← Separuh yang Kulihat

Chapter Fourteen

Pasar Malam

POV: Davina

Pasar malam Sekaten di Alun-alun Utara adalah semua hal yang dibenci Arya, dikumpulkan di satu lapangan, lalu dinyalakan lampu warna-warni.

Aku tahu itu. Aku tetap mengajaknya.

“Kamu yakin?” tanya Cleo di telepon, sore sebelumnya. “Vin, itu tempat paling rame se-Jogja. Ada ribuan orang. Ada tong setan. Ada speaker dangdut tiap sepuluh meter.”

“Aku tahu.”

“Cowok itu duduk di pojok ballroom tiga jam cuma biar nggak ada orang yang ngomong sama dia.”

“Aku tahu, Cleo.”

“Terus kenapa?”

Aku diam sebentar. Aku memegang kerikil yang lain—kerikil kembaran yang kupungut diam-diam dari halaman SD itu, satu lagi dari dekat akar trembesi, dan kusimpan di saku jaketku sejak hari Minggu.

“Karena dia bilang dia belajar nggak minta apa-apa,” kataku. “Dan aku mau lihat apa yang terjadi kalau dia nggak perlu minta. Kalau aku yang nawarin duluan.”

Cleo diam lama di seberang.

“Kamu kedengeran kayak orang yang udah jatuh,” katanya akhirnya.

“Aku udah jatuh dari kemarin-kemarin, Cleo. Ini aku lagi nyoba mendarat.”


Aku menjemputnya di bengkel jam tujuh malam. Dia sudah menunggu di depan pintu hijau, dengan jaket abu-abu dan wajah seseorang yang akan diantar ke dokter gigi untuk cabut geraham.

“Kamu kelihatan pucat,” kataku.

“Aku selalu pucat.”

“Malam ini lebih pucat.”

“Aku lagi mikir ulang semua keputusan hidupku yang bikin aku sampai di titik ini.”

Aku tertawa. “Kamu mau batal?”

Dia menatapku. Lama. Aku melihatnya menimbang, dengan kesungguhan yang sama seperti dia menimbang segalanya.

“Nggak,” katanya. “Kamu udah dandan.”

Aku menunduk menatap pakaianku. Kemeja batik biru dari Beringharjo—yang dia belikan, yang kutawar diam-diam ke tukang jahit untuk dijadikan kemeja pendek dengan kancing mutiara kecil—dan celana jeans putih. Rambutku kukepang satu ke samping kanan. Aku menghabiskan satu jam di depan cermin.

“Kamu tahu aku dandan?”

“Kamu pakai batik yang aku beliin,” katanya. “Dan kepangmu di kanan. Biasanya di kiri.”

Aku menatapnya. Aku tidak mengatakan bahwa aku sengaja memindahkan kepangku ke kanan supaya dia bisa melihatnya. Aku tidak perlu mengatakannya. Dia sudah tahu.

Dia selalu tahu.


Gerbang Sekaten adalah dinding suara.

Speaker dangdut di kiri, speaker dangdut di kanan, speaker dangdut di depan—semuanya memainkan lagu yang berbeda pada saat yang bersamaan. Pedagang berteriak. Anak-anak menjerit dari atas kora-kora. Mesin genset menderu di belakang setiap stan. Bau jagung bakar, arum manis, gorengan, dan asap knalpot bercampur jadi satu.

Dan orang. Ribuan orang. Berdesakan, bersenggolan, berjalan ke segala arah seperti semut yang sarangnya disiram air.

Arya berhenti di gerbang.

Aku melihatnya. Aku melihat bahunya naik ke telinga. Aku melihat tangan kanannya mengepal di sisi tubuh. Aku melihat kepalanya menoleh sedikit ke kiri, lalu kembali, lalu ke kiri lagi, dan aku mengerti: di keramaian seperti ini, sisi kirinya penuh. Penuh dengan orang-orang yang tidak bisa dia lihat. Penuh dengan kemungkinan kerikil.

Aku melakukan sesuatu yang sudah kurencanakan sejak hari Minggu.

Aku mengulurkan tangan kiriku dan menggenggam tangan kanannya.

Dia membeku. Seluruh tubuhnya. Seperti senar yang tiba-tiba ditarik ke nada paling tinggi. Aku merasakan jari-jarinya kaku di dalam genggamanku, kasar di ujungnya, sedikit berminyak dari pekerjaan hari itu.

“Davina.”

“Hm.”

“Tanganmu.”

“Iya.”

“Ada di tanganku.”

“Iya. Aku tahu.” Aku mempererat genggaman. “Ini bukan gombal. Ini logistik.”

“Logistik?”

“Kamu nggak bisa lihat kiri. Di sini kirimu penuh orang. Jadi aku jadi mata kirimu malam ini.” Aku menariknya maju satu langkah, melewati gerbang. “Aku tetap di kananmu. Tapi aku yang lihatin kirimu. Aku kasih tahu apa yang ada di sana.”

Dia menatapku. Aku menatap balik. Di bawah lampu gerbang yang berkedip merah-hijau-kuning, mata kanannya memantulkan warna-warna itu, dan mata kirinya tetap azure. Tetap tenang.

Lalu, sangat pelan, aku merasakan jari-jarinya melonggar. Tidak melepas. Melonggar. Menyesuaikan diri dengan jari-jariku. Seperti senar yang turun pelan-pelan ke nada yang benar.

“Oke,” katanya.


Aku menarik napas, dan mulai.

“Kirimu ada bapak jual arum manis. Warnanya pink. Dia lagi senyum ke anak kecil.”

Kami berjalan.

“Kirimu ada ibu-ibu gendong bayi. Bayinya tidur. Pakai topi rajut bentuk beruang.”

Langkah.

“Kirimu ada tiga cowok SMA. Mereka lagi ngeliatin aku. Nggak usah khawatir, mereka nggak berani.”

“Kok tahu nggak berani?”

“Karena aku pegang tanganmu.”

Dia tidak menjawab, tapi aku merasakan genggamannya mengencang sedikit.

“Kirimu ada anak kecil lari. Awas, dia bawa es krim, dia—oke, dia belok. Aman.” Langkah. “Kirimu ada tukang parkir tidur di kursi plastik. Mulutnya kebuka. Ada lalat.” Langkah. “Kirimu ada nenek-nenek jual kerak telor. Dia lihat ke arah kita. Dia senyum. Dia kayaknya ngira kita pacaran.”

“Kamu mau bilang belum ke dia juga?”

“Aku nggak bakal bilang apa-apa ke dia,” kataku. “Aku bakal beli kerak telornya.”

Aku membeli dua kerak telor dari nenek itu. Dia menyerahkannya dengan senyum ompong dan berkata, pelan, dengan logat Betawi yang kental, pacarnya ganteng, Neng, matanye kayak mutiara. Aku berterima kasih, dan aku tidak mengoreksinya. Arya berdiri di sebelahku, tangannya masih di tanganku, dan telinganya merah di bawah lampu stan yang kuning.

Kami terus berjalan. Aku terus bercerita. Kirimu ada ini, kirimu ada itu. Tukang tong setan yang sedang merokok. Sepasang kakek-nenek yang berbagi satu jagung bakar. Anjing kampung yang tidur di bawah gerobak cilok.

Di tengah jalan, ponsel Arya bergetar di sakunya. Dia tidak melepas tanganku; dia mengeluarkan ponselnya dengan tangan kiri, kaku, dan menyodorkannya ke kanan supaya aku bisa ikut membaca.

Kevin: AR

Kevin: AR DARURAT

Kevin: cleo tanya aku suka sekaten atau nggak

Kevin: CLEO NANYA SESUATU KE AKU. PERTANYAAN. DENGAN TANDA TANYA.

Kevin: aku harus jawab apa. kalau aku jawab suka dia bakal ngira aku alay. kalau aku jawab nggak suka dia bakal ngira aku sombong. AR TOLONG

Aku melepaskan tangan Arya hanya untuk merebut ponselnya, lalu mengetik dengan cepat:

Aku: jawab jujur. dan tanya balik dia suka apa. jangan gombal. ini davina btw.

Balasan datang dalam satu detik.

Kevin: KAK DAVINA??? KENAPA KAKAK PEGANG HP ARYA JAM SEGINI

Kevin: kalian lagi di mana

Kevin: KALIAN LAGI BERDUA???

Kevin: ya Allah aku nangis di parkiran kantor

Aku mengembalikan ponsel itu ke Arya. Dia memasukkannya ke saku tanpa membaca pesan-pesan terakhir, lalu—tanpa kuminta—meraih tanganku lagi. Seperti orang yang meletakkan kembali barang ke tempatnya.

Aku pura-pura tidak menyadarinya. Jantungku tidak bisa pura-pura.

Aku bercerita, dan dia mendengarkan. Dan pelan-pelan, sepanjang perjalanan dari gerbang sampai ke tengah lapangan, aku melihat bahunya turun. Satu senti. Dua senti. Sampai akhirnya bahunya di tempat yang benar, dan tangannya di tanganku tidak kaku lagi, dan dia berjalan di tengah keramaian Sekaten seperti orang yang berjalan di halaman rumahnya sendiri.

“Kamu capek?” tanyaku.

“Nggak.”

“Serius?”

Dia berpikir. “Nggak capek,” katanya. “Aneh. Biasanya aku capek.”

“Kenapa nggak capek?”

Dia menatap ke kiri. Ke ruang yang tidak bisa dia lihat. Lalu dia menatapku.

“Karena kirinya ada isinya,” katanya. “Aku tahu isinya apa. Kamu yang kasih tahu. Jadi nggak kosong.”

Aku menggigit bibir. Keras. Supaya tidak menangis di tengah Sekaten, di depan tong setan, sambil memegang kerak telor.


Di tengah lapangan ada stan lempar gelang. Botol-botol kaca berjejer di atas papan miring, dan di rak paling atas, di barisan hadiah utama, ada boneka kucing oranye sebesar bantal.

Kucing oranye. Seperti plester di dahiku minggu lalu.

Aku berhenti. Aku menarik tangan Arya.

“Arya.”

“Hm.”

“Aku mau itu.”

Dia mengikuti arah telunjukku. Kucing oranye. Dia menatapnya, lalu menatapku.

“Itu hadiah utama,” katanya. “Kamu harus masukin lima gelang ke lima botol berturut-turut.”

“Aku tahu.”

“Itu hampir mustahil. Leher botolnya cuma sedikit lebih kecil dari gelangnya. Dan papannya miring. Dan botolnya ada yang ditempel lem biar nggak bisa masuk—”

“Arya.” Aku menarik lengan jaketnya, dua kali, seperti anak kecil. Aku membuat suaraku panjang dan manja, dan aku sama sekali tidak malu. “Menangin buat aku.”

“Itu nggak masuk akal secara statistik.”

“Aku nggak minta masuk akal. Aku minta kucing.”

Dia menatapku lama. Lalu dia menghela napas, sangat panjang, seperti Kevin di depan Cleo, dan melepas tanganku untuk mengeluarkan dompet.

Penjaga stannya, seorang mas-mas berkaus oblong dengan handuk kecil di leher, menyerahkan lima gelang plastik kuning ke Arya dengan senyum orang yang tahu dia akan menang.

Arya tidak langsung melempar.

Dia berdiri di depan papan miring itu dan menatap. Hanya menatap. Satu menit. Dua menit. Matanya bergerak dari botol ke botol, dari leher ke leher. Dia melepas kacamatanya, mengelapnya, memakainya lagi. Dia mengangkat satu gelang, memutarnya di jari, menimbang beratnya.

Mas penjaga stan mulai gelisah.

“Mas, dilempar aja, Mas.”

“Sebentar.”

“Mas, antrean di belakang—”

“Botol ketiga dari kiri di baris kedua,” kata Arya pelan, tanpa menoleh, “lehernya ada lemnya. Kelihatan dari pantulan lampu. Botol kelima di baris ketiga agak miring ke belakang, jadi gelangnya bakal mantul. Tapi botol pertama di baris keempat, lehernya paling lebar. Kayaknya dari pabrik yang beda.”

Mas penjaga stan terdiam. Wajahnya berubah dari percaya diri menjadi pucat, seperti orang yang baru sadar rahasia dapurnya dibaca orang.

Arya melempar.

Gelang pertama masuk. Botol pertama baris keempat. Tanpa menyentuh bibir botol.

Gelang kedua masuk. Gelang ketiga masuk. Aku berhenti bernapas. Kerumunan kecil mulai berkumpul di belakang kami.

Gelang keempat masuk.

Gelang kelima—Arya menatap botol-botol itu lebih lama lagi. Lalu dia melempar, dengan gerakan pergelangan tangan yang sangat kecil, sangat tepat, seperti gerakan memutar kunci setem satu derajat.

Masuk.

Kerumunan di belakang kami bersorak. Aku menjerit. Aku menjerit keras sampai speaker dangdut di stan sebelah kalah. Mas penjaga stan menatap lima botol dengan lima gelang di lehernya seperti menatap bencana alam.

Lalu dia menurunkan boneka kucing oranye dari rak paling atas dan menyerahkannya ke Arya dengan tangan gemetar.

Arya menyerahkannya padaku.

“Ini,” katanya. “Masuk akal secara statistik kalau kamu lihat botolnya dulu.”

Aku memeluk kucing oranye sebesar bantal itu dengan kedua tangan. Aku membenamkan wajahku di bulunya. Aku tidak bisa berhenti tersenyum, dan aku tidak mau.


Kami naik bianglala terakhir.

Aku yang memaksa. Arya tidak suka ketinggian—bukan takut, katanya, hanya tidak suka—tapi aku menarik tangannya ke antrean dan dia tidak melawan. Aku memperhatikan itu. Tangannya sudah tidak kaku lagi kalau kupegang. Sudah seperti tangan yang tahu tempatnya.

Kabin kami kecil, berkarat, dengan cat kuning yang mengelupas. Aku duduk di sebelah kanannya, boneka kucing di pangkuan. Bianglala berputar pelan, berderit, dan membawa kami naik. Keramaian Sekaten menjauh di bawah. Suara speaker dangdut jadi samar. Lampu-lampu stan jadi titik-titik warna-warni, seperti bintang yang jatuh ke lapangan.

Di puncak, bianglala berhenti. Kabin kami bergoyang pelan di udara malam.

“Arya,” kataku.

“Hm.”

Aku ingin mengujinya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena malam ini aku sudah menang terlalu banyak—tangannya, bahunya yang turun, kucing oranye—dan aku ingin tahu apakah aku bisa menang sekali lagi.

“Kalau aku hilang di pasar malam kayak tadi,” kataku, dengan suara paling menggoda yang kupunya, sambil memiringkan kepala ke arahnya, “kamu bakal cari aku gimana? Kan kamu nggak bisa lihat kiri.”

Aku menunggu dia menjawab dengan fakta. Dengan statistik. Dengan sesuatu tentang frekuensi atau dopamin, dan aku akan tertawa, dan aku akan menang.

Dia menoleh padaku. Dengan seluruh wajahnya.

“Aku dengerin ketawamu,” katanya.

“...Hah?”

“Ketawamu ada dua. Yang kerja sama yang asli.” Dia berkata datar, seperti membaca prakiraan cuaca. “Yang asli, di ujungnya naik setengah nada. Kayak orang yang kaget sama dirinya sendiri. Nggak ada orang lain yang ketawa kayak gitu.”

Aku membuka mulut.

“Di tengah seribu orang,” lanjutnya, “aku bisa dengar itu. Aku sudah dengar tadi, waktu gelang kelima masuk. Dari antara semua sorakan.” Dia berhenti. “Kamu satu-satunya suara yang aku cari kalau lagi di keramaian.”

Kabin bergoyang pelan. Angin malam lewat. Di bawah, seribu lampu warna-warni berkedip.

Aku tidak bisa bicara.

Aku MC. Aku punya selusin kalimat di ujung lidah, selalu. Aku menyiapkan gombalan untuk malam ini sejak hari Minggu. Aku menulis tiga di antaranya di kartu MC dan menyimpannya di saku jaket, di sebelah kerikil.

Tidak ada satu pun yang bisa keluar.

Aku kalah. Aku kalah telak, di puncak bianglala berkarat, oleh laki-laki yang bahkan tidak sadar sedang bertanding.

Aku membenamkan wajahku di boneka kucing oranye dan menjerit ke dalamnya.

“Kamu kenapa?” tanya Arya, bingung.

“Kamu curang,” kataku, teredam oleh bulu kucing.

“Aku jawab pertanyaan.”

“Itu yang curang, Arya.”

Bianglala bergerak lagi, berderit, membawa kami turun pelan-pelan. Aku tidak mengangkat wajah dari boneka kucing sampai kabin kami menyentuh tanah. Tapi di tengah perjalanan turun, aku merasakan sesuatu.

Tangan kanannya. Mencari tangan kiriku. Di atas bangku kabin yang dingin.

Dia menemukannya. Dan menggenggamnya.

Kali ini, dia yang mulai.