Chapter Thirty Two
Ruang Tunggu
POV: Davina
Rumah sakit mata di Jalan Kaliurang jam enam pagi terasa seperti bandara yang semua penumpangnya sedang takut terbang.
Lampu neon putih. Lantai keramik yang berkilat. Bau antiseptik yang tajam di hidung. Orang-orang tua dengan penutup mata duduk di kursi-kursi plastik biru, didampingi anak-anak mereka yang memegang map berisi berkas dan wajah yang sama pucatnya dengan wajah orang tua mereka.
Arya duduk di kursi paling ujung, di sebelah dinding. Dinding di kiri. Tentu saja.
Aku duduk di kanannya.
Dia sudah memakai baju pasien. Biru muda, tipis, dengan tali di belakang. Gelang plastik putih di pergelangan tangan kanannya: ARYA MAHENDRA — 26 TH — OD. Aku bertanya pada perawat apa artinya OD. Perawat bilang itu singkatan bahasa Latin untuk mata kanan.
Di atas alis kanannya, seseorang sudah menggambar tanda panah kecil dengan spidol ungu. Menunjuk ke mata kanan. Supaya dokter tidak salah mata.
Aku menatap tanda panah itu lama.
“Nggak mungkin salah,” kata Arya, tanpa menoleh. “Yang kiri nggak ada yang perlu dioperasi.”
“Aku tahu.”
“Kamu ngeliatin panahnya.”
“Kok tahu?”
“Kamu di kananku. Aku bisa lihat kamu.” Dia berhenti. “Dari atas.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
Ibu Arya duduk di kursi di seberang kami, dengan rantang susun tiga di pangkuan. Dia belum membukanya. Dia hanya memeluknya, seperti orang memeluk tas berisi dokumen penting. Di sebelahnya, ibu Kevin—Tante Wulan, perempuan tinggi dengan kacamata dan senyum yang persis seperti Kevin—mengusap punggungnya pelan.
Kevin berdiri. Dia tidak bisa duduk. Dia sudah berdiri sejak kami datang, bergerak dari dinding ke dinding, dari mesin minuman ke jendela, dari jendela ke papan pengumuman yang isinya tentang katarak. Dia sudah membaca papan pengumuman itu empat kali.
Cleo belum datang.
“Dia bilang dia dateng,” kata Kevin untuk ketiga kalinya, menatap pintu masuk. “Dia bilang jam enam lewat. Ini udah jam enam lewat lima belas.”
“Macet, mungkin,” kataku.
“Jam enam pagi di Jalan Kaliurang nggak macet, Kak.”
“Kevin,” kata Arya pelan.
Kevin berhenti mondar-mandir.
“Duduk,” kata Arya. “Kamu bikin aku pusing. Dan aku cuma bisa lihat setengah kamu.”
Kevin menatapnya. Lalu dia tertawa—tawa yang aneh, basah, setengah panik—dan duduk. Di kursi di sebelah kiri Arya. Di tempatnya.
Dia langsung berdiri lagi tiga puluh detik kemudian.
Jam enam lewat dua puluh, dr. Hendra keluar dari lorong operasi.
Dia sudah memakai baju operasi hijau dan penutup kepala kain bermotif kotak-kotak. Kacamata berbingkai emasnya sama. Dia berjalan ke arah kami dengan map di tangan, dan dia berhenti di depan Arya.
“Mas Arya. Siap?”
“Siap, Dok.”
dr. Hendra menoleh ke kursi-kursi di sekitar Arya. Ibu. Tante Wulan. Kevin yang berdiri lagi. Dan aku.
Arya melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia memutar seluruh badannya ke arahku. Dia mengangkat tangan kami yang masih bergenggaman, sedikit, supaya dr. Hendra bisa melihatnya.
“Dok,” katanya. “Ini pasangan saya. Davina.”
dr. Hendra menatapku.
“Dia tahu,” kata Arya. “Semuanya.”
Hening sebentar. Lalu wajah dr. Hendra berubah. Pelan. Dari wajah dokter yang membaca peta, jadi wajah laki-laki paruh baya yang baru mendengar kabar baik tentang seseorang yang dia pedulikan.
“Bagus,” katanya. Hanya itu. Tapi dia mengatakannya dengan nada yang membuatku ingin menangis. Seperti dia sudah menunggu kalimat itu sejak minggu pertama.
Dia menjelaskan prosedurnya lagi, untuk kami semua. Satu jam, mungkin satu setengah. Bius lokal ditambah obat penenang, jadi Arya akan setengah tidur. Setelah selesai, mata kanan akan ditutup kasa dan pelindung plastik. Dan Arya harus langsung menunduk.
“Hari ini dan besok, matanya masih diperban,” kata dr. Hendra. “Jadi Mas Arya nggak bisa lihat apa-apa, sama sekali, sampai besok pagi. Itu normal. Jangan panik.”
Aku mengangguk. Ibu mengangguk. Kevin mengangguk begitu keras sampai lehernya berbunyi.
“Setelah perban dibuka,” lanjut dr. Hendra, “penglihatannya buram. Kayak di dalam air. Pelan-pelan membaik, seiring gasnya diserap. Hasil akhirnya baru kelihatan beberapa minggu lagi.”
“Dok,” kataku. Suaraku keluar kecil. “Kalau—kalau pas buka perban, dia nggak bisa lihat apa-apa—”
“Dia nggak bakal lihat jelas,” kata dr. Hendra, lembut. “Itu pasti. Tapi seharusnya dia bisa lihat terang dan gelap. Bentuk. Gerakan.” Dia menatapku. “Kita lihat besok. Satu hari satu hari.”
Satu hari satu hari.
Aku mengangguk.
Seorang perawat datang dengan kursi roda. Arya berdiri.
Dia menatap Ibu. Ibu berdiri, meletakkan rantang di kursi, dan memeluknya. Singkat. Keras. Dia membisikkan sesuatu di telinga Arya yang tidak bisa kudengar, dan Arya mengangguk.
Dia menatap Kevin. Kevin berdiri di sebelah kirinya. Mereka tidak berpelukan. Kevin hanya mengangkat tangan dan meletakkannya di bahu kiri Arya. Di sisi yang tidak bisa dia lihat.
“Aku di sini,” kata Kevin.
“Aku tahu.”
“Aku nggak ke mana-mana.”
“Aku tahu, Kevin.”
Kevin mengangguk. Dia menarik tangannya kembali. Dia menunduk, cepat, dan menyeka matanya dengan punggung tangan.
Lalu Arya menatapku.
Dia berjalan satu langkah ke arahku. Dia berhenti. Aku melihat dia menunduk sedikit, supaya wajahku jatuh di bagian atas pandangannya. Di bagian yang masih ada.
Dia tidak bicara. Dia hanya menatap. Lama. Seperti malam tadi, di depan piano kakeknya, di bawah dua lilin. Menghafal.
“Arya,” kataku.
“Hm.”
Aku melangkah. Aku berdiri di sisi kanannya. Sangat dekat. Sampai wajahku memenuhi seluruh bagian atas dunianya.
“Aku di sini,” kataku, “waktu kamu buka mata.”
Dia menatapku. Lalu dia mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya sejak Sudut Seduh, dia tersenyum. Kecil. Dengan satu lesung di kanan. Yang hanya aku yang pernah lihat.
Dia duduk di kursi roda. Perawat mendorongnya ke lorong operasi. Pintu ayun berdaun dua terbuka, lalu menutup di belakangnya dengan bunyi karet yang pelan.
Aku berdiri di tengah ruang tunggu dan menatap pintu itu.
Aku tidak tersenyum.
Aku tidak menarik napas empat kali.
Aku hanya berdiri di sana, dengan wajah yang tidak dipakaikan apa-apa, dan menangis di depan orang-orang tua dengan penutup mata, di depan Ibu, di depan Kevin, di depan perawat yang lewat membawa map.
Tidak ada yang memintaku berhenti.
Ibu Arya membuka rantangnya jam tujuh lewat seperempat.
“Makan,” katanya pada kami semua. Susun pertama, nasi. Susun kedua, opor ayam. Susun ketiga, lemper, lima belas buah, dibungkus daun pisang dengan rapi.
“Bu, saya nggak lapar,” kata Kevin.
“Makan.”
Kevin makan. Satu lemper. Lalu dua. Lalu tiga. Dia makan lemper seperti orang yang tidak sadar sedang makan, mata terus menatap pintu ayun lorong operasi. Pada lemper keempat, Tante Wulan menepuk tangannya.
“Vin,” kata Tante Wulan. “Kamu udah makan empat.”
Kevin menatap tangannya. Ada lemper kelima di sana. Setengah terbuka.
“Aku nggak sadar,” bisiknya.
Ibu Arya mengambil lemper itu dari tangannya dengan lembut. Lalu dia menarik Kevin untuk duduk di sebelahnya, dan dia merangkul Kevin seperti merangkul anaknya sendiri.
“Le,” kata Ibu Arya ke Kevin. “Kamu dari TK sudah di kirinya. Ibu tahu. Ibu selalu tahu.” Dia menepuk punggung Kevin. “Terima kasih, ya, Le.”
Kevin menangis di bahu Ibu Arya.
Aku menatap mereka. Tante Wulan menatap mereka. Seorang bapak tua dengan penutup mata di kursi sebelah menatap mereka, dengan mata yang tidak diperban, dan berkata pelan ke istrinya, anak-anak zaman sekarang sayang-sayangan, ya, Bu.
Cleo datang jam tujuh lewat dua puluh.
Dia masuk dari pintu utama dengan napas tersengal. Kaus hitam, jeans, rambut dikuncir asal-asalan. Tas selempang di bahu. Dia berhenti di tengah ruang tunggu dan mencari kami.
Dia menemukan kami. Dia menemukan Kevin, masih duduk di sebelah Ibu Arya, dengan mata merah dan remah lemper di dagu.
Dia berjalan ke arah kami.
“Maaf telat,” katanya. “Ban mobilku kempes di Jalan Monjali. Aku harus ganti sendiri.”
“Kamu ganti ban sendiri?” tanya Kevin.
“Aku bisa ganti ban sendiri, Kevin.”
“Aku tahu kamu bisa. Aku cuma—”
“Kevin.”
Kevin berhenti.
Cleo duduk. Di kursi plastik biru. Di sebelah Kevin. Tepat di sebelahnya. Seperti di warung burjo, di syukuran tumpeng, waktu dia mengambil kursi plastik merah sendiri dan meletakkannya di sebelah kursi Kevin.
Lalu dia membuka tas selempangnya.
Dan dia mengeluarkan sesuatu.
Sepasang sandal kain. Krem. Ukuran tiga puluh delapan.
Kevin menatap sandal itu. Wajahnya berhenti bergerak.
Cleo melepas sepatu ketsnya. Satu per satu. Dengan tenang, seperti orang yang sedang melakukan hal paling biasa di dunia. Dia memasukkan sepatu kets ke dalam tas. Dia meletakkan sandal krem di lantai keramik rumah sakit yang berkilat. Dan dia memakainya.
Kiri. Lalu kanan.
“Lantai rumah sakit dingin,” katanya datar, menatap lurus ke depan.
Kevin tidak bisa bicara.
Aku menutup mulut dengan tangan. Lantainya dingin. Cleo mengatakan kalimat itu di kamarnya yang abu-abu, bulan-bulan lalu, dengan masker lumpur hijau di wajah, waktu aku menangkapnya memakai sandal ini di dalam kamar untuk pertama kalinya.
“Cleo,” bisik Kevin.
“Hm.”
“Itu—kamu—”
“Aku maafin kamu,” kata Cleo.
Dia masih menatap lurus ke depan. Ke pintu ayun lorong operasi. Suaranya datar. Tapi aku melihat pipinya. Dari samping. Merah.
“Aku maafin kamu karena kamu jaga janjimu ke sahabatmu tiga minggu, walaupun itu bikin kamu kehilangan aku.” Dia berhenti. “Dan aku maafin kamu karena kamu akhirnya ngelanggar janji itu. Walaupun itu bikin kamu kehilangan dia sebentar.”
Dia menoleh. Akhirnya. Menatap Kevin.
“Mantanku nggak pernah ngelanggar janji ke orang lain buat aku,” katanya. “Dan dia juga nggak pernah jaga janji ke orang lain buat siapa pun.”
Kevin menatapnya.
“Kamu bukan dia,” kata Cleo. “Aku salah.”
Kevin tidak menjawab. Kevin tidak bisa menjawab. Kevin, yang bisa bicara sendiri di ruangan kosong dan tetap terhibur, yang menulis puisi tentang lampu sen motor, yang menangis di lemper keempat—Kevin hanya menatap Cleo dengan mulut sedikit terbuka dan air mata yang jatuh diam-diam.
Cleo mengulurkan tangan. Dia menyeka pipi Kevin dengan ibu jarinya. Sekali. Cepat. Lalu menarik tangannya kembali.
“Ada remah lemper di dagumu,” katanya.
“Oh.”
“Nggak usah dilap. Biar.”
Kevin tertawa. Di tengah tangis. Dan Cleo, sangat pelan, bersandar sedikit ke bahunya. Hanya sedikit. Hanya beberapa senti. Tapi bersandar.
Ibu Arya menatap mereka dari sebelah Kevin. Lalu dia menoleh padaku. Dan dia tersenyum.
Senyum yang lain. Senyum seorang ibu yang anak laki-lakinya sedang dioperasi, dan yang tetap bisa tersenyum melihat dua orang muda saling menemukan di kursi plastik biru.
Aku tidak tahu apakah Ibu Arya punya lesung pipit. Aku tidak memperhatikan.
Aku sedang menangis terlalu keras.
Satu jam. Satu jam lima belas menit. Satu jam tiga puluh.
Aku tidak menghitung. Aku berusaha tidak menghitung. Aku gagal. Aku menghitung seperti dia menghitung, dan setiap menit terasa seperti senar yang ditarik satu derajat lebih kencang.
Aku mengeluarkan kotak kayu kecil dari tas. Aku membukanya. Garpu tala azure.
Aku tidak memukulnya. Aku hanya memegangnya. Di tangan kanan. Erat.
Dia nggak butuh kamu senyum. Dia cuma butuh kamu dengerin.
Aku mendengarkan. Aku mendengarkan ruang tunggu rumah sakit. Suara mesin minuman. Suara perawat memanggil nama. Suara Kevin yang bernapas terlalu cepat, dan suara Cleo yang bilang pelan-pelan padanya. Suara Ibu Arya yang berdoa dengan bibir bergerak tanpa suara. Suara pintu ayun lorong operasi yang tidak terbuka.
Satu jam empat puluh lima menit.
Pintu ayun terbuka.
dr. Hendra keluar. Penutup kepala kain kotak-kotaknya sudah dilepas. Masker bedahnya tergantung di satu telinga. Wajahnya lelah.
Kami semua berdiri. Ibu Arya, Tante Wulan, Kevin, Cleo, aku. Seperti satu tubuh.
dr. Hendra berjalan ke arah kami. Dia berhenti. Dia menatap kami satu per satu. Lalu dia menatapku.
Aku tidak bisa bernapas.
“Operasinya berjalan lancar,” kata dr. Hendra.
Aku mendengar Ibu Arya mengeluarkan suara. Bukan kata. Suara, seperti napas yang ditahan tiga minggu dan akhirnya dilepas.
“Retinanya sudah menempel kembali. Semua robekannya sudah dilaser dari dalam. Gasnya sudah di dalam mata.” dr. Hendra berhenti. “Makula aman. Sampai akhir, makulanya tetap aman.”
Kevin jatuh terduduk di kursi plastik biru. Cleo menahan bahunya.
“Sekarang,” lanjut dr. Hendra, “tinggal menunggu. Dan menunduk. Dua minggu. Setiap jam. Setiap menit.” Dia menatapku lagi. “Hasil akhir penglihatannya belum bisa saya pastikan. Tapi saya sudah lakukan semua yang bisa saya lakukan. Dan dari yang saya lihat di dalam—”
Dia berhenti. Dia melepas kacamata berbingkai emasnya dan menggosok pangkal hidungnya dengan dua jari. Lalu dia memakainya lagi. Dan dia tersenyum. Tipis. Lelah.
“Saya optimis,” katanya.
Aku menutup mata.
Aku tidak menarik napas empat kali. Aku tidak memukul garpu tala. Aku hanya berdiri di sana, dengan mata tertutup, dan merasakan sesuatu yang sudah tiga minggu terikat di dadaku mulai terlepas. Pelan. Seperti senar yang diturunkan ke nada yang benar.
“Boleh saya lihat dia, Dok?” tanyaku.
“Dia masih di ruang pemulihan. Masih setengah sadar. Matanya diperban.” dr. Hendra menatapku. “Satu orang dulu. Sebentar.”
Aku menoleh ke Ibu Arya.
Ibu Arya menatapku. Lalu dia mengangguk. Dia mendorong punggungku, pelan, ke arah lorong operasi.
“Kamu dulu, Nak,” katanya. “Kamu yang janji. Pertama. Sebelum siapa pun.”
Aku menatapnya. Aku tidak bertanya bagaimana dia tahu.
Ibu Arya tersenyum. “Anak Ibu nggak pernah minta apa-apa,” katanya. “Kalau dia minta kamu di situ waktu dia buka mata, Ibu nggak mau jadi yang menghalangi.”
Ruang pemulihan kecil dan dingin, dengan tirai hijau di antara tempat tidur.
Dia ada di tempat tidur paling ujung. Dinding di kiri.
Dia berbaring telungkup. Wajahnya menghadap ke bawah, di atas bantal donat yang dibawa Kevin, di lubang tengahnya. Mata kanannya ditutup kasa putih dan pelindung plastik bening yang ditempel dengan plester. Mata kirinya terpejam.
Seluruh dunianya gelap sekarang. Kiri dan kanan.
Aku berjalan ke tempat tidur. Pelan. Aku tidak tahu dia bisa mendengar atau tidak. Perawat bilang dia masih setengah sadar karena obat penenang.
Aku berhenti di sisi kanan tempat tidur. Aku berlutut di lantai, supaya kepalaku sejajar dengan kepalanya. Supaya suaraku datang dari tempat yang sama dengan wajahnya.
“Arya,” bisikku.
Dia tidak bergerak.
“Aku di sini.”
Hening. Mesin di sebelah tempat tidur berbunyi pelan. Bip. Bip.
Lalu tangan kanannya bergerak. Pelan. Meraba di atas seprai, ke arah kanan, ke arah suaraku. Aku mengulurkan tanganku dan membiarkannya menemukannya.
Jari-jarinya menggenggam jari-jariku. Lemah. Tapi menggenggam.
“Aku tahu,” gumamnya. Suaranya serak dan pelan dan setengah tidur, teredam oleh bantal donat. “Kaki kirimu nyeret.”
Aku tertawa.
Di ruang pemulihan yang dingin, di samping laki-laki yang tidak bisa melihat apa-apa, aku tertawa sampai air mataku jatuh ke seprai. Tawaku naik setengah nada di ujung. Dan aku tahu—aku tahu—bahwa di balik kasa putih dan pelindung plastik, di dunia yang sepenuhnya gelap, dia mendengarnya.
Dan dia tidak perlu mencarinya.
- 1 Dijebak
- 2 Cowok di Pojok
- 3 Kevin Jatuh Cinta
- 4 Bukan Double Date
- 5 Sisi Kanan
- 6 Bengkel Piano
- 7 Ronde Satu Sampai Tujuh
- 8 Penasaran Itu Bahaya
- 9 Proposal Pertemanan
- 10 Operasi Sisi Kanan
- 11 Senyum yang Asli
- 12 Penolakan ke-23
- 13 Yang Kulihat
- 14 Pasar Malam
- 15 Rumah Davina
- 16 Cleo Bicara
- 17 Riak
- 18 Aku Suka Kamu, Titik
- 19 Jawaban di Nada La
- 20 Pacaran Pemula
- 21 Di Kananmu
- 22 Ulang Tahun Davina
- 23 Bayangan di Tepi
- 24 Ada yang Disembunyikan
- 25 Kebaikan yang Salah Tempat
- 26 Kamu Nggak Perlu Lagi di Kananku
- 27 Senyum Profesional
- 28 Pojok yang Sepi
- 29 Kevin Melanggar Janji
- 30 Sisi Kiri
- 31 Tolong
- 32 Ruang Tunggu reading
- 33 Menunduk
- 34 Kabut yang Menipis
- 35 Nada La
- 36 Separuh yang Kulihat
- 37 Epilog — Kirimu Ada Laut