← Separuh yang Kulihat

Chapter Sixteen

Cleo Bicara

POV: Davina

Cleo datang ke bengkel hari Rabu jam tiga sore, tanpa pemberitahuan, dengan kacamata hitam di kepala dan map plastik biru di tangan.

Aku sedang duduk di kursi lipat, di sebelah kanan Arya, menyuapinya potongan mangga dengan tusuk gigi karena kedua tangannya sedang memegang palu piano. Itu bukan hal yang direncanakan. Itu terjadi begitu saja. Dia bilang tanganku kotor, dan aku bilang buka mulut, dan dia membuka mulut, dan sejak itu aku sudah menyuapinya tujuh potong mangga dan dia belum protes satu kali pun.

Cleo berdiri di ambang pintu hijau dan menatap pemandangan itu.

Lama.

“Vin,” katanya.

“...Hai, Cleo.”

“Kamu nyuapin dia.”

“Tangannya kotor.”

“Kamu nyuapin dia pakai tusuk gigi bentuk hati.”

Aku menunduk menatap tusuk gigi di tanganku. Memang bentuk hati. Aku membelinya di minimarket kemarin. Satu pak isi lima puluh. Aku tidak punya pembelaan.

Cleo menurunkan kacamata hitam dari kepala ke hidungnya, seolah pemandangan di depannya terlalu silau untuk dilihat dengan mata telanjang.

“Aku mau pinjam cowokmu,” katanya. “Setengah jam.”

“Dia bukan cowokku.”

“Belum,” kata Arya dari sebelahku, datar, tanpa mengangkat kepala dari palu piano.

Aku menoleh padanya dengan kecepatan yang membuat leherku berbunyi.

Dia terus bekerja. Wajahnya datar. Tapi telinganya—

“Arya,” bisikku.

“Kamu yang bikin hukum alam,” katanya. “Tiga kali. Aku cuma ikut aturan.”

Di ambang pintu, Cleo menutup wajahnya dengan map plastik biru dan mengeluarkan suara seperti orang yang sedang sakit perut.


Kami pindah ke warung burjo di sebelah bengkel, karena Cleo bilang interogasi yang baik butuh Indomie.

Warung itu kecil, dengan meja kayu panjang dan kursi plastik merah, dan mas-mas penjaga warung yang sudah kenal Arya sejak lama. Dia langsung membuatkan es teh tanpa ditanya. Dua gula, untukku. Aku tidak tahu kapan Arya memberitahunya.

Cleo duduk di seberang meja. Arya duduk di sisi dinding, dengan dinding di kirinya. Aku duduk di sebelah kanannya.

Cleo membuka map plastik biru.

Di dalamnya ada selembar kertas HVS. Diketik. Dengan nomor. Aku melihat judulnya dari seberang meja: DAFTAR PERTANYAAN UNTUK SAUDARA ARYA (WAJIB DIJAWAB JUJUR).

“Cleo,” kataku. “Kamu bikin daftar.”

“Kamu bikin proposal pakai kartu MC. Aku bikin daftar. Kita sama-sama profesional.” Dia menatap Arya. “Kamu siap?”

“Siap.”

“Pertanyaan satu. Umur?”

“Dua puluh enam.”

“Pekerjaan?”

“Penyetel piano.”

“Penghasilan?”

“Cukup buat saya. Belum dihitung buat berdua.”

Cleo mengangkat alis. Dia mencatat sesuatu di pinggir kertas dengan pulpen merah. Pulpen yang sama, aku yakin, yang dia pakai untuk mengoreksi puisi Kevin.

“Riwayat pacaran?”

“Nggak ada.”

Pulpen Cleo berhenti. “Nggak ada?”

“Nggak ada.”

“Sama sekali?”

“Sama sekali.”

“Umur dua puluh enam?”

“Iya.”

Cleo menatapnya dari balik kacamata hitam yang masih di hidungnya. “Kenapa?”

Arya memikirkan pertanyaan itu. Aku melihatnya memikirkan. Sendok Indomie-nya berhenti di udara.

“Nggak ada yang nanya,” katanya akhirnya.

Hening di meja kami. Mas penjaga warung, yang sedang menggoreng telur di belakang, berhenti menggoreng.

Cleo menatap Arya lama. Lalu dia melepas kacamata hitamnya dan meletakkannya di atas meja. Tanpa kacamata, matanya terlihat lebih lembut. Sedikit saja.

“Pertanyaan lima,” katanya. Suaranya sedikit berubah. “Kamu tahu soal cowok yang dulu nyakitin aku?”

Aku menegang. Aku menceritakannya ke Arya di grup rahasia. Aku tidak meminta izin Cleo.

“Tahu sedikit,” kata Arya. “Dari Davina. Dia cerita supaya aku ngerti kenapa kamu nolak Kevin. Bukan buat gosip.”

“Kamu cerita ke Kevin?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Bukan hakku.”

Cleo menatapnya. Lalu dia menatapku. Aku menunduk.

“Maaf,” bisikku.

Cleo tidak menjawab. Dia kembali menatap Arya.

“Pertanyaan enam,” katanya. “Dan ini yang paling penting. Kamu kenal Kevin dua puluh tahun. Kamu kenal dia lebih dari siapa pun.” Dia meletakkan pulpen merahnya. “Dia bakal bosan, nggak?”


Arya meletakkan sendoknya.

Dia tidak langsung menjawab. Dia menatap mangkuk Indomie-nya, kuahnya yang mulai dingin, dan aku bisa melihatnya menyusun sesuatu. Seperti menyusun nada. Dari yang paling bawah.

“Waktu kelas empat SD,” katanya, “Kevin punya anjing. Anjing kampung. Warnanya cokelat, satu kupingnya patah. Namanya Bento.”

Cleo mengerutkan kening, tapi tidak memotong.

“Bento ketabrak motor di depan rumah Kevin. Kevin yang nemu. Dia gendong Bento ke belakang rumah, gali lubang sendiri pakai sendok semen, kubur sendiri. Nggak mau dibantu siapa-siapa. Dia nangis dua hari.” Arya berhenti. “Sampai sekarang, setiap tanggal empat belas Agustus, dia ke belakang rumah ibunya. Bawa biskuit. Taruh di atas kuburan Bento.”

Cleo tidak bergerak.

“Kevin itu kelihatan kayak cowok yang ninggalin,” kata Arya. “Semua orang ngira begitu. Karena banyak yang datang ke dia, dan dia nggak pernah serius sama siapa-siapa. Tapi yang ninggalin selalu mereka. Bukan Kevin. Kevin cuma nggak pernah ketemu yang bikin dia takut kehilangan.”

Dia mengangkat kepala dan menatap Cleo.

“Kevin nggak ninggalin sesuatu yang dia sayang. Dia bawa biskuit ke kuburan anjing selama enam belas tahun.”

Hening panjang.

Mas penjaga warung meletakkan telur goreng di atas Indomie pesanan pelanggan lain dengan sangat pelan, seperti takut mengganggu.

Cleo menatap kertas daftar pertanyaannya. Dia tidak membaca. Dia hanya menatap. Lalu dia melipat kertas itu jadi dua, dan jadi dua lagi, dan memasukkannya ke dalam map plastik biru.

“Anjingnya namanya Bento,” katanya pelan.

“Iya.”

“Nama yang jelek.”

“Kevin yang kasih nama. Umur sembilan tahun.”

“Kedengeran kayak Kevin banget.”

Dia tertawa. Pendek, kecil, hampir tidak terdengar. Tapi aku melihatnya. Aku melihat sahabatku tertawa tentang Kevin, bukan pada Kevin, dan itu pertama kalinya dalam dua bulan.


“Aku beli Indomie lagi,” kataku, berdiri. “Ada yang mau?”

“Aku,” kata Cleo.

“Aku juga,” kata Arya.

“Rebus atau goreng?”

“Rebus,” kata mereka bersamaan.

Aku berjalan ke dapur warung di belakang, di balik tirai plastik bermotif bunga. Mas penjaga warung sedang mencuci wajan. Aku memesan dua Indomie rebus pakai telur dan sawi, lalu menunggu di dekat tirai, dan dari sana, tanpa berniat menguping—kali ini benar-benar tanpa berniat—aku mendengar suara Cleo.

Pelan. Hampir berbisik.

“Satu pertanyaan lagi. Yang nggak ada di daftar.”

“Oke.”

“Kamu suka Davina?”

Aku membeku di balik tirai plastik bermotif bunga.

Aku tidak bisa melihat mereka. Aku hanya bisa mendengar. Dan untuk beberapa detik yang terasa seperti satu jam, yang kudengar hanya suara wajan di tangan mas penjaga warung, suara motor lewat di jalan, dan detak jantungku sendiri.

Lalu suara Arya. Pelan. Datar. Tapi ada sesuatu di bawahnya. Nada yang turun beberapa sen.

“Aku nggak tahu apakah aku boleh.”

Hening.

“Boleh?” ulang Cleo.

“Dia bisa dapat siapa aja. Kamu lihat sendiri. Waktu reuni, seluruh ruangan miring ke arahnya.” Arya berhenti. “Aku cuma bisa lihat separuh. Aku nggak tahu apakah orang kayak aku boleh suka sama orang kayak dia.”

“Itu bukan jawaban pertanyaanku.”

Lama. Sangat lama.

“Iya,” kata Arya akhirnya. Sangat pelan. “Aku suka dia.”

Aku menutup mulut dengan kedua tangan.

“Tapi kamu nggak boleh bilang ke dia,” lanjut Arya cepat. “Aku belum—aku belum tahu harus gimana. Aku nggak mau dia ngerasa harus. Dia udah cukup banyak harus. Harus senyum, harus bikin orang tuanya nggak fals, harus bikin semua orang nyaman. Aku nggak mau jadi satu lagi yang dia harus.”

Aku merasakan air mataku jatuh. Diam-diam. Ke punggung tanganku.

Di balik tirai plastik, Cleo tidak menjawab lama. Lalu aku mendengar suara kursi plastik berderit, seperti seseorang bersandar.

“Kamu tahu nggak,” kata Cleo, “kamu itu cowok paling bodoh yang pernah aku temuin.”

“Mungkin.”

“Lebih bodoh dari Kevin.”

“Itu susah.”

“Tapi kamu juga cowok pertama yang bikin aku mikir: mungkin nggak semua cowok sama.” Suara pulpen merah diketuk-ketukkan ke meja. “Oke. Aku nggak bakal bilang ke dia.”

“Makasih.”

“Tapi aku kasih kamu satu nasihat gratis.” Suara Cleo turun. “Dia bukan harus sama kamu. Dari semua hal di hidupnya, kamu satu-satunya yang dia mau. Beda, Arya. Beda jauh.”


Mas penjaga warung menyentuh bahuku. Indomie rebus sudah siap. Dua mangkuk, dengan telur setengah matang dan sawi hijau.

Dia melihat wajahku. Dia melihat air mata di punggung tanganku. Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menyodorkan selembar tisu dari kotak di sebelah kompor, lalu kembali mencuci wajan.

Aku menyeka wajahku. Aku menarik napas. Satu kali. Aku mengangkat nampan dengan dua mangkuk Indomie, dan aku melangkah keluar dari balik tirai plastik bermotif bunga dengan wajah paling normal yang bisa kubuat.

Cleo menatapku. Dia langsung tahu. Aku melihatnya langsung tahu—matanya melebar sedikit, lalu menyipit—tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menerima mangkuknya dan mulai makan.

Arya tidak tahu. Dia menerima mangkuknya dan bilang makasih, dan mulai makan dengan tenang, seperti tidak ada yang terjadi.

Aku duduk di sebelah kanannya. Aku tidak makan. Aku menatap sisi wajahnya. Sisi kanan. Sisi yang bisa melihatku.

Aku nggak tahu apakah aku boleh.

Selama ini aku mengira aku yang harus meyakinkannya bahwa aku serius. Bahwa aku bukan cuma penasaran. Bahwa aku tidak akan pergi.

Aku tidak pernah mengira dia sedang berdiri di sisi lain pintu yang sama, bertanya apakah dia boleh masuk.

“Kamu nggak makan?” tanya Arya, menoleh.

“Makan.” Aku mengambil sendok. Tanganku sedikit gemetar. “Arya.”

“Hm.”

Aku menatapnya. Aku ingin bilang semuanya. Aku ingin bilang kamu boleh, kamu boleh, kamu boleh sejuta kali. Tapi aku sudah janji pada Cleo di balik tirai—janji diam-diam yang tidak diucapkan—bahwa aku tidak akan membongkar sesuatu yang dia jaga.

Dan Arya bilang dia belum tahu harus gimana. Dia perlu waktu. Aku tahu soal waktu. Aku tahu soal senar yang dinaikkan pelan-pelan, satu per satu, supaya tidak putus.

Jadi aku melakukan hal yang paling kukuasai.

“Indomie-mu,” kataku, “ada sawi di gigi.”

Dia berhenti mengunyah. Dia menatapku. Lalu, sangat pelan, dia menutup mulutnya dan menjilat giginya di balik bibir, dengan wajah datar yang sangat serius.

“Masih?” tanyanya, menyeringai sedikit supaya aku bisa memeriksa.

“Masih.”

“Sekarang?”

“Sekarang udah.” Aku tersenyum. “Balas dendam. Buat pisang goreng.”

Di seberang meja, Cleo meletakkan sendoknya, menatap kami berdua bergantian, dan menggeleng pelan-pelan seperti orang tua yang melihat dua anak TK bermain pasir.

“Kalian berdua,” katanya, “sakit.”


Cleo pamit jam lima. Di depan warung, sebelum masuk ke mobilnya, dia menarikku ke samping. Jauh dari Arya, yang sedang membayar di dalam.

“Kamu dengar,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Aku dengar.”

“Kamu nggak bakal bilang ke dia?”

“Nggak.” Aku menatap pintu warung. “Dia bilang dia belum tahu harus gimana. Aku mau nunggu sampai dia tahu.”

Cleo menatapku lama.

“Kamu yang MC paling nggak sabaran se-Jogja,” katanya, “mau nunggu?”

“Aku belajar dari dia.”

Cleo menghela napas. Lalu, tanpa peringatan, dia memelukku. Pendek, keras, seperti pelukan orang yang tidak terbiasa memeluk.

“Hasil interogasi,” bisiknya di telingaku. “Lulus.”

Dia masuk ke mobil. Dia menyalakan mesin. Dia menurunkan kaca jendela.

“Dan satu lagi,” katanya.

“Apa?”

Dia mengangkat ponselnya. Di layar, aku melihat nama kontak: Buaya (Jangan Diangkat). Dan di bawahnya, sebuah pesan yang baru terkirim, dengan dua centang biru.

Cleo: Anjingmu dulu namanya Bento?

Aku menatap layar itu. Lalu menatap Cleo.

“Pertama kalinya,” katanya datar, “aku yang chat duluan.”

Dia menutup kaca jendela dan pergi sebelum aku bisa berteriak.

Dari dalam warung, Arya keluar dengan kembalian di tangan dan wajah bingung, dan menemukanku berdiri di pinggir jalan sambil menutup mulut dengan kedua tangan dan melompat-lompat kecil di tempat.

“Kamu kenapa?” tanyanya.

Aku menurunkan tanganku. Aku menatapnya. Laki-laki yang tidak tahu apakah dia boleh.

Sebelum aku bisa menjawab, ponsel di saku celananya bergetar. Bukan getar pesan. Getar telepon, panjang, tidak berhenti-berhenti. Arya mengeluarkannya. Nama di layar: Kevin.

Dia mengangkat. Dia belum sempat bilang halo.

“AR!” Suara Kevin keluar dari speaker ponsel begitu keras sampai mas penjaga warung menoleh dari dalam. “AR, CLEO CHAT AKU DULUAN! DULUAN, AR! DIA NANYA SOAL BENTO! DARI MANA DIA TAHU SOAL BENTO?! AKU NGGAK PERNAH CERITA SOAL BENTO KE SIAPA-SIAPA KECUALI KAMU DAN IBUKU DAN BENTO!”

Arya menjauhkan ponsel dari telinganya sekitar dua puluh senti.

“Aku yang cerita,” katanya.

Hening di seberang. Tiga detik.

“...Kamu cerita soal Bento ke Cleo?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Dia nanya kamu bakal bosan atau nggak.”

Hening lagi. Lebih lama. Lalu aku mendengar suara aneh dari speaker, suara seperti orang yang mencoba bicara sambil menahan sesuatu di tenggorokan.

“Ar,” kata Kevin, suaranya pecah. “Aku sayang kamu. Aku sayang kamu banget. Aku bakal beliin kamu kursi baru. Yang nggak reyot. Yang ada bantalnya.”

“Nggak usah.”

“Dua kursi. Satu buat Kak Davina.”

Arya menoleh padaku. Aku mengangguk cepat-cepat.

“Oke,” kata Arya. “Dua.”

Dia menutup telepon. Aku masih melompat-lompat kecil di tempat.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Aku cuma bahagia.”

Dia memikirkan jawaban itu. Lalu dia mengangguk, seolah itu masuk akal, dan berjalan kembali ke bengkel. Aku mengikutinya. Di sebelah kanannya.

Selalu di sebelah kanannya.