← Separuh yang Kulihat

Chapter Thirty Seven

Epilog — Kirimu Ada Laut

POV: Arya

Voucher itu berlaku satu tahun. Kami memakainya di bulan kesebelas.

dr. Hendra memberi izin di kontrol bulan keenam. Retinanya kuat, Mas. Silakan terbang. Tapi jangan menyelam. Snorkeling di permukaan boleh, pelan-pelan. Dan kalau ada kilatan cahaya lagi, sedikit saja—

Langsung ke sini. Siang atau malam.

Mas sudah hafal.

Saya hafal semua hal, Dok.

Dia tertawa, dan menulis sesuatu di rekam medisku yang tidak bisa kubaca dari seberang meja. Davina, yang duduk di sebelah kananku, bisa membacanya. Dia bilang isinya: Pasien kooperatif. Pasangan sangat kooperatif. Terlalu kooperatif. Membawa jadwal obat dengan judul pakai kurung.


Voucher itu untuk dua orang. Kami berangkat berempat.

Kevin membeli tiketnya sendiri, dan tiket Cleo, dua hari setelah Davina mengumumkan tanggalnya di grup rahasia Tim Sukses Buaya. Dia bilang dia tidak mau ketinggalan momen bersejarah. Dia tidak bilang momen apa. Cleo bilang dia ikut hanya karena ingin melihat Kevin mabuk laut.

Kevin mabuk laut.

Dia mabuk laut di kapal cepat dari Sorong, empat jam, dengan ombak yang tidak terlalu besar. Dia menghabiskan perjalanan itu dengan kepala di pangkuan Cleo, wajah hijau, dan bergumam aku nggak apa-apa, aku nggak apa-apa setiap kali kapal naik ke puncak ombak. Cleo memijat tengkuknya dan mengipasinya dengan brosur Raja Ampat yang pinggirnya keriting.

Brosur yang pernah basah di lantai kamar mandi. Davina membawanya dari Jogja.

“Kevin,” kata Cleo, datar, di tengah perjalanan. “Kamu udah muntah tiga kali.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Di sandalku.”

Kevin mengangkat kepala. Dia menatap kaki Cleo. Sandal krem ukuran tiga puluh delapan, dengan noda yang tidak bisa diceritakan.

“Aku beliin yang baru,” bisik Kevin.

“Nggak usah.” Cleo menatap sandalnya. Lalu dia menatap Kevin. “Aku cuci aja. Di Bu Ningsih.”

Kevin jatuh lagi ke pangkuannya dan tidak bangun sampai Waisai.


Laut itu azure.

Aku tidak tahu harus menjelaskannya dengan cara lain. Aku menyetel piano; aku bukan penyair. Aku tahu nada, frekuensi, gelombang. Aku tidak tahu kata-kata untuk warna.

Tapi di hari kedua, dari atas perahu kayu kecil di dekat sebuah pulau karst yang bentuknya seperti jamur raksasa, aku melepas kacamata dan menatap ke bawah.

Air di bawah perahu begitu jernih sampai aku bisa melihat pasir di dasarnya. Putih. Dan karang-karang yang tumbuh di atasnya, cokelat dan ungu dan kuning. Dan di antaranya, air. Biru yang dalam dan jernih, sedikit kehijauan di pinggirnya, di tempat karang bertemu pasir.

Ibu menemukan kata itu di katalog cat tembok. Davina menemukannya di brosur travel yang menyelip di koran ayahnya, lalu digunting dan ditempel di dinding kamar tujuh tahun sampai pudar.

Aku menemukannya di sini. Di bawah perahu. Dengan satu mata yang bisa melihat, yang sekarang bisa melihat sedikit lebih sedikit dari dulu.

“Kelihatan?” tanya Davina di sebelah kananku.

Aku memakai kacamataku lagi. Aku menoleh padanya.

“Kelihatan,” kataku.

“Mirip?”

Aku tahu apa yang dia tanyakan. Aku menatap laut. Lalu aku menatap bayanganku sendiri di permukaan air, di sisi perahu. Mata hitam. Mata azure. Bergoyang di atas ombak kecil.

“Punyaku lebih gelap sedikit,” kataku.

“Nggak,” katanya. “Sama persis.”

“Kamu nggak bisa lihat dua-duanya sekaligus.”

“Aku udah lihat matamu setahun, Arya.” Dia tersenyum. Lesungnya dalam. “Aku hafal. Kayak kamu hafal mukaku di bawah lilin.”

Aku tidak membantah. Dia benar. Dia selalu benar tentang hal-hal yang tidak bisa kulihat.


Hari ketiga, kami snorkeling.

Pelan-pelan. Di permukaan. Seperti yang dr. Hendra izinkan. Pemandu kami, seorang bapak dari kampung Arborek dengan kulit gelap terbakar matahari dan tawa yang lebar, memasangkan kacamata selam khusus padaku—kacamata dengan lensa minus di sisi kanan dan lensa biasa di sisi kiri, yang kami pesan dari Jogja tiga bulan sebelumnya.

Davina berenang di sebelah kananku. Selalu.

Tapi di dalam air, dengan wajah menghadap ke bawah dan snorkel di mulut, dia tidak bisa bicara. Jadi dia memakai tangannya.

Dia menepuk bahu kiriku. Aku memutar badan ke kiri. Di sana, di antara karang: seekor ikan badut. Oranye dan putih, bersembunyi di dalam anemon yang bergoyang.

Dia menepuk bahu kiriku lagi. Aku memutar. Seekor ikan kakatua, hijau dan biru, sedang menggigit karang dengan paruhnya.

Dia menepuk lagi. Dan lagi. Setiap kali, aku memutar seluruh badanku di dalam air, dan menemukan sesuatu. Kerumunan ikan kecil perak yang bergerak seperti satu tubuh. Bintang laut biru. Kima raksasa yang membuka dan menutup cangkangnya pelan-pelan, seperti napas.

Kirimu ada ikan badut.

Dia menulisnya di kartu MC. Setahun lalu. Sebelum Sudut Seduh. Sebelum semuanya. Kartu itu basah di lantai kamar mandi, lalu kering dan keriting, dan dia membawanya ke sini, di dalam tas kedap air, dan membacakannya padaku tadi pagi di dermaga.

Kirimu ada pari manta, gede banget, kayak karpet terbang.

Kami tidak melihat pari manta. Pemandu bilang bukan musimnya.

Tapi di akhir sesi, saat kami hampir kembali ke perahu, Davina menepuk bahu kiriku dengan sangat keras. Berkali-kali. Cepat. Seperti orang yang panik.

Aku memutar badan.

Seekor penyu. Besar, lebih besar dari tubuhku, dengan cangkang cokelat bermotif seperti peta. Berenang pelan di bawah kami, di antara karang, dengan sirip yang bergerak seperti sayap. Dia mengangkat kepalanya sebentar. Menatap kami. Dengan mata kecil yang hitam dan tenang.

Lalu dia berenang pergi. Ke kiri. Ke sisi yang tidak bisa kulihat.

Aku tidak memutar badan untuk mengikutinya.

Aku tidak perlu. Davina memegang tanganku di dalam air, dan meremasnya tiga kali. Pendek, pendek, panjang.

Dia masih melihatnya. Untuk kami berdua.


Malam itu, di homestay di atas air, aku menemukan pojok.

Setiap tempat punya pojok. Aku sudah mencari cukup lama, dan aku belum pernah menemukan tempat tanpa pojok. Bahkan di tengah laut Papua.

Pojok itu ada di ujung dermaga kayu yang menjorok ke laut, di belakang pondok kami. Dua tiang kayu, satu bangku panjang, dan air di tiga sisi. Tiang di kiriku. Laut di kanan. Langit di atas, begitu gelap dan begitu penuh bintang sampai aku bisa melihat Bima Sakti dengan satu mata.

Aku duduk di sana. Menunggu.

Di saku celanaku, ada selembar kertas HVS. Dilipat empat. Sudah lecek di lipatan-lipatannya, karena aku membawanya ke mana-mana selama tiga bulan terakhir.

Dan di saku yang lain, sebuah kotak kecil. Kevin yang menyimpannya selama perjalanan. Dia bilang aku pasti menjatuhkannya ke laut kalau aku yang bawa. Dia menyerahkannya padaku satu jam lalu, di balik pondok, dengan tangan gemetar dan mata yang sudah merah bahkan sebelum apa pun terjadi.

“Ar,” katanya waktu itu. “Aku bakal nangis.”

“Aku tahu.”

“Aku bakal nangis paling kenceng.”

“Aku tahu, Kevin.”

“Lebih kenceng dari waktu Bento.”

“Kamu nggak perlu di situ.”

“Aku harus di situ.” Dia menatapku. “Aku di kirimu dari TK. Aku nggak bakal pindah sekarang.”


Dia datang lima menit kemudian.

Aku mendengar langkahnya di atas papan dermaga. Kaki kirinya sedikit menyeret. Dia capek. Tiga hari berenang, mendaki bukit Piaynemo, menyeberang pulau. Dia capek, dan dia bahagia, dan aku bisa mendengar keduanya dalam cara dia berjalan.

Dia berhenti di sebelah kananku. Dia duduk.

“Kamu ngumpet di pojok,” katanya.

“Aku nggak ngumpet.”

“Di Raja Ampat. Di ujung dermaga. Di tengah laut.”

“Setiap tempat punya pojok.”

Dia tertawa. Naik setengah nada di ujung. Lalu dia menyandarkan kepalanya di bahu kananku. Tempat parkir resmi. Pasal sepuluh.

Kami diam lama. Mendengarkan laut. Ombak kecil yang memukul tiang-tiang dermaga di bawah kami. Pelan. Teratur. Seperti metronom.

Lalu aku mengeluarkan kertas HVS dari saku.

“Ini,” kataku.

Dia mengangkat kepala. Dia menatap kertas itu. Dia mengenalinya. Aku melihat dia mengenalinya, bahkan dalam gelap, bahkan dengan hanya cahaya bintang dan lampu kecil dari pondok di belakang kami.

“Daftar,” bisiknya.

Dia membukanya. Tulisan tanganku yang kecil dan miring.

HAL-HAL YANG DILAKUKAN ORANG PACARAN (sumber: internet, 3 artikel, 1 forum, 2 video)

1. Panggilan sayang — sudah (versi sendiri) 2. Kencan — sudah (angkringan, bianglala, bakmi, Raja Ampat) 3. Foto berdua — sudah (angkringan; aku kaget) 4. Pegangan tangan — sudah 5. Kasih kabar — sudah (pasal 2) 6. Tahu makanan kesukaan pasangan — sudah 7. Kenalan sama orang tua — sudah (dua pihak) 8. ???

Tiga tanda tanya di nomor delapan. Setahun lalu, aku tidak tahu jawabannya. Semua artikel bilang hal yang berbeda.

Tapi di bawah tiga tanda tanya itu, ada tulisan baru. Pensil. Ditulis tiga bulan lalu, di bengkel, di depan piano Kakek, dengan dua kerikil di atas papan partitur.

8. Minta.

Dan di bawahnya, satu baris lagi. Huruf besar. Miring. Supaya bisa dibaca dalam gelap.

Davina, mau jadi istriku?


Dia tidak bergerak.

Dia menatap kertas itu. Lama. Aku mendengar napasnya berhenti. Lalu mulai lagi. Tiga pendek. Satu panjang.

Aku mengeluarkan kotak kecil dari saku yang lain. Aku membukanya. Di dalamnya, di atas kain beludru biru tua, sebuah cincin. Sederhana. Perak. Dengan satu batu kecil di tengahnya. Bukan berlian. Batu biru yang jernih, sedikit kehijauan di pinggirnya.

Aku mencarinya selama dua bulan. Di toko-toko perhiasan di Malioboro, di Kotagede, di pengrajin perak yang dikenal Tante Rini. Aku membawa garpu tala azure yang kucat sendiri, dan aku mencocokkan warnanya ke setiap batu yang ditunjukkan. Tiga puluh satu batu. Semuanya salah.

Batu ketiga puluh dua, pengrajin perak tua di Kotagede mengambilnya dari laci paling bawah. Dia bilang batu itu sudah dua puluh tahun di sana, tidak ada yang mau, karena warnanya aneh, Mas, bukan biru, bukan hijau.

Aku mendekatkan garpu tala ke batu itu. Warnanya sama persis.

“Kamu—” Davina tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Tiga puluh dua batu,” kataku. “Aku cocokin sama garpu tala. Garpu talanya aku cocokin sama mata kiriku. Mata kiriku—” Aku berhenti. “Kamu bilang punyaku nggak pudar.”

Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Aku nggak pernah minta apa-apa,” kataku pelan. “Dua puluh enam tahun. Terus kamu bilang aku boleh minta. Terus aku minta kamu tetap di kananku. Terus aku minta tolong. Terus aku minta kamu kasih nama lagunya.”

Aku menatapnya. Dari kanan. Dari tempat yang bisa melihatnya. Di bawah langit penuh bintang, di ujung dermaga, di pojok tengah laut.

“Ini permintaan terakhir,” kataku. “Yang paling besar. Kamu boleh bilang nggak.”


Dia tidak bilang nggak.

Dia bilang iya. Lalu iya lagi. Lalu iya iya iya iya, di antara tangis dan tawa, dengan kedua tangan menangkup wajahku dan dahinya menempel di dahiku, sampai kacamataku miring dan kertas HVS jatuh ke papan dermaga.

“Satu iya cukup,” kataku.

“Aku nggak mau satu.” Dia tertawa. Naik setengah nada. “Aku mau banyak. Aku mau semuanya. Itu bukan pasal. Itu aku.”

Aku memasangkan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Tangan kiri. Yang tidak bisa kulihat kalau dia duduk di kananku. Aku harus memutar badan untuk melihatnya.

Aku memutar badan. Seluruh badan. Dan aku melihatnya: batu kecil azure di jarinya, berkilat di bawah cahaya bintang.

Aku menciumnya.

Di ujung dermaga. Di pojok. Di tengah laut yang warnanya sama dengan mata kiriku.


Dari balik pondok, terdengar suara.

Awalnya pelan. Lalu makin keras. Lalu meledak. Suara isakan laki-laki dewasa yang tidak berusaha ditahan sama sekali, diikuti suara ingus yang ditarik dengan sangat, sangat tidak elegan, diikuti suara seseorang yang jatuh terduduk di atas papan kayu.

“Kevin,” kata Davina di bibirku, tertawa. “Kamu kedengeran.”

“AKU NGGAK NGUPING!” Suara Kevin dari balik pondok. Tersumbat. Pecah. “AKU CUMA—AKU CUMA LAGI LIHAT BINTANG—”

“Kamu lihat bintang sambil nangis,” kata suara Cleo, datar, dari tempat yang sama.

“PENJAGA JUGA MANUSIA!”

“Kamu bukan penjaga. Kamu penonton.”

“AKU PENJAGA YANG NONTON!”

Davina tertawa sampai membungkuk, sampai dahinya jatuh ke bahu kananku, sampai cincin di jari kirinya berkilat di atas papan dermaga. Dan dari balik pondok, Kevin menangis lebih keras dari siapa pun. Lebih keras dari waktu Bento. Lebih keras dari lemper keempat. Lebih keras dari satu iya cukup di aula SMA Tunas Bangsa.

Cleo, aku mendengar, akhirnya ikut menangis juga. Pelan. Sekali. Sambil menepuk kepala Kevin seperti menepuk kepala anak anjing.


Kami kembali ke Jogja empat hari kemudian.

Di bengkel, di tengah ruangan, dua kursi jati dari Jepara masih berdiri berdampingan. Bantal kucing oranye sudah pudar warnanya. Tempelan kertas spidol Kevin di sandaran kursi kanan sudah lama lepas. Davina menggantinya minggu lalu, dengan label yang dilaminating, supaya tidak lepas lagi.

KURSI PEMILIK SISI KANAN (RESMI) (SELAMANYA)

Tiga kurung. Terlalu banyak. Aku tidak mengoreksinya.

Di dinding, di atas meja kerja, di sebelah kalender dari toko cat, foto selfie dengan dua jari berbentuk V masih menempel. Di sebelahnya sekarang ada foto lain. Foto dari angkringan, dari belakang, yang diambil Kevin. Dan satu lagi, yang baru. Foto dari perahu kayu kecil di Raja Ampat. Dua orang dari belakang, duduk berdampingan, menatap laut yang azure. Yang perempuan di kanan. Kepalanya di bahu yang laki-laki.

Di atas papan partitur piano Kakek, dua kerikil. Kiri dan kanan. Dua penjaga.

Dan di bawahnya, kertas partitur lagu yang sudah ada ujungnya. Di bagian atas kertas, di tempat judul biasanya ditulis, ada satu kata. Ditulis dengan pensil, huruf besar, miring.

Tulisannya. Bukan tulisanku.

Rumah.


Setiap pagi, jam enam, ponselku berbunyi.

Bukan kucing lagi. Dia menggantinya sebulan setelah Raja Ampat, diam-diam, waktu aku mencuci tangan di belakang. Sekarang, setiap kali pesannya datang, ponselku berbunyi dengan satu nada piano.

La.

Nada yang jadi patokan semua nada lain.

Rumah: selamat pagi, calon suami dengan mata tercantik se-Jogja. mata kirimu udah dipuji belum? cantik. sampaikan ya 💙

Nama kontaknya di ponselku juga sudah dia ganti. Dia tidak bilang kapan.

Aku tidak mengubahnya.

Aku menyampaikannya. Pujian itu. Ke mata kiriku. Seperti setiap pagi, selama setahun lebih.

Mata kiriku tidak bisa melihat perempuan yang memujinya. Tidak pernah bisa. Tidak akan pernah bisa.

Tapi dia tahu dia di situ.

Di kanan.

Selamanya.


— Tamat —