Chapter Fifteen
Rumah Davina
POV: Arya
Piano itu merek Yamaha, tipe tegak, cokelat kemerahan, produksi akhir tahun delapan puluhan. Aku tahu itu sebelum mendekat, dari bentuk kakinya dan warna pernisnya. Piano seperti ini dibuat untuk bertahan lima puluh tahun, kalau dirawat.
Piano ini tidak dirawat.
Dia berdiri di sudut ruang tamu rumah keluarga Davina di Condongcatur, ditutup kain renda putih yang sudah menguning, dengan dua bingkai foto dan sebuah vas bunga plastik di atasnya. Tutup tutsnya berdebu. Salah satu kakinya diganjal lipatan kertas karton, karena lantainya tidak rata.
“Punya Mama,” kata Davina di sebelah kananku, pelan. “Dari Papa. Kado pernikahan.”
“Siapa yang main?”
“Dulu Mama. Waktu aku kecil.” Dia menatap piano itu dengan wajah yang tidak bisa kubaca. “Terus berhenti.”
“Kapan?”
Dia tidak menjawab. Dari dapur terdengar suara wajan dan minyak panas, dan suara perempuan yang memanggil Viiin, bantu Mama bentar. Davina berteriak iyaaa dengan suara terang, suara lampu panggung, dan menepuk lenganku sebelum berjalan ke dapur.
Aku berdiri sendirian di ruang tamu, di depan piano yang tidak dirawat, dan merasakan sesuatu yang aneh di dada. Seperti mendengar senar yang putus di ruangan sebelah.
Undangan itu datang dua hari setelah Sekaten.
Davina bercerita pada ibunya bahwa dia punya teman yang pekerjaannya menyetel piano. Ibunya, menurut Davina, langsung diam lama. Lalu bilang, Suruh ke rumah. Setel piano Mama. Sekalian makan malam.
“Mama nggak pernah nyebut piano itu,” kata Davina di telepon. “Bertahun-tahun. Terus tiba-tiba dia nyuruh kamu datang.”
“Kamu mau aku datang?”
Dia diam. Aku menunggu.
“Aku mau,” katanya akhirnya. “Tapi aku harus bilang dulu. Rumahku... nggak kayak aku.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya, rumahku sepi. Walaupun ada orang.” Dia tertawa kecil, tidak senang. “Kamu bakal lihat.”
Makan malam disajikan di meja bundar yang terlalu besar untuk tiga orang.
Ibu Davina—panggil Tante Rini aja, Nak—adalah perempuan kecil dengan rambut disanggul rapi dan senyum yang sangat mirip dengan senyum putrinya. Senyum yang sama, setiap kali. Tuts yang dipukul mesin. Aku melihatnya pertama kali dia membuka pintu, dan aku langsung tahu dari mana Davina belajar.
Ayah Davina, Om Hartono, adalah laki-laki tinggi dengan kumis tipis dan kacamata baca yang tergantung di leher. Dia menjabat tanganku dengan kuat dan bilang silakan duduk, lalu tidak bicara lagi selama sepuluh menit.
Meja itu penuh makanan. Rendang, sayur asem, perkedel kentang, sambal goreng ati, tempe mendoan, kerupuk udang. Terlalu banyak untuk empat orang. Aku mengerti tanpa perlu diberitahu bahwa makanan sebanyak ini bukan untuk dimakan. Makanan sebanyak ini untuk mengisi ruang.
“Tambah lagi, Nak Arya,” kata Tante Rini, menuangkan rendang ke piringku untuk ketiga kalinya.
“Sudah cukup, Tante.”
“Kurus sekali kamu. Makan apa selama ini?”
“Telur, Tante.”
Davina tersedak air putih di sebelahku. Tante Rini menatapku dengan horor seorang ibu yang baru mendengar anak orang lain kurang gizi, lalu menuangkan dua perkedel lagi ke piringku.
“Telur terus?” katanya. “Ya Allah. Nggak ada yang masakin?”
“Sekarang ada, Tante,” kataku jujur. “Davina kirim makan siang.”
Hening.
Tante Rini menatap putrinya. Om Hartono, untuk pertama kalinya sejak kami duduk, mengangkat kepala dari piringnya dan menatap putrinya juga. Davina menunduk, pipinya merah, dan pura-pura sangat tertarik pada tempe mendoan.
“Kamu kirim makan siang,” kata Tante Rini pelan, “ke Nak Arya.”
“Cuma kadang-kadang, Ma.”
“Setiap hari,” kataku. “Kecuali kalau ada acara. Kalau ada acara, dia kirim foto.”
“Arya.”
Aku menoleh ke kanan. Davina menatapku dengan mata melotot. Aku tidak tahu apa kesalahanku. Aku hanya menjawab pertanyaan.
Tapi di seberang meja, sesuatu terjadi. Tante Rini tertawa. Bukan senyum mesin. Tawa kecil yang terlepas begitu saja, dengan tangan menutup mulut, persis seperti Davina. Dan Om Hartono—aku melihatnya dengan jelas dari kanan—sudut bibirnya bergerak. Naik sedikit. Lalu dia menatap istrinya yang tertawa, dan sesuatu di wajahnya melunak. Hanya sebentar.
Lalu Tante Rini menyadari suaminya sedang menatapnya, dan tawanya berhenti, dan dia kembali menuang sayur asem ke piring semua orang.
Wa-wa-wa. Gelombangnya kembali.
Setelah piring-piring dibereskan, Tante Rini mengeluarkan album foto.
“Mama,” kata Davina, dengan nada yang biasanya dipakai orang untuk memperingatkan ada ular.
“Nak Arya harus lihat,” kata Tante Rini, sudah membuka halaman pertama di atas meja. “Ini Vina umur dua tahun. Lihat pipinya.”
Aku melihat. Bayi gemuk dengan rambut jarang, duduk di baskom plastik berisi air, tertawa dengan mulut terbuka lebar. Di kedua pipinya, dua lekukan dalam.
Halaman berikutnya. Umur tiga, di pantai, memegang ember. Lesung. Umur empat, berkostum kupu-kupu untuk karnaval TK. Lesung. Umur lima, dengan kue ulang tahun berbentuk kelinci. Lesung, sangat dalam, dengan krim kue di hidung.
Davina di sebelahku menutup wajahnya dengan bantal sofa.
Aku terus membalik halaman. Tante Rini bercerita di setiap foto. Aku mendengarkan, tapi aku juga memperhatikan sesuatu yang tidak dia ceritakan.
Umur enam. Lesung.
Umur tujuh. Foto di depan rumah ini, dengan seragam SD merah-putih. Senyumnya lebar. Senyumnya rapi.
Tidak ada lesung.
Umur delapan, sembilan, sepuluh. Senyum yang sama, setiap foto. Bentuk yang sama. Tuts yang dipukul mesin. Hanya sesekali—satu foto di umur sebelas, di atas sepeda, rambut berantakan kena angin—lesung itu muncul lagi, tertangkap tanpa sengaja.
Aku berhenti di foto itu lama.
“Kenapa, Nak?” tanya Tante Rini.
“Yang ini bagus, Tante,” kataku.
“Oh, itu waktu dia jatuh dari sepeda lima detik kemudian.” Tante Rini tertawa. “Lututnya berdarah. Tapi dia ketawa terus.”
Di balik bantal sofa, Davina diam. Dia tidak bertanya kenapa aku memilih foto itu.
Dia sudah tahu.
Setelah makan, Om Hartono mengajakku ke teras.
Aku tahu apa ini. Aku belum pernah mengalaminya, tapi Kevin sudah menceritakannya berkali-kali. Teras bapak-bapak, dia menyebutnya. Tempat kamu diinterogasi pakai kopi.
Om Hartono menuang kopi tubruk dari teko seng ke dua gelas kecil. Kami duduk di kursi rotan. Di depan kami, pohon jambu air di halaman berbuah lebat, dan lampu jalan berkedip-kedip.
“Nak Arya,” katanya.
“Om.”
“Kerja nyetel piano.”
“Iya, Om.”
“Penghasilannya cukup?”
“Cukup buat saya, Om.”
“Buat berdua?”
Aku memikirkan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh. “Belum saya hitung, Om.”
Om Hartono menatapku dari balik kacamata baca yang sekarang dia pakai. Dia menyesap kopinya. Lama.
“Matamu,” katanya. “Yang kiri. Nggak bisa lihat?”
“Nggak bisa, Om. Dari lahir.”
“Yang kanan?”
“Minus. Tapi bisa.”
Dia mengangguk-angguk. Aku menunggu wajah kasihan. Wajah yang menjauh. Tapi Om Hartono hanya mengangguk, seperti insinyur yang baru mendengar spesifikasi mesin.
“Niatmu sama anak saya apa?”
Aku meletakkan gelas kopi di meja rotan. Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkannya lama, cukup lama sampai Om Hartono mulai mengerutkan kening.
“Saya belum tahu, Om,” kataku akhirnya.
Kerutan di keningnya makin dalam.
“Tapi saya tahu satu hal,” lanjutku. “Saya nggak bakal bohong ke dia. Saya nggak bisa bohong. Saya nggak pernah belajar caranya.”
Om Hartono menatapku sangat lama. Lalu dia melepas kacamata bacanya, mengusap wajahnya dengan satu tangan, dan tertawa. Tawanya pendek dan serak, seperti mesin yang lama tidak dinyalakan.
“Jawaban paling jelek yang pernah saya dengar,” katanya. “Dan paling jujur.”
Dia menyesap kopinya lagi.
“Rini dulu juga saya jawab begitu,” katanya pelan, menatap pohon jambu air. “Waktu bapaknya nanya. Saya belum tahu, Pak. Tapi saya nggak bakal bohong.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Tiga puluh tahun,” kata Om Hartono. Suaranya jadi lebih pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri. “Saya nggak pernah bohong ke dia. Tapi ternyata, nggak bohong itu belum cukup.” Dia berhenti. “Ada yang namanya nggak ngomong sama sekali.”
Aku melihat wajahnya dari kanan. Laki-laki yang lupa ulang tahun pernikahan ketiga puluh. Laki-laki yang membelikan istrinya piano sebagai kado pernikahan, dan sekarang piano itu diganjal karton di sudut ruang tamu.
“Om,” kataku. “Boleh saya setel pianonya sekarang?”
Aku butuh satu jam empat puluh menit.
Piano itu dalam kondisi lebih buruk dari yang kukira. Nadanya turun hampir setengah langkah secara keseluruhan—lima puluh sen, lebih di beberapa tempat. Tiga palu macet. Satu senar di oktaf bawah berkarat. Aku bekerja dengan alat yang kubawa di tas selempang, dengan garpu tala di atas kain renda yang menguning.
Davina duduk di lantai di sebelah kananku, bersandar ke sofa, memeluk lutut. Dia tidak bicara. Dia hanya memperhatikan.
Tante Rini mencuci piring di dapur. Suara air, suara piring. Lalu suara air berhenti, dan tidak mulai lagi. Aku tahu dia sedang berdiri di ambang pintu dapur, mendengarkan. Aku tidak menoleh.
Om Hartono duduk di kursi ruang tamu, berpura-pura membaca koran. Dia tidak membalik halaman selama empat puluh menit.
Satu per satu, nada-nada itu naik. Gelombangnya melambat. Berhenti. Senar demi senar, getarannya berhenti bertengkar.
Saat nada terakhir selesai, aku memainkan satu tangga nada penuh, dari bawah ke atas. Bersih. Utuh. Seperti kolam di pagi hari.
Lalu aku berdiri, dan menoleh ke ambang pintu dapur.
“Tante,” kataku. “Sudah.”
Tante Rini berdiri di sana dengan celemek basah dan tangan yang masih memegang lap piring. Wajahnya aneh. Senyum mesinnya ada, tapi tidak terpasang dengan benar. Miring. Seperti jaket yang kancingnya salah lubang.
“Nak Arya nggak mau main?” tanyanya.
“Ini bukan piano saya, Tante.”
Dia menatapku. Lalu dia menatap piano itu. Lalu dia menatap suaminya, yang masih memegang koran yang tidak dibaca.
Lama sekali. Tidak ada yang bergerak.
Lalu Tante Rini meletakkan lap piring di meja makan. Dia melepas celemeknya. Dia berjalan ke piano—pelan, seperti berjalan ke rumah lama yang tidak dikunjungi bertahun-tahun—dan duduk di kursinya. Dia membuka tutup tuts yang sudah kubersihkan dari debu. Dia meletakkan jari-jarinya di atas tuts, ragu, gemetar.
Dan dia bermain.
Lagunya sederhana. Lagu lama, mungkin lagu yang dia pelajari waktu masih muda. Jari-jarinya kaku, salah di beberapa tempat, berhenti, mengulang. Tapi dia terus bermain.
Aku mundur ke sudut ruangan. Davina sudah berdiri, di sebelah kananku. Aku merasakan tangannya mencari tanganku, dan aku membiarkannya menemukannya.
Om Hartono menurunkan korannya.
Dia menatap punggung istrinya. Aku melihat wajahnya dari kanan, dan aku melihat sesuatu terjadi di sana—sesuatu yang terjadi pelan, seperti es yang retak di permukaan kolam. Dia berdiri. Dia berjalan ke piano. Dia tidak duduk di sebelah istrinya. Dia hanya berdiri di belakangnya, dan meletakkan satu tangan di bahunya.
Tante Rini berhenti bermain sebentar. Lalu melanjutkan.
Tangan itu tetap di sana sampai lagunya selesai.
Aku pamit jam sepuluh. Davina mengantarku ke pagar.
Kami berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, di depan pohon jambu air. Dari dalam rumah terdengar suara piano lagi. Tante Rini masih bermain. Lagu yang lain. Om Hartono tidak kembali ke kursinya; aku melihat bayangannya di jendela, masih berdiri di dekat piano.
Davina tidak bicara lama. Aku melihat bahunya. Naik. Turun. Seperti orang yang bersiap untuk menarik napas empat kali.
“Aku harus balik ke dalam,” katanya. “Pasti Mama nanti mau ngobrol. Pasti Papa diem lagi besok. Pasti aku harus—”
“Nggak harus,” kataku.
Dia menatapku.
“Kamu nggak harus bikin mereka nggak fals,” kataku. Aku memilih kata-kataku pelan-pelan, satu per satu, seperti menyetel senar yang paling rapuh. “Itu bukan tugasmu. Dari umur tujuh tahun, kamu senyum di tengah-tengah mereka biar gelombangnya berhenti. Tapi kamu bukan garpu tala, Davina. Kamu bukan alat buat bikin orang lain sama.”
Dia tidak bergerak.
“Malam ini mereka berhenti sendiri,” kataku. “Bukan karena kamu senyum. Karena Mama-mu main piano. Karena Papa-mu berdiri. Itu mereka. Bukan kamu.”
Matanya mulai berkaca-kaca di bawah lampu jalan.
“Kamu boleh capek,” kataku.
Dia menutup mulut dengan tangan. Bahunya bergetar sekali. Lalu dia menarik napas—satu kali saja—dan menurunkan tangannya.
“Arya.”
“Hm.”
“Kalau aku peluk kamu sekarang, itu melanggar pasal berapa?”
Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkan semua pasal yang pernah dia bacakan, yang ditulis di kartu, yang ditambahkan di pesan, yang diumumkan di halaman SD.
“Nggak ada pasal soal peluk,” kataku.
“Berarti nggak melanggar.”
“Berarti nggak diatur.”
“Kalau nggak diatur,” katanya, maju satu langkah, “berarti boleh.”
Dia memelukku.
Pelukannya pendek. Lengan di sekitar pinggangku, pipi di dadaku, di sisi kanan, di atas jantung yang langsung fals parah. Aku tidak tahu harus melakukan apa dengan tanganku. Aku berdiri dengan kedua tangan terangkat sedikit di udara, seperti orang yang ditodong.
Lalu, pelan, aku menurunkan tangan kananku. Ke punggungnya. Di antara tulang belikatnya. Aku merasakan napasnya di sana, turun naik, pelan.
Satu kali.
Hanya satu kali. Tidak empat.
“Makasih,” bisiknya ke kemejaku.
Dia melepasku. Dia berjalan kembali ke rumah, ke pintu yang terbuka, ke ruang tamu di mana ibunya masih bermain piano dan ayahnya masih berdiri di belakangnya. Di ambang pintu, dia menoleh. Ke arah kananku.
Dia tidak tersenyum.
Tapi lesungnya ada.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina reading
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut