Chapter Thirty Three
Menunduk
POV: Arya
Hari pertama setelah operasi, duniaku gelap sepenuhnya.
Bukan gelap seperti sisi kiri. Sisi kiri tidak gelap; sisi kiri tidak ada. Ini gelap yang lain. Gelap yang punya bentuk. Kasa putih di atas kelopak mata kanan, pelindung plastik yang ditempel plester di atas kasa, dan di baliknya, bola mata yang terasa berat dan penuh, seperti ada seseorang yang meletakkan kelereng hangat di dalamnya.
Gas, kata dr. Hendra. Itu gasnya.
Aku berbaring telungkup di kasur lipat di ruang belakang bengkel, dengan wajah di lubang bantal donat. Aku tidak boleh mengangkat kepala. Tidak boleh berbaring telentang. Tidak boleh miring terlalu lama. Wajahku harus menghadap lantai, supaya gas di dalam mata naik ke belakang dan menekan retina ke tempatnya.
Dua minggu. Setiap jam. Setiap menit.
Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi aku bisa mendengar semuanya.
Aku mendengar Ibu di ruang depan bengkel, memasak di kompor kecil yang dibawa Kevin, dengan bau bawang goreng dan kaldu ayam. Aku mendengar Kevin di luar pintu hijau, menelepon kliennya dengan suara yang dipelankan, bilang maaf, Pak, saya kerja dari rumah dulu seminggu, ada urusan keluarga. Aku mendengar Cleo datang jam sepuluh dan pergi jam dua belas, dan selama dua jam itu, suara Kevin berubah jadi lebih pelan dan lebih bahagia.
Dan aku mendengar dia.
Dia duduk di lantai. Di sebelah kasur lipat. Di sisi kananku. Aku tahu karena aku mendengar napasnya dari sana, dan sesekali tangannya menyentuh punggung tanganku yang terkulai di pinggir kasur.
“Kamu nggak kerja?” tanyaku ke bantal donat.
“Aku batalin semua acara dua minggu ini.”
“Semua?”
“Aku kasih ke temen-temen MC lain. Mereka seneng. Musim nikahan. Duitnya lumayan.” Dia berhenti. “Aku juga seneng.”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak harus senyum dua minggu.”
Aku tertawa ke bantal donat. Tawaku teredam. Dia juga tertawa. Dari kanan. Naik setengah nada di ujung.
Hari kedua, perban dibuka.
Kevin mengantar kami ke rumah sakit. Aku duduk di jok belakang dengan kepala menunduk di atas bantal yang diletakkan di pangkuan Davina. Setiap polisi tidur, Davina menahan kepalaku dengan dua tangan. Setiap belokan, Kevin bilang belok kanan, Ar, pelan-pelan, seolah aku yang menyetir.
Di ruang periksa, dr. Hendra menyuruhku duduk tegak sebentar. Hanya sebentar. Dia melepas plester, mengangkat pelindung plastik, menarik kasa putih pelan-pelan.
“Buka matanya, Mas. Pelan.”
Aku membuka mata kanan.
Terang.
Itu yang pertama. Terang yang lembut, tidak menyakitkan, seperti cahaya matahari yang masuk dari permukaan kolam ketika kau menyelam di dasar. Lalu warna. Samar. Hijau pucat dari dinding ruang periksa. Putih dari jas dr. Hendra. Sesuatu yang cokelat—mungkin meja.
Semuanya berenang. Semuanya bergoyang. Seperti dunia dilihat dari balik air yang terus bergerak.
Dan di tengah pandanganku, melintang, sebuah garis. Gelap, tipis, bergelombang. Bergoyang setiap kali kepalaku bergerak. Seperti permukaan air dilihat dari bawah.
“Apa yang Mas lihat?” tanya dr. Hendra.
“Terang,” kataku. “Warna. Semuanya buram. Ada garis di tengah. Goyang.”
“Garis itu batas gasnya,” kata dr. Hendra. Suaranya terdengar lega. “Bagus. Itu normal. Setiap hari gasnya berkurang, garisnya akan turun. Pelan-pelan. Di atas garis, Mas lihat lewat gas—buram sekali. Di bawah garis, Mas lihat lewat cairan—lebih jelas.”
“Berapa lama sampai garisnya hilang?”
“Beberapa minggu.” dr. Hendra memasang kasa baru. “Sabar, Mas. Satu hari satu hari.”
Aku meminta satu hal di ruang periksa itu. Sebelum pelindung plastik dipasang lagi.
“Dok,” kataku. “Boleh saya tutup mata dulu? Sampai di rumah?”
dr. Hendra diam sebentar. “Kenapa, Mas?”
“Saya udah janji,” kataku. “Yang pertama saya lihat harus seseorang.”
Aku mendengar dr. Hendra menarik napas. Aku mendengar Davina, yang berdiri di sebelah kananku, berhenti bernapas.
“Boleh,” kata dr. Hendra pelan. “Tutup saja. Toh sekarang juga Mas nggak lihat apa-apa selain terang.”
Aku menutup mata. Aku memang belum melihat apa-apa. Dinding hijau pucat, jas putih, meja cokelat. Bentuk-bentuk yang berenang. Bukan wajah. Bukan siapa pun.
Yang pertama belum terjadi.
Di bengkel, Kevin sudah menyiapkan kursi tunduk di tengah ruangan. Kursi sewaan dengan sandaran wajah berlubang di tengah, seperti kursi pijat di mal. Dia menuntunku duduk di sana. Dari kanan. Supaya aku bisa melihat ke mana dia membawaku, meskipun mataku tertutup.
Dua puluh tahun, dan dia tidak pernah lupa.
Aku meletakkan wajahku di lubang sandaran. Wajahku menghadap lantai. Mataku masih tertutup.
“Oke,” kata Davina di sebelahku. Suaranya bergetar. “Oke. Tunggu. Jangan buka dulu.”
Aku mendengar dia bergerak. Aku mendengar kain—gaunnya, atau kemejanya—bergesekan dengan lantai semen. Aku mendengar dia merangkak ke bawah kursi tunduk. Aku mendengar Kevin bilang Kak, hati-hati, kakinya kena besi, dan Davina bilang nggak apa-apa, dan Ibu bilang pelan-pelan, Nduk.
Lalu aku merasakan napas. Di bawah wajahku. Hangat. Dekat.
“Oke,” bisiknya. Dari bawah. Dari lantai. “Buka.”
Aku membuka mata kanan.
Buram.
Dunia di bawahku berenang, seperti dasar kolam dilihat dari permukaan yang bergoyang. Garis gas melintang di tengah pandanganku, gelap dan bergelombang. Di atas garis, semuanya kabur total—hanya warna dan cahaya. Di bawah garis, sedikit lebih jelas. Masih buram. Tapi ada bentuk.
Dan di bawah garis itu, di lantai bengkel, di bawah lubang kursi tunduk, ada wajah.
Aku tidak bisa melihat detailnya. Tidak ada alis kiri yang sedikit lebih tinggi. Tidak ada tahi lalat sewarna kopi di bawah mata kanan. Tidak ada bulu mata pendek dan lurus. Semua yang kuhafal di bawah dua lilin, dua malam lalu, tidak bisa kulihat sekarang.
Tapi aku melihat bentuknya. Oval, gelap di pinggir karena rambut yang terurai di lantai semen. Terang di tengah. Dua bayangan gelap di tempat matanya. Dan di bawahnya, warna biru. Biru batik. Kemeja dari Beringharjo.
Dan aku melihat bentuk itu bergerak. Sedikit. Mengembang di bagian bawah, di tempat mulutnya.
Dia tersenyum.
“Kelihatan?” bisiknya.
Aku tidak bisa bicara. Air mata keluar dari mata kananku. Jatuh ke bawah. Ke wajahnya. Aku melihatnya jatuh, buram, seperti tetes hujan di kaca.
“Kelihatan,” kataku.
“Kelihatan apa?”
“Kamu.”
“Jelas?”
“Nggak.” Aku menarik napas. “Buram banget. Kayak dari dasar kolam. Aku nggak bisa lihat matamu. Aku nggak bisa lihat tahi lalatmu.” Aku berhenti. “Aku nggak bisa lihat lesungmu.”
Bentuk di bawahku diam sebentar.
“Ada,” bisiknya. “Percaya aku. Dua. Paling dalam yang pernah ada.”
“Aku percaya.”
Dan dia tertawa. Di lantai bengkel, di bawah kursi tunduk. Tawa itu naik ke atas, ke wajahku, ke telingaku. Naik setengah nada di ujung.
Aku tidak bisa melihat lesungnya. Tapi aku mendengarnya.
Dan aku tahu mereka ada.
Wajah pertama. Bukan dinding hijau pucat, bukan jas putih dokter, bukan meja cokelat. Wajah pertama yang kulihat setelah operasi adalah wajahnya. Buram, berenang, tanpa detail.
Tapi dia.
Aku mendengar Ibu menangis di belakang. Aku mendengar Kevin menangis juga, lebih keras, dan Cleo—yang ternyata sudah datang, aku tidak mendengar kapan—berkata Kevin, kamu nangis lebih kenceng dari ibunya Arya, dan Kevin berkata aku nggak bisa kontrol, ini momen bersejarah.
Lalu sesuatu terjadi di bawah wajahku.
Bentuk buram itu naik. Mendekat. Aku merasakan tangan di kedua sisi kepalaku, dari bawah, menahan kepalaku supaya tidak terangkat. Lalu aku merasakan bibir. Di dahiku. Di bawah garis rambut. Dari bawah.
Sebentar. Hangat. Pelan.
“Selamat datang kembali,” bisiknya ke dahiku.
Hari-hari berikutnya adalah hari-hari menunduk.
Aku menghabiskannya di kursi tunduk di siang hari dan di kasur lipat dengan bantal donat di malam hari. Wajahku selalu menghadap ke bawah. Leherku kaku. Punggungku sakit. Tapi aku tidak mengeluh. Aku tidak pernah belajar mengeluh.
Tapi aku belajar hal lain.
Aku belajar diberi makan.
Ibu yang pertama menyuapiku, hari ketiga. Dia berjongkok di lantai di sebelah kursi tunduk, menyendok bubur ayam, dan mengarahkan sendoknya ke atas, ke lubang sandaran, ke mulutku. Pelan. Sabar. Seperti waktu aku berumur dua tahun.
Hari keempat, Kevin memaksa ingin menyuapiku.
“Aku bisa,” katanya. “Aku sahabatnya. Aku harus bisa.”
Dia berjongkok di lantai. Dia menyendok sup. Dia mengarahkan sendoknya ke atas.
Sendoknya masuk ke hidungku.
“Kevin—”
“Maaf! Maaf, maaf, aku nggak bisa lihat dari sini, lubangnya kecil—”
Dia mencoba lagi. Sendoknya menabrak daguku. Sup tumpah ke leherku. Hangat, asin, mengalir ke kerah kaus.
“Maaf! Ar, maaf—”
Dia mencoba ketiga kalinya. Kali ini sendoknya masuk ke telinga kiriku.
Hening di bengkel.
“Kevin,” kata Cleo pelan dari belakang, “kamu nyuapin telinganya.”
“Aku tahu.”
“Telinga yang kiri.”
“Aku tahu, Cleo.”
“Telinga yang nggak ada hubungannya sama makan.”
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Wajahku di lubang sandaran, sup di leher, sendok di telinga, dan aku tertawa sampai kursi tunduk berguncang. Davina tertawa. Ibu tertawa. Cleo tertawa, pendek dan kering dan tidak ditahan. Kevin tertawa paling keras, sambil menangis, sambil membersihkan telinga kiriku dengan tisu.
Setelah hari itu, Kevin dilarang menyuapi. Dia ditugaskan membacakan berita olahraga dan berita politik, karena aku tidak bisa membaca, dan dia membacakannya dengan intonasi presenter televisi yang sangat berlebihan.
Davina yang meneteskan obat.
Enam belas alarm sehari. Ponselnya berbunyi setiap satu atau dua jam, dengan nada yang dia pilih khusus: suara kucing. Setiap kali alarm berbunyi, aku mendengar dia berdiri dari lantai, mengambil botol obat dari meja kerja, dan berjalan ke sisi kananku.
“Miring sedikit,” katanya. “Kepalanya aja. Jangan diangkat.”
Aku memiringkan kepala di dalam lubang sandaran. Dia menarik kelopak mata bawahku dengan ujung jari. Sangat pelan. Seperti menyentuh senar yang paling tipis.
Satu tetes. Dingin.
“Lima menit,” katanya. “Obat kedua.”
Selama lima menit itu, dia berbaring di lantai di bawah kursi tunduk. Setiap kali. Dia berbaring telentang di lantai semen, dengan kepala di bawah lubang sandaran, dan menatap ke atas. Ke wajahku.
“Kenapa kamu tidur di lantai terus?” tanyaku hari kelima.
“Biar kamu bisa lihat aku.”
“Aku cuma lihat bentuk.”
“Bentuk juga lumayan.” Dia berhenti. “Dan aku bisa lihat kamu. Jelas. Dari sini.”
“Kelihatan gimana?”
“Mukamu kayak orang yang lagi nunduk di atas sumur,” katanya. “Dengan kacamata yang nggak dipakai. Dan pelindung plastik di mata kanan. Dan—” Dia berhenti. Aku merasakan tangannya naik, dari bawah, dan menyentuh sesuatu di pelindung plastik mata kananku. “Dan plester kucing.”
“Plester kucing?”
“Aku tempel tadi malam. Waktu kamu tidur. Di pelindung plastiknya.” Dia tertawa kecil. “Kucing oranye. Biar matamu dijagain kucing.”
Aku tidak bisa melihatnya. Pelindung plastik itu menutupi mataku; plester di atasnya berada di tempat yang tidak bisa kulihat bahkan kalau mataku sehat.
Tapi aku tahu dia ada di sana. Kucing oranye. Seperti yang dia tempel di dahinya sendiri di Pasar Beringharjo, setelah dia menabrak tiang karena terlalu sibuk memastikan dia tetap di kananku.
Hari keenam, malam, dia memukul garpu tala.
Bengkel gelap. Ibu sudah tidur di kasur tambahan yang dibawa Kevin, di sudut ruang depan. Kevin sudah pulang. Aku berbaring telungkup di kasur lipat, wajah di bantal donat.
Aku tidak bisa tidur. Leherku sakit. Punggungku sakit. Dan dalam gelap, dengan wajah menghadap bantal, dunia terasa sangat kecil. Sekecil lubang bantal donat. Sekecil ruang di antara hidungku dan kain.
Aku mendengar dia bergerak di lantai di sebelah kasur. Aku mendengar kotak kayu kecil dibuka. Aku mendengar sesuatu dipukul ke lutut.
Lalu, di dekat telinga kananku, sangat dekat:
La.
Bersih. Tipis. Bergetar di udara bengkel yang gelap. Tanpa gelombang.
“Kamu nggak perlu lihat apa-apa,” bisiknya dari kanan. “Dengerin aja.”
Aku mendengarkan. Aku menutup mata—kedua mata, yang tidak bisa melihat karena lahir dan yang tidak bisa melihat karena gas—dan aku mendengarkan La bergetar sampai memudar, sampai hilang.
“Lagi,” kataku.
Dia memukulnya lagi. La.
“Dunia di sekitarmu,” katanya, pelan, di atas nada yang memudar. “Mau aku narasiin?”
“Iya.”
“Di bawahmu ada lantai semen. Dingin. Ada remah kerupuk di dekat kaki kasur, sisa Kevin tadi sore.” Dia berhenti. “Di kananmu ada aku. Duduk di lantai. Pakai kaus kebesaran punyamu yang aku ambil dari lemari tanpa izin.”
“Kaus yang mana?”
“Yang abu-abu. Yang ada tulisan nama toko cat.”
“Itu kaus favoritku.”
“Makanya aku ambil.” Dia berhenti. “Di depanmu ada piano kakekmu. Tempat lilinnya dingin. Di atas papan partiturnya ada dua kerikil. Kiri dan kanan. Kayak penjaga.”
Aku diam.
“Dan ada kertas partitur,” katanya, lebih pelan. “Aku lihat tadi sore. Waktu aku beresin bengkel.” Aku mendengar dia menarik napas. Tiga pendek. Satu panjang. “Ada tulisan di bawah not terakhir. Huruf gede-gede. Miring. Kayak ditulis tengah malam.”
Aku menutup mata lebih rapat.
“Mau aku bacain?” bisiknya.
“...Iya.”
Dia diam lama. Lalu dia membacanya. Dari ingatan. Dia pasti sudah membacanya berkali-kali tadi sore, sampai hafal.
“Ujungnya naik setengah nada,” bacanya. “Kayak ketawanya.”
Hening di bengkel.
Lalu aku mendengarnya. Di sebelah kananku, di lantai semen, di gelap. Dia menangis. Pelan. Lalu tertawa. Di tengah tangis. Tawanya naik setengah nada di ujung.
“Lagunya,” katanya di antara isak dan tawa. “Ujungnya aku?”
“Ujungnya kamu,” kataku ke bantal donat.
“Kamu tulis itu kapan?”
“Malam sebelum operasi. Jam tiga.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan jawabannya. Aku ingin menjawabnya dengan tepat.
“Kalau-kalau,” kataku. “Kalau aku nggak bisa lihat lagi, aku nggak bisa baca partitur. Aku mau lagunya tetap bisa selesai. Aku mau ada orang yang tahu ujungnya.”
Dia tidak menjawab. Aku merasakan tangannya mencari tanganku yang terkulai di pinggir kasur lipat. Dia menemukannya. Dia menggenggamnya.
“Pasal sembilan,” bisiknya. “Aku harus jadi orang pertama yang dengar kalau lagunya udah ada ujungnya.”
“Aku tahu.”
“Nanti. Kalau kamu udah bisa duduk tegak. Kalau garisnya udah turun. Kalau kamu udah bisa lihat tuts.” Dia meremas tanganku. “Kamu mainin. Buat aku. Dari awal sampai ujung.”
“Oke.”
“Janji?”
“Janji.”
Dia memukul garpu tala sekali lagi. La. Di dekat telinga kananku.
Dan aku tertidur, telungkup, dengan wajah di lubang bantal donat dan plester kucing di pelindung mata, mendengarkan nada yang jadi patokan semua nada lain, dan tangan yang menggenggam tanganku dari sisi yang bisa kulihat.
Meskipun malam itu, aku tidak bisa melihat apa-apa.
Aku tahu dia di situ.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk reading
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut