← Separuh yang Kulihat

Chapter Twenty Nine

Kevin Melanggar Janji

POV: Davina

Kevin datang ke rumahku hari Kamis jam enam pagi.

Aku tahu jam enam pagi karena aku sudah bangun sejak jam empat. Aku tidak bisa tidur lagi sejak Sudut Seduh. Aku tidur dua jam, bangun, menatap langit-langit, tidur satu jam, bangun lagi. Tubuhku sudah menyerah menghitung.

Bel pintu berbunyi. Sekali. Lalu tiga kali berturut-turut, cepat, seperti orang yang kehilangan kesabaran di antara dua dering.

Mama yang membuka. Aku mendengar suaranya dari tangga. “Lho, Nak Kevin? Pagi-pagi sekali. Ada apa?”

Lalu suara Kevin. Aku hampir tidak mengenalinya. Serak. Rendah. Tanpa satu pun nada terang yang biasanya dia bawa ke setiap ruangan seperti orang membawa lampu senter.

“Tante. Davina ada?”

Aku turun.

Kevin berdiri di ruang tamu kami, di depan piano Mama. Dia memakai kaus yang sama dengan yang dia pakai—aku tidak tahu, aku tidak ingat—tapi jelas sudah dipakai lebih dari sehari. Rambutnya tidak disisir. Tidak wangi. Kemejanya tidak ada; hanya kaus kusut dengan noda kopi di dada. Dan wajahnya—

Wajahnya seperti orang yang baru keluar dari ruang operasi. Dari sisi pasien.

“Kak,” katanya.

“Kevin.”

“Aku mau ngomong sesuatu.” Dia menelan ludah. “Dan aku butuh Cleo juga di sini. Aku udah telepon dia. Dia nggak angkat. Aku kirim pesan. Aku bilang ini soal Arya. Aku bilang ini darurat. Aku bilang—” Suaranya pecah. “Aku bilang ini level merah. Level merah yang beneran.”


Cleo datang dua puluh menit kemudian.

Dia masuk tanpa mengetuk—pintu masih terbuka—dengan kaus hitam, celana training, rambut dikuncir asal-asalan, dan sepatu kets. Bukan sandal krem. Dia berdiri di ambang pintu dan menatap Kevin, yang duduk di sofa dengan kepala di antara lutut.

“Kalau ini trik,” katanya dingin, “aku pulang.”

“Bukan trik,” kata Kevin, tanpa mengangkat kepala.

“Kalau kamu mau minta maaf ke aku, bukan sekarang.”

“Bukan soal kita.” Kevin mengangkat kepala. Matanya merah. “Duduk, Cleo. Please. Ini soal Arya.”

Cleo menatapnya lama. Lalu dia melihat wajah Kevin dengan benar untuk pertama kalinya, dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Sesuatu yang melunak di pinggir, sebelum dia menguncinya lagi.

Dia duduk. Di kursi di seberang Kevin. Jauh dari Kevin.

Mama datang dari dapur membawa tiga gelas teh manis dan sepiring pisang goreng. Dia meletakkannya di meja tanpa bicara. Dia menatap Kevin, lalu menatapku. Lalu dia menyentuh bahuku, sekali, pelan, dan kembali ke dapur. Dia menutup pintu dapur.

Radio klasik Papa di ruang tengah memainkan sesuatu dengan cello. Rendah. Lambat.

Kevin menatap gelas teh di depannya. Dia tidak menyentuhnya.

“Aku janji ke Arya,” katanya.

Aku menunggu.

“Di rumah sakit. Tiga minggu lalu. Di bawah pohon ketapang.” Kevin menarik napas panjang, gemetar. “Dia minta aku janji nggak bilang ke Kakak. Dia bilang dia jarang minta. Dia bilang dua puluh tahun dia nggak pernah minta apa-apa ke aku. Dan itu bener, Kak. Itu bener. Dia nggak pernah minta apa-apa. Dan pertama kali dia minta, dia minta itu.”

“Rumah sakit,” kataku. Suaraku datar. Aku tidak tahu bagaimana.

Kevin mengangkat kepala. Dia menatapku.

“Aku janji ke Arya,” katanya lagi. “Tapi aku lebih dulu jadi sahabatnya.”


Dia menceritakan semuanya.

Dia menceritakannya dengan urutan yang berantakan, seperti orang yang terlalu lama menahan air dan sekarang membuka keran sekaligus. Mundur, maju, mengulang. Aku tidak memotongnya. Cleo tidak memotongnya. Kami duduk di ruang tamu dengan teh yang mendingin dan pisang goreng yang tidak disentuh, dan kami mendengarkan.

Kilatan cahaya di mata kanan. Malam setelah aku memasak kari. Malam setelah aku berdiri di depan warung burjo dan bilang aku di kananmu, selama kamu masih bisa lihat ke kanan.

Bayangan seperti tirai. Di rumah Kila, tiga hari setelah ulang tahunku.

Rumah sakit mata di Jalan Kaliurang. dr. Hendra Wiratama, Sp.M(K). K artinya konsultan. Dokter mata yang khusus menangani retina.

Ablasio retina. Retina yang lepas dari dinding belakang mata. Laser, seratus dua puluh tujuh kilatan hijau. Tidak cukup. Melebar.

Operasi. Senin. Empat hari lagi.

“Dan kemungkinan paling buruknya,” kata Kevin, dengan suara yang hampir tidak terdengar, “dia bisa buta. Total. Kiri dan kanan.”

Cleo menutup mulutnya dengan tangan.

Aku tidak bergerak. Aku duduk di sofa dengan tangan di pangkuan, dan aku mendengarkan, dan aku merasakan setiap kata masuk seperti air dingin yang meresap ke kain.

Huruf raksasa di ponselnya.

Mataku dua puluh enam tahun kerja sendirian. Dia boleh capek.

Bu Harjo. Dokter. Punggung.

Kebanyakan bungkuk.

Lampu teras lima watt yang silau. Asap lilin yang perih. Lambaian yang tidak dilihat di parkiran Jalan Magelang.

Lampunya silau.

Pakai mata kanan. Selagi masih bisa.

Semua benar. Semua bukan semuanya.


“Setelah operasi,” kata Kevin, “dia harus nunduk dua minggu. Telungkup. Siang malam. Dia nggak bisa lihat apa-apa, buram semua, kayak di dalam air. Dan dia nggak boleh naik pesawat dua bulan.” Kevin berhenti. “Karena gasnya. Di dalam mata.”

Aku nggak bisa ke Raja Ampat.

“Makanya dia putusin Kakak.” Kevin menatap lantai. “Dia bilang dia nggak mau jadi satu lagi yang Kakak harus tanggung. Dia bilang Kakak udah nanggung terlalu banyak sejak umur tujuh tahun. Dia bilang kalau operasinya gagal, Kakak bakal jadi matanya seumur hidup, dan Kakak nggak bakal pernah ke Raja Ampat, karena Kakak nggak bakal ninggalin dia sendirian.”

Kevin mengangkat kepala.

“Dia bilang Kakak pantas dapat orang yang bisa lihat Kakak utuh.”

Hening.

Radio klasik Papa sudah berganti lagu. Piano sekarang. Sendirian. Pelan.

“Dia nggak bohong,” kataku.

Suaraku terdengar aneh. Jauh. Seperti suara dari balik pilar.

“Nggak,” kata Kevin. “Dia nggak pernah bohong. Semua yang dia bilang ke Kakak di Sudut Seduh itu bener. Duniamu rame. Dia nggak bisa ke Raja Ampat. Kakak pantas dapat yang lebih.” Dia tertawa, pahit. “Dia pilih kebenaran yang bikin Kakak pergi. Dia jago banget milih kebenaran. Dia udah latihan dua puluh enam tahun.”


Cleo bergerak lebih dulu.

Dia berdiri dari kursinya. Dia berjalan ke Kevin. Dan dia berdiri di depan Kevin, menatapnya dari atas, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Kenapa sekarang?” tanyanya.

Kevin mendongak.

“Kamu jaga janji itu tiga minggu,” kata Cleo. “Kamu kehilangan aku gara-gara janji itu. Kamu biarin aku bilang kamu sama kayak mantanku. Kamu biarin aku lepas sandalnya. Kenapa sekarang?”

Kevin menatapnya lama.

“Tadi malam,” katanya pelan, “aku ke bengkel. Jam sepuluh. Aku bawa nasi. Dia nggak angkat telepon, jadi aku khawatir.” Dia berhenti. “Pintunya nggak dikunci. Lampunya mati. Aku mau masuk, tapi aku dengar suara.”

Dia menelan ludah.

“Dia duduk di pojok. Di kursi kayu tua kakeknya. Dinding di kiri. Di gelap. Aku lihat dari celah pintu. Dia megang sesuatu di tangan kanan. Erat banget. Aku nggak tahu apa.”

Kerikil.

Aku tahu apa itu. Aku tidak perlu melihat.

“Terus dia ngomong,” kata Kevin. “Ke gelap. Ke nggak ada siapa-siapa.” Suaranya pecah. “Yang kulihat cukup.”

Aku menutup mata.

“Aku udah kenal dia dua puluh tahun, Kak. Aku dengar dia ngomong kalimat itu pertama kali waktu kami kelas satu SD, di tangga semen, habis kena kerikil. Dan waktu itu, kalimat itu bener. Dia beneran ngerasa cukup. Aku tahu, karena aku di sebelahnya, dan aku bisa dengar.” Kevin berhenti. Dia menyeka matanya dengan lengan kaus yang kotor. “Tadi malam, kalimat itu bohong.”

Hening.

“Arya bohong,” bisik Kevin. “Arya nggak pernah bohong. Seumur hidupnya. Dan tadi malam, di gelap, sendirian, dia bohong ke dirinya sendiri.”

Dia menatapku.

“Dan aku sadar, aku nggak lagi jaga janji buat dia. Aku jaga janji buat ketakutannya. Dan sahabat nggak jaga ketakutan sahabatnya.” Dia berhenti. “Sahabat berdiri di sebelah kirinya dan ambil kerikilnya.”


Cleo tidak bicara lama.

Lalu dia berlutut. Di depan Kevin. Di lantai ruang tamu kami. Dia mengambil tangan Kevin yang kotor, dan dia menggenggamnya.

Dia tidak bilang maaf. Dia tidak bilang aku ngerti. Dia tidak bilang apa-apa.

Dia hanya menggenggam tangan Kevin, di lantai ruang tamu, di depan piano Mama.

Kevin menatap tangan mereka. Lalu dia menangis. Keras. Dengan bahu yang berguncang dan suara yang tidak ditahan. Kevin menangis seperti anak umur sembilan tahun yang mengubur anjingnya dengan sendok semen.

Cleo tidak melepaskan tangannya.


Aku berdiri dari sofa.

Aku tidak tahu kenapa. Kakiku bergerak sendiri, seperti tangan yang terangkat saat bola datang. Aku berjalan ke tangga. Aku naik ke kamarku. Aku membuka lemari. Aku mengambil tas selempang yang kupakai ke Sudut Seduh. Tas yang basah di lantai kamar mandi. Tas yang belum kubuka lagi sejak malam itu.

Di dalamnya, brosur-brosur Raja Ampat yang sudah kering dan keriting di pinggir. Dan tumpukan kartu MC tanpa karet gelang.

Aku mengeluarkan kartu paling belakang.

POIN TERAKHIR: Nggak ada rencana B.

Tinta pulpennya sedikit luntur. Tapi masih terbaca.

Aku memegang kartu itu lama. Aku mendengar Kevin menangis di bawah. Aku mendengar radio klasik Papa. Aku mendengar Mama membuka pintu dapur, pelan, lalu menutupnya lagi.

Lalu aku membuka laci meja samping tempat tidur. Di pojok laci, di bawah kotak kayu kecil berisi garpu tala azure, ada sesuatu yang kusimpan sejak pasar malam Sekaten.

Kerikil.

Kerikil kembaran. Kecil, abu-abu, sedikit berkilat. Aku memungutnya diam-diam dari akar pohon trembesi di halaman SD, hari itu, setelah aku melempar kerikil yang pertama ke tangan kanannya. Aku tidak pernah bilang padanya. Aku menyimpannya di saku jaket ke pasar malam, lalu di laci ini, dan aku tidak tahu kenapa.

Sekarang aku tahu.

Aku menggenggam kerikil itu di tangan kanan. Kartu MC di tangan kiri.

Aku turun ke bawah.


Mereka berdua masih di lantai ruang tamu. Kevin sudah berhenti menangis. Cleo masih menggenggam tangannya. Mama berdiri di ambang pintu dapur, dengan celemek, dengan wajah yang basah.

Mereka semua menatapku.

Aku berdiri di ujung tangga. Aku tidak tersenyum. Aku tidak tahu apa yang ada di wajahku. Aku tidak memeriksanya.

“Kevin,” kataku.

Kevin mengangkat kepala.

“Kamu bilang dia pilih kebenaran yang bikin aku pergi.”

“...Iya, Kak.”

“Kamu tahu kebenaran mana yang nggak dia bilang?”

Kevin menatapku.

“Dia bilang duniaku rame. Dia bilang dia nggak bisa ke Raja Ampat. Dia bilang aku pantas dapat orang yang bisa lihat aku utuh.” Aku berjalan turun, satu anak tangga, dua. “Waktu aku tanya dia masih suka aku atau nggak—”

Aku berhenti di anak tangga terakhir.

“Dia diem,” kataku. “Dia nggak bilang nggak. Karena dia nggak bisa bohong.”

Cleo menutup mulutnya.

“Dia masih suka aku,” kataku. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Dia suka aku sampai dia rela bohong ke dirinya sendiri, di gelap, sendirian. Dan dia pikir itu kebaikan.”

Aku mengangkat kartu MC di tangan kiriku. Aku menatapnya.

“Dia nggak berhak,” kataku pelan, “mutusin aku pantas dapat apa.”


Hening di ruang tamu.

Lalu Cleo berdiri. Dia masih menggenggam tangan Kevin, jadi Kevin ikut berdiri, terhuyung.

“Kamu mau ke sana,” kata Cleo. Bukan pertanyaan.

“Besok.”

“Kenapa nggak sekarang?”

“Karena aku belum tidur tiga hari, mukaku kayak mayat, dan aku mau dia lihat aku.” Aku menatap Cleo. “Selagi dia masih bisa.”

Cleo menatapku lama. Lalu dia mengangguk.

“Aku ikut,” katanya.

“Nggak.”

“Vin—”

“Ini aku sendiri, Cleo.” Aku menggenggam kerikil di tangan kananku lebih erat. “Dia udah dua puluh enam tahun ngadepin semuanya sendiri. Dia nggak perlu penonton. Dia perlu satu orang.”

Cleo menatapku. Lalu dia menoleh ke Kevin, yang tangannya masih dia genggam, yang wajahnya masih basah dan matanya masih merah.

“Kamu,” kata Cleo ke Kevin. “Antar dia besok. Tunggu di luar. Jangan masuk.”

Kevin mengangguk. Cepat. Berkali-kali.

“Dan satu lagi,” kata Cleo.

Kevin menatapnya.

“Nanti,” kata Cleo, pelan, “kita ngomong. Soal kita. Nanti. Kalau Arya udah selesai operasi.” Dia berhenti. “Aku belum maafin kamu.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku ngerti kenapa kamu diem.”

Kevin tidak bisa menjawab. Dia hanya menatap Cleo dengan wajah seperti orang yang baru melihat lampu mercusuar di tengah laut, setelah tiga minggu tersesat dalam kabut.


Malam itu, aku mandi. Aku makan nasi yang dibawakan Mama ke kamar—Mama tidak bertanya apa-apa, hanya meletakkan piring di meja dan mencium kepalaku, seperti waktu aku masih kecil. Aku tidur. Tujuh jam. Tanpa terbangun.

Sebelum tidur, aku melakukan satu hal.

Aku mengambil ponselku. Aku membuka percakapan dengan kontak yang namanya kurahasiakan sampai mati. Aku tidak mengetik pesan. Aku hanya menatap nama itu di bagian atas layar. Nama yang kupilih di hari aku membajak ponselnya di bengkel, di hari pertama aku mendengar dia bermain piano dengan kedua mata terpejam.

Aku menatap nama itu lama.

Lalu aku meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur. Di sebelah kotak kayu kecil berisi garpu tala azure. Di sebelah kartu MC yang tintanya luntur. Di sebelah kerikil kembaran, kecil dan abu-abu, yang sejak tadi pagi tidak pernah lepas dari tanganku.

Aku menatap foto laut dangkal yang pudar di dinding.

Punyamu nggak pudar.

Aku bilang begitu padanya. Di bawah pohon ketapang, bulan-bulan lalu, dengan kacamatanya di tanganku dan mata kirinya yang azure menatap ke arahku tanpa bisa melihat.

Besok, aku akan memastikan dia tahu bahwa itu masih benar.

Apa pun yang terjadi hari Senin.