← Separuh yang Kulihat

Chapter Twenty Four

Ada yang Disembunyikan

POV: Davina

Hal pertama yang kusadari adalah ukuran hurufnya.

Hari Selasa, aku duduk di KURSI PEMILIK SISI KANAN, menunggu Arya selesai mencuci tangan di belakang. Ponselnya tergeletak di meja kerja, di sebelah garpu tala, seperti biasa. Layarnya menyala karena ada notifikasi dari aplikasi cuaca.

Hurufnya raksasa.

Aku tidak melebih-lebihkan. Satu kalimat notifikasi memenuhi seluruh layar. Hujan ringan diperkirakan pukul 15.00. Enam kata, dan setiap kata sebesar ibu jari.

Aku mengambil ponselnya. Aku membuka percakapan kami. Pesan-pesanku—yang biasanya panjang dan penuh emoji—sekarang terpotong-potong jadi puluhan layar, karena setiap huruf begitu besar sampai satu baris hanya muat tiga kata.

Arya kembali dari belakang. Dia melihatku memegang ponselnya.

“Hurufmu gede banget,” kataku.

“Iya.”

“Sejak kapan?”

“Minggu lalu.”

“Kenapa?”

Dia mengambil ponselnya dari tanganku, pelan, dan meletakkannya kembali di meja. “Biar nggak capek bacanya.”

Aku menatapnya. Dia menatap balik. Wajahnya datar, seperti biasa. Tidak ada yang aneh.

“Kamu kayak kakek-kakek,” kataku.

“Kakekku juga pakai huruf gede.”

“Kamu dua puluh enam tahun, Arya.”

“Mataku dua puluh enam tahun kerja sendirian,” katanya. “Dia boleh capek.”

Aku tertawa. Aku menggoda dia sepanjang sore soal huruf raksasa, soal kakek-kakek, soal kalau kamu tua nanti kamu bakal pakai kacamata di atas kacamata. Dia menjawab setiap godaan dengan wajah datar dan telinga merah, seperti biasa.

Aku tidak memikirkannya lagi.


Hal kedua adalah Bu Harjo.

Hari Kamis, aku datang ke bengkel dan menemukan seorang ibu tua di depan pintu hijau. Bu Harjo, pemilik piano tegak yang dulu menginap tiga hari di bengkel saat pertama kali aku datang. Dia membawa map berisi brosur dan wajah yang sedikit kecewa.

“Mbak pacarnya Mas Arya, ya?” tanyanya.

“Iya, Bu.”

“Tolong bilangin, Mbak. Piano saya itu cuma butuh diganti palunya. Tiga oktaf. Saya udah langganan sama kakeknya dari tahun delapan puluhan.” Bu Harjo menghela napas. “Mas Arya bilang dia nggak bisa ambil kerjaan besar dulu. Sebulan ini. Katanya disuruh istirahat.”

“Disuruh siapa, Bu?”

“Katanya dokter.”

Aku menatap Bu Harjo. Dia menatapku balik dengan wajah orang tua yang mengira aku sudah tahu.

“Oh,” kataku. Aku tersenyum. Senyum yang kupakai seperti jaket. Aku tidak tahu kenapa aku memakainya. Refleks. Seperti tangan yang terangkat saat bola datang. “Iya, Bu. Dia kecapekan. Nanti saya bilangin.”

Bu Harjo pergi. Aku masuk ke bengkel.

Arya sedang duduk di KURSI ARYA, tidak bekerja. Di pangkuannya ada piano kecil mainan anak-anak, dan dia sedang menyetelnya dengan obeng kecil. Pekerjaan yang tidak perlu membungkuk. Pekerjaan yang tidak perlu berjam-jam.

“Bu Harjo tadi dateng,” kataku.

“Iya.”

“Katanya kamu nolak kerjaan.”

“Iya.”

“Katanya disuruh dokter istirahat.”

Dia berhenti memutar obeng. Hanya sebentar. Sepersekian detik. Lalu dia melanjutkan.

“Punggungku,” katanya.

Aku menunggu. Dia tidak melanjutkan.

“Punggungmu kenapa?”

“Kebanyakan bungkuk.”

Aku menatapnya. Dia memang sering bungkuk. Delapan jam sehari di atas piano, dengan satu mata yang harus didekatkan ke palu-palu kecil. Wajar kalau punggungnya sakit.

“Kamu ke dokter nggak bilang aku,” kataku.

“Aku nggak mau kamu khawatir.”

“Aku pacarmu. Aku tugasnya khawatir.”

“Itu bukan pasal.”

“Pasal empat belas,” kataku. “Baru. Pacar wajib dikabarin kalau pacarnya ke dokter.”

Dia menatapku lama. Aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang lewat terlalu cepat untuk kubaca. Seperti kilatan di sudut ruangan.

“Oke,” katanya. “Pasal empat belas.”

Satu kata. Poin dua.

Aku tidak menegurnya. Aku duduk di KURSI PEMILIK SISI KANAN dan menyandarkan kepala di bahunya. Dia tidak menegang seperti biasa. Tapi dia juga tidak melunak seperti biasa. Bahunya hanya diam. Seperti senar yang ditahan dengan jari.


Hal ketiga adalah Kevin.

Kevin berubah.

Bukan berubah besar. Kevin masih Kevin. Masih berisik, masih wangi, masih melaporkan setiap pesan Cleo dengan analisis sepanjang skripsi. Tapi ada yang lain.

Dia datang ke bengkel hampir setiap hari sekarang. Kadang pagi, kadang sore, kadang dua kali sehari. Dia selalu membawa sesuatu. Bukan makanan—itu tugasku, dan dia tahu. Dia membawa hal-hal aneh.

Hari Senin: sekantong wortel. Mentah. Tiga kilo.

“Buat apa?” tanyaku.

“Buat... buat dimakan,” kata Kevin. “Wortel bagus. Vitamin A. Buat—” Dia berhenti. Dia menatap Arya. Arya menatapnya balik dengan wajah datar. “Buat kulit. Biar glowing.”

“Kevin, Arya nggak peduli kulitnya glowing.”

“Semua orang harus peduli kulitnya glowing, Kak.”

Hari Rabu: dua kotak blueberry impor. Mahal. Kevin meletakkannya di meja kerja tanpa bicara, lalu duduk di lantai dan menatap Arya selama sepuluh menit tanpa berkedip.

“Kevin,” kata Arya akhirnya.

“Hm?”

“Kamu ngeliatin aku.”

“Nggak.”

“Kamu ngeliatin aku sepuluh menit.”

“Aku lagi ngeliatin... pianonya. Di belakangmu.”

“Di belakangku dinding.”

“Dindingnya bagus.”

Hari Kamis, sesudah Bu Harjo pergi: Kevin datang, berdiri di ambang pintu, menatap Arya yang sedang menyetel piano mainan, lalu tanpa peringatan berjalan cepat ke arahnya dan memeluknya. Dari kiri. Keras. Lama.

Arya membeku, dengan obeng masih di tangan.

“Kevin,” katanya.

“Diem.”

“Kamu meluk aku.”

“Aku bilang diem.”

Aku menatap mereka berdua dari KURSI PEMILIK SISI KANAN. Kevin memeluk Arya seperti orang memeluk seseorang di bandara, di depan gerbang keberangkatan. Wajahnya terbenam di bahu kiri Arya. Bahunya sedikit bergetar.

“Kevin?” kataku pelan. “Kamu nggak apa-apa?”

Kevin melepas pelukannya. Dia berdiri tegak. Wajahnya merah, matanya basah, dan dia tersenyum. Pakai seluruh gigi.

“Nggak apa-apa!” katanya. Terlalu keras. “Aku cuma... terharu. Sama kalian. Kalian lucu banget. Aku terharu aja.”

Tiga tanda Kevin sedang berbohong.

Aku tahu tanda-tandanya. Arya pernah menceritakannya padaku, sambil tertawa kecil, di angkringan. Wangi, kemeja disetrika, senyum pakai gigi.

Kevin tidak wangi hari itu. Kemejanya kusut. Tapi dia tersenyum pakai seluruh gigi.

Satu dari tiga.

Aku menatap Arya. Arya sedang menatap obeng di tangannya.


Cleo meneleponku malam itu.

“Vin,” katanya tanpa basa-basi. “Buaya kenapa?”

“Kenapa gimana?”

“Dia aneh. Seminggu ini.” Cleo menghela napas. “Dia masih chat aku. Masih lucu. Masih ngajak makan bakmi. Tapi dia nggak pernah natap mataku lagi. Kemarin kami makan bakmi goreng, akhirnya, di Kotagede. Dia ngomong sama bakminya. Bukan sama aku. Kayak orang yang nyimpen sesuatu di mulutnya dan takut kalau buka mulut kelebaran, sesuatunya keluar.”

Aku diam.

“Kayak orang nyimpen mayat,” kata Cleo.

“Cleo.”

“Aku serius, Vin. Aku kenal cowok yang nyimpen sesuatu. Mantanku dulu nyimpen tiga cewek sekaligus. Mukanya persis kayak gitu.” Cleo berhenti. “Aku nggak bilang Kevin nyimpen cewek. Aku cuma bilang dia nyimpen sesuatu.”

“Mungkin dia lagi ada masalah kerjaan.”

“Mungkin.”

“Mungkin dia gugup soal kamu.”

“Mungkin.” Cleo diam lama. “Arya gimana?”

Aku menatap langit-langit kamarku. Foto laut dangkal Raja Ampat di dinding, pudar. Kotak kayu kecil di meja samping tempat tidur.

“Arya baik,” kataku.

“Vin.”

“Dia baik, Cleo. Dia cuma capek. Punggungnya sakit. Dia disuruh dokter istirahat.”

Cleo tidak menjawab lama.

“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya.

“Yakin.”

Suaraku terang. Terang seperti lampu panggung. Aku mendengarnya sendiri, dan aku tidak suka.


Hal keempat terjadi hari Sabtu.

Aku ada acara di sebuah gedung di Jalan Magelang. Pernikahan kecil, dua ratus tamu. Arya bilang dia akan datang menjemputku setelah acara, jam sembilan malam. Dia bilang dia akan menunggu di parkiran, di sebelah kanan pintu keluar.

Acara selesai jam sembilan kurang sepuluh. Aku keluar dari gedung dengan sepatu flat pemberian Cleo, kotak kartu MC di tangan, dan senyum kerja yang pelan-pelan kulepas di setiap langkah.

Aku melihatnya dari jauh. Dia berdiri di parkiran, di bawah lampu, tepat di sebelah kanan pintu keluar seperti yang dia bilang. Jaket abu-abu. Kacamata. Wajah yang sedang mencari.

Aku melambai.

Dia tidak melambai balik.

Aku melambai lagi, lebih besar. Aku berjalan ke arahnya, di sisi kanannya, di tempat yang selalu bisa dia lihat. Sepuluh meter. Tujuh meter. Lima.

Dia masih mencari. Kepalanya menoleh ke depan. Ke kiri—ke sisi yang kosong, yang tidak pernah dia cari. Lalu ke kanan lagi. Tapi matanya melewatiku. Seperti aku tidak ada.

Tiga meter.

“Arya,” panggilku.

Dia menoleh. Seluruh badannya berputar ke arah suaraku. Dan wajahnya—dari jarak tiga meter, di bawah lampu parkiran—berubah. Lega. Seperti orang yang menemukan kunci yang dia kira hilang.

“Di situ,” katanya.

“Aku dari tadi di situ. Aku melambai dua kali.”

“Aku nggak lihat.”

“Aku di kananmu.”

“Iya.” Dia diam sebentar. “Lampunya silau.”

Aku menatap lampu parkiran di atas kami. Lampu jalan biasa. Lampu natrium oranye yang redup.

Aku menatap Arya.

Aku melihat dia menyipitkan mata kanannya lagi. Seperti di ulang tahunku. Seperti waktu lilin padam. Lalu dia mengedip dua kali. Lalu dia tersenyum—kecil, dengan lesung satu di kanan—dan mengulurkan tangan kanannya ke arahku.

“Pulang?” tanyanya.

Aku menatap tangannya.

Aku ingin bertanya. Aku ingin bertanya banyak hal. Huruf raksasa di ponselnya. Bu Harjo dan dokter dan punggung. Kevin dan wortel dan blueberry dan pelukan di bengkel. Lampu yang silau. Lambaian yang tidak dilihat. Tanganku yang dua kali terangkat di sisi kanannya, di sisi yang selalu bisa dia lihat, dan tidak dilihat.

Tapi aku tidak bertanya.

Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah sembilan belas tahun melakukan ini—tersenyum di tengah hal-hal yang tidak benar, supaya hal-hal itu tidak berbunyi terlalu keras. Aku ahli dalam hal ini. Aku bisa merasakan gelombangnya, wa-wa-wa, dan aku tahu persis cara membuatnya berhenti sebentar: tersenyum. Tertawa. Menggoda. Mengisi ruang.

Jadi aku menggenggam tangan kanannya.

“Pulang,” kataku, dengan senyum. “Kamu tahu nggak, tadi pengantin laki-lakinya nangis waktu ijab kabul. Nangis kenceng banget. Kayak anak kecil. Terus penghulunya ikut nangis. Terus aku harus improvisasi lima menit biar tamunya nggak ikut nangis semua.”

Dia tertawa kecil. Aku bercerita sepanjang jalan ke motor ojek yang dia pesan. Aku bercerita dengan suara terang, suara lampu panggung. Aku tidak berhenti bercerita sampai motor itu berangkat.


Hal kelima.

Hari Minggu pagi, di bengkel, saat Arya ke warung burjo untuk membeli sarapan, aku merapikan meja kerjanya. Aku tidak berniat mencari apa-apa. Aku hanya ingin meja itu rapi. Garpu tala di atas kain flanel. Kerikil di sebelahnya. Kartu pink dari Kevin.

Dan di bawah kartu pink itu, sebuah kartu lain.

Kartu kecil, putih, kaku. Seukuran kartu nama. Di bagian atas tercetak logo sebuah rumah sakit mata. Di bawahnya:

KARTU KONTROL PASIEN Nama: Arya Mahendra Dokter: dr. Hendra Wiratama, Sp.M(K) Jadwal kontrol berikutnya: Selasa

Aku menatap kartu itu lama.

Sp.M(K). Aku tidak tahu artinya. Aku tahu Sp.M artinya spesialis mata; Mama dulu ke dokter Sp.M untuk katarak Nenek. Tapi (K) di belakangnya—aku tidak tahu.

Mata. Bukan punggung.

Aku mendengar langkah kaki di luar pintu hijau. Aku meletakkan kartu itu kembali di bawah kartu pink Kevin. Posisinya persis sama. Aku MC. Aku terbiasa mengatur properti panggung.

Arya masuk dengan dua bungkus nasi gudeg.

“Arya,” kataku, dengan suara biasa. Ringan. “Kamu ke dokter mata?”

Dia berhenti di ambang pintu.

Aku melihatnya. Aku melihatnya dengan sangat jelas, karena aku sudah berbulan-bulan memperhatikan wajahnya seperti dia memperhatikan senar. Bahunya naik. Satu senti. Rahangnya mengeras. Tangannya yang memegang bungkus gudeg sedikit mengencang.

“Iya,” katanya.

“Kenapa?”

“Kontrol.”

“Kontrol apa? Minus?”

Dia diam. Dia berjalan ke meja kerja. Dia meletakkan bungkus gudeg di sebelah garpu tala. Dia tidak menatapku.

“Kontrol mata,” katanya.

Bukan jawaban. Aku tahu itu bukan jawaban. Dia tidak bisa bohong—dia selalu bilang begitu, dan aku percaya—dan dia tidak berbohong sekarang. Dia hanya tidak menjawab.

Aku bisa bertanya lagi. Aku bisa bilang Arya, pasal empat belas. Aku bisa bilang Arya, poin dua, minimal tiga kata. Aku bisa bilang Arya, kamu janji nggak bakal menjauh diam-diam, syarat nomor lima.

Aku membuka mulut.

“Oh,” kataku. “Oke. Gudegnya pakai krecek?”

Dia menoleh padaku. Dengan seluruh badannya. Dan untuk sesaat—hanya sesaat, sepersekian detik—aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang terlihat seperti lega. Dan di bawah lega itu, sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat seperti sedih.

“Pakai,” katanya. “Dua.”

Kami makan gudeg di lantai bengkel. Aku bercerita tentang pengantin yang menangis. Dia mendengarkan. Aku tertawa. Dia tersenyum. Semuanya seperti biasa.

Semuanya seperti biasa.


Malam itu, di kamarku di Condongcatur, aku duduk di tepi tempat tidur dan menatap foto laut dangkal di dinding.

Aku tidak menyalakan lampu. Aku tidak mengganti baju. Aku hanya duduk.

Lalu aku menyadari apa yang sedang kulakukan.

Bahuku turun. Wajahku dikosongkan. Seperti panggung setelah lampunya dimatikan.

Aku menarik napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Empat.

Sudah berminggu-minggu aku tidak melakukannya. Sejak tangga darurat Hotel Tentrem. Sejak kerikil di halaman SD. Sejak piano Mama berbunyi lagi. Aku berhenti menghitung napas, karena aku tidak perlu lagi. Karena ada seseorang yang tahu kapan aku capek, dan aku tidak perlu bersembunyi di balik pilar.

Dan malam ini, aku menghitung lagi.

Aku mengambil kotak kayu kecil dari meja samping tempat tidur. Aku membukanya. Garpu tala azure di atas kain flanel biru tua. Aku memukulnya ke lututku, pelan, dan mendekatkannya ke telinga.

La.

Bersih. Tanpa gelombang.

Dia nggak butuh kamu senyum. Dia cuma butuh kamu dengerin.

Aku mendengarkan. Aku mendengarkan La sampai memudar, sampai hilang, sampai kamar kembali sunyi.

Dan di kesunyian itu, aku mendengar sesuatu yang sudah seminggu kucoba untuk tidak kudengar.

Gelombang. Wa-wa-wa. Sangat pelan. Seperti sirene yang jauh sekali.

Di antara aku dan dia, ada dua senar yang belum sama.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku tidak tahu yang mana yang fals.