← Separuh yang Kulihat

Chapter Twenty One

Di Kananmu

POV: Arya

Kevin datang ke bengkel hari Minggu pagi dengan wajah orang yang baru pulang perang dan tidak yakin dia menang atau kalah.

“Jadi,” kataku.

“Jadi,” katanya. Dia duduk di KURSI ARYA tanpa izin. Bantal kucing oranye menggembung di bawahnya. “Jadi, Ar. Jadi.”

“Makan malamnya?”

“Makan malamnya.” Dia menatap langit-langit. “Dia pilih warung bakmi Jawa di Kotagede. Warung kecil. Pakai anglo. Antrenya satu jam.”

“Kamu antre satu jam.”

“Aku antre satu jam, dan dia ngobrol sama ibu-ibu di sebelahnya tentang harga cabai. Nggak ngomong sama aku sama sekali.” Kevin menutup wajah dengan kedua tangan. “Terus bakminya datang. Terus kami makan. Terus dia bilang enak.”

“Terus?”

“Terus dia pulang.”

Aku menunggu.

“Dia bilang makanannya enak, Ar,” kata Kevin dari balik tangannya. “Dia nggak bilang aku enak. Maksudnya—bukan aku enak, maksudnya dia nggak bilang malam ini enak. Atau kamu menyenangkan. Atau apa pun tentang aku. Cuma bakminya.”

“Kamu gombal?”

“Nggak! Sama sekali! Aku duduk kayak patung. Kayak kamu.”

“Kamu bawa bunga?”

“Nggak.”

“Puisi?”

“Ar, aku bukan orang bodoh.” Dia menurunkan tangannya. “Aku cuma... diem. Dengerin dia ngomongin cabai sama ibu-ibu. Terus aku inget kamu bilang perhatiin. Jadi aku perhatiin. Dia makan bakmi godog, bukan goreng. Dia nggak suka daun bawang. Dia minta kuahnya ditambah dua kali.” Kevin berhenti. “Dan waktu kami pulang, di parkiran, dia berhenti di depan mobilnya dan bilang makasih. Terus dia masuk mobil.”

“Terus?”

“Terus tadi pagi,” kata Kevin pelan, mengeluarkan ponselnya, “dia kirim ini.”

Dia menyodorkan layarnya ke sisi kananku.

Cleo: Bakmi goreng di situ juga enak. Belum dicoba.

Aku membaca pesan itu. Lalu menatap Kevin.

“Itu artinya—” kata Kevin.

“Aku tahu artinya.”

“Artinya dia mau balik ke sana. Sama aku. Buat nyoba yang goreng.” Suara Kevin mulai bergetar. “Ar. Itu kode. Itu—itu lampu mercusuar di tengah laut.”

“Kamu pernah pakai kalimat itu buat aku.”

“Aku tahu.” Dia tertawa, basah. “Ternyata kalimat itu bener.”


Davina datang jam sepuluh dengan dua kantong belanjaan dan pengumuman.

“Hari ini aku masak.”

Aku menatap kantong belanjaan itu. Wortel, kentang, buncis, ayam fillet, santan kemasan, dan satu bungkus bumbu instan dengan gambar kari di depannya.

“Kamu bisa masak?” tanyaku.

“Aku bisa baca petunjuk di belakang bungkus bumbu.”

“Itu bukan masak.”

“Itu masak dengan panduan.” Dia sudah berjalan ke ruang belakang, ke kompor kecil satu tungku di sebelah kasur lipat. “Kevin, kamu jangan pulang. Kamu jadi juri.”

Kevin menatapku. Aku menatap Kevin.

“Aku ada janji,” kata Kevin cepat.

“Kamu nggak ada janji,” kata Davina dari belakang tanpa menoleh. “Kamu bilang kamu mau nunggu Cleo bales pesan sampai sore.”

Kevin tidak pulang.

Dua jam berikutnya adalah pertunjukan yang tidak akan kulupakan.

Ruang belakang bengkel tidak dirancang untuk memasak. Kompornya satu tungku, panci yang kupunya hanya satu, dan talenan yang kupakai sebenarnya adalah potongan papan partitur piano yang sudah rusak. Davina berdiri di depan semua itu dengan celemek yang dia bawa dari rumah—celemek pink bergambar stroberi—dan wajah seorang jenderal yang baru melihat medan perang.

“Pisaunya mana?” tanyanya.

Aku menyerahkan cutter.

Dia menatap cutter itu. Lalu menatapku. “Arya. Ini cutter.”

“Itu yang paling tajam yang aku punya.”

“Kamu motong bawang pakai cutter?”

“Aku nggak motong bawang. Aku makan telur.”

Kevin, yang duduk di lantai bengkel di balik pintu, tertawa sampai tersedak.

Davina memotong wortel dengan cutter. Wortelnya menggelinding ke kolong kasur lipat. Dia memotong kentang dengan cutter. Salah satu potongan kentangnya melompat dan mendarat di dalam sepatuku. Dia membuka santan kemasan dengan gigi, karena guntingku ada di bengkel dan dia tidak mau keluar dari “zona masak”.

Aku berdiri di ambang pintu ruang belakang dan memperhatikan. Aku tidak membantu. Dia melarangku membantu. Ini masakanku, kamu cuma boleh lihat.

Jadi aku melihat. Dari sisi kanan. Rambutnya yang diikat asal-asalan dan mulai lepas di tengkuk. Keringat di dahinya. Cara dia menggigit bibir bawah setiap kali membaca petunjuk di belakang bungkus bumbu, seperti membaca naskah acara yang rumit.

“Arya,” katanya, menyodorkan sendok berisi kuah kari ke arahku, dengan satu tangan di bawahnya supaya tidak menetes. “Cicipin.”

Aku mencicipi.

“Gimana?”

Aku menimbang. “Asin.”

“Asin banget?”

“Asin di sendok ini. Mungkin nggak di sendok berikutnya.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Garamnya belum rata. Kamu masukin garamnya sekaligus, nggak diaduk.”

Dia menatapku dengan mata menyipit. “Kamu tahu cara masak?”

“Nggak. Tapi aku tahu cara sesuatu yang nggak rata.”

Dia mendengus, lalu mengaduk panci dengan semangat yang berlebihan, sampai kuah kari muncrat ke celemek stroberinya. Lalu dia menyodorkan sendok lagi. Manja. Dengan bibir sedikit maju.

“Cicipin lagi. Yang ini harus enak. Kalau nggak enak, bilang enak.”

“Aku nggak bisa bilang enak kalau nggak enak.”

“Buat aku. Sekali ini.”

Aku mencicipi. Aku menatapnya.

“Lebih baik,” kataku.

Dia menatapku lama. Lalu tersenyum, dengan lesung, dan kembali ke panci.

Itu bukan bohong. Kuahnya memang lebih baik. Dari sangat asin menjadi asin.

Dua jam kemudian, kami bertiga duduk di lantai bengkel dengan tiga piring kari ayam. Wortelnya masih keras di tengah. Kentangnya hancur jadi bubur. Kuahnya terlalu asin di satu sendok dan terlalu hambar di sendok berikutnya, seolah garamnya belum memutuskan mau tinggal di mana.

Kevin menyendok, mengunyah, dan menatapku dengan mata berair.

“Enak,” katanya ke Davina, dengan senyum pakai seluruh gigi.

Tiga tanda Kevin sedang berbohong. Aku hanya butuh satu.

“Wortelnya keras,” kataku.

Davina menoleh padaku dengan mata melotot. “Arya!”

“Kentangnya kelembekan.”

“Arya!”

“Garamnya nggak rata.” Aku menyendok lagi. Aku mengunyah. Aku menelan. “Tapi aku mau nambah.”

Dia berhenti melotot.

“Aku mau nambah,” ulangku, menyodorkan piring. “Ini makanan pertama yang dimasak orang buat aku di bengkel ini sejak Kakek meninggal.”

Hening. Kevin berhenti mengunyah.

Davina menatap piring yang kusodorkan. Lalu dia mengambilnya, pelan, dan berjalan ke kompor di belakang. Aku mendengarnya menyendok kari dari panci. Aku mendengarnya berhenti. Aku mendengarnya menarik napas, satu kali, seperti orang yang menahan tangis.

Kevin mencondongkan tubuh ke arahku dan berbisik, “Ar, kamu jahat banget. Kamu bikin dia nangis pakai kari.”

“Aku jujur.”

“Itu yang jahat.”


Sore harinya, setelah Kevin pulang untuk memeriksa ponselnya di tempat yang sinyalnya lebih bagus, aku mengantar Davina ke parkiran di ujung jalan.

Kami berjalan pelan. Dia di kananku. Jalan kampung tidak ramai. Motor lewat sesekali, dan setiap kali ada suara motor dari kiri, aku berhenti dan menunggu sampai lewat. Aku sudah melakukannya sejak hari itu. Sejak lengan kemejanya robek.

Dia menyadarinya. Aku tahu dia menyadarinya. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya ikut berhenti setiap kali aku berhenti, dan menggenggam tanganku sedikit lebih erat.

Di depan warung burjo, dia berhenti.

“Arya.”

“Hm.”

“Tadi,” katanya, “waktu kamu bilang aku mau nambah. Kamu serius?”

“Aku nggak bisa bohong.”

“Kari itu nggak enak.”

“Nggak enak.”

“Terus kenapa nambah?”

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku ingin menjawabnya dengan tepat.

“Karena kamu masak,” kataku. “Rasanya nggak penting.”

Dia menatapku lama. Lalu dia melepas tanganku. Dia melangkah ke depanku, lalu berbalik, dan berdiri di sisi kananku. Sangat dekat. Wajahnya memenuhi seluruh pandangan mata kananku, sama seperti di bawah pohon ketapang, bulan-bulan lalu, waktu dia pertama kali mengucapkannya sebagai gombal.

“Aku di kananmu,” katanya.

Tapi kali ini tidak ada nada gombal. Tidak ada senyum nakal. Suaranya pelan dan rata dan sangat serius, seperti orang yang mengucapkan janji di depan penghulu.

“Selama kamu mau. Selama kamu masih bisa lihat ke kanan, aku di situ.” Dia berhenti. “Dan kalau suatu hari kamu nggak mau lagi, kamu harus bilang. Langsung. Jangan diem-diem. Tapi sampai hari itu, aku di sini. Di kananmu. Tiap hari.”

Aku tidak bisa bicara.

Aku mengangkat tangan kananku. Pelan. Aku menyentuh pipinya, di tempat lesung kanannya berada. Kulitnya hangat karena matahari sore. Dia memejamkan mata di bawah sentuhanku.

“Oke,” kataku. Hanya itu yang bisa keluar.

Dia membuka mata. Dia tersenyum. Dengan lesung.

“Itu satu kata,” katanya. “Melanggar poin dua.”

“Aku terima hukumannya.”

“Hukumannya,” katanya, berjinjit, “ini.”

Dia mencium pipi kananku lagi. Cepat. Di tempat yang sama dengan di angkringan. Lalu dia berbalik dan berlari kecil ke parkiran sebelum aku bisa bereaksi, dan aku berdiri di depan warung burjo dengan tangan masih terangkat di udara dan wajah terbakar.

Mas penjaga burjo, dari balik etalase, mengacungkan dua jempol.


Aku kembali ke bengkel dan duduk di depan piano Kakek.

Aku tidak bekerja dulu. Aku membuka tutup tuts, meletakkan tangan di atasnya, dan memainkan lagu itu. Lagu tanpa ujung. Dari awal, hujan di genteng. Lalu bagian yang naik, orang yang memutuskan bangun pagi. Lalu bagian baru, yang kutulis dalam sembilan hari, tangga ke tempat yang belum pernah didatangi. Lalu La, sendirian, menggantung.

Dan setelah La, aku mencoba satu nada lagi.

Aku tidak tahu nada apa. Aku mencoba Re. Salah. Aku mencoba Mi. Terlalu cepat. Aku mencoba Sol, rendah, di oktaf bawah. Nadanya menggantung di udara bengkel yang mulai gelap, dan untuk sesaat, aku merasa itu hampir benar. Hampir.

Aku mengambil pensil dan menulis satu not di kertas partitur di atas papan. Satu not. Di bawahnya, aku menulis tanggal hari itu, dan satu kalimat kecil: Aku di kananmu.

Ujungnya belum ada. Tapi rasanya lebih dekat dari sebelumnya.

Pasal sembilan. Dia harus jadi orang pertama yang mendengarnya. Aku menutup tuts pelan-pelan, supaya tidak ada nada yang terdengar sebelum waktunya.


Malam itu, aku bekerja sampai larut.

Piano tegak dari sebuah sekolah musik di Sleman. Palunya bermasalah, dan aku harus mengganti bantalan filt di tiga oktaf. Pekerjaan yang teliti. Pekerjaan yang butuh mata.

Aku sedang memasang bantalan filt di palu nomor enam puluh tiga saat itu terjadi.

Kilatan.

Di sudut mata kananku, di pinggir sebelah luar, sesuatu menyala. Sebentar. Seperti lampu kilat kamera yang dinyalakan di ruangan sebelah. Putih, tipis, melengkung, lalu hilang.

Aku berhenti.

Aku menatap sudut bengkel. Gelap. Tidak ada lampu yang menyala. Tidak ada mobil yang lewat di luar—jendela bengkel menghadap tembok toko bingkai foto, tidak ada cahaya lampu jalan yang bisa masuk.

Aku menunggu. Tidak terjadi lagi.

Capek, pikirku. Aku sudah bekerja sejak jam enam pagi. Aku memakai satu mata untuk pekerjaan yang biasanya butuh dua. Mata kananku sudah dua puluh enam tahun bekerja sendirian. Wajar kalau dia mulai protes.

Aku melanjutkan pekerjaan. Palu nomor enam puluh empat. Enam puluh lima.

Kilatan lagi.

Kali ini di tempat yang sama. Sudut luar. Tipis, melengkung, putih. Lalu hilang.

Aku meletakkan palu. Aku melepas kacamata dan menggosok mata kananku pelan dengan punggung jari. Saat aku membuka mata lagi, tanpa kacamata, dunia yang kabur di pinggir-pinggirnya itu tampak sedikit lain. Ada sesuatu yang melayang di sana. Titik-titik kecil, abu-abu, seperti debu yang terbang di dalam air. Aku menggerakkan mata ke kiri, ke kanan. Titik-titik itu ikut bergerak, sedikit terlambat, lalu melayang pelan kembali ke tempatnya.

Aku sudah pernah melihat titik-titik seperti itu. Semua orang pernah. Dokter mataku waktu SMA bilang namanya floaters. Bayangan kecil di cairan mata. Tidak berbahaya. Biasanya.

Tapi tidak sebanyak ini.

Aku memakai kacamata lagi. Titik-titik itu masih ada, tapi dengan kacamata, dunia jadi tajam dan titik-titik itu jadi kurang terlihat. Seperti debu yang tenggelam di balik kaca.

Aku menatap garpu tala di atas meja kerja. Di sebelahnya, kerikil. Di sebelahnya, kartu pink dari Kevin yang terlipat.

Capek, pikirku lagi. Minus tinggi. Kerja terlalu lama. Kurang tidur—aku memang kurang tidur, beberapa minggu ini, karena ponselku mengeong sampai jam sebelas malam dan aku tidak pernah bisa berhenti membalasnya.

Aku mematikan lampu kerja.

Aku berbaring di kasur lipat di ruang belakang. Aku menatap langit-langit yang gelap. Mata kiriku, seperti biasa, tidak melihat apa-apa. Mata kananku melihat gelap.

Dan di gelap itu, di sudut luar, sekali lagi: kilatan. Tipis. Putih. Melengkung.

Seperti seseorang di ruangan sebelah yang menyalakan lampu kilat kamera, memotret sesuatu yang tidak bisa kulihat.

Aku memejamkan mata.

Aku memikirkan dia. Berdiri di sisi kananku di depan warung burjo, dengan matahari sore di pipinya, dan suaranya yang serius seperti orang mengucapkan janji.

Selama kamu masih bisa lihat ke kanan, aku di situ.

Aku tidur dengan kalimat itu di kepala.

Aku tidak memikirkan kilatan itu lagi.

Belum.