Chapter Ten
Operasi Sisi Kanan
POV: Davina
Masalahnya dimulai di Pasar Beringharjo.
Arya perlu membeli kain filt merah untuk mengganti bantalan palu piano gereja Klaten, dan penjual kain langganannya ada di lantai dua pasar, di los paling ujung. Aku menawarkan diri ikut. Aku menawarkan dengan argumen yang sangat kuat: aku belum pernah lihat kamu belanja, dan aku mau tahu kain filt itu kayak apa, dan poin satu, aku berhak datang tanpa alasan palsu, dan alasanku asli: aku mau sama kamu.
Arya diam tiga detik setelah alasan terakhir. Lalu dia bilang oke, dengan telinga merah.
Aku menganggap itu kemenangan.
Aku sudah merencanakan semuanya. Aku akan berjalan di sisi kanannya. Setiap saat. Tanpa dia minta. Aku sudah memperhatikan selama tiga minggu: setiap kali aku berada di kirinya, bahunya menegang. Setiap kali ada yang datang dari sisi itu, dia terkejut sedikit. Dan setiap kali dia menarik kursi atau menggeser posisi, itu supaya aku berada di kanan.
Jadi aku akan membuatnya tidak perlu repot. Aku akan jadi orang yang selalu ada di sebelah kanannya, seperti Kevin yang selalu ada di sebelah kirinya. Aku menyebut rencana ini Operasi Sisi Kanan, dan aku menuliskannya di grup rahasia Tim Sukses Buaya, meskipun rencana ini tidak ada hubungannya dengan buaya.
Pemilik Sisi Kanan: operasi sisi kanan dimulai hari ini
Pemilik Sisi Kanan: kamu nggak perlu ngapa-ngapain. kamu cukup jalan. aku yang atur posisi.
Dia: Oke.
Pemilik Sisi Kanan: POIN DUA
Dia: Oke, Komandan.
Aku menjerit kecil di kamar dan menendang selimut.
Pasar Beringharjo di Sabtu pagi adalah lautan manusia.
Ibu-ibu dengan kantong belanja. Turis dengan kamera. Kuli panggul dengan karung di kepala yang berteriak awas, awas, mbak, awas sambil berjalan cepat. Penjual batik yang menarik lengan orang lewat. Suara tawar-menawar, suara radio, suara ayam dari los belakang.
Aku langsung mengambil posisi di sebelah kanan Arya.
Tiga langkah kemudian, seorang kuli panggul datang dari depan, dan aku harus melompat ke samping untuk menghindar. Ke kiri. Ke sisi yang tidak bisa dia lihat.
Aku melihat bahunya menegang.
Aku melompat kembali ke kanan.
Sepuluh langkah kemudian, jalan menyempit di antara dua los batik, dan hanya cukup untuk satu orang. Arya berjalan di depan. Aku di belakangnya. Aku tidak ada di kanan, tidak ada di kiri, aku ada di belakang—dan aku menyadari bahwa belakang juga sisi yang tidak bisa dia lihat.
Begitu jalan melebar lagi, aku menyelinap ke depan dan kembali ke kanannya.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Operasi.”
“Kamu kelihatan kayak lagi main petak umpet sama diri sendiri.”
“Ini operasi rahasia, Arya. Jangan dikomentari.”
Di tangga menuju lantai dua, aku menabrak tiang.
Bukan tiang besar. Tiang besi kecil yang menyangga atap seng los penjual kerupuk. Aku terlalu sibuk memastikan aku tetap di kanan Arya, dan tidak memperhatikan kananku sendiri. Bunyinya dung yang pelan tapi memalukan, dan dahiku berdenyut.
Penjual kerupuk, seorang bapak tua, menatapku dengan belas kasihan yang dalam.
“Mbak, nggak papa?”
“Nggak papa, Pak.”
“Tiangnya nggak papa?”
“...Tiangnya juga nggak papa, Pak.”
Arya berhenti. Dia memutar badannya, menatap dahiku. Lalu dia menatap tiang. Lalu dahiku lagi.
“Merah,” katanya.
“Aku tahu.”
“Bakal benjol.”
“Aku tahu, Arya.”
Dia tidak tertawa. Arya tidak pernah tertawa keras. Tapi sudut bibir kanannya bergerak setengah milimeter, dan dia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sesuatu, dan menyerahkannya padaku.
Plester. Plester luka bergambar kucing oranye.
Aku menatapnya. “Kamu bawa plester?”
“Aku kerja pakai palu,” katanya. “Jariku sering kejepit.”
“Plester kucing?”
“Itu yang ada di warung.”
“Kamu sengaja pilih kucing.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya berbalik dan melanjutkan menaiki tangga. Tapi aku melihat telinganya.
Aku menempelkan plester kucing oranye di dahi, di atas benjolan yang mulai terbentuk, dan berlari kecil untuk kembali ke sisi kanannya.
Di lantai dua, sebelum sampai ke los kain filt, kami harus melewati deretan penjual batik.
Penjual batik di Beringharjo punya satu keahlian: mereka bisa melihat pasangan dari jarak dua puluh meter, dan mereka menganggap setiap laki-laki yang berjalan dengan perempuan sebagai dompet berjalan.
“Mas, mas! Pacarnya cantik, nggak dibeliin batik?”
Seorang bapak berkumis tebal sudah membentangkan selembar kain batik biru di depan kami, menghalangi jalan. Motif parang, warna dasar biru tua dengan garis-garis putih.
“Dia bukan pacarku,” kata Arya.
Bapak itu menatap Arya. Lalu menatapku. Lalu menatap plester kucing di dahiku. Lalu menatap posisiku, yang menempel di sisi kanan Arya seperti perangko.
“Belum, ya?” katanya, dengan senyum penuh pengalaman.
“Belum, Pak,” jawabku, sebelum Arya bisa bilang apa-apa.
Arya menoleh padaku dengan seluruh badannya. Aku tidak menoleh balik. Aku sibuk meraba kain batik biru itu dengan wajah paling polos yang bisa kubuat.
“Bagus ya, Arya,” kataku, dengan suara yang sengaja kubuat panjang dan manja. “Birunya bagus. Aku mau.”
“Kamu punya batik.”
“Aku nggak punya yang biru.”
“Kamu punya kemeja biru. Kemarin kamu pakai.”
“Itu kemeja. Ini batik. Beda.” Aku menarik ujung lengan kemejanya, dua kali, seperti anak kecil. “Beliin.”
Bapak penjual batik itu menatap Arya dengan tatapan sesama laki-laki yang penuh simpati. “Mas,” katanya pelan, “sudah, Mas. Nurut aja. Saya tiga puluh tahun menikah. Nurut itu lebih murah dari nggak nurut.”
Arya menatap kain itu. Menatapku. Menatap bapak penjual.
“Berapa?” tanyanya.
“Dua ratus, Mas.”
Arya tidak bicara. Dia hanya menatap bapak itu dengan tenang. Lima detik. Sepuluh detik.
“Seratus lima puluh,” kata bapak itu, gelisah.
Arya terus menatap.
“Seratus dua puluh lima, Mas, sudah, pas, saya rugi.”
Arya mengeluarkan dompet.
Aku memeluk kain batik biru itu sepanjang sisa perjalanan di pasar, dan aku tidak memberitahunya bahwa aku sebenarnya tidak butuh batik. Aku cuma ingin tahu apakah dia akan membelikannya.
Dia membelikannya.
Setelah kain filt merah dibeli—ternyata kain filt itu seperti karpet yang sangat tebal dan sangat mahal, dan Arya menawar dengan cara yang tidak pernah kulihat: dia tidak bicara sama sekali, dia hanya menatap penjualnya dengan tenang sampai penjualnya menurunkan harga sendiri—kami keluar dari pasar.
Jalan Malioboro di siang hari penuh. Trotoarnya lebar, tapi orang-orang berjalan ke segala arah. Andong lewat dengan bunyi sepatu kuda. Becak parkir di pinggir. Motor dan mobil merayap di jalan raya.
Aku tetap di kanannya. Aku bangga pada diriku sendiri. Operasi Sisi Kanan berjalan dengan tingkat keberhasilan delapan puluh persen, dikurangi satu insiden tiang.
Lalu Arya berhenti berjalan.
Dia berhenti mendadak di tengah trotoar, sehingga seorang turis Jepang di belakang kami hampir menabraknya dan harus membungkuk minta maaf. Arya membalas membungkuk, kaku, lalu melakukan sesuatu yang aneh.
Dia pindah ke sisi kiriku.
Aku menatapnya. Aku sekarang ada di sebelah kirinya. Di sisi yang tidak bisa dia lihat. Aku menghilang dari dunianya.
“Arya?”
“Jalan aja.”
“Tapi aku di kirimu.”
“Iya.”
“Kamu nggak bisa lihat aku.”
“Iya.”
“Terus kenapa—”
Sebuah motor lewat. Terlalu dekat dengan trotoar, terlalu cepat, dengan knalpot yang meraung. Aku merasakan anginnya menyentuh lengan kanan Arya, di sisi jalan raya.
Aku mengerti.
Di trotoar ini, jalan raya ada di sebelah kanan. Kalau aku berjalan di kanan Arya, aku berjalan di sisi jalan. Di sisi motor, mobil, andong, dan knalpot yang meraung. Aku yang terserempet, kalau ada yang terserempet.
Jadi dia memindahkanku. Ke kiri. Ke sisi yang tidak bisa dia lihat.
“Arya.”
“Hm.”
“Kamu lebih milih nggak bisa lihat aku,” kataku pelan, “daripada aku keserempet motor?”
Dia berjalan beberapa langkah tanpa menjawab. Aku berjalan di sebelah kirinya, di dalam ruang kosong yang sudah dua puluh enam tahun kosong, dan aku tahu dia tidak bisa melihat wajahku sekarang. Dia tidak bisa melihat bahwa aku berhenti bernapas.
“Aku bisa dengar kamu,” katanya akhirnya. “Langkahmu. Kamu jalannya agak nyeret di kaki kiri kalau lagi capek.”
“...Aku nggak tahu itu.”
“Aku tahu.” Dia menatap lurus ke depan. “Jadi nggak apa-apa. Aku nggak perlu lihat. Aku tahu kamu di situ.”
Aku berhenti berjalan.
Dia berhenti juga, satu langkah di depanku, dan memutar seluruh badannya untuk mencari aku. Dia menemukanku di sana, berdiri di tengah trotoar Malioboro dengan plester kucing di dahi dan kantong kain filt merah di pelukan, dengan wajah yang aku sendiri tidak tahu seperti apa.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku tidak bisa menjawab.
Tiga minggu. Tiga minggu aku merencanakan operasi supaya aku selalu ada di sisi yang bisa dia lihat. Supaya dia tidak perlu repot. Supaya dia tidak perlu menegang. Aku pikir aku yang menjaga dia.
Dan dia, tanpa bilang apa-apa, memilih untuk tidak melihatku. Supaya dia yang menjaga aku.
Aku harus menemukan solusinya.
Aku MC. Aku sudah menyelamatkan pernikahan dari listrik padam, pengantin yang pingsan, dan paman mabuk yang merebut mikrofon untuk menyanyikan lagu mantan. Aku tidak akan kalah oleh trotoar.
Aku berdiri diam dan berpikir. Arya menunggu, memperhatikanku dengan seluruh wajahnya, seperti menunggu nada berikutnya.
Lalu aku melihatnya. Di seberang jalan. Trotoar yang lain, di sisi yang berlawanan. Di trotoar itu, jalan raya ada di sebelah kiri orang yang berjalan ke arah yang sama dengan kami.
Kalau kami berjalan di sana, dan aku di sebelah kanannya—aku akan jauh dari jalan raya. Aku akan aman. Dan dia bisa melihatku.
“Arya,” kataku. “Kita nyebrang.”
“Kenapa?”
“Karena di seberang sana, aku bisa di kananmu dan nggak keserempet.”
Dia menoleh ke seberang jalan. Dia memproses. Aku melihat dia memproses, seperti melihat seseorang menghitung jarak antara dua nada. Lalu dia menoleh padaku lagi.
“Itu logis,” katanya.
“Aku tahu itu logis. Aku jenius.”
“Tapi mobil kita parkir di sisi yang ini.”
“Kita jalan di sana, terus nanti nyebrang balik.”
“Itu nyebrang dua kali.”
“Iya.”
“Malioboro itu padat. Nyebrangnya susah.”
“Iya.”
“Itu nggak efisien.”
“Arya.” Aku maju satu langkah. Aku sengaja maju ke sisi kanannya, ke sisi jalan, sebentar saja, sampai wajahku memenuhi pandangannya. “Aku di kananmu. Selama sisa hari ini. Aku nggak peduli harus nyebrang berapa kali.”
Dia menatapku. Lama.
Lalu dia mengangguk.
Kami menyeberang. Butuh empat menit dan bantuan seorang tukang parkir berompi oranye yang meniup peluit dan mengangkat tangan menghentikan lalu lintas dengan wibawa seorang jenderal. Di seberang, aku langsung mengambil posisi di kanannya. Jalan raya di sebelah kiri Arya. Aku aman. Dia bisa melihatku.
Operasi Sisi Kanan: sukses.
Kami berjalan sepanjang Malioboro seperti itu, sampai ujung, sampai Titik Nol. Lalu kami harus menyeberang balik untuk ke mobil, dan Arya tanpa kata pindah ke sisi kiriku di trotoar yang satunya, dan aku tidak protes lagi.
Aku tahu dia tahu aku di situ.
Di Titik Nol, kami beristirahat di bangku batu di depan Gedung Agung. Matahari sudah condong. Orang-orang berfoto di depan bangunan tua. Seorang pengamen memainkan gitar di dekat pohon beringin.
Aku duduk di sebelah kanannya. Kantong kain filt merah di pangkuanku. Plester kucing masih di dahi.
“Tahu nggak,” kataku, “aku kira operasiku gagal tadi. Waktu kamu pindah ke kiri.”
“Operasimu berhasil.”
“Berhasil gimana? Kamu nggak bisa lihat aku setengah perjalanan.”
“Kamu nyebrang dua kali,” katanya, “cuma biar bisa di kananku.”
“Terus?”
“Nggak ada yang pernah nyebrang dua kali buat aku.”
Aku menoleh. Dia sedang menatap pengamen di dekat beringin. Wajahnya tenang, datar, seperti biasa. Tapi ada sesuatu di cara dia mengatakannya. Nada yang sedikit turun. Beberapa sen.
“Kevin?” tanyaku.
“Kevin di kiri. Kevin nggak nyebrang. Kevin cuma ada.” Dia berhenti. “Itu beda.”
Aku memikirkan itu. Lalu aku merasakan sesuatu yang sangat nakal naik ke permukaan, sesuatu yang lebih mudah dirasakan daripada perasaan besar yang sedang mengembang di dada.
“Arya,” kataku, menurunkan suara.
“Hm.”
“Kalau aku bilang aku mau nyebrang seribu kali buat kamu, itu kedengeran kayak gombal atau kayak ancaman?”
Dia menimbang dengan sungguh-sungguh.
“Kayak masalah lalu lintas,” katanya.
Aku tertawa. Tawaku keras sampai pengamen di dekat beringin berhenti memetik gitar dan menatap kami. Aku menyandarkan kepala ke bahu kanan Arya, di tempat yang sudah kuputuskan akan jadi tempat parkirku yang resmi, dan tertawa ke dalam kemejanya yang bau kayu dan kain filt.
Dia membeku. Seluruh tubuhnya membeku, seperti senar yang tiba-tiba ditarik.
“Davina.”
“Hm?”
“Kepalamu.”
“Kenapa kepalaku?”
“Ada di bahuku.”
“Iya. Ini tempat parkir resmiku. Mulai hari ini.” Aku tidak mengangkat kepala. “Nanti aku tambahin di proposal. Pasal sepuluh.”
Dia tidak menjawab. Dia tidak bergerak. Tapi pelan-pelan, sangat pelan, aku merasakan bahunya berhenti menegang. Seperti senar yang dilepas perlahan, turun ke nadanya yang tepat.
Kami duduk seperti itu sampai pengamen di bawah beringin memainkan lagu ketiganya. Aku tidak tahu lagunya apa. Aku tidak mendengarkan. Aku mendengarkan detak jantung di bawah telingaku, yang terlalu cepat, terlalu keras.
Fals parah. Mungkin lima puluh sen.
Mungkin lebih.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan reading
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut