Chapter Twenty Eight
Pojok yang Sepi
POV: Arya
Hari pertama, ponselku tidak mengeong.
Aku tahu dia tidak akan mengirim pesan. Aku yang memintanya pergi. Aku yang memilih kebenaran-kebenaran yang membuatnya pergi. Tidak ada alasan baginya untuk mengirim pesan.
Tapi jam enam pagi, aku terbangun dan menatap ponsel di atas bantal. Menunggu.
Tidak ada kucing.
Jam tujuh. Jam delapan. Jam sembilan.
Aku tidak menghitungnya. Aku berusaha tidak menghitungnya. Aku gagal.
Hari kedua, aku mencoba bekerja.
dr. Hendra bilang istirahat total. Tidak membungkuk. Tidak mengangkat apa-apa. Tapi dr. Hendra tidak tinggal di bengkel yang sunyi, dengan dua kursi jati berdampingan dan satu kursi yang kosong. dr. Hendra tidak tahu bagaimana rasanya duduk diam di ruangan yang dulu berisik, dan mendengarkan tidak ada apa-apa.
Jadi aku mengambil piano mainan anak-anak dari rak. Pekerjaan kecil. Tidak perlu membungkuk. Aku menaruhnya di pangkuanku, dan aku mulai menyetel.
Aku tidak bisa melihat pin-pinnya.
Tirai itu sudah naik. Sedikit. Dari sudut bawah, pelan-pelan, seperti air yang merembes di kertas. Belum ke tengah—dr. Hendra bilang kalau huruf di tengah mulai bengkok, aku harus langsung datang, dan huruf di tengah belum bengkok. Tapi pinggir bawah pandanganku sekarang gelap, dan tangan-tanganku di atas pangkuan hilang di bawah tirai.
Aku menutup mata.
Kedua mata. Yang tidak bisa melihat, dan yang mulai tidak bisa.
Aku menyetel dengan telinga. Aku meraba pin dengan ujung obeng. Aku memutar sedikit. Aku mendengarkan. Aku memutar lagi.
Telinga itu nggak punya sisi kiri, Le.
Kakek benar. Telinga tidak punya sisi kiri. Telinga juga tidak punya tirai. Aku menyetel piano mainan itu sampai setiap nadanya bersih, dengan mata tertutup, di pojok bengkel yang sunyi.
Lalu aku membuka mata, dan aku menoleh ke kanan, ke KURSI PEMILIK SISI KANAN, untuk mengatakan sudah.
Kursi itu kosong. Bantal kucing oranye di atasnya. Kertas bertuliskan spidol Kevin di sandarannya, mulai lepas di satu sudut.
Aku menoleh terlalu cepat. Sebelum otakku ingat.
Aku meletakkan piano mainan itu di lantai. Aku duduk diam lama.
Hari ketiga, Kevin datang membawa nasi.
Dia datang setiap hari. Pagi dan sore. Dia membawa makan siang, karena tidak ada lagi yang membawa makan siang. Dia membawa obat tetes mata yang diresepkan dr. Hendra, dan meneteskannya ke mata kananku karena tanganku gemetar kalau mencoba sendiri. Dia menyapu lantai bengkel. Dia mencuci piring di ruang belakang.
Dia tidak banyak bicara.
Kevin, yang bisa bicara sendiri di ruangan kosong dan tetap terhibur, sekarang datang dan pergi dengan kalimat-kalimat pendek. Makan. Tetes obat. Aku pulang dulu. Dia berdiri di sebelah kiriku, seperti biasa. Tapi aku mendengar bedanya. Aku mendengar bahwa dia berdiri di sana karena harus, bukan karena mau.
Hari ketiga, dia meletakkan nasi bungkus di meja kerja dan tidak langsung pergi.
“Cleo nelepon aku,” katanya.
Aku menunggu.
“Kemarin. Habis acara nikahan di Graha Sabha. Davina MC-nya. Cleo wardrobe-nya.” Kevin berhenti. “Cleo lihat Davina.”
“Dia gimana?”
Kevin tidak menjawab lama.
“Cleo bilang,” katanya akhirnya, “senyumnya kayak senyum dia umur lima belas tahun. Waktu papanya tidur di sofa sebulan.”
Aku menatap nasi bungkus di meja. Dengan mata kanan, dari atas, karena bagian bawah sudah tertutup.
“Cleo tanya ke aku,” kata Kevin. “Dia tahu aku tahu sesuatu. Dia tanya aku nggak bisa bilang atau nggak mau bilang. Aku bilang aku janji.”
Aku menunggu.
“Dia bilang aku sama kayak mantannya.” Suara Kevin pecah di tengah kalimat. “Dia bilang mantannya juga selalu punya alasan kenapa nggak bisa bilang. Dia bilang aku ninggalin sahabatnya sendirian di Sudut Seduh.”
“Kevin—”
“Dia lepas sandalnya, Ar.” Kevin tertawa. Tawa yang salah. Tawa yang tidak ada di tangga nada mana pun. “Davina yang cerita ke aku. Lewat pesan, tadi pagi. Satu kalimat. Cleo lepas sandalnya di parkiran. Dia nyetir pulang nyeker.”
Aku tidak bisa bicara.
“Bakmi goreng,” kata Kevin. “Kami baru sempet nyoba bakmi goreng seminggu lalu. Akhirnya. Setelah dua puluh tiga kali ditolak. Setelah Bento. Setelah dia chat duluan.” Dia berhenti. “Dia bilang enak. Dan kali ini, di parkiran, dia bilang kamu juga lumayan. Aku nyimpen kalimat itu, Ar. Aku tulis di catatan hp. Tanggalnya, jamnya.”
Dia mengeluarkan ponselnya. Dia menatap layarnya. Lalu dia memasukkannya kembali.
“Aku kehilangan dia,” kata Kevin. “Karena aku jaga janjiku ke kamu.”
Aku menatapnya. Aku memutar seluruh badanku ke kiri, ke sisi yang tidak bisa kulihat, sampai dia masuk ke pandanganku. Dari atas, karena bagian bawah sudah tertutup. Aku melihat wajahnya. Mata yang merah. Pipi yang cekung. Kemeja yang tidak disetrika selama seminggu.
“Maaf,” kataku.
Kevin menatapku.
“Aku bikin kamu kehilangan Cleo,” kataku.
Aku menunggu dia bilang nggak. Aku menunggu dia bilang bukan salahmu, itu pilihanku, aku yang milih janji. Aku menunggu dia melakukan yang selalu dia lakukan: berdiri di kiriku dan mengambil kerikilnya.
“Iya,” kata Kevin.
Satu kata.
Dia mengatakannya dengan pelan. Tanpa marah. Tanpa menangis. Hanya satu kata yang benar, diletakkan di antara kami seperti batu di atas meja.
Lalu dia berbalik dan pulang.
Dia tidak membanting pintu kali ini. Dia menutupnya pelan. Dan itu lebih buruk.
Hari keempat, Pak Darto menelepon.
“Mas Arya? Ini Pak Darto. Sekolah.”
“Iya, Pak.”
“Mau tanya, Mas, soal piano aula. Yang dulu Mas bilang mau disetel bulan ini. Kepala sekolah nanya, jadinya kapan? Soalnya bulan depan ada acara pentas seni.”
Aku menatap kursi kosong di sebelah kananku.
“Saya belum bisa, Pak,” kataku. “Saya lagi sakit. Minggu depan saya operasi.”
“Walah.” Pak Darto terdengar terkejut. “Operasi apa, Mas?”
“Mata, Pak.”
Hening di seberang. Lalu, pelan: “Yang kanan?”
“Iya, Pak.”
Pak Darto tidak bicara lama. Aku mendengar dia menarik napas, gemetar, seperti orang tua yang baru mendengar kabar buruk tentang anak yang dulu dia berikan kunci perpustakaan.
“Nggak apa-apa, Mas,” katanya akhirnya. “Pianonya nunggu. Pianonya udah nunggu sepuluh tahun. Nunggu sebulan lagi nggak apa-apa.”
“Makasih, Pak.”
“Oh iya, Mas.” Suara Pak Darto berubah sedikit. Lebih ringan. Seperti orang yang teringat sesuatu yang lucu. “Mbak yang cantik itu—yang waktu reuni ngobrol sama Mas di pojok—dia sempet telepon Bapak minggu lalu.”
Aku membeku.
“Nanya kapan Mas mau setel pianonya,” kata Pak Darto. “Katanya dia mau nonton. Katanya dia mau jadi orang pertama yang dengar pianonya bener lagi.” Pak Darto tertawa kecil. “Dia minta Bapak jangan bilang ke Mas. Katanya kejutan. Tapi karena Mas sakit, ya, Bapak rasa Mas perlu tahu ada yang nungguin.”
Aku tidak bisa bicara.
“Mas? Masih di situ?”
“Masih, Pak.”
“Cepat sembuh ya, Mas. Bapak doain.”
Pak Darto menutup telepon.
Aku duduk di KURSI ARYA dengan ponsel di tangan. Lama. Sangat lama. Sampai layar ponselnya mati sendiri, dan aku melihat bayanganku di layar hitam itu, dari atas, dengan mata hitam dan mata azure, dan tirai yang menutup setengah wajahku di pantulan.
Katanya dia mau jadi orang pertama yang dengar pianonya bener lagi.
Pasal sembilan. Dia ingin jadi orang pertama.
Bahkan untuk hal-hal yang tidak pernah dia bilang padaku.
Hari kelima, aku mendengarkan pesan suaranya.
Aku tidak berniat. Aku membuka ponsel untuk mengecek jam, dan jempolku membuka percakapan kami, dan menggulir ke atas, dan berhenti di sebuah pesan suara berdurasi tujuh detik.
Dari hari aku membalas pesannya dengan udah, udah, dan dia merajuk.
Aku menekan tombol putar.
Tujuh detik. Jeritan kecil yang teredam, seperti jeritan ke dalam bantal. Diikuti suara napas. Diikuti—aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya—tawa kecil di ujungnya. Naik setengah nada.
Aku memutarnya lagi.
Dan lagi.
Aku memutarnya sampai aku bisa mendengar setiap bagiannya dengan mata tertutup. Jeritan, napas, tawa. Jeritan, napas, tawa. Aku mendengarkan tawa itu, yang naik setengah nada di ujung, seperti orang yang kaget pada dirinya sendiri.
Kamu satu-satunya suara yang aku cari kalau lagi di keramaian.
Tidak ada keramaian di bengkel. Hanya aku, dan piano-piano yang diam, dan dua kursi jati.
Dan aku masih mencarinya.
Hari keenam, aku mencoba menyelesaikan lagunya.
Aku duduk di depan piano Kakek. Aku tidak menyalakan lilin. Aku membuka tutup tuts. Aku meletakkan tangan di atasnya.
Aku memainkan lagu itu dari awal. Hujan di genteng. Orang yang bangun pagi. Tangga ke tempat yang belum pernah didatangi, yang kutulis dalam sembilan hari. La, sendirian, menggantung.
Lalu Sol, rendah, di oktaf bawah. Satu not yang kutulis malam itu, di kertas partitur, dengan tanggal dan satu kalimat kecil.
Setelah Sol, tidak ada apa-apa.
Aku mencoba. Re. Fa. Si. Semuanya salah. Aku mencoba lagi, dan lagi, dengan mata tertutup, dengan telinga yang tidak punya sisi kiri. Tidak ada yang cocok. Setiap nada yang kucoba terdengar seperti pertanyaan yang tidak dijawab.
Aku membuka mata dan menatap kertas partitur di atas papan. Aku ingin membaca not-not yang sudah kutulis. Aku ingin melihat apa yang kulewatkan.
Aku tidak bisa membacanya.
Tirai sudah menutup bagian bawah kertas. Not-not di atas masih terlihat, kabur. Not-not di bawah hilang. Dan di paling bawah, di bawah not Sol yang terakhir, di tempat aku menulis tanggal dan satu kalimat kecil dengan pensil—
Aku tidak bisa melihatnya.
Tapi aku tahu apa yang tertulis di sana. Aku yang menulisnya.
Aku di kananmu.
Aku menutup tuts piano. Pelan. Supaya tidak ada nada yang terdengar.
Hari ketujuh, Ibu menelepon.
Rabu malam, jam delapan lewat. Jangkrik di Magelang.
“Le, sudah makan?”
“Sudah, Bu.”
“Makan apa?”
Aku menatap nasi bungkus dari Kevin. Kevin masih datang. Pagi dan sore. Dia meletakkan makanan, meneteskan obat, dan pulang. Tiga kalimat. Kadang dua.
“Nasi, Bu. Dari Kevin.”
“Dari Kevin?” Ibu terdengar bingung. “Bukan dari Nak Davina?”
Aku memejamkan mata.
“Le?”
“Iya, Bu.”
“Nak Davina nggak kirim lagi?”
“Nggak, Bu.”
Hening di seberang. Jangkrik terus bernyanyi.
“Le,” kata Ibu pelan. “Kamu baik-baik saja, to?”
Kata-kata itu sudah siap. Dua puluh tahun. Baik-baik saja, Bu.
Aku membuka mulut.
Aku ingin bilang nggak. Aku ingin bilang Bu, mataku yang kanan sakit, minggu depan aku operasi, aku mungkin buta total, dan aku ngusir satu-satunya perempuan yang pernah bilang mataku cantik, dan sahabatku kehilangan perempuan yang dia sayang karena aku, dan aku sendirian di bengkel Kakek dan aku takut, Bu, aku takut sekali.
“Baik-baik saja, Bu,” kataku.
Ibu tidak menjawab lama.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Yang penting sehat.”
Dia menutup telepon.
Aku menatap ponsel di tanganku. Aku membuka riwayat panggilan. Nama Ibu di bagian paling atas. Aku menekan nama itu. Layar berubah jadi layar panggilan. Memanggil...
Aku menekan tombol merah sebelum dering pertama.
Malam itu, aku duduk di pojok bengkel. Kursi kayu tua dengan dinding di kiri. Tempat yang sama dengan malam-malam sebelum aku mengenalnya. Tempat yang dulu kusebut damai.
Aku mengeluarkan kerikil dari saku jaket. Kerikil kecil abu-abu yang dia lempar dari kanan di halaman SD. Aku menggenggamnya di tangan kanan, erat, sampai sisi-sisinya yang tajam menekan telapak tanganku.
Yang ini kamu lihat datangnya.
Aku menatap ke depan. Ke bengkel yang gelap. Ke dua kursi jati berdampingan. Ke piano Kakek dengan tempat lilin kuningan yang dingin. Ke meja kerja dengan garpu tala di atas kain flanel.
Semuanya ada di sisi kanan. Semuanya bisa kulihat. Separuhnya.
Separuh atasnya.
“Yang kulihat cukup,” kataku ke gelap.
Suaraku terdengar aneh di bengkel yang sunyi. Datar. Pelan. Seperti suara anak umur enam tahun di tangga semen, dengan kepala benjol, yang memutuskan untuk tidak menangis.
Aku menunggu kalimat itu bekerja seperti dulu. Seperti dua puluh tahun terakhir. Aku menunggu kalimat itu menutup sesuatu, mengunci sesuatu, membuat semuanya tenang dan rata dan tidak berbunyi.
Kalimat itu tidak bekerja.
Aku duduk di sana dengan kerikil di tangan, dan aku mendengar kalimatku sendiri menggantung di udara bengkel yang gelap. Fals. Sangat fals. Seratus sen. Lebih.
Dua puluh enam tahun, aku tidak pernah bohong.
Malam itu, di pojok yang dulu kusebut damai, untuk pertama kalinya aku mengucapkan sesuatu yang aku tahu tidak benar.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi reading
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut