← Separuh yang Kulihat

Chapter Two

Cowok di Pojok

POV: Davina

Hari itu aku sudah tersenyum selama sebelas jam.

Jam enam pagi, aku berdiri di pelaminan sebuah gedung di Jalan Solo, memegang mikrofon, memandu akad nikah pasangan yang pengantin laki-lakinya tiga kali salah menyebut nama mertua. Jam sepuluh, resepsi. Jam dua siang, sesi foto keluarga besar yang tidak kunjung selesai karena ada satu tante yang selalu merasa kurang di tengah. Jam empat, aku pulang, mandi, berbaring lima belas menit dengan kompres dingin di pipi.

Jam enam, Cleo datang menjemputku.

“Satu jam,” katanya waktu itu, sambil menyemprot parfum ke pergelangan tanganku tanpa izin. “Foto, makan, pulang. Aku janji.”

Sekarang jam sembilan malam. Kami masih di aula.

“Kak Davina! Foto dong!”

“Davina, kamu MC di nikahan sepupuku bulan lalu, kan? Yang di Hotel Tentrem?”

“Vin, kamu nggak berubah sama sekali, ya ampun, masih cantik banget.”

Aku tersenyum. Aku berpose. Aku menjawab. Aku ingat nama sepupu itu, dan nama tamu yang pingsan di pernikahan itu, dan warna gaun ibunya. Aku bertanya balik tentang pekerjaan mereka, anak mereka, kucing mereka. Aku bagus dalam hal ini. Aku sudah melakukannya sejak umur tujuh tahun, sejak aku menemukan bahwa kalau aku tersenyum di meja makan, Papa dan Mama berhenti bicara dengan suara tipis yang menakutkan itu dan mulai tertawa lagi.

Senyum adalah pekerjaan pertamaku. Aku bahkan belum digaji.

Cleo berdiri di sebelahku seperti pengawal pribadi dengan gaun hitam. Setiap kali ada laki-laki yang terlalu lama menatap, dia mengangkat sebelah alis. Hanya itu. Tidak ada kata-kata. Laki-laki itu kemudian tiba-tiba ingat dia perlu mengambil minum.

“Aku perlu napas,” bisikku padanya.

“Pilar,” bisiknya balik, tanpa menoleh. “Jam sembilan. Aku jaga.”

Dia sudah hafal. Cleo sahabatku sejak kelas sepuluh, dan dia satu-satunya orang yang tahu soal pilar.


Setiap ruangan punya pilar. Atau tiang, atau pintu toilet, atau lorong samping. Tempat di mana tidak ada yang melihat.

Pilar di aula ini besar, di dekat panggung. Di baliknya, keributan terdengar seperti dari dalam air. Aku bersandar ke semennya yang dingin, membiarkan bahuku jatuh, dan menekan ujung-ujung jariku ke pipi. Otot di sana berdenyut. Setelah sebelas jam, pipi terasa seperti dua karet gelang yang ditarik terlalu lama.

Aku menarik napas. Empat kali. Seperti biasa. Satu untuk bahu, satu untuk pipi, satu untuk dada, satu untuk kembali.

Lalu aku memakai senyumku lagi dan melangkah keluar.

Aku baru tiga langkah dari pilar ketika merasakannya. Perasaan aneh di tengkuk, seperti ada yang memanggil namaku dengan suara yang sangat pelan. Aku menoleh setengah. Di bayangan dekat panggung, di sebelah piano yang ditutup kain batik, ada seseorang duduk di kursi lipat.

Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Hanya siluet, dan kilatan cahaya lampu aula di kacamatanya.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa—baru saja—dilihat.

Bukan ditatap. Aku sudah terbiasa ditatap. Ditatap itu seperti hujan; kau basah sedikit, lalu kering sendiri. Ini lain. Ini seperti seseorang membaca buku harianku dan tidak mengatakan apa-apa.

Aku kembali ke Cleo, dan melupakannya.

Setidaknya aku mencoba.


“Buaya,” desis Cleo. “Arah jam dua belas. Mendekat dengan kecepatan tinggi.”

Aku mengikuti arah matanya.

Laki-laki itu—aku kenal wajahnya samar-samar, kakak kelas, anak basket, namanya selalu disebut di pengumuman lomba—berjalan ke arah kami dengan senyum yang bisa dipakai untuk iklan pasta gigi. Rambutnya rapi. Kemejanya disetrika sampai lipatannya kelihatan tajam. Wanginya sampai lebih dulu, tiga langkah sebelum orangnya.

Dan dia menyeret seseorang.

Seseorang itu jalan setengah langkah di belakangnya, dengan wajah orang yang sedang dibawa ke dokter gigi. Tinggi, kurus, kemeja abu-abu polos yang tidak disetrika setajam temannya. Kacamata berbingkai tipis.

Laki-laki dari pojok.

“Hai,” kata si buaya, berhenti di depan kami. Dia menatap Cleo. Hanya Cleo. “Tadi aku belum selesai kenalan. Aku Kevin.”

“Aku nggak nanya,” kata Cleo.

“Aku tahu. Makanya aku kasih tahu duluan, biar kamu nggak repot nanya.”

Aku menahan tawa. Itu lumayan.

Cleo mengangkat alis. Senjata utamanya. Tapi Kevin tidak mundur. Dia malah tersenyum lebih lebar, dan menepuk bahu temannya.

“Ini Arya. Sahabatku.”

“Aku juga nggak nanya soal dia.”

“Nggak apa-apa,” kata laki-laki berkacamata itu—Arya—dengan suara datar yang tenang, seperti permukaan kolam. “Aku juga nggak mau ditanya.”

Tawaku lepas.

Aku tidak sempat menahannya. Tawa itu keluar begitu saja, dari tempat yang lebih dalam dari tempat senyum-senyumku yang biasa. Cleo menoleh padaku dengan tatapan kamu-di-pihak-siapa-sebenarnya. Kevin tampak sangat bangga, seolah itu leluconnya.

Dan Arya bergerak.

Gerakannya kecil, hampir tidak kelihatan. Aku berdiri di sebelah kirinya. Dia melangkah setengah, berputar sedikit, sampai tiba-tiba aku berada di sebelah kanannya. Dia melakukannya dengan begitu alami, seperti orang yang menggeser gelas supaya tidak tersenggol.

Aku mendongak untuk bertanya kenapa.

Dan saat itu aku melihat matanya.

Dari dekat, di bawah lampu aula, dengan lensa kacamata yang memantulkan cahaya: mata kanannya hitam, dengan lingkar cokelat tipis seperti cincin di sekitar pupil. Mata kirinya biru.

Bukan biru yang biasa. Bukan biru lensa kontak yang terlalu terang. Biru yang dalam, jernih, sedikit kehijauan di pinggirnya—warna laut dangkal di foto-foto liburan yang tidak pernah bisa kubayar. Warna yang tidak pernah bisa ditiru cat tembok mana pun.

“Cantik,” kataku.

Aku bilang itu keras-keras.

Ya Tuhan. Aku bilang itu keras-keras.

Arya menatapku. Dengan mata kanannya, kurasa. Aku belum tahu waktu itu.

“Yang kiri?” tanyanya.

“...Iya.”

“Dia nggak bisa lihat,” katanya. “Jadi dia nggak tahu lagi dipuji. Nanti aku sampaikan.”

Sesaat aku tidak bergerak.

Lalu aku tertawa lagi. Lebih keras dari tadi. Aku tertawa sampai membungkuk sedikit dan harus memegang lengan Cleo, dan pipiku sakit lagi—tapi sakitnya lain. Sakit yang tidak minta dipijat.

“Kamu—” Aku mengangkat tangan, masih terengah. “Kamu selalu ngomong begitu ke orang yang baru kamu kenal?”

“Aku jarang kenalan sama orang.”

“Kelihatan.”

“Makasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Aku tahu,” katanya. “Tapi kamu bilangnya sambil ketawa, jadi aku ambil yang bagus aja.”

Di sebelah kami, Kevin sudah memanfaatkan kekacauan kecil itu untuk menggiring Cleo dua langkah ke samping. Aku mendengar potongan-potongan: “—cuma nomor telepon, bukan KTP—” dan “—kamu pikir aku bakal—” dan “—aku orangnya gigih—” dan “—aku orangnya punya semprotan merica—”

Aku ditinggal berdua dengan laki-laki dari pojok.


Biasanya, di saat seperti ini, aku tahu persis apa yang harus kulakukan. Ada naskah. Tanya kerja di mana, tinggal di mana, dulu kelas berapa. Tertawa di tempat yang tepat. Mengangguk. Menjaga percakapan tetap mengalir seperti air di selokan: tidak ada yang tersumbat, tidak ada yang meluap.

Tapi dengan orang ini, aku tidak mau pakai naskah.

Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena aku terlalu capek. Mungkin karena dia berdiri di sana tanpa berusaha membuatku menyukainya, dan itu terasa seperti jendela yang dibuka di ruangan pengap.

Yang keluar dari mulutku kemudian bukan naskah. Itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan membuatku sendiri kaget.

“Kamu dari tadi ngeliatin aku, ya?”

Aku menunggu dia mengelak. Laki-laki selalu mengelak. Nggak kok. Ge-er. Aku lagi lihat panggung.

“Iya,” katanya.

Aku berkedip.

“...Kok ngaku?”

“Kamu nanya.”

“Orang biasanya bohong kalau ditanya begitu.”

“Aku biasanya nggak ngobrol sama cewek, jadi aku belum sempat belajar bohongnya.”

“Jadi aku cewek pertama yang kamu ajak ngobrol?”

Dia berpikir. Benar-benar berpikir, dengan kening sedikit berkerut, seolah aku menanyakan soal matematika.

“Bulan ini,” katanya akhirnya. “Kamu yang kedua. Yang pertama kasir minimarket. Dia nanya aku mau pulsa atau nggak.”

“Terus kamu jawab apa?”

“Nggak.”

“Obrolan yang dalam.”

“Lumayan,” katanya serius. “Dia juga nanya mau struk atau nggak.”

Aku menutup mulut dengan punggung tangan. Aku tidak akan tertawa lagi. Aku sudah tertawa dua kali. Tiga kali itu terlalu banyak untuk orang yang baru kukenal tiga menit.

“Oke,” kataku setelah bisa menguasai diri. “Kenapa ngeliatin aku?”

Dan dia menjawab, dengan suara yang tenang dan pelan dan tidak menghakimi sama sekali:

“Kamu capek senyum, ya?”

Dunia di sekitarku seperti berhenti berdenting.

Dangdut koplo masih main. Orang-orang masih tertawa. Kevin masih merayu, Cleo masih menolak. Tapi semua itu tiba-tiba menjauh, seperti suara dari dalam air, seperti suara di balik pilar.

Tidak ada yang pernah menanyakan itu padaku.

Tidak ada. Tidak Mama. Tidak Papa. Bahkan Cleo, yang tahu soal pilar, tidak pernah menanyakannya dengan kata-kata. Semua orang melihat senyumku. Tidak ada yang bertanya berapa biayanya.

Aku merasakan pipiku panas. Dan aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan dalam keadaan telanjang begitu: aku menyerang.

“Wah,” kataku, memiringkan kepala, menurunkan suara. “Baru kenal lima menit udah perhatian banget. Kamu segini juga ke semua cewek, atau aku spesial?”

“Aku sudah bilang, aku jarang ngobrol sama cewek.”

“Jadi aku spesial.”

“Kamu sembunyi di balik pilar itu,” katanya, menunjuk dengan dagunya ke arah pilar jam sembilan. “Kamu pijat pipimu. Napas empat kali. Terus senyum lagi. Dan senyum yang itu nggak ada lesungnya.”

Tanganku naik sendiri ke pipi.

“...Lesung?”

“Kalau kamu ketawa beneran, ada. Kayak tadi. Dua. Kalau kamu lagi kerja, nggak ada.”

“Aku lagi nggak kerja.”

“Tadi kamu kerja,” katanya. “Sepanjang malam.”

Aku menatapnya. Aku tidak tahu itu. Aku sungguh tidak tahu bahwa lesung pipitku bisa datang dan pergi. Aku punya dua lesung pipit sejak lahir, dan orang-orang selalu memujinya, dan aku selalu mengira mereka ada di sana setiap kali aku tersenyum. Tapi laki-laki ini—yang baru lima menit kukenal, yang separuh dunianya tidak bisa dilihat—bilang bahwa lesung itu hanya muncul saat aku jujur.

Aku seharusnya merasa tersinggung. Seharusnya aku merasa diintip.

Tapi yang kurasakan justru lega. Lega yang aneh dan tidak nyaman, seperti melepas sepatu yang terlalu sempit setelah seharian berdiri.

Aku mencondongkan tubuh. Aku maju selangkah, ke sisi kanannya, sampai wajahku memenuhi separuh dunianya yang bisa melihat.

“Kalau sekarang?” bisikku. “Ada, nggak?”

Dia menatapku. Lama. Lebih lama dari yang sopan. Aku bisa melihat bayanganku sendiri di lensa kacamata kanannya.

“Ada,” katanya.

“Berarti aku lagi nggak kerja.”

“Berarti kamu lagi nggak kerja.”

Aku mundur. Jantungku berdetak dengan cara yang tidak kukenali. Aku tidak tahu siapa yang menang dalam percakapan barusan, dan aku biasanya selalu tahu.

“Aku Davina,” kataku.

“Arya.”

“Aku tahu. Temanmu udah bilang.” Aku mengangkat dagu. “Arya, kamu kerja apa sih, kok jeli banget?”

“Setel piano.”

“Hah?”

“Aku kerja dengerin yang salah.”


Cleo menyelamatkanku—atau menculikku—lima menit kemudian. Dia menarik lenganku dengan wajah seseorang yang habis bernegosiasi dengan teroris.

“Kita pulang.”

“Kenapa?”

“Aku kasih dia nomor.”

“Kamu kasih dia nomor?”

“Nomor laundry langganan kosanku,” katanya, datar. “Laundry Kilat Bu Ningsih. Lima ribu sekilo. Biar dia berguna sedikit dalam hidupnya.”

Aku menoleh ke belakang. Kevin sedang menatap layar ponselnya dengan wajah paling bahagia di dunia, menyimpan nomor laundry dengan nama yang mungkin berisi emoji hati. Di sebelahnya, Arya sudah tidak ada.

Aku mencarinya. Dan aku menemukannya di dekat panggung lagi. Di dekat piano. Pak Darto, penjaga sekolah kami dulu, sedang berdiri di sebelahnya.

Aku tidak berniat menguping. Tapi aula mulai sepi, dan suaranya yang tenang terbawa ke tempatku berdiri.

“Pak, nada La-nya turun. Sekitar dua belas sen. Kalau sekolah mau, saya bisa setel. Nggak usah bayar.”

“Lho, Mas, masa nggak bayar.”

“Saya dulu dikasih kunci perpustakaan gratis, Pak.”

Pak Darto tertawa. Arya menutup kain batik di atas piano dengan hati-hati, seperti menyelimuti orang yang sedang tidur. Lalu dia berjalan ke pintu samping, sendirian, tanpa menoleh.

Aku tidak tahu apa itu sen. Aku tidak tahu kenapa nada bisa turun. Tapi tiba-tiba aku sangat ingin tahu.


Di mobil, Cleo menyetir dengan satu tangan dan menatapku dengan ekor matanya setiap lampu merah.

“Buayanya ganteng sih,” katanya. “Aku akui. Tapi buaya.”

“Hm.”

“Kenapa kamu senyum-senyum?”

“Aku nggak senyum-senyum.”

“Kamu senyum-senyum ke kaca jendela sejak Jalan Kaliurang.” Cleo menyipitkan mata. “Temannya? Yang aneh itu?”

“Dia nggak aneh.”

“Matanya beda warna, Vin.”

“Iya.” Aku menempelkan dahi ke kaca jendela yang dingin. Lampu-lampu jalan meluncur lewat, oranye, oranye, oranye. “Dia nggak aneh. Dia cuma...”

Aku mencari kata yang tepat. Tidak ketemu. Yang ada di kepalaku hanya satu hal: bagaimana dia menggeserku ke sisi kanannya tanpa bilang apa-apa, seolah itu hal paling biasa di dunia.

“Dia lihat,” kataku akhirnya.

Cleo tidak menjawab. Tapi di lampu merah berikutnya, dia menatapku lebih lama dari biasanya.


Malam itu, setelah menghapus riasan, aku berdiri di depan cermin kamar mandi.

Aku tersenyum. Senyum kerja. Senyum yang sudah kupakai sejak jam enam pagi.

Tidak ada lesung.

Aku mencoba lagi. Lebih lebar. Tidak ada.

Aku berdiri di sana seperti orang bodoh selama hampir semenit, mencoba memanggil dua lekukan kecil yang selama ini kukira selalu ada. Lalu aku teringat seseorang dengan suara datar seperti permukaan kolam, bilang nanti aku sampaikan kepada matanya sendiri.

Dan di cermin, di kedua pipiku, dua lesung itu muncul.

Aku menutup wajah dengan handuk dan menjerit kecil ke dalamnya.

Pipiku pegal. Sudah sebelas jam, ditambah dua. Tapi untuk pertama kalinya hari itu, pegalnya karena hal yang benar.