevin berhenti bicara.
Hening di bengkel. Di luar, suara motor lewat. Suara tukang burjo memanggil pembeli.
“Apa?” kata Kevin.
“Besok. Di Sudut Seduh. Aku mau selesai.”
Kevin menatapku. Wajahnya berubah perlahan, dari bingung ke tidak percaya ke sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bahkan waktu kerikil pertama kena dahinya. Bahkan waktu dia mengubur Bento.
Marah.
“Kamu mau putusin dia,” kata Kevin. Pelan. Setiap kata dipisah. “Dua minggu sebelum operasi. Karena kamu sayang dia.”
“Karena dia pantas dapat yang lebih.”
“Itu,” kata Kevin, “logika paling bodoh yang pernah aku dengar seumur hidupku. Dan aku pernah nulis puisi soal lampu sen motor.”
“Kevin—”
“Nggak. Kamu dengerin aku.” Dia maju satu langkah. “Dia bilang dia nggak minta dijaga. Aku ada di situ, Ar, waktu dia ngomongin itu di grup, waktu dia cerita ke Cleo, aku dengar semuanya. Dia bilang dia mau dilihat. Dia bilang dia bakal keserempet seratus kali. Seratus satu kali. Dia pakai kata-kataku, Ar. Kata-kataku.”
“Dia belum tahu apa yang bakal dia tanggung.”
“Terus kasih tahu dia! Kasih tahu, terus biar dia yang milih!”
“Kalau aku kasih tahu, dia bakal tinggal.”
“BAGUS!”
Suara Kevin memantul di dinding bengkel. Salah satu senar piano tegak di dinding kanan ikut bergetar, beresonansi, dengan nada rendah yang panjang.
Aku menunggu sampai getarannya berhenti.
“Dia bakal tinggal,” kataku pelan, “karena dia nggak bisa ninggalin siapa pun. Bukan karena dia mau. Karena dia harus. Dari umur tujuh tahun dia harus. Dan aku nggak mau jadi satu lagi di daftar itu.”
Kevin menatapku.
“Kalau operasinya berhasil,” kataku, “dia bakal tetap di kananku, dan aku nggak tahu apakah dia di situ karena mau atau karena udah terlanjur. Kalau operasinya gagal—” Aku berhenti. “Kalau operasinya gagal, dia bakal jadi mataku seumur hidup. Dia bakal narasiin semua sisi. Kiri dan kanan. Dan dia nggak bakal pernah ke Raja Ampat, karena dia nggak bakal ninggalin aku sendirian.”
“Itu pilihan dia, Ar.”
“Itu bukan pilihan. Itu jebakan.”
Kevin membuka mulut. Menutupnya. Aku melihat matanya basah.
“Kamu mau bilang apa ke dia?” tanyanya akhirnya, dengan suara yang pecah. “Kamu nggak bisa bohong.”
“Aku nggak bakal bohong.”
“Terus?”
Aku menatap KURSI PEMILIK SISI KANAN. Bantal kucing oranye. Tempelan kertas dengan tulisan spidol Kevin.
“Duniamu terlalu ramai buat aku,” kataku. “Itu benar. Dunianya memang ramai. Delapan ratus tamu. Pasar malam. Orang tuanya. Dia pusat semua ruangan.” Aku berhenti. “Aku nggak bisa ke Raja Ampat. Itu juga benar. Aku nggak boleh naik pesawat dua bulan. Dan dia pantas dapat orang yang bisa lihat dia utuh. Itu yang paling benar.”
“Semua itu bener,” kata Kevin, “dan semua itu bohong.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bakal bilang ke dia,” kata Kevin. “Sekarang. Aku telepon dia sekarang juga—”
“Kamu janji.”
Kevin membeku, dengan ponsel setengah keluar dari saku.
“Di rumah sakit,” kataku. “Di bawah pohon ketapang. Aku minta, dan kamu janji.”
“Ar.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Jangan pakai itu. Jangan pakai janji itu buat ini.”
“Kamu janji, Kevin.”
Kevin menatapku sangat lama. Air matanya jatuh. Dia tidak menyekanya.
Lalu dia berbalik dan berjalan keluar. Dia membanting pintu hijau. Pintu itu memantul di kusennya yang mengelupas, dan bunyinya keras, dan senar-senar di semua piano di bengkel ikut bergetar, rendah dan panjang, seperti bengkel ini sendiri sedang mengerang.
Aku duduk sendirian di KURSI ARYA.
Satu menit. Dua. Lima.
Lalu pintu hijau terbuka lagi. Pelan.
Kevin masuk. Wajahnya merah. Matanya bengkak. Dia tidak bicara. Dia berjalan ke arahku, dan dia berdiri di sebelah kiriku. Di tempatnya. Di tempat yang sudah dua puluh tahun dia tempati.
Dia tidak bicara apa-apa. Aku tidak bisa melihatnya. Tapi aku mendengar napasnya. Dan aku tahu dia ada di sana.
“Aku benci kamu,” katanya akhirnya, pelan, ke udara.
“Aku tahu.”
“Aku tetap di sini.”
“Aku tahu.”
Kami diam lama. Di luar, sore berubah jadi malam.
Jam sembilan malam, ponselku mengeong.
Pacar (Pemilik Sisi Kanan) (Resmi): arya aku udah cek tanggal! libur panjang bulan depan aku kosong!! kita ke raja ampat ya??? voucher-nya berlaku setahun, tapi aku nggak sabar 🥺🐠🌊
Pacar (Pemilik Sisi Kanan) (Resmi): aku udah bikin daftar ikan yang mau aku narasiin buat sisi kirimu. ada ikan badut. ada pari manta. ada penyu!!! kamu pernah lihat penyu?
Pacar (Pemilik Sisi Kanan) (Resmi): hari ini mata kirimu udah dipuji belum? cantik. sampaikan ya 💙
Aku membaca pesan-pesan itu dengan huruf raksasa, satu kata demi satu kata, di bagian atas layar, karena bagian bawah sudah hilang di balik tirai.
Aku menyampaikannya. Pujian itu. Ke mata kiriku. Seperti biasa.
Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Lalu aku mengetik. Pelan. Setiap kata dipilih. Aku tidak akan bohong.
Aku: Besok bisa ketemu? Sudut Seduh. Jam empat.
Balasannya datang dalam dua detik.
Pacar (Pemilik Sisi Kanan) (Resmi): BISA!!! tempat pertama kita 🥺 ada apa? mau ngomongin raja ampat ya??
Aku menatap pertanyaan itu.
Aku tidak menjawabnya.
Aku meletakkan ponsel di meja kerja, di sebelah garpu tala. Aku mengeluarkan kerikil dari saku jaket dan meletakkannya di sebelahnya. Di tempatnya.
Kevin sudah tertidur di KURSI PEMILIK SISI KANAN, dengan kepala miring di sandaran dan bantal kucing di pangkuan. Aku tidak membangunkannya. Aku menyelimutinya dengan jaket abu-abuku—pasal tiga belas, pikirku, meskipun pasal itu untuk aku, bukan untuk dia.
Aku duduk di KURSI ARYA dan menatap gelap.
Di sudut bawah mata kananku, tirai abu-abu itu tidak bergerak. Dia hanya menunggu.
Seperti aku.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat reading
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut