← Separuh yang Kulihat

Chapter Three

Kevin Jatuh Cinta

POV: Arya

Hari Senin, Kevin datang ke bengkel membawa sekantong plastik pakaian bersih yang dilipat rapi dan wangi pelembut rasa bunga sakura.

“Aku laundry,” katanya, meletakkan kantong itu di atas meja kerjaku, persis di sebelah palu penyetel. “Tiga kilo. Lima belas ribu.”

Aku tidak mengangkat kepala dari mekanik piano Bu Harjo. Palu nomor empat puluh satu macet. Filtnya sudah mengeras.

“Kamu punya mesin cuci.”

“Nomor yang dikasih Cleo,” kata Kevin, duduk di kursi tamu yang reyot dengan gaya aktor yang sedang memerankan duda, “ternyata nomor Laundry Kilat Bu Ningsih.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Kedengeran waktu itu. Cleo bilangnya nggak pelan.”

Kevin menatapku dengan rasa dikhianati. “Dan kamu nggak bilang apa-apa?”

“Kamu kelihatan bahagia.”

Dia membuka mulut, lalu menutupnya. Lalu dia mengeluarkan selembar kemeja dari kantong plastik, menciumnya dengan dramatis, dan berkata, “Bu Ningsih orangnya baik banget, Ar. Dia nanya aku mau pewangi apa. Belum pernah ada yang nanya aku mau pewangi apa.”

“Kamu laundry berapa kali?”

“Tiga.”

“Dari Sabtu?”

“Dari Sabtu.”

“Pakaianmu cukup buat tiga kali laundry?”

“Yang tadi pagi itu sarung bantal,” akunya. “Dan gorden.”


Hari Selasa, Kevin menemukan Instagram Cleo.

Dia menemukannya lewat Instagram Davina, yang dia temukan lewat foto-foto reuni yang diunggah panitia, yang dia temukan lewat grup alumni yang sudah tiga tahun dia bisukan. Dia menjelaskan semua ini padaku dengan semangat detektif yang baru memecahkan kasus pembunuhan.

“Terus?”

“Terus aku DM.”

“Terus?”

Dia menyodorkan ponselnya ke sisi kananku. Aku membaca.

Kevin: Hai, ini Kevin. Yang nomornya kamu kasih ke laundry. Aku sudah laundry 3 kali. Bu Ningsih titip salam.

Cleo: Bagus. Kamu jadi lebih bersih.

Kevin: Boleh aku traktir kamu kopi?

Cleo: Nggak.

Kevin: Teh?

Cleo: Nggak.

Kevin: Air putih?

Cleo: Aku bisa ambil air putih sendiri di dispenser.

Kevin: Aku bisa bawain dispensernya.

Cleo: [Dilihat]

“Dia nolak aku,” kata Kevin, mengambil ponselnya kembali dan menatap layarnya dengan mata berkaca-kaca. “Empat kali. Dalam satu percakapan. Belum pernah ada yang nolak aku empat kali dalam satu percakapan.”

“Kamu kelihatan senang.”

“Aku memang senang.” Dia menekan ponselnya ke dada. “Ar. Kayaknya ini cinta.”

“Kamu bilang begitu ke barista.”

“Barista itu bilang iya waktu aku ajak ngopi. Itu masalahnya. Semua orang bilang iya.” Dia bersandar. Kursi reyot itu berderit memperingatkan. “Cleo bilang nggak. Dan cara dia bilang nggak itu... Ar, cara dia bilang nggak itu kayak seni.”

Aku melepas palu nomor empat puluh satu dan mengganti filtnya. Di belakangku, Kevin terus bicara tentang bagaimana Cleo menggunakan titik di akhir kalimat seperti menggunakan pisau.

Aku tidak mendengarkan semuanya. Tapi ada satu hal yang kucatat: Kevin, yang biasanya menyebut nama perempuan seperti menyebut merek sepatu, mengucapkan nama Cleo seperti mengucapkan nama tempat yang ingin dia datangi.


Hari Rabu, aku bekerja di luar bengkel.

Klienku keluarga muda di perumahan di Sleman, dengan piano tegak bekas yang dibeli untuk anak perempuan mereka yang berumur delapan tahun. Namanya Kila. Dia duduk di lantai di sebelahku selama satu setengah jam, memperhatikan setiap gerakan kunci setem di pin-pin baja, dan bertanya pertanyaan yang lebih bagus dari kebanyakan orang dewasa.

“Om, kenapa senarnya bisa jadi salah?”

“Karena ditarik terus-terusan. Lama-lama capek, jadi kendor.”

“Kayak karet rambut Kila?”

“Kayak karet rambut Kila.”

Dia mengangguk puas. Lalu, sambil menatap wajahku dari bawah, dengan kejujuran brutal yang hanya dimiliki anak umur delapan tahun:

“Om, matanya kayak kucing.”

Ibunya, yang sedang lewat membawa segelas sirup untukku, hampir menjatuhkan gelasnya. “Kila!”

“Nggak apa-apa, Bu.” Aku menoleh ke Kila. “Iya. Kayak kucing. Tapi kucing yang cuma bisa lihat separuh.”

“Yang biru nggak bisa lihat?”

“Nggak bisa.”

Kila berpikir sebentar, menggigit ujung kuncir rambutnya.

“Keren,” putusnya.

“Makasih.”

“Kalau Kila di sebelah kiri Om, Om nggak bisa lihat Kila?”

“Nggak bisa.”

Dia langsung pindah ke kiriku, dengan wajah serius. “Kila ngilang,” bisiknya.

“Ke mana ya Kila,” kataku datar, menatap lurus ke depan.

Dia terkikik sampai terguling di lantai.

Ibunya meletakkan gelas sirup dengan wajah minta maaf yang dalam. Aku menggeleng pelan untuk bilang tidak apa-apa. Dan memang tidak apa-apa. Anak-anak selalu jadi bagian favoritku dari pekerjaan ini. Mereka tidak memalingkan wajah dan tidak mengerutkan kening. Mereka cuma bertanya, lalu memutuskan.

Keren.

Aku menyetel nada La di piano itu sampai tepat empat ratus empat puluh hertz, lalu memainkan satu tangga nada untuk Kila. Dia bertepuk tangan seperti aku baru saja melakukan sulap.


Rabu malam, Ibu menelepon.

Dia selalu menelepon Rabu malam, setelah pengajian di masjid dekat rumah, jam delapan lewat sedikit. Suaranya dari Magelang terdengar agak jauh, dengan suara jangkrik di belakangnya.

“Le, sudah makan?”

“Sudah, Bu.”

“Makan apa?”

“Nasi.”

“Lauknya?”

“Telur.”

“Telur terus.” Dia menghela napas, suara napas yang sudah kudengar selama dua puluh enam tahun. “Kerja lancar?”

“Lancar, Bu.”

“Matanya?”

“Baik, Bu.”

“Kacamatanya masih cocok?”

“Masih.”

“Kamu baik-baik saja, to?”

“Baik-baik saja, Bu.”

Aku selalu menjawab begitu. Sejak Bapak meninggal waktu aku kelas dua SMP, dan Ibu menangis di dapur dengan pintu tertutup supaya aku tidak dengar, aku memutuskan bahwa jawabanku untuk pertanyaan itu akan selalu sama. Ibu sudah punya cukup banyak hal untuk dikhawatirkan. Dia tidak perlu tambahan dari aku.

“Le,” kata Ibu, dengan nada sedikit lain. Nada yang dia pakai kalau mau menanyakan hal yang sebenarnya sudah dia tanyakan bulan lalu. “Sudah ada yang dekat?”

“Belum, Bu.”

“Belum atau nggak mau?”

“Belum, Bu.”

Hening sebentar. Jangkrik di Magelang terus bernyanyi.

“Ya sudah,” kata Ibu. “Yang penting sehat.”

Setelah telepon ditutup, aku duduk di bengkel yang gelap, dan untuk alasan yang tidak jelas, aku teringat dua lekukan kecil di pipi seseorang.


Hari Kamis, Kevin datang dengan rencana.

Aku tahu dia datang dengan rencana karena dia membawa dua gelas es kopi susu dari kedai favoritku, bukan kedai favoritnya. Kevin hanya membeli dari kedai favoritku kalau dia akan meminta sesuatu yang mahal.

“Cleo mau ketemu,” katanya, meletakkan satu gelas di sebelah kanan tanganku.

“Selamat.”

“Dengan syarat.”

“Nggak.”

“Aku belum bilang syaratnya.”

“Aku sudah tahu syaratnya. Nggak.”

Itu nggak yang pertama.

Kevin tidak terpengaruh. Dia duduk di kursi reyot, mendekatkannya ke meja kerjaku, dan mengeluarkan ponselnya seperti pengacara mengeluarkan barang bukti.

“Cleo bilang dia mau ketemu, kalau Davina ikut. Karena, kutip, aku nggak mau berduaan sama buaya tanpa saksi.” Dia menggulir layar. “Terus aku DM Davina.”

“Kamu DM Davina.”

“Dengan sopan. Sangat sopan. Aku pakai kak padahal dia adik kelas.” Dia berdeham. “Dan Davina bilang dia mau ikut—”

“Nggak.”

“—kalau,” Kevin menaikkan suaranya, “cowok yang matanya cantik itu ikut juga.”

Dia membacanya persis seperti itu, dengan intonasi yang lambat dan sengaja, sambil menatapku dari balik ponselnya.

Aku kembali ke mekanik piano. Palu nomor empat puluh dua. Kondisinya baik. Aku memeriksanya lagi, untuk memastikan.

“Telingamu merah,” kata Kevin.

“Panas.”

“Kipas anginnya nyala, Ar.”

“Nggak.”

Itu nggak yang ketiga. Yang kedua tadi terlewat.

Kevin tertawa. Tawanya lepas, lebar, penuh kemenangan. Lalu dia melancarkan serangan dari segala arah. Dia bilang tempatnya kafe kecil, tidak ramai. (Nggak.) Dia bilang cuma satu jam. (Nggak.) Dia bilang aku tidak perlu bicara, cukup minum. (Nggak.) Dia bilang dia yang bayar. (Nggak.) Dia bilang dia akan mencuci semua kain lap bengkelku di Laundry Kilat Bu Ningsih. (Nggak, meskipun tawaran itu sempat membuatku ragu setengah detik.) Dia bilang aku bisa pilih kursinya. (Nggak.) Dia bilang Davina kelihatan baik. (Nggak.)

Itu nggak yang kesebelas.

Lalu Kevin diam.

Kevin jarang diam. Kevin, dalam kondisi normal, bisa bicara sendiri di ruangan kosong dan tetap terhibur. Jadi saat dia diam, aku meletakkan kunci setem dan memutar kursiku menghadapnya.

Dia sedang menatap gelas es kopi susunya. Embunnya sudah menetes, membentuk lingkaran basah di meja. Tangannya—tangan Kevin yang selalu mantap memegang bola basket, mikrofon, pinggang perempuan di lantai dansa—sedikit gemetar di sekitar sedotan.

“Ar,” katanya. Pelan. Tanpa gigi. “Aku nggak pernah minta kamu ke keramaian. Kamu tahu itu, kan?”

“Aku tahu.”

“Dan ini bukan keramaian. Cuma empat orang.” Dia memutar gelasnya. “Aku... ini agak memalukan.”

“Kamu pernah kentut waktu upacara bendera kelas tiga SD.”

“Ini lebih memalukan dari itu.” Dia menarik napas. “Dia nolak aku, dan aku malah senang. Terus aku sadar, aku nggak pernah serius sama siapa-siapa. Nggak pernah. Semua orang bilang iya, jadi aku nggak pernah harus serius. Dan sekarang ada orang yang bilang nggak, dan aku...”

Dia berhenti.

“Aku takut,” katanya. “Kalau aku datang sendiri, aku bakal jadi Kevin yang biasa. Yang ngegombal. Yang pinter ngomong. Dan dia bakal lihat itu dan bilang nggak lagi, dan dia benar.” Dia mengangkat wajah. “Kalau kamu ada di sana... aku nggak tahu. Aku jadi lebih jujur kalau ada kamu. Kamu kayak... kayak alat setem buat aku.”

Aku menatapnya lama.

Dua puluh tahun. Kevin yang berdiri di kiriku di lapangan SD, waktu anak-anak kelas lima melempariku dengan kerikil dari sisi yang tidak bisa kulihat. Kevin yang menarikku dari kanan setiap kali dia membawaku ke mana pun, supaya aku bisa melihat ke mana kami pergi. Kevin yang tidak pernah, satu kali pun, memintaku masuk ke tempat yang membuatku ingin menghilang.

Dan sekarang dia meminta. Dengan tangan gemetar.

“Kafenya ada pojoknya?” tanyaku.

Kevin berkedip. Lalu wajahnya perlahan-lahan menyala, seperti lampu jalan satu per satu.

“Ada,” katanya. “Aku sudah cek. Pojok kanan belakang. Dinding di kiri.”

“Kamu sudah cek.”

“Aku sudah cek dua kali.”

Aku memutar kursiku kembali ke meja kerja.

“Sabtu?”

“SABTU!” Kevin melompat berdiri, dan kursi reyot itu akhirnya menyerah, satu kakinya patah dengan bunyi kering. Dia tidak peduli. Dia merangkulku dari belakang, dari kanan, dan menggoyang-goyangkan bahuku sampai kacamataku miring. “Ar, kamu yang terbaik. Kamu sahabat terbaik di seluruh Jogja. Di seluruh Indonesia. Aku bakal laundry-in semua kain lapmu—”

“Nggak usah.”

“—gratis—”

“Kevin.”

“—Bu Ningsih pasti senang—”

“Itu nggak yang kedua belas,” kataku. “Dan yang itu kamu menang.”

Kevin langsung mengetik sesuatu di ponselnya, jempolnya bergerak secepat orang main gim. Lima detik kemudian ponselnya berbunyi. Dia membaca, lalu menatapku dengan wajah seseorang yang baru memenangkan lotre dan ingin membagi hadiahnya dengan cara yang paling menyiksa.

“Davina bales,” katanya.

“Aku nggak nanya.”

“Mau aku bacain?”

“Nggak.”

“Nggak yang ketiga belas, dicatat.” Dia berdeham, lalu membaca dengan suara yang dibuat-buat lembut, seperti penyiar radio tengah malam: “Siiip! Bilangin ke dia ya, Kak. Aku mau lihat mata cantiknya lagi. Dua-duanya. Tapi yang kiri lebih lama.” Kevin berhenti. “Terus ada emoji muka senyum yang matanya merem. Yang agak... nakal.”

Aku memeriksa palu nomor empat puluh tiga. Lalu empat puluh empat. Lalu empat puluh tiga lagi, karena aku lupa sudah memeriksanya.

“Ada lanjutannya,” kata Kevin.

“Kevin.”

“P.S. Bilangin juga, pesan buat mata kirinya: aku belum selesai muji.”

Palu nomor empat puluh tiga terlepas dari jariku dan jatuh ke lantai dengan bunyi kecil.

Kevin menatap palu itu. Lalu menatapku. Lalu dia duduk di lantai bengkel—karena kursinya sudah patah—dan tertawa sampai berguling, persis seperti Kila, anak umur delapan tahun, tadi siang.

“Mata kirimu,” katanya di antara tawa, “punya fans, Ar.”

Aku memungut palu itu dan meniup debunya. Tidak ada gunanya menjawab. Tidak ada jawaban yang bisa kuberikan yang tidak akan dipakai Kevin untuk menyiksaku selama sepuluh tahun ke depan.

Jadi aku diam. Dan di dalam diam itu, di tempat yang tidak bisa dijangkau Kevin, aku menyampaikan pesan itu kepada mata kiriku.

Mata kiriku, seperti biasa, tidak melihat apa-apa. Tapi rasanya dia mendengar.


Malamnya, setelah Kevin pulang sambil bersiul dan membawa kaki kursi yang patah sebagai “kenang-kenangan”, aku duduk sendiri di bengkel dengan lampu meja menyala.

Aku mengambil ponsel. Aku tidak punya nomor Davina. Aku tidak punya Instagram. Satu-satunya yang kupunya dari malam reuni itu hanya dua gambar yang tidak bisa kuhapus dari kepala: seorang perempuan menarik napas empat kali di balik pilar, dan perempuan yang sama tertawa sampai membungkuk karena sesuatu yang kukatakan tanpa niat melucu.

Cowok yang matanya cantik.

Aku melepas kacamata dan menatap bayanganku di kaca jendela bengkel yang gelap. Mata hitam dan mata azure menatap balik. Yang satu melihat. Yang satu tidak.

Tidak ada yang pernah menyebut mata ini cantik. Aneh, iya. Unik, kadang-kadang, kalau orangnya sopan. Keren, sekali, oleh anak umur delapan tahun. Tapi tidak pernah cantik.

Aku memakai kacamataku kembali.

Aku tidak berharap apa-apa. Aku bukan orang yang berharap. Orang yang separuh dunianya tidak ada belajar sejak kecil untuk tidak meminta lebih dari yang bisa dia lihat. Itu bukan sedih. Itu hanya cara bertahan, seperti menaruh orang di sebelah kanan dan duduk di pojok dengan dinding di kiri.

Aku hanya penasaran.

Penasaran apakah dua lekukan kecil itu akan muncul lagi.

Hanya itu. Penasaran seorang penyetel piano pada satu nada yang kadang pas, kadang tidak. Tidak lebih.

Aku mematikan lampu meja.

Di gelap, telingaku masih terasa panas.